Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Friday, July 28, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Analisis faktor penyebab stres pada wasit sepakbola di asosiasi PSSI Kota Blitar

Abstract

INDONESIA:
Stres merupakan keseluruhan proses yang meliputi stimulasi, kejadian, peristiwa dan respon, interpretasi individu yang menyebabkan timbulnya ketegangan yang diluar kemampuan individu untuk mengatasinya (Rice, 1994). Tugas seorang wasit selalu menghadapi tekanan langsung yang berasal dari lingkungan. Pada tahun 2010 di pertandingan sepakbola internal Asosiasi PSSI terjadi tindakan pemukulan seorang pemain yang kecewa akan keputusan wasit mengakibatkan tidak dilanjutkannya kompetisi internal kelompok umur 23 dan mengganggu jalannya roda kompetisi Assosiasi PSSI Kota Blitar. Tekanan yang dialami oleh wasit ini memiliki gejala stres yang mampu memberikan dampak pada keputusannya. Keputusan wasit yang salah merupakan akibat dari salah satu faktor penyebab stres seperti takut gagal, takut akan agresi fisik, masalah pengaturan waktu dan konflik interpersonal (Rainey,1995).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat stres yang dialami wasit sepakbola saat bertugas diwilayah Assosiasi PSSI Kota Blitar dan untuk mengetahui faktor penyebab stres yang dialami oleh wasit saat bertugas diwilayah Assosiasi PSSI Kota Blitar.
Jenis penelitian ini adalah penelitian explanatory. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menerangkan faktor-faktor penyebab stres wasit secara apa adanya. Dalam pengolahan data digunakan analisis yang berupa angka-angka. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 20 mei 2014 - 02 Juni 2014 di Asosiasi PSSI Kota Blitar yang berlokasi di Jalan Kelud (ruko barat Stadion Soeprijadi). Dengan mengambil sampel sebanyak 30 orang wasit.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa stres yang dialami wasit sepakbola di Asosiasi PSSI Blitar yang paling dominan adalah faktor agresi fisik. Dengan nilai faktor agresi fisik sebesar 0,935,
ENGLISH:
Stress constitutes a whole process which involves stimulation, events, and responds, individual interpretation that cause the pressure appearance out of the individual capability to overcome (Rise, 1994). A referee always faces a direct pressure from the surrounding. In 2010 on the PSSI internal Association football match, happened a great deal of heat between a referee and a player. The player was disappointed in the referee’s decision that became the problem causing the match of the 23 years old group stopped and disturbed the smoothness time of the game set in Blitar PSSI Association. This pressure toward the referee had become the stressing main problem that cause the feeling of being afraid to fail, of physical aggression, time formation matter and international conflict (Rainey, 1995).
The purpose of this study is to know the level of stress experienced by the football referee when being of it in Blitar PSSI Association and to know the factor which cause the stress experienced by the referee.
Explanatory is the kind of this research. The purposes are involved explaining the causing factors of the referee’s stress as the way they are. In analyzing the data, the researcher used numeral analysis. This research was performed from May, 20 to 02 June 2014 in Blitar PSSI Association at Kelud Street (west of Soepriadi Stadium). By having 30 referees as the samples.
From the result of the study, it shows stress experienced by the football referee in Blitar PSSI Association, which is most dominant is physical aggression factor in value about 0,935.
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.      Masalah Kehormatan suatu bangsa dalam forum internasional salah satunya ditentukan oleh prestasi olahraga dari para atlet yang berhasil memperoleh medali pada event-event olahraga baik regional maupun internasional.
 Hal ini ditunjukkan oleh adanya pengibaran bendera Merah Putih diluar negeri selain pada saat kunjungan presiden di negara sahabat, juga pada saat atlet memperoleh medali emas. (KONI, 2013:1) Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga yang paling populer di dunia. Sejarah mencatat, sepakbola di Indonesia awal mulanya digunakan sebagai salah satu alat perjuangan kemerdekaan untuk menunjukkan konsistensi bangsa dan sebagai alat pemersatu bangsa. (www.wikipedia.com/sepakbola) Sepakbola bukan hanya sebagai cabang olahraga yang ditujukan sematamata untuk menjaga kesehatan jasmani dan olahraga prestasi, namun diera modern ini sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga yang dikembangkan menjadi olahraga industri. Pada UU No 3 Tahun 2005 pasal 79 yang menyebutkan Industri olahraga dapat berbentuk jasa penjualan kegiatan cabang olahraga sebagai produk utama yang dikemas secara profesional dimana diproduksi, diperjualbelikan dan/atau disewakan untuk masyarakat. (KONI 2013:45) Agar sepakbola di Indonesia bisa berkembang menjadi sepakbola industri perlu adanya kualitas dan kuantitas dalam olahraga sepakbola. Kualitas dan kuantitas cabang olahraga yang dikembangkan sebagai olahraga industri harus mumpuni baik dari segi prasarana dan sarana. Salah satu aspek dalam 2 berkembangnya olahraga sebagai industri yang perlu disoroti adalah pelaku olahraganya. Menurut UU no 3 tahun 2005 pelaku olahraga ini meliputi olahragawan, pembina olahraga dan tenaga keolahragaan (KONI, 2013:38) Wasit merupakan bagian dari tenaga olahraga dimana tugas utamanya mengatur jalannya pertandingan sesuai aturan yang berlaku yang telah ditetapkan oleh badan olahraga yang menaungi olahraga tersebut. Wasit yang bertugas dalam sepakbola adalah seseorang yang telah menjadi anggota badan yang menaungi cabang olahraga sepakbola. Di Indonesia wasit sepakbola yang telah lulus tes dan mendapatkan sertifikat sesuai jenjangnya dilindungi penuh oleh badan yang menaungi sepakbola dalam hal ini PSSI. (Statuta PSSI). Semua manusia yang hidup tanpa terkecuali akan mengalami berbagai persoalan, berbagai konflik dan problematika yang sangat kompleks dimulai dari orang baik yang kaya, miskin dan berbagai macam budaya masyarakat sehingga menjadi penyebab munculnya stres. Kepribadian idividu terdiri dari berbagai macam karakter dimana tidak semuanya dapat mengembalikan macam-macam ketegangan dan konflik yang dialami, termasuk stress (Ardani, 2005:2) Stres merupakan hal yang melekat pada kehidupan. Siapa saja dalam bentuk tertentu, dalam kadar berat ringan yang berbeda dan dalam jangka panjang pendek yang tidak sama, pasti pernah mengalaminya. Tak seorang pun bisa terhindar daripadanya. Bayi bisa terkena stres. Balita bisa kedatangan stres. Kaum remaja tak mungkin terhindar. Orang dewasa pasti mengalami. Apalagi kelompok lansia (lanjut usia). Keinginan dan kebutuhan yang dialami semua individu tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan dan diinginkan. Penyesuaian diri manusia terhadap 3 segala hal yang dihadapi merupakan suatu kuwajiban yang harus dilakukan manusia agar bisa melanjutkan kehidupannya. Masalah yang dihadapi manusia sangatlah beragam bisa ditimbulkan dari masalah yang berasal dari diri manusia itu sendiri (internal) maupun masalah yang berasal dari luar manusia (eksternal). Masalah dari luar biasanya berasal dari proses interaksi antara seseorang dalam pekerjaan dengan aspek-aspek dilingkungan pekerjaanya. Adanya perbedaan keinginan atau harapan dengan hasil pecapaian yang diraih dapat menimbulkan stress.(Rivai & Mulyadi, 2013:307) Hidup dan stres saling berkaitan. Hal ini tergantung bagaimana seseorang memandang hidup dan stres mempengaruhi seseorang. Stres dapat didefinisikan sebagai respon nonspesifik tubuh dalam beradaptasi. Beberapa orang mampu beradaptasi pada berbagai situasi dengan baik, baik secara mental maupun fisik. (Arora, 2008:1) Stres adalah segala masalah atau tuntutan untuk menyesuaikan diri, yang karena tuntutan itulah individu merasa terganggu keseimbangan hidupnya. Stres merupakan keadaan menekan, khususnya psikologis. Keadaan ini dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab seperti frustasi, konflik nilai dan tekanan hidup.(Supratiknya, 1995:35). Tuntutan yang mampu menimbulkan stres pada kehidupan era modern ini sangatlah kompleks. Dalam tingkatannya stres memiliki tingkatan yang beragam mulai dari tingkat stres yang ringan hingga tingkat stres tinggi (kronis) hingga dapat menimbulkan perubahan yang sangat jelas dalam perilaku manusia tersebut. Stres merupakan satu abstraksi. Orang tidak dapat melihat pembangkit stres (stressor). Yang dapat dilihat ialah akibat dari pembangkit stress. Menurut Dr. 4 Hans Selye sejumlah organisme yang beradaptasi terhadap berbagai macam tuntutan (stres) mengalami serangkaian perubahan yang dinamakan general adaptation sindrome yang terdiri dari tiga tahapan yaitu tahap pertama merupakan tahap alarm (tanda bahaya) dimana seseorang berorientasi terhadap tuntutan yang diberikan lingkungan dan menghayatinya sebagai ancaman, tahapan ini tidak tahan lama. Seseorang mengalami tahap kedua yaitu tahap resistensi (perlawanan). Seseorang memobilisasi sumber supaya mampu menghadapi tuntutan dan bila tuntutan berlangsung lama, maka sumber ini akan mulai habis dan mencapai tahap terakhir yaitu exaustion (kehabisan tenaga). (Munandar, 2012:372) Stres biasanya dipersepsikan sebagai sesuatu yang negatif, padahal tidak, seseorang yang mengalami stres karena sebuah jabatan disebut sebagai eustres. Terjadinya stres dapat disebabkan kondisi dirinya serta kondisi pikiran. Dalam pengertian stres itu sendiri juga dapat dikatakan sebagai stimulus dimana penyebab stres dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa. Stres juga dikatakan sebagai respon artinya dapat merespon apa yang terjadi juga disebut sebagai transaksi yakni hubungan antara stressor dianggap positif karena adanya interaksi individu dengan lingkungan. (Hidayat, 2011:55) Umumnya, stres disebabkan oleh adanya masalah yang belum dapat diselesaikan. Masalah yang telah diselesaikan tidak akan menimbulkan stres. Masalah yang muncul sering kali disebabkan oleh adanya kesalahan diri atau kesalahan lingkunganyang mempengaruhi diri sendiri. Kesalahan lingkungan ada yang dapat dikendalikan dan ada pula yang tidak dapat dikendalikan. Kesalahan lingkungan yang tidak dapat dikendalikan tidak akan mudah diselesaikan, dan 5 untuk menyelesaikannya diperlukan kerja sama dengan banyak pihak yang mempunyai perasaan, harapan, solusi dan sudut pandang yang sama, dan hal ini cukup berat untuk dilakukan. (Agies, Kusnadi dan Candra 2003:17) Standar dan tujuan personal yang tinggi dapat berakibat pada pencapaian kepuasan diri. Akan tetapi, saaat manusia menempatkan suatu tujuan yang terlalu tinggi, mereka memiliki kemungkinan untuk gagal yang lebih tinggi. Dari kegagalan menimbulkan stres dan mengakibatkan kesedihan kronis, perasaan tidak berharga, perasaan tidak memiliki tujuan. (Jess & Gregory, 2011:225) Diberbagai negara, gejala stres sangat menonjol, dimana faktor kompetitif merupakan faktor yang menonjol. Di negara yang sedang berkembang, terutama dikota besar, penyebab stress juga tidak banyak bedanya dengan negara maju, sedangkan didaerah terbelakang, dimana perjuangan hidup masih merupakan target yang utama, stres juga merupakan gejala yang cukup banyak mempengaruhi kesehatan masyarakat. Apalagi stres yang dialami orang didaerah konflik, dimana keamanan merupakan faktor penting yang bila tidak segera diatasi menimbulkan stres. (Wangsa, 2011:17) Bagi beberapa orang kerja keras, tuntutan yang ada tiada henti dan kompetisi yang intensif merupakan hal yang menekan dan tidak sehat. Meskipun demikian ada orang yang tetap sehat dan bahkan tetap berjuang ketika dihadapkan dengan situasi-situasi yang banyak tuntutannya. Perbedaan respon ini dapat meningkat jika terdapat kondisi medis. Misalnya orang yang memiliki penyakit diabetes saat mengalami stres menimbulkan tingkat gula darah yang semakin tinggi. (Stabler dkk 1987 dalam Friedman & Schustak, 2008:49) 6 Pengadil pertandingan atau wasit merupakan pekerjaan yang sangat menarik dan salah satu pekerjaan yang mampu menimbulkan stres. Dalam setiap keputusannya wasit selalu mendapat umpan balik dari pemain, pelatih official pertandingan bahkan supporter yang dapat menimbulkan respon berupa stres pada diri seorang wasit. Stres yang dialami wasit ini akan berpengaruh pada kinerja wasit dilapangan. Oleh karena itu kondisi mental memiliki peran penting dalam kinerja wasit dalam suatu pertandingan. (Reihani, 2012:347) Dalam setiap menjalankan tugasnya, wasit wajib mempersiapkan segala aspek, tidak hanya dari segi fisik saja akan tetapi mereka juga harus menyiapkan diri dalam menghadapi tekanan psikologis yang berasal dari lingkungan tempat dia bekerja. Segala persiapan ini akan berpengaruh pada kepemimpinan seorang wasit, hal ini dikarenakan wasit yang sudah mempersiapkan kondisi fisik dan psikologisnya akan lebih siap dalam menghadapi segala stressor yang mungkin terjadi dilapangan. Hal-hal inilah mengapa stres yang di alami seorang wasit yang bertugas lebih dari stres yang dialami pelatih maupun pemain/olahragawan. (Mirjamai, Ramzaninezhad, Rahmaninia & Reihani, 2012:347) Penelitian yang menunjukkan gejala stres yang dialami wasit telah dilakukan khususnya pada wasit sepakbola, bola voli, basketdan bola tangan oleh E.Mirjamali, Ramzaninezhad, Rahmaninia & Reihani pada tahun 2012 dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa stres yang dialami wasit terindikasi berasal dari tiga faktor yaitu faktor stres kemampuan teknik, evaluasi penampilan and ketakutan akan kesalahan Dalam melaksanakan tugasnya seorang wasit selalu menghadapi tekanan langsung yang berasal dari lingkungan tempat pelaksanaan tugasnya. Tekanan 7 yang dialami oleh wasit ini memilki gejala stres yang mampu memberikan dampak pada keputusan, yang terkadang keputusan itu masih bisa dipertanyakan kebenaran keputusan itu. keputusan yang kadang keliru ini mampu memicu amarah dari pemain yang terlibat langsung. pemain dalam suasana kompetitif akan berusaha untuk menjadi bagian yang diuntungkan. Suasana dari lingkungan ini memberikan efek terhadap individu tersebut. Pada situasi ini terdapat pola-pola hubungan yang mengatur perilaku orang didalamnya. (Rakhmat, 2000:45) Tidak jarang wasit mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari pemain, pelatih, official dan supporter. Bahkan dalam keadaan yang extreme wasit sepakbola bisa menjadi sasaran empuk pemain, pelatih, official dan supporter. Wasit bisa menjadi korban agresi dari pemain, pelatih dan official tim sepakbola seperti di dorong, di kerumuni, ditendang, dikejar bahkan terkadang mendapat pukulan. (Wolfson & Neave, 2011:233) Russell (1993) mengatakan bahwa diluar peperangan, olahraga merupakan salah satu wahana bagi tindakan agresi yang ditoleransi oleh sebagian besar masyarakat. Perilaku agresi tidak hanya terjadi pada pemain terhadap wasit tetapi juga terjadi pada penonton. Fenomena pemukulan atau agresi terhadap wasit di Indonesia bukanlah sesuatu hal yang baru. Di Indonesia sering terjadi tindakan dari pemain yang bisa membahayakan wasit. Yang paling sering terjadi adalah agresi pemain terhadap wasit karena terlibat langsung didalam lapangan. Perilaku agresi selalu didahului oleh adanya kekecewaan pada seseorang. (Samanhudi, 1986:64). Dari tahun 2007 hingga tahun 2013 media baik cetak maupun elektronik mencatat dan menerbitkan berita tentang agresi berupa pemukulan terhadap wasit 8 telah terjadi dikompetisi nasional sepakbola di Indonesia. Dari semua agresi yang dilakukan oleh pemain terhadap wasit ini terjadi akibat ketidakpuasan terhadap keputusan wasit yang kontroversi atau memang terkadang tidak tepat. Salah satu agresi yang paling terbaru hingga dunia internasional menyoroti, tepatnya pada kasus pemukulan yang terjadi dalam kompetisi Indonesia Super League antara Pelita Bandung Raya melawan Persiwa Wamena Pemukulan dari pemain terhadap wasit terjadi akibat keputusan wasit dalam menentukan pelanggaran. Mediamedia internasional yang menerbitkan berita ini adalah The Sun, The Guardian, Telegraph dan yang lainnya. (www.okezone.com, akses: 20 Mei 2013) Keputusan wasit yang salah merupakan akibat dari salah satu faktor penyebab stres seperti yang dijelaskan oleh Rainey dalam Hoedaya (2007:19) menurut penelitiannya menyebutkan bahwa faktor penyebab stres pada wasit ada empat yaitu 1. Takut Gagal misalnya takut kehilangan konsentrasi 2. Takut akan Agresi Fisik, misalnya agresivitas yang dilakukan pemain lawan. 3. Masalah Pengaturan Waktu, misalnya konflik waktu, menyangkut kepentingan keluarga dan tugas perwasitan. 4. Konflik Interpersonal, misalnya menghadapi pelatih yang mudah tersinggung. Fakta dilapangan yang menyebutkan tentang agresi berupa pemukulan yang timbul/dipicu karena keputusan yang dibuat, ditingkat daerah pemukulan terhadap wasit pernah terjadi di Asosiasi PSSI Blitar tepatnya saat berlangsung kompetisi internal Kelompok Umur (KU) U-23. Hal ini diutarakan oleh Heri 9 selaku ketua komisi wasit yang bertugas. Dalam penuturannya salah seorang wasit bernama Ali pernah menjadi korban pemukulan sampai mendapatkan luka jahitan dipelipis matanya pada tahun 2007. Akibat pemukulan inimengakibatkan tidak dilanjutkannya kompetisi Kelompok Umur (KU) 23 pada tahun itu padahal pada tahun itu kompetisi yang diadakan cuma kelompok umur (KU) 23 yang dipersiapkan untuk pencarian pemain yang akan dimainkan dalam kompetisi divisi dua nasional. Keputusan untuk menghentikan kompetisi internalini dibuat langsung oleh Ketua Asosiasi PSSI Blitar. (Observational Fieldnotes, 15 mei 2014) Pemukulan terhadap wasit ini di benarkan oleh wasit yang menjadi korban pemukulan. Tepatnya dalam sebuah diskusi dirumah wasit yang menjadi korban. Wasit yang menjadi korban pemukulan membenarkan bahwa pernah mengalami insiden pemukulan. Menurut penuturannya pemukulan itu terjadi karena pemain yang melakukan tindakan pemukulan itu tidak terima atas keputusan yang dibuatnya. (Wawancara,16 Mei 2014) Selain hal diatas, fakta dilapangan membuktikan faktor akan agresifitas dari pemain juga menjadi faktor penyebab stres yang dialami wasit di Asosiasi PSSI Blitar saatbertugas pada suatu pertandingan. Dalam observational fieldnotes dengan partisipan penuh 15 Mei 2014 peneliti mendapati salah satu wasit sebut saja Heri, dalam pertandingan kompetisi internal Asosiasi PSSI Blitar yaitu saat hendak memberikan kartu kuning pemain salah satu tim yang berlaga, pemain mengerumuni wasit, mendorong dan memegang wasit sampai wasit terdorong hingga mundur beberapa langkah dan tidak bisa mengeluarkan kartu kuningnya. 10 Heri telihat berubah raut mukanya telihat pucat, mengeluarkan keringat berlebih seketika. Saat kondisi pertandingan sudah kondusif dan bisa dilanjutkan wasit tidak jadi memberikan kartu kuning kepada pemain yang melakukan pelanggaran yang sebenarnya layak mendapatkan kartu kuning karena pelanggaran yang dilakukan pemain tersebut. (Observational Fieldnotes II). Konflik interpersonal dalam sepakbola di kompetisi internal Asosiasi PSSI Kota Blitar juga pernah terjadi antara wasit dan pelatih. Adu argumen saat pertandingan berlangsung hingga wasit pun terpengaruh dan memberikan ancaman kepada pelatih (Observational Fieldnotes IV). Dalam keadaan lelah, kurang istirahat, atau tertekan perasaan, biasanya orang yang mengalami stress lebih mudah terpengaruh suasana. (Derajat, 1998:234). Keputusan yang tidak benar dalam suatu pertandingan merupakan salah satu faktor penyebab stres yang lain yaitu faktor takut gagal dimana indikatornya berupa konsentrasi. Ketika konsentrasi menurun seorang wasit bisa saja melakukan kelalaian dalam menentukan keputusan dalam suatu pertandingan. Hampir dalam setiap pertandingan, wasit yang bertugas sebagai asisten wasit salah memberi isyarat suatu pelanggaran. Salah memberikan tanda isyarat arah lemparan kepada timyang seharusnya tidak berhak melempar. Pada pertandingan kompetisi internal PSSI Blitar kelompok umur (KU-21). Saat pertandingan berlangsung Ali yang bertugas sebagai asisten wasit salah memberi isyarat kepada wasit utama. Hingga membuat lemparan yang seharusnya diberikan kepada tim Surya Muda menjadi lemparan untuk tim Gajah Mada. (Observational Fieldnotes, 15 Mei 2014) 11 Dari beberapa paparan mengenai hal yang dialami wasit yang bertugas dilapangan yang mampu menimbulkan faktor penyebab stres dan berdampak pada kesuksesan sebuah pertandingan dan bisa mempengaruhi hal lainnya, peneliti akhirnya tertarik untuk meneliti tentang stres yang dialami wasit dengan judul “Analisis Faktor Penyebab Stres Pada Wasit Sepakbola Di Asosiasi PSSI Kota Blitar” 12 B. Rumusan Masalah Untuk memudahkan berlangsungnya penelitian maka perlu dirumuskan masalah apa yang menjadi fokus penelitian. Dalam penelitian ini peneliti merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: 1. Bagaimana tingkat stres yang dialami wasit sepakbola saat bertugas di wilayah Assosiasi PSSI Kota Blitar? 2. Apa yang menjadi faktor dominan penyebab stres yang dialami oleh wasit sepakbola diwilayah Assosiasi PSSI Kota Blitar? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan diatas maka tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk: 1. Untuk mengetahui tingkat stres yang dialami wasit sepakbola yang bertugas diwilayah Assosiasi PSSI Kota Blitar. 2. Untuk mengetahui faktor penyebab stres yang dialami oleh wasit yang bertugas diwilayah Assosiasi PSSI Kota Blitar. D. Manfaat Penelitian Dengan pencapaian tujuan penelitian ini, hasil penelitian diharapkan bisa dapat memberikan manfaat yang baik dari segi teoritis maupun segi praktis. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Secara teoritis Manfaat penelitian ini diharapkan mampu memberi sumbangsih dalam pengembangan ilmu psikologi pada umumnya dan khususnya bagi pengembangan psikologi olahraga khususnya. Selain itu, penelitian ini diharapkan memperkaya 13 sumber kepustakaan mengenai psikologi olahraga sehingga hasil penelitian dapat dijadikan penunjang bagi peneliti selanjutnya. 2. Secara Praktis a. Bagi wasit Manfaat hasil penelitian mampu memberikan informasi bagi wasit mengenai stres yang dialami wasit. b. Bagi masyarakat Manfaat hasil penelitian mampu memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kendala-kendala yang dihadapi wasit saat bertugas sehingga lebih menghormati profesi wasit. c. Bagi pengurus Assosiasi PSSI Kota Blitar Manfaat hasil penelitian mampu dijadikan informasi baru bagi pengurus Assosiasi PSSI Kota Blitar agar lebih memperhatikan wasit dan memberikan pelatihan untuk membentuk mental psikologis wasit d. Bagi peneliti selanjutnya Manfaat hasil penelitian dapat dijadikan bahan bagi peneliti selanjutnya yang berminat meneliti mengenai faktor penyebab stres pada wasit sepakbola.


Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Hubungan konsep diri dengan prokrastinasi akademik siswa kelas XI SMA Al- Rifa’ie Gondanglegi Malang" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment