Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Wednesday, April 26, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Manajemen:Peran pengawasan pemimpin dalam meningkatkan kedisiplinan kerja karyawan Administrasi Keuangan Dan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI Unit Usaha PG. Semboro Jember

bstract

INDONESIA:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pelaksanaan pengawasan yang dilakukan oleh pemimpin terhadap karyawan Administrasi Keuangan dan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI Unit Usaha PG. Semboro Jember, 2) peran pengawasan pemimpin yang kaitannya dengan faktor kedisiplinan pada karyawan Administrasi Keuangan dan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI Unit Usaha PG. Semboro, 3) usaha yang dilakukan pemimpin Administrasi Keuangan dan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI Unit Usaha PG. Semboro untuk mengatasi hambatan dalam pengawasan terhadap pegawainya.
Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian kualitatif, dengan metode deskriptif. Strategi yang digunakan tunggal terpancang. Teknik cuplikan dengan teknik purpose snowball sampling. Sumber datanya adalah informan, tempat atau lokasi penelitian, arsip dan dokumen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan analisa dokumen. Untuk keabsahan data teknik yang digunakan adalah tringulasi data atau sumber data tringulasi metode. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif mengalir.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1) pelaksanaan pengawasan di Kantor Administrasi keuangan dan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI Unit Usaha PG. Semboro Jember adalah: a) Pengawasan dilakukan oleh Kepala Kantor Administrasi Keuangan dan Umum (AKU) PG. Semboro, b) Pengawasan yang diterapkan adalah pengawasan melekat, pengawasan fungsional, dan pengawasan masyarakat, pengawasan secara langsung dan tidak langsung, serta pengawasan yang dilakukan sebelum kegiatan, selama kegiatan, dan setelah kegiatan. 2) Peran pengawasan dalam meningkatkan kedisiplinan kerja di Kantor Administrasi Keuangan dan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI Unit Usaha PG. Semboro Jember adalah untuk: a) Untuk mencegah terjadinya berbagai penyimpangan atau kesalahan, sehingga dapat diketahui lebih awal berbagai bentuk penyimpangan dan kesalahan, b) Untuk menjamin atau mengusahakan pelaksanaan kegiatan agar sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya demi mencapai tujuan, c) Untuk memperbaiki kesalahan atau penyimpangan yang terjadi, d) Untuk mengetahui kedisiplinan kerja pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan tanggung jawab yang dimilikinya. 3) Usaha mengatasi hambatan dalam pelaksanaan pengawasan di Kantor Administrasi Keuangan dan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI Unit Usaha PG. Semboro Jember adalah: a) Pimpinan bersikap tegas terhadap pegawai tanpa membedakan satu sama lain, b) Pimpinan memberikan keteladanan yang baik kepada pegawai, c) Pimpinan memberikan penghargaan (reward) hukuman (punishment) kepada pegawai, d) Pimpinan mengetahui dan memahami perbedaan karakter dari setiap pegawainya.
ENGLISH:
The purposes of the study are to know: 1) the application of supervision done by the leader/manager towards the public and financial administration employees (AKU) of PT. Perkebunan Nusantara XI Business Unit PG. Semboro, Jember, 2) role of leader’s supervision concerned about discipline factor on the public and financial administration employees (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI Business Unit PG. Semboro, Jember, 3) effort of the public and financial administration manager of PT. Perkebunan Nusantara XI Business Unit PG. Semboro, Jember to overcome the obstacles of supervision towards the employees.
This study uses the formulation of qualitative research design with descriptive method. The strategy used is the single fixed strategy. Mechanical footage used is purpose snowball sampling technique. The data source is an informant, place or research location, archives and documents. Data collection techniques used are interviews, observation and document analysis. For the data validity technique used is tringulasi data or data source tringulasi method. Data analysis technique used is interactive flow analysis.
Based on the results of the study, it showed that: 1) the implementation of supervision in public and financial administration office (AKU) of PT. Per kebunan Nusantara XI Business Unit PG. Semboro, Jember were: a) Supervision was done by the Head of financial and Public Administration (AKU) PG. Semboro, b) Monitoring applied was attached surveillance, functional supervision, and community supervision, direct and indirect supervision, and the supervision performed before, during, and after an activity. 2) The role of supervision in improving labor discipline in public and financial administration office (AKU) of PT. Perkebunan Nusantara XI Business Unit PG. Semboro, Jember were: a) To prevent the occurrence of various irregularities or errors, so that the various forms of irregularities and errors can be caught early, b) To guarantee or seek the implementation of activities to get in accordance with the plan in order to achieve the goal, c) To fix the errors or irregularities that occur, d) to know the employees’ work discipline in carrying out the work in accordance with their responsibilities. 3) efforts to overcome obstacles in the implementation of surveillance in public and financial administration office (AKU) of PT. Perkebunan Nusantara XI Business Unit PG. Semboro, Jember were: a) The head stood firm towards all employees without distinguishing anyone of them, b) the head provided good example for the employees, c) the head awarded (reward) and sentence (punishment) to the employee, d) the head knew and understood the different characters of every employees.
ARABIC:
واما الأهداف المرجوة في هذا البحث وهي : (1) لمعرفة تنفيذ رقابة القاعد على عمال في ادارية المالية و العامة ( AKU) في الشركة perkebunan nusantara X1 Unit Usaha PG. Semboro Jember، (2) لمعرفة دورا رقابة القاعد بعامل نظام الانظبات العمل من العمال في ادارية المالية و العامة ( AKU) في الشركة perkebunan nusantara X1 Unit Usaha PG. Semboro Jember، (3) لمعرفة جهود القاعد في ادارية المالية و العامة ( AKU) في الشركة perkebunan nusantara X1 Unit Usaha PG. Semboro Jember لحلول أوتُوستراد في رقابة على عمالها.
واما المدخل المستخدم في هذا البحث وهو بالنوع الكيفي بطريقة الوصفي. واما الأستراتيجية المستخدمة في هذا البحث وهي وحيد الراسخ. واما الاسلوب المستخدمة وهي بأسلوب عن purpose snowball sampling . واما المصادر البيانات في هذا البحث وهي المخبر، المكان وميدان البحث، والوثائق. واما الادوات البيانات المستخدمة وهي المقابلة، الملاحظة وتحليل الوثائق. واستخدمت الباحثة التثليت البيانات لتصحيح البيانات. واما الاسلوب لتحليل البيانات في هذا البحث وهي بتحليل مجدية الانساب.

واما النتائج المحصولة في هذا البحث وهي تدل على ان : (1) تنفيذ رقابة القاعد على عمال في ادارية المالية و العامة ( AKU) في الشركة perkebunan nusantara X1 Unit Usaha PG. Semboro Jember وهي : (أ) عمل هذه الرقابة رئيس الادارة المالية و العامة ( AKU)، (ب) رقابة المستخدمة في هذا البحث وهي رقابة يعلق، الوظيفي، المجتمع، المباشرة او غير مباشرة. (2) دورا رقابة القاعد بعامل نظام الانظبات العمل من العمال في ادارية المالية و العامة ( AKU) في الشركة perkebunan nusantara X1 Unit Usaha PG. Semboro Jember وهو : (أ) ليتجنب الخطاءات حتى تعرف اشكال الخطاءات في اوله، (ب)ليحاول تنفيذ النشاط لكي مناسبة مع التخطيط المصنوعة قبله لتحقق الاهداف المرجوة، (ج) لتصحيح الخطاءات، (د) لمعرفة الانظبات العمل في عملهم بمسؤولية. (3) جهود القاعد في ادارية المالية و العامة ( AKU) في الشركة perkebunan nusantara X1 Unit Usaha PG. Semboro Jember وهي: (أ) لا بد للقاعد جسو على عماله بدون الاختلافات بين الاخر. (ب) لا بد للقاعد ان يعطي على عماله الاسوة. (ج) لا بد للقاعد ان يعطي على عماله الجائزة وعقوب. (د) لا بد للقاعد ان يعرف القروق اوالخصائص من ع
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Masalah Setiap organisasi beroperasi menggunakan sumber daya untuk menghasilkan barang atau jasa agar dapat dipasarkan. Pengelolaan sumber daya tersebut akan membawa pengaruh terhadap usaha pencapaian tujuannya. Sumber daya yang dimiliki oleh organisasi antara lain financial/modal, fisik/material, teknologi dan manusia. Sumber-sumber tersebut harus dapat dimanfaatkan sebaik mungkin dan seoptimal mungkin sehingga tujuannya tercapai. Dari berbagai sumber daya yang dimiliki oleh organisasi, sumber daya manusia (SDM) menempati tempat atau posisi yang penting terkait dengan usaha pencapaian tujuan. Sebabnya sumber daya manusia sebagai pelaksana setiap kegiatan dalam organisasi. Betapapun baiknya peralatan yang dimiliki tanpa adanya faktor manusia tidak akan ada artinya. Tanpa adanya sumber daya manusia (SDM) maka sumber daya yang lain tidak dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Manusialah yang menggerakkan dan membuat sumber daya yang lainnya bergerak. Dalam sebuah perusahaan swasta maupun instansi pemerintah, manusia yang melaksanakan tugas dan kewajibannya disebut dengan pegawai. Mengingat betapa pentingnya posisi pegawai dalam suatu organisasi, maka dalam pelaksanaan kegiatannya diperlukan pegawai yang cakap dalam kemampuannya, kuat kemauannya, menghargai waktu, loyalitas yang tinggi pada organisasi, dapat melaksanakan kewajibannya untuk kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi serta bersikap disiplin dalam bekerja. Sebuah organisasi tentu tidak menginginkan pegawai yang bekerja seenak hatinya tetapi menginginkan pegawai yang bekerja dengan giat diikuti sikap disiplin kerja yang tinggi. Untuk menegakkan disiplin tentu bukanlah hal yang mudah dalam suatu organisasi. Penggunaan ancaman dan kekerasan bukanlah suatu cara yang baik, tetapi suatu ketegasan dan keteguhan dalam penegakan peraturan. Salah satu peraturan yang mengatur tentang disiplin pegawai adalah PP No. 30 tahun 1980 yaitu mengatur tentang kewajiban, larangan, dan sangsi apabila kewajiban tidak ditaati atau dilanggar oleh pegawai. Dengan adanya peraturan diharapkan pegawai dapat bersikap disiplin dalam bekerja. Dengan sikap disiplin yang dimilikinya akan membuat lebih mudah untuk melakukan pengarahan dan pelaksanaan kerja bukan bekerja atas dasar ketakutan terhadap ancaman, hukuman, dan pimpinan. Namun diharapkan pegawai dapat bekerja atas dasar kesadaran diri yang tinggi demi tercapainya tujuan organisasi. Oleh sebab itu, salah satu langkah nyata untuk tetap dapat mengetahui pelaksanaan kegiatan yang dilakukan pegawainya, maka perlu adanya pengawasan dari seorang pemimpin. Pengawasan merupakan salah satu fungsi dalam manajemen. Seperti yang diungkapkan oleh Handoko (2003:25), “Semua fungsi manajemen tidak akan efektif tanpa adanya fungsi pengawasan (controlling)”. Pengawasan yang berjalan dengan baik akan mengurangi dan mencegah kesalahan dari pegawai. Pengawasan akan lebih efektif apabila dilakukan oleh pimpinan atau atasan langsung yang disebut pengawasan melekat. Seperti yang diungkapkan oleh Hadari, Nawawi (1994:8) bahwa pengawasan melekat merupakan proses pemantauan, memeriksa, dan mengevaluasi yang dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna oleh pimpinan unit organisasi kecil organisasi kerja terhadap sumber-sumber kerja untuk diperbaiki atau disarankan oleh pimpinan yang berwenang pada jenjang yang lebih tinggi demi tercapainya tujuan yang telah dirumuskan. Pengawasan melekat bertujuan agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan instruksi/peraturan yang telah dibuat sehingga apa yang dilaksanakan dapat berjalan secara efisien, selain itu juga untuk mengoreksi setiap pekerjaan pegawai agar pelaksanaan kegiatan satuan organisasi lebih tertib dan disiplin, terhindar dari penyimpangan, penyelewengan dan kebocoran.
 Pengawasan yang berjalan dengan baik akan mengurangi dan mencegah kesalahan dari pegawai. Pengawasan akan lebih efektif apabila dilakukan oleh pimpinan atau atasan langsung yang disebut pengawasan melekat. Seperti yang diungkapkan oleh Hadari, Nawawi (1994:8) bahwa pengawasan melekat merupakan proses pemantauan, memeriksa, dan mengevaluasi yang dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna oleh pimpinan unit organisasi kecil organisasi kerja terhadap sumber-sumber kerja untuk diperbaiki atau disarankan oleh pimpinan yang berwenang pada jenjang yang lebih tinggi demi tercapainya tujuan yang telah dirumuskan. Pengawasan melekat bertujuan agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan instruksi/peraturan yang telah dibuat sehingga apa yang dilaksanakan dapat berjalan secara efisien, selain itu juga untuk mengoreksi setiap pekerjaan pegawai agar pelaksanaan kegiatan satuan organisasi lebih tertib dan disiplin, terhindar dari penyimpangan, penyelewengan dan kebocoran. Beberapa penelitian menyebutkan adanya pengaruh pengawasan terhadap kinerja pegawai, diantaranya Utomo (2009:34) melakukan penelitian tentang pengaruh pengawasan dan pelayanan terhadap kinerja bagian pemasaran, menyimpulkan bahwa pengawasan memberikan kontribusi secara nyata dalam mempengaruhi kinerja bagian pemasaran di Koperasi Simpan Pinjam Artha Prima.
Rahayu (2006:86) tentang pengaruh disiplin kerja dan pengawasan kerja terhadap efektivitas kerja pegawai pada Badan Kepegawaian Daerah Kota Semarang, yang berkesimpulan bahwa ada pengaruh positif antara disiplin kerja dan pengawasan kerja terhadap efektivitas kerja pegawai pada Badan Kepegawaian Daerah Kota Semarang. Penelitian Ernawati & Marjono (2007:134) tentang pengaruh supervisi dan disiplin kerja terhadap kinerja guru yang berkesimpulan bahwa variabel disiplin kerja berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru SD di Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar, meskipun di lain pihak variabel supervisi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru SD di Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar. Pabrik gula Semboro merupakan anak perusahaan dari PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) atau disingkat PTPN XI Persero yang merupakan badan usaha milik negara yang bergerak di Industri Gula dan berkantor pusat di Surabaya. Pabrik gula Semboro terletak di Jember, Jawa Timur dengan area perusahaan tebu sekitar 9.000 hektar dan produksi gula yang dihasilkan sebanyak 88.000 ton. Pabrik gula Semboro dalam memproduksi gula melakukan kemitraan dengan petani tebu rakyat. Kemitraan tersebut bertujuan untuk menciptakan keuntungan bersama dan terciptanya kesinambungan produksi gula. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peran Pengawasan Pemimpin dalam Meningkatkan Kedisiplinan Kerja Karyawan Administrasi Keuangan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Unit Usaha PG. Semboro Jember”
1.2  Rumusan Masalah
 Berdasarkan apa yang telah dipaparkan di atas maka yang menjadi pokok permasalahan dalam proposal peneliti ini yaitu:
1. Bagaimana pelaksanaan pengawasan yang dilakukan oleh pemimpin terhadap karyawan Administrasi Keuangan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Unit Usaha PG. Semboro?
 2. Bagaimana peran pengawasan pemimpin yang kaitannya dengan faktor kedisiplinan pada karyawan Administrasi Keuangan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Unit Usaha PG. Semboro?
3. Usaha apa saja yang dilakukan pemimpin Administrasi Keuangan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Unit Usaha PG. Semboro untuk mengatasi hambatan dalam pengawasan terhadap pegawainya?
1.3 Tujuan Penelitian
 Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan proposal penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pelaksanaan pengawasan yang dilakukan oleh pemimpin terhadap karyawan Administrasi Keuangan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Unit Usaha PG. Semboro.
 2. Untuk mengetahui peran pengawasan pemimpin yang kaitannya dengan faktor kedisiplinan pada karyawan Administrasi Keuangan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Unit Usaha PG. Semboro
. 3. Untuk mengetahui usaha apa saja yang dilakukan pemimpin Administrasi Keuangan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Unit Usaha PG. Semboro untuk mengatasi hambatan dalam pengawasan.
1.3  Manfaat Penelitian
Adapun beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan proposal penelitian ini seperti:
1. Bagi penulis, penelitian ini sebagai salah satu karya ilmiah untuk mengembangkan pengetahuan dan pengetahuan dan wawasan mengenai motivasi terhadap kinerja karyawan.
2. Bagi PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Unit Usaha PG. Semboro dapat menjadi bahan masukan yang bermanfaat untuk meningkatkan motivasi serta kinerja karyawannya.

3. Bagi pihak lain, diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta dapat dijadikan acuan dan informasi bagi penelitian lebih lanjut.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Manajemen :Peran pengawasan pemimpin dalam meningkatkan kedisiplinan kerja karyawan Administrasi Keuangan Dan Umum (AKU) PT. Perkebunan Nusantara XI Unit Usaha PG. Semboro JemberUntuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Manajemen: Praktik penerapan spiritualitas dalam upaya meningkatkan kinerja karyawan pada PT. BPRS Bumi Rinjani Kepanjen

Abstract

INDONESIA:
Spiritulitas ditempat kerja merupakan topik yang baru dalam dunia kerja, sepiritualitas ditempat kerja berkaitan dengan upaya yang menunjukan peningkatan kualitas kinerja seorang karyawan ataupun organisasi perusahan. PT. BPRS Bumi Rinjani Kepanjen sebagai perusahaan yang bergerak dibidang perbankan syariah, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis spiritualitas dan kinerja yang ada pada PT. BPRS Bumi Rinjani Kepanjen berdasarkan persepsi anggota organisasi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif, jenis studi kasus dimana didapat gambaran yang ada pada saat ini, yang bertujuan kemudian akan dianalisis dan di interprestasikan sehingga diperoleh suatu keputusan yang tepat untuk melakukan tindakan selanjutnya. Analisis data bertujuan untuk menyederhanakan hasil olahan data, sehingga mudah untuk diiterprestasikan. Data dikumpulkan dengan cara observasi, interview (wawancara), dan dokumentasi.
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa spiritualitas dalam upaya untuk meningkatkan kinerja yang ada pada PT. BPRS Bumi Rinjani Kepanjen masih dirasa sangat kental, hal ini ditandai dengan tingginya partisipasi karyawan terhadap tradisi-tradisi spiritual yang diadakan oleh PT. BPRS Bumi Rinjani Kepanjen. Kegiatan yang ada menunjang karyawan sebagai individu merasakan mengalami perubahan dalam sikap dalam berkerja. Spiritualitas dirasa pula dapat membuat karyawan lebih efektif dalam bekerja, karena mereka melihat pekerjaannya sebagai suatu hal untuk meningkatkan spiritualitas sehingga karyawan akan menunjukkan kinerja yang lebih besar dibanding karyawan yang melihat pekerjaannya hanya sebagai sarana untuk memperoleh uang. Penerapan kegiatan spiritualitas semacam ini tidak lepas dari latar belakang perusahaan dan pimpinan sebagai perusahaan perbankan syariah.
ENGLISH:
Spirituality in the work place is a new topic in the working world. Spirituality in the work place be related with the effort that showing the increasing of work’s quality in an employee or company’s organization. PT. BPRS Bumi Rinjani Kepanjen as the company was wrestle in syari’ah field, so the purpose of this research is to analyzing the spirituality and performance in PT. BPRS Bumi Rinjani Kepanjen based on the perception of organization’s member.
This research uses case study approach where the imaging’s now days was being got, that will be analyzed and be interpretated until be found the right discussion to do the next actions. The purpose of data analysis is to simplify data processed result, so it will be easy to be interpretated. The research uses observation, interview and documentation as the tools of data collection.
This research’s result shows that Spirituality Application as the effort to increasing the employee performance in PT. BPRS Bumi Rinjani Kepanjen is very high, it was shown by the highly of employee’s participation on spiritualty traditions in PT. BPRS Bumi Rinjani Kepanjen. The activities in PT. BPRS Bumi Rinjani Kepanjen support the employee as the individual of human feeling the changes in their character in working. Spirituality also can makes the employee to be more effective to work, because they see that their workings as a tool to increasing spiritualty, so the employee will show the better performance than the employee who see that their working just as a tool to gets the money. This practice of spiritual activity is related with the company background and the leader as a company of syari’ah banking.
ARABIC:
الطاقة الروحي هي موضوع جديد في مجال العمل، فالطاقة الروحية تتعلّق بمحاولة ترقية جودة إجراء عمل الموظف أو جمعية في الشركة BPRS بومي رينجاني كيفانجين على حسب نظرة الأعضاء.
استخدم هذا البحث مدخل الدراسة الحالية حين حصل الوصف عن حال الموضع في الزمن الحاضر ويهدف به التحليل والتفسير لحصول على قرار عن العمل بعده. أما تحليل البيانات يهدف به تبسيط البيانات لسهولة التفسير. واستخدمت الباحثة الملاحظة، والمقابلة، والوثائق لجمع البيانات.

أما نتائج البحث تدلّ على أن الطاقة الروحية في محاولة ترقية جودة إجراء عمل الموظف أو جمعية في الشركة BPRS بومي رينجاني كيفانجين قوي، وأشار عن ذالك ارتفاع مساهمة الموظف في الأنشطة الروحية التي أقامتها الشركة BPRS بومي رينجاني كيفانجين. فتلك الأنشطة تحث الموظف كالشخص على التغير في سلوك العمل. وجعلت الطاقة الروحية عمل الموظف أكثر فعالية لأنهم يروا أن العمل من إحدى الطريقة لترقية الطاقة الروحية فعرض الموظف إجراء العمل على الأحسن من الموظف الذي يرى أن العمل مصدر لحصول المطلب. وتطبيق الأنشطة الروحية تتعلّق بخلفية بناء الشركة ومديرها على أساس المصرف الشرعي.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Manajemen : Praktik penerapan spiritualitas dalam upaya meningkatkan kinerja karyawan pada PT. BPRS Bumi Rinjani KepanjenUntuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Manajemen: Analisis efisiensi pengendalian persediaan bahan baku dengan metode economic order quantity: Studi kasus pada home industri kecap Azafood di Kabupaten Blitar

Abstract

INDONESIA:
Bahan baku merupakan salah satu faktor yang penting dalam melakukan suatu produksi. Kekurangan bahan baku akan berakibat pada terhambatnya proses produksi, sedangkan kelebihan bahan baku akan berakibat pada membengkaknya biaya penyimpanan dan biaya lainnya. Untuk mengatasi masalah tersebut ada metode yang dapat digunakan yaitu dengan menggunakan metode Economic Quantity Order (EOQ). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana efisiensi pengendalian persediaan bahan baku gula merah jika menggunakan EOQ (Economic Order Quantity).
Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif pada industri kecap manis Azafood Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, observasi dan wawancara. Adapun data yang digunakan adalah data pembelian bahan baku gula merah selama tiga periode mulai tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 dan untuk menganalisis EOQ, Safety Stock dan Reorder Point.s
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelian bahan baku gula merah menurut metode EOQ selama periode 2012-2014 lebih kecil dibandingkan dengan sistem yang dipakai industri Azafood yang ditemukan penghematan sebesar RP. 234.441.850 selama tiga periode mulai 2012 sampai tahun 2014. Biaya total persediaan menggunakan metode EOQ juga sangat kecil dalam pengendalian bahan baku dibandingkan dengan menggunakan metode yang digunakan Azafood. Sehingga disarankan industri kecap Azafood mempertimbangkan untuk melakukan metode EOQ karena dilihat dari sisi biaya total persediaan sangatlah kecil sekali dibandingkan dengan menggunakan model yang dipakai sebelumnya.
ENGLISH:
The premium material producing is one of factors that important on production. The lack of the premium material will cause the obstacle in production process, mean while the overbalance premium material will cause the expansion cost and the others. In order getting the solution of that problem, we can use the methode that known as Economic Methode quantity Order (EQQ). The purpose of this resesarch to understand how the efesiensi of controling the supply of sugar premium material which use Economic Quantity Order (EOQ).
This research categorized as qualitative descriptive approces in ketchup industry Azafood located in Kecamatan Wlingi Blitar Region. The data of this research use documentation method, observation and interview. The data use in analyzing is the receipt of buying sugar premium material for three period from 2012 up to 2014 dan analysis EOQ, Saftety Stock dan Recorder Point.
The reseaarch shows that the puchasing of sugar premium material according to EOQ Method from 2012-2014 l more less compare with the sistem that used in Azafood industry wich economical scale Rp. 234.441.850 for three period. The total cost of supply using method EOQ also moreless in controling the premium material compare with Azafood method. With the result that Azafood industry ketchup consider to use method look at from total cost supply is very little compare with the method before.
ARABIC:
مواد أولية هي أحد العوامل الهامة في القيام الإنتاج. ان نقص المواد الخام تعوق عملية الإنتاج، في حين أن المواد الخام الزائدة سيؤدي إلى أكبر بكثير من تكاليف التخزين وغيرها من النفقات. للتغلب على هذه المشاكل هناك طرق التي يمكن استخدامها وباستخدام الكمية النظام الاقتصادي (EOQ). والغرض من هذه الدراسة هو دراسة كيف كفاءة من المواد التموينية من السكر الاحمر في حالة استخدام EOQ
هذا البحث هو وصفي نوعية في صناعة الصويا الحلوة أزافود ويلينجى في بليتار. تقنيات جمع البيانات باستخدام أساليب التوثيق والرصد والمقابلات. البيانات المستخدمة هي مشتريات السكر البني البيانات من المواد الخام لثلاث فترات 2012-2014 ولتحليل EOQ، Safety Stock و Reorder Point.s

وأظهرت النتائج أن شراء المواد الأولية السكر الاحمر وفقا لطريقة EOQ خلال الفترة 2012-2014 أصغر من الأنظمة المستخدمة صناعة أزافود جدت مدخرات234.441.850 روفية لثلاث فترات من عام 2012 حتى عام 2015. وتبلغ التكلفة الإجمالية لطريقة EOQ المخزون هي أيضا صغيرة جدا في السيطرة على المواد الأولية بالمقارنة مع استخدام الأساليب المستخدمة أزافود. صناعة الصويا أزافود ولذلك فمن المستحسن أن تنظر في القيام طريقة EOQ كما من حيث التكلفة الإجمالية للمخزون صغيرة جدا بالمقارنة مع استخدام النموذج المستخدم سابقا.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Perkembangan ekonomi yang pesat dan tingkat persaingan yang semakin tinggi, menuntut perusahaan untuk dapat bertindak secara efektif, efisien dan ekonomis dalam mengelola sumber daya. Hal ini bertujuan agar perusahaan mampu bertahan dan bersaing didalam era perekonomian sekarang ini. Persediaan merupakan segala sesuatu atau sumber-sumber daya organisasi yang di simpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan dari sekumpulan produk physical pada berbagai tahap proses transformasi dari bahan mentah ke barang dalam proses,dan kemudian barang jadi (Handoko, 1997: 33). Persediaan merupakan aset lancar dalamperusahaan terutama bagi perusahaan yang sebagian besar assetnya ditanamkan dalam persediaan harus dapat mengelola persediaan tersebut dengan baik. Tugas ini menjadi beban bagi manajemen perusahaan agar lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan dan keputusan serta tindakan-tindakan yang terutama berkaitan dengan pengendalian persediaan untuk mempertahankan kegiatan operasinya. Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena persediaan fisik banyak perusahaan melibatkan investasi rupiah terbesar dalam pos aktiva lancar. Bila perusahaan menanamkan terlalu banyak dananya dalam persediaan, menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan, dan mungkin mempunyai “opportunity cost” yang lebih besar. Demikian pula, bila perusahaan tidak 2 mempunyai persediaan yang mencukupi, dapat mengakibatkan biaya – biaya terjadinya kekurangan bahan. Bahan baku merupakan salah satu faktor yang sangat vital bagi berlangsungnya suatu proses produksi. Persediaan bahan baku yang melebihi kebutuhan akan menimbulkan biaya simpan yang tinggi, sedangkan jumlah persediaan yang terlalu sedikit menimbulkan kerugian yaitu terganggunya proses produksi kerugian yaitu terganggunya proses produksi dan juga berakibat hilangnya kesempatan untuk memperoleh keuntungan apabila ternyata permintaan pada kondisi yangsebenarnya melebihi permintaan yang diperkirakan. Agar tetap bisa bertahan dalam situasi persaingan pasar yang begitu ketat, perusahaan perlu melakukan penekanan biaya persediaan serta penghematan biaya untuk pembelian bahan baku. Adanya penanganan yang tepat terhadap persediaan bahan baku sangat diperlukan untuk mengantisipasi keadaan apabila permintaan pasar tiba-tiba naik pada suatuperiode tertentu. Dengan demikian persediaan produk dapat dioptimalkan serta biaya-biaya yang terkait didalamnya dapat ditekan se-efisien mungkin. Setiap perusahaan pasti memiliki persediaan yang tentu memiliki bahan baku yang berbeda-beda seperti jumlah maupun jenisnya, hal ini dikarenakan setiap perusahaan memiliki produksi dan hasil yang berbeda-beda walaupun setiap perusahaan pasti mempunyai keunggulan dan kelemahan di bidang masing-masing. Dalam mencapai sebuah tujuan tidaklah mudah dikarenakan adanya faktor-faktor yang dapat menghambat jalannya kelancaran perusahaan sehingga setiap perusahaan harus mampu mengendalikan faktor-faktor yang akan dihadapinya. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran perusahaan ialah mengenai produksinya. Menurut Sukanto 3 (1992) produksi merupakan pusat pelaksanaan kegiatan konkrit mengadakan barangbarang dan jasa-jasa. Tanpa kegiatan ini kosonglah arti suatu badan usaha. Setiap perusahaan, khususnya industri harus mengadakan persediaan bahan baku, karena tanpa adanya persediaan bahan baku akan mengakibatkan terganggunya proses produksi dan berarti pula bahwa pengusaha akan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan yang seharusnya dia dapatkan. Persediaan yang berlebihan akan merugikan perusahaan dari biaya-biaya yang ditimbulkan dengan adanya persediaan tersebut, yang mana biaya dari pembelian itu sebenarnya dapat digunakan untuk keperluan lain yang lebih menguntungkan. Sebaliknya, kekurangan persediaan bahan baku dapat merugikan perusahaan karena akan mengganggu kelancaran dari proses kegiatan produksi dan distribusi perusahaan (Soekarwati, 2001). Menurut Mulyadi (1986 : 118), bahan baku adalah bahan yang membentuk bagian integral produk jadi. Bahan baku yang diolah dalam perusahaan manufaktur dapat diperoleh dari pembelian lokal, pembelian import atau dari pengolahan sendiri. Persediaan bahan baku merupakan hal yang sangat penting. Persediaan bahan baku yang dimaksudkan ialah untuk memenuhi kebutuhan untuk proses produksi pada waktu yang akan datang. Persediaan bahan baku harus mampu mencukupi kebutuhan dalam produksi. Pada dasarnya semua perusahaan atau industri rumahan memiliki perencanaan dan pengendalian persediaan bahan baku dengan tujuan meminimumkan biaya dan untuk memaksimumkan laba dalam waktu tertentu. Seiring dengan perkembangan pasar di indonesia membuat persaingan home industri semakin ketat dalam daya tarik pembeli. Mengendalikan persediaan bahan baku yang tepat bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Agar bisa bertahan dalam situasi 4 persaingan pasar yang begitu ketat, maka perusahaan dapat melakukan penekanan biaya persediaan serta bisa menghemat biaya pembelian bahan baku. Ma‟arif dan Tanjung (2003: 278) mengemukakan bahwa Perkiraan pemakaian mutlak diperlukan untuk membuat keputusan berapa persediaan yang dilakukan untuk mengantisipasi masa mendatang. Faktor utama dalam menunjang kelancaran dan efektifitas proses produksi bagi suatu industri adalah bahan baku. Selain itu juga adanya permintaan yang banyak dan industri rumahan dituntut untuk lebih optimal dalam memproduksi. Seperti yang dijelaskan oleh Gitosudarmo dan Basri (1999), persediaan merupakan bagian utama dari modal kerja aktiva yang setiap saat dapat mengalami perubahan. Model persediaan akan sangat bergantung kepada bahan atau barang, apakah bahan tersebut bersifat permintaan bebas atau sebagai permintaan terikat. Begitu juga Heizer dan Render (2005: 67) juga memaparkan bahwa Model pengendalian persediaan menganggap permintaan untuk sebuah barang mungkin bebas (Independent) atau terikat (dependent) dengan permintaan barang lain. Menurut Tampubolon (2004:196) didalam menentukan kebijakan persediaan untuk permintaan dapat digunakan model-model persediaan sesuai dengan tingkat efisiensi yang ditetapkan perusahaan. Dan permasalahan bahan baku merupakan permasalahan yang paling mendasar bagi sebuah perusahaan manufaktur, karena bahan baku merupakan suatu hal yang sangat penting bagi sebuah proses produksi. Robyanto, dkk (2013) meneliti mengenai persediaan bahan baku tebu pada pabrik gula pandji PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) di Situbondo Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengakui upaya bahan baku pasokan yang Pabrik Gula 5 Pandji PTPN XI (persero) yang harus terpenuhi. Dalam penelitian ini, data yang telah dianalisa dalam dua cara; Metode deskriptif. Sebuah metode penelitian yang menggunakan analisis dalam bentuk narasi menggunakan pandangan logis untuk menjelaskan angka dalam penjelasannya sehingga dapat membantu dalam membuat keputusan. Metode kuantitatif dilakukan dalam beberapa cara; Metode Economic Order Quantity (EOQ),Safety Stock; Susun ulang Titik (ROP); Persediaan Maksimal (MI), Metode Total Biaya Persediaan (TIC). Zahra, dkk (2014) meneliti mengenai pengendalian persediaan bahan baku garam guna meminimalkan biaya persediaan dengan menggunakan Metode Economic Order Quantity (pada perusahaan CV. Garam sari Rasa, Cianjur)
bertujuan untuk melihat bagaimana pengendalian persediaan bahan baku dengan menggunakan metode Economic order Quantityguna meminimumkan biaya pada perusahaan CV, Garam Sari Rasa dan mengetahui apakah dengan metode EOQ perusahaan dapat lebih meminimumkan biaya pemesanan dibandingkan metode atau cara yang dilakukan oleh perusahaan. Hasil dari penelitian yang dilakukan adalah bahwa kebijakan persediaan bahan baku yang dilakukan CV. Garam Sari Rasa selama ini masih belum optimal bila dibandingkan dengan penerapan persediaan bahan baku dengan menggunakan metode Economic Order Quantity. Seperti halnya Home industriAzafood adalah salah satu industri yang ada di kabupaten Blitar, tepatnya terletak di desa Njudel Kecamatan Wlingi. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1999 dan bergerak dibidang industri kecap. Bahan baku yang digunakan adalah kedelai hitam, gula merah dan bahan pendukung lainnya. Dari bahan baku tersebut industri ini mengeluarkan dua merek yang berbeda yaitu Azafood dan 6 Gurame. Industri rumahan ini mempunyai karyawan 24 orang, dan sudah termasuk sales dan administrasi. Bahan baku gula kelapa diperoleh dari Wlingi dan Nglegok. Sebab pernah membeli bahan baku gula kelapa dari daerah Tulungagung tetapi rasa dan kualitasnya kurang baik. (H. M. Syamsul Huda, 7 september 2015 ) dan harga bahan baku gula kelapa dapat dilihat pada gambar 1.1 Gambar 1.1 Harga Gula kelapa lokal Sumber: Dinas Perindustrian Pusat Selama ini industri kecap Azafood belum terkenal sampai luar Blitar, karena pemasaran dan penjualannya hanya daerah
Kota Blitar dan Kecamatan Blitar saja. Pada hal jika penjualan sampai keluar Blitar akan berpengaruh juga terhadap produksi, pemesanan kecap dan laba yang dihasilkan. Metode analisis Economic Order Quantity adalah tingkat persediaan yang meminimalkan total biaya menyimpan persediaan dan pemesanan. Ini adalah salah satu model klasik. Keranka kerja yang digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan juga dikenal sebagai Wilson EOQ model atau Wilson formula. Persediaan diadakan untuk menghindari gangguan, waktu dan biaya lainnya. Namun untuk mengisi persediaan jarang akan memerlukan penyelenggaraan persediaan sangat besar. Oleh karena itu jelas bahwa beberapa keseimbangandiperlukan untuk menampung dan karena itu banyak 7 persediaan untuk memesan. Ada biaya menyimpan persediaan dan kedua biaya harus seimbang. Tujuan dari model EOQ adalah untuk meminimalkan total biaya persediaan. Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dari beberapa sumber, peneliti mendapatkan informasi bahwasannya masalah yang sedang dihadapi oleh Industri kecap Azafood adalah sering terjadinya kelebihan persediaan karena pemesanan barang baku gula kelapa hanya berdasarkan perkiraan sehingga terjadi penumpukan di gudang. Oleh karena itu dari berbagai fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk mencoba menerapkan metode Economic Order Quantity yang mana nantinya dapat memberikan sumbangsih kepada home industri Azafood atau bisa menjadi masukan industri Azafood dalam hal pengendalian persediaan bahan baku serta mengembangkan sistem yang lebih baik dalam persediaan bahan baku dan penilaian kualitas produk pada industri rumahan agar jumlah persediaan bisa optimal dan menurunkan biaya pemesanan. Home industri ini juga sangat berpotensi untuk lebih besar lagi. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya terhadap pengendalian persediaan bahan baku yang berbeda secara teori yang mendasari, menunjukkan adanya reseach gap terhadap pengendalian persediaan bahan baku. Peneliti menilai bahwasannya metode yang diterapkan cukup membantu dalam hal persediaan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti dengan judul “ANALISIS EFISIENSI PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PEMBUATAN KECAP DENGAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) (Studi Kasus Pada Home Industri Kecap Azafood di Kabupaten Blitar)”
1.2  Rumusan Masalah
 Dari paparan latar belakang di atas, peneliti merumuskan masalah yaitu Bagaimana menentukan persediaan bahan baku pembuatan kecap di home industri Azafood dengan menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ) ?
1.3  Tujuan Penelitian
 Untuk mengetahui persediaan bahan baku pembuatan kecap di home industriAzafood dengan menggunakan metode Economic Order Quantity(EOQ).
1.4  Manfaat Penelitian
 Penelitian ini dibuat dengan harapan nantinya akan membawa manfaat bagi banyak pihak. Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
 1. Bagi home industri Azafood di Kab. Blitar
a. Memberikan gambaran mengenai penerapan metode Economy Order Quantity agar bisa meningkatkan efisiensi biayapersediaan.
b. Memberikan masukan bagi home industri “Azafood” di Kab. Blitar dari hasil metode Economic Order Quantity untuk mendukung sistem persediaan home industri “Azafood” Kab. Blitar agar mampu meningkatkan efiesiensi biaya (cost) Persediaan Bahan Baku.
c. Sebagai referensi dan tambahan bahan masukan bagi pihak lainterutama bidang menejemen operasional dalam rangkamengadakan penelitian lebih lanjut khususnya tentang metodeEconomic Order Quantity untuk menciptakan efiesiensi biayapersediaan bahan baku 9
2. Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan a. Membuka kembali ilmu pengetahuan yang lama, supaya tidaktertingalkan dengan ilmu-ilmu yang baru.
b. Untuk menambah perbendaharaan perpustakaan bagi UINMaulana Malik Ibrahim Malang pada umumnya dan fakultas Ekonomi jurusan Manajemen.
3. Bagi Penulis Penelitian ini dapat menambah pengetahuan serta mempraktekkanteori-teori yang didapat dibangku kuliah agar dapat melakukan risetilmiah dan menyajikan dalam bentuk tulisan dengan baik.
1.5 Batasan Penelitian

 Batasan masalah dalam penelitian ini adalah pada rentan waktu penelitian yaitu pada tahun 2012-2014 dan metode yang digunakan dalam penilaian ini adalahEconomic Order Quantity (EOQ)
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Manajemen : Analisis efisiensi pengendalian persediaan bahan baku dengan metode economic order quantity: Studi kasus pada home industri kecap Azafood di Kabupaten BlitarUntuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Manajemen: Analisis ketepatan model altman, springate, zmijewski, ohlson dan grover Sebagai detektor kebangkrutan: Studi kasus pada perusahaan yang delisting di bursa efek Indonesia (BEI) Periode 2010-2014

Abstract

INDONESIA:
Tingkat kesehatan perusahaan sangatlah penting artinya bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dalam menjalankan usahanya, sehingga kemampuan untuk memperoleh keuntungan dapat ditingkatkan yang akhirnya dapat menghindari adanya kemungkinan kebangkrutan suatu perusahaan. Salah satu indikator kebangkrutan suatu perusahaan adalah delisting dari BEI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui manakah diantara model Altman, Springate, Zmijewski, Ohlson dan Grover yang paling tepat sebagai detektor kebangkrutan pada perusahaan.
Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan yang telah delisting dari Bursa Efek Indonesia periode 2010-2014 dengan menggunakan pendekatan studi laporan keuangan tiga tahun sebelum perusahaan tersebut di delisting. Teknik pengambilan objek dalam penelitian ini adalah dengan purposive sampling. Dalam penelitian ini sampel yang dipakai sebanyak 12 perusahaan dari 17 perusahaan yang didelisting selama periode penelitian.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Altman memiliki tingkat akurasi sebesar 58,33%, Springate memiliki tingkat akurasi sebesar 66,67%, Zmijewski memiliki tingkat akurasi sebesar 33,33%, Ohlson memiliki tingkat akurasi sebesar 8,33% dan Grover memiliki tingkat akurasi sebesar 41,67%. Dari kelima model analisis kebangkrutan yang digunakan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model Springate merupakan model yang paling tepat digunakan sebagai detektor kebangkrutan dengan tingkat akurasi sebesar 66,67%. Hal ini karena perusahaan yang mengalami kebangkrutan memiliki kecenderungan menghasilkan modal bersih yang kecil dari total asetnya, kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak dari aktivanya semakin kecil, semakin kecilnya tingkat penjualan perusahaan dengan menggunakan seluruh aktivanya, dan semakin kecil kemungkinan laba sebelum pajak dapat menutupi hutang lancar yang dimiliki perusahaan.
ENGLISH:
The level of corporate health is very important for the company to improve efficiency in the operations, so the ability to make a profit can be improved which can eventually avoid the possibility of bankruptcy of a company. The bankruptcy of a company begins with the emergence of financial difficulties (financial distress). The aim of this study was to determine which of the Altman model, Springate, Zmijewski, Ohlson and Grover most accurate in predicting financial distress at the company who have delisted from the Indonesia Stock Exchange in 2010-2014.
This research use qualitative descriptive method. The object of this research are companies that have been delisted from the Indonesia Stock Exchange in 2010-2014 by using a three-year study of the financial statements before the company delisted. The object of this study used purposive sampling method. In which 12 companies from 17 companies which delisted during the study period is used as the sample in this study.


The results showed that the model Altman has an accuracy rate of 58.33%, Springate has a 66.67% accuracy rate, Zmijewski has an accuracy rate of 33,33%, Ohlson has an accuracy rate of 8.33% and an accuracy Grover amounting to 41.67%. Of the five bankruptcy analysis model used in this study can be concluded that the model Springate is the most appropriate model is used as detector of bankruptcy with a level of accuracy of 66.67%. This is because corporate bankruptcies have a tendency to produce a net capital smaller than total assets, the company's ability to generate earnings before interest and tax of assets is getting smaller, the small level of the selling company with all its assets, the smaller profit will be got by the company before the tax which covered the debt that the company had.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
 Dewasa ini, ekonomi global sedang mengalami pergolakan. Pergolakan tersebut memiliki dampak negatif terhadap negara-negara berkembang tak terkecuali Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh Christine Lagarde (Managing Director IMF) dalam kuliah umum di Universitas Indonesia sebagai berikut, “Seperti banyak negara berkembang lain, Indonesia saat ini sedang diterpa serangan lain dari gejolak keuangan global. Dalam empat tahun terakhir, ekonomi Indonesia telah melambat dan baru-baru ini turun di bawah 5%, yang merupakan level terendah untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan global” (cnnindonesia.com). Melihat kondisi perekonomian Indonesia yang cukup tidak stabil karena masih sangat terpengaruh oleh keadaan ekonomi dan politik dunia, tidak dipungkiri bahwa setiap perusahaan akan dibayang-bayangi dengan adanya pendatang baru yang lebih kompetitif dan turunnya kinerja atau performa (inovasi) perusahaan yang bisa mengakibatkan bangkrutnya usaha mereka karena berbagai faktor. Untuk itu diperlukan sebuah penilaian kondisi kesehatan perusahaan sebagai antisipasi terjadinya kebangkrutan suatu perusahaan. Tingkat kesehatan perusahaan sangatlah penting artinya bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dalam menjalankan usahanya, sehingga kemampuan 2 untuk memperoleh keuntungan dapat ditingkatkan yang akhirnya dapat menghindari adanya kemungkinan kebangkrutan suatu perusahaan. Kebangkrutan suatu perusahaan akan menimbulkan beberapa permasalahan yang berhubungan dengan pemilik maupun karyawan yang harus kehilangan pekerjaannya. Hal ini sebenarnya tidak akan menimbulkan permasalahan yang lebih besar kalau proses kebangkrutan pada suatu perusahaan dapat diprediksi lebih dini sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya kebangkrutan tersebut. Risiko kebangkrutan bagi perusahaan sebenarnya dapat dilihat dan diukur melalui laporan keuangan, dengan cara melakukan analisis terhadap laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahan yang bersangkutan. Analisis laporan keuangan merupakan alat untuk mengetahui posisi keuangan serta hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan. Analisis kebangkrutan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk melihat apakah perusahaan tersebut nantinya akan bangkrut atau tidak. Analisis ini sangat bermanfaat bagi perusahaan untuk melakukan antisipasi yang diperlukan dari peringatan awal kebangkrutan. Semakin awal tanda-tanda kebangkrutan tersebut ditemukan, semakin baik bagi pihak manajemen, karena dapat melakukan perbaikan sejak awal (Hanafi, 2003:263). Indikator perusahaan bangkrut di pasar modal adalah perusahaan delisting (Fatmawati, 2012). Semua kewajiban perusahaan yang telah dikeluarkan dari bursa sebagai perusahaan tercatat akan terhapus juga, termasuk kewajiban untuk menerbitkan laporan keuangan. Bagi perusahaan go public yang telah mencatatkan sahamnya, delisting ini merupakan suatu kerugian. Hal ini terjadi 3 karena perusahaan tersebut tidak bisa lagi menjual sahamnya untuk mendapatkan dana dari masyarakat. Bagi investor, perusahaan yang sudah delisted adalah identik dengan bangkrut, karena sudah tidak bisa lagi investasi di perusahaan tersebut.(Fatmawati, 2012) Terjadinya delisting beberapa perusahaan go-public di Bursa Efek Indonesia (BEI), yang disebabkan karena kesulitan likuiditas juga merupakan bukti dari fenomena bahwa suatu perusahaan cenderung akan mengalami financial distress bahkan bisa terjadi kebangkrutan. Menurut Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor : Kep- 308/BEJ/07-2004 tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa, “Penghapusan pencatatan (Delisting) adalah penghapusan efek dari daftar efek yang tercatat di bursa sehingga efek tersebut tidak dapat diperdagangkan di bursa”. Delisting atas suatu saham dari daftar Efek yang tercatat di bursa dapat terjadi karena dua hal yaitu permohonan delisting saham yang diajukan sendiri oleh perusahaan tercatat, atau delisting karena efek dihapus pencatatan sahamnya oleh bursa. Salah satu hal yang dipertimbangkan oleh BEI dalam penentuan perusahaan yang didelisting atau tidak adalah laporan keuangan perusahaan tercatat. Laporan keuangan merupakan cerminan keadaan suatu perusahaan. Analisis laporan keuangan merupakan alat yang penting untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan serta hasil yang telah dicapai sehubungan dengan pemilihan strategi perusahaan yang telah diterapkan. Melakukan analisis laporan keuangan dan mengetahui rasio keuangan perusahaan bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan dan kondisi keuangan 4 perusahaan dari tahun ke tahun apakah mengalami peningkatan atau penurunan kinerja. Analisis diskriminan dilakukan untuk memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan dua sampai lima tahun sebelum perusahaan tersebut diprediksi bangkrut. Hal ini yang mendorong perlunya peringatan dini adalah munculnya problematika keuangan yang mengancam operasional perusahaan. Faktor modal dan risiko keuangan mempunyai peranan penting dalam menjelaskan fenomena kepailitan / tekanan keuangan perusahaan tersebut. Penelitian mengenai alat deteksi kebangkrutan telah banyak dilakukan sehingga memunculkan berbagai model dalam menghitung apakah perusahaan tersebut nantinya akan bbangkrut atau tidak yang digunakan sebagai alat untuk memperbaiki kondisi perusahaan sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan (Endri, 2009). Seperti yang dinyatakan Nidhi dan Saini (2013) bahwa keadaan keuangan perusahaan dapat dinilai menggunakan rasio keuangan standar. Beberapa alat deteksi kebangkrutan yang dapat digunakan yaitu model Altman Zscore (1968), model Springate (1978), model Zmijewski (1983), model Ohlson (1980) serta model Grover (2003). Altman (1968) menguji manfaat rasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan Altman menggunakan multivariate discriminant analysis dalam menguji manfaat lima rasio keuangan dalam memprediksi financial distress. Menurut Altman teknik pengunaan MDA mempunyai kelebihan dalam mempertimbangkan karakteristik umum dari perusahaan yang relevan, termasuk interaksi antar perusahaan tersebut dan mengkombinasikan berbagai rasio menjadi 5 suatu model prediksi yang berarti dan dapat digunakan untuk seluruh perusahaan, baik perusahaan publik, pribadi, manufaktur, ataupun perusahaan jasa dalam berbagi ukuran. Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio keuangan (profitabilitas, likuiditas dan solvabilitas) bermanfaat dalam memprediksi kebangkrutan dengan keakuratan yang cenderung menurun untuk periode waktu yang lebih lama. Hadi dan Anggraeni (2008) melakukan penelitian tentang pemilihan prediktor delisting terbaik (perbandingan antara the zmijewski model, the altman model dan the springate model). Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa model Altman merupakan prediktor terbaik di antara ketiga prediktor yang dianalisa yaitu model Altman Z-score, model Zmijewski dan model Springate. Springate (1978) menghasilkan model penentu kebangkrutan yang dibuat dengan mengikuti prosedur model Altman (Prihanthini dan Sari, 2013). Dengan mengikuti prosedur yang dikembangkan Altman, Springate mengunakan step– wise multiple discriminate analysis untuk memiih empat dari 19 rasio keuangan yang popular sehingga dapat membedakan perusahaan yang berada dalam zona bangkrut atau zona aman, dengan menggunakan 40 perusahaan sebagai sampelnya. Imanzadeh, et.al. (2011) dalam penelitiannya yang berjudul A Study of the Application of Springate and Zmijewski Bankruptcy Prediction Models in Firms Accepted in Tehran Stock Exchange menghasilkan bahwa model Springate lebih konservatif daripada model Zmijewski. Dimana rasio keuangan yang digunakan model Springate lebih mencerminkan keadaan pada saat penelitian dibandingkan dengan rasio keuangan yang digunakan dalam model Zmijewski. 6 Zmijewski (1984), dalam Fatmawati (2012) metode Zmijewski (X-Score) menggunakan analisis rasio yang mengukur kinerja, leverage, dan likuiditas suatu perusahaan untuk model prediksinya. Zmijewski menggunakan probit analisis yang diterapkan pada 40 perusahaan yang telah bangkrut dan 800 perusahaan yang masih bertahan saat ini. Fatmawati (2012) melakukan penelitian tentang tentang penggunaan the zmijewski model, the altman model, dan the springate model sebagai prediktor delisting. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa model Zmijewski merupakan model yang lebih akurat daripada model Altman Zscore dan model Springate. Salah satu Studi Empiris Kebangkrutan Metode MDA adalah metode Ohlson. Ohlson (1980) mendeteksi perusahaan bangkrut dengan menggunakan model analisis logit. Ohlson dalam penelitiannya menggunakan sampel 105 perusahaan bangkrut serta 2058 perusahaan yang tidak bangrut pada periode 1970-1976. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, Ohlson menggunakan analisis logit kondisional untuk menghilangkan analisis MDA. Variabel rasio keuangan yang digunakan adalah size (log (total asssets/GNP Price-level index)), total liabilities/total assets, working capital/total assets, current liabilities/current assets, net income/total assets, funds from operations/total liabilities. Penelitian Ohlson ini menggambarkan model logit secara tepat dan penyampelan yang sesuai dengan populasi antara perusahaan bangkrut dan tidak bangkrut dengan ketepatan prediksi untuk seluruh variabel rasio keuangan sebesar 96,3%. Wulandari, et al (2014) mendukung penelitian yang dilakukan Ohslon yang menyatakan bahwa 7 model Ohlson adalah model analisis yang paling efektif dan akurat dalam perusahaan Food and Beverages di BEI pada periode 2010-2012. Model Grover (2003) merupakan model yang diciptakan dengan melakukan pendesainan dan penilaian ulang terhadap model Altman Z-Score. Jeffrey S. Grover menggunakan sampel sesuai dengan model Altman Z-score pada tahun 1968, dengan menambahkan tiga belas rasio keuangan baru. Sampel yang digunakan sebanyak 70 perusahaan dengan 35 perusahaan yang bangkrut dan 35 perusahaan yang tidak bangkrut pada tahun 1982 sampai 1996. Prihatini dan Sari (2013) menyatakan hal yang sama bahwa model Grover merupakan model yang paling sesuai diterapkan pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena model ini memiliki tingkat keakuratan yang paling tinggi dibandingkan dengan model prediksi lainnya yaitu sebesar 100%. Melihat perbedaan hasil penelitian di atas, maka penelitian kali ini mengkaji tentang perbedaan model Altman Z-score, model Springate, model Zmijewski, model Ohlson dan model Grover untuk melakukan analisis kebangkrutan. Karena dari penelitian-penelitian terdahulu, masih belum menemukan model prediksi yang paling tepat. Penelitian tentang kebangkrutan suatu perusahaan telah banyak dilakukan di dunia tak terkecuali di Indonesia.
Akan tetapi penelitian tentang perusahaan delisted serta analisis ketepatan model yang tepat masih sangat terbatas. Padahal apabila kita telaah dengan seksama, perusahaan yang delisted sangatlah tepat apabila dijadikan objek pada penelitian tentang model analisis kebangkrutan. 8 Perusahaan yang delisted dari BEI sudah dapat dipastikan mengalami kesulitan keuangan. Hal ini dapat dicermati dalam Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor : Kep- 308/BEJ/07-2004 bahwa bursa menghapus pencatatan saham perusahaan tercatat apabila perusahaan tercatat mengalami kondisi salah satunya laporan keuangan memperoleh pendapat disclaimer selama 3 (tiga) tahun berturut-turut dan laporan keuangan adverse untuk tahun buku terakhir. BEI melakukan pemantauan terhadap perusahaan-perusahaan yang terdaftar sebagai perusahaan efek di Indonesia setiap periodenya (6 bulanan). Pada setiap periodenya apabila ada perusahaan yang mengalami kondisi yang telah ditentukan peraturan diatas, maka BEI akan mendelisting perusahaan tersebut. Tidak setiap periode ada yang didelisting, seperti tahun 2010 tidak ada perusahaan yang didelisting tetapi pada tahun berikutnya yaitu 2011 ada 5 perusahaan yang didelisting. Berikut tabel perusahaan yang didelisting dari BEI selama periode 2010-2014. Tabel 1.1 Jumlah Perusahaan Delisting di BEI Periode 2010-2014 No. Tahun Jumlah Perusahaan Delisting 1 2010 0 perusahaan 2 2011 5 perusahaan 3 2012 4 perusahaan 4 2013 7 perusahaan 5 2014 1 perusahaan Sumber: idx.co.id Selain itu perusahaan yang delisted memenuhi kriteria perusahaan yang akan mengalami kebangkrutan dengan tanda-tanda yaitu penurunan laba secara terus-menerus dan perusahaan mengalami kerugian. Berikut grafik yang 9 menunjukkan bahwa beberapa perusahaan delisted mengalami penurunan bahkan sampai minus. Gambar 1.1 Grafik laba perusahaan tiga tahun sebelum mengalami delisting Sumber: Data diolah peneliti, 2015 Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa perusahaan yang delisting dari Bursa Efek Indonesia terbukti mengalami salah satu gejala kebangkrutan. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Ketepatan Model Altman, Springate, Zmijewski, Ohlson dan Grover Sebagai Detektor Kebangkrutan (Studi Kasus pada Perusahaan yang Delisting di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2010-2014)”. Th -3 Th -2 Th -1 ASIA -8852 -6387 -804 PTRA -4 -246 -36 SIIP -947 -987 -7389 -10000 -9000 -8000 -7000 -6000 -5000 -4000 -3000 -2000 -1000 0 ASIA PTRA SIIP 10
 1.2 Rumusan Masalah
 Berdasarkan latar belakang di atas dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
 1. Bagaimana implementasi hasil model Altman, Springate, Zmijewski, Ohlson dan Grover sebagai detektor kebangkrutan perusahaan?
2. Manakah diantara model Altman, Springate, Zmijewski, Ohlson dan Grover yang paling tepat sebagai detektor kebangkrutan perusahaan?
 1.3 Tujuan Penelitian
 Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, tujuan penelitian ini adalah:
1.      Mengetahui implementasi hasil model Altman, Springate, Zmijewski, Ohlson dan Grover sebagai detektor kebangkrutan perusahaan
 2. Mengetahui model yang paling tepat diantara model Altman, Springate, Zmijewski, Ohlson dan Grover sebagai detektor kebangkrutan perusahaan.
1.4 Manfaat Penelitian
 1.4.1 Bagi Perusahaan Diharapkan penelitian ini menjadi bahan pertimbangan dalam menggunakan model analisis kebangkrutan yang tepat untuk menilai kondisi keuangan perusahaan yang berpotensi mengalami kebangkrutan dengan didelistingnya perusahaan dari Bursa Efek Indonesia.
 1.4.2 Bagi Investor Diharapkan penelitian ini menjadi bahan pertimbangan dalam menggunakan model yang tepat untuk menilai kondisi keuangan  perusahaan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan investasi di masa yang akan datang. 1.4.3 Bagi Akademisi Diharapkan penelitian ini dapat memberikan tambahan wawasan dan informasi tentang model-model analisis kebangkrutan sebagai detektor kebangkrutan perusahaan serta sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.

1.4.4 Bagi Penulis Penelitian ini dapat memperluas wawasan penulis di bidang keuangan secara khusus dalam analisis menggunakan model analisis kebangkrutan Altman, Springate, Zmijewski, Ohlson dan Grover sebagai detektor kebangkrutan perusahaan yang terancam delisting pada perusahaan yang telah go public
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Manajemen : Analisis ketepatan model altman, springate, zmijewski, ohlson dan grover Sebagai detektor kebangkrutan: Studi kasus pada perusahaan yang delisting di bursa efek Indonesia (BEI) Periode 2010-2014Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini