Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Saturday, August 19, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Pendidikan Agama Islam:Partisipasi wali murid dalam meningkatkan minat belajar anak di Raudlatul Athfal Miftahul Ulum Pamekasan.

Abstract

INDONESIA:
Wali murid memiliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap masa depan anak. Keberhasilan anak di dalam menjalani hidup di dunia tergantung pada ke dua orang tua. Jika orang tua salah mendidiknya, maka akan berakibat fatal bagi perkembangan kehidupan anak. Oleh karena itu, Allah mengingatkan kepada setiap keluarga yang beriman agar bisa menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.
Minat belajar anak pertama kali tumbuh dan berkembang bersama orang tua. Oleh karena itu, orang tua sebagai yang pertama dan utama harus tahu terhadap anak secara keseluruhan untuk kemudian meningkatkan minat belajar yang dimilikinya.
Di Pamekasan, kecamatan Pasean, tepatnya di sekolah RA Miftahul Ulum penting untuk dilakukan penelitian terkait dengan partisipasi wali murid dalam meningkatkan minat belajar anak.
Bepijak pada permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk membuat judul “ Partisipasi wali murid dalam meningkatkan minat belajar anak di RA Miftahul Ulum Pamekasan.” Permasalahan yang diangkat adalah: Bagaimana bentuk partisipasi wali murid terhadap pendidikan anak di RA Miftahul Ulum dan Bagaimana dampak partisipasi wali murid terhadap peningkatan minat belajar anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui dan mendeskripsikan partisipasi wali murid terhadap peningkatan minat belajar anak dan dampaknya.
Penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif, karena peneliti ingin mendeskripsikan apa adanya hasil dari penelitian lapangan yang akan diteliti. Penelitian jenis ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih terhadap sekolah untuk kemudian dijadikan pertimbangan dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan minat belajar anak di RA Miftahul Ulum.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk partisipasi wali murid dalam rangka meningkatkan minat belajar anak bermacam-macam; Mulai dari bimbingan belajar, penyediaan fasilitas belajar, penjagaan kesehatan anak, pengawasan lingkungan pergaulan anak dan lain-lain. Begitu juga dampak yang dihasilkan beragam, hal ini bisa dilihat dari perilaku keseharian anak di sekolah, di rumah maupun ketika anak bergaul dengan teman-temannya yang lain seperti antusias mengingkuti pelajaran dan mengerjakan PR dengan baik.
Jadi, partisipasi wali murid dalam rangka meningkatkan minat belajar anak penting untuk dilakukan, mengingat wali murid adalah orang paling tahu terhadap sikap, watak, dan karakter yang dimiliki oleh anak.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Bagaimanapun pendidikan mempunyai peranan penting dan strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam perspektif ekonomi pendidikan yang merupakan Human Invesment akan dapat memberikan keuntungan yang akan datang baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Bahkan secara simultan dapat memberikan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dalam menghadapi tantangan global, masa kini dan masa yang akan datang. Dalam Islam pendidikan mempunyai makna sebagai proses investasi kemanusiaan yang mengandung nilai ibadah. Oleh karena itu setiap muslim wajib menjadi subjek sekaligus objek pendidikan sepanjang hayatnya. Menjadi subjek dalam arti seorang muslim ikut berperan aktif dalam pendidikan itu sendiri yaitu dalam proses pendidikan anaknya. Sebagai objek pendidikan, seorang muslim merupakan bagian dari proses pendidikan itu sendiri dalam arti seorang muslim adalah peserta didik atau peserta dari pendidikan. Begitu penting dan strategisnya peran pendidikan, maka pendidikan seyogyanya dilakukan secara luas dan merata. Artinya bahwa pendidikan tidak hanya dapat diperoleh dari sistem pendidikan formal yang biasanya diselenggarakan oleh sekolah baik negeri maupun swasta, tetapi juga dapat diperoleh melalui pendidikan non formal bahkan dari keluarga dan masyarakat. Ini berarti bahwa tanggung jawab pendidikan bukan hanya dimonopoli pemerintah semata, melainkan juga keluarga dan masyarakat.
Ketiganya yang dikenal dengan istilah tri pusat pendidikan harus bersinergi dan komitmen yang sama untuk membangun masa depan. Dalam konteks demikian, maka keberhasilan pendidikan Indonesia ke depan akan sangat tergantung pada peran penting dari proaksi pemerintah, keluarga dan masyarakat. Ketiga-tiganya harus saling bahu membahu, lebih-lebih keluarga atau famili, karena keluarga merupakan proses yang pertama dan utama. Dikatakan pertama karena sebelum memasuki dunia pendidikan yang lain seorang anak mengalami proses pendidikan ini. Sedangkan istilah utama, dimaksudkan peran kedua orang tua terutama ibu tidak bisa tergantikan oleh orang lain. Karena itu Nabi Muhammad bersabda: “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitroh, maka dua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu yahudi, nasrani, dan majusi”, (HR. Bukhari dari Abu Hurairah). Sabda Nabi tersebut menegaskan peran strategis keluarga dalam membina pribadi dan akhlak anak. Dalam kontek ini bagaimanapun orang tua harus menjadi suri tauladan yang baik dihadapan putra-putrinya, seperti hidup rukun antara sesama keluarga, menghargai dan menghormati tetanggga, menunjukkan praktek prilaku yang baik bukan hanya sekedar memberi nasehat belaka, melainkan harus membuktikan melalui pola tingkah laku yang baik. Di samping itu juga perhatian dan keikutsertaan keluarga bukan hanya berbentuk akhlak, perilaku dan budi pekerti saja, melainkan berupa dukungan materi.
 Dukungan materi itu berupa langsung maupun tidak langsung. Bagaimanapun juga kedua dukungan tersebut harus se iya se kata. Jika salah satu dari keduanya terabaikan, maka pendidikan anak akan tidak optimal atau mungkin tidak akan sesuai dengan apa yang diinginkan. Hubungan orang tua dengan anaknya bukan merupakan hubungan pribadi yang didasarkan atas kewibawaan saja, melainkan hubungan yang didasarkan atas cinta kasih. Karena itulah perhatian orang tua sangat diperlukan demi keberlangsungan belajar anaknya. Apabila ibu meluangkan sebagian waktunya, maka akan berpengaruh dalam kehidupan keluarga dan kemajuan belajar anaknya. Menurut penelitian ahli jiwa terbukti bahwa semua pengalaman yang dilalui orang sejak lahir merupakan unsur-unsur dalam pribadinya.1 Tugas keluarga adalah meletakkan dasar-dasar bagi perkembangan anak ke tahap berikutnya agar anak berkembang secara baik. Seorang anak yang tidak mendapatkan pendidikan secara wajar akan mengalami kesulitan dalam perkembangan berikutnya. Keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang pertama sangat penting dalam membentuk pola kepribadian anak, karena di dalam keluarga anak pertama kali berkenalan dengan nilai dan norma. Bimbingan dan bantuan pada anak dalam lingkungan keluarga yang dilakukan orang tua pada prinsipnya terikat oleh adanya kewajiban sekaligus sebagai penanggung jawab pertama dan utama sejak anak itu lahir ke dunia sampai anak itu dewasa dalam arti berumah tangga dan berkeluarga Pendidikan dalam rumah tangga tentu memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai, salah satu pendapat tentang tujuan tersebut sebagaimana yang dinyatakan oleh Ahmad Tafsir.2 Tujuan pendidikan dalam rumah tangga ialah agar anak berkembang secara maksimal, itu meliputi seluruh aspek perkembangan anaknya, yaitu jasmani, akal, rohani. Di samping itu juga membantu sekolah atau lembaga kursus dalam mengembangkan pribadi anak didiknya.
 Oleh karena itulah maka sebaiknya pihak orang tua memahami, mengetahui sekalipun hanya sedikit mengenai apa dan bagaimana pendidikan dalam rumah tangga, sehingga dengan pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi penentu, rambu-rambu bagi orang tua dalam melaksanakan tugas dan kewajiban membimbing anak. Adapaun salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pendidikan anak adalah perhatian orang tua dalam meningkatkan minat belajar anak. Perhatian orang tua merupakan faktor yang penting dalam menunjang keberhasilan pendidikan dan dapat membantu proses kegiatan mengajar guru di sekolah. Dengan adanya perhatian akan menimbulkan minat tersendiri bagi seorang anak. Jika orang tua memberikan perhatian sepenuhnya kepada anak maka akan tumbuh di dalam diri anak untuk selalu mengikuti dan melaksanakan apa yang menjadi kehendak orang tua, sudah sewajarnya orang tua memelihara dan mendidik anakanaknya dengan rasa kasih sayang, perasaan, kewajiban dan tanggung jawab yang ada pada orang tua untuk mendidik anak timbul dengan sendirinya secara alami tidak karena dipaksa atau disuruh orang lain. Perhatian orang tua terhadap anak 2 Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1991) hlm. 155 sangat menentukan dalam pendidikannya, dan dapat meningkatkan minat belajar anak. Berbicara tentang minat akan menyangkut dua hal. Pertama, minat pembawaan. Minat ini muncul dengan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, biasanya minat ini muncul berdasarkan bakat yang ada.
Kedua, minat yang muncul karena adanya pengaruh dari luar baik lingkungan maupun kebutuhan. Adapun minat yang pertama dan perlu diperhatikan oleh orang tua adalah minat pembawaan karena ia merupakan tameng yang kuat apabila dikembangkan di dalam diri anak dan bisa menjadi tameng bagi anak itu sendiri dari pengaruh yang kurang baik dari luar. Minat, memegang peranan penting dalam kehidupan anak sebagai sumber motivasi untuk belajar, sumber aspirasi, kegembiraan dan prestasi. Sedangkan faktor yang mempengaruhi minat yaitu: a. Kondisi fisik b. Kondisi mental c. Emosi d. Lingkungan sosial Kondisi fisik meliputi kesehatan, kelengkapan indera yang dimiliki individu. Kondisi mental seperti kematangan, kestabilan emosi dan masa kejiwaan. Emosi berkaitan dengan kepekaan individu dan kejiwaan serta penghayatan. Sedangkan lingkungan sosial adalah suatu lingkungan hidup di mana individu-individu bersosialisasi, misalnya di dalam sekelompok masyarakat, di antara teman sebaya, yang mana individu itu terlibat aktif dalam lingkungan sosial.
Kurangnya perhatian dari orang tua terhadap seorang anak dapat mempengaruhi perkembangan minat belajar anak. Problem pendidikan yang sering ditemukan dalam masyarakat dewasa ini adalah bahwa pendidikan adalah mutlak urusan lembaga pendidikan formal sehingga berhasil tidaknya proses pendidikan hanya diarahkan pada sekolah terutama guru. Padahal kalau kita melihat pada aturan yang baku, pendidikan adalah tanggung jawab orang tua, pemerintah dan masyarakat. Melihat masyarakat Langgar Polay yang nota bene penduduknya beragama Islam, bisa dikatakan seratus persen anaknya disekolahkan ke RA Miftahul Ulum, dan Setiap hari orang tua mengantarkan anaknya pergi ke sekolah tersebut sampai selesai atau sampai pulang ke rumah. Ini berarti orang tua RA Miftahul Ulum sangat memperhatikan terhadap pendidikan anaknya. Karena itulah peneliti merasa tertarik untuk meneliti partisipasi orang tua terhadap pendidikan anaknya dalam meningkatkan minat belajar anak di lembaga tersebut. Terhadap penelitian ini, penulis sengaja memberi judul skripsi ini dengan “Partisipasi Wali Murid Dalam Meningkatkan Minat Belajar Anak Di RA Miftahul Ulum Langgar Polay Pamekasan”.
B.     Rumusan Masalah
 Berdasarkan latar belakang masalah di atas penulis merumuskan masalah penelitian ini pada:
1. Bagaimana bentuk partisipasi wali murid terhadap pendidikan anak di RA Miftahul Ulum? 2. Bagaimana minat belajar anak di RA Miftahul Ulum?
 C. Tujuan Penelitian
 Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk: 1. Mengetahui dan mendeskripsikan partisipasi wali murid terhadap pendidikan anak di RA Miftahul Ulum. 2. Mengetahui dan mendeskripsikan minat belajar anak di RA Miftahul Ulum. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti, menambah wawasan tentang penulisan karya ilmiah serta dapat mengetahui kondisi riil tentang pendidikan RA Miftahul Ulum. 2. Bagi lembaga, sebagai bahan pertimbangan untuk kemajuan pengelolaan RA Miftahul Ulum.  

Untuk Mendownload Skripsi "Pendidikan Agama Islam" :Partisipasi wali murid dalam meningkatkan minat belajar anak di Raudlatul Athfal Miftahul Ulum Pamekasan." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Pendidikan Agama Islam:Komparasi konsep pengajaran antara Al-Ghazali dan John Dewey

Abstract

INDONESIA:
Pengajaran merupakan hal penting dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pengajaran Sebagai sarana penting dalam usaha membangun sumber daya manusia dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan sehingga tercipta manusia yang memiliki moral, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keahlian dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya sebuah konsep pengajaran yang mapan untuk dijadikan acuan yang paten. Konsep pengajaran yang dimaksud adalah konsep pengajaran ideal.
Dalam penulisan skripsi ini, digunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Adapun jenis penelitian ini adalah studi kepustakaan (library reseach). Metode pengggumpulan datanya menggunakan metode dokumentasi, dan analisa datanya menggunakan analisis isi (content analisis) Adapun metode analisa datanya dalam skripsi ini menggunakan metode diskripsi, deduksi, induksi, kesinambungan historis dan serta menggunakan metode komparasi. Sedangkan tekhnik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi.
Hasil penelitian ini adalah (1) Pemikiran pengajaran Al-Ghazali bercorak religius-etik. Corak tersebut dipengaruhi oleh penguasaannya di bidang sufisme, dalam kepribadiannya penuh nilai-nilai Islami, ajaran tasawuf dan metafisika. Ia lebih menekankan pada budi pekerti dan spiritualitas manusia. Tujuan pengajarannya adalah taqarrub kepada Allah yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat, mengembangkan potensi manusia serta membentuk manusia yang berakhlak. Dalam rumusan garis-garis kebijakan dalam rencana pengajarannya sesuai dengan klasifikasi kelompok, golongan, nilai nilai materi pelajaran, secara hirarkis sesuai dengan tingkat manfaat dan bahaya yang ditimbulkannya. Dan metode dianjurkan menggunakan metode yang bervariasi dan harus disesuaikan dengan usia, karakter dan daya tangkap siswa. Adapun macamnya ada dua: pengajaran agama meliputi hafalan, pemahaman, keyakinan, dan pembenaran; metode pengajaran akhlak yakni metode keteladanan dan metode pembiasaan, Serta diikuti dengan evaluasinya. (2) pemikiran Konsep yang ditawarkan oleh John Dewey bersifat radikal, lebih mengedepankan kebebasan manusia secara mutlak. Dikatakan radikal karena berangkat dari perjuangannya yang melawan berbagai bentuk pengajaran yang tidak berdasarkan pada keinginan peserta didik. Menurutnya manusia sebagai subyek yang mampu merubah realitas. Ia lebih mengandalkan pada kebebasan manusia secara mutlak, tanpa adanya pengakuan bahwa penciptanya yang memiliki hak mutlak tersebut. Dalam rumusan garis-garis kebijakan dalam rencana pengajarannya penuh pertimbangkan, penyesuaian sungguh-sungguh dalam hubungan antara cabang-cabang pengetahuan dengan keadaan kapasitas pengalaman peserta didik. Metodenya pun juga tidak mengesankan pada penanaman nilai-nilai budi pekerti, ia lebih mengarah pada pengajaran yang kontekstual, non naratif dan lebih pada realitas kehidupan. Metode yang ia gunakan adalah metode problem solving, learning by doing dan metode disiplin; serta diikuti dengan evaluasi, reflektif, observasi, riwayat hidup dan expresiv (3) Komparasi dari pengajaran Al-Ghazali dan John Dewey dapat dilihat dari sisi persamaan maupun perbedaannya. Persamaannya secara ekplisit terletak pada pengakuannya tentang eksistensi manusia yang mana dengan fitrah, impulse kemanusiaannya mampu melakukan sesuatu untuk tujuan hidupnya. Selain itu keduanya sama-sama muncul dari sosio-kultural yang inhuman (kolonialisasi pemikiran). Sehingga pendapat-pendapat yang digunakan bersumber dari kenyataan dalam hidup dan pengalaman mereka masing-masing. Perbedaannya adalah Al-Ghazali dalam pemikirannya memiliki corak religius- etik, ia mencetuskan konsep berbasis Islami, yang menekankan pada sisi spiritualitas dan nilai-nilai moral. Sedangkan John Dewey dengan corak radikalnya mencetuskan konsep pengajaran pembebasan (demokrasi) dalam usaha kesadaran kritis menuju humanisasi.
Akhirnya, skripsi ini bermuara pada harapan bahwa pengajaran lebih memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar hidup, dalam prosesnya memberikan kesempatan berefleksi kepada siswa atas setiap pengalaman yang diperolehnya. Hal ini tidak hanya tanggung jawab guru sebagai pendidik, namun lebih jauh merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan sekolah. Mudah-mudahan konsepsi ini dapat menjadi masukan yang berarti bagi masa depan guru.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai mahluk yang berpikir atau “homo sapiens” mahluk yang berbentuk “homo faber” mahluk yang dapat di didik/perkembang “homo educandum” dan dengan kedudukannya sebagai mahluk yang berbeda dengan mahluk lainnya haruslah menempatkan manusia sebagai pribadi yang utuh dalam kaitannya dengan kepentingan perkembangan kognitif, psikomotorik dan afektif. 1 Nilai dasar menjadi manusia sesungguhnya adalah berfungsinya potensi dasar manusia secara optimal sehingga sanggup menjalankan aktifitas kehidupan, dan cara untuk mengoptimalisasi, tidak lain melalui rangsangan pengajaran dan pendikan. Manusia dapat menjadi manusia karena pengajaran dan pendidikan. 2 pengajaran maupun pendidikan pada hakikatnya merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Ini menunjukkan bahwa manusia akan menjadi manusia karena pegajaran maupun pendidikan. atau dengan kata lain bahwa pegajaran maupun pendidikan berfungsi untuk memanusiakan manusia. 3 1 Sunarto Dan Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik. Cetakan: 1 (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999), hlm. 2-3 2 Moh. Shofan, Pendidikan Berparadigma Profetik, Upaya Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam (Jogjakarta: IRCISOD, 2004), hlm. 143. 3 A. Weherno Susanto, “Pendidikan Dan Peningkatan Martabat Manusia”, Jurnal Pendidikan, Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang No. 39 th. XIII, Juli- September, 1995, hlm. 36. 1 18 Di dalam pengajaran maupun pendidikan itulah terjadi proses interaksi belajar mengajar antara guru dan murid untuk mendapatkan transfer kognitif, psikomotorik dan afektif sehingga orang yang melakukan proses interaksi pengajaran maupun pendidikan tersebut menjadi manusia yang utuh. Manusia yang secara utuh adalah manusia sebagai pribadi yang merupakan pengejawantahan manunggalnya berbagai ciri atau karakter hakiki atau sifat kudrati manusia yang seimbang antar berbagai segi, yaitu antara segi individu dan social, jasmani dan rohani, dunia dan akhirat. Keseimbangan hubungan tersebut menggambarkan keselarasan hubungan antara manusia dengan dirinya, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam sekitar atau lingkugnannya, dan manusia dengan tuhan merupakan hal yang secara mutlak disandang oleh manusia, sehingga setiap manusia pada dasarnya sebagai pribadi atau individu yang utuh.
 Sampai saat ini proses interaksi pengajaran maupun pendidikan juga masih dianggap sebagai kekuatan utama dalam komunitas sosial untuk mengimbangi laju berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi.  Pengembangan eksistensi pengajaran maupun pendidikan menuntut sistem pengajaran maupun pendidikan yang lebih dinamis dan lebih responsif terhadap berbagai persoalan dan perubahan dalam dunia proses interaksi pengajaran maupun pendidikan. Dalam hal ini, mungkin orang akan mempertanyakan konsep filosofik yang melandasi sistem proses interaksi pengajaran maupun pendidikan yang sedang dilaksanakan atau 4 Sunarto Dan Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, Cetakan: 1 (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999) hlm. 2-3 5 A. Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. V 19 mungkin juga konsep-konsep operasionalnya ditinjau dan di kritik serta di perbaharui agar tetap relevan dengan tuntutan perubahan dan perkembangan kehidupan manusia. 6 Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS, bab I pasal 1 dijelaskan bahwa pengajaran maupun pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar mengajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kpribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 7 Akan tetapi selama ini yang terjadi adalah betapa proses interaksi pengajaran maupun pendidikan selalu tidak sejalan dengan kenyataan yang di hadapi oleh siswa maupun anak didik, maupun tingkat lokal. Padahal proses pengajaran maupun pendidikan sesungguhnya dijalankan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan sumber daya manusia yang (minimal) sanggup menyelesaikan persoalan lokal yang melingkupinya. Dalam artian, setiap proses seharusnya mengandung berbagai bentuk pelajaran dengan muatan lokal yang signifikan dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga out put pengajaran maupun pendidikan adalah manusia yang sanggup memetakan sekaligus memecahkan masalah yang sedang dihadapi masyarakat. 8 6 Munzir Hitami, Mengonsep Kembali Pendidkan Islam (Yogyakarta: Infinite Press, 2004) hlm. 1. 7 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 (Bandung: Fokus Media, 2003), hlm. 3. 8 Firdaus M.Yunus, Pendidikan Berbasis Realitas Sosial, Paulo Friere & YB. Mangun Wijaya (Jogjakarta: Logung Pustaka, 2005) hlm. X. 20 Mangun Wijaya, mengatakan bahwa pengajaran maupun pendidikan di dalam paradigma neokolonial Indonesia saat ini hanya diajukan demi fungsi terhadap kebutuhan penguasa, tidak demi masyarakat. Sehingga setiap pengambilan keputusan selalu harus menunggu datang dari penguasa, masyarakat tidak pernah menjadi pemikir yang kreatif dan terampil untuk setiap saat mengadakan penyesuaian dalam perbagai alternatif yang mungkin.
 Meminjam istilah Azyumardi Azra, terjadi semacam situasi anomaly atau bahkan krisis identitas ideologis. 10 Sistem proses interaksi pengajaran maupun pendidikan di Indonesia sudah memiliki ideologi sendiri, yaitu pancasila. Namun implementasinya dalam penyelenggaraan pengajaran maupun pendidikan, walaupun sudah ada Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, masih belum jelas arahnya. Terbukti masih banyak mengadopsi strategi dari ideologi pengajaran dan pendidikan lain. Dengan pertimbangan menghadapi globalisasi memanfaatkan strategi orang lain sah-sah saja, dengan maksud untuk meningkatkan mutu proses interaksi pengajaran maupun pendidikan nasional yang saat ini tertinggal dari negara-negara lain selama strategi itu tidak menggoyahkan ideologi sendiri, maka tidak masalah. 11 Hasil investigasi dari beberapa lembaga internasional yang menunjukkan bahwa proses interaksi pengajaran maupun pendidikan di Indonesia memiliki kwalitas yang masih sangat rendah. Penyebab rendahnya kwalitas pengajaran maupun pendidikan di Indonesia ini, menurut penelitian Darmaningtyas, karena 9 Firdaus M. Yunus, Ibid, hlm. 10. 10 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi Dan ModernisasiMenuju Millenium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001), hlm. 33. 11 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam Paradigma Humanisme Teosentris (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 9. 21 pengajaran maupun pendidikan (hanya) dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan dan mendukung ideology militeristik. Karena itulah menurut H. A. Tilaar, proses interaksi pengajaran maupun pendidikan yang dikembangkan orde baru tidak mungkin dapat melahirkan generasi yang ideal. Sebaliknya melalui pengajaran maupun pendidikan seseorang malah masuk perangkap setan, anak kehilangan kejujuran, tipisnya rasa kemanusiaan, kurangnya jiwa makarya, hilangnya pribadi yang mandiri dan rendahnya disiplin diri. 12 Strategi pembangunan yang mengadopsi barat dan meletakkan model kapitalisme sebagai kiblat yang harus ditiru telah memberikan implikasi terciptanya masyarakat yang hedonistik, individualistik dan materialistik. 13 Padahal tujuan pengajaran maupun pendidikan yang diharapkan tidak seperti itu, sesuai dengan Undang-Undang NO. 20 Tahun 2003, Bab II Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa pengajaran maupun pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 14 12 Nurul Huda, Cakrawala Pembebasan Agama, Pendidikan Dan Perubahan Sosial (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002), hlm. 150-151. 13 Muslih Musa, Pendidikan Islam Di Indonesia Antara Cita Dan Fakta (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), hlm. 10. 14 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen Serta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Bandung: Citra Umbara, 2006), hlm. 76. 22 Disisi lain, dalam pasal 31 UUD 1945 ayat (1) disebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran maupun pendidikan. Dalam ayat (4) juga disebutkan bahwa Negara memprioritaskan anggaran pendidikan skurang-kurangnya dua puluh persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta dari Pendapatan dan Belanja Daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. 15 Tetapi pada kenyataannya pendidikan nasional untuk saat ini sepertinya semakin jauh dari visi kerakyatan. Bahkan dengan gerakan otonomi sekolahsekolah tinggi semakin jelas menunjukkan gejala kapitalisme pendidikan. Saat ini pengajaran maupun pendidikan dikelola dengan menggunakan manajemen bisnis yang kemudian menghasilkan biaya yang melangit. Biaya pendidikan makin mahal, bahkan terkesan telah menjadi komoditas bisnis bagi kaum pemilik modal (kapitalis). 16 Dengan menggunakan label "sekolah unggulan", "sekolah favorit", sekolah panutan dan sebagainya biaya pendidikan semakin mencekik "wong cilik". Pendidikan kita semakin menindas terhadap kaum marginal.
Rakyat lemah tidak lagi mampu mengenyam pengajaran maupun pendidikan bermutu akibat mahal-nya biaya pendidikan itu. Kita tentunya masih ingat dengan kasus Haryanto, seorang murid Sekolah Dasar Muara Sanding VI Garut yang putus asa lalu bunuh diri dengan menggantung diri akibat tidak mampu membayar biaya kegiatan ekstrakurikuler. Orang tuanya tidak mampu memberikan biaya kegiatan yang hanya sebesar dua 15 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Dan Amandemennya (Bandung: Fokus Media, 2004), hlm. 23. 16 Mu'arif, Wacana Pendidikan Kritis Menelanjangi Problematika, Meretas Masa Depan Pendidikan Kita (Jogjakarta: IRCISOD, 2005), hlm. 115. 23 ribu lima ratus rupiah. Ia kemudian putus asa lalu menggantung diri. Inilah salah satu dari sekian potret kaum marginal yang serba dalam kesulitan. 17 Akibat eksklusivitas pengajaran maupun pendidikan tersebut, masyarakat miskin pun menjadi sulit untuk mengubah kehidupannya. Mereka pun akhirnya sering diidentikkan dengan kebodohan. Parahnya, sifat fatalistik yang begitu kuat melekat pada masyarakat kita menyebabkan kemiskinan dianggap sebagai nasib atau takdir yang harus diterima. Masyarakat miskin dengan tabah menjalani nasibnya, tanpa ada perlawanan terhadap sistem yang telah membuat mereka miskin. Seharusnya kondisi ini tidak terjadi, jika masyarakat kita sadar bahwa kemiskinan itu bisa dicegah melalui proses pengajaran maupun pendidikan.yang dibangun dari komunitasnya sendiri. pengajaran maupun pendidikan seharusnya menjadi alat perlawanan bagi kaum tertindas untuk melawan kemiskinan dan kesewenang-wenangan dari penguasa yang tidak berpihak pada rakyat jelata. Menurut aktivis pendidikan Boy Fidro, pengajaran maupun pendidikan seharusnya menjadi alat untuk membangun kesadaran yang kritis, sehingga dia menjadi individu yang begitu peka terhadap lingkungannya. Jika masyarakat kita sudah mencapai kesadaran maka mereka tidak akan lagi memposisikan kemiskinan sebagai sesuatu yang harus diterima apa adanya. Mereka akan mempertanyakan mengapa kemiskinan tersebut terjadi pada mereka.
Jika sikap  Jika ditarik kebelakang, kondisi yang terjadi di atas juga memiliki beberapa kesamaan dalam beberapa hal pada masa Al-Ghazali dan John dewey. Pada masa Al-Ghazali terdapat gerakan ilmiah yang sangat radikal dan berkelanjutan. Proses pengajaran maupun pendidikan mengacu capaian-capaian kebendaan, hedonis, materialistik 19 , dan terjadinya kerusakan moral. 20 Dalam situasi kekacauan seperti ini, Al-Ghazali terdorong oleh rasa tanggung jawabnya untuk memperbaiki kekacauan pikiran dan perbuatan yang menggoncangkan kehidupan, sehingga pemikiran Al-Ghazali tentang Proses pengajaran maupun pendidikan secara makro merupakan koreksi terhadap sistem pengajaran maupun pendidikan output yang dihasilkan. Sebenarnya Al-Ghazali telah menyusun konsep pengajaran maupun pendidikan yang ideal dan lengkap untuk mendidik manusia secara utuh. Kesamaan pada masa John dewey, ia mengubah sekolah tradisional yang dianggapnya sudah tidak layak untuk dijalankan, karena dalam sekolah tradisional terdapat kekacauan dan kesalahan, diantaranya: pertama, ia membrantas dengan keras kesalahan sekolah tradisional dan memasukkan “kerja” dalam ruangan sekolah; kedua, dalam sekolah lama jarak antara pengajaran dan penghidupan anak sangat jauh. Dialah yang mendekatkan kehidupan anak di sekolah dengan 18 Pikiran Rakyat, Saatnya Siswa Menjadi Subyek Pendidikan, Opini (Http: Www. Yahoo. Com, Diakses 7 April 2006) 19 Sulaiman Dunya, Al-Haqiqat Pandangan Hidup Imam Al-Ghazali (Surabaya: Pustaka Himah Perdana, 2002), hlm. 29. 20 Ali Al-Jumbulati dan A. Futuh At-Tuwanisi, Perbandingan Pendidikan Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hlm. 128. 25 kehidupan masyarakat. Ia mengubah sekolah kuno yang pasif mati itu menjadi sekolah baru, yang aktif hidup, hingga anak dapat menambah pengetahuan dan kecakapannya serta menemukan skill dan bakatnya dengan baik. Ketiga, di sekolah kuno pelajaran tiap tahun selalu berlangsung sama, tetapi pengajaran proyek mengubah keadaan yang statis itu menjadi dinamis, tiap tahun pengajaran maupun pendidikan berganti sesuai dengan masalah yang diambil dari masyarakat yang selalu hidup dan berubah, dan sesuai dengan perkembangan perhatian anak. Keempat, anak dilatih belajar sungguh-sungguh dan bekerja sama, tidak seperti di sekolah kuno. Di sekolah tradisional anak hanya mengahafal dan berbuat untuk kepentingan diri saja. 21 Untuk dapat menguasai dunia sekitarnya, manusia memerlukan alat berupa pengetahuan dan tekhnologi. Selain menguasai dunia sekitarnya, ia perlu mengetahui dirinya sendiri.
Pengetahuan akan diri sendiri, kemampuan dan keterbatasan diri merupakan syarat untuk mengetahui dan mengeksploitasi dunia sekitar. Pengembangan potensi diri ini merupakan salah satu proses penting menuju terbentuknya manusia Indonesia seutuhnya. Subyek yang menjadi pusat lingkungan bukanlah berdiri di ruangan kosong. Dia berada dalam lingkungan hidup bersama yang berbudaya dengan konfigurasi nilai-nilai. Dia adalah produk, pendukung, sekaligus penggerak kebudayaan dan nilai-nilai yang di kandungnya. 22 21 Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif: Menimbang Konsep Fitrah dan Progresivisme John Dewey (Yogyakarta, Safiria Insani Press, 2004) hlm. 63-64. 22 HR. Tilaar, Pendidikan Dalam Pembangunan Nasional Menyongsong Abad XXI (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 71. 26 Seorang pemikir Islam Al-Jundi, sebagaimana dikutip Mohammad Arkoun mengatakan, manusia bebas atau kebebasan manusia merupakan satu diantara ciri khas Islam, karena Islam adalah agama yang pertama kali menganjurkan kebebasan manusia. 23 Menurut Islam kebebasan merupakan sikap dasar manusia dan salah satu wujud jati diri manusia yang sebenarnya jika dibandingkan dengan makhluk lain. Jati diri inilah yang manusia seutuhnya, berkarakter dan mandiri. Sebenarnya untuk mewujudkan fungsi dari Proses pengajaran maupun pendidikan harus berusaha mengembangkan potensi yang telah ada pada diri manusia, yang dibawanya sejak menghirup udara kehidupan di dunia ini, agar manusia benar-benar menjadi manusia. Sebab tanpa adanya usaha stimulatif yang bersifat eksternal terhadap perkembangan potensi tersebut, manusia sulit dan jauh untuk menjadi manusia yang sempurna. 24 Bagi Al-Ghazali, pengembangan potensi diri (fitrah) manusia tersebut harus dilakukan dan menjadi keharusan dari pengajaran dan pendidikan. Menurutnya, sasaran pengajaran dan pendidikan. menurut Al-Ghazali adalah kesempurnaan insani didunia dan akhirat. Dan manusia akan sampai pada kesempurnaan hanya dengan melalui sifat keutamaan melalui jalur ilmu, sehingga menjadi bahagia dunia dan akhirat
 Menurut konsep ini, dapat dinyatakan bahwa semakin lama seseorang duduk di bangku pendidikan atau mendapatkan pengajaran, semakin bertambah ilmu pengetahuannya, maka semakin dekat kepada Allah. Tentu saja, untuk mewujudkan hal itu bukanlah sistem pengajaran maupun pendidikan dan pendidikan sekuler yang memisahkan ilmu-ilmu keduniaan dari nilai-nilai kebenaran dan sikap religius, juga bukan pengajaran maupun pendidikan Islam tradisional yang konservatif. Tetapi sistem Proses pengajaran maupun pendidikan yang memadukan keduanya secara integral. Sistem inilah yang dapat membentuk manusia mampu melaksanakan tugas-tugas kekhalifahannya. Bahkan lebih jauh, hakekat ilmu menurut Al-Ghazali mengandung makna menghilangkan pengertian ilmu secara terpisah. Karena sentralisasi ilmu ada pada Tuhan sebagai pemiliknya dan manusia (hanya) sebagai pengembangannya. Sehingga jelas tercipta hubungan satu arah yakni ilmu untuk Allah dan ilmu untuk manusia oleh manusia yang berporos kepada Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 32 : (. .ÃÞ Â) . Ô ü Æ ¾È û ¾ ¾ û ÔÂã ¾ Artinya: “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha bijaksana“.
Ide luhur ini akan memberikan tetesan-tetesan kebawah (Trickle down effects) apabila Proses pengajaran maupun pendidikan sebagai proses pendewasaan sosial manusia menuju tataran ideal tersebut dibangun melalui pola 28 ignasian, cara seorang pendidik dalam mendampingi para pelajar dengan mengenalkan refleksi sebagai unsur essensial. 26 Munculnya Ide cemerlang “Paedagogi of the Oppresed“ 1978, merupakan angin segar bagi perkembangan teori pengajaran maupun pendidikan, dan secara politis memberikan alternatif solusi yang ‘bersemangat‘ atas kebuntuan yang melanda praktek pengajaran maupun pendidikan di seantero dunia. Democration, Conscientizacao dan Humanism adalah asumsi dasar yang digunakan oleh John dewey “pendidik revolusioner” dalam mega proyek pemberantasan sekolah tradisional di negaranya (Amerika). Apa yang telah digagas oleh John Dewey bukan semata-mata sebatas wacana Proses pengajaran maupun pendidikan saja. Namun lebih jauh John dewey telah menggunakan pendekatan filosofis yang kemudian membangun paradigma konsep pengajaran dan pendidikan yang pragmatis dan progresiv. Setiap Proses pengajaran maupun pendidikan, baginya merupakan proses masyarakat mengenal diri. Dengan perkataan lain, pengajaran maupun pendidikan adalah proses agar masyarakat menjadi hidup dan dapat melangsungkan aktivitasnya untuk masa depan. Dengan demikian, Proses pengajaran dan pendidikan adalah proses pembentukan impulse (perbuatan yang dilakukan atas desakan hati).
 pengajaran maupun pendidikan pragmatisme John Dewey lebih menekankan pada futuralistik (sebuah pendidikan yang berwawasan masa depan). Karena sifatnya yang future oriented, pragmatisme menolak model pengajaran maupun pendidikan yang ingin kembali ke masa lampau. Dari karakter yang demikian, maka pengajaran maupun pendidikan pragmatisme sering disebut sebagai pengajaran maupun pendidikan modern. pengajaran maupun pendidikan modern menganjurkan agar yang berbuat, yang menghasilkan, dan yang mengajar adalah peserta didik sendiri. Sedangkan peran pendidik lebih berfungsi sebagai fasilitator dan pembimbing. 28 Hakekat pengajaran maupun pendidikan. menurut pragmatisme adalah menyiapkan anak didik dengan membekali seperangkat keahlian dan ketrampilan teknis agar mampu hidup di dunia yang selalu berubah dan berkembang. pengajaran maupun pendidikan diyakini mampu merubah kebudayaan baru dan dapat menyelamatkan masa depan manusia yang semakin kompleks dan menantang. pengajaran maupun pendidikan adalah tempat pembinaan manusia untuk survive menyesuaikan diri dengan perubahan cultural dan tantangan zaman.
Pragmatisme berkeyakinan bahwa pengajaran maupun pendidikan dapat menolong manusia menghadapi periode transisi antara pola pikir tradisonal dengan pola pikir progresif (modern) yang selalu berubah. Fase ini merupakan permulaan bagi periode revolusi menuju tata hidup sosial, teknologi, dan moral yang semakin modern. 30 Konsep pengajaran maupun pendidikan Dewey yang 28 Hasan Langgulung, Pendidikan Dan Peradaban Islam: Suatu Analisa Sosio-Psikologis, (Grafindo: Jakarta, 1985), hlm. 28. 29 Ali Maksum Dan Luluk Yunan Ruhendi, Paradigma Pendidikan Universal Di Era Modern Dan Post-Modern. ( IRCISOD: Yogyakarta, 2004), hlm. 259. 30 Mohammd Noor Syam,. Filsafat Pendidikan Dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. (Usaha Nasional: Surabaya, 1988), hlm. 228. 30 berlandaskan pada filsafat pragmatisme, menilai suatu pengetahuan dalam masyarakat. Yang diajarkan adalah pengetahuan yang segera dapat dipakai dalam penghidupan masyarakat sehari-hari. 31 Dari latar belakang di atas, terdapat dua konsep pengajaran yang berbeda antara Al-Ghazali dan John dewey. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan sosio kultural yang berbeda. Oleh karena itu, peneliti sangat tertarik untuk mengkaji kedua tokoh tersebut dengan judul “Komparasi Konsep Pengajaran Antara Al-Ghazali Dan John Dewey" agar menemukan titik relevansinya sebagai kajian yang aktual dalam moment inovasi yang terjadi di negara ini.
B.     Rumusan Masalah
 Bertitik tolak dari deskripsi di atas, penulis merumuskan masalahnya sebagai berikut:
 1. Bagaimanakah konsep pengajaran Al-Ghazali? 2. Bagaimanakah konsep pengajaran John Dewey? 3. Bagaimanakah komparasi konsep pengajaran antara al-Ghazali dan John Dewey?
C. Tujuan Penelitian
 Dalam pembahasan ini penulis mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mendiskripsikan konsep pengajaran Al-Ghazali 2. Untuk mendiskripsikan konsep pengajaran John Dewey 3. Untuk mengetahui komparasi konsep pengajaran Al-Ghazali dan John Dewey. Dari proses penelitian ini diharapkan memberi manfaat kepada peneliti secara pribadi dan manfaat bagi semua pihak, antara lain: 1. Bagi penulis Penelitian ini sebagai suatu wacana untuk memperluas cakrawala pemikiran tentang konsep atau teori pengajaran.
2. Bagi khalayak umum Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah informasi dan memperkaya khasanah keilmuan yang dapat dibaca, dikonsumsi dan dikaji oleh khalayak umum, khususnya para kaum terpelajar yang ingin mengetahui tentang konsep pengajaran Al-Ghazali dan John dewey.

3. Bagi pengembangan ilmu pendidikan Penelitian ini diharapkan mampu memberikan nuansa baru bagi proses perkembangan keilmuan pendidikan, sekaligus menjadi sumbangan pemikiran bagi dunia pendidikan, terutama dalam dunia pendidikan di Indonesia. 

Untuk Mendownload Skripsi "Pendidikan Agama Islam" :Komparasi konsep pengajaran antara Al-Ghazali dan John Dewey" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Pendidikan Agama Islam :Upaya kepala madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan pada MTs Al-Hidayah Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang

Abstract

INDONESIA:
Sampai saat ini pendidikan Islam di madrasah sering dipandang sebagai pendidikan “kelas dua”. Pengelola madrasah dituntut lebih peduli dalam meningkatkan profesionalitas, mutu madrasah dan mutu pendidikan secara terus menerus, agar madrasah memberikan andil dalam peran pendidikan Islam di abad 21. Peningkatan kualitas pendidikan bukanlah tugas ringan, karena tidak hanya berkaitan dengan permasalahan teknis, tetapi mencakup berbagai persoalan yang sangat rumit dan komplek, baik yang menyangkut perencanaan, pendanaan maupun efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan sistem sekolah. Peningkatan kualitas pendidikan tidak lepas dari upaya Kepala Madrasah sebagai pemimpin madrasah tersebut. Kepala Madrasah dalam mengelola lembaganya telah banyak memberi kontribusi yang positif bagi perkembangan dan kemajuan madrasah di kemudian hari.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan yang diangkat peneliti yaitu Bagaimana proses Kepala Madrasah mengidentifikasi masalah dalam meningkatkan mutu pendidikan pada MTs Al-Hidayah, Prasyarat apa yang dibutuhkan oleh MTs Al-Hidayah dalam meningkatkan mutu pendidikan, Bagaimana Kepala Madrasah merencanakan peningkatan mutu pendidikan pada MTs Al-Hidayah, Bagaimana implementasi peningkatan mutu pendidikan di MTs Al-Hidayah dan Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari Uapaya Kepala Madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan pada MTs Al-Hidayah.
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya studi kasus di MTs Al-Hidayah. Dengan tujuan dapat memberikan diskripsi yang padat serta mengenal subyek secara pribadi dan lebih dekat. Karena dengan adanya pelibatan langsung dengan subyek di lingkungan subyek. Pelibatanini akan dapat mengeskplorasi situasi, kondisi peristiwa secara langsung.
Data yang dihimpun peneliti adalah melalui tiga metode yaitu (1) Metode Wawancara (depth interveuw). (2) Metode Observasi, dan (3) Metode Dokumentasi. Agar hasil penelitian tersusun sistematis maka langkah-langkah peneliti dalam menganalisa data adalah pengumpulan data, reduksi data merupakan proses kegiatan menyeleksi, memfokuskan dan menyerdehanakan data sejak awal pengumpulan data sampai penyusunan laporan, sedangkan penyajian data dilakukan dengan cara menganalisis data hasil reduksi dalam bentuk naratif yang memungkinkan untuk menarik kesimpulan dan mengambil tindakan dan penarikan kesimpulan.
Dengan rancangan penelitian seperti yang dijelaskan di atas, peneliti memperoleh hasil bahwa proses Kepala Madrasah dalam mengidentifikasi masalah pada MTs Al Hidayah Donowarih tertuju pada 9 unsur program Madrasah Education Developing Projetc (MEDP) yaitu (1) Kurikulum dan pembelajaran, (2) Administrasi dan manajemen, (3) Organisasi kelembagaanm (4) Sarana dan prasarana, (5) Ketenagaan, (6) Pembiayaan dan pendanaan, (7) Peserta didik, (8) Peran serta masyarakat dan (9) Lingkungan dan budaya sekolah. Sedangkan Prasyarat dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu Membuat Program Perencanaan Pengembangan Madrasah MEDP-MDP, Memiliki sembilan (9) komponen serta angket Evaluasi Madrasah Tsanawiyah Al-Hidayah, Memiliki dokumen kurikulum standart nasional secara lengkap, Menggunakan kurikulum nasional dalam pembelajaran, Memiliki perencanaan program pembelajaran tahunan dan semesteran, Melaksanakan praktik untuk mata pelajaran Pendidikan Agama seperti : praktik Bimbingan Baca Qur’an (BBQ), Wudlu, Sholat wajib yang benar, Sholat sunnah yang benar dan praktik Sholat jenazah, Madrasah memiliki visi misi yang jelas dalam peningkatan mutu PMB dan Madrasah juga memiliki rencana pengembangan jangka pendek, menengah dan jangka panjang/tahunan. Upaya Kepala Sekolah dalam mengimplementasi peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu (1) Mutu masukan dimana perlunya pembenahan mutu SDM diantaranya administrasi siswa, pegawai, guru, staf tata usaha melalui pelatihan dan penataran. (2) Mutu Proses dimana proses pembelajaran yang dilakukan guru apakah sudah memenuhi proses 6 M, yaitu: mendidik, mengajar membimbing, melatih, mengarahkan, dan menggerakkan. Dan (3) Mutu Hasil, mengingat siswa Madrasah Tsanawiyah Al- Hidayah pada umumnya meneruskan ke Aliyah atau setara maka diperlukan NUN tinggi yang tinggi untuk bersaing mendapatkan SMU/ MA yang terakreditasi. Dan dampak yang ditimbulkan dari Upaya Kepala Madrasah dalam meningkatkan Mutu Pendidikan pada MTs Al-Hidayah Donowarih Kec. Karang Ploso Kab. Malang terdiri dari segi positif terdiri (1) Adanya kebersamaan dalam pengelolaan kurikulum dan proses belajar mengajar, (2) Adanya semangat juang guru dan pegawai, (3) Sarana dan Prasarana lebih meningkat, (4) Peran serta masyarakat yang positif. Sedangkan dari segi negatif dimana Kemampuan dan jiwa psikologi siswa berbeda-beda.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Posisi Kepala Madrasah sebagai pemimpin pendidikan di tingkat operasional memiliki peran sentral dalam membawa keberhasilan lembaga pendidikan. Kepala Madrasah berperan memandu, membimbing, memberi, membangun dan meningkatkan mutu pendidikan. Di samping itu, Kepala Madrasah juga berperan dalam mengendalikan organisasi dan menjalin komunikasi yang baik, memberi supervisi atau pengawasan yang efisien, dengan ketentuan waktu yang terencana. Kepala Madrasah juga memiliki kedudukan di masyarakat, adapun kedudukan Kepala Madrasah dalam masyarakat adalah sebagai pembimbing dan pendorong dalam meningkatkan pendidikan di masyarakat. Dalam kaitannya dengan peran di masyarakat Kepala Madrasah juga harus mengenal badan dan lembaga di masyarakat yang dapat menunjang pendidikan serta mengenal perubahan sosial, ekonomi dan politik masyarakat. Sebagai pemimpin pendidikan, Kepala Madrasah bertanggung jawab dalam pertumbuhan guru secara kontinyu. Melalui praktek yang demokrasi Kepala Madrasah harus mampu membantu guru berkaitan dengan kebutuhan masyarakat sehingga tujuan pendidikan bisa dicapai. Pendidikan merupakan kunci kemajuan, semakin baik kualitas pendidikan yang diselenggarakan oleh suatu masyarakat/bangsa, maka akan 2 diikuti dengan semakin banyaknya kualitas masyarakat/bangsa tersebut.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengembalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.1 Mutu pendidikan yang rendah terletak pada unsur-unsur dari sistem pendidikan sendiri, yakni pada faktor internal dan eksternal. Adapun faktor internal terdiri dari sumber daya ketenagaan sarana dan fasilitas, manajemen sekolah serta pembiayaan pendidikan dan kepemimpinan. Disamping itu, faktor eksternal berupa partisipasi politik rendah, ekonomi tak berpihak terhadap pendidikan, sosial budaya, rendahnya pemanfaatan sains dan teknologi juga mempengaruhi mutu pendidikan.2 Pendidikan mempunyai peran yang sangat besar dan sekaligus merupakan sumber daya yang sangat penting khususnya bagi Negara yang sedang berkembang. Uraian di atas maka sebagai salah satu jalan keluar yang paling baik untuk mengatasi hal tersebut adalah melalui jalur pendidikan karena pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pendidikan akan membantu membentuk kepribadian di masa yang akan datang dan sekaligus juga mempunyai fungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan tujuan nasional. 1 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Bandung, Citra Umbara, 2006) Hlm 72 2 Syarifuddin, Manajemen Mutu terpadu Dalam Pendidikan Konsep, Strategi dan Aplikasi : (Jakarta, Grasindo. 2002) Hlm 7 3 Sebagaimana dikemukakan dalam pembukaan UUD 1945, dan juga yang terdapat dalam UUSPN 2003 Bab II pasal 2 dan 3 yang berbunyi sebagai berikut : 1. Pasal 2 : Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2. Pasal 3 : Pendidikan Nasional berbunyi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik akan menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis dan serta bertanggung jawab. 3 Madrasah adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Bersifat kompleks, karena madrasah sebagai organisasi didalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. Sedangkan sifat unik, menunjukkan bahwa madrasah sebagai organisasi memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi-organisasi lain. Ciri-ciri yang menempatkan madrasah yang memiliki karakter tersendiri, dimana terjadi proses belajar mengajar, tempat terselenggaranya pembudayaan kehidupan umat manusia.4 Karena sifatnya yang kompleks dan unik tersebut, maka madrasah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Keberhasilan madrasah adalah keberhasilan Kepala Madrasah. Kepala Madrasah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan madrasah sebagai organisasi yang komplek dan unik, serta mampu melaksanakan peranan Kepala 3 Undang-undang : Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Delpin, Bandung, 2003) Hlm 8-9 4 Wahjosumijo. Kepemimpinan Kepala Sekolah : Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. (Jakarta, Raja Grafindo Persada. 2002) Hlm 81 4 Madrasah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin madrasah. Sampai saat ini pendidikan Islam di madrasah sering dipandang sebagai pendidikan “kelas dua”. Pengelola madrasah dituntut lebih peduli dalam meningkatkan profesionalitas, mutu madrasah dan mutu pendidikan secara terus menerus, agar madrasah memberikan andil dalam peran pendidikan Islam di abad 21. Hal ini dapat dilakukan kalau tenaga kependidikan di madrasah memiliki visi secara terpadu tentang mutu dan tujuan madrasah.
Peningkatan kualitas pendidikan bukanlah tugas ringan, karena tidak hanya berkaitan dengan permasalahan teknis, tetapi mencakup berbagai persoalan yang sangat rumit dan komplek, baik yang menyangkut perencanaan, pendanaan maupun efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan sistem sekolah. Peningkatan kualitas pendidikan juga menuntut mutu pendidikan yang lebih baik.5 Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan dan untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasional tingkat madrasah adalah dengan cara membenahi sistem pengelolaan madrasah, administrasi madrasah, kedisiplinan, peningkatan kemampuan guru dalam mengajar, kerjasama antara sekolah dan masyarakat. Mutu pendidikan senantiasa perlu di tingkatkan agar selalu dapat mengikuti perkembangan dunia ilmu pengetahuan atau bahkan dapat mewarnai dinamika masyarakat untuk mewujudkan cita-cita idealisme 5 Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung. Remaja Rosdakarya. 2004) Hlm 21 5 tersebut maka pembangunan Indonesia secara formal telah menggariskan beberapa kebijaksanaan pembangunan dalam sektor pendidikan sebagaimana telah dijelaskan dalam GBHN yang salah satu tujuannya adalah untuk memantapkan sistem pendidikan yang efektif dan efisien dalam menghadapi perkembangan. Salah satu bukti perhatian pemerintah dalam mewujudkan pembinaan terhadap madrasah-madrasah yaitu dengan dikeluarkannya Surat Keputusan bersama tiga Menteri yang dikenal dengan sebutan SKB3M. adapun yang dimaksud dengan SKB3M yaitu keputusan bersama antara Menteri agama, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan SK No.6 Tahun 1975 tertanggal 24 Maret 1975 tentang peningkatan mutu pendidikan. Pada SKB3M dibentuk peraturan bahwa yang dimaksud dengan madrasah adalah lembaga pendidikan yang dijadikan mata pelajaran agama Islam sebagai mata pelajaran yang diberikan sekurang-kurangnya 30 % di samping juga pelajaran umum.6 Madrasah Tsanawiyah Al-Hidayah merupakan suatu lembaga pendidikan swasta di bawah naungan Yayasan Al Ma’arif terletak di desa Donowarih Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Madrasah Tsanawiyah tersebut, mempunyai tempat yang strategis, jauh dari keramaian kota, berada di lingkungan pesantren, Kyai Isma’il sebagai tokoh agama di lingkungan masyarakat tersebut, beliau yang mempunyai tempat serta sebagai pendukung atas berdirinya Madrasah Tsanawiyah Al-Hidayah tersebut dan 6 H.A. Timur Djainil, Peningkatan Mutu Pendidikan Agama, (Jakarta, Dermaga 1983) Hlm 72. 6 lingkungannya cukup mendukung. Madrasah Tsanawiyah Al-Hidayah tepatnya berada di Jalan Raya Batu Utara, sebelah utara Masjid Jami’ Karangan, 2 km dari Kecamatan Karangploso ke arah barat, dan ±15 km ke arah barat laut dari kota Malang. Berkat dorongan masyarakat yang penuh semangat perjuangan terhadap agama, maka pada tahun 1983 didirikan Madrasah Tsanawiyah AlHidayah. termasuk sangat signifikan dalam waktu 25 tahun setelah didirikan. Sekolah ini telah berani menunjukkan kebesaran dirinya melalui ekstrakurikuler sebagai sarana pengembangan diri siswa. Ada 12 kegiatan ekstra tersebut yakni OSIS, pramuka, baca tulis Al-Qur’an atau BBQ, PMR, Club Komputer, Club Bahasa Arab, Club Bahasa Inggris, drumband, PASKIBRA, Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Olah Raga Prestasi dan Bina Vokal atau Musik. Adapun 2 diantaranya menjadi unggulan yaitu drumband dan musik. Kini dalam perkembangannya MTs Al-Hidayah juga sering mendapatkan berbagai kejuaraan dan terus melakukan berbagai perbaikan baik sarana prasarana maupun kualitas pendidikannya. Adapun visi MTs Al-Hidayah Karang Ploso Malang sebagai lembaga yang BERPRESTASI DALAM IPTEK UNGGUL DALAM IMTAQ. Sedangkan misinya adalah melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, kreatif sehingga siswa berkembang secara optimal, memahami nilainilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak sesuai dengan potensi yang dimiliki, menumbuhkan semangat belajar seluruh siswa yang berorientasi pada hasil, menekankan pemahaman, penghayatan secara 7 komprehensif dalam berfikir dan bertindak sebagai dampak dari pengalaman, dan penghayatan pengetahuan serta ketrampilan, membantu guru dalam meningkatkan pengembangan kurikulum berorientasi pada proses pembelajaran yang dinamis, dan kondusif bagi pembentukan serta pencapaian kompetensi siswa, menumbuhkan ketaatan siswa terhadap ajaran agama yang dianut sebagai kunci dalam peningkatan keimanan dan ketaqwaan serta moral budi pekerti yang luhur, membekali siswa dengan ketrampilan hidup yang mengarah pada penguasaan tenik budidaya tanaman hias ruang sekaligus teknik pemasarannya dan menumbuhkan semangat kekeluargaan pada warga sekolah serta pendekatan menyeluruh dan kemitraan terhadap seluruh komponen sosial masyarakat.
Sedangkan tujuan MTs Al-Hidayah Karang Ploso Malang adalah mewujudkan silabus dan perangkat pembelajaran untuk tiap mata pelajaran, mewujudkan metode dan strategi pembelajaran untuk tiap mata pelajaran, mewujudkan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, mewujudkan peningkatan kegiatan ketrampilan /life skill, mewujudkan tercapainya standart nilai ujian akhir nasional, mewujudkan siswa memiliki Akhlaq Mulia, mewujudkan siswa memiliki kemantapan aqidah dan kedalaman spiritual, mewujudkan lingkungan belajar yang kondusif, mewujudkan peningkatan sumber daya kependidikan yang profesional, mewujudkan siswa unggul prestasi akademik dan non akademik, mewujudkan siswa mandiri, kreatif dan terampil, mewujudkan kelembagaan dan manajemen yang berkualitas, 8 mewujudkan peningkatan perangkat penilaian pendidikan, dan mewujudkan persiapan siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. MTs Al-Hidayah memiliki Akta Pendirian kelembagaan madrasah dengan nomor Lm/3/354/B/1985 9-Jan-85. Struktur organisasi MTs AlHidayah terdiri dari Kepala Madrasah, Wakil Kepala Bidang Kurikulum, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan. MTs Al-Hidayah memiliki gedung sendiri tetapi sangat kurang yang terdiri dari 3 ruang kelas. Sedangkan untuk ruang Kepala Madrasah, ruang wakil Kepala Madrasah, ruang guru dengan ruang Tata Usaha.
 Disamping itu, untuk menunjang prestasi akademik MTs Al-Hidayah mempunyai perpustakaan meskipun koleksi buku pelajaran dan referensi masih kurang memadai. Dalam perkembangan teknologi MTs Al-Hidayah juga membekali siswa-siswinya dengan adanya laboratorium komputer meskipun belum tersedia jaringan internet. Sedangkan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa MTs Al-Hidayah juga menyediakan sarana peribadatan. MTs Al-Hidayah mempunyai prestasi akademik dan non akademik, terbukti setiap tahunnya para siswa dapat lulus dengan hasil memuaskan dan dapat diterima di sekolah-sekolah negeri yang favorit.
Oleh karena itu, setiap tahunnya jumlah siswa semakin meningkat karena kualitas pendidikan yang dimiliki, sehingga para orang tua berharap agar anaknya dapat diterima di sekolah tersebut. Perkembangan dan kemajuan yang dicapai MTs Al-Hidayah selama ini tidak lepas dari upaya Kepala Madrasah sebagai pemimpin madrasah 9 tersebut. Kepala Madrasah dalam mengelola lembaganya telah banyak memberi kontribusi yang positif bagi perkembangan dan kemajuan madrasah di kemudian hari. Bertolak uraian di atas, maka peneliti terdorong untuk membahas dalam penelitiannya dengan judul :“UPAYA KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN PADA MADRASAH TSANAWIYAH AL-HIDAYAH KEC. DONOWARIH KAB. MALANG”.
B.     Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana proses Kepala Madrasah mengidentifikasi masalah dalam meningkatkan mutu pendidikan pada MTs Al-Hidayah? 2. Prasyarat apa yang dibutuhkan oleh MTs Al-Hidayah dalam meningkatkan mutu pendidikan? 3. Bagaimana Kepala Madrasah merencanakan peningkatan mutu pendidikan pada MTs Al-Hidayah? 4. Bagaimana implementasi peningkatan mutu pendidikan di MTs AlHidayah? 5. Bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh upaya Kepala Madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan pada MTs Al-Hidayah?
C.     Tujuan Penelitian
 Dalam skripsi ini bertujuan untuk:
 1. Mendeskripsikan proses identifikasi masalah dalam meningkatkan mutu pendidikan pada MTs Al-Hidayah 2. Mendeskripsikan prasyarat dalam meningkatkan mutu pendidikan pada MTs Al-Hidayah 3. Mendeskripsikan proses perencanaan Kepala Madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan pada MTs Al-Hidayah 4. Mendeskripsikan implementasi Kepala Madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan pada MTs Al-Hidayah 5. Mendeskripsikan dampak yang ditimbulkan Kepala Madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan pada MTs Al-Hidayah
 D. Manfaat Penelitian
 1. Manfaat praktis meliputi : a. Bagi peneliti Dapat menambah pengalaman dan wawasan tentang upaya yang dicapai Kepala Madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan di lembaga tersebut b. Untuk Kepala Madrasah Sebagai pemimpin lembaga dapat digunakan sebagai masukan dan pertimbangan untuk meninjau kembali dan memperhatikan 11 lembaganya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan terutama para peserta didik. c. Untuk Jurusan PAI Sebagai Evaluasi pada jurusan PAI dan dapat mengidentifikasi masalah dalam peningkatan mutu pendidikan d. Untuk Universitas Islam Negeri Malang Sebagai bahan kajian untuk melenkapi perpustakaan dan bahan dokumentasi.
2. Manfaat teoritis Menambah perluasan khasanah ilmu pengetahuan khususnya pendidikan Agama Islam 


Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Pendidikan Agama Islam" :Upaya kepala madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan pada MTs Al-Hidayah Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Pengaruh intensitas wiridan terhadap self-efficacy santri mahasiswa putri dalam menghadapi persoalan kuliah dan pesantren di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang

Abstract

INDONESIA:
Santri Mahasiswa, santri yang berstatus ganda sebagai mahasiswa, tentunya memiliki keyakinan diri (Self-Efficacy) yang tinggi dalam menghadapi suatu masalah karena status dan tanggung jawab mereka lebih besar. Santri putri di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang 95% adalah mahasiswa di berbagai universitas. Berkenaan dengan hal tersebut, Self-Efficacy santri mahasiswa menjadi sangat menarik untuk dikaji, dihubungkan dengan intensitas wiridan. Bagi santri, wiridan diyakini menjadi sumber ketenangan psikis pembangkit emosi positif. Maka, rumusan masalahnya 1) bagaimana tingkat intensitas wiridan santri mahasiswa putri, 2) bagaimana tingkat Self-Efficacy santri mahasiswa putri, dan 3) adakah pengaruh intensitas wiridan terhadap Self-Efficacy santri mahasiswa putri.
Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui tingkat intensitas wiridan santri mahasiswa putri, 2) mengetahui tingkat Self-Efficacy santri mahasiswa putri, serta 3) membuktikan adakah pengaruh dari intensitas wiridan terhadap self- efficacy santri mahasiswa putri di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif deskfiptif. Teknik pengambilan datanya menggunakan skala likert, dengan rincian instrumen Intensitas Wiridan (variable independen) 34 item pernyataan dan Self-Efficacy (variabel dependen) sebanyak 36 item pernyataan. Instrument ini disebarkan kepada 86 responden yang dipilih menggunakan kuota sampling dan simple random sampling dari jumlah populasi sebesar 215 orang santri. Data tersebut dianalisis menggunakan analisis deskriptif, tabulasi silang, korelasi Product Moment dan uji regresi linier sederhana sebagai uji hipotesis (Uji F).
Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa 69% santri mahasiswa putri Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang memiliki tingkat intensitas wiridan yang tinggi dengan skor mean 131,42, dalam kisaran antara skor minimum 99 dan skor maximum 161. Begitu pula dengan tingkat Self-Efficacy, 65% santri berada pada kategori tinggi dengan skor mean 137,62, dalam kisaran antara skor minimum 104 dan skor maximum 177. Selanjutnya dari hasil analisis tabulasi silang, hanya 7% yang memiliki intensitas wiridan dan Self-Efficacy sangat tinggi, sedangkan sebanyak 6% memiliki intensitas wiridan dan self-efficacy sedang. Kemudian dari analisis korelasi Product Moment menghasilkan rhit=0,395 dan rtabel=0,213, karena rhit>rtabel, maka kedua variabel ini dinyatakan memiliki korelasi yang positif. Sedangakan dari uji regresi diperoleh Rsquare=0,156, Fhit=15,558 dan Ftabel=3,954 (α = 0,05), karena Fhit >Ftabel dan α=0,05>Sig.F=0,000, maka Ha diterima dan Ho ditolak. Artinya bahwa intensitas wiridan memiliki pengaruh secara signifikan dengan tingkat kekuatan sebesar 15,6% terhadap Self-Efficacy santri mahasiswa.
ENGLISH:
Islamic boarding house female students (santri), who deal with double status as a university student also, definitely havehigh self-efficacyof facing a problem because of their status and their bigger responsibility. Female students at Islamic Boarding House of Sabilurrosyad Malang 95% are university students. In this regard, self-efficacy of the students is very interesting to be examined, moreover to be related to the intensity of wiridan. Wiridan-to the students, is believed as the supply of psychological tranquility generating positive emotions. Accordingly, The research questions are 1) how is the level of wiridan intensit y offemale students at Islamic Boarding House, 2) how is the level of student self- efficacy, and 3) is there any influence on the wiridan intensity to female student self-efficacy at Islamic Boarding House.
This study aims to 1) determine the level of wiridan intensity offemale students at Islamic Boarding House, 2) determine the level of student self- efficacy, and 3) prove there any influence on the wiridan intensity to female student self-efficacy at Islamic Boarding House of Sabilurrosyad Malang.
Methodologically, the researcher exerts descriptive quantitative methods approach. The data retrieval technique using a likert scale, by instrument detail Wiridan Intensity (independent variable) 34 items of statements and Self-Efficac y (dependent variable) 36 items of statements. This instrument distributed to 86 selected respondents using quota sampling and simple random sampling. The Data were analyzed using descriptive analysis, cross tabulation, Product Moment correlation and simple linear regression test as hypothesis testing (Test F).
This study showed some facts that 69% of female students at Islamic Boarding House of Sabilurrosyad Malang have high intensity level of wiridan and high level of self-efficacy as well. Their high intensity level of wiridan within mean score 131,42, turning between minimum score 99 and maximum score 161. Besides, the high level of self efficacy also, 65% of Islamic Boarding House students are in high category within mean score 137,62, turning between minimum score 104 and maximum score 177. Subsequently, from the result of cross tabulation analysis, only 7% who have wiridan intensity and high self- efficacy, whereas 6% have wiridan intensity and medium self-efficacy. Furthermore, from the analysis of Product Moment correlation creates rhit=0,395>rtabel=0,213, because of rhit>rtabel, so these both variable are declared that they have positive correlation. Whereas from the regression test acquires Rsquare=0,156, Fhit=15,558 and ftabel=3,954 (a = 0,05), because of Fhit>ftabel and a=0,05>Sig.F=0,000, so Ha is accepted and Ho is rejected. Means that the wiridan intensity significantly have influence in the level strength of 15,6% to the students self-efficacy.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Hakikatnya setiap manusia akan diuji dengan masalah. Masalah yang datang pun beragam, ada masalah sepele sampai masalah yang bertubi-tubi dan rumit untuk diselesaikan. Contohnya, banyak mahasiswa mengalami permasalahan atas perubahan sistem belajar mengajar, serta tuntutan tugas yang lebih sulit, semenjak mereka masuk bangku perkuliahan dibandingkan pada masa SMA. Mereka dituntut untuk dapat menyelasaikan tugas makalah dengan batas waktu yang lebih sempit berikut bahan presentasinya baik secara individu maupun kelompok, melaksanakan penlitian-penelitian, praktikum-praktikum yang prosesnya lebih rumit berikut laporannya yang terkadang harus ditulis tangan. Pagi berangkat kuliahnya, mengumpulkan makalah, presentasi, kumpul kelompok penelitian, siang ke perpustakaan mencari bahan makalah dan presentasi, sore hingga larut malam mulai mengerjakan tugas, terkadang jika mahasiswa mengikuti organisasi intra/ekstra kampus mereka masih harus menyelesaikan dan mengerjakan tugas-tugas dari organisasi. Dari fenomena tersebut, ternyata mahasiswa benar-benar memiliki waktu yang sangat sempit, waktu mereka terforsir untuk dapat menyelesaikan kesemuanya itu. Di sini, mereka sebagai mahasiswa yang baik dan patuh peraturan membutuhkan kesiapan diri untuk penyesuaian diri agar benar-benar mampu mengukuti perkuliahan serta 2 menyelesaikan tugas-tugas tersebut dalam waktu yang dimiliki. Wijaya dan Pratitis (2012) dalam penelitiannya menemukan fakta bahwa efikasi diri memberikan pengaruh yang cukup dominan pada penyesuaian diri dalam persoalan tersebut.1 Sebagai seorang individu yang baru memiliki satu status sebagai mahasiswa saja, mereka seolah-olah sudah hampir kehabisan waktu. Sama halnya dengan seorang yang berstatus sebagai santri saja disebuah pondok pesantren. Sebagai santri, seorang juga mengalami perubahan pola kehidupan serta perubahan sistem pembelajaran yang jauh berbeda dengan sebelumnya dia menyandang status santri.
Di pondok pesantren santri dituntut untuk mampu beradaptasi dengan kegiatan-kegiatan yang harus dijalani oleh santri, ketatnya peraturan yang harus dipatuhi oleh santri, jam keluar yang dibatasi serta padatnya kegiatan mengaji pada setiap harinya. Setiap harinya kegiatan santri dimulai dari sebelum subuh hingga tidur lagi di malam hari, santri diwajibkan untuk mengikuti pengajian diniyah (sekolah salaf), pengajian wetonan, sorogan, lalaran, sholat berjama’ah lima waktu serta berbagai macam piket. Seperti halnya di Pondok Pesantren Salafiyah Nurudh Dholam Bangil, santri diwajibkan bangun sebelum subuh agar dapat melaksanakan sholat malam, berjama’ah sholat Subuh dan dilanjutkan tadarus Al-Qur’an hingga sekitar waktu dhuha awal. Kemudian santri melaksanakan piket kebersihan hingga waktu jam ngaji diniyah (sekolah salaf) dimulai. Dilanjutkan sholat jama’ah Dzuhur dan istirahat hingga waktu ‘Ashar, kecuali 1 Intan P Wijaya & Niken Titi Pratitis, Efikasi Diri Akademik, Dukungan Sosial Orang Tua dan Penyesuaian diri Mahasiswa dalam Perkuliahan, Jurnal Psikologi Persona Vol.1 No.1(Kediri: Universitas Nusantara PGRI Kediri, 2012) 3 santri yang mempunyai tanggungan setoran hapalan Al-Qur’an pada pengasuh. Piket kebersiahan dilanjut kembali setelah jama’ah ‘Ashar hingga menjelang persiapan jama’ah sholat Maghrib. Kemudian ngaji bandongan dengan pengasuh hingga jama’ah ‘Isya dilanjutkan ngaji bandongan kembali dengan kitab yang berbeda hingga sekitar pukul 10.00-11.00 WIB, baru setah itu bisa santri kembali istrirahat.2 Padatnya kegiatan mahasiswa dan santri ini tentunya memunculkan permasalahan dalam setiap penyelesaiannya. Seperti masih adanya beberapa mahasiswa yang terlambat datang kuliah dan terlambat mengumpulksn tugas, atau bahkan ada beberapa yang tidak mampu mengerjakan tugas yang mengakibatkan mahasiswa tersebut mendapatkan nilai rendah atau bahkan harus mengulang mata kuliah. Ada juga mahasiswa yang terlena dengan organisasi hingga menunda-nunda kelulusannya serta kurangnya kepercayaan diri yang mempengaruhi keaktifannya di perkuiahan. Dalam dunia pesantren juga banyak ditemukan permasalahapermasalaha, seperti banyaknya santri yang membolos ngaji diniyah karena belum hapal lalaran yang harus disetorkan yang mengakibatkan santri tersebut akan menerima ta’ziran (hukuman). Kemudian banyaknya santri yang harus melaksanakan ro’an ta’ziaran kaeran tidak mengikuti jama’ah dan ngaji bandongan. Ada juga santri yang tidak naik kelas diniyah karena tidak mampu mengikuti pengajian yang diberikan. Bahkan ada santri yang mencoba melarikan diri atau ingin boyong karena merasa tidak mampu 2 Pengalamana Peneliti ketika mengikuti mondok kilatan di Pondok Pesantren Salafiyah Nurudh Dholam Bangil tahun 2011. 4 beradaptasi dan merasa tertekan dengan peraturan-peraturan yang ada di pondok.
Bagaimana jika masalah itu muncul di depan seorang yang memiliki kedua status tersebut, yaitu tidak hanya berstatus mahasiswa saja tapi juga berstatus santri? Atau istilahnya memiliki status ganda? Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang adalah pondok pesantren yang mayoritas santrinya berstatus ganda, yaitu sebagai santri dan mahasiswa. Permasalahan silih berganti muncul di hadapan para santri ini. Di satu sisi, sebagai seorang santri mereka harus tetap taat pada peraturan pondok, mengikuti pengajian wetonan dan diniyah, kegiatan-kegiatan yang sudah terjadwalkan, sholat jama’ah di masjid, melaksakan segala macam piket kebersiahan dan keamanan, memiliki jam malam, meminta izin ketika keluar masuk pondok. Sedangkan di sisi lain, sebagai seorang mahasiswa, santri tersebut juga memiliki tanggungjawab akan studinya, menyelesaikan seluruh tugas kuliahnya, memahami dan mempelajari setiap materi mata kuliah yang diambil, mengikuti seluruh rangkaian kuliah yang terkadang memakan waktu satu hari dari pagi hingga malam hari, mengikuti UKM, mengukuti kegiatan kampus, jauhnya jarak antara kampus dengan asrama/pondok. Hal itu semua harus dilakukan seorang santri mahasiswa secara beriringan demi mencapai sebuah keberhasilan dan kesuksesan hidup. Lalu apakah semuanya bisa berjalan seimbang? Berdasarkan statement beberapa santri putri Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang, sebagian darinya 5 menyatakan sikap untuk lebih mengutamakan kuliah dan menomorduakan pesantren. Seperti keberhasilan yang diraih oleh salah satu wisudawati dengan IPK tertinggi 3,95 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tahun 2010 dari Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Dengan IPK yang hampir mendekati sempurna (4.00) tersebut membuktikan bahwa mahasiswa tersebut mampu mengerjakan tanggung jawab studinya dengan sangat baik, dapat melaksanakan tugas-tugas dengan sempurna sehingga dapat menyelesaikan studi tepat waktu. Setelah kita menengok latar belakang mahasiswi tersebut, ternyata dia adalah salah seorang santri di sebuah pondok pesantren dekat kampus UIN. Sayangnya sebagai seorang lulusan terbaik pada waktu itu, di pesantren dia termasuk santri yang sedikit mengenyampingkan kewajibannya sebagai santri. Dia sering tidak mengikuti jama’ah sholat subuh dan pengajian wetonan ba’da subuh dengan alasan masih harus mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Karena dia merasa tidak yakin mampu menyelesaikan tugas tepat waktu jika dia masih harus mengikuti pengajian itu. Sebagian lagi menyatakan sikap untuk mengutamakan pesantren dan menomorduakan kuliah. Seperti sikap yang diambil seorang alumni santri Pondok Pesantren Sabilurrosayad Malang mantan ketua panitia Halal Bi Halal tahun 2010. Dia merupakan mahasiswa jurusan Matematika Fakultas Saintek UIN Maliki Malang angkatan 2006. Demi kesuksesan acara pengajian tahunan di pondok tersebut, dia menomorduakan studinya yang seharusnya dapat diselesaikan pada tahun 2010 tersebut, akan tetapi dia justru mengambil sikap untuk menunda kelulusannya satu semester setelahnya, Mei 6 2011. Hal ini juga dirasakan oleh ketua Halal Bi Halal tahun 2015 ini. Dia seorang mahasiswa jurusan PAI UIN Maliki Malang angkatan 2011. Seharusnya dia mampu menyelesaikan studinya pada semester 8 tahun 2015 in, akan tetapi dengan beban tanggung jawab yang sedang dipikulnya ini, dia merasa tidak yakin dapat mengerjakan tugas akhir dengan maksimal. Hingga akhirnya dia mengambil sikap untuk menunda kelulusannya di semester berikutnya. Selain itu ada beberapa santri di pondok di luar Malang, tepatnya di Kota Kediri yang tertunda kelulusan sarjananya hingga lebih dari semester 14, dia merupakan salah satu mahasiswa di salah satu perguruan tinggi islam setempat. Dan setelah ditengok kebelakang, ternyata santri tersebut adalah santri yang mengabdikan dirinya di ndalem (mengurusi rumah kiai) secara total. Mereka beranggapan bahwa patuh dan ta’dzim akan kyai, dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh kyai adalah yang utama, karena pasti akan membawa barokah dan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan dunia dan akheratnya. Oleh karena itu, dia akan melaksanakan segala sesuatu yang diperintahkan oleh kyai meskipun pada waktu itu dia memiliki jadwal kuliah maupun tugas presentasi. Pernah suatu hari ketika dia akan berangkat kuliah, tiba-tiba sang kyai memerintahkan dia untuk membenarkan saluran air yang rusak di ndalem kyai, maka seketika itu dia kembali ke kamar menanggalkan sepatu dan pakaian kuliahnya berganti dengan sarung dan kaos oblong, kemudian berangkat membenarkan saluran air yang rusak tersebut. 7 Dan sebagian yang lain memilih untuk menjalani keduanya secara seimbang. Dan ternyata ada beberapa santri yang mampu menyelesaikan studi tepat waktu dengan tidak meninggalkan seluruh kegiatan pesantren. Seperti yang terjadi pada wisudawan termuda pascasarjana UIN Malang periode Oktober 2013.
Dia adalah seorang santri putra Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang berasal dari Lampung. Di satu sisi, sebagai seorang santri dia sangat patuh akan peraturan pondok, seperti tertib mengikuti jam’ah sholat di masjid, tidak pernah bolos pengajian wetonan dan diniyah kecuali jika sedang pulang ke rumah, rajin melaksanakan Sholat Dhuha dan berwirid setiap setelah sholat, berpakaian sopan, dan berperilaku baik. Di sisi lain, sebagai mahasiswa pascasarjana UIN Maliki Malang yang memilki tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada mahasiswa strata I, dia mampu menyelesaikan studinya tepat waktu dan pada umur yang bisa dibilang muda. Bahkan kini dia meneruskan studi doktoralnya juga di UIN Maliki Malang dan tetap nyantri di Pondok Pesantren Sabilurrosyad. Selain itu ada santri putri Pondok Pesantren Sabilurrosyad yang juga menjalani kedua status ini dengan seimbang, santri ini menyelesaikan studi sarjananya di UIN Maliki Malang tepat 8 semester dan mengikuti wisuda pada periode Mei 2011 dengan kategori IPK sangat baik dan menjadi meraih gelar masternya di almamater yang sama pada Oktober 2013 dengan IPK sangat baik juga. Sebagai santri, dia tidak hanya patuh dan rajin, tapi dia sangat giat dalam melasanakan kegiatan-kegiatan pondok, dia juga mengabdikan diri di ndalem kyai. Santri ini pernah dibebani tanggung jawab 8 sebagai Ketua Pondok Putri periode September 2009 s/d Maret 2011, dan kini menjadi Dewan Pembina Putri mulai periode Maret 2011 s/d sekarang(2015). Bahkan dengan statusnya sebagai dosen di almamaternya, dia masih tetap mampu melaksanakan segala kegiatan pondok dengan baik. Melihat fenomena di atas tentunya seorang santri mahasiswa harus lebih bijak dalam menghadapi persoalan yang muncul akibat status ganda yang disadangnya tersebut. Sebagiman firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 26: üw $oY ­ /uë 3 ÙMt6|°tF¯.$# $tB $pkˆén=t„ur ÙMt6|°x. $tB $ygs9 4 $ygyËÛô„r ûwŒ) $²°¯ˇtR ™ !$# fl#œk=s3„É üw ín?t„ ºÁmtF˘=yJym $yJx. #\ çÙ¹Œ) !$uZ¯än=t„ ˆ@œJÛss? üwur $oY ­ /uë 4 $tR˘'s‹˜zr& ˜rr& !$uZäÅ°Æ S bŒ) !$tRıãœ{#xsË? $oYs9 ˆçœˇ¯Ó$#ur $® Yt„ fl#Ù„$#ur ( æœmŒ/ $oYs9 sps%$s¤ üw $tB $oY˘=œdJysË? üwur $uZ ­ /uë 4 $uZŒ=ˆ6s% `œB ö˙Ôœ% © !$# «À—œ» ö˙ÔÕçœˇªx6¯9$# œQˆqs)¯9$# ín?t„ $tRˆç›£R$$s˘ $uZ9s9ˆqtB |MRr& 4 !$uZÙJymˆë$#ur Artiny: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."(Q.S. Al-Baqarah: 286)3 Dalam ayat di atas, sudah tertulis dengan jelas bahwa “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa” yang artinya “Allah SWT tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya”. Jadi 3 Departement Agama RI, Al-Hikmah Al-Qur’an Terjemah, (Cet. 6; Bandung: Diponegoro, 2007), h. 49. 9 Allah SWT tidak akan membebani hamba-hamba-Nya diluar batas kekuatan dan kemampuannya. Atau dengan kata lain bahwa beban yang diberikan Allah kepada santri yang berstatus ganda tersebut bukanlah suatu hal yang tidak disengaja (di luar kuasa Allah), akan tetapi merupakan suatu ujian yang mau tidak mau harus dihadapi oleh santri untuk senantiasa ingat kepada Allah. Dengan mengingat dan memohon pertolongan kepada-Nya, maka InsyaAllah Allah akan memudahkan dalam menghadapi persoalan tersebut. Dan pada akhirnya, santri lebih memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya untuk menyelesaikan segala persoalan. Kuatnya keyakinan akan kemampuan diri tersebut, menurut Zulfa menyebabkan seseorang untuk terus berusaha sekuat tenaga dalam memecahkan segala problematika kehidupan guna mencapai tujuan hidupnya, dan akan berlaku sebaliknya, jika keyakinan akan kemampuan diri itu rendah, akan melemahkan dan mengurangi usaha sesorang apabila dihadapkan dalam suatu permasalahan.
Bandura dalam Alwisol (2009) menyebut keyakinan diri ini sebagai Self-Efficacy, yakni keyakinan individu terhadap kemampuan mereka akan mempengaruhi cara individu ini dalam bereaksi terhadap situasi dan kondisi tertentu.5 Berdasarkan konsep tersebut, maka keyakinan santri terhadap kemapuannya akan sangat berpengaruh terhadap cara santri dalam mengahadapi situasi dan kondisinya di lingkungan pesantren dan kampus. 4 Layina Tanal Zulfa, Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Self Efficacy dalam Menghapal Al-Qur’an pada Santri Komplek Aisyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Skripsi, (Yogyakarta: Prodi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014), h. 1. 5 Alwisol, Psikologi Kepribadian, Edisi Revisi, (Malang: UMM Press, 2009), h. 10 Bagaimana keyakinan diri tersebut dapat diperoleh? Bandura mengemukakan bahwa keyakinan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan, atau diturunkan melalui salah satu atau kombinasi dari empat sumber, yakni pengalaman akan kesuksesan, pengalaman dari individu lain, persuasi sosial, dan pembangkit emosi atau keadaan emosinya.6 Disini dapat dipahami bahwa keadaan emosi yang mengikuti suatu masalah akan mempengaruhi efikasi seseorang pada masalah tersebut. Emosi negatif yang kuat seperti takut, cemas, stress dapat menurunkan tingkat efikasi diri. Sebaliknya emosi positif yang kuat seperti semangat, ketenangan, percaya diri akan meningkatkan tingkat efikasi diri seseorang. Ketenangan sendiri merupakan perkembangan ruhaniah manusia yang paling tinggi, disamping kebahagiaan. Terjadinya entitas, yaitu keutuhan laku, dan tercapainya integritas kepribadian, yaitu keserasian dimensi fisik, mental dan spiritual manusia. Ketimpangan salah satu dari hal tersebut akan menimbulkan masalah, seperti kekecewaan, kegetiran, sampai kepahitan dalam hidup. Meskipun begitu, selagi aspek spiritual manusia dapat menerimanya, maka masalah akan dapat diurai dan kebahagiaan akan dapat dicapai.7 Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an: æœ&Œ#ãŒ6yô íŒ˚ (#rflâŒgªy_ur s's#ãÅôuq¯9$# œm¯ãs9Œ) (#˛q‰ÛtGˆ/$#ur © !$# (#q‡) Æ ?$# (#q„ZtB#u‰ ö˙Ôœ% © !$# $yg ï Ér'تtÉ «ÃŒ» öcqflsŒ=¯ˇË? ˆN‡6 Ø =yËs9 6 Albert Bandura, Sosial Foundation of though and actin: Asocial Cognitive Theory, (Englewood Cliffs: Prentice-Hall, 1986), h. 7 Drs. H. Mohammad Bisri, M.Si., “Zikir dan Implikasinya bagi Perkembangan Ruhaniah Manusia”, Buletin Ar-Raudhah, Edisi 27/II, September 2014, h. 1 11 Artinya: Hai orang - orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. al-Maa'idah; 35).8 Ada banyak cara yang digunakan untuk memperoleh ketenangan, seperti meditasi, yoga, relaksasi dialam terbuka, dan sebagainya. Namun tidak ada yang menyamai keefektifan dan kecepatan dzikir dalam mencapai ketenangan batin. Bahkan Allah sendiri menegaskan bahwa zikir adalah cara yang sangat efektif untuk menuju ketenangan batin9 . Sebagaiman Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an: Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra’du: 28)10 Adapun dzikir yang efektif adalah yang dilakukan dalam jumlah banyak, sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an:. Artinya: “Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung
 Berdasarkan firman Allah SWT tersebut dapat diambil pemahaman bahwa dengan banyak berzikir (mengingat Allah) seseorang akan menjadi lebih tenang. 12 Semua dzikir (mengingat Allah) adalah berisi kebaikan. Dalam pelaksanaannya, dzikir lebih afdhol jika dilaksanakan secara istiqomah atau continue. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Ahqof ayat 13-14: « û öcqÁRtì¯tsÜ ˆNËd üwur ÛOŒg¯än=tÊ Ï$ˆqyz üxs˘ (#qflJªs)tFÛô$# ß NËO ™ !$# $oY ö /zí (#q‰9$s% t˚Ôœ% © !$# ® bŒ) « Õ» tbqË=yJ˜ËtÉ (#qÁR%x. $yJŒ/ L‰!#tìy_ $pkéœ˘ t˚Ôœ$Œ#ªyz œp ® Ypg¯:$# ‹=ªptıær& y7եتs9'rÈ& Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", Kemudian mereka tetap istiqamah. Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka Itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang Telah mereka kerjakan. (Q.S. Al-Ahqof ayat 13-14) 13 Berdasarkan dalil tersebut, jelas bahwa untuk memperoleh ketenangan jiwa diperlukan amal shaleh yang dilakukan secara istiqomah atau kontinue (terus-menerus). Dalam dunia pesantren pada khususnya, dan masyarakat Jawa pada umumnya, dzikir juga dikenal dengan istilah wiridan. Berkenaan dengan penelitian ini, bagi seorang santri tentunya wiridan bukanlah suatu hal yang 12 Drs. H. Mohammad Bisri, M.Si., “Zikir dan Implikasinya bagi Perkembangan Ruhaniah Manusia”, Buletin Ar-Raudhah, Edisi 27/II, September 2014, h. 2 13 Departement Agama RI, Al-Hikmah Al-Qur’an Terjemah, (Cet. 6; Bandung: Diponegoro, 2007), h. 503.
 asing lagi. Bahkan dalam sebuah maqalah (ungkapan) dalam kitab Kifayatul Atqiya’ halaman 47 disebutkan bahwa14 : “monyet seperti dia maka wirid tidak yang siapa barang “رْدٌ قِ هُوَ فـَ رْدٌوِ هُ لَسَ يْلَ مَنْ Artinya, barang siapa orang yang tidak mengamalkan wirid dia termasuk orang yang lalai kepada Tuhannya. Sehingga untuk seorang santri, mengamalkan wirid adalah suatu hal yang diharuskan. Apalagi untuk santri yang juga menyandang ststus mahasiswa, yang mana mereka akan menemukan berbagai permasalahan yang lebih sulit diantara keduanya senhingga akan lebih membutuhkan ketenangan batin dalam rangka pengambilan keputusan guna menghadapi permasalahan tersebut. Menurut peneliti, kebiasaan wiridan di dunia pesantren yang dilakukan oleh santri ini, menarik untuk dikaji sebab diperkirakan ada hubungan erat antara wiridan(dzikir) dengan tingkat self-efficacy santri dalam menyikapi permasalahannya, khususnya para santri mahasiswa yang dalam hal ini memiliki status ganda yaitu sebagai seorang santri pondok dan juga sebagai seorang mahasiswi. Kita ketahui bahwasannya sebagai seseorang yang berstatus ganda, dalam melaksanakan kewajiban keduanya banyak terjadi benturan-benturan yang menjadi masalah. Untuk itu perlu adanya efikasi diri seseorang untuk menjalani kedua. Untuk membahas fenomena ini, peneliti mengambil subjek penelitian santri mahasiswa putri Pondok 14 Abu Bakar Al-Ma’ruf, Kitab Kifayatul Atqiya’ Wa Minhajul Ashfiya’, h. 47. (www.nu.or.id. 1 maret 2013) 14 Pesantren Sabilurrosyad Malang, yang dalam hal ini mereka memiliki status ganda sebagai seorang santri sekaligus mahasiswa.
B.     Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang diatas maka diperoleh rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana tingkat Intensitas wiridan santri mahasiswa putri di Pondok Pesantren Sabilurrosyad? 2. Bagaimana tingkat Self Efficacy santri mahasiswa putri di Pondok Pesantren Sabilurrosyad? 3. Adakah pengaruh wiridan terhadap Self Efficacy santri mahasiswa putri Pondok Pesantren Sabiurrosyad Malang, dalam mengahadapi persoalan kuliah serta pesantren.
C.     Tujuan Penelitian
 Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui tingkat Intensitas wiridan santri mahasiswa putri Pondok Pesantren Sabilurrosyad. 2. Untuk mengetahui tingkat Self Efficacy santri mahasiswa putri Pondok Pesantren Sabilurrosyad. 3. Untuk membuktikn hasil uji regresi sederhana terkait pengaruh wiridan terhadap Self Efficacy santri mahasiswa putri Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang dalam menghadapi persoalan kuliah dan pesantren.
 D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada upaya pengembangan Ilmu Psikologi khususnya Psikologi Islam, terutama pada pemahaman psikospiritual serta tugas dan fungsi Psikologi Islam, guna mewujudkan individu yang lebih berkualitas dari segi spiritual, sehat emosional dan loyal dalam sosial.
2. Manfaat Praktis Signifikansi praktis, yaitu membantu memecahkan masalah terhadap subjek yang diteliti. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan, sumbangan pemikiran, dan informasi yang bermanfaat bagi para santri mahasiswa putri Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang khususnya dan mahasiswa pada umumnya agar lebih bertaqorrub ilallah dan yakin akan kemampuan diri baik dari segi spiritual, intelektual, emosional serta sosialnya.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Pengaruh intensitas wiridan terhadap self-efficacy santri mahasiswa putri dalam menghadapi persoalan kuliah dan pesantren di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD