Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Saturday, August 19, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Pengaruh pemahaman dampak buruk rokok terhadap empati perokok

Abstract

INDONESIA:
Tiap individu memiliki pemahaman dan pengetahuan yang berbeda, khususnya mengenai dampak buruk rokok. Hal ini disadari, karena kita semua tahu bahwa rokok itu membahayakan bagi kesehatan. Namun dalam realitanya banyak remaja dan orang dewasa yang merokok, dan lebih-lebih ada yang merokok di sekitar perokok pasif yang tentu saja ini berdampak buruk bagi orang lain juga. Maka empati individu merupakan salah satu sikap yang diperlukan guna mengatasi masalah ini. Empati menjadikan individu memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan orang lain. Penelitian ini membahas tentang (1) Tingkat pemahaman dampak buruk rokok (2) Tingkat empati perokok (3) Adakah pengaruh pemahaman dampak buruk rokok terhadap empati perokok.
Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif jenis korelasional dan populasi yang diambil adalah mahasantri Mahad Sunan Ampel Al-Ali Asrama Ibnu Sina Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang aktif pada tahun ajaran 2014-2015.Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui observasi, angket, dan dokumentasi. Hasil uji daya beda skala pemahaman dampak buruk rokok dari 25 item, yang diterima adalah menghasilkan 17 item yang dinyatakan diterima dan 8 item yang dinyatakan gugur atau dihapus. Pada skala empati perokok dari 25 menghasilkan 6 item yang dinyatakan diterima dan 8 item yang dinyatakan gugur atau dihapus. Analisis ini menggunakan korelasi product moment pearson.
Hasil penelitian tentang pemahaman dampak buruk rokok dengan empati perokok menunjukkan bahwa (1) Tingkat pemahaman dampak buruk rokok pada maha santri Mahad Sunan Ampel Al-Ali Asrama Ibnu Sina Universitas Islam NegeriMaulana Malik Ibrahim Malang didapatkan 29 atau 50,8% dari 57 orang berada pada tingkat tinggi, didapatkan 28 orang atau 49,2% dari 57 orang berada pada tingkat sedang, dan didapatkan 0 orang pada tingkat rendah. Sehingga pemahaman dampak buruk rokok di Mahad Sunan Ampel Al-Ali Asrama Ibnu Sina UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berada pada kategori Tinggi, (2) Tingkat empati perokok pada mahasantri Mahad Sunan Ampel Al-Ali Asrama Ibnu Sina UIN Maulana Malik Ibrahim Malang didapatkan 28 orang atau 49,2% dari 57 orang berada pada tingkat tinggi, didapatkan 29 orang atau 50,8% dari 57 orang berada pada tingkat sedang, dan didapatkan 0 orang pada tingkat rendah. Sehingga pada variabel empati perokok di Mahad Sunan Ampel Al-Ali Asrama Ibnu Sina UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini berada pada ketegori sedang, (3) Hasil dari korelasi pemahaman dampak buruk rokok dengan empati perokok menunjukkan nila rhit 0,290 dan diketahui nilai N adalah 57 orang dengan p = 0,029 yang berarti< 0,05. Jadi probabilitas kurang dari 0,05 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, artinya pemahaman dampak buruk rokok pada mahasantri Mahad sunan ampel al-ali Asrama Ibnu sina Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki hubungan (berkorelasi) dengan empati perokok.
ENGLISH:
Every person has a different understanding and knowledge, especially about the bad effects of smoking. This is realized, because we all know that smoking is harmful to health. But in reality many adolescents and adults who smoke and there are smoking around secondhand smoke which of course is bad for others as well. Then the individual empathy is one of attitude that is needed in order to overcome this problem. Empathy makes people understand what the other person feels and thinks. This study discusses (1) The level of understanding of the bad effects of cigarettes (2) The level of smokers empathy (3) is there any Effect of Cigarette Bad Impact Understanding on Smokers Empathy.
The design of this study used a quantitative approach which correlation type and population are taken from students (mahasantri) of Sunan Ampel Mahad Al-Ali Ibn Sina Dormitory of the State Islamic University of Maulana Malik Ibrahim Malang that active in the academic of 2014-2015. Data collection method used in this research through observation, questionnaires, and documentation. The result of understanding different power scale of the bad effects of cigarettes of 25 items, which was received to produce 17 items that were accepted and 8 items were disqualified or removed. On a scale of smokers empathy of 25 to produce six items that were accepted and 8 items were disqualified or removed. This analysis used the product moment Pearson correlation.
Results of research on understanding the bad effects of cigarettes with smokers empathy showed that (1) The level of understanding of the bad effects of smoking on mahasantri of Sunan Ampel Mahad Al-Ali Ibn Sina Boarding Maulana Malik Ibrahim State Islamic University of Malang obtained 29 or 50.8% of the 57 people currently on high level, found 28 people or 49.2% of the 57 people were at a moderate level, and obtained 0 people on a low level. So understanding the bad effects of cigarettes in Sunan Ampel Mahad Al-Ali Ibn Sina Boarding UIN Maulana Malik Ibrahim Malang was located at High category, (2) The level of smokers empathy on mahasantri of Mahad Sunan Ampel Al-Ali Ibn Sina Boarding UIN Maulana Malik Ibrahim of Malang obtained 28 people or 49.2% of the 57 people were at a high level, found 29 people or 50.8% of the 57 people were at a moderate level, and obtained 0 people on a low level. So that the smokers empathy variable in Mahad Sunan Ampel Al-Ali Ibn Sina Boarding UIN Maulana Malik Ibrahim of Malang was located at the medium category, (3) The results of the correlation understanding of the bad effects of cigarettes to smokers showed smokers empathy of rhit value of 0.290 and known value of N was 57 people with a p = 0.029 <0.05. So the probability was less than 0.05 so that Ho rejected and Ha accepted, it meant understanding the bad effects of smoking on mahasantri of Mahad Sunan ampel al-ali Ibn Sina Dormitory of the State Islamic University of Maulana Malik Ibrahim Malang had a relationship (correlation) with smoker’s empathy


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Berbagai upaya sosialisasi antirokok sudah dilancarkan berbagai pihak, seperti pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), berbagai badan pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan bahkan sudah ada Hari Antirokok Sedunia. Namun kenyataannya, perilaku merokok masih tetap marak, bahkan kini remaja pun semakin banyak merokok. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain di dunia seperti Cina dan semua negara Eropa. Jumlah perokok pria di Indonesia dalam 30 tahun terakhir meningkat 57 persen. Peningkatan ini merupakan jumlah tertinggi kedua di dunia berdasar hasil penelitian The Institute For Health Metrics And Evaluation (IMHE) dan diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Amerika, 8 Januari 2014. Indonesia merupakan satu dari 12 Negara yang menyumbangkan angka sebanyak 40 persen dari total jumlah perokok di dunia. Sarlito (2004) berargumen, di Indonesia, upaya menganjurkan remaja untuk tidak merokok sudah genjar sejak dulu.Pada umumnya metode yang digunakan adalah dengan melarang merokok di rumah atau di sekolah dengan ancaman hukuman atau menakut-nakuti (ceramah, bacaan, poster tentang bahaya rokok bagi kesehatan). Tujuan jangka pendek metode ini adalah meniadakan perilaku merokok di tempat dan waktu tertentu.Sementara metode menakut-nakuti tujuan jangka panjangnya mengharapkan di masa mendatang remaja tidak merokok lagi karena kesadaran sendiri. Tetapi di sekolah maupun di rumah, remaja tetap merokok walaupun dengan cara mencuri-curi. Sedangkan setelah dewasa, mereka pun tidak menghentikan kebiasaan merokok.Malahan justru semakin bergantung pada rokok. Paradigma yang selama ini digunakan sebenarnya sudah sangat logis, yaitu merokok membahayakan kesehatan.Maka kampanye anti rokok selalu dikaitkan dengan perilaku hidup sehat.Paradigma ini dipergunakan selama bertahun-tahun, bahkan mungkin sepanjang sejarah kampanye antirokok. Bahkan di tiap bungkus rokok ditulis peringatan untuk mengingatkan setiap perokok akan bahaya rokok bagi kesehatan. Sekalipun demikian, hasilnya tidak menggembirakan. Patut dicermati mengapa hal ini terjadi.Sarlito mengutip temuan psikolog Dr. Siti Purwanti Brotowasisto, yang belum lama ini menyelesaikan disertasinya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, tentang perilaku merokok pada remaja.Dalam disertasi itu disebutkan, perilaku sehat tidak ada kaitannya dengan perilaku merokok.Kedua perilaku itu menempati domain yang berbeda dalam sistem, kesadaran remaja.“Perilaku sehat.” ujarnya, “terkait dengan kesehatan, tidak sakit.Sementara merokok terkait dengan pergaulan, harga diri, diterima teman.Merokok tidak ada kaitannya dengan sakit karena memang tidak ada di antara teman-teman mereka yang sakit karena merokok.” Penyakit- penyakit yang dikampanyekan selama ini sebagai dampak negatif dari perilaku merokok dipandang tidak riil, jauh, masih lama dan bukan dunia mereka.Serta, masih banyak orangtua yang sehat walaupun merokok ketimbang yang sakit.Jadi, katanya, di sinilah letak kesalahan paradigmanya. Peringatan bahaya merokok sudah berubah kontennya sejak awal januari tahun ini.Sebelumnya, peringatan bahaya merokok berbunyi, “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.”Kini bunyinya lebih menusuk, “Rokok Membunuhmu”. Telah diketahui bahwa sebelum tahun 2014, di tiap bungkus rokok ditulis peringatan untuk mengingatkan setiap perokok akan bahaya rokok bagi kesehatan. Sekalipun demikian, hasilnya tidak menggembirakan.Lalu bagaimana hasilnya setelah perubahan peringatan tersebut. Menurut Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes RI, Tjandra (2014) peringatan dalam iklan rokok memang ditujukan kepada anak-anak agar mereka tidak coba-coba merokok.Memang menyedihkan jika anak-anak sudah merokok.Menyedihkan ketika anak-anak SMP atau SMA sudah merokok. World Bank sudah pernah memperingatkan: “Dengan pola merokok seperti sekarang ini 500 juta orang yang hidup hari ini akhirnya akan terbunuh oleh penggunaan tembakau. Lebih dari separuh di antaranya saat ini adalah anak dan remaja”. Hingga saat ini, masalah rokok masih menjadi perdebatan dari berbagai pihak.Di setiap ruang, ditempat umum lebih tepatnya, dengan tidak segan-segan para perokok melancarkan aksinya. Tanpa memikirkan efek yang ditimbulkan dari kepulan asap yang mereka buat. Pelarangan untuk merokok memang tidak bersifat baku. Hanya saja yang ditekankan adalah tidak merokok di tempat umum. Masalah merokok di dalam ruangan merupakan salah satu dari tiga masalah utama dalam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Dua selain itu adalah pemberian ASI dan penggunaan jamban keluarga.Oleh karena itu perlu dilakukan langkah-langkah pengamanan rokok bagi kesehatan, diantaranya melalui Penetapan Kawasan Tanpa Rokok. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah daerah terkait kawasan tanpa rokok sudah sepenuhnya, bahkan hampir seluruh provinsi mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda). Hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah kota banda aceh yang baru saja menerapkan peraturan walikota (perda) mengenai kawasan tanpa Rokok (KTR). Di Indonesia, kawasan yang berhasil menerapkan kawasan dengan sistem ini adalah Surabaya. Demikian disampaikan Menteri Lingkungan Hidup Balthasar. Sementara itu, hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah kota Yogyakarta yang tengah menyiapkan Rancangan peraturan Daerah (Raperda) tentang aturan merokok di tempat-tempat umum untuk memberikan perlindungan pada perokok pasif. Orang-orang yang dengan sadar atau sengaja menyedot sejumlah racun ke dalam tubuhnya melalui asap tembakau dapat dianggap sebagai seseorang yang tidak terlalu peduli akan kesehatannya. Dengan demikian, nasib seorang perokok sudah ditentukan oleh keputusannya itu. Masalahnya sekarang apakah keputusannya itu akan dibiarkan memengaruhi pula tubuh orang lain yang “dipaksanya” turut merokok secara pasif. Demikian pertanyaan yang dilemparkan Elaine, seorang tokoh Kelompok Anti-Merokok di Los Angeles (Jakarta Post, 1994). Menurut pemahaman Elaine (1994), semua orang yang bukan perokok dapat dikatakan merokok juga: bayi yang tidak berdaya, anak-anak, remaja, penderita asma, penumpang bus, dan kereta api, orang dalam antrean, ruang tunggu, bahkan di dalam supermarket. Semuanya adalah perokok pasif yang tidak dilindungi hak-haknya, sehingga rasanya tidak ada udara bersih asap rokok, kecuali kita tinggal di dalam rumah saja. Sukar sekali menentukan secara persis berapa macam bahan penyebab kanker yang terdapat di dalam asap rokok yang merupakan campuran yang kompleks dari berbagai macam gaws, cairan, dan partikel yang mengandung ratusan ikatan kimia baru yang terbentuk pada pembakaran. Hal ini menjadi ancaman kanker pada perokok pasif.
 Pada tubuh perokok sekunder atau pasif terjadi kerusakan vitamin C dan mengganggu kemampuan sistem kekebalan untuk mencari dan membasmi sel-sel kanker di dalam tubuh. Sebagian orang non-perokok yang dipapari asap rokok akan mengalami iritasi mata, sakit kepala, dan batuk. Dalam suatu studi yang diterbitkan oleh The New England Journal of Medicine, periset Jepang membuktikan bahwa orang-orang non-perokok yang tinggal atau bekerja bersama perokok ternyata menghirup jumlah nikotin yang cukup besar dan dapat ditunjukkan pada analisis urine mereka. Sebuah penelitian lainnya di Jepang menunjukkan bahwa istri-istri perokok menghadapi risiko terkena kanker paru-paru 4 kali lipat dari istri yang bebas dari paparan rokok suami. Penelitian yang sama di Yunani dan di Lousiana, Amerika Serikat juga memperoleh hasil yang sama, sedangkan di pennsylvania dibuktikan bahwa istri yang demikian meninggal 4 tahun lebih dini dibandingkan dengan istri dari pria non-perokok. Dalam konteks ini menurut peneliti, pemahaman dampak buruk rokok terhadap kondisi atau keadaan orang lain dibutuhkan oleh perokok, terutama pada saat perokok berada di tempat kerja, kendaraan transportasi umum, taman kawasan bebas rokok, pusat perbelanjaan, sekolah, kampus, maupun di rumah
Sehingga mungkin saja menimbulkan empati perokok kepada perokok pasif dan berkenan untuk tidak merokok dihadapan mereka. Kohut (1997) melihat empati sebagai suatu proses di mana seseorang berpikir mengenai kondisi orang lain yang seakan-akan dia berada pada posisi orang lain itu. Empati berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, manajemen, bisnis atau industri hingga tindakan bela rasa dan percintaan.Empati dibangun pada lingkup self-awareness (kesadaran diri). Cikal bakal empati dapat ditemu-kenali ketika bayi dalam kegelisahan mendengar suara tangis bayi lainnya. Pada usia sekitar 1 tahun, anak mulai menyadari bahwa penderitaan orang lain bukanlah penderitaannya sendiri. Pada usia hingga 2,5 tahun, anak mengejahwantahkan "peniruan motorik", yaitu tindakan meniru secara motorik penderitaan psikologis orang lain untuk makin memahami apa yang dirasakan oleh orang lain yang menderita. Ketiadaan empati atau "terbunuhnya" rasa empati memunculkan perilaku yang keras dan cenderung kejam. Menurut peneliti, perokok yang memahami kondisi perokok pasif akibat dari paparan asapnya lalu secara sukarela mematikan putung rokoknya; atau berdiskusi dengan perokok pasif di tempat kerja dengan tidak merokok ; ketika akan merokok meminta ijin terlebih dahulu, dan lain-lain.
 Itu adalah wujud empati untuk “menolong” orang lain dari dampak buruk rokok yang patut diapresiasi. Dalam literatur psikologi sosial, pada awalnya kajian empati terfokus pada isu-isu yang terkait dengan perilaku menolong (Wipe, 1987). Hal ini dipertegas oleh pendapat Carkhuff (1969), without empathy there is no basis for helping. Selanjutnya, Kerbs (1995) menemukan bahwa respons-respons empati dapat dikaitkan dengan altruism (perilaku menolong) ketika menggunakan pengukuranpengukuran psikologis yang berkaitan dengan empati. Ilmuwan lainnya mendefinisikan empati sebagai karakter afektif yang memengaruhi pengalaman terhadap emosi orang lain (Mehrabian & Epstein, 1972), kemampuan kognitif untuk memahami emosi-emosi orang lain (Hogan, 1969). Sebagai konsep kognitif, Hogan (1969) mendeskripsikan empati dalam istilah yang global sebagai kemampuan intelektual atau imajinatif terhadap kondisi pikiran dan perasaan orang lain. Lalu terkait pemahaman perokok terhadap dampak buruk rokok itu sendiri bagaimana.Setelah mengetahui apakah mereka langsung berhenti merokok demi menolong dirinya.Berikut dijelaskan dibawah ini. Fakta menunjukkan bahwa 24% dari pelajar Sekolah Menengah pertama mengaku merokok, tertatur atau kadang-kadang, dan hampir semuanya mengetahui bahwa merokok itu tidak baik bagi tubuh kita. Demikian hasil suatu survei yang diadakan oleh kelompok SRI dilaporkan oleh Jakarta Post pada tahun 1993 yang lalu.Pertanyaan sekarang mengapa persentase itu demikian tinggi dan mengapa mereka masih merokok sekalipun mengetahui bahayanya? Yayasan Jantung Indonesia menyalahkan perusahaan rokok raksasa telah menjadikan kaum usia muda sebagi sasaran mereka dengan iklan dan promosi yang menggunakan olahraga dan rekreasi sebagai tema untuk menciptakan citra rokok dan merokok sebagai sesuatu yang glamorous atau penuh gaya. Iklan rokok sesungguhnya bertentangan dengan Peraturan Menteri Penerangan yang melarang adanya iklan rokok dan minuman keras di televisi.Tetapi produsen rokok dan biro iklannya berdalih bahwa mereka mengiklankan merek perusahaan (corporate names) dan bukan merek rokoknya. Di samping pengaruh iklan itu, kaum muda di negara kita juga mengalami situasi masyarakat yang mendorong mereka untuk merokok.dalam survei yang disponsori oleh Yayasan Jantung Indonesia itu ditemukan bahwa sebagian besar siswa SMP memperoleh rokok pertamanya dari teman-temannya. Survei itu meneliti 307 siswa dan menemukan bahwa dari 65 orang di antaranya yang masih merokok pada saat survei diadakan mengakui mereka mendapat rokok dari temannya, dan hanya 9 orang yang membeli sendiri. Dari ke- 50 orang yang memperoleh rokok dari temannya itu, 44 orang menjadi kecanduan.Pelajar yang diteliti tersebut berusia antara 11 hingga 16 tahun dan berasal dari 10 sekolah.Sejumlah 74 orang siswa mengakui bahwa meraka adalah perokok teratur dan kadang-kadang merokok.Kuatnya cengkeraman rokok pada kawula muda ini terlihat dari kenyataan bahwa dari 113 siswa yang pernah merokok, 74 orang mengatakan mereka menjadi pecandu rokok atau kadangkadang.
 Lalu menurut peneliti, bagaimana dengan remaja dan orang-orang dewasa yang mungkin saja memahami dampak buruk rokok bagi kesehatan namun tetap saja merokok.Selain karena faktor kecanduan, hal ini bisa jadi berkaitan dengan keyakinan dan pemikiran.Karena itu peneliti ingin mengetahui bagaimana pemahaman dampak buruk rokok bagi perokok juga dampaknya bagi perokok pasif.Dan mencoba memberikan pengetahuan baru secara tidak langsung (angket) tentang dampak-dampak buruk rokok, yang mungkin saja belum diketahui sebelumnya dari sejumlah referensi. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang: “Pengaruh Pemahaman Dampak Buruk Rokok Terhadap Empati Perokok”
B.     Rumusan Masalah
 Seperti halnya dari paparan data di latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah tingkat pemahaman dampak buruk rokok?
 2. Bagaimanakah tingkat empati perokok?
 3. Adakah pengaruh pemahaman dampak buruk rokok terhadap empati perokok?
C.     Tujuan Penelitian
 Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui tingkat pemahaman dampat buruk rokok.
 2. Mengetahui tingkat empati perokok.
3. Mengetahui adakah pengaruh pemahaman dampak buruk rokok terhadap empati perokok.
D. Manfaat Penelitian
 Dalam penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi peneliti dan khalayak intelektual pada umumnya, bagi pengembangan keilmuan baik dari aspek teoritis maupun praktis, diantaranya:
1.      Manfaat Teoritis :
 Penelitian ini diharapkan mampu memberikan khazanah keilmuan dalam bidang psikologi
2. Manfaat Praktis :
1) Bagi lembaga, sebagai bahan rujukan bagi praktisi psikologi dan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak yang membutuhkan informasi. 2) Bagi masarakat, dapat dijadikan rujukan untuk mengambil kebijakan yang terkait dengan dampak perilaku merokok. 3) Bagi peneliti, penelitian ini adalah modal awal untuk mengasah skill meneliti yang baik.
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Pengaruh pemahaman dampak buruk rokok terhadap empati perokok" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Self esteem anak jalanan perempuan usia remaja yang tinggal di lingkungan lokalisasi Balong Cangkring Mojokerto

Abstract

INDONESIA:
Manusia tumbuh dan berkembang dalam sebuah lingkungan yang memiliki peran dalam membentuk pribadi seseorang, khususnya lingkungan sosial. Namun jika lingkungan yang ditempati adalah sebuah lokalisasi yang tepatnya berada di lokalisasi Balong Cangkring Mojokerto, maka sebagian besar akan memberikan dampak negatif, tidak hanya bagi pekerja seks namun juga bagi keluarganya serta masyarakat sekitar. Remaja yang tinggal di lingkungan lokalisasi cenderung mendapatkan perlakuan negatif dari lingkungan sosialnya. Selain seorang pelajar, remaja yang tinggal disana merupakan anak jalanan yang berprofesi sebagai pengamen karena keadaan ekonomi keluarga yang lemah. Untuk usia remaja, peran lingkungan sosial mampu membantu dalam upaya pencarian jati diri. Adanya pandangan negatif akan membuat remaja menilai dirinya negatif, atau bahkan positif dengan kekurangan yang dimiliki. Oleh karena itu dalam penelitian ini, peneliti mencoba mengungkap bagaimana proses pembentukan self esteem, aspek dan bentuk self esteem, serta implikasi self esteem pada perilaku sosial anak jalanan perempuan usia remaja yang tinggal di lokalisasi Balong Cangkring Mojokerto.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif diskriptif dengan model studi kasus. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari dua remaja perempuan yang masih bersekolah dan mencari uang sebagai pengamen jalanan serta tinggal di lingkungan lokalisasi. Penggalian data dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, observasi pertisipan dan dokumentasi. Lokasi penelitian berada di lingkungan lokalisasi Balong Cangkring Kota Mojokerto Jawa Timur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan self esteem bermula dari proses belajar, interaksi sosial dan pengalaman yang kemudian diproses melalui self evaluation dan self worth yang menghasilkan self esteem. Self esteem yang terbentuk tidak terlepas dari faktor pembentuk self esteem yang terdiri dari jenis kelamin perempuan, akademik rendah, lingkungan keluarga dengan pola asuh otoriter dan lingkungan sosial yang memunculkan stereotip negatif dan prasangka. Bentuk self esteem yang muncul berupa perasaan malu, tertekan, tidak nyaman, kebanggaan dan memiliki orientasi masa depan. Sedangkan aspek self esteem yang muncul pada anak jalanan perempuan usia remaja yang tinggal di lingkungan lokalisasi adalah ketundukan (submission), keberartian (significance), sifat buruk (vices), ketidakmampuan (incompetence) dan penerimaan diri (self acceptance). Dan implikasi self esteem pada perilaku sosial anak jalanan remaja adalah anti sosial, yang ditunjukkan dengan tidak memiliki teman sebaya selain teman yang berasal dari lingkungan rumah yang sama, yaitu lingkungan lokalisasi. Hal ini tidak terlepas dari prasangka teman-teman sekolah terhadap siswa yang berasal dari lingkungan lokalisasi Balong Cangkring Mojokerto.
ENGLISH:
Humans grow and thrive in an environment that has a role in shaping one's personality, particularly the social environment. But if the environment they occupy is a localization side that is precisely located in the localization Balong Cangkring, Mojokerto, most likely will give a negative impact, not only for sex workers but also for their families and the surrounding community. Teens who live in the surrounding around localization tend to get negative treatment from their social environment. In addition, as students, teenagers who live there are street children who work as singing beggar due to the weak economy of the family. For teens, the role of the social environment is able to assist in the search of identity. The existence of negative outlook will make the teens judge themselves negatively, or even positively with the disadvantages they have. Therefore, in this study, the researcher tried to uncover how the process of the formation of self-esteem, aspects and forms of self-esteem, and self esteem implications on the social behavior of the street female teens who live in the localization Balong Cangkring, Mojokerto.
This study used a qualitative approach with a descriptive case study model. Subjects in this study consisted of two teenage girls who are still in school and earn money as street musician and lives in the localization side. The data collection technique in this study using depth interviews, participant observation and documentation. The research location is in Balong Cangkring localization in Mojokerto, East Java.
The results showed that the formation of self-esteem stems from the process of learning, social interaction and experience which is then processed through self- evaluation and self worth that produces self esteem. Self esteem is formed from the determining factors of self-esteem which consisted of female gender, low academic, family environment with authoritarian upbringing and social environment that elicits negative stereotypes and prejudices. Forms of self-esteem which appears were in the form of feelings of shame, distress, discomfort, pride and have future orientation. While the aspects of self-esteem that appear on the street female teens who live in the neighborhood of localization were submission, significance, vices, incompetence and self-acceptance. And the implications of self-esteem on the behavior of the street tenage girls were anti-social, as indicated by not having peers other than the friend who comes from the same home environment, namely the localization environment. It is not in spite of the prejudices of school friends towards the students who come from localization environment Balong Cangkring, Mojokerto.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Self esteem anak jalanan perempuan usia remaja yang tinggal di lingkungan lokalisasi Balong Cangkring Mojokerto" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi: Efektifitas pelatihan incredible mom terhadap peningkatan sikap penerimaan orangtua dengan kondisi anak berkebutuhan khusus

Abstract

INDONESIA:
Dalam keluarga, kelahiran anak merupakan hal paling dinanti sebagai wujud karunia tuhan, penyelamat perkawinan, serta tumpuan harapan dimasa tua. Nilai dan harapan tersebut begitu saja hilang dan berbalik menjadi sumber masalah saat anak yang dinanti lahir dengan kebutuhan khusus. Setelah menyadari perbedaan yang dimiliki anak, umumnya orangtua akan melewati serangkaian proses panjang sebelum benar-benar berada pada kondisi “menerima”. Agar anak yang terlahir dengan kebutuhan khusus mampu berkembang optimal, motivasi diri bukanlah faktor tunggal. Lebih dari itu, keluarga (terutama orangtua) berperan besar dalam perkembangan ABK sedari dini. Jika sikap penerimaan sudah ditunjukkan oleh keluarga terlebih orangtua, proses pengasuhan akan dapat berlangsung secara optimal. Menyadari akan pentingnya sikap penerimaan orangtua terhadap kondisi anak, disusunlah satu program intervensi berupa parent educationberupa pelatihanyang berfokus pada peningkatan penerimaan orang tua terhadap kondisi anak dengan kebutuhan khusus. Program pelatihan ini selanjutnya diberi nama pelatihan “incredible mom”.
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan desain eksperimen time series, yaitu desain eksperimen satu kelompok yang dilakukan dengan beberapa kali pengukuran di awal dan di akhir perlakuan. Subjek yang digunakan adalah sebanyak 6 orang ibu dengan anak berkebutuhan khusus. Subjek diberi perlakuan berupa pelatihan incredible mom selama 2 kali pertemuan, dengan pengukuran sebelum dan sesudah perlakuan, menggunakan masing-masing 2 skala penerimaan yang dikembangkan dari teori parental acceptance dari Porter.
Berdasarkan hasil analisa terhadap skor pretest dan posttestt dengan menggunakan 2 skala melalui software SPSS 21 for windows didapatkan nilai Z = 1,604 dengan taraf signifikansi 0,19 (p>0,05) pada skala 1 dan nilai z =7,30 dengan taraf signifikansi = 0,46 pada skala 2 (p>0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perlakuan yang diberikan berupa pelatihan incredible mom dalam penelitian ini kurang efektif dalam meningkatkan sikap penerimaan orangtua terhadap kekhususan anak.
ENGLISH:
In the family, child is the most-awaited person by new parents, as a gift from God, and as the foundation of the future. This will be as a disaster or source of problem when a child is born as special needs. Generally, parents will pass several long processes step by step after knowing the differences until they accept sincerely the condition. In order to they can grow as normal people, self-motivated is not the main factor. However, family plays a vital role in developing them early on. If the parents show the parental acceptance, the parenting process will be optimal. Realizing the importance of the acceptance to the children, then a program, namely parent education, is established focusing on the improvement of the parental acceptance toward the condition of the childrenwith the special needs. This program, then, is called by “incredible mom” training.
This research uses quantitative method by experimental design of time series. It is an experimental design consisting of one group conducted by several measures in the first and the last treatment. The subject used in this research is six mothers whose children with special needs. They gave twice meetings of incredible mom treatment, with the pre and post treatment. It uses two acceptance scales developed by parental acceptance theory from Porter.
According to the analysis result towards pre-test score and post-test by using two scales through SPSS Software 21 Windows is Z value= 1, 604with the significance level = 0,46 on the scale 2 (p>0,05). Therefore, it can be concluded that the incredible mom treatment given to the parents is ineffective to improve the parental acceptance to the children with the special needs.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 28 B UUD 1945 disebutkan bahwa setiap anak berhak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang supportif dan kondusif termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. di Indonesia jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) dari waktu kewaktu cenderung mengalami peningkatan. Sebagaimana hasil survey sosial ekonomi nasional tahun 2009 jumlah ABK tidak kurang dari 100.000 jiwa. Sementara data dari Dirjen Pendidikan Luar Biasa Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2010, jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia mencapai 324.000 orang (http://ti2014.solider.or.id/info/pendidikaninklusif-dan-anak-berkebutuhan-khusus/). Pada tahun 2012, TNKP menyatakan bahwa jumlah individu berkebutuhan khusus mencapai 10% dari total populasi penduduk indonesia. Sedangkan pada tahun 2013, menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ada sekitar 4,2 juta anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia (http://www.antaranews.com). Hingga saat ini indonesia belum memiliki data pasti tentang jumlah ABK, meski demikian paparan data mulai tahun 2009 hingga 2014 setidaknya mampu memberi gambaran bahwa jumlah ABK mengalami peningkatan cukup pesat setiap tahunnya. Jumlah mereka yang semakin meningkat tidak diimbangi dengan peningkatan pemahaman dan pemakluman masyarakat terhadap kondisi mereka. Akibatnya dibanyak tempat individu berkebutuhan khusus cenderung dikucilkan, dianggap sebelah mata, bahkan dihina dan diejek secara terang-terangan. Lebih parahnya penolakan ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat umum, tapi juga oleh keluarga dan orangtua. 2 Setiap orangtua tentu mengharapkan anaknya terlahir dengan kondisi yang sehat, tanpa cacat. Saat anak yang dinanti tidak sesuai dengan kondisi yang diharapkan, semua harapan dan mimpi orangtua seketika hilang sirna disertai munculnya berbagai reaksi emosi negatif. Sebagaimana yang dirasakan oleh ibu W, salah seorang wali siswa ABK di SDN sumbersari II. Saat dokter mengatakan bahwa anaknya hiperaktif, dia segera mencari tahu tentang hiperaktif dan memastikannya dengan berganti dokter sampai 2 kali. Pada saat dokter kedua mengatakan hal yang sama, ada perasaan kaget, tidak percaya, ingin menolak diagnosa dokter tapi tidak tahu harus bagaimana, serta takut dan khawatir akan masa depan anak dan reaksi tetangga jika mereka tahu anaknya berkebutuhan khusus (data ini didapatkan dari studi pendahuluan, 4 Februari 2014). Serangkaian reaksi emosi yang muncul saat anak didiagnosis berkebutuhan khusus merupakan reaksi alamiah yang akan dimunculkan setiap orangtua sebelum orangtua sampai pada tahap menerima. Ginanjar (2008) menyebutkan reaksi emosi yang dialami orangtua antara lain: 1. Terkejut dan menolak diagnosa Reaksi ini merupakan reaksi yang kerapkali dimunculkan orangtua saat anaknya pertamakali didiagnosis berkebutuhan khusus. sebagian besar orangtua akan menunjukkan sikap tidak mau mengakui kenyataan. Mereka berusaha berusaha berkonsultasi dengan dokter atau ahli lain untuk memperoleh diagnosa yang lebih tepat. Sebagaimana yang dilakukan oleh ibu W hingga berganti dokter sebanyak 2 kali. 2. Merasa tidak berdaya Respon ketidak berdayaan sering kali muncul setelah orangtua memperoleh begitu banyak informasi tentang kondisi anak dari berbagai sumber yang pada akhirnya berujung pada perasaan bingung dan tidak berdaya karena dalam waktu singkat 3 orangtua dituntut untuk melakukan berbagai banyak hal untuk menangani kondisi anak. 3. Mengalami berbagai emosi negatif Safaria (2005) lebih lanjut menyebutkan emosi negatif yang sering muncul saat orangtua mengetahui anaknya berkebutuhan khusus adalah sedih, cemas akan masa depan anak, malu karena kondisi anak yang berbeda, serta merasa bersalah dan berdosa. Serangkaian reaksi emosi yang dialami orangtua menunjukkan bahwa memiliki anak berkebutuhan khusus dapat menjadi beban tersendiri bagi orangtua. Selain harus menanggung rasa malu dengan kondisi anak yang berbeda serta perilaku mereka yang tidak sesuai dengan harapan orang disekitar, ABK juga membutuhkan perhatian lebih yang menguras tenaga dan keuangan.
Situasi ini kerapkali menjadi stressor kuat yang berdampak pada stress berkepanjangan. Kondisi ini amat merugikan karena berakibat negatif secara fisik dan menimbulkan berbagai gangguan emosi seperti kecemasan dan depresi yang dimunculkan dalam berbagai bentuk, antara lain: kecenderungan menarik diri, terlalu melindungi dan kecenderungan untuk melakukan kontrol berlebihan (Ginanjar, 2008). Lebih lanjut, Gray (dalam Meadan, Halle, & Ebata, 2010, 2010) menjelaskan bahwa orangtua cenderung menyalahkan diri mereka karena memiliki anak berkebutuhan khusus. Hal ini terutama dirasakan oleh ibu. Rasa bersalah pada ibu muncul karena ia merasa sebagai penyebab anak menjadi penyandang autis. Selain itu, ibu juga menganggap dirinya sebagai bagian yang paling bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan anaknya yang menyandang autisme). Rasa bersalah tersebut menyebabkan frustasi (Gray, dalam Altiere & Kluge, 2009). Menurut Hasting dan Hering (dalam Meadan, Halle, & Ebata, 2010), meskipun beberapa penelitian tidak menemukan perbedaan yang signifikan 4 dalam peran yang dimiliki ibu dan ayah, tetapi sebagian besar melaporkan bahwa stres, depresi, dan kecemasan lebih sering dihadapi oleh ibu daripada ayah. Untuk menanggulangi kondisi stress berkepanjangan diperlukan satu upaya pengembangan sikap positif orangtua (khususnya ibu) berupa penerimaan terhadap kondisi anak. Penerimaan terhadap kondisi anak tidak saja penting bagi penyesuaian diri antar anggota keluarga tapi juga bagi perkembangan anak. Penelitian terdahulu tentang penerimaan orangtua terhadap anak ditemukan bahwa penerimaan dan emosi positif yang ditampakkan orangtua terhadap anak dapat mempengaruhi peningkatan kompetensi sosial anak (Boyum & Parker,1995 dalam Santrok, 2007). Peneliti juga menemukan bahwa penerimaan dan dukungan orangtua terhadap emosi anak berhubugan dengan kemampuan anak untuk mengelola emosi dengan cara positif (Parke, 2004 dalam Santrok, 2007). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerimaan orangtua memberikan sumbangan besar dalam perkembangan psikososial anak. Sedangkan anak yang tidak diterima cenderung mengalami gangguan dalam penyesuaian diri dan perilaku negatif (Khalaque & Rohner, 2002). Lebih lanjut Huges dkk (2005) dalam penelitiannya menemukan bahwa penolakan terhadap anak membuat anak menjadi lebih agresif, sulit mengatasi keagresifannya, tergantuang pada orang lain, tidak dapat merespon secara emosional, emosi tidak stabil, harga diri dan adekuasi diri yang negatif, serta memiliki pandangan negatif tentang dunianya. Sebagian besar orangtua mungkin berfikir bahwa hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberikan penanganan agar anak dapat berkembang seperti anak-anak normal. kebahagiaan orangtua akhirnya berfokus pada seberapa besar kemajuan yang dicapai anak dalam kemampuan akademik. Padahal limpahan cinta dan penerimaan terhadap kondisi anak jauh lebih penting. Bila anak merasa tetap dicintai walaupun memiliki banyak kekurangan, maka ia merasa aman dan lebih percaya diri. Anak akan lebih bahagia 5 menghadapi hari-harinya dan nantinya akan lebih optimal dalam mengembangkan diri (Ginanjar, 2008).
 Pentingnya cinta dan penerimaan oleh orangtua tanpa memandang kondisi anak inilah yang tidak disadari oleh sebagian besar orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Mereka merasa bahwa menyekolahkan dan mengikutkan terapi adalah hal terpenting bagi anaknya, sedangkan saat dirumah orangtua lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah dari pada sekedar menemani anak bermain, belajar, atau memantau hasil belajar selama di sekolah atau perkembangan selama di tempat terapi (data didapatkan dari hasil studi pendahuluan melalui wawancara dengan salah satu guru sekolah pada 4 Februari 2014). Sikap seperti ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa orangtua belum menerima kondisi anak, karena penerimaan tidak hanya ditunjukkan dengan adanya keinginan orangtua agar anak semakin pintar dengan memasukkan anak kesekolah yang mendukung tapi juga dicirikan dengan adanya kepedulian dan keterlibatan aktif orangtua dalam proses tersebut, seperti memantau hasil belajar di sekolah dan tempat terapi serta mencoba menstimulasi anak saat di rumah (Porter, 1954). Berikut data baseline penerimaan orangtua yang didapatkan pada saat pretest 1 Tabel 1.1. Baseline penerimaan orangtua Subjek Skor Kategori H 53 Rendah S 58 Sedang I 51 Rendah U 58 Sedang D 52 Rendah L 50 Rendah Berdasarkan data tabel 1.1. didapatkan informasi bahwa dari 14 orangtua ABK yang menjadi walisiswa di SDN Sumbersari 2, enam subjek yang dijadikan subjek 2 orang memiliki skor penerimaan sedang dan 4 yang lain memiliki skor penerimaan rendah. Hal 6 ini menggambarkan bahwa menerima kondisi anak yang tidak sesuai dengan harapan bukan perkara mudah. Pada beberapa kasus ABK yang parah seperti Autis, bahkan ada orangtua yang harus mengikuti terapi keluar kota karena merasa tidak berdaya dengan kondisi anak (data didapatkan dari hasil studi pendahuluan melalui wawancara dengan salah satu shadow ABK pada 5 Februari 2015). Tingginya harapan yang disematkan orangtua semenjak anak belum lahir menjadi salah satu faktor penyebab sulitnya orangtua menerima kekhususan anak. Kendati demikian, Santrok (2007) berpendapat bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan tingkat penerimaan orangtua terhadap anak. Pendapat ini secara tidak langsung menjelaskan bahwa penerimaan orangtua dapat ditingkatkan melalui program intervensi yang tepat, yang didalamnya terdapat proses pembelajaran yang mampu membuka wacana orangtua tentang kondisi anak. Berangkat dari latar belakang ini, peneliti merasa perlu merancang satu desain intervensi berupa parent education yang berfokus pada peningkatan penerimaan orangtua terhadap kondisi anak dengan kebutuhan khusus. Dengan menjadikan penerimaan orangtua sebagai sasaran utama diharapkan proses pengasuhan juga dapat berjalan lebih optimal. Sebagaimana pendapat dari Meadan, Halle, & Ebata (2010), apabila ibu sudah dapat menerima anaknya maka proses pembelajaran dan perkembangan anak akan lebih cepat. Program parent education dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk pelatihan bagi orangtua dengan anak berkebutuhan khusus. Desain pelatihan dipilih karena merupakan salah satu cara yang dapat memfasilitasi orang dewasa dalam belajar. Noe (2002) menyebutkan bahwa dalam belajar orang dewasa memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah memiliki kebutuhan untuk mengetahui alasan mempelajari sesuatu, memiliki kebutuhan diperintah oleh diri sendiri (self direction), memiliki banyak 7 pengalaman terkait hal yang akan dipelajari, belajar dengan problem center, serta termotivasi baik melalui motivator eksternal maupun internal. Lebih lanjut Noe (2002) juga menyebutkan bahwa metode pelatihan memfasilitasi karakteristik pembelajaran dewasa yang mempermudah orang dewasa dalam mempelajari sesuatu. Selain itu, proses pelatihan dilakukan secara berkelompok. Hal ini karena penanganan secara kelompok memiliki beberapa aspek teraupetik yang tidak dimiliki terapi individu yang akan semakin mendukung keberhasilan terapi. Aspek-aspek teraupetik tersebut adalah adanya penanaman dan pemeliharaan harapan dari sesama anggota kelompok, universalitas, proses pertukaran informasi, pengembangan altruisme, perbaikan persepsi, pengembangan teknik sosialisasi, munculnya perilaku imitatif, belajar interpersonal, kohesivitas kelompok, serta saling berbagi (Yalom&Leszcz, 2005). Program parent education yang dirancang peneliti menggunakan pendekatan positive parenting program (triple p) dari Sander yang bertujuan untuk mempromosikan positive parenting dan memperbaiki hubungan orangtua - anak usia 2-16 tahun (Sander Sanders,Markie & Turner, 2003) yang dipadukan dengan prinsip kerja terapi ACT dan hipnosis. Positif parenting program merupakan program parent education yang dirancang oleh Sander pada tahun 2003.
Program ini lahir di Australia dan sampai sekarang banyak digunakan di berbagai negara bagian Australia dan Amerika bahkan telah berhasil menarik perhatian pemerintah Australia dan Amerika untuk mendanai program ini (Thomas, Zimmer, Gembeck, 2007). Sejauh ini telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa triple p efektif dalam meningkatkan ketrampilan pengasuhan dan mengurangi masalah perilaku anak yang kerap kali mengganggu hubungan orangtua-anak (Thomas, Zimmer, Gembeck, 2007). Diantaranya, penelitian tahun 2011 yang dilakukan oleh Fujiwara, kato dan sander didapatkan hasil bahwa triple p efektif dalam mengurangi masalah perilaku 8 anak,disfungsional pengasuhan, depresi, kecemasan, stres, dan mengurangi tingkat kesulitan dalam pengasuhan yang dirasakan orangtua, serta mampu meningkatkan rasa percaya diri orangtua dalam pengasuhan antara keluarga di Jepang. Penelitian yang dilakukan Thomas dkk (2007) menemukan bahwa triple p memberikan efek positif terhadap perubahan perilaku anak dan pengasuhan orangtua dalam skala sedang hingga besar. Hidayati (2012) dalam penelitiannya membuktikan bahwa program triple p mampu menurunkan tingkat stress pengasuhan secara signifikan pada ibu dari anak autis. Berdasarkan paparan beberapa penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa triple p efektif dalam meningkatkan ketrampilan pengasuhan orangtua sehingga mampu memberikan perubahan pada masalah perilaku anak, memperbaiki hubungan orangtua-anak, serta dapat mereduksi dampak negatif dari disfungsi pengasuhan seperti stress pengasuhan, kecemasan, hingga depresi. Dari beberapa penelitian tersebut belum ada penelitian yang menggunakan triple p sebagai salah satu program intervensi dalam meningkatkan penerimaan orangtua terhadap kondisi anak dengan kebutuhan khusus. Prinsip-prinsip kerja terapi ACT (acceptance and commitment terapy) digunakan dalam pelatihan ini karena ACT telah terbukti efektif dalam meningkatkan penerimaan, perhatian, dan lebih terbuka dalam mengembangkan kemampuan klien (Widuri, 2012). Terapi ACT merupakan terapi yang populer saat ini dan dianggap lebih fleksibel dan lebih efektif dalam menangani berbagai kasus (Motgomeri,Katherin, Johni, Franklin, Chintya, 2011 dalam Widuri, 2012). Terapi ini mengajarkan pasien untuk menerima pikiran yang mengganggu dan dianggap tidak menyenangkan dengan menempatkan diri sesuai dengan nilai yang dianut sehingga ia akan menerima kondisi yang ada (Hayes,2006). Dalam penelitiannya, Hayes (2005) menemukan bahwa ACT efektif dalam menciptakan penerimaan, perhatian dan lebih terbuka dalam mengembangkan kemampuan 9 yang dimiliki pada klien depresi, ansietas, penyalahgunaan narkoba, nyeri kronik, PTSD, anoreksia, serta sangat efektif sebagai model pelatihan diri (Widuri, 2012). ACT adalah terapi generasi baru dari CBT, yang keduanya merupakan pengembangan dari terapi perilaku. Menurut Corey (2009) salah satu kelemahan umum terapi perilaku adalah dapat merubah perilaku tapi tidak mengubah perasaan. Karenanya pada sesi akhir akan dilakukan proses hipnosis yang bertujuan untuk merubah perasaan peserta tentang anak secara perlahan.
 Pada kondisi Hipnosis seseorang cenderung lebih sugestif, dimana ada perpindah kesadaran, dari pikiran sadar (Conscious mind) ke pikiran bawah sadar (subconscious mind). Pikiran bawah sadar merupakan area sentral pemrosesan informasi yang hasil pemrosesan secara perlahan dapat mempengaruhi perubahan perilaku dan perasaan. Berdasarkan hasil penelitian Setyabudi (2006), hipnosis dapat meningkatkan kendali terhadap pikiran bawah sadar individu, sehingga individu dapat menggunakan daya pikiran bawah sadar yang sangat besar itu untuk kesembuhan, kesuksesan dan pengendalian diri individu. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan memberikan pelatihan pengasuhan pada ibu dari anak berkebutuhan khusus, yang merupakan pengasuh utama pada anak. Program pelatihan kepada orangtua ini bermanfaat untuk meningkatkan sikap penerimaan orangtua terhadap kekhususan anak dengan cara mengedukasi orangtua agar dapat menerima tanpa harus menghilangkan pikiran dan perasaan tidak menyenangkan terkait kekhususan yang dimiliki anak dan memberikan pemahaman lebih lanjut tentang kondisi ABK, cara pengasuhan, serta pentingnya cinta dalam proses pengasuhan. Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN Sumbersari II Malang dengan subyek penelitian wali siswa ABK di SD tersebut. 10 B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kondisi awal penerimaan orangtua dengan anak berkebutuhan khusus? 2. Apakah pelatihan incredible mom efektif untuk meningkatkan sikap penerimaan orangtua pada kondisi anak dengan kebutuhankhusus ?
C. TUJUAN PENELITIAN
 Penelitian ini bertujuan untuk memberi jawaban atas pertanyaan yang telah dipaparkan dalam rumusan masalah. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah 1. Untuk mengetahui kondisi awal penerimaan orangtua dengan anak berkebutuhan khusus 2. Untuk mengetahui efektivitas pelatihan incredible mom dalam meningkatkan sikap penerimaan orangtua pada kondisi anak dengan kebutuhankhusus.
 D. MANFAAT PENELITIAN
 Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam tataran teoritis maupun praktis. Dalam tataran teoritik, hasil temuan di lapangan dapat dijadikan sumbangan berarti dalam keilmuan psikologi khususnya psikologi klinis dan perkembangan. Dalam tataran praktis, pelatihan ini dapat dicanangkan sebagai salah satu program tahunan dari pihak sekolah inklusi/SLB bagi orangtua siswa dengan anak berkebutuhan khusus sebagai salah satu upaya dari pihak sekolah untuk memberi pemahaman pada orangtua agar lebih mudah menerima kondisi anak

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Efektifitas pelatihan incredible mom terhadap peningkatan sikap penerimaan orangtua dengan kondisi anak berkebutuhan khusus" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan menghadapi persalinan pada ibu hamil primigravida trisemester III di RSNU Tuban


Abstract

Kehamilan merupakan periode mengandung seorang janin didalam rahim seorang perempuan, yang berakhir pada terjadinya persalinan. perubahan yang terjadi selama kehamilan dapat merubah kehidupan seorang wanita. Kehamilan juga merupakan periode penting yang dialami seorang wanita dalam perubahan peran menjadi seorang ibu. Dalam kehamilan primigravida atau anak pertama, wanita hamil akan mengalami kecemasan, stress, ketakutan, was-was dan perasaan-perasaan tidak menentu akibat kondisi pertama tersebut. Trisemester ketiga merupakan periode menunggu dan was pada akan lahirnya anak. Maka kepercayaan diri menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kecemasan ibu hamil primigravida trisemester ketiga. Ciri-ciri seorang yang memiliki kepercayaan diri adalah, memiliki rasa positif terhadap diri sendiri, berani mengungkapkan pendapat (dalam Asmadi Alsa, 2006:48 ).
Sedangkan seseorang yang mengalami kecemasan dalam menghadapi persalinan memiliki gejala yang dapat dilihat dari dua aspek yaitu fisiologis dan psikologis.
Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di RSNU Tuban, dengan jumlah populasi dibawah 100 ibu hamil sehingga diambil semua sampel yang berjumlah 40 orang, pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling yaitu dilakukan dengan cara mengambil subyek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu pengambilan sampel didasarkan atas ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik tertentu yang merupakan ciri-ciri pokok populasi, data pendukung dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan alat ukur psikologi. Alat ukur psikologi yang digunakan sebagai pengumpulan data dalam penelitian ini adalah skala Likert, skala yang digunakan ada 2 yaitu skala kepercayaan diri 40 item dan skala kecemasan menghadapi persalinan 45 item. Metodean alisis data dilakukan dengan teknik korelasi Product Moment Karl Pearson dengan menggunakan bantuan SPSS 15.0 for windows.
Dari hasil analisis penelitian dapat disimpulkan bahwa aspek paling dominan yang melatarbelakangi kepercayaan diri pada ibu hamil dalam menghadapi persalinan adalah bertindak mandiri dalam menghadapi keputusan, sebanyak 22 responden menjawab sangat setuju (55%). Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan korelasi product moment didapatkan hasil r = -0,571 dan p = 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepercayaan diri dengan kecemasan menghadapi persalinan, semakin tinggi kepercayaan diri ibu hamil maka semakin rendah tingkat kecemasan menghadapi persalinan, dan semakin rendah kepercayaan diri ibu hamil maka semakin rendah tingkat kecemasan dalam menghadapi persalinan.
ENGLISH:
Pregnancy is a period containing a fetus in the womb of a woman, which ends at the delivery. changes that occur during pregnancy can change a woman's life. Pregnancy is also an important period experienced by a woman in the changing role of being a mother. In primigravida pregnancies or first child, pregnant women will experience anxiety, stress, fear, anxiety and feelings of uncertainty due to the first condition. The third trimester is a period of waiting and aware of the birth of the child. Then the confidence to be one of the factors that influence anxiety primigravidae third trimester pregnant women. The characteristics of a person who has the confidence is, to have a positive sense of self, dare to express their opinions (in AsmadiAlsa, 2006: 48).
While someone who experience anxiety in the face of labor has symptoms that can be viewed from two aspects: the physiological and psychological.
This research uses a quantitative approach. Research conducted at RSNU Tuban, with a population of less than 100 pregnant women so taken all the sample of 40 people, sampling with purposive sampling technique that is done by taking the subject is not based on strata, random or region but is based on their specific purpose of sampling based on the characteristics, traits or characteristics which are the principal characteristics of the population, supporting data in this study were obtained through observation, interviews, documentation and measurement tools of psychology. Psychology measuring tool that is used as data collection in this study is a Likert scale, scale is used there are 2 of 40 item scale self-confidence and anxiety scale items facing 45 deliveries. Methods of data analysis was done by using Karl Pearson Product Moment Correlation using SPSS 15.0 for Windows.
From the analysis of this study concluded that the most dominant aspect of the background of confidence in pregnant women in the face of labor is to act independently in the face of the decision, as many as 22 respondents strongly agreed (55%). Based on the results of data analysis using product moment correlation results obtained r = -0.571 and p = 0.000. This shows that there is a significant relationship between confidence in the face of labor anxiety, the higher the confidence of pregnant women, the lower the level of anxiety to face childbirth, and the lower confidence of pregnant women, the lower the level of anxiety in the face of labor.


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
 Kepercayaan diri diperlukan oleh setiap manusia dalam kehidupan seharihari, untuk diri sendiri dalam fungsinya sebagai makhluk individu, berhubungan dengan orang lain dalam fungsinya sebagai makhluk sosial, untuk menghadapi keadaan yang membingungkan, keadaan yang mencemaskan, dan situasi-situasi sulit, menghadapi masalah yang terprediksi maupun yang tidak, dan juga kehidupan seharihari dihadapi oleh seseorang dalam fungsinya sebagai makhluk sosial. Kepercayaan diri memberikan energi yang lebih besar pada seseorang dan sangat berguna , apalagi jika dipadukan dengan keberanian dan wawasan yang mumpuni. Kepercayaan diri dapat membangun mental positif yang baik untuk perkembangan kepribadian, hubungan baik dengan orang lain, harga diri (self esteem), konsep diri, dan kesejahteraan mental (well-being). Dalam menghadapi persoalan, seseorang akan memerlukan kepercayaan diri yang kuat, supaya tidak mudah terjajah dan tertindas secara mental maupun fisik oleh seseorang ataupun oleh situasi yang sebenarnya itu bisa diatasi tanpa merugikan seseorang atau pihak-pihak tertentu. 2 Alfred Adler mengatakan bahwa kebutuhan manusia yang paling penting adalah kebutuhan akan kepercayaan diri dan rasa superioritas. 1 Kehamilan merupakan periode krisis yang berakhir dengan kelahiran bayi. Selama kehamilan pada umumnya ibu mengalami perubahan baik itu perubahan fisik maupun psikis yang nampaknya hal tersebut berhubungan dengan perubahan biologis (hormonal) yang dialaminya. Emosi ibu hamil cenderung labil. Reaksi perubahan yang ditujukan terhadap kehamilan dapat berlebihan dan berubah-ubah. 2 Pada saat wanita dinyatakan hamil, wanita akan memasuki fase – fase berhentinya menstrusi, mual dan muntah, ngidam, syncope (pingsan), kelelahan, payudara tegang, sering miksi (berkemih), konstipasi (sembelit), pigmentasi kulit diarea-area tertentu, epulis (gusi bengkak), dan varises (pelebaran pembuluh darah yang terlihat seperti stretch mark di paha dan payudara). 3 ibu akan merasakan pembesaran perut, gerakan janin dalam rahim, denyut jantung janin, bagian-bagian janin yang membesar didalam perut ibu hamil, dan melihat kerangka janin dalam USG. 4 Bagi Perempuan, Kepercayaan diri dapat berpengaruh pada proses kelancaran kelahiran, mempengaruhi kekebalan janin, mental janin yang dikandung, kesehatan janin, dan kesehatan ibu hamil itu sendiri . Kepercayaan diri memberikan pengaruh pada kekuatan mental ibu hamil, untuk menghadapi proses persalinan. proses kehamilan yang dialami selama 9 bulan lamanya, memberikan berbagai pengalaman 1 Lauster, P. 2002. Tes Kepribadian. Jakarta : Gaya Media Pratama. Hal. 13-14 2 Herawati. 2009. Psikologi Ibu dan anak. Jakarta: Salemba Medika 3 Ibid. Hal. 72 4 Ibid. Hal. 73-74 3 dalam diri ibu hamil. Perubahan Hormon ibu hamil pertama, memberikan gejalagejala fisik seperti mual, muntah, perubahan mood ibu hamil, yang hanya dirasakan oleh ibu hamil itu sendiri. Perubahan-perubahan tersebut juga meliputi perubahan bentuk tubuh, perubahan pola pikir menuju kedewasaan menjadi ibu, perubahan pola makan karena tuntutan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizi janin, perubahan adaptasi emosional dalam hubungan dengan suami untuk merencanakan kerjasama dalam menjalani tugas mempersiapkan diri sebagai orang tua, bahkan perubahan pola hidup dengan mengubah kebiasaan lama sebelum hamil, menggantinya dengan kebiasaan baru karena akan bertambah lagi anggota baru dalam keluarga, yakni anak. 5 Hal tersebut memberikan pengalaman yang begitu luar biasa bagi ibu, apalagi hal itu terjadi dalam kehamilan pertama (primigravida). Pada kehamilan pertama, semuanya masih terasa baru. Perubahan demi perubahan dilalui ibu hamil, mulai bulan pertama kehamilan sampai bulan kesembilan terjadi perubahan baik secara fisik maupun psikis. kualitas janin yang juga ditentukan mulai bayi masih dalam kandungan yang membuat seorang ibu menjadi terpacu dalam memberikan nutrisi, menjaga kesehatan, kestabilan emosi, merangsang kecerdasan otak anak dengan menceritakan kisah-kisah teladan, mendengarkan musik, yoga, pilates, doa-doa bagi kesehatan bayi dan berbagai stimulasi untuk merangsang tumbuh kembang janin dalam kandungan ibu menjadi berkualitas. 5 Ibid. Hal.67 4 Adanya kehamilan ini membutuhkan persiapan untuk melahirkan atau bersalin. Persiapan yang dilakukan selain yang bersifat fisik mulai memikirkan dimana persalinan akan dilakukan, memilih dokter atau bidan, biaya yang akan dikeluarkan, siapa yang akan mendampingi persalinan, kelengkapan kebutuhan bayi seperti box, kamar, pakaian, namun juga diperlukan juga persiapan yang bersifat mental seperti afirmasi positif, dukungan dari keluarga terdekat, suami, ibu, dan teman dekat. Selain itu motivasi terhadap diri sendiri juga akan memberikan pengaruh pada kelancaran proses persalinan itu sendiri 6 Di Indonesia 95% tenaga kesehatan diIndonesia tidak terlalu memperhatikan kondisi psikis ibu hamil namun lebih memperhatikan kondisi fisik7 , dari 373.000.000 ibu hamil, 107.000.000 (28,7 %) diantaranya mengalami kecemasan menghadapi persalinan. Dipulau Jawa sendiri terdapat 673.675 ibu hamil, terdapat 355.875 dari populasi mengalami kecemasan menghadapi persalinan 8 . WHO memperkirakan lebih dari 585.000 orang diseluruh dunia mengalami kematian saat hamil/ bersalin. Dinegara miskin, 20-25% kematian wanitanya disebabkan oleh kehamilan, kelahiran, dan nifas. Berdasarkan Survey demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, Derajat kesehatan ibu dan anak masih perlu ditingkatkan dan masih jauh dari MDGs (millennium Development Goals) yang menarget Angka Kematian Ibu (AKI) yakni 102 dari 100.000 kelahiran hidup, yang 6 Walyani, Elisabeth Siwi. Amd. Keb. 2014.
Asuhan Kebidanan pada kehamilan . Yogyakarta : PT. Pustaka Baru. Hal. 111 7 Suryani, E. 2010. Psikologi ibu dan Anak. Yogyakarta : Fitramaya. 8 Depkes RI. 2008 5 ditandai dengan kematian ibu 228 per 100.000 kelahiran hidup, dan tahun 2008 terdapat 4692 jiwa ibu melayang dimasa kehamilan, kelahiran dan nifas dan Lebih bertambah banyak pada tahun 2012 sebanyak 359 per 100.000 kelahiran hidup. Dan hal itu masih jauh dari target AKI Di Indonesia angka kematian bayi (AKB) 34/1000 kelahiran hidup9 Kehamilan pertama (primigravida) tentu berbeda dengan kehamilan kedua, dan seterusnya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Arthur dan Coleman (1980) Pada kehamilan pertama, kecemasan dan kegugupan akan persalinan seringkali lebih tinggi dikarenakan minimnya pengalaman, mendengar cerita dari orang lain, takhayul – takhayul yang kemudian menimbulkan perasaan takut, cemas dan khawatir bahkan stress.10 Pada zaman dahulu tentu berbeda dengan zaman sekarang. ibu hamil pada zaman dahulu tentu tidak lebih mudah daripada zaman sekarang. Secara umum kondisi kesehatan Warga Negara Indonesia telah meningkat dengan baik, akan tetapi data statistik menunjukkan bahwa tingkat kematian ibu (Maternal Mortality Rate) di Indonesia masih tergolong tinggi yaitu 6-8 per 1000 kelahiran. Angka ini sangat tinggi dibandingkan dengan angka kematian ibu di negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Kanada, Eropa yang berkisar antara 1,5 – 3 per 1000 9 Kementrian Kesehatan RI. 2014. Profil kesehatan RI tahun 2013. Kementrian Kesehatan RI, Jakarta. yang ditulis oleh Dita Anugrah dalam Kompasiana tanggal 10 November 2014. Pkl: 00:43:01 10 Arthur & Coleman, L. 1980. Psikologi untuk wanita hamil. (terjemahan : Mirianty.S). Jakarta : Penertbit Indah Jaya 6 kelahiran 11 . Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan kedokteran terus mengalami kemajuan yang begitu pesat dan modern sehingga persalinan pun tidak lagi rumit seperti zaman dahulu.
Hal tersebut memudahkan Ibu hamil zaman sekarang oleh pilihan – pilihan, yang membuat ibu hamil lebih fleksibel dalam menentukan bagaimana cara akan melahirkan Apakah akan melahirkan secara normal, atau operasi caesar untuk mengurangi rasa nyeri ketika terjadi kontraksi sekaligus meminimalisir kecemasan sebelum terjadinya persalinan. 12 Namun demikian manusia zaman dahulu dengan sekarang tetaplah sama secara biologis. 13 Secara alamiah, proses persalinan yang sebenarnya pun tetaplah ada rasa sakit dan perawatan setelahnya sehingga kecemasan dan kegugupan itu tidak serta merta hilang, meski pilihan-pilihan dan alternative dan kemudahan sudah ada 14 Kecemasan lainnya adalah keselamatan ibu hamil itu sendiri, keselamatan anak, kesehatan bayi, kenormalan fisik dan mental bayi, kecemasan akan fisik ibu yang menjadi jelek, takut mati dan takut keguguran.. Kecemasan sendiri wajar apabila masih dalam taraf normal, artinya kecemasan tersebut tidak membahayakan ibu hamil, janin dan keluarga terdekat. Kecemasanpun menjadi tidak normal manakala kecemasan itu berlebihan, membahayakan kondisi fisik dan psikis ibu hamil, janin dan keluarga terdekat. 15 11 Poedjio, P; Rukanda, A; Soemarso, E & Moeloek, R.A. 1988. Kumpulan Materi Seminar Nasional Kesejahteraan Ibu : 28 Juni. Jakarta. 12 Suryani, E. 2010. Psikologi ibu dan Anak. Yogyakarta : Fitramaya 13 Bobak, Lawdermilk & Jensen. 2004 14 Rohjati. 2003 15 Nevid, Jefry. Dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga. 7 Pada proses kehamilan, Trisemester ketiga sering disebut periode dengan penuh kewaspadaan, pada periode ini wanita mulai menyadari kehadiran bayi sebagai makhluk terpisah sehingga ia menjadi tak sabar menanti kehadiran sang bayi. Ada perasaan was-was mengingat bayi dapat lahir kapanpun. Hal ini membuatnya berjagajaga sementara ia memperhatikan dan menunggu tanda dan gejala persalinan muncul. 16 Trisemester ketiga juga merupakan waktu persiapan yang aktif terlihat dalam menanti kelahiran bayi dan menjadi orang tua sementara perhatian utama wanita berfokus pada bayi yang akan dilahirkan. Pergerakan janin dan pembesaran uterus , keduanya menjadi hal yang terus menerus mengingatkan tentang keberadaan bayi.
Orang disekitarnya mulai membuat rencana untul bayi yang akan dilahirkan. Pergerakan janin dan pembesaran uterus, keduanya menjadi hal yang terus-menerus mengingatkan tentang keberadaan bayi yang dinantikan. Wanita tersebut lebih protektif terhadap bayi yang dinantikan. Wanita tersebut menjadi lebih protektif terhadap bayi, mulai menghindari keramaian atau seseorang atau apapun yang ia anggap berbahaya. Ia membayangkan bahaya mengintip dalam dunia diluar sana. Memilih nama untuk bayinya merupakan persiapan menanti kelahiran bayi. Ia menghadiri kelas-kelas sebagai persiapan menjadi orang tua. Pakaian-pakaian bayi 16 Walyani, Elisabeth Siwi. Amd. Keb. 2014. Asuhan Kebidanan pada kehamilan . Yogyakarta : PT. Pustaka Baru. Hal. 66 8 mulai dibuat atau dibeli. Kamar-kamar disusun atau dirapikan. Sebagian besar pemikiran difokuskan pada perawatan bayi. 17 Namun demikian sejumlah kekuatan pun muncul di trisemester ketiga. Wanita mungkin merasa cemas dengan kehidupan bayi dan kehidupannya sendiri, seperti : apakah nanti bayinya akan lahir abnormal, terkait persalinan dan pelahiran, apakah ia akan menyadari cidera akibat tendangan bayi. Ia kemudian menyibukkan diri agar tidak memikirkan hal-hal lain yang tidak diketahuinya. Ia juga mengalami proses duka lain ketika mengantisipasi hilangnya perhatian dan hak istimewa khusus lain selama ia hamil, perpisahan antara ia dan bayinya tidak dapat dihindarkan, dan perasaan kehilangan karena uterusnya yang penuh tiba-tiba akan mengempis dan ruang tersebut menjadi kosong. Wanita akan kembali merasakan ketidaknyamanan fisik yang semakin kuat menjelang akhir kehamilan. Ia akan merasa canggung, jelek, berantakan dan memerlukan dukungan yang sangat besar dan konsisten dari pasangannya. Pada trisemester sebelumnya akan menghilang karena abdomennya yang semakin besar menjadi halangan.
Alternative posisi dalam berhubungan seksual dan metode alternative untuk mencapai kepuasan dapat membantu atau menimbulkan perasaan bersalah jika ia merasa tidak nyaman dengan cara-cara tersebut. Berbagai perasaan 17 Ibid. Hal. 67 9 secara jujur dengan perasaan dengan konsultasi mereka dengan anda menjadi sangat penting. 18 Dari uraian diatas, timbul asumsi adanya korelasi antara kepercayaan diri ibu dengan tingkat kecemasan ibu hamil primigrivida trisemester ketiga yang akan menghadapi persalinan sebagai salah satu persiapan psikologis bagi wanita hamil pertama agar dapat menghadapi kelahiran bayinya dengan tenang dan baik. Sebelumnya telah ada penelitian yang berjudul “Tingkat kecemasan dalam menghadapi persalinan pada primigravida trisemester III di BPM Sang timur Klaten” tahun 2013, yang ditulis oleh Anastasia Inggrit Nur Widayanti dalam tugas akhir D3 kebidanannya, menyatakan bahwa 20% dari responden menunjukkan bahwa tingkat kecemasan ibu hamil dalam menghadapi persalinan pada primigravida trisemester III ada pada tingkatan sedang. Penelitian lainnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Siti Mar’atun Sholihah Universitas Islam Indonesia tahun 2005 dengan judul “ hubungan antara kepercayaan diri dan dukungan suami dengan kecemasan menghadapi kelahiran pada wanita hamil”, dengan hasil adanya hubungan yang sangat signifikan antara kepercayaan diri dan dukungan suami dengan kecemasan menghadapi kelahiran. Selain itu penelitian lainnya adalah skripsi Nurul Ainy (07410018) tahun 2011 Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang berjudul “ Pengaruh pemberian terapi music klasik Mozart terhadap penurunan tingkat kecemasan ibu hamil primigravida dalam menghadapi 18 Ibid. hal. 67 10 proses persalinan di RS IPHI kota Batu”. Desain eksperimen pada penelitian tugas akhir ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pemberian terapi musik klasik Mozart terhadap penurunan tingkat kecemasan ibu hamil primigravida dalam menghadapi persalinan di RS IPHI Batu.
1.2  Rumusan Masalah
Dalam suatu penelitian masalah yang akan diteliti perlu adanya perumusan masalah terlebih dahulu. Hal ini merupakan langkah yan sangat menentukan dalam sebuah penelitian. Dari uraian diatas dapat diketahui pokok permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini, maka peneliti dalam pembahasan tentang hubungan kepercayaan diri dengan kecemasan menghadapi persalinan pada ibu hamil primigravida trisemester III di RSNU Tuban, sebagai berikut:
1. Apakah ada hubungan antara kepercayaan diri dan kecemasan menghadapi persalinan pada ibu hamil primigravida trisemester III di RSNU Tuban?
2. Apakah aspek kepercayaan diri yang paling dominan berpengaruh dalam menghadapi kecemasan persalinan pada ibu hamil primigravida trisemester III di RSNU Tuban?
1.3 Tujuan Penelitian
 Sejalan dengan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
 1. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan menghadapi persalinan pada ibu hamil primigravida trisemester III di RSNU Tuban
 2. Untuk mengetahui apakah aspek yang paling dominan mempengaruhi kepercayaan diri terhadap kecemasan menghadapi persalinan pada ibu hamil primigravida trisemester III di RSNU Tuban
 1.4 Manfaat Penelitian
 Temuan dari penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
1.      Teoritis Manfaat teoritis
 diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada bidang khususnya Psikologi klinis, kebidanan, kepribadian, atau bidang ilmu lain yang relevan, juga penelitian yang terkait dengan kepercayaan diri dan kecemasan dalam menghadapi persalinan pada wanita hamil Primigravida Trisemester III khususnya pasien poli kandungan dan bersalin di RSNU Tuban
2.      Praktis Bagi lembaga kesehatan dan umum,
 hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dan upaya untuk 12 memenuhi permasalahan kepercayaan diri dan kecemasan pada pasien yang menghadapi persalinan ibu hamil primigravida (anak pertama) trisemester III, baik secara caesar maupun normal, sehingga kecemasan bisa lebih ditekan dan persalinan dipersiapkan lebih dini. Khususnya lembaga tempat penelitian ini dilakukan yakni RSNU Tuban, dan lembaga kesehatan sejenis secara umum.
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan menghadapi persalinan pada ibu hamil primigravida trisemester III di RSNU Tuban" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD