Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Saturday, June 10, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi al-Ahwal al-Syakhshiyyah,: Beban psikologis perempuan single parent sebagai kepala keluarga: Studi kasus keluarga di Desa Prajekan Kidul Kec. Prajekan Kab. Bondowoso.

Abstract

INDONESIA:
Menjadi orang tua merupakan salah satu dari sekian banyak tugas manusia sebagai makhluk sosial. “Keutuhan” orang tua (ayah-ibu) dalam sebuah keluarga sangat dibutuhkan dalam membantu anak untuk memiliki rasa percaya diri dan mengembangkan diri. Namun, ada juga keluarga yang dirasa kurang lengkap, yaitu sebuah keluarga yang hanya dikepalai oleh seorang perempuan (ibu) saja. Hal ini bisa saja terjadi dikarenakan banyak hal antara lain akibat perceraian, ditinggal mati oleh suaminya ataupun karena menjadi pilihannya sendiri. Fenomena seperti ini sering juga disebut sebagai single parent. Tentu tidak mudah menjadi orang tua tunggal (single parent), karena ia harus berperan sebagai ayah dan juga ibu bagi anak-anaknya. Hal ini tentu akan menjadi beban yang berat bagi seorang perempuan, terutama dari segi psikologisnya. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan menyusun skripsi yang berjudul BEBAN PSIKOLOGIS PEREMPUAN SINGLE PARENT SEBAGAI KEPALA KELUARGA (Studi Kasus Keluarga Desa Prajekan Kidul Kec. Prajekan Kab. Bondowoso).
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologis yang memfokuskan kajiannya pada beban psikologis perempuan single parent sebagai kepala keluarga. Untuk membantu penyusunan skripsi ini, data diambil melalui metode sampling, dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban psikologis perempuan single parent sebagai kepala keluarga sangat berat. Terdapat dua tipologi perempuan single parent. Pertama, kondisi psikologisnya cenderung labil dan yang kedua cenderung stabil. Upaya yang dilakukan perempuan single parent dalam mengatasi beban psikologisnya antara lain selalu berpikir positif dengan posisinya sebagai single parent dan yakin akan bisa menjadi kepala keluarga yang baik dengan dukungan dari keluarga terdekat.
ENGLISH:
Being a parent is one of the many tasks humans as social beings. "Wholeness" parents (father-mother) in a family is vital in helping the child to have self-confidence and develop themselves. However, there is also a family that feels less than complete, ie that only a family headed by a woman (mother) only. This could happen due to many things, among others, due to divorce, widowed by her husband or for being his own choice. This phenomenon is often also referred to as a single parent. Certainly not easy being a single parent (single parent), because he must act as father and mother to his children. This certainly would be a terrible burden for a woman, especially in terms of the psychological. Therefore, researchers interested in conducting research with his thesis entitled PSYCHOLOGICAL EXPENSES AS HEAD WOMEN'S SINGLE PARENT FAMILIES (Family Case Studies Prajekan Kidul Kec Village. Prajekan Kab. Bondowoso).

This research is a type of qualitative research using a sociological approach that focuses on the study of the psychological burden as a single parent female headed households. To assist in the preparation of this thesis, the data retrieved through the sampling method, with data collecting technique is observation, interview and documentation were then analyzed using qualitative descriptive analysis method.

The results showed that the psychological burden as a single parent female household heads are very heavy. There are two typologies of female single parent. First, the psychological conditions tend to be unstable and the latter tend to be stable. Efforts are made female single parent in overcoming the psychological burden, among others, always think positively with its position as a single parent and is confident will be a good head of family with the support of family nearby.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Pernikahan sebagai salah satu proses pembentukan suatu keluarga, merupakan perjanjian yang sakral (mitsaqan ghalidha) antara suami dan istri. Perjanjian sakral ini, merupakan prinsip universal yang terdapat dalam semua tradisi keagamaan. Dengan ini pula pernikahan dapat menuju terbentuknya rumah tangga yang sakinah. Keluarga merupakan organisasi sosial paling penting dalam kelompok sosial. Keluarga lembaga paling utama dan paling pertama bertanggung jawab di tengah masyarakat dalam menjamin kesejahteraan sosial dan kelestarian biologis anak manusia. Karena di tengah keluargalah anak manusia dilahirkan serta dididik sampai menjadi dewasa. Keluarga sebagai kesatuan primer memberikan bimbingan dan latihan bagi bakal warga Negara sejak kehidupan anak yang sangat muda. Oleh Karena itu rumah tangga dan keluarga benar-benar merupakan sentrum dari pola kultural untuk memberdayakan anak manusia. Keluarga memberikan pada wanita arena bermain dan jaminan sekularitas untuk melakukan fungsi-fungsi 2 kewanitaannya. Selanjutnya makin mantap wanita memainkan berbagai peranan sosial tersebut di atas, semakin positif dan makin produktiflah dirinya. Kesuksesan dalam memainkan peranan-peranan tersebut memberikan rasa puas-bahagia dan kesetabilan jiwa dalam hidupnya. Setiap keluarga menginginkan hidup bahagia. Keluarga bahagia tercipta apabila terjalin hubungan yang harmonis dan serasi antara suami-istri dan anaknya. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, maka suasana harmonis, saling menghormati dan saling ketergantungan serta membutuhkan harus dipelihara. Menjadi suami-istri yang baik berarti harus sopan santun, tahu membawa diri, pandai mengatur rumah tangga dan saling menghargai suami atau istri dan anggota keluarga. Kehidupan keluarga pun, banyak mengalami perubahan dan berada jauh dari nilai-nilai keluarga yang sesungguhnya. Dalam kondisi masa kini, yang ditandai dengan modernisasi dan globalisasi, banyak pihak yang menilai bahwa kondisi kehidupan masyarakat dewasa ini khususnya generasi muda dalam kondisi menghawatirkan, dan semua ini berakar dari kehidupan dalam keluarga. Oleh karena itu, pembinaan terhadap anak secara dini dalam keluarga merupakan suatu ikhtiar yang sangat mendasar. Pendidikan agama, budi pekerti, tatakrama, dan baca-tulis-hitung yang diberikan secara dini di rumah serta teladan dari kedua orang tuanya akan membentuk kepribadian dasar dan kepercayaan diri anak yang akan mewarnai perjalan hidup selanjutnya. Dalam hal ini, kedua orang tua memegang peranan penting dan utama dalam memberikan pembinaan dan bimbingan (baik secara fisik maupun psikologis) 3 kepada putra-putrinya dalam rangka menyiapkan generasi penerus yang lebih berkualitas sebagai hamba Allah yang mulia dan sebagai warga negara yang bertanggung jawab moral maupun sosial. Keluarga idaman tentu menyadari bahwa tidak ada 2 orang yang sama persis walaupun keduanya sebagai saudara kembar. Tiap orang memiliki sifat atau watak yang berbeda. Keinginan untuk menyatukan (integritas) semua perbedaan adalah sesuatu yang mustahil tetapi yang dapat diupayakan adalah bagaimana mempertemukan hal-hal yang berbeda dan berusaha menghargai perbedaaan yang ada sebagai suatu kekayaan bersama. Untuk mengantarkan menuju keluarga sakinah, pengetahuan tentang psikologi keluarga sangat diperlukan calon mempelai, bagi suami istri, bagi ayah ibu dan kakek nenek sebagai bekal untuk memahami, memprediksi dan mengendalikan tingkah laku bagi anggota keluarga agar terjaga hubunganhubungan harmonis yang menjadi dambaan setiap keluarga. Psikologi keluarga juga bermanfaat untuk menghadapi berbagai problem keluarga yang kemungkinan akan muncul, sehingga masing-masing keluarga mudah untuk menerima sebagai bagian dari dinamika kehidupan keluarga yang memerlukan solusi bersama. Psikologi keluarga memberikan kemudahan membangun relasi setiap anggota keluarga, memahami karakteristik masing-masing, menghargai pengalaman dan kecenderungan yang berbeda karena setiap individu memiliki orientasi hidup yang beragam. Terutama dalam hal menciptakan suasana 4 kehidupan keluarga yang egaliter atas dasar perbedaan jenis kelamin yang tidak akan dapat terwujud tanpa menyelami dari aspek-aspek psikologinya. Menjadi orang tua merupakan salah satu dari sekian banyak tugas manusia sebagai makhluk sosial. Masa menjadi orang tua (parenthood) merupakan salah satu tahap perkembangan yang dijalani kebanyakan orang dan bersifat universal. “Keutuhan” orang tua (ayah-ibu) dalam sebuah keluarga sangat dibutuhkan dalam membantu anak untuk memiliki rasa percaya diri dan mengembangkan diri. Single parent adalah orang tua tunggal yang menjadi tumpuan keluarga, di mana orang tua tersebut juga menjadi bagian daripada dinamika sosial masyarakat, di Indonesia banyak sekali fenomena itu terjadi yang mana seorang istri ditinggal oleh suaminya entah sebab cerai atau mati, saat sang suami tiada tentunya menjadi tuntutan tersendiri baginya untuk membentuk proses pendewasaan keluarga. Tugas sebagai orang tua terlebih bagi seorang ibu, akan bertambah berat jika menjadi orang tua tunggal (single parent). Setiap orang, terlebih bagi wanita tentunya tidak pernah berharap menjadi single parent, keluarga lengkap pastilah idaman setiap orang, namun ada kalanya nasib berkehendak lain. Kenyataannya kondisi ideal tersebut tidak selamanya dapat dipertahankan atau diujudkan. Banyak dari orang tua yang karena kondisi tertentu mengasuh, membesarkan dan mendidik anak dilakukan sendiri atau menjadi single parent. 5 Kematian salah seorang dari kedua orang tua adalah salah satu kondisi yang sangat mungkin terjadi pada kehidupan setiap manusia. Hal tersebut merupakan penyebab seseorang terpaksa harus menjalani kehidupan sebagai seorang single parent dan masih terdapat alasan lain yaitu perbedaan pandangan, hal prinsip atau pengalaman buruk yang dialami selama menjalani masa berumah tangga terkadang menyebabkan seseorang terpaksa memilih berpisah dari pasangannya, atau dikarenakan hadirnya pihak ketiga yang memaksa perpisahan harus terjadi. Dan jika memang pasangan yang berpisah karena perceraian atau kematian ini memiliki anak dari perkawinan tersebut maka mau tidak mau akan terjadi pola asuh single parent baik dalam kurun waktu permanen atau sementara waktu. Tidak sedikit dari ibu yang memilih menjadi single parent karena mereka merasa cukup mampu mendirikan suatu keluarga meski tanpa didampingi pasangan. Hidup sebagai single parent ini pada dasarnya tidak pernah diharapkan. Keluarga yang utuh dengan figur seorang ayah yang menjadi pelindung atau seorang ibu yang memberikan sentuhan kelembutan kasih diakui senantiasa menjadi impian. Menjadi single parent dalam sebuah rumah tangga tentu saja tidak mudah, terlebih bagi seorang ibu yang terpaksa mengasuh anaknya seorang diri karena bercerai dari suaminya atau suaminya meninggal dunia. Hal tersebut membutuhkan perjuangan berat untuk membesarkan anak, termasuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Dan yang lebih memberatkan lagi adalah anggapananggapan dari lingkungan yang sering memojokkan para ibu single parent, hal tersebut bisa jadi akan mempengaruhi kehidupan si anak. Bagi seorang ibu, 6 menjadi single parent merupakan pengalaman yang luar biasa berat. Terlebih lagi di saat-saat lingkungan tidak berpihak, terkadang seorang ibu takut jika hal tersebut dapat mempengaruhi perkembangan anak-anaknya, sehingga diperlukan sikap kuat dan tegar tehadap setiap tantangan hidupnya sebagai teladan bagi anak-anaknya. Seperti yang dialami oleh wanita yang bercerai, bagi mereka masalah sosial lebih sulit diatasi dibandingkan pada seorang pria yang menduda. Wanita yang diceraikan bukan hanya dikucilkan dari kegiatan sosial tetapi lebih buruk lagi, wanita seringkali kehilangan teman lamanya. Jika memang kondisinya memungkinkan seperti tingkat pendidikan, cara berpikir, interaksi sosial yang baik serta kondisi ekonomi yang cukup, maka menjadi orang tua tunggal bukanlah sutau masalah. Banyak hal yang melatar belakangi seseorang lebih memilih menjadi orang tua tunggal atau single parent selain karena kematian. Pengalaman konflik dalam berumah tangga baik yang dialami pribadi atau melihat lingkungannya juga dapat menjadi penyebab seseorang menjadi orang tua tunggal. Endang mengungkapkan, biasanya wanita lebih mampu bertahan menjadi orang tua tunggal meskipun menurutnya adalah hal yang berat. Baik ibu atau ayah harus mampu “berperan ganda” sehingga ketimpangan dalam asuhan dapat diminimalisir. Menurutnya juga, idealnya pola asuhan itu utuh diberikan kedua orangtua. Figur ayah menurutnya yang erat dengan sosok pemberi perlindungan akan menjadikan anak memiliki cara pandang ke depan. Sementara sosok ibu yang penuh kasih sayang akan menjadikan anak berhati lembut dan peka terhadap lingkungan, namun tidak berarti anak yang diasuh 7 orang tua tunggal tidak tegar. Sebaliknya kondisi mereka yang “kurang utuh” dalam menerima kasih sayang itu menjadikan mereka lebih peduli. Impian dan harapan atau kenangan tentang asuhan yang lengkap menjadikan mereka lebih ingin berkiprah besar terhadap lingkungan. Namun sekiranya kondisi orangtua tunggal sudah cukup nyaman tidak hanya bagi orang tua juga anak, maka keputusan tetap menjadi orang tua tunggal itu sah-sah saja, yang penting orang tua secara bijaksana menyampaikan ke anak tentang kondisi keluarga mereka. Dengan demikian anak akan menjadi paham dan memaklumi kondisi ketidaklengkapan sebuah keluarga. Pangkal masalah yang sering dihadapi keluarga yang hanya dipimpin oleh single parent adalah masalah anak. Anak akan merasa dirugikan dengan hilangnya salah satu orang yang berarti dalam hidupnya. Anak di keluarga yang hanya memiliki orang tua tunggal (single parent), rata-rata cenderung kurang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik dibanding anak yang berasal dari keluarga yang orang tuanya utuh. Keluarga dengan single parent selalu terfokus pada kelemahan dan masalah yang dihadapi. Sebuah keluarga dengan single parent sebenarnya bisa menjadi sebuah keluarga yang efektif, layaknya keluarga dengan orang tua utuh. Yakni dengan tidak larut dalam kelemahan dan masalah yang dihadapinya, melainkan harus secara sadar membangun kembali kekuatan yang dimilikinya. Jika keluarga dengan single parent memiliki kemauan untuk bekerja membangun kekuatan yang dimilikinya, hal tersebut bisa membangun mereka untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. 8 Jika melihat fenomena yang ada, banyak terjadi single sarent di Desa Prajekan Kidul kecamatan Prajekan kabupaten Bondowoso, hal ini dilatar belakangi oleh sosiokultur yang ada, yaitu kurangnya pendidikan serta ekonomi yang masih digolongkan pada tingkat menengah ke bawah. Mereka beranggapan bahwa, dengan menyandang status single parent akan merubah status keluarga menjadi lebih baik, akan tetapi dalam realitasnya banyak yang justru bertolak belakang dengan kondisi yang diharapkan. Dari permasalahan yang melibatkan ibu single parent di atas, potensial sekali menimbulkan stres. Meski dalam kondisi stres, seseorang tetap dapat bertahan jika mampu menyesuaikan diri secara tepat. Bertitik tolak dari uraian tersebut di atas, maka penulis terinspirasi untuk mengambil judul tentang “BEBAN PSIKOLOGIS PEREMPUAN SINGLE PARENT SEBAGAI KEPALA KELUARGA”. B. Kajian Terdahulu Penelitian terdahulu adalah kajian kritis terhadap beberapa hasil penelitian atau buku-buku yang terbit sebelumnya. Tinjauan ini diperlukan untuk menegaskan, melihat kelebihan dan kelemahan berbagai teori yang digunakan penulis lain dalam pengkajian permasalahan yang sama. Berikut adalah penelitian terdahulu yang mengkaji permasalahan yang sama yaitu: 9 1. Arif Budi Iswanto (2005) dengan judul skripsi “DAMPAK STATUS SINGLE PARENT TERHADAP ANAK AKIBAT PERCERAIAN KAWIN DI BAWAH TANGAN ” (Studi Kasus Di Desa Kalisat Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan). Dalam skripsi tersebut Arif Budi Iswanto menyimpulkan bahwa anak yang dihasilkan dari perkawinan sirri menurut Undang-Undang No 1 Tahun 1794 dianggap tidak sah karena tidak mengakibatkan hukum apa-apa. Sedang menurut hukum islam anak tersebut dianggap sah secara mutlak dan berhak mendapat kedudukan sebagaimana mestinya dalam hal perwalian, waris dan sebagainya. Di desa Kalisat, menurut Arif, kehidupan setelah ditinggal kawin sirri, kebanyakan anak dititipkan kepada kakek atau neneknya dan diasuh ibu kandung, sehingga kondisi anak dalam keluarga yang demikian dapat mengakibatkan kurangnya perhatian dan pendidikan. Menurut peneliti, di desa tersebut hampir tidak ada bedanya antara yang menikah di KUA dan nikah di bawah tangan karena kawin sirri sudah membudaya apalagi didukung dengan perekonomian yang kurang memadai sehingga mereka enggan untuk menikah di KUA. Adat kebiasaan bisa menjadi faktor dominan, sebab eksistensi adat kebiasaan dalam mempengaruhi masyarakat adalah sangat kuat sekali karena adat kebiasaan tersebut sudah ada sejak nenek moyang di desa kalisat kawin sirri sudah menjadi adat sehingga sulit dihilangkan. 11 2. Ririn Asmaniyah (2002) dengan judul skripsi “UPAYA SINGLE PARENT DALAM MEMBENTUK KELUARGA SAKINAH ” (Studi Di Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek). Dalam skripsi tersebut Ririn Asmaniyah menyimpulkan bahwa seorang yang berstatus single parent ternyata mampu membentuk keluarga yang sakinah, walaupun pada akhirnya berdampak pada dirinya yaitu depresi, stres dan kehilangan. Ini juga berdampak pada anaknya seperti marah-marah, tertutup, temperamental dan minder. Tetapi mereka menyadari bahwa mereka tidak berlarut dalam kesedihan. Sedangkan upaya yang dilakukan single parent dalam membentuk keluarga yang sakinah adalah dengan komunikasi, kerjasama, saling pengertian, saling menghormati dan saling menghargai yang tentunta dengan anak. Orang tua tunggal juga harus menjadi teman bagi anaknya dan tidak jarang untuk mengajak rekreasi. Merujuk pada penelitian terdahulu mengenai keluarga single parent, maka skripsi yang berjudul “BEBAN PSIKOLOGIS PEREMPUAN SINGLE PARENT SEBAGAI KEPALA KELUARGA (Studi Kasus di Desa Prajekan Kidul Kecamatan Prajekan Kabupaten Bondowoso)”, berbeda dengan penelitian terdahulu. Penelitian ini difokuskan pada beban psikologis perempuan single parent dalam meyakinkan masyarakat bahwa dengan tanpa pasangan mampu membentuk keluarga yang solid layaknya keluarga yang normal dengan memiliki kemandirian yang kuat secara finansial dan emosional. Skripsi ini juga mengulas mengenai dampak berstatus single parent dilingkungan yang berdampak pada pelaku dan keluarganya. Tidak hanya 11 membahas mengenai upayanya dalam membentuk keluarga, skripsi ini juga membahas mengenai upaya mengatasi kondisi psikis pelaku single parent yang lebih ditekankan kepeda pelaku perempuan pasca kesendirian yang disebabkan oleh kematian atau perceraian sehingga tidak larut dalam kesedihan. C. Definisi Operasional Untuk lebih mempermudahkan pemahaman terhadap pembahasan dalam penelitian ini, perlu dijelaskan beberapa kata kunci yang sangat erat kaitannya dengan penelitian ini: 1. Keluarga merupakan masyarakat pertama yang menjadi kesatuan atau unit masyarakat terkecil yang terdiri dari seorang suami, istri, ayah, ibu dan anak-anak. 2. Psikologi perempuan: ilmu yang mempelajari pribadi manusia tidak sebagai “objek” murni, akan tetapi meninjau manusia dalam bentuk kemanusiaannya yang dalam hal ini lebih ditekankan kepada perempuan. 3. Perempuan Single parent merupakan orang tua perempuan tunggal yang menjadi tumpuan keluarga D. Rumusan Masalah Perumusan masalah merupakan upaya menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan yang akan dipecahkan dalam penelitian yang dilakukan.1 Selanjutnya peneliti merumuskan masalah dari identifikasi masalah 1 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Jakarta:Lentera Hati, Cet: III, 2006), 29. 12 yang telah dipaparkan di atas untuk dikaji lebih mendalam lagi, maka rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. Apa saja beban psikologis yang dialami oleh perempuan single parent sebagai kepala keluarga? 2. Bagaimana upaya perempuan single parent sebagai kepala keluarga dalam mengatasi beban psikologis? E. Maksud dan Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian bertujuan untuk menjawab permasalahan yang muncul mengenai dengan: 1. Mengetahui beban psikologis apa saja yang dialami oleh perempuan single parent sebagai kepala keluarga. 2. Mengetahui upaya perempuan single parent sebagai kepala keluarga dalam mengatasi beban psikologis. F. Manfaat Penelitian Penulis mengharapkan hasil penelitian ini bermanfaat sekurang-kurangnya untuk: 1. Sumbangan pemikiran dalam mengantisipasi adanya beban bagi perempuan single parent sebagai kepala keluarga. 2. Dijadikan bahan untuk merumuskan masalah sebagai kepentingan ilmiah. 3. Menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam kehidupan beragama khususnya yang berkaitan dengan beban psikologis bagi perempuan single parent. 13 4. Sebagai bahan rujukan atau pertimbangan bagi penelitian selanjutnya. G. Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan dalam penelitian ini terdiri dari V Bab yang terdiri dari beberapa pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang berkaitan dengan permasalahan yang peneliti ambil. Adapun sistematika pembahasan dalam penelitian ini sebagai berikut: Pada Bab I dijelaskan secara singkat mengenai beberapa permasalahan yang melatarbelakangi serta urgensi dilakukannya penelitian. Oleh karena itu dalam Bab ini berisi latar belakang, definisi operasional, rumusan masalah, maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika pembahasan. Pada Bab II mengulas mengenai kajian teori yang berhubungan dengan judul penelitian, dalam hal ini mendiskripsikan mengenai beban psikologis perempuan single parent yang dihubungkan dengan statusnya sebagai kepala keluarga. Pada Bab ini mengulas tiga sub bab yaitu, pertama, tentang keluarga yang mengulas tentang pengertian keluarga, bentuk, fungsi-fungsi, peran-peran keluarga dan upaya membentuk keluarga sakinah, kedua, tentang psikologi perempuan, yang mengulas tentang pengertian psikologi perempuan, wanita sebagai ibu, dan bangunan keluarga dalam perspektif psikologi, ketiga, single parent yang di dalamnya berisi tentang pengertian single parent, psikologi single parent, beban perempuan single parent dan upaya mengatasi kesedihan pasca perceraian atau kematian. 14 Pada Bab III menjelaskan tentang jenis penelitian, pendekatan penelitian, lokasi penelitian, sumber data yang meliputi data primer dan data sekunder, teknik pengumpulan data yang di dalamnya menggunakan observasi, interview dan dokumentasi, teknik pengolahan data seperti editing, classifying, verifying, analyzing dan concluding. Yang terakhir metode analisa data dengan cara induktif dan deskriptif kualitatif. Pada Bab IV penulis memaparkan penyajian data, hasil analisis, diskusi dan interpretasi data terkait dengan pembahasan yang telah penulis paparkan pada Bab sebelumnya. Pada Bab V ini merupakan penutup berisi kesimpulan dari keseluruhan pembahasan dari penelitian serta mengungkapkan hasil penelitian. Disamping itu pada bab ini juga terdapat saran dari penulis untuk para pelaku single parent dan lingkungan sekitarnya seperti masyarakat.
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi al-Ahwal al-Syakhshiyyah" :  Beban psikologis perempuan single parent sebagai kepala keluarga: Studi kasus keluarga di Desa Prajekan Kidul Kec. Prajekan Kab. Bondowoso.Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment