Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Thursday, June 15, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi: Hubungan penyesuaian sosial dengan kenakalan siswa MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang Malang

Abstract

INDONESIA:
Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat disekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum. Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Dalam proses penyesuaian sosial, individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok.
Penelitian ini menggunakan kuantitatif korelasi. Sampel Penelitian sebanyak 32 siswa MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang Malang. Pengambilan data menggunakan skala sikap. Pengolahan menggunakan korelasi produk moment dari Carl Pearson, dan uji validitas serta reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach. Pengolahan data tersebut diolah dengan program SPSS 17 for windows.
Berdasarkan analisa penelitian, pada Penyesuaian Sosial rata-rata siswa berada dalam kategori rendah prosentase 43,75% dari 14 subjek 10 subjek (31,25%) berada pada tingkat penyesuaian sosial yang tinggi, 8 subjek (25 %) berada pada kategori sedang. Sedangkan pada Kenakalan siswa diperoleh hasil pada umumnya berada pada kategori sedang 46,9% dari 15 subjek, 13 subjek (40,6%) berada pada tingkat kenakalan siswa yang tinggi, dan 4 subjek (12,5 %) berada pada tingkat kenakalan siswa yang cukup rendah. Hubungan penyesuaian sosial dengan kenakalan siswa MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang Malang diperoleh rhit -0,686, p = 0,000, dimana taraf signifikansi untuk jumlah subyek 32 orang adalah 0,349 (rtabel) sehingga rhit > rtabel (p < 0,050) (0,000 < 0,050) untuk taraf siginifikansi 5 % yang berarti bahwa antara penyesuaian sosial dengan kanakalan siswa terdapat hubungan yang signifikan dengan arah hubungan berlawanan, yakni jika penyesuaian sosial semakintinggi maka kenakalan siswa semakin rendah, atau sebaliknya.
ENGLISH:
Social adjustment occurs within the scope of social relations where people live and interact with others. These relationships include relationships with the surrounding community homes, family, school, friends or the public in general. The next process is to be carried out in the social adjustment of the individual is the willingness to adhere to social norms and regulations. In the process of social adjustment, individuals begin to get acquainted with the rules and the regulations and obey so that it becomes part of the establishment on his social life and be a pattern of group behavior .
This study uses a quantitative correlation. The study sample as many as 32 students MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang Malang. Data retrieval using an attitude scale. Processing using the product moment correlation of Carl Pearson, and test the validity and reliability using Cronbach alpha formula. Processing of the data is processed using SPSS 17 for windows.
Based on the analysis of the research, the Social Adjustment average student is in a category lower percentage of 43.75 % of the 14 subjects with 10 subjects (31.25 % ) is at a high level of social adjustment, 8 subjects ( 25 % ) were in the medium category. While the student Delinquency obtained results in general are in the category of being 46.9 % of the 15 subjects, 13 subjects ( 40.6 % ) are at a high level of student misbehavior, and 4 subjects (12.5 % ) are at the level of student misbehavior which is quite low. Relationship with the social adjustment of students delinquency MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang Malang obtained rhit -0.686, p = 0.000, where the significance level for the number of subjects was 32 people 0,349 rhit > rtabel (p < 0,050) (0,000 < 0,050)for the significant level of 5 %, which means that the social adjustment of students with delinquency significant relationship with the opposite direction of the relationship, ie, if social adjustment, the higher the delinquency of students getting low, or vice versa.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat lepas dari ketergantungannya pada individu lain. Dalam proses kehidupan individu sebagai anggota masyarakat, mereka tidak begitu saja melakukan tindakan yang dianggap sesuai dengan dirinya. Individu mempunyai lingkungan yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang membatasi tingkah lakunya, oleh karena itu individu harus dapat menempatkan dan menyesuaiakan diri dengan lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya. Pada adaptasi, bentuk penyesuaian dirinya berupa fisik, dimana individu akan berusaha menyesuaiakan diri dengan masyarakat, sebab tingkah lakunya tidak hanya berhubungan dengan lingkungan fisik tetapi juga berhubungan dengan lingkungan sosial yang didalamnya terdapat aturan-aturan atau norma-norma yang ada dan berlaku mengikat setiap individu yang ada didalam masyarakat. Dalam istilah Psikologi, penyesuaian sosial disebut dengan istilah sosial adjustment. Adjustment itu sendiri merupakan suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan.1 Manusia dituntut untuk menyesuaiakan diri dengan lingkungan sosial, kejiwaaan dan lingkungan alam sekitarnya. Kehidupan itu sendiri secara alamiah juga mendorong manusia untuk terus-menerus menyesuaikan diri. 1 Chaplin, James P, Kamus lengkap psikologi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008). Hal. 469 2 Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat disekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi, budaya dan adat istiadat, sementara komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh individu.2 Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Dalam proses penyesuaian sosial, individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok.3 Callhoun dan Accocella mendefinisikan bahwa penyesuaian sosial sebagai interaksi yang kontinyu dengan diri sendiri, orang lain, dan dunia atau lingkungan sekitar. Sedangkan menurut Mu’tadin, penyesuaian sosial adalah kemampuan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. 4 Sedangkan menurut Hurlock yang dimaksud dengan penyesuaian sosial itu sendiri adalah keberhasilan penyesuaian diri dengan orang lain pada umunya dan terhadap kelompok pada khususnya. 5 2 Meylita,Eva, Penyesuaian Sosial pada Anak yang Sering Mendapat Hukuman Fisik, Skripsi (tidak diterbitkan). UMM. Hal. 2 3 Ibid, hal. 2 4 Calhoun, J, F. Dan Acocella J, R. Psikologi tentang Penyelesaian dan Hubungan Kemanusiaan. (Semarang: IKIP Press,1995) hal. 14 5 Hurlock, E, B. Perkembangan anak, jilid 1. (Jakarta: Erlangga, 1997)hal.287 3 Dari teori yang diungkapkan oleh para tokoh dapat disimpulkan, Apabila seorang individu mampu menyesuaikan dirinya dengan baik yaitu mampu menjalani aturan dan norma-norma yang berlaku di dalam kelompok atau lingkungan sosialnya dapat dinyatakan individu tersebut berhasil dalam penyesuaian sosialnya sehingga mampu untuk menjalankan aturan-aturan dan norma-norma yang ada di dalamnya dan mampu menerima dirinya berada di lingkungan sosialnya. Permasalahan tentang penyesuaian sosial dan keterkaitannya dengan pola asuh telah banyak disoroti oleh peneliti, sebagaimana Maretiana dalam penelitiannya yang berjudul hubungan perilaku lekat dengan penyesuaian sosial anak telah menemukan bahwa perilaku lekat dengan penyesuaian sosial anak mempunyai korelasi yang signifikan yang artinya ada hubungan yang signifikan.6 Ada hubungan antara penyesuaian sosial siswa (X) dengan kecenderungan agresi (Y) pada siswa SMA Negeri 9 Malang. Dalam penelitiannya Yuni Wulyaningsih “Ada pengaruh penyesuaian sosial siswa terhadap kecenderungan agresi pada siswa SMA Negeri 9 Malang” diterima pada taraf kepercayaan 99%. menemukan ada pengaruh penyesuaian sosial siswa terhadap kecenderungan agresi pada siswa SMA Negeri 9 Malang.7 Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan teknik analisis regresi ganda 2 prediktor menghasilkan koefisien korelasi R = 0,651 dengan Freg = 27,540 dengan p < 0,01. Penelitiannya Eko Setianingsih, Zahrotul Uyun, Susatyo Yuwono hal ini berarti hipotesis mayor yang diajukan diterima, yaitu ada 6 Maretiana,A. Hubungan perilaku lekat dengan penyesuaian sosial anak, Jurnal psikodinamika.(vol.3 no.2,2001) hal.5 7 Wulyaningsih . pengaruh penyesuaian sosial siswa terhadap kecenderungan agresi pada siswa SMA Negeri 9 Malang(fakultas psikologi wisnuwardana) Hal.19 4 hubungan yang sangat signifikan antara penyesuaian sosial dan kemampuan menyelesaikan masalah dengan kecenderungan perilaku delinkuen pada siswa. 8 Selama dalam proses pembinaan, penggemblengan dan pendidikan di sekolah biasanya terjadi interaksi antara sesama anak siswa, dan antara anak-anak siswa dengan para pendidik. Proses interaksi tersebut dalam kenyataannya bukan hanya memiliki aspek sosiologis yang positif, akan tetapi juga membawa akibat lain yang memberi dorongan bagi anak sekolah untuk menjadi nakal (delinquency). 9 Banyak indikasi yang membuktikan bahwa anak-anak siswa yang memasuki sekolah hanya sebagian saja yang benar-benar berwatak sholeh, sedangkan bagian yang lain adalah nakal (delinquency). Indikasi lain yang tidak kalah penting dan menarik, terdapat di antara mereka yang “Cross Boy” dan croos Girl”. Keadaan ini memberi kesan sangat kuat bahwa kehidupan yang serba bebas tersebut akan mudah sekali ditiru atau diterima teman-temanya di sekolah.10 Fenomena lain yang kerap kali muncul adalah suatu kondisi lain yang sebenarnya hanya sebagai akibat dari beberapa anak tertentu dalam hal ini dapat diambil contoh adanya hak anak-anak sekolah yang berasal dari keluarga yang kurang mengutamakan dan mementingkan anak dalam belajar. Biasanya anakanak tersebut bersikap acuh terhadap tugas-tugas sekolah dan kehilangan rasa tanggung jawab di dalamnya, sikap tersebut biasanya mudah ditiru oleh anak-anak yang lain. 8 Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro (Vol.3 No. 1, Juni 2006) hal.4 9 (www.masbied.com)diakses 14 April 2012 10 (www.masbied.com)diakses 14 April 2012 5 Berkaitan dengan keadaan tersebut maka sekolah sebagai tempat atau ajang pendidikan anak-anak dapat pula menjadi sumber terjadinya konflik-konflik kejiwaan sehingga memudahkan anak-anak menjadi nakal (delinquency). Aktifitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar berjalan sesuai aturan, kadang-kadang tidak. Sekalipun siswa sudah mengetahui peraturan-peraturan yang harus dipatuhi serta menjalankan tata tertib di sekolah akan tetapi tak jarang siswa yang melakukan pelanggaran. Berdasarkan paparan diatas subjek yang dipilih dalam penelitian ini adalah siswa MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang Malang dikarenakan di MA tersebut ditemukan adanya fenomena siswa yang melanggar peraturan sekolah, menurut hasil wawancara dengan guru BK MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang 2 Malang yang dilakukan 24 Mei 2013 beberapa siswa sering meninggalkan kelas ketika jam pelajaran berlangsung untuk kembali ke asrama hal yang biasa mereka lakukan di asrama ketika membolos yaitu tidur. Asrama merupakan tempat bolos siswa yang merasa bosan berada di dalam kelas, yang mana bangunan asrama berada tepat di atas bangunan kelas siswa melangsungkan KBM. Dari hasil observasi antara bangunan ruang KBM dan asrama tidak ada gerbang pemisah karena itu siswa dapat dengan mudahnya kabur ke asrama dengan alasan mengantuk selain itu juga karena penjagaan yang kurang ketat dari pihak sekolah dan asrama. Diungkapkan juga oleh ibu Sulis selaku guru BK MA yang dilakukan 24 Mei 2013 beberapa siswa kerap kabur dari asrama dan tidak masuk sekolah, siswa 6 kabur untuk jalan jalan, ada yang pergi ke warnet, ada juga yang pulang ke rumah siswa yang tidak tinggal di asrama. Sekalipun kebanyakan dari siswa tinggal di asrama tak jarang siswa datang terlambat ke sekolah, berbagai alasan diungkapkan siswa sehingga tidak dapat mengikuti jam pelajaran sesuai dengan waktu masuk yang sudah ditetapkan sekolah. Sudah sering pihak sekolah memberi peringatan, teguran hingga hukuman kepada siswa yang kerap melanggar peraturan akan tetapi siswa dengan mudah melakukan kembali kesalahanya untuk melanggar peraturan sekolah. Dari 2 kelas yang dijadikan subjek penelitian, siswa 1 kelas diantaranya mampu menceritakan kejadian atau sikap pelanggaran yang pernah dilakukan melalui selembaran esay yang dilakukan tanggal 2 Mei 2013 diantaranya kabur untuk main ke warnet, main ps, janjian ketemu teman dekat (pacar), nonton konser. Beberapa siswa pasrah jika sepulangnya kabur kepalanya dibotakin dengan alasan yang penting mereka bisa keluar untuk refreshing. Dapat disimpulkan dari hal tersebut kurangnya kesadaran para siswa dalam mematuhi peraturan sekolah karena seringnya mengabaikan aturan atau peringatan yang seharusnya dipatuhi oleh para siswa. Apabila hal tersebut dibiarkan terus menerus menjadi kebiasaan para siswa maka akan menjadi dampak yang dapat menularkan kepada para siswa yang lain bahkan menurun pada generasi selanjutnya. Menurut ungkapan ibu sulis (24 Mei 2013) selaku guru BK di MA Muhammadiyah Kedungkandang mengenai penyesuaian sosial yang ada pada siswa siswinya baik antar teman, dengan kakak tingkatnya bahkan kepada 7 gurunya dinilai cukup baik dengan melihat latar belakang siswanya dari berbagai macam latar belakang keluarga yang berbeda, perbedaan ras karena terdapat beberapa siswa dari luar jawa. Mereka mampu menyesuaikan dengan lingkungan sosialnya dengan baik, menghormati orang yang lebih tua seperti sikapnya terhadap guru-guru maupun dengan kakak tingkatnya dan mereka memiliki tenggang rasa yang baik ketika ada teman asrama yang sakit atau terkena musibah. Namun terkadang sikap tenggang rasanya disalah artikan untuk menolong temannya supaya terhindar dari hukuman karena telah melanggar aturan misalnya kabur tidak masuk sekolah tetapi mengizinkan temannya kepada guru dengan alasan sakit berada di asrama. Dari penjelasan di atas diungkapkan penyesuaian sosial pada siswa cukup baik akan tetapi karena sering disalahgunakan oleh para siswanya maka kenakalan atau perilaku yang keluar dari aturan di dalam sekolah terkadang dilakukan oleh beberapa siswanya, misalnya dengan mengizinkan teman yang bolos dengan alasan sakit dan sedang istirahat di dalam asrama. Dalam proses menuju kedewasaan, siswa membutuhkan penyesuaian sosial. Menurut hurlock (1999), yang terpenting dan tersulit adalah penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh teman sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokkan sosial yang baru, nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai-nilai baru dalam dukungan dan penolakan sosial dan nilai-nilai baru dalam seleksi pemimpin. 11 11 Hurlock E.B, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi kelima. (Jakarta: Erlangga. 1999)Hal. 213 8 Dengan memperhatikan latar belakang di atas, maka penulis terdorong untuk mengkaji tentang HUBUNGAN PENYESUAIAN SOSIAL DENGAN KENAKALAN SISWA MA MUHAMMADIYAH 2 KEDUNGKANDANG MALANG. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas maka rumusan masalah yang ingin diperoleh jawabannya dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana tingkat penyesuaian sosial siswa di MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang? 2. Bagaimana tingkat kenakalan pada siswa di MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang? 3. Apa ada hubungan penyesuaian sosial dengan kenakalan pada siswa di MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui tingkat penyesuaian sosial siswa di MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang. 2. Untuk mengetahui tingkat kenakalan pada siswa di MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang. 3. Untuk mengetahui Apa ada hubungan penyesuaian sosial dengan kenakalan pada siswa di MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang. 9 D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Memberikan sumbangan informasi guna perkembangan ilmu psikologi terutama psikologi perkembangan dan psikologi sosial. 2. Manfaat Praktis Apabila hipotesis teruji maka diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bagi Sekolah, guru, tentang pentingnya penyesuaian sosial yang baik di lingkungan sekolah. Khususnya bagi siswa-siswi, agar mereka mengetahui betapa pentingnya penyesuaian sosial tentang permasalahan yang berkaitan dengan dirinya tentang hubungan penyesusian sosial dengan kenakalan siswa.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Hubungan penyesuaian sosial dengan kenakalan siswa MA Muhammadiyah 2 Kedungkandang Malang" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini

DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment