Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Wednesday, June 14, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Perbedaan bentuk reaksi stres mahasiswa dan anggota militer pada peserta ekspedisi NKRI 2013 koridor Sulawesi Sub Korwil-01 Kepulauan Sangihe.


Abstract

INDONESIA:
Bentuk Reaksi Stres adalah bentuk reaksi individu terhadap stres yang menyebabkan individu bereaksi baik secara fisiologis maupun secara psikologis (respon). Bentuk reaksi psikologis di bagi menjadi 3 yaitu bentuk reaksi kognitif, emosi dan juga perilaku sosial. Mahasiswa adalah seseorang yang belajar di perguruan tinggi dan menjadi peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01 Kepulauan Sangihe. Militer adalah angkatan bersenjata dari suatu negara yang dipersenjatai dan dipersiapkan untuk melakukan pertempuran-pertempuran terutama dalam rangka pertahanan dan keamanan negara dan menjadi peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01 Kepulauan Sangihe
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah terdapat perbedaan bentuk reaksi stres antara mahasiswa dan militer pada peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01/Kepulauan Sangihe, sehingga tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan bentuk reaksi stres antara mahasiswa dan militer pada peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01/Kepulauan Sangihe.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparasional. Mahasiswa dan Militer peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01 Kepulauan Sangihe sebagai variabel bebas dan Bentuk Reaksi Stres sebagai variabel terikat.. Subyek penelitian adalah Mahasiswa dan Militer peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01 Kepulauan Sangihe yang berjumlah 68 orang. Penelitian ini menggunakan sebuah skala sebagai alat ukur, yaitu skala stres yang disusun sendiri oleh peneliti dalam bentuk skala likert yang berjumlah 82 aitem.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bentuk reaksi stres antara mahasiswa dan militer terutama pada bentuk reaksi psikologis, dimana Mahasiswa cenderung mengalami reaksi stres kognitif (41%) baru kemudian emosi (36%), perilaku sosial (23%) dan fisiologis (0%) sedangkan Militer cenderung mengalami reaksi stres kognitif (43%) baru kemudian perilaku sosial (35%), emosi (13%) dan fisiologis (9%).
ENGLISH:
Stress Reactivity is the individual change in responses to stress that causes people to react both physiologically and psychologically (response). Forms of psychological reactions in the form of reaction into 3 cognitive , emotional and social behavior . Student is someone who studied at university and become a participant Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01 Sangihe Islands. The military is the armed forces of a country that is armed and prepared to do the battles, especially in the context of defense and national security and participated in Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01 Sangihe Islands.
Problem in this research is Are there different forms of stress reactions among students and military participants Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01
Sangihe Islands, so the purpose of this study was to determine whether different forms of stress reactions among students and military participants Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01 Sangihe Islands.
Research type was comparison quantitative with Student and Military as independent variables and Stress reactivity as the dependent variable. Research Subjects were participants of Students and Military Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01 Sangihe Islands totaling 68 people. This study uses a scale as a gauge, the stress scale developed by the researchers in the form of a Likert scale, amounting to 82 aitem.

The results showed different forms of stress reactions among students and the military, especially in the form of psychological reactions, where students tend to experience cognitive stress reactions (41%) and then the emotional (36%), social behavior (23%) and physiological (0%) while the military tend to experience cognitive stress reactions (43%) and then the social behavior (35%), the emotional (13%) and
physiological (9%).


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG PENELITIAN
Pada bulan Februari sampai Juli 2013 yang lalu Komando Pasukan Khusus (KOPASSUS) TNI AD melakukan kegiatan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) dalam bentuk Ekspedisi. Ekspedisi di tahun 2013 ini diberi nama Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi. Kegiatan Ekspedisi ini merupakan Kegiatan Ekspedisi yang ketiga kalinya dilaksanakan oleh TNI Angkatan Darat khususnya KOPASSUS setelah sebelumnya telah dilaksanakan Ekspedisi Bukit Barisan 2011 yang di laksanakan di Pulau Sumatra dan Ekspedisi Khatulistiwa 2012 yang dilaksanakan di Pulau Kalimantan. Kegiatan Ekspedisi ini diselenggarakan untuk melaksanakan latihan sekaligus menjaga kelestarian alam, mencari data dan menelusuri secara langsung segala potensi yang ada dihutan, gunung dan pegunungan, ralasuntai serta pulau terluar dan membantu masyarakat pedalaman bersama segenap komponen bangsa melalui suatu kegiatan Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi. 1 Kondisi wilayah pulau Sulawesi atau biasa disebut Celebes merupakan pulau terbesar ke empat di Indonesia dengan luas 174.600 km² terdiri enam Provinsi yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo dan Sulawesi Barat. Di sebelah utara berbatasan dengan negara Philipina dengan 11 pulau terluar. Pada umumnya 1 Rencana Pelaksanaan Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01 Kep. Sangihe. Hal 1-2 2 iklim di wilayah Sulawesi merupakan iklim tropis dengan kondisi tanah pegunungan, dataran tinggi, daratan rendah dan pantai. Pelaksanaan Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi menempatkan Posko di 9 wilayah Kabupaten dan penjelajahan melintasi hampir seluruh pulau Sulawesi diantaranya adalah Subkorwil-01/Kep. Sangihe, Subkorwil-02/Minahasa, Subkorwil-03/Bone bolango, Subkorwil-04/Sigi, Subkorwil-05/Luwuk, Subkorwil-06/Mamuju, Subkorwil-07/Gowa, Subkorwil-08/Tana Toraja, Subkorwil-09/Kolaka.2 Pada kegiatan Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi ini melibatkan dua unsur yakni Militer dan Mahasiswa. KOPASSUS melibatkan seluruh jajaran Militer mulai dari Angkatan Darat (AD), Angkatan Udara (AU), Angkatan Laut (AL), serta POLRI. Sedangkan untuk mahasiswa KOPASSUS mengadakan seleksi dalam bentuk seleksi administrasi, tes wawasan pengetahuan serta tes kesehatan jasmani. Para Mahasiswa ini diseleksi dari berbagai Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia. Peserta Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi Sub Korwil- 01/Kepulauan Sangihe terdiri dari 45 Anggota Militer dan 23 Mahasiswa yang bekerja dalam satu tim. Tim Ekspedisi Sub Korwil-01 bertempat di Poskotis Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil 01 Kepulauan Sangihe Lapangan Manente Kecamatan Tahuna Kebupaten Kepulauan Sangihe. Kabupaten Kepulauan Sangihe merupakan daerah Kepulauan yang memiliki luas wilayah 2264 m². Sangihe terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang membentang dari ujung Utara Manado sampai Ujung Selatan 2 Paparan PANGDAM VII Wirabuana tanggal 26 Februari 2013 di Situ Lembang Bandung 3 Pulau Mindanao Filipina. Pulau Sangihe dan Pulau Talaud adalah dua pulau besar yang paling banyak penduduknya. Pulau Sangihe merupakan salah satu dari beberapa kabupaten Pulau Tertinggal di Indonesia. Masyarakat Pulau Sangihe bertempat Tinggal di Pusat Kota Tahuna dan di perkampungan di balik-balik bukit serta di beberapa pulau kecil di sekitar pulau Sangihe.3 Peserta Ekspedisi Sub Korwil-01 Kepulauan Sangihe dituntut untuk mempunyai ketahanan mental dan fisik yang tinggi dengan kondisi alam Pulau Sangihe yang masih alami dan belum banyak pembangunan modern. Tim Ekspedisi ini terdiri dari unsur Militer dan Mahasiswa dimana mereka harus saling bekerjasama untuk menjelajah dan mengeksplor kekayaan alam dan budaya kepualauan Sangihe selama 4 bulan. Peserta Ekspedisi mayoritas berasal dari pulau jawa yang memiliki kondisi lingkungan yang ramai dan padat. Di jawa sangat mudah untuk menemukan tempat-tempat hiburan. Sedangkan dalam Ekspedisi ini para peserta harus berada di pulau kecil di daerah perbatasan yang penuh dengan keterbatasan. Selama 4 bulan semua peserta tidak di ijinkan untuk pulang kerumah, semua tinggal dalam satu tempat dan dipimpin oleh militer. Anggota militer adalah seseorang yang dipersenjatai dan di persiapkan untuk melakukan pertempuran atau peperangan terutama dalam rangka pertahanan dan keamanan negara.4 Para anggota militer sering ditempatkan di daerah terpencil untuk latihan perang maupun tugas pengamanan deaerah perbatasan. Dalam bertugas para anggota militer ini 3 Paparan Bupati Kab. Kep Sangihe tanggal 13 Maret 2013 di Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe 4 Sianturi dan Kanter, Hukum Pidana Militer di Indonesia,(Jakarta: Alumni AHM-PTHM, 1981) Hal: 26 4 juga harus meninggalkan keluarga mereka selama berbulan-bulan. Sedangkan Mahasiswa adalah para pemuda yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Mayoritas mahasiswa ini berasal dari perguruan tinggi terkenal di pulau jawa sehingga mungkin jarang bagi mahasiswa ini berada di suatu pulau kecil dalam waktu yang lama dan meninggalkan keluarga mereka dengan di pimpin oleh kalangan militer. Setiap peserta pada saat tertentu akan mengalami situasi yang tidak menyenangkan dalam melakukan kegiatan ekspedisi yang timbul akibat tidak terpenuhinya kebutuhan fisik, psikis dan sosial, serta adanya tekanan yang terus-menerus terhadap dirinya. Hal ini juga yang dirasakan oleh penulis ketika mengikuti kegiatan Ekspedisi NKRI ini. Kebutuhan fisik seperti tempat tinggal yang memadai, kebutuhan sosial seperti kasih sayang dan rasa ingin dihargai yang tidak terpenuhi akan menimbulkan perasaan cemas. Perasaan cemas yang dibiarkan terus-menerus akan mengakibatkan ketidaknyamanan pada diri peserta yang akhirnya menjadi tekanan yang dikenal dengan stres. Setiap individu bisa merasakan stres namun setiap individu mengalami bentuk reaksi stres yang berbeda-beda. Misalnya dalam suatu tim antara satu orang dengan orang yang lainnya akan memiliki bentuk reaksi stres yang berbeda-beda. Kata stres telah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, stres merupakan salah satu gejala psikologis yang dapat menyerang setiap orang. Stres dapat timbul karena adanya konflik dan frustrasi. Sebagian besar orang beranggapan bahwa yang dimaksud stres adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan membuat orang tersebut merasa tidak nyaman, bingung, 5 mudah marah, tekanan darah meningkat, detak jantung lebih cepat, gangguan pencernaan, dsb. Sebagian besar stres dapat dipicu karena pengaruh eksternal dan ada pula yang dipengaruhi oleh faktor internal individu tersebut. Stres menurut Sarafino dalam Smet merupakan kondisi yang disebabkan ketika perbedaan seseorang atau lingkungan yang berhubungan dengan individu, yaitu antara situasi yang diinginkan dengan keadaan biologis, psikologis atau sistem sosial individu tersebut. Stres dapat digambarkan sebagai suatu keadaan yang mengganggu pada fungsi fisiologis dan psikologis seseorang.5 Pada tahun 1900-an, Walter Cannon mengadakan penelitian tentang bagaimana respons individu terhadap stimulus jika harus berhadapan dengan situasi yang membahayakan. Respons individu terhadap stresor disebutnya sebagai stres kritikal (critical stres), dan Cannon juga mengidentifikasi tanggapan tempur atau lari (Fight-or-Flight response) pada individu yang mengalami stres. Secara fisiologis, tanggapan yang terjadi sangat mencolok: tekanan darah meningkat, rata-rata detak jantung dan pernapasan meningkat, tingkat gula darah naik, tangan berkeringat, dan otot menjadi tegang.6 Menurut Lazarus dalam Lubis, stres meupakan bantuk interaksi antara individu dengan lingkungan, yang dinilai individu sebagai sesuatu yang membebani atau melampaui kemampuan yang dimilikinya, serta mengancam kesejahteraanya. Dengan kata lain, stres merupakan fenomena 5 Smet, Psikologi Kesehatan, (Jakarta: Grasindo, 1994) hal 112 6 Hasan,Pengantar Psikologi Kesehatan Islami, (Jakarta: Grasindo, 2008) Hal 79-80 6 individual yang menunjukkan respons individu terhadap tuntutan lingkungan.7 Lazarus dalam Lubis membagi stres menjadi dua macam. Pertama, yaitu stres yang mengganggu dan biasanya di sebut juga dengan distress. Stres ini beintensitas tinggi dan inilah yang seharusnya segera diatasi agar tidak berakibat fatal. Kedua, yaitu stres yang tidaak mengganggu dan memberikan perasaan bersemangat yang disebut sebagai eustress atau stres baik. Sesungguhnya stres semacam ini ada pada setiap manusia, tanpa ada kecuali. Bahkan pada prinsipnya, setiap manusia membutuhkan stres sejenis ini untuk menjaga keseimbangan jiwanya.8 Saat ini, istilah stres telah meluas dipergunakan di berbagai kalangan, termasuk ilmuwan dan masyarakat muslim. Al-Qur’an sendiri sebenarnya telah menggunakan kata beban (pada punggung) untuk menggambarkan masalah berat yang dihadapi oleh manusia. ÇÌÈ x8tôgsß uÙs)Rr& üÏ%©!$# ÇËÈ x8uøÍr šZtã $uZ÷è|Êurur ÇÊÈ x8uô|¹ y7s9 ÷yuŽô³nS óOs9r& Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu. (QS Al-Insyirah [94]: 1-3) Ayat ini, dalam pemaparannya, telah menggunakan permisalan dari prinsip mekanika beban, dimana punggung merupakan daerah yang mendapatkan tenaga. Daerah yang mendapatkan tenaga, dalam prinsip mekanika beban disebut stres. 9 7 Lubis, Depresi Tinjauan Psikologis,(Jakarta.:Kencana, 2009) Hal 17 8 Ibid Hal 17-18 9 Hasan,Pengantar Psikologi Kesehatan Islami, (Jakarta: Grasindo, 2008) Hal 75 7 Stres dapat terjadi pada siapa saja tanpa terkecuali. Stres dapat terjadi pada orang yang mengalami banyak masalah, tekanan dan tuntutan yang harus mereka jalani. Ada juga yang berpendapat bahwa stres dapat terjadi bila ada sejumlah tuntutan yang harus dihadapi, sementara daya tahannya tidak sanggup lagi menahan. Pada Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil 01 Kepualauan Sangihe penulis mengamati adanya fenomena bahwa selama Ekspedisi berlangsung para peserta banyak mengalami tekanan untuk memenuhi sasaran dan tujuan ekspedisi. Misalnya suatu saat penulis dan tim peneliti sosial budaya sudah menyusun kegiatan selama 1 bulan pertama untuk kegiatan penelitian sosial budaya namun secara tiba-tiba Perwira Seksi Operasi (PasiOps) memerintahkan kita untuk melakukan kegiatan yang diluar rencana kegiatan tim peneliti sosial budaya sedangkan tim peneliti sosial budaya juga harus menyelesaikan beberapa penelitian yang belum selesai. Hal ini akan menimbulkan stres apabila individu tersebut tidak mampu memenuhi sasaran dan tujuan tersebut. Wilayah kepulauan Sangihe yang merupakan daerah kepulauan kecil yang penuh dengan keterbatasan dan jauh dari keramaian kota akan menyebabkan frustasi di karenakan para peserta terbiasa hidup di tengah kota besar. Keadaan lingkungan yang penuh dengan keterbatasan seringkali membuat seorang individu menjadi cepat jenuh, disaat seseorang mulai jenuh akan mudah sekali terjadi konflik antar peserta. Hal ini juga di rasakan penulis dalam tim penelitian sosial budaya dimana ketika tim sedang berada di desa yang sangat terpencil, di desa tersebut tidak ada listrik dan signal hp sehingga kegiatan yang dilakukan tim hanya mencari data dan kemudian 8 kembali ke basecamp untuk membuat laporan. Pada hari pertama dan kedua biasanya anggota tim di sibukkan dengan pencarian data namun pada hari ke- 3 dan seterusnya biasanya anggota tim mudah terlibat konflik karena kegiatan yang mulai berkurang. Peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa terbiasa bebas mengemukakan pendapat dan juga gagasan atau ide, namun dalam ekspedisi yang di adakan oleh KOPASSUS ini tentunya menggunakan sistem dan kebiasaan militer yang penuh hirarki kepangkatan yang sangat bertentangan dengan kebiasaan mahasiswa. Hal ini sering terjadi ketika masing-masnig peneliti sudah membuat rencana kegiatan yang akan di lakukan selama 2 minggu sampai dengan satu bulan kedepan, secara tiba-tiba Perwira Seksi Operasi (Pasiops) memerintahkan kepada setiap tim peneliti untuk melaksanakan rencana kegiatan yang dibuat oleh Pasiops tanpa terlebih dahulu memberitahukan maupun mendiskusikan rencana tersebut. Mahasiswa sebagai ujung tombak tim peneliti akan merasa tidak dihargai dengan rencana kegiatan yang disusun oleh mahasiswa. Tuntutan dari pimpinan yang tinggi terhadap hasil dari ekspedisi tidak sesuai dengan tunjangan uang saku dan uang makan yang di terima peserta, lingkungan ekspedisi yang dapat di bilang daerah tertinggal, waktu ekspedisi yang lama, poskotis (tempat tinggal) yang kurang memadai, beban laporan ekspedisi yang tinggi, desakan waktu adalah merupakan beberapa kondisi yang cenderung dapat menyebabkan peserta ekspedisi mengalami stres. Setiap orang pasti mengalami bentuk reaksi stres yang berbeda-beda. Meskipun di hadapkan pada situasi yang sama namun daya tahan individu 9 terhadap stres cenderung berbeda. Begitupun dengan peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01 Kepulauan Sangihe. Dari hasil wawancara awal penulis dengan Vita salah seorang peserta dari kalangan mahasiswa dari Universitas Borobudur Jakarta pada tanggal 22 April 2013 mengatakan bahwa dia mengalami stres karena jenuh dengan banyaknya tuntutan sedangkan dengan keterbatasan sarana hiburan bagi mereka ditambah juga dengan kebijakan pimpinan yang bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pernah mengadakan diskusi dengan peserta yang lain.10 Sedangkan dari wawancara penulis dengan Prada Arif salah seorang anggota KOSTRAD 501 Madiun pada tanggal 02 April 2013 mengatakan bahwa kondisi seperti ini bagi dia biasa-biasa saja, karena bagi dia berada di tempat kecil seperti ini sudah biasa dia lakukan dan dalam militer memang sudah ditanamkan untuk selalu taat kepada pimpinan.11 Dari Uraian di atas dapat di simpulkan bahwa kegiatan Ekspedisi dapat menimbulkan stres. Namun apakah reaksi terhadap stres yang dialami oleh anggota militer sama dengan reaksi terhadap stres yang dialami oleh mahasiswa. Latar belakang inilah yang menjadi dasar pemikiran untuk melakukan penelitian mengenai “ Perbedaan Bentuk Reaksi Stres Mahasiswa dan Anggota Militer Pada Peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01/ Kepulauan Sangihe.” 10 Wawancara tanggal 22 April 2013 di Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe 11 Wawancara tanggal 02 April 2013 di Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe 10 B. RUMUSAN MASALAH Sesuai dengan latar belakang masalah, maka rumusan masalah pada penelitian ini berpusat pada pada pengkajian mengenai perbedaan reaksi stres antara Mahasiswa dan Militer pada peserta Ekspedisi NKRI 2013 koridor sulawesi sub korwil-01/kepulauan sangihe. Adapun yang menjadi pertanyaan penelitian adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana bentuk reaksi stres yang terjadi pada mahasiswa peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01/Kepulauan Sangihe? 2. Bagaimana bentuk reaksi stres yang terjadi pada anggota militer peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01/Kepulauan Sangihe? 3. Apakah terdapat perbedaan bentuk reaksi stres antara mahasiswa dan anggota militer pada peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01/Kepulauan Sangihe? C. TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan, maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. Untuk mengetahui bentuk reaksi stres yang terjadi pada mahasiswa peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01/Kepulauan Sangihe. 11 2. Untuk mengetahui bentuk reaksi stres yang terjadi pada anggota militer peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01/Kepulauan Sangihe. 3. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan bentuk reaksi stres antara mahasiswa dan anggota militer pada peserta Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi Sub Korwil-01/Kepulauan Sangihe. D. MANFAAT PENELITIAN Dalam penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi peneliti dan khalayak intelektual pada umumnya, bagi pengembangan keilmuan baik dari aspek teoritis maupun praktis, diantaranya: 1. Manfaat Teoritis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan khazanah keilmuan dalam bidang psikologi, terutama tentang stres. 2. Manfaat praktis: a. Bagi lembaga, sebagai bahan rujukan bagi praktisi psikologi dan sebagai bahan pertimbangan bagi KOPASSUS dalam mengambil kebijakan terkait dengan kegiatan Ekspedisi. b. Bagi Peserta Ekspedisi, penelitian ini akan membantu peserta ekspedisi untuk mengetahui bagaimana reaksi stres yang mereka alami, setelah itu peserta ekspedisi dapat mengendalikan stres mereka, sehingga peserta ekspedisi dapat mencegah stres yang berkelanjutan.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Perbedaan bentuk reaksi stres mahasiswa dan anggota militer pada peserta ekspedisi NKRI 2013 koridor Sulawesi Sub Korwil-01 Kepulauan Sangihe." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment