Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Wednesday, June 14, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan self esteem dengan perilaku asertif siswa Mts-SA Roudlotul Karomah Sukorame Pasuruan.

Abstract

INDONESIA:
Salah satu tugas perkembangan harus dipenuhi pada masa remaja adalah penyesuaian social. Seorang remaja akan mampu bersosialisasi dengan baik jika membiasakan diri dengan sikap yang asertif. Self esteem merupakan konsep dasar individu mengenai dirinya, kesadaran mengenai dirinya, fikiran, dan opini individu tentang dirinya, kesadaran mengenai siapa dan apa dirinya, dan perbandingan yang dilakukan individu antara dirinya dengan orang lain. Asertif komunikasi langsung dari kebutuhan, keinginan dan pendapat seseorang tanpa menghukum, mengancam, atau menekan orang lain.
Penelitian ini dilakukan di MTs-SA Roudlotul Karomah Sukorame Pasuruan. Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui tingkat self esteem kelas VIII, IX MTs-SA Raudlotul Karomah Sukorame-Pasuruan (2) Untuk mengetahui perilaku asertif siswa VIII, IX MTs-SA RAudlotul Karomah Sukorame-Pasuruan, dan (3) Untuk mengetahui hubungan antara self esteem dengan perilaku siswa MTs-SA Raudlotul Karomah Sukorame-Pasuruan
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Variable bebas yaitu self esteem dan variable terikat yaitu perilaku asertif. Subjek penelitian 100 responden yang dipilih menggunakan teknik cluster sampling. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan metode angket berupa skala likert untuk self esteem dan sematik deferensial untuk perilaku asertif. Analisa data penelitian ini menggunakan teknik korelasi product moment Karl Pearson, dengan bantuan SPSS versi 16.0 for Windows.
Berdasarkan analisa data diperoleh hasil sebagai berikut:(1) hasil analisa self esteem berada pada kategori sedang dengan jumlah prosentase 82% sebanyak 41 siswa, (2) hasil analisa perilaku asertif berada dalam kategori tinggi dengan jumlah prosentase 52% sebanyak 26 siswa, (3) hasil korelasi menunjukan adanya tidak adanya hubungan yang signifikan antara self esteem dengan perilaku asertif dengan nilai korelasi r hitung < r table (0,-236 < 0,541) dan (p = 0,98  0,-236), dimana self esteem berada dikategori sedang, dan sedangkan perilaku asertif berada dikategori tinggi, jadi apabila dari salah satu tidak menunjukkan korelasi, maka keduanya hasilnya tidak akan signifikan . Berdasarkan hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat dan masukan bagi subjek yang diteliti, lembaga, guru dan peneliti selanjutnya.
ENGLISH:
A development task in teenage period is social adaptation. A teenager can do a good socialization with assertive attitude. Self esteem is a base concept of individual about themselves, the awareness of themselves, the thought and opinion of themselves, and the awareness of who and what they are, as well as the comparison between individual and others. Assertive means a direct communication from the demand, interest and opinion of someone without punishing, threatening, or suppressing others.
The research is carried out at MTs-SA Roudlotul Karomah Sukorame Pasuruan. The objectives of research are (1) to understand self-esteem rate of Grade VIII Students at MTs-SA Roudlotul Karomah Sukorame Pasuruan, (2) to acknowledge the assertive behavior of VIII Students at MTs-SA Roudlotul Karomah Sukorame Pasuruan, and (3) to figure out the relationship between self-esteem and the assertive behavior of students at MTs-SA Roudlotul Karomah Sukorame Pasuruan.
Research method is quantitative. The independent variable is self-esteem while the dependent variable is assertive behavior. The subject of research is 100 respondents who are selected using cluster sampling technique. Data are collected with questionnaire method which is Likert Scale for self-esteem and deferential semantic for assertive behavior. Data analysis technique is Karl Pearson’s correlation product moment supported with SPSS version 16.0 for Windows.

Result of data analysis indicates that: (1) result of self-esteem analysis remains in moderate category by 82 % for 41 students; (2) result of assertive behavior analysis is in high category by 52 % for 26 students; and (3) result of correlation does not show a significant relationship between self- esteem and assertive behavior. The correlation rate is rcount < rtable (0.236 < 0.541) with p = 0.98 < 0.236, meaning that self-esteem is in moderate category while assertive behavior is in high category. If one does not show a correlation, both have insignificant result. Based on these results, research expects to give useful input and benefit for the observed subject, the organization, the teacher and the next researcher.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di zaman modern sekarang ini, semenjak ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat terutama ilmu psikologi dan ilmu pendidikan, maka fase-fase perkembangan manusia telah diperinci dan gejala-gejala yang tampak pada setiap fase perkembangan itu telah dipelajari secara mendalam. Perkembangan manusia dibagi menjadi beberapa fase, dari fase prenatal sampai fase lanjut usia. Di antara rentang fase-fase tersebut salah satunya adalah fase masa remaja. Fase perkembangan masa remaja merupakan fase yang menjadi pusat perhatian. Hal ini disebabkan masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, dimana seorang anak manusia mengalami perubahan-perubahan yang sangat pesat baik secara fisik maupun psikis. Menurut Konopka (dalam Yusuf) masa remaja meliputi; (a) remaja awal, rentang usia dari 12 – 15 tahun; (b) remaja madya, 15 – 18 tahun; dan (c) remaja akhir, 19 – 22 tahun Menurut Susilo windradini dalam bukunya psikologi perkembangan masa remaja, membagi periode-periode kehidupan remaja menjadi dua, yaitu masa remaja awal dari 13-17 tahun, dan masa remaja akhir dari usia 17-21 tahun. Remaja merupakan generasi penerus bangsa. Merekalah yang nantinya menentukan kelangsungan kehidupan bangsa ini di masa yang akan datang. Oleh karena itu remaja harus dipersiapkan sejak dini, untuk dapat menjadi seorang individu yang mampu membangun bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik. Remaja merasa bukan kanak-kanak lagi, akan tetapi belum mampu memegang tangung jawab seperti orang dewasa. Oleh karena itu, pada masa remaja ini sering terdapat kegoncangan pada individu remaja, terutama di dalam nilai-nilai yang lama dan dalam memperoleh nilai-nilai yang baru untuk mencapai kedewasaan. Begitupula yang terjadi dalam proses kehidupannya, remaja mengalami tahap-tahap perkembangan yang akan dilaluinya, dan salah satunya adalah periode masa remaja. Masa remaja merupakan masa seorang individu berada dalam proses akhir menuju kematangan secara fisik, mental, emosional dan secara sosial. Dalam masa ini remaja mempunyai kesempatan untuk mencoba cara bertingkah laku yang baru dan mencari identitas dirinya. Adams (1980) menyebutkan salah satu tugas perkembangan remaja yaitu untuk mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab. Dengan berperilaku yang bertanggung jawab, maka diharapkan remaja dapat memiliki kepribadian yang baik dan dapat memasuki tahap perkembangan selanjutnya tanpa mengalami hambatan yang berarti. Remaja dalam masa perkembangannya berusaha untuk mengadakan sosialisasi atau penyesuaian diri yang baik dan efektif dengan lingkungan sosialnya. Namun, terkadang remaja mengalami kesulitan dalam melakukan komunikasi dengan orang lain karena adanya faktor internal yang turut mempengaruhi diri remaja. Faktor internal tersebut antara lain remaja menilai bahwa dirinya tidak mampu, kurang diperhatikan, tidak berdaya sehingga hal-hal tersebut mendorong remaja memiliki perasaan rendah diri. Untuk menanggulangi hal tersebut remaja hendaknya mampu untuk memiliki self esteem yang tinggi. Diantaranya yaitu, mampu untuk mengendalikan emosi atau perasaan diri sendiri, belajar bertanggung jawab terhadap diri, belajar mandiri terutama dalam mengambil suatu keputusan penting yang menyangkut diri, lebih bersikap aktif dalam suatu komunikasi. Self esteem merupakan salah satu bagian dari kepribadian seseorang yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Coopersmith (dalam Nur Aziz, 2006: 9) self esteem adalah evaluasi yang dibuat oleh individu dan biasanya berhubungan dengan penghargaan terhadap dirinya sendiri, hal ini mengekspresikan suatu sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan tingkat dimana individu menyakini dirinya sendiri mampu, penting, berhasil dan berharga. Pergaulan remaja yang semakin luas dapat menimbulkan konflik dengan lingkungan sosialnya. Santrock (2003) menyatakan bahwa tekanan untuk mengikuti teman-teman sebaya adalah kuat selama masa remaja. Hal ini dapat menyebabkan para remaja dihadapkan pada keragu-raguan dalam perperilaku. Nilai-nilai yang ada pada remaja mungkin dapat berbeda dengan lingkungan sosialnya. Standar-standar perilaku tertentu yang memungkinkan seseorang diterima oleh kelompok seringkali menjerumuskan remaja pada kepatuhan terhadap nilai kelompok, tanpa memperhatikan dampak negatif yang mungkin terjadi. Akibat negatif yang mereka tanggung merupakan konsekuensi dari kepatuhan mereka pada standar kelompok yang kadang bertentangan dengan nilai pribadi. Kepatuhan terhadap kelompok dengan mengabaikan diri sendiri ini mencerminkan perilaku yang tidak asertif. Hal tersebut diatas dapat tercermin dalam kehidupan sosialnya disekolah. Misalnya anak akan cenderung menuruti kemauan teman walaupun dia tidak menginginkannya. Misalnya jika teman-temannya membolos sekolah, merokok, dia akan ikut membolos dan merokok untuk menjaga solidaritas dengan teman, dan bahkan anak dapat terlibat tawuran tanpa mengetahui penyebab permasalahannya karena diajak temanya. Dia mengalami kesulitan untuk menolak ajakan teman-temannya yang dikarenakan dia sulit menyatakan pendapat atau keiginannya. Sejalan dengan hal diatas, Guntoro (2007) mengemukakan bahwa banyak remaja yang melakukan hal-hal yang akhirnya mempengaruhi masa depan dan jalan hidupnya hanya karena ikut-ikutan temannya. Hal ini mungkin dilakukan agar dia dapat diakui oleh teman-temannya sebagai anggota kelompok. Penelitian yang dilakukan oleh family and consumer science di ohio, Amerika Serikat, menunjukkan fakta bahwa kebanyakan remaja memulai merokok karena dipengaruhi oleh teman-temannya, terutama sahabat yang lebih dahulu merokok (Guntoro, 2007). Remaja yang bergaul erat dengan teman sebayanya yang merokok atau terbiasa dengan lingkungan yang merokok akan lebih mudah untuk ikut-ikutan yang merokok. Perilaku yang sangat patuh terhadap kelompok tersebut menunjukkan suatu self esteem remaja yang rendah. Menurut Virginia Satir (dalam Cottone, 1992), self esteem yang rendah diakibatkan dari pengalaman tidak baik dari individu yang berkembang secara terusmenerus dalam hidupnya, serta individu itu tidak pernah membanyangkan (berinisiatif) menjadi individu yang lebih baik. Pendapat diatas menunjukkan bahwa self esteem seseorang dapat dibentuk oleh dirinya sendiri, apakah dia bisa menyikapi pengalaman-pengalaman hidupnya secara positif atau justru negatif. Self esteem merupakan pandangan seorang individu terhadap dirinya sendiri. Tinggi maupun rendah sebenarnya tergantung pada individu itu sendiri menilai tentang dirinya. Sehingga, jika individu mengubah dirinya untul mempunyai self esteem yang tinggi dengan menyikapi secara positif kekurangan yang ada pada dirinya, maka dia akan dapat belajar menghargai dan membuat dirinya lebih berharga. Jadi, self esteem yang ada pada individu dapat berubah, tergantung pada kemauannya untuk berusaha kearah yang lebih baik. Untuk menghindari dampak negative dari konflik social, maka individu mampu mengakomodasikan kepentingan atau nilai-nilai kelompok dengan kepentingan atau nilai-nilai pribadi. Jika individu dapat mengakomodasikan kepentingan kelompok dengan kepentingan pribadinya secara seimbang, maka ia akan dapat diterima olrh kelompok sosialnya dengan baik. Salah satu perilaku yang dapat mengakomodasikan kepentingan kelompok dengan kepentingan pribadi yaitu perilaku tugas atau asertif. Menurut galassi (1977) asertif adalah komunikasi langsung dari kebutuhan, keinginan, dan pendapat seseorang tanpa menghukum, mengancam, atau menekan orang lain. Allex Weeb (dalam chalhoom, 1995) mengatakan bahwa dengan bersikap tegas, seseorang dapat meningkatkan harga diri, memperoleh sesuatu yang di butuhkan dan yang diinginkan dalam hidup ini. Hal ini memberikan gambaran bahwa dengan bersikap tegas (asertif), maka seorang individu telah mampu menghargai dirinya sendiri. Dengan berperilaku asertif, individu akan dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya dengan lebih efektif. Sejalan dengan pernyataan diatas, Masters Johnson (dalam Utami 2008) bahwa self esteem ini juga berpengaruh terhadap sikap seseorang terhadap statusnya sebagai remaja. Seorang remaja yang memiliki self esteem yang positif maka ia tidak akan mudah terbawa godaan yang banyak ditawarkan oleh lingkungan. Dan sebaliknya, jika seseorang memiliki self esteem yang rendah akan lebih mudah mengikuti arus atau tuntutan-tuntutan pengadilan teman sebayanya. Mereka tak mampu menolak permintaan dari teman-temannya, walaupun hal tersebut tidak sesuai dengan dirinya. Dalam hal ini berarti individu tersebut tidak dapat bersikap asertif. Berdasarkan beberapa pemikiran diatas, maka di coba mengadakan penelitian dengan mengambil judul-judul hubungan antara self esteem dengan perilaku Asertif siswa kelas VIII, IX MTs-SA Roudlotul Karomah Sukorame-Pasuruan. Dengan penelitian ini diharapkan diketahui sejauh mana hubungan antara tingkat self esteem dengan tingkat perilaku asertif yang dimiliki oleh siswa. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah tingkat self esteem siswa kelas VIII, IX MTs-SA Raudlotul Karomah Sukorame-Pasuruan? 2. Bagaimanakah perilaku asertif siswa kelas VIII, IX MTs-SA Raudlotul Karomah Sukorame-Pasuruan? 3. Apakah ada hubungan antara self esteem dengan perilaku asertif siswa MTs-SA Raudlotul Karomah Sukorame-Pasuruan? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui tingkat self esteem kelas VIII, IX MTs-SA Raudlotul Karomah Sukorame-Pasuruan 2. Untuk mengetahui perilaku asertif siswa VIII, IX MTs-SA RAudlotul Karomah Sukorame-Pasuruan. 3. Untuk mengetahui hubungan antara self esteem dengan perilaku siswa MTs-SA Raudlotul Karomah Sukorame-Pasuruan. D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan melalui penelitian ini adalah: 1. Manfaat bagi guru Dapat memberikan wawasan pada guru tentang kepribadian siswa, sehingga diharapkan guru dapat menerapkan suatu metode pengajaran yang tepat dalam proses belajar dan mengajar. 2. Manfaat bagi konselor Dapat menjadi bahan masukan bagi konselor untuk lebih memahami karakter para siswa, terutama yang berhubungan dengan self esteem dan perilaku asertif siswa, sehingga dapat memberikan pelayanan bimbingan secara optimal

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Hubungan self esteem dengan perilaku asertif siswa Mts-SA Roudlotul Karomah Sukorame Pasuruan." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment