Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Tuesday, June 13, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan antara konsep diri dengan depresi pada santri yang menjadi pengurus pondok pesantren: Studi di Pondok Pesantren Putri Al-Lathifiyyah I Tambak Beras Jombang

Abstract

INDONESIA:
Sejak semula, pesantren telah menjadi pusat pembelajaran dan dakwah. Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren memainkan peran yang sangat penting dalam sejarah pendidikan. Dalam pondok pesantren ada juga sistem organisasi yang mengurusnya, mulai dari pengasuh hingga pengurus pondok pesantren yang dijabat oleh santri-santri yang bertempat tinggal di pondok pesantren tersebut. Menjadi pengurus pondok pesantren tidak begitu mudah untuk dilakukan, selain tanggung jawabnya yang besar, pengurus pondok pesantren juga merupakan siswa remaja yang masih memiliki kekalutan emosi, dan ego. Tetapi mereka harus mengurus atau mendampingi setiap santri yang juga merupakan siswa, pengurus pondok dituntut secara langsung maupun tidak langsung harus terlihat sempurna dipandangan teman-teman santri yang lain, atau bahkan temannya sendiri. Padahal perilaku remaja umumnya ditandai dengan mood yang naik turun, mood ini juga berubah tiap hari. Pada hakikatnya, konsep diri kita sangat tergantung pada cara kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung mengalami tingkat depresi yang lebih tinggi, bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan depresi pada santri yang menjadi pengurus pondok pesantren.
Jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian Korelasional bivariat kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan secara populatif, dengan jumlah subyek sebanyak 60 santri yang menjadi pengurus pondok pesantren. Instrument penelitian yang digunakan adalah angket skala psikologis, dan tes psikologis. Untuk skala psikologis konsep diri terdiri dari 26 aitem pernyataan, untuk alat tes BDI (Beck Depression Inventory) terdiri dari 21 pernyataan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan product moment pearson.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: 1. Tingkat konsep diri santri yang menjadi pengurus PPP. Al-Lathifiyyah I Tambak beras Jombang berada dalam kategori positif dengan prosentase 100%. 2. Tingkat depresi santri yang menjadi pengurus PPP. Al-Lathifiyyah I Tambak beras Jombang berada dalam kategori sedang dengan prosentase 38,3%, ringan dengan prosentase 38,3%, normal 20,0%, dan berat dengan prosentase 3,3%. 3. Tidak ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan depresi pada santri yang menjadi pengurus pondok pesantren putri Al-Lathifiyyah I Tambak beras Jombang.
ENGLISH:
Islamic boarding house is the central learning and delivery of Islamic teaching. As the older institution of education in Indonesia, the Islamic boarding house has a very important role in education history. There are also organizational systems that are managing it institution, such as director up to the committee members who are being students of Islamic college where they stayed on. And it is not easy to be members of committee because they have big responsibilities; furthermore, the majority of members are adult students who have confusing emotional and ego. But they have to managing or accompanying every students of the same age, the committee directly or indirectly has demanded to have seemly perfect in the sight of others students, or even their friends. Whereas, the teenagers attitude are generally has signed by mood that up down, the mood has also changed every day. And one of the factor reasons is negative self-concept. The self concept is what has seen inside in the mind while they are thinking about their selves. The fact that the self concept is very depended on the way how we compare ourselves with others. The person who has negative self concept is tending to feel depression level which may higher, to act pessimistic for the life and the chances they have.
Based on the above background, the research is aim to know the realitionship of self concept with depression of students Islamic boarding house who become committee members.
The method used in the research is Co relational biraviat quantitative. The sample taking has done by population way, and the amounts of subjects are 60 students of Islamic house who become committee. The instruments used are questionnaire psychologies scale and psychologies test. The psychologies scale of self concept is consist of 26 items of statements, and the instrument of BDI (Beck Depression Inventory) is consisting of 21 statements. The data analysis used in the research is product moment pearson.
Based on the result can be conclude that: 1. The level self concept of students who become the committee of Al-Lathifiyyah I Tambak Beras Jombang is positive on 100 % percentage. 2. The level of students depressions are being committee is in average category by 38,3 %, and stabile category by 38,3 %, normal 20,0%, and strong 3,3%. 3. There are not significant correlation between the self concept with depression of students who are being committee in the Islamic boarding house of Al-Lathifiyyah I Tambak Beras Jombang.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
 Masa remaja adalah masa yang penuh dengan kekalutan emosi, instropeksi yang berlebihan, kisah yang besar, dan sensitivitas yang tinggi. Masa remaja adalah masa pemberontakan dan percobaan tingkah laku (Lubis, 2009: 53). Akan tetapi beberapa remaja memilih untuk masuk ke sekolah yang berbasis pondok pesantren yang memiliki beberapa peraturan yang harus dipatuhi. Dan mereka siap untuk hidup lebih mandiri dengan meninggalkan zona kenyamanan yang ada di keluarga. Akan tetapi tidak sepenuhnya remaja tersebut luput dari pengawasan dan perhatian dari orang tua, di pondok pesantren mereka mempunyai pengganti orang tua, yaitu pengasuh dan pengurus pondok pesantren tersebut. Pesantren memiliki tradisi kuat dalam mensosialisasikan nilai-nilai dan menurunkan pemikiran para pendahulunya dari generasi ke generasi. Sejak semula, pesantren telah menjadi pusat pembelajaran dan dakwah. Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren memainkan peran yang sangat penting dalam sejarah pendidikan. Sebelum sistem pendidikan modern diperkenalkan oleh Belanda, pesantren adalah satu-satunya sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Pesantren juga memainkan peran tidak tergantikan dalam penyebaran Islam di Indonesia (Marhumah, 2011: 1). 2 Penelitian tentang pesantren telah banyak dilakukan yang mana hal itu menunjukkan keragaman dari berbagai segi. Sebagian besar penelitian berbicara tentang “Tradisi Pesantren” oleh Zamakhsyari Dhofier pada tahun 1980, “Nilai-Nilai Pendidikan Di Pesantren” oleh Abdurrahman Mas’ud pada tahun 2004, dan “Kiai dan Kekuasaan” oleh Endang Turmudi pada tahun 2007, yang kesemuanya memandang pesantren dari sudut pandang yang berbeda-beda (Marhumah, 2010:10). Salah satu unsur yang harus dimiliki pondok pesantren adalah keberadaan santri.Geertz menjelaskan bahwa santri memiliki arti sempit dan arti luas.Santri secara sempit adalah seorang pelajar sekolah agama yang disebut pesantren.Adapun dalam arti yang lebih luas kata santri mengacu pada seorang anggota bagian penduduk jawa yang menganut Islam dengan sungguhsungguh (Ziemek. 1986:99). Kehidupan di pesantren sangat dikenal dengan kepatuhan dan kemandirian santrinya.Kepatuhan terhadap Kiai dan kemandirian menjadi dua aspek psikologis yang sangat lekat dengan kehidupan santri di pesantren. Kepatuhan adalah perubahan sikap dan tingkah-laku seseorang untuk mengikuti permintaan atau perintah orang lain (Hartono, 2006:1). Dalam pondok pesantren ada juga sistem organisasi yang mengurusnya, mulai dari pengasuh hingga pengurus pondok pesantren yang dijabat oleh santri-santri yang bertempat tinggal di pondok pesantren tersebut, karena dalam ajaran Islam urgensi pemimpin dalam komunitas muslim merupakan suatu kepastian, bahkan Rasulullah mengingatkan dalam batas dan wilayah 3 yang sangat kecil sekalipun pemimpin itu sudah harus diadakan (Kayo, 2005: 86). Menjadi pengurus pondok pesantren tidak begitu mudah untuk dilakukan, selain tanggung jawabnya yang besar, pengurus pondok pesantren juga merupakan siswa remaja yang masih memiliki kekalutan emosi, dan ego. Tetapi mereka harus mengurus atau mendampingi setiap santri yang juga merupakan siswa, pengurus pondok dituntut secara langsung maupun tidak langsung harus terlihat sempurna dipandangan teman-teman santri yang lain, atau bahkan temannya sendiri. Padahal perilaku remaja umumnya ditandai dengan mood yang naik turun, mood ini juga berubah tiap hari. Remaja memiliki keinginan yang kuat untuk melepaskan diri dari keterikatan, tuntutan, dan tekanan dari orang dewasa khususnya orang tua, sehingga remaja mencari dukungan sosial melalui teman sebaya. Teman sebaya (peer group) menjadi sarana sekaligus tujuan dalam pencarian jati diri remaja. Memasuki masa remaja berarti memasuki tahap storm and stress dalam perkembangan jiwa manusia, yaitu masa remaja yang penuh dengan masalah, tuntutan, dan tekanan dalam hidupnya. Sikap, pikiran, pemahaman, penentuan pendapat, serta emosinya masih terus berkembang dan belum stabil. Depresi bisa menjadi respons sementara terhadap situasi maupun stress. Pada remaja, mood sedih adalah hal yang umum karena proses kedewasaan, stress berhubungan dengan kedewasaan, pengaruh hormon seksual, dan konflik kebebasan dengan orang tua. Walaupun normal bagi remaja untuk mengalami perubahan suasana perasaan, tetapi hal tersebut menjadi tidak normal jika berlarut-larut dengan kekacauan emosi yang luar biasa. 4 Masalah kesehatan mental adalah seluruh gejala atau pola perilaku seseorang yang berkaitan dengan tekanan (distress) dan ketidakmampuan seseorang. Perubahan perilaku ini beresiko kematian, penyakit, dan ketergantungan. Masa remaja merupakan suatu periode transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang merupakan waktu kematangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional yang cepat (Utami, 2011: 42). Penyebab depresi dapat dipandang dari berbagai pendekatan, yaitu medis, psikologis, dan sosiokultural. Depresi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Wanita memiliki kecenderungan hampir dua kali lipat lebih besar daripada pria untuk mengalami depresi mayor (Nevid, 2003: 232). Remaja perempuan dua kali lebih banyak daripada remaja laki-laki yang mengalami depresi. Pada usia 15 tahun perempuan memiliki kecenderungan 2 kali lebih besar daripada laki-laki terkena depresi.(Lubis, 2009: 54). Remaja perempuan secara konsisten memperlihatkan tingkat gangguan depresif dan masalah suasana hati yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja laki-laki (Santrock, 2003: 529). Menurut beberapa penelitian (Lubis, 2009: 54) sekitar 5% dari remaja menderita simtom depresi, misalnya kesedihan yang menetap, prestasi yang menurun dan kurangnya ketertarikan pada tugas yang dahulu disukai. Untuk dapat seseorang didiagnosis menderita major depression, maka simtomsimtom depresi misalnya keinginan bunuh diri, mudah tersinggung, kurangnya nafsu makan, dan hilangnya ketertarikan dalam aktivitas sosial harus berlangsung selama periode paling sedikit dua minggu. 5 Mengenai suasana hati yang tertekan, sekitar 25 sampai 40 persen remaja perempuan mengaku telah mengalami suasana hati yang tertekan selama 6 bulan terakhir, dan 15 sampai 20 persen remaja laki-laki mengalaminya. Diperkirakan ada 5 persen remaja yang memiliki sindrom depresif (Santrock, 2003: 528). Depresi bisa timbul akibat kejadian yang tidak menyenangkan, misalnya kematian dari anggota keluarga atau teman, putus cinta, atau kegagalan di sekolah. Remaja yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, selalu tidak puas sengan diri sendiri, atau merasa tidak berdaya ketika suatu kejadian buruk terjadi lebih beresiko terkena depresi ketika mengalami kejadian yang tidak menyenangkan (Lubis, 2009: 53). John Bowlby (Santrock, 2003: 530) berpendapat bahwa ikatan antara ibu dan anak yang tidak memberikan rasa aman, tidak adanya cinta dan kasih sayang dalam pengasuhan anak, atau kehilangan salah satu orang tua di masa kanak-kanak akan menciptakan set kognitif yang negatif. Dan kognitif merupakan komponen dari terbentuknya konsep diri. Apabila set kognitif remaja tersebut negatif, maka konsep diri dari remaja itupun juga akan menjadi negatif. Berdasarkan penelitian terdahulu (Sukmawati, 4) menunjukkan bahwa sumbangan efektif konsep diri terhadap munculnya kecenderungan depresi adalah sebesar 42,9%, sedangkan untuk sisanya 57,1% disumbangkan oleh faktor-faktor lain baik dari faktor internal maupun faktor eksternal. Hasil penelitian juga ditemukan beberapa kasus bahwa subjek yang memiliki konsep diri yang tinggi namun tetap saja memiliki kecenderungan depresi pada siswa- 6 siswi kelas 2 SMA Santo Yosef Surakarta sebagai subjek penelitian, sehingga konsep diri bukan secara murni sebagai pemicu munculnya kecenderungan depresi, namun kasuskasus dari data yang diperoleh tersebut ditemukan bahwa kecenderungan depresi terjadi antara lain karena faktor usia, dimana subjek tersebut berada pada tahap usia remaja tengah. Konsep diri adalah apa yang terlintas dalam pikiran saat berpikir tentang diri sendiri. Pada hakikatnya, konsep diri kita sangat tergantung pada cara kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung mengalami tingkat depresi yang lebih tinggi, bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya (Winasis, 2009: 5). Perasaan negatif dapat muncul saat para pengurus pondok pesantren merasa gagal untuk mengendalikan atau mengarahkan santri-santri lain agar tidak melanggar peraturan, dan ketika santri sedang mengalami mood sedih, banyak tugas sekolah yang harus diselesaikan akan tetapi dia juga punya tugas di pondok pesantren, akan tetapi hasilnya kurang memuaskan. Selain itu pada dasarnya perempuan mengalami lebih banyak periode depresi disbanding laki-laki hampir disepanjang hidup mereka, kecuali mungkin ketika mereka mencapai usia tua akhir (Davison, 2006: 758). Berdasarkan sudut pandang teoritis dan realitas yang dijelaskan di atas maka peneliti tertarik untuk mengambil judul ” Hubungan Antara Konsep Diri dengan Depresi Pada Santri yang Menjadi Pengurus Pondok Pesantren (Studi di Pondok Pesantren Putri Al-Lathifiyyah I Tambak Beras Jombang)”. 7 B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana konsep diri santri yang menjadi pengurus pondok pesantren? 2. Bagaimana depresi santri yang menjadi pengurus pondok pesantren? 3. Apakah ada hubungan antara konsep diri dengan depresi pada santri yang menjadi pengurus pondok pesantren? C. Tujuan 1. Mengetahui konsep diri pada santri yang menjadi pengurus pondok pesantren 2. Mengetahui depresi pada santri yang menjadi pengurus pondok pesantren 3. Mengetahui hubungan antara konsep diri dengan depresi pada santri yang menjadi pengurus pondok pesantren D. Manfaat Penelitian ini di samping memiliki tujuan-tujuan tertentu, juga mencakup dua manfaat utama, yaitu manfaat teoretis dan praktis: 1. Manfaat teoretis: Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan keilmuan alam bidang Psikologi khususnya dan menambah khazanah pengetahuan dan wawasan dalam keilmuan sosial pada umumnya. 2. Manfaat praktis: a. Peneliti: sebagai bahan informasi untuk belajar memahami faktorfaktor yang mempengaruhi depresi pada santri yang menjadi pengurus. b. Pesantren: Menjadi wacana untuk mengatasi stres dan depresi pada warga pondok pesantren, memberi pengetahuan tentang konsep diri dan perasaan yang dialami oleh pengurus, agar teman-teman atau santri lainnya bisa menghargai dan mengerti tugas seorang pengurus. 8 c. Fakultas psikologi: Memberi masukan sebagai acuan atau bahan pertimbangan untuk penelitian lebih lanjut. d. Santri yang menjadi pengurus : Dapat digunakan oleh pengurus untuk mengetahui tentang bagaimana cara menjalani tangggungjawabnya dengan senang, dan tanpa depresi.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :  Hubungan antara konsep diri dengan depresi pada santri yang menjadi pengurus pondok pesantren: Studi di Pondok Pesantren Putri Al-Lathifiyyah I Tambak Beras Jombang" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment