Abstract
INDONESIA :
Stereotipe pada masyarakat mengenai infertilitas adalah kemandulan yang berarti sterilitas (ketidakmampuan untuk mempunyai keturunan secara mutlak), padahal infertilitas merupakan gangguan kesuburan yang sebenarnya penderita infertilitas masih mempunyai potensi untuk memiliki keturunan, gangguan kesuburan sangat melekat pada identitas “wanita”, oleh karenanya wanita sering kali menjadi korban dengan tidak adanya keturunan dalam sebuah keluarga. Sedangkan peluang terjadinya depresi berprosentase lebih besar pada wanita. Gangguan infertilitas yang dialami seorang wanita dapat menghambat naluri keibuannya untuk memperoleh keturunan dan ini merupakan stressor yang memberi tekanan pada penderitanya. Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana kecenderungan depresi yang dialami wanita yang mengalami gangguan infertilitas dan faktor-faktor pendukung yang dapat menyebabkan depresi.
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kecenderungan depresi pada wanita yang mengalami gangguan infertilitas yang diharapkan dapat diketahui faktor-faktor pendukung yang dapat menyebabkan terjadinya depresi sehingga juga dapat diketahui bagaimana cara mengatasinya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan landasan fenomenologis yang dilaksanakan pada tiga responden. Pengumpulan data dalam penelitian ini mengguanakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang didapat merupakan hasil dari wawancara dengan subyek yang mengalami gangguan infertilitas dan juga didukung dengan cross check pada orang-orang terdekat subyek. Sedangkan observasi dan dokumentasi difokuskan pada subyek utama penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kecenderungan depresi pada wanita menikah yang belum memiliki keturunan yang ditunjukkan oleh banyaknya perubahan sikap yang khas dari penderita gangguan depresi, depresi ini dialami oleh wanita (istri) pada tahun-tahun pertama usia pernikahannya. Beberapa faktor yang mengakibatkan kuatnya gangguan depresi selain faktor biologis pada gangguan infertilitas yang diderita adalah faktor psikososial dan persepsi negatif yang dibangun oleh individu yang bersangkutan pada lingkungannya. Selain itu rasa iri pada pasangan lain yang telah memiliki keturunan yang juga disebabkan oleh keinginan yang besar untuk memiliki keturunan juga merupakan faktor yang menimbulkan depresi pada subyek. penderita infertilitas yang mengalami depresi sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang disekitarnya terutama keluarga dan orang-orang terdekatnya sehingga penderita mempunyai motifasi untuk tetap berusaha dan dapat menerima keadaan dengan gangguan infertilitas yang sedang dideritanya.
ENGLISH :
Depression is psychological disturbance caused by stressors whether inside or outside individual it’s self. A people who gets a depression has to strength characteristic from his habitual characteristic that reflects his stressed or depressed characteristic. Depression degree caused by how small and big are the stressor, even internal and external. This research studies about a women who has no children yet gets depression, look for supporting faktors of depression. A woman who wants to have children being blocked by her infertility Disorder suffered, it is stressor include biological disturbance in other stressor caused from outside which is regarded by her self that being more depressed.
Stressor suffered in along time effects depression, whether in low, medium or high depression disturbance episode. Depression effects a unique characteristic, like often getting sad, bad mood in eating, low desire in doing activities even in doing sexual activity till always be alone and willing to be die.
This research uses a descriptive qualitative approach with phenomenological view which is done by three respondents. Collecting date’s in this research using interview, observation and documentation . date can be got from interviewing result with the subject’s closest people. The observation and documentation are more focused to the subject of research.
The research result shows that there is depression side to the married
women who has no children yet by showing many unique and different characteristic from the depression disturbance sufferer. Some faktors in infertility disorder suffered but also psychological and negative perspective made by sufferer in this environment. Besides that, envy feeling to other couple who have had children, she also has big expecting to have children.Some necessary advices to make her characteristic back like before and supports from her closest are: giving some motivation and supports from her closest people to the sufferer in order not to be depressed and Doing many useful activities which can give refreshment to the sufferer and losing the stressor in order that we can be easy to give her motivation to keep on be optimism and Make close to the god to be able to increase faith quality so that build a patient, without any hopeless in keeping on effort.
women who has no children yet by showing many unique and different characteristic from the depression disturbance sufferer. Some faktors in infertility disorder suffered but also psychological and negative perspective made by sufferer in this environment. Besides that, envy feeling to other couple who have had children, she also has big expecting to have children.Some necessary advices to make her characteristic back like before and supports from her closest are: giving some motivation and supports from her closest people to the sufferer in order not to be depressed and Doing many useful activities which can give refreshment to the sufferer and losing the stressor in order that we can be easy to give her motivation to keep on be optimism and Make close to the god to be able to increase faith quality so that build a patient, without any hopeless in keeping on effort.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Salah satu problem dunia saat ini adalah
menghadapi masalah ledakan penduduk dengan angka kelahiran yang semakin
meningkat, dan kebingungan para remaja yang hamil di luar nikah. Banyak pula
pasangan suami istri yang merasa sedih dengan masalah keturunan, dengan usia
pernikahan yang telah lama pasangan suami istri belum juga dikaruniai seorang
anak. Salah satu tujuan dari pernikahan adalah untuk memperoleh keturunan.
Kehadirannya begitu dinantikan, bukan hanya oleh pasangan yang menikah tetapi
juga merupakan suatu tuntutan dari keluarga dan masyarakat. Hal tersebut dapat
dipahami, karena memiliki keturunan yang meneruskan nasab keluarga menjadi
salah satu tujuan utama pernikahan. Apalagi bagi masyarakat Indonesia yang
masih menganggap janggal pasangan yang menikah dalam waktu sekian lama tetapi
belum memiliki keturunan. Dalam hasil sensus penduduk di seluruh Indonesia
terdapat sekitar 12% atau kira-kira 3 juta pasangan infertil yang tersebar baik
di kota maupun di desa. Sedangkan ilmu kedokteran baru berhasil manangani
sekitar 50 % pasangan infertil untuk memperoleh anak yang diinginkan. Hal 2 ini
berarti separuhnya lagi terpaksa menempuh hidup tanpa anak, mengangkat anak,
poligini atau bahkan bercerai.1 Kehadiran seorang anak dalam sebuah rumah
tangga memiliki arti yang sangat penting bagi pasangan suami isteri. Anak
merupakan tanda ikatan kasih sayang dan merupakan simbol keintiman,
keharmonisan antara suami dan isteri sekaligus menjadi tumpuan harapan dimasa
mendatang. Keberadaan anak dalam sebuah keluarga merupakan tempat untuk
mengekspresikan kasih sayang dan afeksi orang tua. Tanpa kehadiran anak sebuah
keluarga menjadi tidak lengkap. Setiap pasangan suami-isteri yang telah menikah
selalu menginginkan untuk memiliki anak atau keturunan. Anak dapat diperoleh
melalui hubungan intim suami dan isteri (anak kandung) atau dapat dilakukan
dengan cara mengadopsi anak dari pasangan lain (anak angkat/anak piara). Namun
yang sangat diharapkan oleh setiap pasangan adalah memiliki anak kandung.
Setiap pasangan suami isteri selalu berharap untuk mendapatkan keturunan di
tahun-tahun awal perkawinan, meski kenyataan yang dihadapi tidak selalu sesuai
dengan harapan. Ada pasangan yang di tahun pertama sudah dikaruniai anak, ada
juga pasangan suami isteri yang belum dikaruniai anak bahkan sampai beberapa
tahun usia perkawinan mereka. Serangkaian pengobatan dijalani seraya menunggu
datangnya tanda-tanda kehamilan tanpa jaminan waktu yang pasti. 1 Susyantini,
Anisa, ”Hubungan Antara Persepsi Terhadap Dukungan Sosial dengan Tingkat
Kecemderungan Depresi pada Wanita Menikah yang Belum Memiliki Keturunan”
Skripsi. Malang. UNM. 2006. halaman 7. 3 Pasangan suami isteri yang belum memiliki
keturunan atau dalam istilah medis disebut sebagai pasangan infertil primer
sebenarnya merupakan kondisi kekurang mampuan untuk menghasilkan keturunan dan
bukan merupakan ketidak mampuan mutlak untuk memiliki keturunan. Kondisi yang
mutlak untuk tidak bisa menghasilkan keturunan diperuntukkan bagi kasus
sterilitas atau bisaa disebut kasus kemandulan. Kasus wanita yang telah
diangkat rahimnya atau laki-laki yang dikastrasi merupakan contoh kasus
sterilitas atau kemandulan. Situasi ini mengakibatkan yang bersangkutan
mengalami ketidak mampuan secara mutlak untuk memproses kehamilan akibat organ
reproduksi yang sudah tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Menurut
Prawirohardjo, Sarwono kondisi infertilitas dikategorikan menjadi dua yakni
infertilitas primer dan infertilitas skunder. Infertilitas primer adalah
kondisi isteri yang belum pernah hamil walaupun pasangan suami isteri tersebut
melakukan hubungan seksual secara tetap atau berkesinambungan selama lebih dari
12 bulan. Sedangkan infertilitas skunder adalah kondisi isteri yang pernah
hamil akan tetapi tidak terjadi kehamilan lagi walaupun pasangan tersebut
melakukan hubungan seksual secara tetap selama lebih dari 12 bulan2 Masalah
kesuburan sangatlah melekat pada identitas yang dimiliki oleh seorang wanita
sehingga masyarakat awam sering menyimpulkan persoalan inferilitas berdasarkan
sudut pandang yang keliru. Pihak wanita 2 . Ibid ... 4 atau isteri sering
dicurigai sebagai penyebab tidak adanya keturunan. Istilah “mandul” dalam
masyarakat kita sering ditujukan pada wanita yang tidak kunjung hamil dan
memiliki anak secara biologis. Hal ini merupakan anggapan yang keliru.
Sugiharto menyatakan meskipun penyebab infertilitas pada pria lebih kecil
disbanding wanita, anggapan masyarakat yang menuduh pihak wanita sebagai
penyebab belum hadirnya anak dalam sebuah rumah tangga merupakan anggapan yang
keliru, sebab kemungkinan ketidak suburan bisa berasal dari suami, isteri atau
suami isteri secara bersamaan 3 . Berangkat dari setereotip yang ada
dimasyarakat Indonesia tersebut, umumnya wanita akan lebih menjadi sasaran
cecaran pertanyaan dan menjadi fokus utama pembicaraan seputar keturunan atau
belum hadirnya sang buah hati dalam perkawinan. Keadaan ini akan membuat pihak
wanita mengalami tekanan yang berpengaruh terhadap kondisi fisik dan psikisnya.
Domar menyatakan bahwa infertilitas adalah suatu keadaan yang menekan, terutama
pada pihak wanita yang seringkali menyebabkan depresi, cemas dan lelah
berkepanjangan. Apalagi pemeriksaan, pengobatan dan penanganan yang terus
menerus telah membuat wanita tersebut kehilangan kepercayaan diri dan perasaan
serba tidak enak. Apabila hal ini berkelanjutan tanpa mendapat perhatian yang
serius dari lingkungan sekitarnya, maka keadaan ini berpotensi untuk
menimbulkan gangguan depresi pada pihak yang bersangkutan.4 3 Sugiharto, gatot
dr. “Infertilitas” Harmoni. 2003. halaman 21 4 Kasdu, Dini “Kiat Sukses
Pasangan Memperoleh Keturunan”. Jakarta. Puspa swara. 2003. halaman 72 5 Secara
psikologis, kondisi infertilitas pada wanita dapat mengganggu kesehatan mental
yang bermula dari perasaan tertekan secara internal dan eksternal. Tekanan
internal berasal dari diri sendiri yang memiliki keinginan kuat untuk memiliki
anak, perasaan tidak mampu untuk memberikan keturunan yang diharapkan dalam
sebuah keluarga. Tekanan eksternal berasal dari orang lain di sekitarnya,
misalnya keinginan suami untuk segera memiliki anak dan orang tua, mertua yang
selalu mempertanyakan perilahal kehadiran seorang cucu. Dan bahkan tekanan
ekternal lain yang datang lebih luas, misalnya tetangga, saudara, rekan kerja
dan orang-orang sekitar yang lain. Hal ini merupakan stressor atau tekanan
batin bagi wanita infertil tersebut yang kemudian berdampak pada pola pikirnya
Wanita yang belum memiliki anak sering kali memiliki perasaan paradoksal dan
campur aduk dalam hatinya, super sensitivitas yang narsistis, kesombongan diri,
cinta diri (selv love) melebih-lebihkan nilai diri sendiri (selv over
estimation) yang semuanya bersamaan dengan perasaan inferior dan degradasi
diri. Setiap kegagalan dan kekecewaannya selalu diproyeksikan kepada orang lain
dengan jalan menyalahkan orang lain. Kondisi semacam ini akan membuat suasana
hati yang depresif menjadi semakin kuat.5 Data penelitian menyatakan bahwa
rata-rata dari wanita ingin menikah karena didasari oleh perasaan cinta; dan
banyak didorong oleh keinginan memperoleh keturunan dari orang yang dicintai
dan mencintainya. 5 Kartono, Kartini. Dr. “Psikologi Wanita. Mengenal Wanita
Sebagai Ibu dan Nenek”. Bandung. Mandar Maju. 1992. halaman 136 6 Ternyata,
bahwa pada umumnya alasan kawin bagi wanita adalah dorongan keibuan (ingin
menjadi ibu) itu lebih besar daripada alasan keinginan untuk menjadi seorang
isteri. Jadi naluri azali yang sangat kuat pada wanita ialah; mendapatkan
keturunan walaupun ini ditempuh melalui banyak pengorbanan.6 Paragraf di atas
menunjukkan bahwa memiliki keturunan merupakan tujuan utama bagi seorang wanita
yang telah melangsungkan pernikahan. Dan jika tujuan utama sang isteri dalam
pernikahan tersebut tidak tercapai akan dapat memberi beban mental bagi seorang
wanita dan ini merupakan faktor intern yang terus berperan dan menjadikan
bertambahnya beban dan tekanan dalam diri individu atau wanita yang
bersangkutan. Penelitian yang terkait dengan masalah infertilitas melaporkan
bahwa wanita infertil memiliki probabilitas yang lebih besar mengalami gangguan
depresi. Penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah pasien wanita yang
mengalami gangguan infertilitas di klinik obstetri dan ginekologi, saat pasien menunggu
giliran pemeriksaan rutin menyatakan bahwa wanita yang mengalami gangguan
infertilitas memiliki kecenderungan depresi lebih besar dibandingkan dengan
wanita yang fertil. Penelitian lain juga menyatakan bahwa wanita yang mengalami
kondisi infertilitas, dalam tahun-tahun pertama dengan kurun waktu selama 2 – 3
tahun memiliki kecenderungan depresi lebi besar dibandingkan dengan wanita yang
mengalami infertilitas dalam durasi kurang dari 1 tahun atau 6 6 Kartono,
Kartini. Dr. ”Psikologi Wanita. Wanita sebagai Ibu dan Nenek” Alumni. 1986.
bandung. Halaman, 18 7 tahun keatas. Hal ini berarti wanita yang belum memiliki
anak ketika usia pernikahannya mencapai 2 – 3 tahun cenderung mengalami depresi
lebih besar dibandingkan dengan wanita yang belum memiliki anak pada satu tahun
pertama usia pernikahan atau wanita yang belum memiliki anak ketika usia
pernikahan mencapai 6 tahun atau lebih.7 Pasangan suami isteri yang belum
meiliki anak cenderung mengalami depresi, akan tetapi kecenderungan depresi
yang dialami isteri lebih besar daripada pihak suami. Studi yang meneliti
tentang hubungan tingkat emosional distress dan infertilitas ditinjau dari
perspektif gender mendukung adanya pernyataan bahwa pihak isteri lebih
berpotensi mengalami depresi dibandingkan dengan suami. Penelitian yang
dilakukan di klinik obstetri dan ginekologi juga menyatakan bahwa wanita lebih
berpotensi dan mengalami depresi yang lebih besar dibandingkan dengan laki-laki
atau suami. Wanita lebih mengalami masalah seputar kepuasan dalam hidup, seksualitas,
menyalahkan diri sendiri, harga diri dan menghindar dari teman-temannya atau
lingkungan sosial yang lebih luas dibandingkan dengan laki-laki.8 Depresi dapat
mempengaruhi status kesehatan seseorang, dalam hal ini seorang wanita baik
secara psikis maupun fisik. Seorang wanita yang terpaku pada masalah kehamilan
yang tak kunjung datang mengakibatkan mereka mengalami tekanan dan ketegangan.
Hal ini dapat berpengaruh 7 Domar 2005 dalam Susyantini, Anisa, ”Hubungan
Antara Persepsi Terhadap Dukungan Sosial dengan Tingkat Kecemderungan Depresi
pada Wanita Menikah yang Belum Memiliki Keturunan” Skripsi. Malang. UNM. 2006.
halaman 7 8 Ibid ... 8 terhadap mekanisme kinerja otak yang mengatur siklus
hormon. Kemajuan dalam ilmu kedokteran dewasa ini menerangkan tentang adanya
hubungan anatara kejiwaan (psikis), syaraf (neuron) dan kelenjar hormon
(endokrin). Wanita yang belum memiliki keturunan akan memiliki stress yang
berkepanjangan akibat pihak yang bersangkutan menderita tekanan sosial. Dalam
buku psikiatri dan psikologi disebutkan bahwa kondisi stress ini akan ditangkap
oleh pancaindera diteruskan ke pusat emosi di susunan syaraf pusat otak (limbic
system dan hypothalamus). Rangsangan emosional yang berkelanjutan memicu
sejumlah sinyal yang kemudian dikirim melalui syaraf (neuron) lalu diteruskan
ke organ kelenjar hipofisis. Kelenjar hipofisis adalah kelenjar yang
menghasilkan hormon FSH dan LH. Kedua hormon tersebut merupakan hormon yang
berperan penting dalam pengaturan proses perkembangan sifat seksual wanita dan
persiapan kemungkinan kehamilan9 . Beberapa uraian di atas menunjukkan bahwa
wanita infertil sangat rentan untuk dapat mengalami gangguan psikologis, salah
satunya adalah depresi yang diakibatkan oleh banyak faktor baik intern atau
ekstern. Namun demikian perlu adanya penegasan yang menyatakan tentang
faktor-faktor intern dan ektern tersebut, sehingga diharapkan mampu memberikan
solusi bagi keadaan psikis dan mental wanita infertil untuk lebih bisa optimis
sehingga dapat mengurangi kecenderungan depresinya. Beberapa penjelasan di atas
merupakan salah satu contoh bahwa ketidak kuasaan manusia meskipun secara
normal manusia dapat 9 Hawari, Dadang Prof. Dr. dr. H. “Dimensi Religi dalam
Praktek Psikiatri dan Psikologi”. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 2002. halaman
32. 9 merumuskan bagaimana terjadinya kehamilan yang bermula dari hubungan
intim pasangan suami isteri yang kemudian terjadi pembuahan pada sel sperma
dengan sel telur. seperti dijelaskan dalam al-Qur’an bahwa manusia diciptakan
dari tanah dan manusia diciptakan berpasang-pasangan dan kemudian dilahirkan
dari air mani sehingga dapat memperoleh keturunan, yang demikian itu adalah
kekuasaan Allah SWT. 4s\Ρé& ôÏΒ ã≅ÏϑøtrB
$tΒuρ 4 %`≡uρø—r& ö/ä3n=yèy_ ¢ ΟèO 7 πx õÜ œ Ρ ÏΒ § ΝèO 5 >#tè? ÏiΒ /ä3s)n=s{ !$#uρ ’Îû āωÎ) ÿÍνÌßϑãã ôÏΒ ßÈs)ΖムŸωuρ 9 £ϑyè•Β ÏΒ ã £ϑyèãƒ
$tΒuρ 4 ϵÏϑù=ÏèÎ/ āωÎ) ßìŸÒs? Ÿωuρ ∩⊇⊇∪ ×Å¡o„ «!$# ’n?tã y7Ï9≡sŒ ¨ βÎ) 4 A ≈tFÏ. “Dan Allah menciptakan kamu
dari tanah Kemudian dari air mani, Kemudian dia menjadikan kamu berpasangan
(laki-laki dan perempuan). dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan
tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. dan sekali-kali
tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi
umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh mahfuzh). Sesungguhnya
yang demikian itu bagi Allah adalah mudah”10 . Dalam surat asy-Syura Allah SWT
juga menjelaskan bahwa kehamilan, kelahiran dan juga tentang kemandulan
merupakan kehendakNya. 10 Departemen Agama RI, 2005, al-Qur’an dan
Terjemahannya, Bandung : CV. Diponegoro surat Faathir. Ayat ; 11 10 Ü=yγtƒuρ $
Z W≈tΡÎ) â!$t±o„ yϑÏ9 Ü=pκu‰ 4 â!$t±o„ $tΒ ß,è=øƒs† 4 ÇÚö‘F{$#uρ ÏN≡uθ≈yϑ¡¡9$#
Ûù=ãΒ t°! 4 $¸ϑ‹É)tã â!$t±o„ tΒ ã≅yèøgs†uρ
( $ Z W≈tΡÎ)uρ $ Z Ρ#tø.èŒ öΝßγã_Íiρt“ム÷ρr& ∩⊆∪ u‘θä. — %!$# â!$t±o„ yϑÏ9 ∩∈⊃∪ փωs% ÒΟŠÎ=tæ …çµ ‾ ΡÎ) “Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi;
dia menciptakan apa yang dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa
yang dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang dia
kehendaki; atau dia menganuerahkan jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan
mandul siapa yang dia kehendaki. Dia maha mengetahui, maha kuasa.”11 . B.
RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penelitian ini akan diarahkan
untuk menjawab rumusan masalah berikut ini; 1. Bagaimana kecenderungan depresi
yang dialami oleh wanita yang mengalami gangguan infertilitas? 2. Faktor-faktor
apa saja yang mempengaruhi terjadinya depresi pada wanita yang mengalami
gangguan infertilitas? 3. Dan bagaimana cara mengatasi depresi pada wanita yang
mengalami gangguan infertilitas 11 Departemen Agama RI, 2005, al-Qur’an dan
Terjemahannya, Bandung : CV. Diponegoro surat Asy-Syura. ayat ; 49-50 11 C.
TUJUAN PENELITIAN Rumusan masalah di atas mengarahkan pada beberapa tujuan
dalam penelitian ini, yakni; 1. Mengkaji tentang bagaimana kecenderungan
depresi yang dialami oleh wanita yang mengalami gangguan infertilitas 2.
Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya depresi pada wanita
yang mengalami gangguan Infertilitas 3. Mengetahui bagaimana cara mengatasi
depresi pada wanita yang mengalami gangguan infertilitas. D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini bermanfaat memberi sumbangan dalam bidang psikologi tentang
gejala psikologis, yaitu tentang kecenderungan depresi yang dialami oleh wanita
(isteri) yang dalam proses kehidupannya pasangan tersebut belum dikaruniai
seorang keturunan dan sekaligus memberikan penjelasan tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi munculnya depresi pada wanita yang bersangkutan pada hususnya
dan masyarakat pada umumnya sehingga dapat memberikan salah satu solusi untuk
mengatasi permasalahan depresi pada wanita yang mengalami gangguan
infertilitas. Penelitian ini juga memberikan sumbangan pengetahuan bagi masyarakat
dalam menyikapi kasus-kasus infertilitas yang terjadi dilingkungan masyarakat
sehingga diharapkan masyarakat dapat 12 memberikan respon yang bijak dan
positif sehingga berkelanjutan untuk memberikan dukungan terhadap pasangan yang
mengalami gangguan infertilitas dan keluarganya untuk tetap berusaha dan tidak
putus asa karena infertilitas yang dialami bukanlah gangguan yang mutlak untuk
tidak dapat memiliki keturunan seperti stereotipe yang keliru dan terbangun
pada masyarakat awam pada umumnya
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Kecenderungan depresi pada wanita yang mengalami gangguan infertilitas: Studi kasus pada tiga wanita yang mengalami gangguan infertilitas." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD
No comments:
Post a Comment