Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Tuesday, June 13, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Konsep motivasi menurut Nietzsche.

Abstract

INDONESIA:
Renungan tentang nihilisme pada intinya adalah sebuah renungan tentang krisis kebudayaan Eropa sebagaimana disaksikan oleh Nietzsche yang hidup pada akhir abad yang lalu: sebuah kehancuran tatanan mapan peradaban, yakni agama, ilmu pengetahuan, dan moral. Dalam istilah nihilisme, kata nihil tidak menunjukan keberadaan namun menunjukan nilai nol. Kehidupan memiliki nilai nol sejauh ia ditolak dan didepresiasikan. Kemudian setelah meramalkan nihilisme, Nietzsche bukan lantas mengajak untuk menolak nihilisme. Justru Nietzsche dalam tulisan-tulisannya mengajak manusia untuk menghadapi nihilisme dan mengatasinya. Gejala perilaku seperi Nietzsche ini agaknya sulit dijelaskan dengan teori motivasi psikologi modern. Sebab, penelitian yang dilakukan oleh Maslow, Alderfer, Frederick Herzberg, Murray, Mc Clelland, dan Vroom berdiri pada konteks masyarakat kerja atau masyarakat industri. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana konsep motivasi menurut Nietzsche? Apa saja aspek-aspek motivasi menurut Nietzsche? Faktor apa saja yang mempengaruhi konsep motivasi Nietzsche. Dan, penelitian ini bertujuan untuk menggali konsep motivasi menurut Nietzsche, aspek-aspek motivasi menurut Nietzsche serta faktor-faktor yang mempengaruhi konsep motivasi Nietzsche.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah penelitian kepustakaan. Data primer yang dalam penelitian ini menggunakan sumber dari karya Nietzsche. Sedangkan data sekundernya menggunakan buku Nietzsche karangan St Sunardi, Filsafat Nietzsche karangan Gilliez Deleuze, 90 Menit Bersama Nietzsche, karangan Paul Strathern, Friedrich Nietzsche, karangan Roy Jackson, Nietzsche dan Posmodernisme, karangan Dave Robinson, Jurnal Filsafat Driyarkara, tahun XXVII volume 1.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, disimpulkan bahwa konsep motivasi dalam pemikiran Nietzsche mendorong manusia bersikap berani terhadap situasi kondisi sosial yang tak lagi menyandarkan nilai-nilai kehidupan pada eksistensi Tuhan. Tiga perkembagan motivasi menurut Nietzsche ialah, dari roh manusia menuju penciptaan manusia yang penuh beban, dari manusia yang penuh beban menuju manusia yang bebas dan berani, dan dari manusia bebas dan berani menuju manusia unggul. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi menurut Nietzsche ialah dorongan kehendak untuk berkuasa, dorongan menjadi adimanusia, dan dorongan kebahagiaan. Konteks motivasi dalam pemikiran tersebut ialah untuk menggambarkan manusia ateistis yang menginginkan “panduan” hidup dalam dunia yang dianggap sudah tak punya makna dan ketiadaan Tuhan. Dunia di mana kebebasan memuncah dan semua bentuk perilaku dan perbuatan manusia diperbolehkan. Aspek-aspek Motivasi dalam pemikiran Nietzsche ialah, motivasi keberanian, motivasi penerimaan hidup tapa makna, dan motivasi mengatasi keterbatasan diri. Sedangkan konsep motivasi Nietzsche dipengaruhi oleh peradaban Eropa abad 19 dan fenomena agama kristen.
ENGLISH:
Reflections on nihilism at its core is a reflection on the crisis of European culture, as witnessed by Nietzsche who lived at the end of the last century: the destruction of the established order of civilization, the religion, science, and moral. In terms of nihilism, the word does not indicate the existence of zero, but shows a zero value. Life has zero value as far as he was rejected and depreciated (diperosotkan). Then after a forecast of nihilism, Nietzsche was not necessarily invited to reject nihilism. It is precisely in his writings, Nietzsche invites people to confront and overcome nihilism. Behavioral symptoms are like Nietzsche is rather difficult to explain the motivation theories of modern psychology. Therefore, the research conducted by Maslow, Alderfer, Frederick Herzberg, Murray, Mc Clelland, and Vroom stand in the context of community work or community industry. Formulation of the problem in this study is: How does the concept of motivation according to Nietzsche? What are the motivational aspects according to Nietzsche? What factors influence the motivation of Nietzsche's concept. And, this study aimed to explore the concept of motivation according to Nietzsche, according to the motivational aspects of Nietzsche and the factors that influence the motivation concept of Nietzsche.
The method used in this study is the research library. Primary data in this study using the source of the book of Nietzsche. Secondary use of data are Nietzsche written by St. Sunardi, Filsafat Nietzsche written by Gilliez Deleuze, 90 Menit bersama Nietzsche, written by Paul Strathern, Friedrich Nietzsche, written by Roy Jackson, Nietzsche dan Posmodernisme, written by Dave Robinson, Jurnal Filsafat Driyarkara, year of XXVII 1st volume.
Based on the results of research conducted, a conclusion that the concept of motivation in Nietzsche's thought encourages people to be brave attitude towards the situation of social conditions which no longer rely on the values of the life of God's existence. Three perkembagan motivation according to Nietzsche is, of the human spirit towards the creation of man is full load, full load of man to man free and brave, and of the free and brave human being superior to humans. Factors that affect motivation according to Nietzsche is to boost the will to power, thrust into superman, and a boost of happiness. Motivation in the context of thinking is to describe the atheistic man who wanted a "guide" to live in a world that thought had no meaning and the absence of God. Memuncah world where freedom and all forms of human behavior and actions are allowed. Motivational aspects in Nietzsche's thought is, the motivation of courage, motivation, acceptance of tapa meaning of life, and overcome the limitations of self- motivation. While Nietzsche's concept of motivation is influenced by 19th century European civilization and Christian religious phenomenon.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

 Pandangan bahwa manusia sebagai individu merupakan satu kesatuan dari aspek fisik atau jasmani dan psikis atau rohani atau jiwa yang tidak dapat dipisahkan, sesungguhnya sudah berkembang pada pemikiran para filsuf klasik sejak masih zaman Yunani kuno. Para filsuf klasik berpandangan bahwa bagian fisik atau jasmani merupakan aspek individu yang bersifat kasat mata, konkret, dapat diamati, dan tidak kekal, sedangkan aspek psikis, rohani atau jiwa merupakan aspek individu yang sifatnya abstrak, immaterial, tidak dapat diamati, dan kekal. Karena manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara aspek jasmani dan rohani maka perkembangan berbagai aspek dalam diri individu itu akan tampak gejala-gejalanya sebagai gambaran perkembangan tersebut (Ali & Asrori, 2006:1). Manusia adalah makhluk yang mempunyai kesadaran akan dirinya sendiri. Oleh karena itu, manusia adalah makhluk yang ingin mengenal dirinya dan selalu merefleksikan dirinya, disadari ataupun tidak disadari (Ahyadi, 2005:111). Dalam Al-Qur’an terdapat uraian tentang manusia sebagai makhluk biologik, psikologik, dan rohaniah, antara lain terdapat dalam surat al-Mu’minuun [23] ayat 12-16, yang berbunyi: Artinya: “Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.”(Departemen Agama RI, 2005:342). Salah satu sifat yang dimiliki manusia adalah locus of control atau disebut dengan letak kendali dikembangkan oleh Rotter dari teori pembelajaran sosial yang mendudukkan penguatan (reinforcement) pada suatu posisi inti. Diyakini, sejarah belajar seorang individu dapat menggiringnya ke pengharapan yang terampatkan (generalized) tentang penguat. Orang dapat memandang suatu imbalan (reward, positif maupun negatif) sebagai hal yang tergantung pada perilakunya sendiri atau tergantung pada kekuatan-kekuatan di luar kendalinya (Berry dkk, 1999:142). Hasil penelitian membuktikan bahwa orientasi pusat kendali yang internal ternyata lebih banyak menimbulkan akibat-akibat positif. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Lao menyatakan bahwa status sosial ekonomi, kepercayaan diri, aspirasi, serta harapan pada mereka yang internal ternyata lebih tinggi. Menurut Pervin orang-orang internal lebih aktif mencari informasi dan menggunakannya untuk mengontrol lingkungan. demikian pula orang dengan locus of control internal lebih suka menentang pengaruh-pengaruh dari luar, sedangkan orang-orang dengan locus of control eksternal lebih bersikap conform 3 terhadap pengaruh-pengaruh tersebut. Solomon dan Oberlander mengatakan bahwa orang-orang dengan locus of control internal bertanggungjawab terhadap kegagalannya, sedangkan orang-orang yang berorientasi pada locus of control eksternal memiliki anggapan bahwa kegagalannya berasal dari faktor lain di luar dirinya sendiri (dalam Ghufron & Risnawita S, 2011:67-68). Duke dan Lancaster dalam penelitiannya menunjukkan bahwa sering tidaknya orang tua berada di rumah ikut pula memengaruhi terbentuknya pusat kendali. Anak-anak yang orang tuanya sering tidak berada di rumah lebih eksternal pusat kendalinya bila dibandingkan dengan yang orang tuanya sering berada di rumah (dalam Ghufron & Risnawita S, 2011:71). Sedangkan salah satu faktor disposisional yang menyusun kepribadian altruistik yaitu locus of control internal yang merupakan kepercayaan individual bahwa dia dapat memilih untuk bertingkah laku dalam cara yang memaksimalkan hasil akhir yang baik dan meminimalkan yang buruk. Mereka yang menolong mempunyai locus of control internal yang tinggi. Mereka yang tidak menolong, sebaliknya cenderung memiliki locus of control eksternal dan percaya bahwa apa yang mereka lakukan tidak relevan, karena apa yang terjadi diatur oleh keuntungan, takdir, orang-orang yang berkuasa, dan faktor-faktor tidak terkontrol lainnya (Baron & Byrne, 2003:106-107). Bierhoff, Klein, dan Kramp telah mengemukakan faktor-faktor dalam diri yang menyusun kepribadian altruistik, yaitu adanya empati, kepercayaan terhadap dunia yang adil, rasa tanggung jawab sosial, memiliki internal locus of control dan egosentrisme yang rendah (dikutip oleh Sarwono & Meinarno, 2009:135). 4 Gejala-gejala yang biasanya tampak sebagai gambaran berkembangnya berbagai aspek dalam diri individu yaitu (a) aspek jasmani atau rohani, (b) aspek intelek, (c) aspek emosi, (d) aspek sosial, (e) aspek bahasa, (f) aspek bakat khusus, dan (g) aspek nilai, moral, dan sikap (Ali & Asrori, 2006:4). Dari aspek sosial dapat timbul beberapa perilaku seperti berkembangnya sifat toleran, empati, memahami, dan menerima pendapat orang lain, semakin santun dalam menyampaikan pendapat dan kritik kepada orang lain, adanya keinginan untuk bergaul dengan orang lain dan bekerja sama dengan orang lain, suka menolong kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan, kesediaan menerima sesuatu yang dibutuhkan dari orang lain, bersikap hormat, sopan, ramah, dan menghargai orang lain (Ali & Asrori, 2006:3). Perilaku prososial tidak lepas dari kehidupan manusia dalam interaksinya di masyarakat. Interkasi manusia ini tidak lepas dari perbuatan tolong-menolong, karena dalam kenyataan kehidupannya meskipun manusia dikatakan mandiri, pada saat tertentu masih membutuhkan pertolongan orang lain (Mahmudah, 2010:85). Perilaku prososial merupakan segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa mempedulikan motif-motif si penolong. Namun, ada beberapa jenis perilaku prososial yang tidak merupakan tindakan altruistik, misalnya jika Anda memberikan sumbangan yang besar pada malam amal yang diadakan oleh atasan Anda dengan harapan akan menimbulkan kesan yang menyenangkan dan mendapatkan gaji kenaikan gaji, Anda tidak melakukan tindakan altruistik yang sesungguhnya (Sears dkk, 1985:47). 5 Menurut Caprara dkk. beberapa individu lebih cenderung untuk menolong daripada yang lain. Terdapat juga konsistensi sepanjang masa, anak-anak yang prososial pada masa kanak-kanak awal (terlibat dalam tingkah laku bekerjasama, menolong, berbagi, dan menghibur) menjadi remaja yang cenderung disukai oleh teman-teman dan berprestasi secara akademik (dalam Baron & Byrne, 2003:110- 111). Beberapa penelitian telah menemukan bahwa budaya kolektif pada umumnya memiliki nilai-nilai altruisme yang lebih tinggi daripada budaya individualistik. Penemuan ini tidak berarti bahwa individu-individu dalam budaya kolektif akan selalu lebih menunjukkan perilaku menolong/membantu daripada orang-orang dari budaya individualistik. Yang jelas, orang-orang dari budaya kolektif membuat perbedaan yang jelas antara anggota-anggota in-group, atau potensial in-group dan anggota-anggota out-group. Mereka lebih mungkin memberikan pertolongan/bantuan kepada anggota in-group tetapi kurang memberikan bantuan kepada anggota out-group. Triandis memberikan contoh, orang Yunani biasanya lebih bersedia memberikan bantuan/pertolongan kepada orang-orang asing yang secara potensial dianggap sebagai in-groupnya daripada orang Yunani sendiri yang dengan jelas bukan aggota dari kelompoknya sendiri atau in-groupnya (Dayakisni & Yuniardi, 2008:123). Pengalaman sehari-hari memberikan banyak contoh perilaku prososial. Dalam sebuah studi McGuire meminta mahasiswa mendeskripsikan contoh di mana mereka memberikan dan menerima bantuan. Mereka ini tidak kesulitan menyebutkan 72 jenis perilaku menolong yang berbeda, termasuk pertolongan 6 biasa (memberi petunjuk arah, mengambilkan Koran yang jatuh), pertolongan substansial (memberi pinjaman uang, membantu orang lain untuk berkemas), pertolongan emosional (mendengarkan orang mengutarakan problemnya) dan pertolongan darurat (membawa seseorang ke UGD, mendorong mobil yang mogok) (Taylor, 2009:457). Ketika menolong, seseorang mungkin tidak menyadari apa keuntungan bagi dirinya. Tindakannya ketika menolong dikarenakan ia merasa harus memberikan bantuannya kepada orang lain. kegiatan menolong seperti keharusan membantu teman yang sedang sakit, membantu menunjukkan jalan kepada orang baru, dan membantu tetangga yang sedang pindah rumah, semuanya dipersepsikan sebagai sesuatu yang diharuskan oleh norma-norma masyarakat (Sarwono & Meinarno, 2009:130). Perilaku prososial menekankan makna penting proses belajar. Dalam masa perkembangan, anak mempelajari norma masyarakat, orang dewasa mengajarkan pada anak bahwa mereka harus menolong orang lain. Orang belajar menolong melalui penguatan, atau peneguhan, efek ganjaran dan hukuman terhadap tindakan menolong, dan peniruan, meniru orang lain yang memberikan pertolongan. Sudah banyak penelitian dan eksperimen yang dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik seperti yang telah disebutkan, memang terbukti teknik tersebut dapat membentuk perilaku prososial. Perilaku prososial sejak masa kanak-kanak sangat tergantung pada ganjaran eksternal dan persetujuan sosial. bagi orang dewasa menolong dapat menjadi nilai yang diinternalisasi, tidak tergantung pada dukungan eksternal (Sears, dkk., 1985:53-56). 7 Perilaku prososial dipengaruhi oleh tipe relasi antar-orang. Entah itu karena suka, merasa berkewajiban, memiliki pamrih, atau empati, kita biasanya lebih sering membantu orang yang kita kenal ketimbang orang yang tidak kita kenal. Meski demikian, memberi pertolongan kepada orang asing bukanlah hal yang jarang terjadi (Taylor, 2009:457). Empati merupakan respons yang kompleks, meliputi komponen afektif dan kognitif. Dengan komponen afektif, berarti seseorang dapat merasakan apa yang orang lain rasakan dan dengan komponen kognitif seseorang mampu memahami apa yang orang lain rasakan beserta alasannya. Daniel Batson menjelaskan adanya hubungan antara empati dengan tingkah laku menolong serta menjelaskan bahwa empati adalah sumber dari motivasi altruistik (dalam Sarwono & Meinarno, 2009:128). Menolong sebagai tingkah laku yang ditujukan untuk membantu orang lain, dalam beberapa kasus bisa saja tidak dapat mencapai tujuannya. Hal ini dapat disebabkan karena penolong tidak mengetahui kesulitan korban yang sesungguhnya atau karena penolong tidak mempunyai keterampilan yang dibutuhkan untuk menolong korban sehingga dapat berakibat fatal, baik bagi penolong maupun yang ditolong. Misalnya, kasus tenggelamnya 5 orang mahasiswa UI di pantai Anyer pada tanggal 13 Juli 2003. Awalnya hanya satu orang yang hanyut dan beberapa orang temannya mencoba untuk menolong. Derasnya arus laut membuat teman-temannya yang menolong akhirnya ikut hanyut (Sarwono & Meinarno, 2009:123). 8 Dalam mekanisme kehidupan bersama tetap diperlukan adanya perilaku prososial. Pertolongan ini berperan menyeimbangkan kehidupan bersama. Orangorang yang memiliki kelebihan membagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dalam situasi seimbang, kehidupan bersama yang saling menopang akan berjalan terus. Sebaliknya, bila dalam situasi memerlukan pertolongan, orang-orang yang lebih mampu ternyata acuh tak acuh, maka akan muncul ketidakseimbangan. Dalam situasi di mana si kaya tetap menggunakan kelebihannya bagi dirinya sendiri dan tidak membaginya dengan yang tidak mampu, maka mulai muncul kecemburuan sosial. bila kecemburuan ini bersifat kumulatif, maka ia tinggal menunggu saatnya untuk diledakkan. Bila suatu saat terdapat pemicu, suatu kejadian yang di dalamnya ada clash kepentingan, maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi konflik antarkelompok (Nashori, 2008:39-40). Untuk mengetahui motivasi yang mendasari tingkah laku menolong, apakah selfless atau selfish, sampai batas tertentu adalah sulit. Sebagian karena manusia tidak selalu tepat dalam menyimpulkan penyebab tingkah laku seseorang dan sebagian lagi karena manusia cenderung menampilkan diri mereka dengan cara-cara yang dapat diterima secara sosial (dalam Sarwono & Meinarno, 2009:125). Pada kalangan mahasiswa, perilaku prososial tentu tidak dapat dipisahkan dalam kehidupannya sehari-hari. Hal ini karena setiap harinya mereka bertemu dengan banyak orang yang besar kemungkinan terjadinya tindakan prososial antara yang satu dengan yang lain. Pada hakekatnya di dunia ini tidak ada 9 manusia yang mampu bertahan hidup sendiri tanpa bantuan dari makhluk di sekitarnya. Tidak terkecuali pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dari hasil observasi ketika mereka menjalankan kewajiban sebagai seorang mahasiwa hampir setiap hari bertemu di kelas, sebagai contoh waktu kegiatan belajar mengajar dimulai tentu di sana terjadi interaksi dan kadangkala ada kegiatan belajar yang mengharuskan mereka membentuk kelompok untuk mengerjakan suatu tugas mata kuliah. Dari kegiatan tersebut dapat diamati perilaku para mahasiswa yang satu dengan yang lain. Ada yang tidak peduli dengan pelajaran yang diikuti, otomatis dalam kelompok tersebut tidak semua mahasiswa ikut mengerjakan tugas yang diberikan, dari kegiatan ini tentu terjadi ketidakseimbangan sosial, karena dalam satu kelompok tersebut akan memperoleh nilai yang sama meskipun tidak semua ikut mengerjakan kewajiban, malah yang lebih mengherankan lagi malah yang tidak terlibat secara aktif mendapatkan nilai yang lebih bagus dari yang serius mengerjakan. Sehingga suatu saat dapat menjadi pemicu suatu kejadian yang di dalamnya ada clash kepentingan, maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi konflik antarkelompok. Dengan menyerahkan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya kepada orang lain, individu tersebut tidak memberi kesempatan kepada dirinya akan kemampuan yang dimiliki. Meskipun begitu tidak sedikit mahasiswa yang mampu bekerjasama dengan baik, mereka mampu mengeluarkan kemampuan dirinya untuk melakukan sesuatu untuk dirinya dan orang lain. Jadi mereka tidak hanya mementingkan 10 dirinya tetapi juga untuk orang di sekitarnya. Misalnya ketika mendapatkan tugas kelompok yang dikerjakan di kelas, mereka akan membagi masing-masing anggota kelompoknya materi yang dibutuhkan agar semua mendapatkan bagian untuk mengerjakan. Hal ini bisa disebabkan karena faktor-faktor yang mempengaruhinya sejak kecil, seperti pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya di rumah, dan faktor sosial lain di lingkungan pergaulan. Selain dalam kegiatan belajar ketika di luar jam pelajaran juga didapati mahasiswa yang mau berbagi dengan temannya ketika temannya ingin curhat dengannya tentang masalah yang dihadapi baik itu dengan pacar, keluarga atau dengan sesama mahasiswa. Begitu juga ketika di sela-sela pelajaran, ketika ada beberapa mahasiswa yang meminta bantuan untuk memberikan santunan untuk korban bencan atau yang lain, sebagian besar ada yang memberikan sumbangan namun sebagian yang lainnya cuek saja. Dengan adanya fenomena di atas, peneliti ingin meneliti tentang “Hubungan antara Locus of Control dengan Perilaku Prososial pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang”. B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana tingkat locus of control mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang? 2. Bagaimana tingkat perilaku prososial mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang? 11 3. Adakah hubungan antara locus of control dengan perilaku prososial pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Untuk mengetahui tingkat locus of control mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 2. Untuk mengetahui tingkat perilaku prososial mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 3. Untuk mengetahui hubungan antara locus of control dengan perilaku prososial pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan manfaat terhadap disiplin ilmu psikologi terutama tentang pembahasan locus of control dan perilaku prososial. 12 2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti Selanjutnya Dari hasil penelitian ini diharapkan menjadi motivasi tersendiri bagi peneliti untuk lebih mengembangkan keilmuannya di bidang psikologi khususnya dalam pokok bahasan locus of control dan perilaku prososial. b. Bagi Mahasiswa Harapan peneliti adalah bahwa penelitian ini dapat dijadikan pengetahuan baru bagi para pembaca umum bukan hanya bagi mahasiswa dalam bidang psikologi khususnya pemahaman mengenai locus of control dengan perilaku prososial.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : :Konsep motivasi menurut Nietzsche.." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment