Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Saturday, June 10, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi al-Ahwal al-Syakhshiyyah:Talak dalam perspektif Sayyid Quthb dan Quraish Shihab.

Abstract

INDONESIA:
Penafsiran terhadap ayat-ayat hukum tidak pernah berhenti bertransformasi dalam kajian ilmu tafsir. Begitupun penafsiran yang terjadi di kalangan para mufassir baik klasik hingga kontemporer sangat beragam dalam menginterpretasikan ayat-ayat al-Qur’an. Khususnya yang berkaitan dengan ayat- ayat hukum talak.Perbedaan penafsiran tersebut, diakibatkan beberapa faktor. Di antaranya perbedaan dalam penggunaan metode dan beragam karakteristik yang mereka miliki. Begitu halnya dengan penafsiran Sayyid Qutbh dan Quraish Shihab dalam menginterpretasikan ayat-ayat talak.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaiamana penafiran ayat- ayat talak menurut Sayyid Qutbh dan Quraish Shihab, bagaimana metode penafsiran keduanya dalam menginterpretasikan ayat-ayat talak, dan persamaan serta perbedaan penafsiran keduanya dalam mengimplementasikan sebagai konstribusi pemikiran keilmuan di bidang hukum keluarga khususnya talak.
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-comparatif, jenis penelitian adalah normatif karena penelitian ini sifatnya literatur. Paradigma yang digunakanadalah scientific paradigm (Paradigma Ilmiah) dengan melakukan penelitian pada buku, yang lebih dikenal dengan libraryresearch.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa Sayyid Qutb dalam penafsirannya, memandang hukum talak sebagai manhaj Ilahi yang telah diatur sesuai dengan fitrah manusia. Talak sebagai solusi atau jalan terakhir yang diberikan dalam mengatasi persoalan suami-istri. Sedang menurut Quraish Shihab, bahwa baik rujuk maupun cerai, semua harus dilakukan dengan ma’ruf, yakni dengan keadaan yang baik serta terpuji. Di sini, menceraikan digarisbawahi dengan ma’ruf, sedang cerai dengan ihsan.Metode yang digunakan Sayyid Qutbh ialah dengan metode analitis atau lebih dikenal dengan Tahlili. Tafsir ini berupa tafsir sastra, dengan karakteristik tafsir Adabiijtima’i. Sedang Quraish Shihab meggunakan metode maudhu’i. dengan menafsirkan sesuai dengan urutan masa turunnya surat-surat al-Qur’an. Tafsir ini termasuk ke dalam karakteristik tafsir bil-ra’yi dengan pendekatan nuzuly.
Persamaan penafsirannya yaitu, bahwa cerai menurut mereka erat kaitannya dengan ibadah (shalat). karena inti dari shalat itu adalah untuk mengingat Allah, begitu halnya dengan pernikahan yang merupakan ibadah kepada Allah. Menurutnya, hubungan keduanya harus memiliki kesinambungan antara satu dengan yang lain.Sedangkan perbedaan antara penafsiran keduanya terletak pada metode yang mereka gunakan dan karakteristik yang mereka miliki.
ENGLISH:
The interpretation of the verses of the law never stopped transformed in the study of tafsir. Likewise interpretation that occurred among both the mufassirs classic to contemporary mufassirs are very diverse in interpreting the verses of the Qur’an. Particularly with respect to verses divorce law. Differences in the interpretation, due to several factors. Among the differences in the use of methods and their diverse characteristics. So it is with the interpretation of Sayyid Qutbh and Quraish Shihab in interpreting verses divorce.
Formulation of the problem in this research is how interpretation the verses of divorce by Sayyid Qutbh and Quraish Shihab, how the method of interpretation both in interpreting the verses of divorce, and the similarities and differences of interpretation both in the implementation as a contribution to scientific thinking in the field of family law, especially the law of divorce.
This research method using descriptive-comparatif approach, this type of research is normative because of its research literature. The paradigm use dis the scientific paradigm (Paradigm Scientific) to conduct research on the book, which is better known as there search library.
Based on the results, it canbe concluded that Sayyid Qutb in his interpretation, view divorce as the methodology of the Divine law which has been arranged in accordance with human nature. Divorces as a last resort solution or given inover coming husband and wife. Medium according Quraish Shihab, that both referor divorce, all to do with the good and, by the state of good and commendable. Here, divorce underlined with ma'ruf, being divorced with ihsan. The method used Sayyid Qutbh is with analytical methods, or better known as Tahlili. This Tafseer in the form of literary interpretation, with the characteristics of Adabi ijtimai interpretation. Medium Quraish Shihab receipts maudhu'I method. To interpret according to these quence of letters and fall times of the Qur’an. This interpretation is included in the interpretation characteristics bil-ra'yi and by nuzuly approach.
Equation of interpretationis, that according to their divorceis closely related to worship (prayer). Because the core of the prayer is to remember Allah, as well as the wedding which is the worship of God. According to him, the relationship must have continuity between one another. While the difference between them lies in the interpretation of the methods they use and the characteristics they possess.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi al-Ahwal al-Syakhshiyyah" : Talak dalam perspektif Sayyid Quthb dan Quraish Shihab." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment