Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Thursday, June 8, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi al-Ahwal al-Syakhshiyyah:Manajemen pengelolaan infaqdi Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng: Tinjauan teori manajemen George Terry.

Abstract

INDONESIA :
Tebuireng dikenal sebagai sebuah Pesantren dengan tokoh-tokoh besar di dalamnya. K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Abdurrahman Wahid merupakan dua tokoh yang merupakan Kyai sekaligus tokoh Nasional. Keberadaan makam beliau menjadi magnet tersendiri bagi Pesantren Tebuireng. Budaya ziarah yang sudah ada dari zaman dahulu menjadi tontonan setiap hari di sana. Hal itulah yang kemudian Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) memberikan fasilitas dengan pengadaan kotak amal di sekitar area makam agar para peziarah yang ingin memberikan infaq, dari kotak amal tersebutlah sebagian besar dana yang diperoleh LSPT. Dana yang dihimpunkemudian didistribusikan kepada yang berhak menerimanya. LSPT sendiri merupakan lembaga pengelola Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf yang didirikan oleh K.H. Shalahuddin Wahid selaku Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengumpulan dan pendistribusian dana infaq di Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng. Dan bagaimana pengelolaannya ditinjau dengan teori manajemennya George Terry yaitu terkait Perencanaan, Pengorganisasian, Menggerakkan, dan Pengawasan.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun sumber data diperoleh dari wawancara langsung terhadap pengurus dan beberapa informan yang berkaitan dengan penelitian, serta dokumen-dokumen untuk memperkuat. Maka, teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Dari hasil penelitian yang dilakukan ditemukan bahwasanyapengumpulan dana dilakukan dengan dua cara yaitu melalui kotak amal dan infaq donatur. Sedangkan pendistribusiannya bersifat konsumtifyang disalurkan dalam bentuk aktualisasi program-program, yaitu: program yatim/piatu, kesehatan, pendidikan, dakwah, dan pengabdian masyarakat. Proses perencanaan dilakukan dengan rapat kerja pada awal kepengurusan, namun belum mencakup perencanaan jangka panjang. Pengorganisasiandilakukan berdasarkan jobdisc, namun kurang maksimal karena struktur organisasi belum tertata dengan baik. Proses menggerakkan dilakukan oleh manajer dengan memberikan contoh kepada pengurus di bawahnya, pun juga ada pengaruh kultur pesantren yang mempengaruhi para pengurusnya. Pengawasan dilakukan dengan tiga cara, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh manajer bidang, pengawasan yang dilakukan oleh manajer utama, dan pengawasan yang dilakukan oleh dewan pengasuh dan dewan penasehat lembaga.
ENGLISH :
Tebuireng known as a islamic boarding school with great figures inside it.K.H. Hasyim Ashari and K.H. Abdurrahman Wahid are two figures whose are Kyai well as national figures. The existence of the grave, it became a magnet for Pesantren Tebuireng. Pilgrimage cultural that had been there from time immemorial a spectacle every day over there.It was then the Social Institutions Tebuireng Pesantren (SITP) provides a facility with the procurement of a charity box around the area of the tomb so that the pilgrims who want to give infaq, donations can be collected and distributed in appropriate with the Islamic Shari'a. SITP its a management agency Zakat, Infaq, Sadaqah and endowments established by K.H. Salahuddin Wahid as a Caregiver Pesantren Tebuireng.
This research head for determine how the collection and distribution of funds infaq in Institute of Social Pesantren Tebuireng then reviewed by a management theory that is related to George Terry Planning, Organizing, Moving, and Monitoring.
This research is a qualitative research approach to the field of study. The source of the data obtained from direct interviews of the officers and some of the informants related to the research , as well as documents to strengthen.Thus, data collection techniques by observation, interviews, and documentation.


From the research conducted found that fundraising is done in two ways: through charity boxes and infaq donors. And then directly channeled into programs: programs fatherless / motherless, health, education, propaganda, and community service. The planning process is done by a working meeting at the beginning of management, but does not include long-term planning. Organizing is basedjobdisc, but less than the maximum because of the organizational structure is not well ordered. The process moves made by the manager to give an example to the board underneath, was also a cultural influence that affects the administrators boarding. Supervision is done in three ways, namely supervision by field managers, supervision carried out by the main manager, and supervision carried out by the board of caregivers and institutions advisory council.
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG

 Zakat, infaq, dan shadaqah yang selanjutnya disingkat ZIS merupakan ibadah yang tidak hanya berhubungan dengan nilai ketuhanan saja namun berkaitan juga dengan hubungan kemanusiaan yang punya nilai sosial di masyarakat. ZIS memiliki manfaat yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat dipandang dari sudut ajaran islam dan juga kesejahteraan umat. Hal ini telah dibuktikan dalam sejarah perkembangan Islam yang diawali sejak 2 masa kepemimpinan Rasulullah SAW. ZIS telah menjadi sumber pendapatan keuangan negara yang memiliki peranan sangat penting, antara lain sebagai sarana pengembangan agama Islam, pengembangan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, pengembangan infrastruktur, dan penyediaan layanan bantuan untuk kepentingan kesejahteraan sosial masyarakat yang kurang mampu seperti fakir miskin, serta bantuan lainnya. Peranan ZIS di atas, sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat miskin di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik pada tahun 2013 mencapai 11,47 persen atau 28,55 juta jiwa1 yang masih membutuhkan berbagai macam layanan bantuan, namun masih kesulitan dalam memperoleh layanan bantuan tersebut guna meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Ummat Islam Indonesia tentunya tidak bisa dikecualikan dari fenomena kemiskinan tersebut. Yang memprihatinkan adalah ketika kita mengetahui bahwa ummat Islam adalah mayoritas di negeri ini. Bukankah dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemiskinan ummat Islam tersebut juga menjadi potret kemiskinan bangsa. Maraknya berbagai bencana yang melanda Negeri Sejuta Pulau ini tampaknya juga semakin memperparah kondisi tersebut. Pada saat demikian inilah pada akhirnya mengharuskan ummat Islam untuk menelaah dan mengkaji lagi tentang hubungan ajaran agama dengan salah satu problem pokok kehidupan terkini, yaitu kemiskinan tersebut. Kajadian ini diawali dengan sebuah pertanyaan mendasar, sejauhmana 1Badan Pusat Statistik, “Jumlah Penduduk Miskin”, http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/ 1494, diakses tanggal 02 Spetember 2015. 3 kontribusi ajaran Islam dalam memecahkan problem kemiskinan tersebut. Pertanyaan tersebut penting, sebab secara tekstual banyak ajaran-ajaran Islam yang menjanjikan kesejahteraan hidup setiap orang beriman, tidak saja di akhirat tetapi juga di dunia. Pertanyaan berikut, kalau demikian, mengapa terjadi kesenjangan apa yang seharusnya (das Sollen) dengan kenyataan (das Sein)? Di mana letak kesalahannya?. Perhatian Islam terhadap penanggulangan kemiskinan dan fakir miskin ditunjukkan melalui firman allah pada surat al- Dzâriyât:19 yang berbunyi: ِ وم ُ ر ۡ ح َۡ ٱۡل َ ِ ِل و ئ ٓ ا ِ لسَّ ّ ل ّ ق َ ح ۡ ِ م ِه ل ََٰ و ۡ م َ أ ٓ ِي ف َ و Artinya: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”. 2 Dari penjelasan ayat di atas jelas bahwa Allah memerintahkan kepada mereka yang mempunyai harta untuk memberikan sebagian hartanya kepada orang-orang yang kurang mampu. Jelas bahwa islam mempunyai solusi yang tepat bagi permasalahan yang dihadapi tersebut. Oleh karena itu, ibadah ZIS yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Islam di Indonesia, didukung dengan besarnya kekayaan sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia, sehingga dapat dikatakan Indonesia adalah negara yang memiliki potensi ZIS yang cukup besar. Potensi ini merupakan sumber pendanaan yang dapat dijadikan kekuatan pemberdayaan ekonomi, pemerataan pendapatan, bahkan akan dapat menggerakkan roda 2QS. al-Dzâriyât (51): 19. 4 perekonomian negara. Potensi ini sebelumnya hanya dikelola oleh individuindividu secara tradisional dan bersifat konsumtif, sehingga pemanfaatannya belum optimal. Setelah berlakunya Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, pelaksanaan pengelolaan zakat di Indonesia dilakukan oleh Lembaga Pengelola Zakat (LPZ) yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) yang dibentuk Pemerintah di tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota dan kecamatan serta Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk dan dikelola masyarakat.3 ZIS yang merupakan dana keagamaan yang mengandung potensi ekonomi, seharusnya bisa menjadi dana dan aset yang memiliki potensi dalam pemberdayaan masyarakat. Potensi zakat dan infaq sebagai sumber dana dan aset dapat tumbuh dan berkembang secara baik dan tepat sasaran apabila dikelola secara baik dan optimal.4 Dalam pengelolaan dana ZIS, suatu lembaga itu tentu harus mempunyai manajemen yang baik dengan mempunyai visi dan misi dalam menyelenggarakan program pemberdayaan masyarakat. Lembaga zakat dalam menerapkan fungsi manajemen yang juga harus diperhatikan juga mengenai sumber dana ke arah tercapainya tujuan yakni dalam penghimpunan dan pendistribusiannya perlu kejelian dalam pelaksanaanya atau dalam bahasa manajemen adalah actuating sehingga dapat tercapainya tujuan-tujuan lembaga yang telah dirancang. 3Muhammad, Manajemen Organisasi Zakat, (Malang: Madani, 2011), h. 46. 4Muhammad, Manajemen..., h. 41. 5 Dalam distribusi ZIS yang sehubungan dalam pengelolaan nya diperlukan pengelola ZIS secara profesional, mempunyai kompetensi dan komitmen sesuai dengan kegiatan yang dilakukan. Dalam hal ini mekanisme pelaksana ZIS dan kriteria pemilihan dalam mengambil keputusan pada pimpinan lembaga harus dilakukan secara tepat. Alasan yang melatar belakangi pemilihan Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng yang selanjutnya disingkat LSPT sebagi tempat penelitian, karena LSPT sendiri mempunyai peranan sebagai salah satu lembaga yang berbasis sosial di bawah naungan yayasan Hasyim Asy’ari yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dengan mendayagunakan sumber daya dan partisipasi publik, menyalurkan dan mengatur pengelolaan zakat, infaq, shadaqah, dan wakaf bukan berorientasi pada pengumpulan profit bagi pengurus organisasi. Terbentuknya lembaga ini bermula dari tumbuh dan berkembangnya Pesantren Tebuireng, seiring perkembangan zaman. Ratusan tenaga pengajar dan pekerja mengabdi di Pesantren. Sementara para santri, siswa, guru, dan pekerja (abdi pesantren) banyak yang berasal dari kalangan ekonomi kurang mampu. Atas kesadaran dan pemahaman ini, maka pada bulan Agustus tahun 2007 pesantren Tebuireng menggagas sebuah lembaga yang diberi nama Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng.5 Lembaga yang berpusat dikawasan pesantren Tebuireng ini kemudian mendapat legalitas sebagai bagian dari Unit 5Shalahuddin Wahid, Transformasi Pesantren Tebuireng: Menjaga Tradisi di Tengah Tantangan, (Malang: Uin-Maliki Press, 2011), h. 175. 6 Pengumpulan Zakat (UPZ) BAZNAS Provinsi Jawa Timur pada tahun 2013 sesuai dengan SK nomor 88/SK-UPZ/BAZ.PR/2013.6 LSPT merupakan salah satu lembaga zakat dengan pendapatan yang cukup besar, bisa mencapai 200 juta setiap bulannya. Pendapatan terbesar justru diperoleh dari kotak-kotak amal yang tersebar di area makam pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, yang juga merupakan makam Presiden Republik Indonesia ke-4 yakni K.H. Abdurrahman Wahid atau yang sering kita kenal dengan Gus Dur. Pada waktu itu sebenarnya masih belum ada kotak-kotak amal di sekitar makam Gus Dur. Awalnya pada saat Gusdur meninggal banyak peziarah yang melemparkan uang di atas makam Gusdur, kemudian Ketua LSPT pada saat itu mempunyai ide untuk membuatkan kotak amal sebanyak delapan kotak besar sehingga uang-ang peziarah tersebut bisa terakomodir dan tidak berserakan di area makam Gus Dur. Itulah yang kemudian melatar belakangi pembuatan kotak amal yang tersebar di area makam Gus Dur hingga saat ini yang berjumlah sangat besar.7 Membeludaknya peziarah tidak terlepas dari kemasyhuran dan karismatik tokoh-tokoh yang berada di area makam tersebut. Sehingga antusias untuk ber-infaq ataupun bershadaqah para peziarah sangat besar. Inilah yang kemudian menjadikan omset dana LSPT menjadi sangat besar. Berbeda dengan lembaga zakat lain, para pengurus LSPT tidak perlu mencari dana ZIS, justru 6LSPT, Profil Lembaga, http://www.lspt.or.id/profil-lembaga, diakses tanggal 03 Spetember 2015. 7Agus, Wawancara, (Cukir, 08 September 2015) 7 dana-dana yang dibutuhkan guna mencapai visi misi lembaga justru datang sendiri melalui para pengunjung yang berziarah dimakam tersebut. Dengan dana pemasukan yang begitu besar kemudian penulis mempunyai pertanyaan besar kaitannya dengan pengelolaan yang telah dilakukan oleh LSPT tersebut. Apakah kemudian dengan dana tersebut, LSPT sudah menerapkan manajemen pengelolaan dengan baik?. Kemudian apakah pengelolaan yang dilakukan sudah efektif dan terdistribusikan dengan baik dan tepat sasaran?. Itulah beberapa pertanyaan yang kemudian muncul yang selanjutnya akan dirumuskan dalam rumusan masalah di bawah. Itulah yang kemudian membuat penulis melakukan penelitian di Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng dengan memfokuskan penelitian dalam hal planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (menggerakkan), dan controling (pengawasan) di Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng dalam perspektif teori manajemen menurut George Terry. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana Pengumpulan dan Pendistribusian Dana Infaq di Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng? 2. Bagaimana Manajemen Pengelolaan Infaq di Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng dalam perspektif Teori Manajemen George Terry? 8 C. TUJUAN PENELITIAN Berangkat dari rumusan masalah diatas, tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Mendiskripsikan pengumpulan dan pendistribusian dana Infaq di Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng. 2. Mendeskripsikan Manajemen Pengelolaan Infaq di Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng dalam perspektif Teori Manajemen George Terry. D. MANFAAT PENELITIAN Adapun manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Secara teoritis a. Hasil penelitian diharapkan dapat menambah informasi kepada masyarakat tentang perkembangan pelaksanaan pengelolaan dana LSPT, serta dapat berguna juga sebagai bahan masukan bagi LSPT ke depan. b. Sebagai media pengaplikasian ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan, serta membandingkannya dengan kondisi sebenarnya di dunia nyata. Guna melatih kemampuan dalam menganalisis secara sistematis. c. Hasil penelitian juga diharapkan sebagai tambahan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa fakultas Syariah, terutama mahasiswa Jurusan AlAhwal Al-Syakhsiyyah yang ingin memfokuskan penelitian ini dimasa yang akan datang. 9 d. Sebagai bahan studi tambahan terhadap penelitian mengenai pengelolaan dana infaq dalam perspektif teori manajemen George Terry. 2. Secara Praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi baru akan pentingnya penerapan manajemen dalam pengelolaan dana zakat, infaq dan shadaqah secara baik dan profesional, sehingga menjadikannya sebagai instrumen sosial dan ekonomi untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan, serta meningkatkan pertumbuhan perekonomian Negara
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Hukum Bisnis Syariah" :   Manajemen pengelolaan infaqdi Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng: Tinjauan teori manajemen George Terry..Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment