Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, June 12, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Pengaruh pola asuh orang tua terhadap kenakalan remaja siswa kelas X Dan XI SMKN 2 Malang

Abstract

INDONESIA:
Proses tumbuh-kembang seseorang pada masa remaja merupakan masa yang paling penting dalam semua fase proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Selain itu, salah satu alasan mengapa masa remaja menjadi masa yang penting dan menjadi salah satu pusat perhatian para pakar psikologi perkembangan, sosial maupun pendidikan adalah karena adanya masa transisi. Dimana masa transisi ini adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa remaja dan masa transisi inilah yang menjadikan emosional remaja kurang stabil (storm and stress). Pada masa transisi ini memungkinkan timbulnya masa krisis yang biasanya ditandai munculnya perilaku-perilaku menyimpang atau biasa disebut dengan istilah kenakalan remaja atau Juvenile Delinquency.
Tujuan penelitian adalah sebagai berikut: 1) Untuk mengetahui kecenderungan pola asuh yang digunakan orang tua pada siswa Kelas X dan XI SMKN 2 Malang. 2)Untuk mengetahui bagaimana tingkat kenakalan remaja pada siswa Kelas X dan XI SMKN 2 Malang. 3)Untuk mengetahui bagaimana pengaruh pola asuh orang tua terhadap tingkat kenakalan remaja pada siswa Kelas X dan XI SMKN 2 Malang.
Subyek dalam penelitian adalah siswa kelas X PS 1, X TKJ 1, X TKJ 2, XI JSB 1, XI JSB 2 dan XI JSB 3 SMKN 2 Malang yang berjumlah 198 siswa. Pengambilan data menggunakan skala pola asuh orang tua dan kenakalan remaja. Pengolahan data menggunakan teknik regresi linier.
Hasil perhitungan kategorisasi menunjukkan bahwa tingkat pola asuh orang tua memiliki Pola Asuh tinggi sebanyak 17 responden (8,9%), yang memiliki Pola Asuh sedang sebanyak 163 responden atau 85,34%, dan yang memiliki pola asuh rendah sebanyak 11 responden atau 5,76%. Kenakalan Remaja tinggi sebanyak 20 responden (10,47%), yang memiliki Remaja sedang sebanyak 148 responden atau 77,49%, dan yang memiliki kenakalan remaja rendah sebanyak 23 responden atau 12,04%. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa nilai korelasi pola asuh dan kenalan remaja sebesar -0.484 dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 (p<0.05). Artinya adanya pengaruh antara pola asuh orang tua terhadap kenakalan remaja.
ENGLISH:
Growth and development process of someone in adolescence is the most important stage among all human phase. One of the reasons why it is important and become focus of developmental, social, and educational psychology experts is the transition stage. This transition stage is the switchover from children to adolescence and this stage triggers adolescent emotion less stable (storm and stress). In that stage, emergence of crisis phase is also possible happened. Actually, the symptom of crisis phase is deviant behaviors or usually called juvenile delinquency.
The purposes of this research are as follow: 1) To know parenting tendency which is used by parent of first and second grade student in Vocational High School 2 Malang. 2) To know how far juvenile delinquency level of first and second grade student in Vocational High School 2 Malang. 3) To know the influence of parenting and juvenile delinquency of first and second grade student in Public Vocational High School 2 Malang.
The subjects of this research are X PS 1, X TKJ 1, X TKJ 2, XI JSB 1, XI JSB 2 dan XI JSB 3 Vocational High School 2 Malang which the totals are 198 students. Data collection is taken by parenting and juvenile delinquency scale. Data processing is using correlation technique with pearson correlation.
The calculation results show that there are 3 different categorizations. First, parenting level which has high parenting consists of 17 respondents (8,9%), medium parenting consists of 163 respondent (85,34%), and low parenting consists of 11 respondent (5,76%). High juvenile delinquency consists of 20 respondents (10,47%), medium juvenile delinquency consists of 148 respondents (77,49%), and low juvenile delinquency consists of 23 respondents (12,04%). Correlation test result shows that the parenting correlation and juvenile delinquency value is -0.484 with significance value is 0.000 (p<0.05). It means there is influence parenting against juvenile delinquency.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Pola asuh orang tua juga sering dikenal sebagai gaya dalam memelihara anak atau membesarkan anak mereka selama mereka tetap memperoleh keperluan dasar yaitu makan, minum, perlindungan, dan kasih sayang. Santrock (2002) mengatakan yang dimaksud dengan pola asuh adalah cara atau metode pengasuhan yang digunakan oleh orang tua agar anak-anaknya dapat tumbuh menjadi individu-individu yang dewasa secara sosial. Tumbuh kembang anak mulai dalam kandungan sampai ia tumbuh menjadi dewasa merupakan proses yang sangat panjang, dan hal ini merupakan suatu proses yang sangat luar biasa yang akan dialami oleh semua orang tua. Pada proses inilah akan tampak senang atau tidaknya anak, bahagia atau tidaknya anak tergantung kepada orang tua. Akhir-akhir ini banyak orang tua yang mengesampingkan mengasuh anak mereka, mengetahui perkembangan dan pertumbuhan anak mereka, terkadang mereka malah membayar seorang perawat anak untuk mengasuh anak mereka. Dan tidak jarang orang tua yang mementingkan materi semata, yang dalam satu sisi orang tua mencari materi bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk sang anak dan keluarga. Akan tetapi disatu sisi anak juga membutuhkan waktu bersama orang tua yang lebih lama, 2 karena tidak bisa dipungkiri kasih sayang orang tua pastilah sangat besar kepada anak. Orang tua menaruh harapan yang besar pada anak mereka dan ingin menjadikan mereka anak yang baik serta membanggakan orang tua. Untuk mencapai hal itu hendaknya orang tua lebih menyadari peran serta tugas mereka sebagai orang tua dalam mengasuh, mendidik, serta membesarkan anak-anaknya. Dalam sebuah keluarga kehadiran ataupun adanya orang tua sangatlah besar maknanya untuk perkembangan anak secara psikologis. Keluarga adalah lingkungan pertama yang anak kenal dan keluarga adalah lingkungan utama anak sehingga semua proses baik mengasuh, mendidik ataupun yang lainnya akan sangat berpengaruh pada perkembangan anak baik dalam segi intelektual, spiritual ataupun sosial dan perilaku anak dalam kehidupan sosial. Kartini Kartono (Persada, 2002) mengungkapkan pola kriminal ayah, ibu, atau salah seorang anggota keluarga dapat mencetak pola kriminal hampir semua anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu tradisi, sikap hidup, kebiasaaan dan filsafat hidup keluarga itu besar sekali pengaruhnya dalam membentuk tingkah laku dan sikap setiap anggota keluarga. Dengan kata lain tingkah laku kriminal orang tua mudah sekali menular kepada anak-anaknya. Lebih-lebih lagi perilaku ini sangat gampang dioper oleh anak-anak puber dan adolescence yang belum stabil jiwanya, dan tengah mengalami banyak gejolak batin. 3 Selain itu Kartini Kartono (2002) juga mengungkapkan situasi dan kondisi lingkungan awal kehidupan anak, yakni kelurga (orang tua dan kerabat dekat), sangat mempengaruhi pembentukan pola delinkuen anakanak dan para remaja. Dari beberapa literatur dan hasil penelitian yang terkait dengan kenakalan remaja (dalam Santrock : 2002, Maria : 2007, Kienhuis : 2009, Joanna dalam Ruby : 2009, dan Willis : 2009) ditemukan bahwa salah satu faktor penyebab timbulnya kenakalan remaja ini adalah tidak berfungsinya orang tua sebagai figur tauladan yang baik bagi anak. Kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh remaja dibawah usia 17 tahun yang disebabkan oleh kondisi tersebut juga sangat beragam, mulai dari perbuatan yang bersifat amoral maupun anti sosial. Seperti; berkata jorok, mencuri, merusak, kabur dari rumah, indisipliner di sekolah, membolos, membawa senjata tajam, merokok, berkelahi dan kebut-kebutan di jalan, sampai pada perbuatan yang sudah menjurus pada perbuatan kriminal atau perbuatan yang melanggar hukum, seperti; pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, seks bebas, pemakaian obat-obatan terlarang, dan tindak kekerasan lainnya yang sering diberitakan dimedia-media masa. Dewasa ini kenakalan remaja semakin meningkat dan meresahkan masyarakat, tak hanya terjadi di perkotaan, pun di desa mulai dibuat resah dengan perilaku ini. Fakta menarik dari Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2009 menyebutkan bahwa 7% dari pelaku penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Bahan zat adiktif (Narkoba) dari tahun 2001 4 hingga tahun 2008 di Indonesia merupakan remaja yang berusia kurang dari sembilan belas tahun. Rata-rata kenaikan jumlah kasus penyalahgunaan narkoba tersebut kurang lebih sekitar 2% tiap tahunnya. Jumlah remaja di Indonesia kurang lebih mencapai 65 juta remaja, hal ini sangat membahayakan bagi remaja yang ada di Indonesia. (http://bnn.go.id/read/data_kasus_narkoba/4418/blog-single.html) Fakta lain menyebutkan pada tahun 2006 Perkumpulan Keluarga Berencana Nasional (PKBI), United Nation Population Fund (UNFPA), dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat bahwa 15% dari remaja berusia 10-24 tahun di Indonesia, kurang lebih 9,3 juta remaja, telah melakukan hubungan seksual pranikah. Sedangkan aborsi menduduki posisi kedua yakni sekitar 2,3 juta kasus di Indonesia. Dan yang lebih mencengangkan lagi, sekitar 20 persen dari kasus aborsi tersebut atau sekitar 460 ribu kasus dilakukan oleh remaja. Hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti terhadap lima siswa SMKN 2 Malang menunjukkan adanya perilaku kecenderungan kenakalan remaja pada umumnya, seperti pernah merokok, menonton film porno, membolos sekolah dan keluyuran hingga larut malam. Peneliti juga melakukan wawancara dengan koordinator bimbingan konseling sekolah yang mengatakan bahwa pada umumnya kenakalan yang dilakukan oleh siswa adalah membolos, tidak mengikuti peraturan yang berlaku di sekolah, berkelahi dengan sesama teman. 5 Kenakalan remaja merupakan hasil dari pola pengasuhan yang keliru, sehingga sikap anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana anak melakukan imitasi terhadap apa yang dilihatnya. Ketika anak sudah mulai mampu menerima dan mengolah rangsang dari luar, saat itulah ia mulai mengatur pola berpikir dan pola perilakunya dalam menghadapi setiap masalah yang harus segera dipecahkannya (Badingah, 1993) Menurut Kartono (2006), kenakalan remaja adalah gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu pengabaian sosial, sehingga anak remaja mengembangkan bentuk tingkah laku menyimpang. Kenakalan remaja yaitu kelainan tingkah laku, perbuatan atau tindakan remaja yang bersifat asosial bahkan antisosial yang melanggar norma-norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat (Willis, 2005). Menurut Hurlock kenakalan anak dan remaja bersumber dari moral yang sudah berbahaya atau beresiko (moral hazard). Menurutnya, kerusakan moral bersumber dari berbagai hal : 1. Keluarga yang sibuk, keluarga retak, dan keluarga single parent dimana anak hanya diasuh oleh ibu; 2. Menurunnya kewibawaan sekolah dalam mengawasi anak; 3. Peranan gereja tidak mampu manangani masalah moral (Hurlock, 1999) Proses tumbuh-kembang seseorang pada masa remaja merupakan masa yang paling penting dalam semua fase proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Selain itu, salah satu alasan mengapa masa remaja 6 menjadi masa yang penting dan menjadi salah satu pusat perhatian para pakar psikologi perkembangan, sosial maupun pendidikan adalah karena adanya masa transisi. Dimana masa transisi ini adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa remaja dan masa transisi inilah yang menjadikan emosional remaja kurang stabil (storm and stress). Pada masa transisi ini menurut Ray (2008, dalam www.yoyooh.com) memungkinkan timbulnya masa krisis yang biasanya ditandai munculnya perilaku-perilaku menyimpang atau biasa disebut dengan istilah kenakalan remaja atau Juvenile Delinquency. Hurlock (2003) beranggapan bahwa, psikologis remaja tengah berada pada masa topan dan badai serta tengah mencari jati diri, sehingga menimbulkan konflik dan ketidakstabilan emosi dalam diri remaja. Menurut Stanley (Gunarsa, 2006) masa remaja juga merupakan masa dimana remaja penuh gejolak emosi dan tidakseimbangannya emosi atau yang disebut dengan “storm and stress” sehingga pola pikir atau perilaku remaja mudah terpengaruh lingkungan tempat tinggalnya. Remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (High Curiosity), oleh karena didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi itulah remaja cenderung ingin mencoba segala sesuatu, bertualang, dan menjelajah segala sesuatu yang belum pernah dialaminya, sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya kenakalan remaja (Kartono, 2006) 7 Menurut Hurlock (2003) dalam setiap masa perkembangan dan pertumbuhan anak peranan orang tua sangatlah penting. Tidak hanya sejak lahir sampai dewasa, tapi juga mulai dari prenatal (hamil) sampai pasca atau sampai dewasa. Apalagi di zaman yang sudah semakin berkembang dan maju ini, dengan berkembangnya berbagai macam teknologi, baik elektronik maupun transportasi, perkembangan anak juga dihadapkan dengan berbagai masalah, seperti moralitas yang semakin menurun dan perilaku di luar yang semakin bebas. Sehingga orang tua menjadi titik sentral dalam proses tumbuh kembang anak, baik secara intelegensi, sosial, psikis, moralitas, maupun perilaku mereka. Hasil observasi terhadap 5 siswa dan siswi kelas X dan XI dan wawancara kepada guru bimbingan konseling yang peneliti lakukan juga menunjukkan ada kecenderungan Siswa-siswi kelas X dan XI SMKN 2 Malang melakukan kenakalan seperti membolos, merokok atau bahkan berbohong pada orang tua untuk membeli keperluan sekolah. Dengan melihat kondisi ini kemudian peneliti mencoba meneliti kembali tentang kenakalan remaja yang mendapat pengaruh dari pola asuh orang tua. Berdasarkan pemaparan latar belakang dan hasil wawancara yang dilakukan, peneliti ingin meneliti tentang Pengaruh Pola Asuh Orang tua Dengan Kenakalan Remaja Pada Siswa Kelas X dan XI SMKN 2 Malang. Menurut guru konseling yang diwawancarai peneliti, kelas X dan XI yang akan peneliti teliti terindikasi banyak melakukan kenakalan remaja, hal ini terbukti dari hasil observasi yang telah peneliti lakukan. 8 B. Rumusan Masalah Berdasarkan dari latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana tingkat pola asuh orang tua pada siswa Kelas X dan XI SMKN 2 Malang? 2. Bagaimana tingkat kenakalan remaja pada siswa Kelas X dan XI SMKN 2 Malang? 3. Adakah pengaruh pola asuh orang tua terhadap tingkat kenakalan remaja pada siswa Kelas X dan XI SMKN 2 Malang? C. Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah diatas maka didapat tujuan penelitian sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui kecenderungan pola asuh yang digunakan orang tua pada siswa Kelas X dan XI SMKN 2 Malang. 2. Untuk mengetahui bagaimana tingkat kenakalan remaja pada siswa Kelas X dan XI SMKN 2 Malang. 3. Untuk mengetahui adakah pengaruh pola asuh orang tua terhadap tingkat kenakalan remaja pada siswa Kelas X dan XI SMKN 2 Malang. 9 D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi perkembangan ilmu psikologi. Khususnya psikologi pendidikan dan psikologi sosial terutama yang berhubungan dengan kenakalan remaja dan pola asuh orang tua. 2. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan orang tua, pendidik dan remaja khususnya mengenai faktor-faktor yang dapat menimbulkan kenakalan remaja. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tindakan pencegahan terhadap kenakalan remaja dengan meminimalisir hal-hal yang memungkinkan dapat menimbulkan terjadinya kenaklan remaja.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Pengaruh pola asuh orang tua terhadap kenakalan remaja siswa kelas X Dan XI SMKN 2 Malang." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment