Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Tuesday, June 13, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi: Hubungan antara locus of control dengan perilaku prososial pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Abstract

INDONESIA:
Manusia merupakan makhluk yang diciptakan untuk saling tolong-menolong antara sesamanya. Dalam kehidupannya manusia cenderung mempunyai sifat tolong- menolong tergantung bagaimana keluarga dan lingkungan membentuk sifat tersebut. Sebagaimana mahasiswa dalam kegiatannya sehari-hari di kampus dan lingkungan sekitarnya tentu perilaku saling membantu akan terjadi, salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku prososial adalah locus of control, di mana terdapat dua orientasi yaitu orientasi locus of control internal dan orientasi locus of control eksternal. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat locus of control pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, untuk mengetahui tingkat perilaku prososial pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dan untuk mengetahui hubungan antara locus of control dengan perilaku prososial pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Locus of control merupakan keyakinan seseorang mengenai sumber penentu perilakunya, yang mempunyai dua orientasi yaitu locus of control internal dan locus of control eksternal, sedangkan perilaku prososial merupakan tindakan menolong yang dilakukan untuk orang lain.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional dengan menggunakan teknik korelasi analisis regresi ganda (multiple regression analysis) untuk menguji hubungan antara locus of control internal dan eksternal dengan perilaku prososial. Sebelumnya untuk mengkategorisasikan locus of control dilakukan dengan melihat skor z-nya, sedangkan kategorisasi perilaku prososial menggunakan mean dan SD. Adapun teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan sampling purposive. Subjeknya merupakan mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana malik Ibrahim Malang angkatan 2008-2010 dengan mengambil 15% dari 524 populasi yang ada sehingga diperoleh jumlah 77 mahasiswa.
Hasil penelitian menunjukkan orientasi locus of control pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang terdapat 13 orang 17% pada orientasi locus of control internal dan 12 orang 16% pada orientasi locus of control eksternal, sedangkan 52 lainnya tidak dapat diklasifikasikan. Sedangkan perilaku prososial mahasiswa pada kategori tinggi 39 orang 50,65% , kategori sedang 37 orang 48,05% dan pada kategori rendah 1 orang 1,3%. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara locus of control dengan perilaku prososial yaitu rx1 = .633 sig = .000 dan rx2 = .861 sig = .000. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara kedua orientasi locus of control yaitu internal dan eksternal dengan perilaku prososial pada mahasiswa fakultas psikologi UIN Maliki Malang.
ENGLISH:
Human beings are created for each other mutual assistance among themselves. In human life tend to have the nature of mutual assistance and the environment depends on how the family form of the trait. As a student in his daily activities on campus and the surrounding environment of mutual helping behavior will occur, one of the factors that influence prosocial behavior is the locus of control, where there are two orientations, namely internal locus of control orientation and external locus of control orientation. The purpose of this study was to determine the level of locus of control on the psychology faculty students of the State Islamic University of Malang Maulana Malik Ibrahim, to determine the level of prosocial behavior in school psychology students of the State Islamic University of Malang Maulana Malik Ibrahim, and to determine the relationship between locus of control with the behavior psychology faculty on student prosocial State Islamic University Malang Maulana Malik Ibrahim.
Locus of control is a determinant of one's beliefs about the source of his behavior, which has two orientations, namely locus of control internal and external locus of control, whereas prosocial behavior was an act done to help others.
This research is correlational quantitative correlation by using multiple regression analysis techniques (multiple regression analysis) to examine the relationship between locus of control internal and external to prosocial behavior. Previous to categorize locus of control carried out by looking at its z score, while the categorization of prosocial behavior using the mean and SD. Sampling techniques using purposive sampling. The subject is a student of the psychology department of the State Islamic University of Malang Maulana Malik Ibrahim Force 2008-2010 by taking 15% of the 524 existing populations in order to obtain the number of 77 students.
The results indicate the orientation of locus of control on the psychology faculty students of the State Islamic University of Malang Maulana Malik Ibrahim, there were 13 people 17% on internal locus of control orientation and 12 were 16% in external locus of control orientation, while the other 52 could not be classified. While the prosocial behavior of students in the high category 39 of 50.65%, the category was 48.05%, and 37 people on a low category of 1.3%. The analysis showed a significant relationship exists between locus of control with prosocial behavior that is rx1 = .633 sig = .000 and rx2 =.861 sig = .000. of these results we can conclude that there is a relationship between locus of control orientation of the internal and external to prosocial behavior in school psychology student UIN Malang Maliki

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
 Pandangan bahwa manusia sebagai individu merupakan satu kesatuan dari aspek fisik atau jasmani dan psikis atau rohani atau jiwa yang tidak dapat dipisahkan, sesungguhnya sudah berkembang pada pemikiran para filsuf klasik sejak masih zaman Yunani kuno. Para filsuf klasik berpandangan bahwa bagian fisik atau jasmani merupakan aspek individu yang bersifat kasat mata, konkret, dapat diamati, dan tidak kekal, sedangkan aspek psikis, rohani atau jiwa merupakan aspek individu yang sifatnya abstrak, immaterial, tidak dapat diamati, dan kekal. Karena manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara aspek jasmani dan rohani maka perkembangan berbagai aspek dalam diri individu itu akan tampak gejala-gejalanya sebagai gambaran perkembangan tersebut (Ali & Asrori, 2006:1). Manusia adalah makhluk yang mempunyai kesadaran akan dirinya sendiri. Oleh karena itu, manusia adalah makhluk yang ingin mengenal dirinya dan selalu merefleksikan dirinya, disadari ataupun tidak disadari (Ahyadi, 2005:111). Dalam Al-Qur’an terdapat uraian tentang manusia sebagai makhluk biologik, psikologik, dan rohaniah, antara lain terdapat dalam surat al-Mu’minuun [23] ayat 12-16, yang berbunyi: Artinya: “Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.”(Departemen Agama RI, 2005:342). Salah satu sifat yang dimiliki manusia adalah locus of control atau disebut dengan letak kendali dikembangkan oleh Rotter dari teori pembelajaran sosial yang mendudukkan penguatan (reinforcement) pada suatu posisi inti. Diyakini, sejarah belajar seorang individu dapat menggiringnya ke pengharapan yang terampatkan (generalized) tentang penguat. Orang dapat memandang suatu imbalan (reward, positif maupun negatif) sebagai hal yang tergantung pada perilakunya sendiri atau tergantung pada kekuatan-kekuatan di luar kendalinya (Berry dkk, 1999:142). Hasil penelitian membuktikan bahwa orientasi pusat kendali yang internal ternyata lebih banyak menimbulkan akibat-akibat positif. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Lao menyatakan bahwa status sosial ekonomi, kepercayaan diri, aspirasi, serta harapan pada mereka yang internal ternyata lebih tinggi. Menurut Pervin orang-orang internal lebih aktif mencari informasi dan menggunakannya untuk mengontrol lingkungan. demikian pula orang dengan locus of control internal lebih suka menentang pengaruh-pengaruh dari luar, sedangkan orang-orang dengan locus of control eksternal lebih bersikap conform 3 terhadap pengaruh-pengaruh tersebut. Solomon dan Oberlander mengatakan bahwa orang-orang dengan locus of control internal bertanggungjawab terhadap kegagalannya, sedangkan orang-orang yang berorientasi pada locus of control eksternal memiliki anggapan bahwa kegagalannya berasal dari faktor lain di luar dirinya sendiri (dalam Ghufron & Risnawita S, 2011:67-68). Duke dan Lancaster dalam penelitiannya menunjukkan bahwa sering tidaknya orang tua berada di rumah ikut pula memengaruhi terbentuknya pusat kendali. Anak-anak yang orang tuanya sering tidak berada di rumah lebih eksternal pusat kendalinya bila dibandingkan dengan yang orang tuanya sering berada di rumah (dalam Ghufron & Risnawita S, 2011:71). Sedangkan salah satu faktor disposisional yang menyusun kepribadian altruistik yaitu locus of control internal yang merupakan kepercayaan individual bahwa dia dapat memilih untuk bertingkah laku dalam cara yang memaksimalkan hasil akhir yang baik dan meminimalkan yang buruk. Mereka yang menolong mempunyai locus of control internal yang tinggi. Mereka yang tidak menolong, sebaliknya cenderung memiliki locus of control eksternal dan percaya bahwa apa yang mereka lakukan tidak relevan, karena apa yang terjadi diatur oleh keuntungan, takdir, orang-orang yang berkuasa, dan faktor-faktor tidak terkontrol lainnya (Baron & Byrne, 2003:106-107). Bierhoff, Klein, dan Kramp telah mengemukakan faktor-faktor dalam diri yang menyusun kepribadian altruistik, yaitu adanya empati, kepercayaan terhadap dunia yang adil, rasa tanggung jawab sosial, memiliki internal locus of control dan egosentrisme yang rendah (dikutip oleh Sarwono & Meinarno, 2009:135). 4 Gejala-gejala yang biasanya tampak sebagai gambaran berkembangnya berbagai aspek dalam diri individu yaitu (a) aspek jasmani atau rohani, (b) aspek intelek, (c) aspek emosi, (d) aspek sosial, (e) aspek bahasa, (f) aspek bakat khusus, dan (g) aspek nilai, moral, dan sikap (Ali & Asrori, 2006:4). Dari aspek sosial dapat timbul beberapa perilaku seperti berkembangnya sifat toleran, empati, memahami, dan menerima pendapat orang lain, semakin santun dalam menyampaikan pendapat dan kritik kepada orang lain, adanya keinginan untuk bergaul dengan orang lain dan bekerja sama dengan orang lain, suka menolong kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan, kesediaan menerima sesuatu yang dibutuhkan dari orang lain, bersikap hormat, sopan, ramah, dan menghargai orang lain (Ali & Asrori, 2006:3). Perilaku prososial tidak lepas dari kehidupan manusia dalam interaksinya di masyarakat. Interkasi manusia ini tidak lepas dari perbuatan tolong-menolong, karena dalam kenyataan kehidupannya meskipun manusia dikatakan mandiri, pada saat tertentu masih membutuhkan pertolongan orang lain (Mahmudah, 2010:85). Perilaku prososial merupakan segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa mempedulikan motif-motif si penolong. Namun, ada beberapa jenis perilaku prososial yang tidak merupakan tindakan altruistik, misalnya jika Anda memberikan sumbangan yang besar pada malam amal yang diadakan oleh atasan Anda dengan harapan akan menimbulkan kesan yang menyenangkan dan mendapatkan gaji kenaikan gaji, Anda tidak melakukan tindakan altruistik yang sesungguhnya (Sears dkk, 1985:47). 5 Menurut Caprara dkk. beberapa individu lebih cenderung untuk menolong daripada yang lain. Terdapat juga konsistensi sepanjang masa, anak-anak yang prososial pada masa kanak-kanak awal (terlibat dalam tingkah laku bekerjasama, menolong, berbagi, dan menghibur) menjadi remaja yang cenderung disukai oleh teman-teman dan berprestasi secara akademik (dalam Baron & Byrne, 2003:110- 111). Beberapa penelitian telah menemukan bahwa budaya kolektif pada umumnya memiliki nilai-nilai altruisme yang lebih tinggi daripada budaya individualistik. Penemuan ini tidak berarti bahwa individu-individu dalam budaya kolektif akan selalu lebih menunjukkan perilaku menolong/membantu daripada orang-orang dari budaya individualistik. Yang jelas, orang-orang dari budaya kolektif membuat perbedaan yang jelas antara anggota-anggota in-group, atau potensial in-group dan anggota-anggota out-group. Mereka lebih mungkin memberikan pertolongan/bantuan kepada anggota in-group tetapi kurang memberikan bantuan kepada anggota out-group. Triandis memberikan contoh, orang Yunani biasanya lebih bersedia memberikan bantuan/pertolongan kepada orang-orang asing yang secara potensial dianggap sebagai in-groupnya daripada orang Yunani sendiri yang dengan jelas bukan aggota dari kelompoknya sendiri atau in-groupnya (Dayakisni & Yuniardi, 2008:123). Pengalaman sehari-hari memberikan banyak contoh perilaku prososial. Dalam sebuah studi McGuire meminta mahasiswa mendeskripsikan contoh di mana mereka memberikan dan menerima bantuan. Mereka ini tidak kesulitan menyebutkan 72 jenis perilaku menolong yang berbeda, termasuk pertolongan 6 biasa (memberi petunjuk arah, mengambilkan Koran yang jatuh), pertolongan substansial (memberi pinjaman uang, membantu orang lain untuk berkemas), pertolongan emosional (mendengarkan orang mengutarakan problemnya) dan pertolongan darurat (membawa seseorang ke UGD, mendorong mobil yang mogok) (Taylor, 2009:457). Ketika menolong, seseorang mungkin tidak menyadari apa keuntungan bagi dirinya. Tindakannya ketika menolong dikarenakan ia merasa harus memberikan bantuannya kepada orang lain. kegiatan menolong seperti keharusan membantu teman yang sedang sakit, membantu menunjukkan jalan kepada orang baru, dan membantu tetangga yang sedang pindah rumah, semuanya dipersepsikan sebagai sesuatu yang diharuskan oleh norma-norma masyarakat (Sarwono & Meinarno, 2009:130). Perilaku prososial menekankan makna penting proses belajar. Dalam masa perkembangan, anak mempelajari norma masyarakat, orang dewasa mengajarkan pada anak bahwa mereka harus menolong orang lain. Orang belajar menolong melalui penguatan, atau peneguhan, efek ganjaran dan hukuman terhadap tindakan menolong, dan peniruan, meniru orang lain yang memberikan pertolongan. Sudah banyak penelitian dan eksperimen yang dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik seperti yang telah disebutkan, memang terbukti teknik tersebut dapat membentuk perilaku prososial. Perilaku prososial sejak masa kanak-kanak sangat tergantung pada ganjaran eksternal dan persetujuan sosial. bagi orang dewasa menolong dapat menjadi nilai yang diinternalisasi, tidak tergantung pada dukungan eksternal (Sears, dkk., 1985:53-56). 7 Perilaku prososial dipengaruhi oleh tipe relasi antar-orang. Entah itu karena suka, merasa berkewajiban, memiliki pamrih, atau empati, kita biasanya lebih sering membantu orang yang kita kenal ketimbang orang yang tidak kita kenal. Meski demikian, memberi pertolongan kepada orang asing bukanlah hal yang jarang terjadi (Taylor, 2009:457). Empati merupakan respons yang kompleks, meliputi komponen afektif dan kognitif. Dengan komponen afektif, berarti seseorang dapat merasakan apa yang orang lain rasakan dan dengan komponen kognitif seseorang mampu memahami apa yang orang lain rasakan beserta alasannya. Daniel Batson menjelaskan adanya hubungan antara empati dengan tingkah laku menolong serta menjelaskan bahwa empati adalah sumber dari motivasi altruistik (dalam Sarwono & Meinarno, 2009:128). Menolong sebagai tingkah laku yang ditujukan untuk membantu orang lain, dalam beberapa kasus bisa saja tidak dapat mencapai tujuannya. Hal ini dapat disebabkan karena penolong tidak mengetahui kesulitan korban yang sesungguhnya atau karena penolong tidak mempunyai keterampilan yang dibutuhkan untuk menolong korban sehingga dapat berakibat fatal, baik bagi penolong maupun yang ditolong. Misalnya, kasus tenggelamnya 5 orang mahasiswa UI di pantai Anyer pada tanggal 13 Juli 2003. Awalnya hanya satu orang yang hanyut dan beberapa orang temannya mencoba untuk menolong. Derasnya arus laut membuat teman-temannya yang menolong akhirnya ikut hanyut (Sarwono & Meinarno, 2009:123). 8 Dalam mekanisme kehidupan bersama tetap diperlukan adanya perilaku prososial. Pertolongan ini berperan menyeimbangkan kehidupan bersama. Orangorang yang memiliki kelebihan membagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dalam situasi seimbang, kehidupan bersama yang saling menopang akan berjalan terus. Sebaliknya, bila dalam situasi memerlukan pertolongan, orang-orang yang lebih mampu ternyata acuh tak acuh, maka akan muncul ketidakseimbangan. Dalam situasi di mana si kaya tetap menggunakan kelebihannya bagi dirinya sendiri dan tidak membaginya dengan yang tidak mampu, maka mulai muncul kecemburuan sosial. bila kecemburuan ini bersifat kumulatif, maka ia tinggal menunggu saatnya untuk diledakkan. Bila suatu saat terdapat pemicu, suatu kejadian yang di dalamnya ada clash kepentingan, maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi konflik antarkelompok (Nashori, 2008:39-40). Untuk mengetahui motivasi yang mendasari tingkah laku menolong, apakah selfless atau selfish, sampai batas tertentu adalah sulit. Sebagian karena manusia tidak selalu tepat dalam menyimpulkan penyebab tingkah laku seseorang dan sebagian lagi karena manusia cenderung menampilkan diri mereka dengan cara-cara yang dapat diterima secara sosial (dalam Sarwono & Meinarno, 2009:125). Pada kalangan mahasiswa, perilaku prososial tentu tidak dapat dipisahkan dalam kehidupannya sehari-hari. Hal ini karena setiap harinya mereka bertemu dengan banyak orang yang besar kemungkinan terjadinya tindakan prososial antara yang satu dengan yang lain. Pada hakekatnya di dunia ini tidak ada 9 manusia yang mampu bertahan hidup sendiri tanpa bantuan dari makhluk di sekitarnya. Tidak terkecuali pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dari hasil observasi ketika mereka menjalankan kewajiban sebagai seorang mahasiwa hampir setiap hari bertemu di kelas, sebagai contoh waktu kegiatan belajar mengajar dimulai tentu di sana terjadi interaksi dan kadangkala ada kegiatan belajar yang mengharuskan mereka membentuk kelompok untuk mengerjakan suatu tugas mata kuliah. Dari kegiatan tersebut dapat diamati perilaku para mahasiswa yang satu dengan yang lain. Ada yang tidak peduli dengan pelajaran yang diikuti, otomatis dalam kelompok tersebut tidak semua mahasiswa ikut mengerjakan tugas yang diberikan, dari kegiatan ini tentu terjadi ketidakseimbangan sosial, karena dalam satu kelompok tersebut akan memperoleh nilai yang sama meskipun tidak semua ikut mengerjakan kewajiban, malah yang lebih mengherankan lagi malah yang tidak terlibat secara aktif mendapatkan nilai yang lebih bagus dari yang serius mengerjakan. Sehingga suatu saat dapat menjadi pemicu suatu kejadian yang di dalamnya ada clash kepentingan, maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi konflik antarkelompok. Dengan menyerahkan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya kepada orang lain, individu tersebut tidak memberi kesempatan kepada dirinya akan kemampuan yang dimiliki. Meskipun begitu tidak sedikit mahasiswa yang mampu bekerjasama dengan baik, mereka mampu mengeluarkan kemampuan dirinya untuk melakukan sesuatu untuk dirinya dan orang lain. Jadi mereka tidak hanya mementingkan 10 dirinya tetapi juga untuk orang di sekitarnya. Misalnya ketika mendapatkan tugas kelompok yang dikerjakan di kelas, mereka akan membagi masing-masing anggota kelompoknya materi yang dibutuhkan agar semua mendapatkan bagian untuk mengerjakan. Hal ini bisa disebabkan karena faktor-faktor yang mempengaruhinya sejak kecil, seperti pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya di rumah, dan faktor sosial lain di lingkungan pergaulan. Selain dalam kegiatan belajar ketika di luar jam pelajaran juga didapati mahasiswa yang mau berbagi dengan temannya ketika temannya ingin curhat dengannya tentang masalah yang dihadapi baik itu dengan pacar, keluarga atau dengan sesama mahasiswa. Begitu juga ketika di sela-sela pelajaran, ketika ada beberapa mahasiswa yang meminta bantuan untuk memberikan santunan untuk korban bencan atau yang lain, sebagian besar ada yang memberikan sumbangan namun sebagian yang lainnya cuek saja. Dengan adanya fenomena di atas, peneliti ingin meneliti tentang “Hubungan antara Locus of Control dengan Perilaku Prososial pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang”. B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana tingkat locus of control mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang? 2. Bagaimana tingkat perilaku prososial mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang? 11 3. Adakah hubungan antara locus of control dengan perilaku prososial pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Untuk mengetahui tingkat locus of control mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 2. Untuk mengetahui tingkat perilaku prososial mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 3. Untuk mengetahui hubungan antara locus of control dengan perilaku prososial pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan manfaat terhadap disiplin ilmu psikologi terutama tentang pembahasan locus of control dan perilaku prososial. 12 2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti Selanjutnya Dari hasil penelitian ini diharapkan menjadi motivasi tersendiri bagi peneliti untuk lebih mengembangkan keilmuannya di bidang psikologi khususnya dalam pokok bahasan locus of control dan perilaku prososial. b. Bagi Mahasiswa Harapan peneliti adalah bahwa penelitian ini dapat dijadikan pengetahuan baru bagi para pembaca umum bukan hanya bagi mahasiswa dalam bidang psikologi khususnya pemahaman mengenai locus of control dengan perilaku prososial.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Hubungan antara locus of control dengan perilaku prososial pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment