Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Wednesday, June 14, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi: Hubungan konsep diri siswa akselerasi dengan interaksi sosial antar siswa di Madrasah Aliyah Negeri Malang I

Abstract

INDONESIA:
Remaja kerap menghadapi sejumlah persoalan saat berinteraksi dengan orang lain, khususnya siswa akselerasi yang kurang memiliki sikap toleran terhadap lingkungan. Problem yang paling menonjol pada siswa akselerasi, pada umumnya egois, individual, dan merasa lebih pintar dibanding siswa-siswi yang lainnya. semua ini dapat dipengaruhi oleh konsep diri yang dimiliki oleh setiap siswa. Pernyataan tersebut sesuai dengan pandangan Burns (1993 : ) yang menyatakan bahwa hubungan konsep diri dengan interaksi sosial pada siswa akselerasi merupakan suatu pandangan, penilaian dan keyakinan individu dalam bertingkah laku ditengah masyarakat khususnya dalam kehidupan sosialnya.
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui konsep diri siswa-siswi akselerasi di Madrasah Aliyah Negeri Malang 1. (2) Mengetahui interaksi sosial siswa-siswi akselerasi Madrasah Aliyah Negeri Malang 1. (3) Mengetahui ada tidaknya hubungan antara konsep diri siswa-siswi akselerasi dengan intreraksi sosial antar siswa di Madrasah Aliyah Negeri Malang 1.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu korelasi non intervensi dan jenis datanya termasuk penelitian kuantitatif. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel populatif dimana jumlah populasi dan sampel sama besarnya yaitu semua siswa-siswi kelas akselerasi MAN Malang 1 dengan jumlah 41 siswa yang terbagi dari kelas 11 dan kelas 12. Untuk perhitungan reliabilitas digunakan teknik Alfa Cronbach. Sedangkan untuk uji analisis statistic korelasional digunakan Product Moment Pearson.
Dengan mengunakan rumus korelasi Product Moment dari Person, didapatkan hasil rhitung > rtabel (0,635 > 0,308) yang berarti hipotesis dalam penelitian ini terbukti bahwa terdapat hubungan yang positif antara konsep diri siswa akselerasi dengan interaksi sosial antar siswa MAN Malang 1. Yang berarti semakin baik konsep diri siswa akselerasi maka semakin baik pula interaksi sosialnya. Dan sebaliknya, semakin rendah konsep diri siswa akselerasi, semakin rendah pula interaksi sosialnya.
ENGLISH:
Teens often face a number of problems when interacting with others, especially acceleration students who have less tolerant of environment. The most prominent problems on the acceleration students, in general, are, individualized, and arrogant (think more intelligent than other students). Those problems can be influenced by self-concept of every student. This statement is in accordance with the views of Burns (1993) states that the relations between self-concept and social interaction on student acceleration are a view, judgment, and individuals confidence to behave in the society especially in their social life.
The purposes of this study are (1) Knowing the self-concept of accelerated students in Madrasah Aliyah Negeri Malang 1. (2) Knowing the social interaction of accelerated students in Madrasah Aliyah Negeri Malang 1. (3) Knowing the relationship between self-concept of accelerated students and social interaction among students at Madrasah Aliyah Negeri Malang 1.
Research design which is used in this study is the correlation of non- intervention and the types of data including quantitative research. Technique of sampling in this study uses populated samples where the total population and the sample are same that all the students of acceleration class MAN Malang 1 with 41 students, divided into 11th grade and 12th grade. For the reliability calculation uses technique of Alpha Cronbach, whereas for attesting statistical analysis correlation uses Product Moment Pearson.

By using the formula of Product Moment Person Correlation showed rhitung > rtabel (0.635> 0.308) which means that the hypothesis in this study is proved. There is a positive relationship between self-concept of accelerated students and social interaction among students MAN Malang 1. It means that if self concept of accelerated students is more and better, so their social interaction is also better, and conversely.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan sosial, para siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang pada umumnya tahap perkembangannya berada dalam kategori remaja pertengahan 15-18 tahun (Monks, dkk., dalam Desmita, 2008 : 190) kerap menghadapi sejumlah persoalan saat berinteraksi dengan orang lain. Misalnya, ketika berhubungan dengan teman sebaya, mereka tidak jarang mengalami konflik dan persaingan yang tidak sehat. Menurut Budi Siswanto, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Merdeka (Unmer) Malang, siswa-siswi akselerasi pada umumnya kurang memiliki sikap toleran terhadap lingkungan. Itu sesuai dengan karakter mereka yang masuk dalam kategori anak cerdas istimewa (CI). Lebih lanjut, dia menuturkan, bahwa problem interaksi sosial yang paling menonjol pada siswa kategori CI, pada umumnya memiliki tingkat IQ lebih tinggi dari kebanyakan siswa, adalah konsep diri yang lebih mengedepankan rasa keakuanya (egosentris), sehingga ada perasaan lebih pintar dibandingkan siswa-siswi yang lain (http://indonesianic.wordpress. Com/2008/06/19/). Menurut Iswinarti (2002) sebagian anak dengan IQ tinggi akan mengalami kesulitan dalam interaksi sosial, karena anak dengan IQ tinggi mempunyai pemahaman yang lebih cepat dan cara berpikir yang lebih maju dibanding dengan anak-anak biasa, sehingga sering tidak sepadan dengan teman-temannya. Kondisi tersebut semakin tidak di untungkan dengan adanya 2 labelling dari lingkungan masyarakat di sekitar sekolah terhadap siswa akselerasi. Mead (dalam Burns, 1993 : 3) juga menjelaskan pandangan, penilaian, perasaan dan keyakinan individu mengenai dirinya yang timbul sebagai hasil dari suatu interaksi sosial sebagai konsep diri. Konsep diri mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perilaku individu, yaitu ia akan bertingkah laku sesuai dengan konsep dirinya (Rahmat, 1996). Label yang diberikan pada siswa akselerasi sebagai anak pintar dapat dipersepsi negatif atau positif oleh individu yang bersangkutan. Label yang dipersepsi negatif dapat membuat individu menjadi terbebani. Hal tersebut cenderung akan membawa efek negatif pula terhadap perkembangan sisi psikologisnya. Individu akan merasa gagal dan terbuang ketika tidak dapat memenuhi tuntutan lingkungan, serta menjadi tidak percaya diri, merasa tidak berharga, dan rendah diri. Individu dengan persepsi diri yang negatif akan cangung ketika harus berpartisipasi dalam suatu aktivitas sosial serta memulai hubungan baru dengan orang lain (Hurlock, 1999). Biasanya persepsi negatif itu juga akan memicu munculnya sikap agresif dan perilaku negatif, sehigga individu menjadi tertutup dan kurang tertarik untuk menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Kondisi ini diperburuk juga dengan adanya fenomena di masyarakat yang menunjukkan bahwa aspek kognitif lebih dihargai daripada aspek sosial emosional. Hal tersebut dapat menimbulkan perasaan tertolak yang memicu munculnya persepsi diri negatif pada siswa akselerasi sehingga berpengaruh buruk terhadap kehidupan sosialnya (Hurlock, 1999). 3 Label yang dipersepsi positif oleh siswa membuat individu menjadi pribadi yang merasa berharga, percaya diri, menerima keadaan dirinya, serta dapat melakukan interaksi sosial secara tepat. Persepsi positif ini akan mendorong siswa cenderung tampil lebih aktif dan terbuka dalam melakukan hubungan sosial dengan orang lain. Relasi sosial yang luas akan menjadikan individu mampu mengerti dan melakukan apa yang diharapkan oleh lingkungan, sehingga memudahkannya untuk adaptasi dengan keadaan lingkungan (Hurlock, 1999). Dengan demikian pendirian kelas akselerasi yang pada awalnya dianggap sebagai solusi terbaik untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa dengan IQ tinggi, malah menjadi beban bagi siswa akselerasi dengan adanya pelabelan dari masyarakat tentang diri siswa CI, pendapat Terman (dalam Hawadi, 2004 : 27) yang menyatakan bahwa siswa dengan IQ tinggi atau superior dalam kesehatan, dan melakukan interaksi sosial dengan baik, dapat disimpulkan bahwa siswa dengan IQ tinggi adalah anak yang berbahagia dan mudah berinteraksi sosial dengan orang lain, namun sebagian kenyataan dilapangan menunjukkan bahwasannya kelas akselerasi membawa dampak negatif terhadap kehidupan sosial siswa. Siswa kurang bisa memiliki kesempatan untuk bergaul dan berinteraksi dengan teman sebayanya karena siswa akselerasi dituntut untuk berhadapan dengan materi pelajaran, bahkan untuk jam-jam ekstrakulikuler di isi dengan materi pelajaran. Dengan adanya masalah siswa akselerasi yang kurang bisa berinteraksi, maka Istiqomah (2012 : 1) menjelaskan bahwa konflik interaksi sosial yang 4 kurang baik dari siswa akselerasi dengan siswa-siswi lainnya, khususnya di sekolah, sering terjadi pada saat jam istirahat, class meeting, dan event-event tertentu kegiatan siswa. Sedangkan interaksi sosial siswa akselerasi dengan teman sekelasnya pada umumnya megambil bentuk kerjasama (cooperation), meskipun masih terdapat beberapa dari mereka yang kurang mampu berinteraksi dengan teman sekelasnya Tidak sedikit ahli yang berpendapat bahwa kelas akselerasi justru membuat siswa tidak bisa mengembangkan kemampuan sosial mereka. Misalnya, menurut Hawadi (2004) dalam pandangan masyarakat luas, siswasiswi berbakat itu tidak berbeda dengan peserta didik pada umumnya yang membutuhkan lingkungan pergaulan yang sepadan dengan emosi mereka. Siswa-siswi akselerasi pada dasarnya juga membutuhkan penghargaan, perwujudan diri, dan pendidikan nilai kemanusiaan. Ini sejalan dengan pendapat Gibson (1980) yang menjelaskan kelemahan utama program akselerasi adalah menyangkut interaksi sosial siswa. Brody dan Benbow (1987) juga berpendapat sama, bahwa dampak negatif program akselerasi adalah pada perkembangan sosial dan emosional siswa. Jadi sebaiknya untuk para guru dan khususnya guru BP dan guru kelas akselerasi perlu melakukan pemantauan terhadap perkembangan perilaku dan kinerja akademik siswa akselerasi khususnya pada siswa yang baru masuk kelas akselerasi apakah mereka maupun melakukan interaksi sosial antar teman sebayanya, dengan padatnya aktivitas belajar yang ada di sekolah. Kalau dalam pemantauan ditemukan indikasi perilaku dan kinerja akademik 5 siswa tidak bagus, maka perlu dilakukan identifikasi terhadap masalah yang dihadapi siswa, dan dari masalah tersebut hendaknya diberi bimbingan untuk pemecahan masalah yang dihadapai oleh siswa. Pendapat tersebut di perkuat dengan penjelasan Alsa (2007 : 14) yang menyebutkan bahwa Anak cerdas istimewa (CI) memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak normal seusianya. Dengan karakteristiknya tersebut lingkungan menafsirkan bahwa anak cerdas istimewa (CI) seringkali sikap dan perilakunya “kurang sosial” dan tidak normatif. Ormrod (2003) mengatakan bahwa kemungkinan anak dengan kecerdasan istimewa mengalami kesulitan dalam pergaulannya dengan teman sebaya karena ia begitu berbeda dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Perbedaan tersebut meliputi tingkat kematangan intelektual yang tinggi, kreatifitas dan bakat-bakat yang menonjol dari anak yang cerdas istimewa (CI). Dengan adanya perbedaan intelectual yang tinggi, kreatifitas dan bakatbakat yang menonjol menjadikan anak CI, di label kurang mampu untuk berinteraksi dengan siswa yang lain. Mereka cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, semua itu di pengaruhi oleh konsep diri yang di miliki oleh setiap individu. Kemampuan siswa dalam berinteraksi berbeda-bada, antara siswa akselerasi dengan siswa yang lainnya, semua itu dipengaruhi oleh konsep diri yang di sebabkan oleh faktor budaya dari masing-masing siswa, latar belakang budaya akan mempengaruhi pembentukan sikap, nilai, dan norma seseorang 6 (Ary, dkk., 2012 : 3). Individu yang hidup dalam lingkup lingkungannya dan akan diterapkan dalam kehidupannya. Dari hasil observasi peneliti di MAN Malang 1 menggambarkan bahwa waktu mereka banyak tersita untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, termasuk juga waktu istirahat yang seharusnya dapat digunakan untuk bertemu dan berinteraksi dengan teman-teman yang lain dipakai untuk mengerjakan tugas didalam kelas. Sehingga siswa akselerasi terkesan sombong, individual, dan tidak mau membaur dengan siswa yang lain. “Syela salah satu siswa akselerasi MAN Malang 1 menyatakan bahwa merasa terbebani, terkekang dengan padatnya pelajaran, tidak percaya diri, dan takut tersaingi dengan siswa yang lain, sehingga menambah jam belajarnya dengan les. dan subjek juga merasa kehilangan banyak waktu untuk bermain dan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah untuk belajar dan membuat PR daripada bermain dengan teman-teman. Ketika disekolah subjek lebih banyak menghabiskan waktu dikelas daripada bermain diluar kelas. Subjek juga mengaku merasa kesulitan untuk berteman dengan teman-teman yang lain. (hasil wawancara peneliti dengan siswa akselerasi MAN Malang 1, 27 Desember 2012). Dengan demikian siswa akselerasi tidak memiliki waktu untuk berinteraksi dengan siswa yang lain, karena mereka dituntut untuk bisa belajar sendiri di luar jam pelajaran untuk mengerjakan tugas yang diberi oleh guru. Dalam masyarakat kecerdasan IQ lebih penting dibanding dengan kecerdasan sosial, orang tua yang memiliki anak cerdas IQ merasa bangga dan tidak jarang orang tua memaksa anaknya untuk masuk kelas akselerasi sehingga anak mengorbankan dirinya demi keingginan orang tua, akibatnya anak merasa tertekan dan terbebani dan akhirnya anak kurang ada waktu untuk berinteraksi dengan siswa-siswi yang lain. 7 Gambaran konsep diri yang dimiliki siswa akselerasi MAN Malang 1 yaitu, ketakutan dan kekawatiran, seperti : tidak dapat mengerjakan tugas dengan baik, tidak dapat menguasai salah satu mata pelajaran, kurang dapat mengatur waktu, dan tidak dapat mengikuti pelajaran. Dari penjelasan di atas sekolah dapat menjadi beban tersendiri bagi siswa akselerasi dalam meyakini dirinya sendiri bahwa mereka memiliki pemahaman diri yang kurang baik tentang kemampuannya. Ini dapat berdampak buruk terhadap perkembangan konsep diri khususnya pada aspek psikologis, akademik, sosial dan fisik pada siswa akselerasi. Konsep diri dan interaksi sosial merupakan suatu hubungan yang saling berkaitan. Konsep diri bergerak pada penilaian dan keyakinan individu terhadap dirinya, sedangkan interaksi sosial bergerak dibidang hubungan individu dengan individu yang lain. Konsep diri sangat berperan dalam interaksi sosial yang dilakukan oleh individu. Hal ini dapat dilihat ketika individu memenuhi kebutuhan untuk hidup di lingkungan sosial, ada yang dapat mudah untuk berinteraksi sosial, ada juga yang sulit melakukan interaksi sosial. Dari pernyataan peneliti tersebut bahwasanya basic teori yang dijadikan acuhan dalam menghubungkan konsep diri dengan interaksi sosial di sini adalah pandangan Burns (1993) yang menyatakan, bahwa hubungan konsep diri dengan interaksi sosial pada siswa akselerasi merupakan suatu pandangan, penilaian dan keyakinan terhadap dirinya (persepsi diri), yang akan 8 mempengaruhi seorang individu dalam bertingkah laku ditengah masyarakat khususnya dalam kehidupan sosialnya. Sedangkan Hurlock (1999) juga berpendapat bahwa individu yang memiliki konsep diri yang positif cenderung menimbulkan perasaan yakin terhadap kemampuan diri, percaya diri dan harga diri, sehinga akan membuat individu bersifat terbuka dan mudah dalam melakukan interaksi sosial. Sedangkan konsep diri yang negatif cenderung akan manimbulkan perasaan tidak mampu dan penolakan terhadap diri sendiri, sehingga akan menyulitkan individu dalam melakukan interaksi sosial. Dari penjelasan di atas bahwasanya hubungan konsep diri dengan interaksi sosial siswa akselerasi merupakan sebuah keyakinan dan penilaian terhadap diri sendiri yang akan mempengaruhi perilaku atau tingkah laku seorang individu dalam melakukan hubungan dengan orang lain dalam lingkungan sosialnya. Bila individu memiliki konsep diri yang positif maka individu dapat mudah melakukan interaksi dengan orang lain bila memiliki konsep diri yang negatif maka individu tersebut kurang bisa untuk berinteraksi dengan orang lain. Itu semua terbentuk dari bagaimana individu menilai, mengetahui dan keyakinan terhadap diri sendiri sehingga mempengaruhi bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain. Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dan merujuk pada teori Burns (1993), maka peneliti akan menguji “Ada Hubungan yang Positif Antara Konsep Diri dengan Interaksi Sosial pada Siswa Akselerasi MAN Malang 1”. 9 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana konsep diri siswa-siswi akselerasi Madrasah Aliyah Negeri Malang 1? 2. Bagaimana interaksi sosial siswa-siswi akselerasi di Madrasah Aliyah Negeri Malang 1? 3. Bagaimana hubungan antara konsep diri siswa-siswi akselerasi dengan interaksi sosial antar siswa di Madrasah Aliyah Negeri Malang 1? C. Tujuan Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui konsep diri siswa-siswi akselerasi di Madrasah Aliyah Negeri Malang 1 2. Mengetahui interaksi sosial siswa-siswi akselerasi Madrasah Aliyah Negeri Malang 1 3. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara konsep diri siswa-siswi akselerasi dengan interaksi sosial antar siswa di Madrasah Aliyah Negeri Malang 1 D. Manfaat Penelitian Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menguji teori dan dapat memberikan hasil yang bermanfaat, sejalan dengan tujuan penelitian di atas. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna baik secara teoritis maupun praktis. 10 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis penulis ingin menguji teori Burns (1993) yang berhubungan dengan Konsep diri dan Interaksi sosial, sehingga apakah ada atau tidak ada hubungan antara konsep diri dengan interaksi sosial. 2. Manfaat Praktis a. Peneliti Sebagai sarana belajar bagi penulis untuk menerapkan ilmu yang diperolah dalam perkuliahan untuk diterapkan dilapangan, sehingga dengan penelitian ini penulis dapat memperoleh pengalaman secara langsung mengenai hubungan konsep diri siswa akselerasi dengan interaksi sosial antar siswa. b. Sekolah / Lembaga Pendidikan Memberikan masukan bagi pengembangan BK di sekolah, khususnya bagi siswa akselerasi yang mengalami konsep diri yang negatif sehingga kurang percaya diri pada dirinya sendiri, serta memberikan alternatif bimbingan dan konseling khusunya dalam peningkatan konsep diri yang positif sehingga dapat berinteraksi sosial antar siswa dengan baik. c. Siswa Hasil dari penelitian ini diharapkan siswa akselerasi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Malang 1 mampu memiliki konsep diri positif sehingga dapat berinteraksi dengan baik.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Hubungan konsep diri siswa akselerasi dengan interaksi sosial antar siswa di Madrasah Aliyah Negeri Malang I" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini

DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment