Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Tuesday, June 13, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Konsep diri santri tanpa pengasuh: Penelitian kasus terhadap santri Di Pesantren Mahasiswa Darul Hijrah Merjosari Malang

Abstract

INDONESIA:
Pada umumnya unsur dari sebuah pesantren adalah kyai, santri, asrama, dan mushola/masjid. Namun ada yang berbeda, dimana tidak terdapat figure seorang kyai pada Pesantren Mahasiswa Darul Hijrah Merjosari Malang. Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki oleh individu tentang dirinya meliputi kondisi fisik, psikologis, sosial, dan emosional, aspirasi dan prestasi. Sedangkan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Pertama, Bagaimana Bentuk Konsep Diri Santri Tanpa Pengasuh. Kedua, Bagaimana tahap pembentukan Konsep Diri santri Tanpa Pengasuh. Ketiga, Apakah faktor yang mempengaruhi Konsep Diri santri Tanpa Pengasuh. Keempat, Bagaimana strategi pemeliharaan Konsep Diri santri Tanpa Pengasuh di Pesantren Mahasiswa Darul Hijrah Merjosari Malang.
Penelitian ini memiliki beberapa tujuan, yaitu Pertama, mendeskripsikan bentuk Konsep Diri santri Tanpa Pengasuh di Pesantren Mahasiswa Darul Hijrah Merjosari Malang. Kedua, mengetahui tahap pembentukan Konsep Diri santri Tanpa Pengasuh di Pesantren Mahasiswa Darul Hijrah Merjosari Malang. Ketiga, menganalisis faktor yang mempengaruhi Konsep Diri santri Tanpa Pengasuh di Pesantren Mahasiswa Darul Hijrah Merjosari Malang. Keempat, menemukan bentuk strategi pemeliharaan Konsep Diri santri Tanpa Pengasuh di Pesantren Mahasiswa Darul Hijrah Merjosari Malang. Untuk meneliti hal tersebut digunakan metode penelitian kualitatif deskriptif jenis studi kasus. Pengumpulan data mengunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data mengunakan metode Miles dan Huberman dengan melalui tiga tahap, yaitu data reduction dan data conclution drawing atau verivication.
Hasil penelitian didapatkan bahwa pertama, kondisi Konsep Diri kedua santri tanpa pengasuh adalah konsep diri positif. Kedua, subyek 1 dan subyek 2 memulai tahap konsep dirinya melalui konsep diri primer yang berasal dari lingkungan keluarga. Ketiga, faktor internal merupakan faktor yang mempengaruhi kedua subyek. Keempat, strategi pemeliharaan Konsep Diri santri tanpa pengasuh, yaitu (a) Subyek 1 dan subyek 2 mampu membangun hubungan baik denga lingkunga sekitar, subyek 1 dengan cara merendah dan menjaga tata krama, sementara subyek 2 dengan menyapa dan tolong-menolong. (b) Ketika subyek 1 dan subyek 2 mempunyai masalah dengan lingkungan sekitar, yang mereka lakukan adalah segerah menyelesaikanya supaya tidak menjadi beban dihati dan jadi dendam. (c) Subyek 1 dan subyek 2 memandang kekurangan atau kelemahan sebagai suatu yang wajar karena setiap orang mempunyai jalan kehidupan masing-masing. (d) Subyek 1 dan subyek 2 memiliki tujuan hidup yang jangka panjang, yakni mencari ilmu sebanyak-banyaknya, kuliah lulus tepat waktu, dapat kerja dan membahagiakan orang tua, serta berkeliling dunia kalau bisa.
ENGLISH:
In general, the elements of a boarding school is religious scholars, students, dorms, and the mosque / mosque. But there are different, there are no figure of a kiai (headmaster) at Darul Hijrah Islamic School Students Merjosari Malang. The concept is owned by an individual picture of him covering the physical, psychological, social, and emotional, statment and achievement. While the formulation of the problem in this study is the first, How to Form Santri Without Caregiver Self-concept. Secondly, how Self-concept stage of the formation of students without caregiver. Third, What factors affect Without Caregiver Self-concept students. Fourth, How to Self-concept maintenance strategies students without caregivers at Darul Hijrah Islamic School Students Merjosari Malang.
This study has several objectives, namely the First, describe the form of students without a Caregiver Self-concept in Darul Hijrah Islamic School Students Merjosari Malang. Second, knowing the stage of formation of Caregiver Self-concept in students without Student Darul Hijrah Islamic School Merjosari Malang. Third, analyze the factors that affect Without Caregiver Self-concept students at Darul Hijrah Islamic School Students Merjosari Malang. Fourth, find the form of maintenance strategies Caregiver Self-concept in students without Darul Hijrah Islamic School Students Merjosari Malang. To research use of qualitative research methods of descriptive type of case studies. Data collection using the method of observation, interview and documentation. Using data analysis methods with Miles and Huberman stage through three, namely the reduction and conclution list, drawing or verivication.
The study found that, first, the second condition of Self-concept students without the caregiver is a positive self-concept. Second, the subject 1 and subject 2 start the self-concept stage through self-concept of primary derived from the family environment. Third, internal factors are the factors that affect the subject. Fourth, the concept of self care strategies students without a caregiver, namely (a) Subject 1 and subject 2 was able to build good relationships around an Environmental premises, the subject of a condescending manner and to maintain decorum, while subject 2 with a greeting and mutual assistance. (b) When the subject 1 and subject 2 had problems with their surroundings, what they do finished, until not to be hearts and so revenge. (c) Subject 1 and subject 2 viewed as a deficiency or weakness of the fair because everyone has their way of life. (d) Subject 1 and subject 2 has a long-term life goals, namely the search for knowledge as much as possible, college graduate on time, able to work and happy parents, as well as around the world if could.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
 Manusia merupakan individu sosial yang harus hidup di tengah lingkungan sosial. Manusia tidak mungkin hidup tanpa kelompok, justru kelompok sosial lah yang menjadikan manusia dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana wajarnya, peroses ini dimulai sejak ia dilahirkan sampai ia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Peneliti psikologi telah membuktikan bahwa jika seorang anak tidak mendapatkan hubungan psikis yang sehat dari orangtuanya, khususnya dari ibu, kelak pada masa pertumbuhannya si anak akan mengalami beberapa keterlambatan, seperti; kurangnya respon terhadap orang lain dan kurang dapat menjalin interaksi sosial yang baik dengan lingkungan. Manusia dalam perspektif psikologi terdiri dari dua bagian, pertama: manusia merupakan makhluk individual, artinya: manusia merupakan suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi-bagi, dan kedua: manusia merupakan makhluk individual yang tidak hanya dalam arti makhluk keseluruhan jiwa raga, tetapi dalam arti juga bahwa tiap-tiap orang itu merupakan pribadi yang khas menurut corak kepribadiannya, termasuk kecakapan-kecakapannya sendiri1 . Interaksi sosial merupakan fenomena universal yang cukup fundamental, karena dengan interaksi itulah manusia dapat terhubung dan tetap eksis sepanjang masa, wujud interaksi bermacam-macam, dapat berupa sapaan dan jawaban (komunikasi), menjual dan membeli (perdagangan) bertamu dan menyambut tamu 1 Gerungan.W.A., 1996. Psikologi Sosial.Eresco, Bandung, hlm;22 2 (silaturahmi) dan lain sebagainya. Walaupun demikian individu merupakan makhluk yang unik, karena setiap individu memiliki karakter yang berbeda-bada sehingga diperlukan suatu keterampilan tertentu untuk dapat menjalin hubungan yang baik dengan individu yang lain. Kekhasan yang dipunyai tersebut tidak terlepas dari konsep diri individu tersebut, sebagaimana hurlock mengemukakan bahwa konsep diri merupakan pandangan seseorang mengenai dirinya sendiri secara keseluruhan sebagai hasil observasi terhadap dirinya di masa lalu dan pada saat sekarang2 . Hal ini termasuk persepsi akan self image dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan. Dalam perkembangan sosial, sebuah interaksi dalam masyarakat banyak dipengaruhi oleh kuat atau tidaknya pribadi, self image. Hal ini terlihat pada banyaknya kasus yang terjadi, proses interaksi sosial dapat dikatakan berhasil bila seseorang dapat berbaur, bekerja sama, memenuhi tuntutan lingkungan, dan diterima oleh orang-orang di sekitar sebagai bagian dari masyarakat. Walgito (2003) menyatakan bahwa dalam interaksi sosial ada kemungkinan individu dapat menyesuaikan dengan yang lain, atau sebaliknya dalam arti luas, yaitu bahwa individu dapat meleburkan diri dengan keadaan disekitarnya, atau sebaliknya individu dapat mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dalam diri individu, sesuai dengan apa yang diinginkan individu yang bersangkutan3 . 2 Harlock, E.B. 1980. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan: Edisi ke lima, Erlangga. Jakarta. 3 Bimo Walgito.2003. Psikologi sosial suatu pengantar. Yogyakarta: Andi offset. hal 65 3 Hal ini tidak sesuai dengan kenyataan yang penulis peroleh di lapangan, dimana penulis menemukan suatu kerancuhan dengan teori-teori yang tertera di atas, kecenderungan yang terjadi di lapangan banyak terdapat mahasiswi yang masih belum dapat menjalin sebuah interaksi yang sehat dengan lingkungannya, masih terliahat ada gap, contohnyaa dalam masalah pertemana, ada sebagian mahasiswi yang masih pilih-pilih dan lain sebagainya. Rasa keingin tahuan penulis terpicu ketika peulis bertemu dengan individu-individu di fakultas humaniora dan budaya jurusan bsi uin maliki malang. Fakta yang menunjukkan adanya masalah dalam interaksi sosial mahasiswa fakultas humaniora dan budaya, jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang(semester II, IV dan VI), diantaranya didapat dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada dua orang responden, berdasarkan wawancara didapatkan informasi bahwa subyek pertama yaitu seorang mahasiswi Bahasa dan Sastra Inggris berinisial SG berusia 21 tahun. SG mengaku kurang bisa menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan teman-teman kuliahnya,terlebih ada sebagian temannya di kampus yang membuat kelompok-kelompok semacam gang atas dasar kesamaan ciri tertentu dan itu menimbulkan gap. SG merasa kurang nyaman, dan itu menghambat sg untuk berinteraksi secara sehat dengan lingkungannya. SG merasa teman-teman yang membuat kelompok-kelompok itu kurang dapat berbaur dengan sekeliling. SG lebih senang menghabiskan waktu dengan bergaul dengan teman-temannya yang lain, dan sedikit membatasi interaksi dengan teman-temannya dalam kelompok itu. 4 Subyek kedua yang juga darimahasiswa humbud jurusan Bahasa dan Sastra Inggris berinisial ST berusia 21 tahun.sama seperti subjek pertama, ST juga mengaku kurang dapat menyesuaikan diri dengan teman-teman dikarenakan ada sebagian teman-temannya yang membuat kelompok, dan menurut ST ketidak nyamanan dalam interaksi ini tidak hanya dirasakan ST saja, teman-temannya yang lain juga merasakan hal yang demikian. Menurut ST pernah mereka (temanteman ST yang membuat kelompok) dihadapkan pada situasi yang mengharuskan mereka berbaur dengan teman-teman yang lain, tetap saja gap itu masih saja dirasakan, semisal pada situasi pembagian kelompok tugas dan lain sebagainya. Hal itu membuat ST merasa sangat tidak nyaman, secara pribadi ST juga merasakan agak rendah diri jika berhadapan langsung dengan teman-temannya yang membuat kelompok itu, sebab menurut ST mereka mempunyai gaya bicara, dan tingkah laku yang sangat berbeda dari teman-teman ST secara umum, dan itu membuat ST merasa canggung. Selain data yang peneliti dapatkan dari hasil wawancara dan observasi secara langsung pada mahasiswa humaniora dan budaya, jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, peneliti juga menemukan banyak penelitian terdahulu yang mengungkapkan adanya hubungan antara self image dengan interaksi sosial. Penelitian yang dilakukan oleh galuh henggarya di fakultas psikologi universitas gunadarma 2008, dengan judul hubungan antara body image dengan harga diri pada remaja priayang mengikuti latihan fitness/kebugaran yang mana subjek dalam penelitian ini adalah remaja pria yang mengikuti fitness selama 3 bulansampai 1 tahun. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan 5 angket atau kuesioner.hasil dari penelitian di atas menunjukkan bahwa hipotesis yangberbunyi ada hubungan antara body image dengan harga diri adalah diterima. Hasil tambahan4 . Selain itu ada juga penelitian terdahulu yang dilakukan oleh nanin rizqi amalia dan mira aliza rachmawati dengan judul hubungan body image dengan penyesuaian diri sosial pada remaja. Universitas indonesia 2007. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada hubungan antara body image dengan penyesuaian diri sosial pada remaja.hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara body image dengan penyesuaian diri sosial pada remaja. Semakin tinggi body imagenya maka akan semakin tinggi penyesuaian diri sosialnya. Begitu pula sebaliknya semakin rendah body imagenya maka akan semakin rendah penyesuaian diri sosialnya. 5 Hasil dari penelitian di atas menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antara variabel body image dan penyesuaian diri sosial pada remaja, sehingga hipotesis yang diajukan diterima6 , ada juga penelitian oleh Arnhoff dan E. Damiano Poulus pada tahun 1962 yang mengemukakan bahwa orang yang berusia dua puluh tahun, yang berarti baru saja memasuki masa remaja akhir memiliki citra badan yang lebih nyata dari pada orang-orang yang berusia empat puluh tahun. Kedua peneliti ini memotret orang-orang yang hanya berpakaian dalam dan menutupi karakteristik wajah mereka, subjek yang masih muda usianya 4 Galuh,Henggaryadi, 2008. Hubungan Antara Body Image dengan harga diri pada remaja pria. psychology , 2. 5 Nanin Rizqi, Amaliadkk. 2007. Hubungan Body Image Dengan Penyesuaian Diri Sosial Pada Remaja. Psikologi, 9. 6 Ibid.. 6 lebih mudah mengenal foto mereka sendiri diantara enam buah foto yang ditunjukkan dari pada subjek yang berusia empat puluh tahun7 . Jourard dan Secord (1954; 1955a; 1955b) di dalam serangkaian studi-studi, mereka menemukan bahwa perasaan-perasaan yang dimiliki seorang individu tentang tubuh fisiknya adalah serupa dengan perasaan-perasaan yang ia pegang tentang dirinya secara umum8 . Di dalam sebuah studi secara statistik Mahoney dan Finch (1976) melaakukan penelitian untuk menentukan distribusi relatif aspek-aspek tubuh dalam menentukan konsep diridengan menggunakan sampel 98 pria dan 129 wanita (siswa-siswi), yang kemudian dilakukan penelitian lanjutan oleh Bergscheid, Walster dan Borhnsted (1973) dengan menggunakan teknik regresi, hasilnya mereka menemkan ada keterkaitan antara body cathexis dan konsep diri9 . Dari uraian di atas diketahui bahwa self image yang merupakan bagian dari self concept dan harga diri berada pada kategori tinggi. Self image merupakan komponen kognitif pengetahuan individu tentang keadaan dirinya, disini keadaan fisik dan potensi psikis merupakan hal yang penting dalam suksesnya pergaulan. Individu sangat peka terhadap keadaan tubuh yang tidak sesuai dengan gambaran masyarakat tentang tubuh ideal. Individu mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap penampilan diri. Apabila ada bagian tubuh atau seluruh tubuh dinilai tidak baik (tidak sesuai dengan gambaran ideal) maka cenderung akan mempengaruhi proses sosialisasinya. Bila individu mengerti bahwa dirinya 7Malcolm, Hardi dkk, 1985, pengantar Psikologi, Jakarta: Erlangga. 8 Burn. 1993. Konsep Diri Teori Pengukuran Perkembangan dan Prilaku. Jakarta: Arcan hal 196 9 Ibid.. 7 memenuhi persyaratan maka hal ini berakibat positif terhadap penilaian diri individu itu sendiri. Sedangkan bila ada penyimpangan-penyimpangan maka timbul masalah-masalah yang berhubungan dengan perilaku diri dan sikap sosial idividu. Dalam sebuah, interaksi sosial ada kemungkinan individu dapat menyesuaikan dengan yang lain, atau sebaliknya. Pengertian interaksi disini yaitu bagaimana individu dapat meleburkan diri dengan keadaan disekitarnya, atau sebaliknya individu dapat mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dalam diri individu, sesuai dengan apa yang diinginkan individu yang bersangkutan. Karena disinilah inti dari sebuah interaksi sosial, dimana akan terjalin suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu manusia, dimana individu yang satu dapat mempengaruhi, mengubah, dan memperbaiki individu yang lain, atau sebaliknya.bila seorang merasa gagal berinteraksi sosial dengan baik dan merasa ditolak oleh lingkungan, maka akan menjadikan sebuah sikap regresif atau mengalami kemunduran. Raimy (1943) self concept merupakan “individu dikenal sebagai individu tersebut”. Aspek dari self concept merupakan hal-hal yang dipersepsikan oleh individu dendiri. Konsep-konsep dan evaluasi mengenai dirinya sendiri, termasuk gambaran dari orang lain terhadap dia yang dirasakan dan gambaran tentang pribadi yang dia inginkan, diperlihatkan dari suatu pengalaman lingkungan yang dievaluasi secara pribadi10 . 10 Burn Op. Cit., hal 65 8 Self image yang merupakan bagian dari self concept itu sendiri sebenarnya adalah sesuatu hasil dari olahan pikiran kita sendiri, artinya pearasaan-perasaan tentang fisik seperti pendek, tinggi, hitam putih dan lain sebagainya merupakan hasil dari penilaian kita sendiri. Penilaian mengenai fisik memang merupakan hal yang bersifat relative, disamping seseorang dapat menilai keberadaan fisik mereka sendiri, remaja juga dapat mengukur respon dan pendapat lingkungan terhadap diri mereka. Sikap menilai terhadap tubuh sendiri sebagian dibentuk oleh normanorma budaya, siapa saja yang sangat jauh dari gambaran tersebut cenderung kecewa terhadap tubuh mereka sendiri, atau sebaliknya mereka yang menganggap penampilan fisik mereka sudah merupakan karunia tuhan yang sangat sempurna walaupun jauh dari kriteria cantik pada umumnya akan sangat bersukur, dan otomotis meningkatkan rasa kepercayaan diri. Self image itu sendiri sebenarnya dibentuk dalam pikiran. Dalam kehidupan bersosial tidak bisa dipungkiri self image sangat berpengaruh pada pembentukan rasa percaya diri yang mana itu juga berpengaruh pada interaksi sosial, kepercaaan diri sendiri dapat diartikan sebagai suatu keberanian untuk mengeksplorasi segala sesuatu yang oleh individu dianggap menarik guna melakukan sesuatu yang dianggap benar. Sedangkan interaksi sosial dapat diartikan hubungan antara individu dengan lingkungan dan individu itu juga ikut serta berkegiatan guna merangsang perkembangannya dan memberikan sesuatu yang dia perlukan. Dengan memahami teori self concept dan self image, diharapkan individu dapat membangkitkan rasa kepercayaan dirinya, dan ini dapat menjadi awal dari pengoptinalan potensi yang bermuara pada sebuah kesuksesan. 9 Individu yang mempunyai self image yang tinggi, tidak bisa dipungkiri pastinya mempunyai persepsi akan dirinya yang positif dan tinggi pula, begitu pula sebaliknya individu yang mempunyai self image yang rendah, pasti juga memiliki persepsi akan dirinya yang juga bisa dikatakan rendah, yang mana itu bisa disebabkan banyak faktor. Kesehatan psikologis berkaitan erat dengan persepsi diri, konsep diri yang terbentuk dari pendapat orang lain tentang diri kita, perbandingan sosial dan atribusi diri, mempengaruhi cara kita merasakan tentang diri kita sendiri. Beberapa individu memiliki persepsi internal mereka menyakini bahwa mereka menguasai dan mengendalikan nasib mereka sendiri. Sedangkan ada beberapa orang yang meyakini bahwa apa yang terjadi pada diri mereka ditentukan oleh faktor-faktor eksternal seperti keberuntungan, nasib, atau kesempatan. Pengungkapan diri (self-disclosure) dalam suatu interaksi antara individu dengan orang lain, apakah orang lain akan menerima atau menolak kita, bagaiman kita ingin orang lain mengetahui rentang kita akan ditentukan bagaimana individu dalam mengungkapkan dirinya. Mengungkapkan diri (self-disclosure) adalah peroses menghadirkan diri yang diwujudkan dalam kegiatan membagi perasaan dan informasi tentang orang lain. Apapun yang berhubungan dengan self menurut Brisset (1972) pada dasarnya semua berhubungan dengan evaluasi diri yang melibatkan tujuan konsius, dan tingkat keberhasilan yang dipersepsikan dalam norma-norma tingkah laku. Tiga titik acuan yang berhubungan dengan self dan evaluasi diri yaitu; 10 pertama, perbandingan dari citra diri yang dikenal dengan citra diri ideal atau gambaran jenis pribadi yang diingingkan seseorang. Titik acuan ke dua melibatkan internalisasi dari penilaian masyarakat. Titik acuan yang ke tiga adalah melibatkan individu yang bersangkutan11 . Seseorang sebagai suatu individu yang independen membentuk sebuah self consept dari sebuah pengalaman internal dan eksternal, aspek diri yang gelobal dapat dibedakan menjadi dua, diri sebagai pelaku dan diri sebagai yang dikenal, misalnya, fisik, sosial, cita-cita dan lain sebagainya. Berdasarkan latar belakang di atas, penilaian self image pada setiap orang berbeda-beda, semua tergantung pada persepsi dan pandangan akan diri person itu sendiri, atas latar belakang yang sudah penulis kemukakan di atas, maka penulis mencoba mengangkat sebuah judul “Hubungan Self image dengan Interaksi Sosial Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya, Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (Semester II, IV dan VI) B. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana Tingkat Interaksi Sosial Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya, Jurusan Bahasa dan Sastra inggris Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (Semester II, IV dan VI)? 11 Ibid.. Hal 71 11 2. Bagaimana Tingkat Self image Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya, Jurusan Bahasa dan sastra Inggris Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (Semester II, IV dan VI)? 3. Adakah Hubungan antara Self image dengan Interaksi Sosial Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya, Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (Semester II, IV dan VI)? C. TUJUAN PENELITIAN Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1. Mengetahui Tingkat Interaksi sosialmahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya, Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (Semester II, IV dan VI)? 2. Mengetahui Tingkat Self image Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (Semester II, IV dan VI)?. 3. Mengetahui antara Self Image dengan Interaksi Sosial Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (Semester II, IV dan VI)? 12 D. MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat dan memberikan sumbangan bagi banyak pihak, khususnya bagi peneliti sendiri dan masyarakat pada umumnya, untuk perkembangan ilmu pengetahuan baik itu ditinjau dari aspek teoritis maupun dari aspek praktisnya, dianataranya yaitu 1. Secara teoritis Penelitian ini dapat menambah keilmuan dalam bidang psikologi, terutama mengenai Hubungan Self image dengan Interaksi Sosial, dengan mengambil objek penelitian Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (Semester II, IV dan VI).dan harapannya penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan bahan acuan untuk meneliti lebih lanjut dalam penelitian yang sejenis 2. Secara Peraktis Dapat memberikan informasi khususnya yang berkaitan dengan fenomena sosial dan keperibadian yaitu terkait antara Hubungan Self image dengan Interaksi Sosial, pada Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (Semester II, IV dan VI) dengan harapkan dapat memberi gambaran mengenai manfaat memiliki persepsi akan Self Image yang tinggi bagi para Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 13 14


Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Konsep diri santri tanpa pengasuh: Penelitian kasus terhadap santri Di Pesantren Mahasiswa Darul Hijrah Merjosari Malang" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment