Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, June 12, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Pembentukan identitas seksual kaum gay.

Abstract

INDONESIA:
Dewasa ini, sebagian besar masyarakat masih melihat kaum gay sebagai sesuatu yang keluar dari koridor heteronormativitas. Perilaku gay bahkan dianggap sebagai penolakan terhadap takdir. Dalam kehidupan nyata, keberadaannya senantiasa disingkirkan dan dibedakan dengan heteronormativitas.
Gay merupakan sebuah identitas yang dialamatkan pada seorang laki-laki yang mempunyai pola hubungan cinta, kasih sayang, dan erotisme seksual pada sesama laki-laki. Sebagian besar dari mereka masih menutupi identitas seksual yang sebenarnya, karena banyaknya konsekuensi buruk yang akan mereka terima ketika harus mengakuinya. Dengan berbagai siasat, hingga kini mereka bisa tetap mempertahankan identitas seksualnya.
Penelitian ini hendak mengetahui bagaimana proses seorang gay membentuk identitas seksualitasnya, secara lebih rinci ingin mengetahui bagaimana dia mampu mendefinisikan diri sebagai seorang homoseksual di tengah kuasa wacana heteroseksual yang ada di masyarakat. Selain itu juga ingin mengetahui bagaimana mereka mempertahankan identitas seksualnya di tengah- tengah tuntutan normatifitas masyarakat.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah fenomenologi. Peneliti memandang bahwa untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang kehidupan gay, fenomenologi adalah pendekatan yang tepat sebab disana peneliti dituntut untuk lebih dalam ketika mendekati dan menyelami kehidupan subjek.
Peneliti banyak menggunakan teori pembentukan identitas seksual gay yang digagas oleh tokoh psikoanalisis pos-strukturalis Jaques Lacan. Selain itu untuk memperlengkap pemahaman akan identitas diri dan seksualitas digunakan juga pandangan tokoh-tokoh Cultural Studies, seperti Stuart Hall, Manuel Castells, Anthony Giddens, dan lain sebagainya. Beberapa teori tersebut dirasa sangat penting sebagai penghantar pemahaman terhadap identitas seksual.
Dari hasil penelitian diperoleh beberapa media yang membantu gay untuk mendefinisikan diri akan seksualitasnya, antara lain melalui wacana dari terminologi gay, pengalaman pelecehan seksual dan keberadaan komunitas- komunitas gay. Sedangkan strategi bagi gay untuk tetap bisa eksis mempertahankan identitas seksualnya, yaitu dengan cara sembunyi-sembunyi atau tidak mengakui identitas seksual yang sebenarnya, melakukan pernikahan secara hetero, dan bisa melakukan beberapa peran sesuai dengan kondisi, waktu atau pun tempat yang menuntut dia untuk melakukannya.
Dari cara yang dilakukan oleh kaum gay tersebut peneliti analisis dengan politik identitas. Politik identitas ini sebagai siasat untuk menyembunyikan identitas yang sebenarnya ketika situasi tidak mendukung bagi dirinya. Walaupun seorang gay sudah mengakui identitas seksualnya dikalangan teman-temannya namun belum tentu dia juga mengakui diantara keluarga atau lingkungan dia bekerja.
INGGRIS:
Now, the majority of society look at gay as some things with out from hetero normativity corridor. Character gay considered as refusal with divine decree. In fact gay eliminated and differentiated with hetero normativity.
Gay is a name of identity boys with have love, and eroticism sexuality with other boys. Part of them hidings the real sexual identity, because many bad of consequently will be received when must be guaranteed. Until now with many strategy their defined sexual identity.
This research will be knowing how a process gay construct of sexual identity, and to detail it how they can definition them selves as homosexual in the discourses of heterosexual in society. In addition, they want to know how can be defined sexual identity in the norm society pressing.
Method used in this research is qualitative description. The approach with used in this research is phenomenology. The Researcher more understand on comprehensive about life of gay, phenomenology is a comprehensive approach. Because the researcher must be known about all of subject life.
In this research, researcher using identity theory with appeared by psychoanalysis post-structural Jaques Lacan. The researcher also using identity theory and social identity theory with opinion of Anthony Gidden, Suart Hall, Manuel Castells and so on. In the research field and describe data, the researcher is used cultural studies theory. Where research field’s fact are description variant and direction. Some theories it more important to understand about sexual identity.
From the point of research we can know some media which help them selves to definition a sexuality. Their media is gay terminology, experience sexual and being gay Communities. Beside that, strategy of gay can be exists defined their sexual identity is hide or did not opened the real them selves. Gay weeding as heterosexual, and they can do so character like condition, time, or place with press them to do it.
From the way which have done of gay communities, the researcher described with politic identity. Politic identity as strategy to hide real identity, when situation not support them selves. Although a gay had admitted sexual identity to their friends, but not sure they admit among family or surrounding place their jobs.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

 Homoseksual atau hubungan seksual dengan sesama jenis, secara tidak langsung mempunyai dua klasifikasi hubungan menurut keberadaan jender, laki-laki dan perempuan. Bila laki-laki dengan sesama laki-laki disebut dengan gay dan perempuan dengan sesama perempuan disebut dengan lesbi. Keberadaan lesbi maupun gay, keduanya sama-sama mendapatkan penerimaan yang berbeda ditengah-tengah masyarakat. Misalnya perbedaan pandangan dan perlakuan terhadap kaum homoseksual ditengah kuasa heteronormativitas.1 Seperti yang diungkapkan oleh Dede Oetomo2 dalam bukunya. Acapkali merasakan ketertindasan dan perlakuan tak adil dari masyarakat umum. Penindasan dan ketidakadilan itu kadang halus sekali, seperti desakan kepada kita (gay) untuk membentuk keluarga, bahkan dapat berupa pertanyaan, “sudah berkeluarga?” yang bagi sebagian besar dari kita masih merupakan tusukan halus yang bagaimana pun tetap menyakitkan dan terasa tidak adil.3 Dia juga menceritakan kisah masa lalunya sebelum memutuskan untuk terbuka dengan keluarga dan teman-temannya. Pada saat itu aku sudah merasa malu sekali akan keadaanku sebagai homo, terutama dari ajaran agama, pembicaraan teman-teman tentang homoseksualitas yang selalu disertai dengan nada sumbang dan apa-apa yang 1 Heteronormativitas merupakan norma, hukum, atau aturan dan pandangan yang hanya mengutamakan kepentingan kaum heteroseksual, sehingga di luar hubungan heteroseksual mengalami pendeskriminasian dan penyingkiran. Salah satu contoh disekitar masyarakat kita yaitu tuntutan untuk melangsungkan pernikahan secara hetero dan lain sebagainya. Hatib Abdul Kadir, Tangan Kuasa dalam Kelamin Telaah Homoseks Pekerja Seks dan Seks Bebas di Indonesia, Insist Press, Yogyakarta, 2007 2 Dede Oetomo merupakan salah satu pendiri aktivis Lambda Indonesia (1982) organisasi gay pertama di Indonesia. Dia sendiri juga seorang gay yang pernah menjadi seorang Dosen FISIP Universitas Airlangga (1984-2003). Saat ini aktif dalam kegiatan-kegiatan prodemokrasi dalam berbagai bidang dengan menekankan interseksionalitasnya dengan orientasi seksual. Lebih lanjut baca pada Dede Oetomo, Memberi Suara Pada Yang Bisu, Pustaka Marwa, Yogyakarta, 2003. 3 ibid, h.125 aku baca yang biasanya tidak begitu positif tentang homoseksualitas. Saking malunya kalau aku mengaku dosa kepada pastor, aku hanya mengakukan hal aku melakukan onani. Sudah tentu si pastor dengan sendirinya wanitalah yang aku bayangkan. Dan biasanya dengan mengucapkan 10 doa “salam Maria” aku sudah suci lagi. Tapi ini berulang-ulang sampai aku menjadi bosan, dan aku pun malas mengakukan dosaku, karena aku anggap tidak ada gunanya.4 Contoh kuasa heteronormativitas yang menekan seringkali menjadikan gay untuk menutup diri dengan identitas seksualnya, walaupun tanpa disadari sebenarnya keberadaan mereka cukup banyak. Terbukti dengan mulai munculnya komunitas-komunitas homoseksualitas seperti Gaya Nusantara di Surabaya, atau IGAMA Ikatan Gaya Arema Malang dan masih banyak yang bisa ditemukan di kota-kota kecil seperti Tulung Agung, Kediri maupun kota besar seperti Yogyakarta dengan nama ikatannya Pelangi.5 Dicermati lebih lanjut dari komunitas kaum homoseksual di atas, sebagian besar merupakan bagian dari kelompok gay dari pada lesbi. Kelompok-kelompok gay lebih berani memunculkan eksistensinya dalam masyarakat, walaupun tidak secara langsung, akan tetapi melalui komunitaskomunitasnya. Bentuk arogansinya juga lebih membedakan hubungan yang terjalin antara gay dan lesbi. Misalnya bila lesbi lebih menjaga akan adanya cinta dan kesetiaan, tetapi lain lagi pada hubungan gay, kesetiaan dengan pasangan bagi mereka bukanlah sesuatu yang patut dipertahankan, sehingga wajar bila kemudian mereka lebih suka untuk berganti-ganti pasangan. Hal ini juga dituturkan oleh Giddens bahwa laki-laki homoseksual biasanya memiliki 4 ibid, h.xxxi 5Hatib, Op. cit, h.134 banyak mitra seksual dan biasanya mereka bergonta-ganti pasangan dengan cepat6 Karakter itulah yang kemudian memunculkan kelompok gay dengan lebih banyak variannya dari pada lesbi, sebab identitas yang terbentuk pada seorang gay tidak serta merta hanya disimpulkan secara sederhana yakni mempunyai hubungan dengan pasangan sesama jenisnya, melainkan pola hubungan seksual juga sangat mempengaruhi pembentukan identitas seorang gay dalam komunitasnya. Pola hubungan seksual pada gay tersebut dibagi menjadi tiga antara lain: gay bottom yaitu posisi seksual pada gay yang tidak bisa menyodomi tetapi hanya bisa disodomi, kebalikannya yaitu gay top dimana dia tidak bisa disodomi tetapi hanya bisa menyodomi, dan yang terakhir gay fire style yaitu seorang gay yang mampu pada posisi bottom maupun top. Pembentukan identitas atas pola seksual itulah nantinya sangat diperlukan bagi gay untuk mencari pasangannya. Gay yang masuk kategori bottom tidak akan mencari pasangan dengan gay yang sama-sama bottom melainkan akan mencari yang top atau fire style. 7 Identitas dia sebagai bottom atau top tentunya hanya dapat diperoleh ketika dia memang telah melakukan hubungan seksual. Bahkan seseorang mulai yakin tentang identitas dia sebagai gay setelah melakukan hubungan dengan sesama jenisnya. Pada awal-awalnya mereka ya bingung aja dengan dirinya, apalagi kalau masih belum ketemu komunitas sesama gay, dia masih dalam lingkungan sekolah atau dalam lingkup keluarga saja kebingungan itu akan dia alami, seringkali merasa rendah diri, dan merasa dikucilkan dari lingkungan walaupun sebenarnya lingkungan tidak mengucilkan mereka. Tetapi setelah menemukan 6 Anthony Giddens, Transformation Of Intimacy, Seksualitas, Cinta dan Erotisme dalam Masyarakat Modern, Fresh Book, Jakarta, 2004, 17 7 Wawancara dengan ER, 11 Maret 2008 komunitas gay atau teman sesama gay, kebingungan itu akan lambat laun sirna karena dari situ dia akan mulai memahami bahwa orientasi seksualnya ternyata berbeda. Dan dari pengalaman seksuallah sangat menentukan dia untuk mendefinisikan diri sebagai gay. Dari berhubungan seksual itu baru diketahui dia bottom, top atau fire style.8 Pernyataan di atas, ternyata seksualitas menjadi penting dalam pembentukan identitas dia sebagai gay. Seksualitas menjadi point utama untuk mengetahui dan menjawab dilema dia yang mulai menyukai sesama jenis. Identitas dia dalam komunitas sesama gay memang dapat menguatkan diri dia sebagai gay dan bahkan seringkali mereka merasa tidak ada masalah dengan identitas dia sebagai gay. Namun di tengah tuntutan kuasa heteronormativitas yang berlaku di masyarakat banyak fakta yang menunjukkan bahwa lingkungan sekitar dia, seperti keluarga dan masyarakat tidak mengetahui dia adalah gay. Seperti yang telah diceritakan pada kasus yang dialami oleh Dede Oetomo di atas, dan hal tersebut juga dialami oleh BN seperti pemaparan di bawah ini. AL merupakan gay yang telah membuka diri tentang identitas dia kepada teman-temannya tetapi ternyata belum untuk keluarga dan kedua orang tuanya, tetapi sebenarnya dia mempunyai niatan untuk tetap menceritakannya pada keluarga. Akhirnya AL mempunyai keberanian untuk menceritakannya, dan yang AL khawatirkan terjadi AL diusir dari rumah.9 Melihat situasi seperti di atas akhirnya banyak sebagian dari gay yang memang sengaja menutupi identitasnya, biasanya gay ini digolongkan pada 8 Wawancara dengan ER, 6 Mei 2008 9 Wawancara dengan ER, 11 Maret 2008 gay hidden. Ada juga gay yang bersikap sebaliknya, dia mengungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya, karena ingin lebih bebas untuk menjalankan kehidupan dia sebagai gay dengan segala konsekuensinya, biasanya gay ini digolongkan pada gay open. Baik gay open maupun hidden keduanya sama-sama mempertahankan identitas sebagai gay bahkan dalam satu pernyataan dari seorang gay Bulsyet bila ada seorang gay yang menginginkan dirinya sembuh. Seumpamanya kita dulu jadi gay, terus kemudian tidak, saya yakin dalam hatinya tetap.10 Seorang gay dibenturkan pada heteronormativitas yang ada di masyarakat pilihan dia sebagai gay tetap dipertahankan, walaupun dengan open atau hidden. Namun semua ini akan bertahan sampai kapan? ketika benturan dengan heteronormativitas selalu dia hadapi. Seperti diceritakan oleh Erik Kapan hari saya ketemu cowok kerja di bank Danamon, guanteng banget, dan aku yakin banget dia gay, tetapi dia bukan salah satu tipe pria yang ingin untuk mau menjadi gay, dia gay tetapi tidak mau menjadi gay. Dia gay yang menginginkan menikah, dan punya anak. Memang ada gay seperti itu. Coba sampean bayangin seorang laki-laki tidak lembeng, lelaki normal tetapi menyimpan perasaan sesama jenis, dan akhirnya menikah (dengan perempuan) kebayang ndak sich mbak perasaannya? Banyak gay seperti itu, ada tetanggaku juga seperti itu, dia guru SMP 14, dia pernah bawa teman saya, umurnya 40an, dia punya anak tiga, tetapi saya tidak bilang kepada istrinya, dia baik-baik saja dengan istrinya. Banyak gay seperti itu karena takut tercebur terlalu dalam, atau takut nantinya menjadi waria.11 Pertentangan-pertentangan tersebut seakan memaksa seorang gay untuk segera mengakhiri identitas dia sebagai gay, dan memilih untuk menjadi lelaki normal atau sebaliknya berjalan beriringan saja. Bila ditanya pandangan gay 10 Wawancara dengan ER, 1 April 2008 11 Wawancara dengan ER, 1 April 2008 sendiri atas identitas mereka tetap sebagai lelaki. Hanya saja orientasi seksualnya yang berbeda. Pernyataan yang berbeda, seiring bertambahnya umur dan tanggung jawab, mereka mengalami dilema akan identitas dia sebagai gay, bahkan antara lelaki atau perempauan. Seringkali terjadi dalam gay ketika dia harus memutuskan untuk membuat komitmen. Yaitu menikah secara hetero dan membuat komitmen dengan sesama gay. Pilihan pernikahan tersebut bersangkut paut dengan identitas sebagai lelaki sedangkan ketika membuat komitmen dengan gay bisa berperan identitas sebagai wanita atau lelaki, bahkan kadang juga timbul perasaan saya bukan sebagai wanita juga bukan sebagai lelaki yang sebenarnya. Itu yang kemudian membingungkan dalam membentuk identitas diri sebagai lelaki.12 Berkaitan dengan gay yang membuat komitmen13 dengan sesama gay atau gay yang tidak membuat komitmen, tetapi sudah sekian lama dia menjadi gay, maka kadangkala pernyataan gay yang sebenarnya laki-laki seringkali menjadi kabur. Terutama ini dialami oleh gay feminine. 14 Wenni itu feminin benar suaranya ngebas tetapi cara pikir dan cara pandang itu cenderung perempuan banget. Keliatannya pada saat hubungan seksualnya saja Weny, Bella dia cenderung tidak mau berhubungan seks dengan sesama homoseksual, dia maunya melacur, dandan cantik dan cari cowok, karena dia memposisikan dirinya sebagai wanita, kadang di gojloki mau ML dengan erik? “ih podo wedoe”, maunya dengan lelaki normal. Weny itu jago main bulu tangkis, bola voli, suaranya ngebas tapi ya seperti itu.15 Gay yang membuat komitmen, maka panggilan suami istri akan ditujukan pada mereka, dari teman-teman gay sendiri. Mana yang suami dan 12 Wawancara dengan ER, 6 Mei 2008 13 Hubungan komitmen bagi gay dianggap sebagai hubungan pernikahan diantara mereka. Sehingga setelah mereka berkomitmen atau menikah ala kehidupan gay, teman-teman mereka sesama gay akan menanyakan mana suami dan mana yang istri. Tetapi kadangkala label itu dibuat langsung oleh teman-teman gay sendiri yang dilihat dari penampilan salah satu pasangan mana yang lebih maskulin atau feminine. 14 Gay feminine merupakan kategori yang disematkan pada gay ketika perilakunya lebih kea rah kewanita-wanitaan. Kategori tersebut dilihat dari fisikli dan biasanya juga dari suara, bila suaranya lembeng maka ada kemungkinan dia diketegorikan sebagai gay feminine. Untuk gay maskulin secara otomatis lawan dari gay faminin. 15 Wawancara dengan ER, 1 April 2008 mana yang istri akan ditanyakan. Kalau keduanya merupakan gay yang samasama fire styl maka panggilan yang mana suami dan istri bisa bergantian. Tidak jarang dari mereka yang berkomitmen merasa risih dengan panggilan suami atau istri yang diberikan pada mereka. Dari berhubungan seksual itu baru diketahui dia gay feminin atau maskulin. Karena itu juga cenderung ke perasaan, lebih ke lelaki banget atau cenderung ke perempuan. Tetapi kadangkala juga risih kalau disebut suami atau istri, karena itu memang bisa berganti-ganti, mana suami dan mana istri.16 Jadi pertukaran identitas feminin dan maskulin sebenarnya juga terjadi pada gay, yang terang-terangan mereka mengakui identitas gay sebagai lakilaki. Kasus-kasus pertukaran identitas di dalam komunitasnya sendiri seringkali masih memunculkan dilema diantara mereka. Belum lagi bagi mereka yang harus mengalami tuntutan dari siklus kehidupan normalitas di masyarakat seperti pernikahan. Pernikahan terjadi seringkali timbul karena dorongan atau paksaan dari kelurga, kemudian juga karena ketakutan akan bertambahnya umur. Sehingga bila disimpulkan memang pernikahan yang terjadi pada gay seringkali hanya menjadi sebuah kamuflase yang tentunya sangat berbeda dengan pernikahan yang memang dijalani oleh orang hetero.17 Gambaran diatas, bisa dilihat bila gay seringkali mengalami pergantian identitas yang secara otomatis juga mempengaruhi pada peran mereka. Sifat identitas yang selalu tidak stabil, karena memang secara temporer distabilkan oleh praktik sosial dan perilaku yang teratur,18 belum lagi ketika ada kasus, seorang gay yang akhirnya dipertemukan dengan anaknya, yang dulu 16 Wawancara dengan ER, 6 Mei 2008 17 Wawancara dengan ER, 6 Mei 2008 18 Chris Barker, Cultural Studies Teori dan Praktik, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2004, 179 ditinggalkan ketika bercerai dengan ibunya. Sehingga mendorong dia untuk menanggalkan identitas gay dia. Permasalahan mendasar atas identitas diri disini tidak lepas dari penerimaan sosial terhadap diri dia sebagai gay. Seperti yang telah digambarkan di atas bagaimana komunitas gay akhirnya dapat menguatkan bahwa akan dirinya sebagai gay, sehingga identitas diri tidak lain merupakan penggabungan dari aspek eksternal yang membentuk identitas dia. Penerimaan sosial pada diri gay bila bermasalah maka bisa diprediksikan identitas diri yang dia miliki juga akan mengalami krisis. Dalam hal ini identitas gay dalam komunitasnya dengan identitas dia sebagai gay ketika di masyarakat pada kenyataannya mengalami pertentangan. Dari penelitian awal banyak dari mereka yang dalam wilayah terkecil pun seperti dalam keluarga, banyak yang belum mengetahui bahwa salah satu dari anggota keluarganya adalah gay. Tuntutan dari norma yang berlaku di masyarakat, agama dan ilmu pengetahuan yang menekan akan keberadaan mereka, menuntut untuk memiliki identitas lain dalam kehidupannya. Pergulatan antara kondisi yang menuntut mereka untuk tampil seperti masyarakat pada umumnya, dan dorongan yang begitu kuat untuk terus menjalankan kehidupan lain sebagai gay, tentunya akan membuat dilema tersendiri diantara mereka. Pertentangan-pertentangan antara normatifitas dan hasrat sebagai gay, membentuk identitas yang bisa saling berlawanan. Fakta ini tentunya akan sangat menarik ketika peneliti mampu menggambarkan secara rinci rangkaian pengalaman mereka dalam mengkreasikan dan menghadirkan identitas mereka di kalangan masyarakat maupun identitas mereka sebagai gay. Banyak alasan untuk mereka tetap mempertahankan identitas sebagai gay, dan juga banyak pilihan ketika mereka akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan siapa diri mereka yang sebenarnya. Adanya identitas lain yang saling bertentangan yang membuat penelusuran ini menjadi menarik. Hall sendiri menuturkan bahwa tidak ada identitas yang bisa tetap, tetapi identitas ini akan terus mengalami perubahan, tinggal bagaimana pergeseran dan perubahan karakter identitas tersebut menandai bagaimana kita memikirkan diri kita dan orang lain.19 Maka dapat diperoleh keterangan bahwasannya ada kemungkinan mereka untuk terus mempertahankan atau dileburkan menjadi satu, atau bahkan berjalan beriringan akan identitas mereka sekarang ini. Mengulas mengenai gay, secara tidak langsung memang kita akan masuk pada wilayah seksualitas, sebab mengingat kembali pada identitas diri seorang gay, faktor utama dari pembentukan dia sebagai gay tidak lain berawal dari seksualitas. Sehingga pembahasan ini pun nantinya tidak akan lepas dari pemaknaan dan arti seksualitas secara umum dan khususnya pada gay. Nantinya antara seksualitas dalam pembentukan identitas diri pada gay, menjadi dua pembahasan yang saling berkaitan erat. Mengenai resistensi yang telah banyak dilakukan oleh gay, seperti yang terjadi di negara Belanda, nampaknya tidak akan menjadi penekanan dalam penelitian ini, karena merujuk dari penelitian awal bahwa upaya resistensi 19 Chris Barker, ibid, h. 171 tersebut ternyata tidak terjadi begitu kuat oleh sekelompok gay di Indonesia khususnya yang dirasakan pada subyek penelitian ini Jika mendengar orang homoseksual disudutkan sebenarnya itu tidak benar, sebab yang ada di Indonesia kenyataan yang menimpa kaum homoseksual tidak seberapa jika dibandingkan dengan negara Thailand, Filipina dan Malaysia. Berkenaan dengan dilegalnya pernikahan saya tidak sampai sekeras itu, memang ada kaum gay yang radikal tetapi kita dan kebanyakan yang lain hanya menguatkan komitmen hubungan diantara gay. Memang dulu ada impian mau menikah dan sebagainya. Tetapi buat apa? Kita membuat komitmen itu sudah cukup kalau menurut saya.20 Maka ulasan mengenai resistensi tidak menjadi pembahasan utama dalam penelitian ini. Penelitian ini memfokuskan pada seksualitas dan identitas diri, peneliti bermaksud untuk menggunakan teori utama psikoanalisis Jaques Lacan terutama dalam melihat identitas seksual. Selain Lacan penelitian ini juga memakai teori-teori lain yang berkaitan dengan identitas seksual seperti Anthony Giddens dan Stuart Hall. Identitas diri yang selalu mengalami perkembangan dan perubahan oleh Lacan dikemukakan sebagai “pemisahan” dimana ketika seseorang memperlihatkan konsep diri sendiri maka sebenarnya dia telah memilih melalui salah satu pengenalannya (misrecognition). Penulis memandang bahwa identitas diri memang selalu berubah-ubah sesuai dengan sudut pandang dalam melihat diri, situasi masa lalu, masa kini, harapan masa depan, terutama pada penerimaan sosial atas diri seorang individu. Penelitian ini memfokuskan pada seksualitas dalam pembentukan identitas diri gay dan penerimaan sosial di masyarakat. B. Rumusan Masalah 20 Wawancara dengan ER dan ED, 5 Februari 2008 Persoalan yang ingin dikaji dalam penelitian ini, sebagaimana telah dipaparkan di atas adalah: 1. Bagaimana kronologis pembentukan orientasi identitas seksual gay? 2. Bagaimana kaum gay mempertahankan identitas seksualnya (homoseksual) di tengah-tengah kuasa heteronormativitas di masyarakat? C. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah: 1. Penelitian ini untuk mengetahui kronologis pembentukan orientasi identitas seksual pada gay. 2. Mengetahui cara kaum gay dalam mempertahankan identitas seksualnya di tengah-tengah kuasa heteronormativitas di masyarakat, yang cenderung melihat semua aturan dan pandangan dari sisi hubungan heteroseksual. D. Kegunaan 1. Bagi peneliti, kajian ini diharapkan menjadi tantangan untuk melakukan kajian mendalam tentang gay. 2. Bagi dunia akademik, untuk menambah kekayaan referensi. Sebab kajian gay, terutama yang membahas permasalahan identitas masih cukup sedikit. 3. Bagi masyarakat luas, paling tidak dapat membuka wacana baru bahwa ada sudut pandang lain dalam melihat sebuah hubungan homoseksualitas. E. Sistematika Pembahasan Memperoleh gambaran yang dapat dimengerti dan menyeluruh mengenai isi dalam skripsi ini, secara global dapat dilihat dari sistematika pembahasan skripsi dibawah ini: BAB I : Merupakan bab untuk menjelaskan latar belakang kenapa penulis mengangkat judul pembentukan identitas seksual kaum gay, kemudian dirumuskan menjadi rumusan masalah sebagai landasan penelitian. Tujuan dan manfaat penelitian juga dijelaskan dalam bab ini. BAB II : Bab dua mengulas tentang tinjauan pustaka yang membantu untuk melakukan analisis dan menambah pemaparan data. Beberapa pokok teori yang diulas antara lain seksualitas sebagai dasar membuka pola pembacaan terhadap identitas seksual. Kemudian berbagai bentuk identitas seksual lebih diarahkan pada orientasi seksual gay, secara lebih spesifik orientasi seksual gay bisa ditemukan pada paradoks-paradoks gay. Untuk memperkuat analisis yang digunakan dalam penelitian maka diambil sebuah teori pokok dengan pemaparan dan pandangan peneliti secara subyektif atas teori tersebut. BAB III : Menjelaskan metode yang dipakai dalam penelitian ini. Metode termasuk didalamnya jenis penelitian sebagai desain utama dalam penelitian. Selanjutnya menentukan fokus penelitian untuk mengantisipasi penelitian yang dilakukan terlalu melebar. Baru kemudian instrumen penelitian yang dijelaskan secara lebih rinci dilihat dari kebutuhan penelitian yang dilakukan. BAB IV : Memaparkan hasil penelitian yang diperoleh di lapangan. Pemaparan diawali dari mendeskripsikan subjek penelitian secara satu persatu, baru kemudian diulas lebih lanjut pada sub bab dinamika pembentukan identitas seksual. Analisis dipaparkan bersama dengan ulasan data yang telah ada dengan beberapa teori yang relefan dengan hasil penelitian. Diakhir dipaparkan analisis secara lebih mendalam dengan teori pokok. BAB V : Pada bab lima, penulis memaparkan kesimpulan hasil penelitian, dan saran-saran.
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Pembentukan identitas seksual kaum gay.." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment