Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Wednesday, June 14, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Pengaruh deprivasi relatif terhadap perilaku agresi pada anak jalanan di Lembaga Pemberdayaan Anak Negeri (LPAN) Griya Baca Kota Malang

Abstract

INDONESIA:
Anak-anak jalanan Anak- anak yang seharusnya mengenyam pendidikan sebagai bekal hidup, memilih mengais rezeki di jalan raya, serta bekerja yang mebahayakan keselamatan jiwa dengan pekerjaanya yang beresiko untuk anak-anak, Anak jalanan ini.Anakjalanan berhak mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi baik ekonomi maupun seksual, penelantaran kekejaman, kekerasan, penganiayaan, ketidakadilan serta perlakuan salah lainya dan menyebabkan anak jalanan mengalami keadaan deprivasi relatif. Dari tindakan tersebut bahwa anak jalanan akan mengalami situasi yang mengancam perkembangan fisik dan mental.
Melihat permasalahan di atas maka perlu dilakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tingkat deprivasi relatif, tingkat perilaku agresi dan pengaruh Deprivasi relatif terhadap perilaku agresi di (LPAN) Lembaga pemberdayaan anak negeri Griya baca kota Malang. penelitian ini mengambil sampel dengan teknik simple random sampling sebanyak 40 anak jalanan di (LPAN) Griya Baca Kota Malang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala (angket).
Berdasarkan analisa data diketahui bahwa tingkat deprivasi relatif anak jalanan di (LPAN) Griya baca kota Malang adalah sedang dengan prosentase sebesar dengan taraf 42% dan tingkat perilaku agresi masuk dalam taraf sedang dari hasil analisis data nilai terbanyak masuk dalam kategori sedang dengan taraf 45%.
Dari hasil analisa yang di ketahui Pada hasil analisis regresi. diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,011. Nilai ini lebih kecil dari taraf nyata 5% yang digunakan pada penelitian.Hal ini berarti menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Deprivasi relatif terhadap agresi Berdasarkan analisis regresi sederhana yang telah dilakukandiperoleh nilai.prosentase pengaruh Nilai r-square yang diperoleh dari hasil analisis sebesar 0,158. Nilai ini menujukkan bahwa besarnya pengaruh deprivasirelatif terhadap agresi sebesar 15,8% . Sedangkan pengaruh sisanya, yaitu sebesar 84,2% dipengaruhi oleh faktor lain di luar dari penelitian yang dilakukan. Hal tersebut dapat menguatkan dan membuktikan hipotesis yang diajukan, bahwa terdapat pengaruh positif antara deprivasi relatif terhadap perilaku agresi pada anak jalanan di LPAN griya baca kota malang. Sehingga Ho ditolak berarti ada pengaruh yang signifikan antara deprivasi relatif terhadap perilaku agresi.
ENGLISH:
Homeless Kid are the children who should be educated as stock of life. However they choose to look for a livelihood within the highway and work which secures their soul as the children. Homeless Kid have the right to be protected from discrimination, exploitation both economic and sexual, neglect, violence, persecution, injustice and other mistreatments which cause them to face relative deprivation condition. Those strictness actions also will bring them into situation which threatens the development of their physical and mental.
Looking the problem above, it is necessary to do research to know the level of relative derivation and aggression behavior. To know the effect of relative derivation on aggression behavior in Griya Baca the State Children’s Empowerment instit ute (LPAN) of Malang. This study using random sampling technique of 40 Homeless Kid within Griya Baca the State Children’s Empowerment institute (LPAN) of Malang. The data collection method is scale (questionare).
Based on the data analysis found that the level of Homeless Kid relative deprivation in Griya Baca the State Children’s Empowerment institute (LPAN) of Malang is in the average with percentage 42% and the level of aggression behavior include in the average degree. From data analysis result, the most percentage include in average category with percentage 45 %.

From the analysis result known on regression analysis is gained the significant value of 0,011. This value is smaller than the obvious percentage of 5 % used in this study. This indicate that there is significant effect between relative depression to aggression based on simple aggression analysis which is done, gained score of effect value percentage r-square gained from analysis result is 0,158. This value indicates that the big effect of relative depression to aggression is 15, 8%, whereas the residue effect is 84, 2% influenced by other factor outside this study. It can strengthen and prove the hypothesis presented, that there is positive effect between relative depressions to aggression behavior of Homeless Kid in Griya Baca the State Children’s Empowerment institute (LPAN) of Malang. Therefore Ho is rejected meaning there is significant relationship between relative depressions to aggression behavior.

BAB I
PENDAHULUAN
 A.Latar belakang
 Pada dasawarsa terakhir kesejahteraan anak harus terus mendapatkan perhatian masyarakat dunia.Mulai dari permasalahan buruh anak, peradilan anak, dan pelecehan seksual pada anak, dan adanya anak jalanan. Salah satunya kesejahteraan anak yang terus berkembang menjadiperhatian dunia adalah masalah anaak jalanan yang semakin banyak Pada kota-kota besar membawa anak jalanan sebagai pemandangan yang tidak asing lagi, dimana terdapat kota-kota besar tidak luput pula banyak anak-anak jalanan dan gepeng yang bekerja meminta-minta bahkan ada yang dengan memaksa jika tidak diberi uang mereka kadang merusak mobil atau kendaraan tersebut. seharusnya pemerintah berusaha memberantas kemiskinan di negara ini, akan tetapi justru jumlah anak jalannan terus meningkat hal ini menunjukan bahwa semakin bertambahnya orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan serta tidak tersedianya suatu lapangan pekerjaan. Anak- anak yang seharusnya mengenyam pendidikan sebagai bekal hidup, memilih mengais rezki di jalan raya, serta bekerja yang membahayakan keselamatan jiwa dengan pekerjaanya yang beresiko untuk anak-anak, baik sebagai pengasong, pengemis, pengamen, penyemir sepatu, tukang parkir, kuli kasar, buruh pasar, kernet, dsb. Anak jalanan ini membutuhkan perhatian khusus karena rawan terhadap perlakuan buruk preman yang ingin mengambil ke untungan dan manfaat dari anak 2 jalanan, juga yang tak kalah memprihatinkan adalah ancaman teradap kelangsugan masa depan anak-anak di masa yang akan datang. Anak jalanan adalah pribadi yang masih belum dewasa (secara fsik dan psikis) yang menhabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakaukan kegiatankegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapatkan tekanan fisik atau mental dari lingkungannya.Umumnya meraka berasal dari keluarga yang perekonomianya lemah.Anak jalanan tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemisikinanan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku agresif.1 kekerasan sudah dikenal oleh manusia sejak beabad-abad lamanya, bahkan sejak adanya manusia, kekerasan sudah menjadi bagian dari kehidupan yang tidak dapat dipisahkan, ia merupakan salah satu sifat hakiki yang dimiliki oleh manusia. Salah satu bentuk perilaku anak jalanan yang kurang dapat di terima secara sosial adalah perilaku kekerasan atau tindakan agresivitas. Berdasarkan fakta yang di temuakn oleh peneliti dari hasil observasi awal pada bulan januari di alun-alun dan di perempatan kota malang, di ketahui bahwa anak jalanan mengungkapakan perasaan kesal dan marahnya dengan tindakan agresivitas, mereka membentak, mengumpat, memakai dan melawan dengan sesama temannya. 1 Ifa.Pemberdayaan Anak Jalanan. Diakses pada tanggal 4 januari 2013 dari http://elmurobbie.wordpress.com/2008/10/23/pemberdayaan anak-anak jalanan/ 3 Selain itu perilaku agresif juga terjadi pada kehidupan anak-anak.Perilaku agresif pada anak dapat terlahir dari generasi sebelumnya yang membawa nuansa kekerasan dalam keluarga.Sebuah penelitian menegaskan bahwa sepertiga jumlah orang tua pelaku kekerasan terhadap anaknya adalah korban dari kekerasan orang tua mereka dimasa lalunya.Tindak kekerasan dengan mengatasnamakan disiplin dan cinta membuat anak belajar mengasosiasikan rasa cinta dan luka secara bersamaan.Perilaku agresif sebagai suatu bentuk kekerasan tidak difahami anak sebagai hal yang salah.2Dari keadaan yang dialami anak jalanan yang semakin ditekan, paling tidak punya, dan akan menjadi pemberontak dengan kekerasan. Sejak krisis tahun 1998, kegiatan anak jalanan di Indonesia semakin meningkat, mulai dari alaun-alun, bioskop, jalan raya, simpang jalan, stasiun kereta api terminal, pasar, pertokoan, dan mall, kondisi anak jalanan semakin terpuruk dan kehidupanya tidak menggembirakan dan akan mempengaruhi tampilan fisik anak tersebutMenurut penjelasan resmi dari pemerintah bahwa anak jalanan Dalam sebuah kota besar di Negara Indonesia banyak sekali tersebar anak jalanan yang jumlahnya sangat besar dan mencapai 4,5 juta. 3 terutama pada kota-kota yang tersebar di Indonesia. Saat ini kota malang sebagai kota pendidikan dan kota pariwisata juga tidak menghindarkan meningkatnya jumlah anak jalanan akibatnya beratnya tekanan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan hidup warga miskin. Berawal dari timbulnya masalah munculnya anak jalanan Ada beberapa aspek yang melatar belakangi 2 Ananta Sari, “ Menyikapi Perilaku Agresif Anak ”, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hal 9 3 Menteri Sosial Anak Indonesia terlantar, berita jatim, (Jakarta), 14 juli 2012,http://www.beritajatim.com 4 munculnya anak jalanan dibeberapa kota besar yang ada di Indonesia, yaitu aspek sosial ekonomi. Untuk mengetahui sosial ekonomi keluarga, maka perlu diketahui aspek apa saja yang mendukung, sehingga bisa diketahui suatu kondisi sosial ekonomi keluarga. Aspek sosial ekonomi yang dimaksud di sini adalah pendidikan, pekerjaan dan pendapatan (ekonomi), juga faktor tradisi.4Kehidupan keluarga yang serba kekurangan mendorong anak untuk turun ke jalan untuk bekerja dan mencari uang, baik untuk diri sendiri maupun untuk kebutuhan orang tua dan keluarga alasan ekonomi menjadi penyebab utama dari sekian banyak anak jalanan. Dari Hasil peneitian yang telah di lakukan oleh Annisapada tahun 2004 menunjukkan bahwa perilaku agresif pada anak jalanan dapat berbahaya. Hal ini bisa di lihat dari kebiasaan-kebiasaan tertentu yang mereka jalani sehari-hari, yang di jadikan indikasi indikasi kecenderungan perilaku agresif tersebut, mengganggu pengendara mobil yang berhenti di persimpangan jalan. Gangguan ini bisa berupa mencaci maki pengendara mobil yang tidak memberikan uang atas jerih payahnya mengamen, menggores mobil dengan uang logam atau dengan alat musik yang di bawa, menggedor-gedor kaca mobil, memasang paku bahkan merampok. 5 Fenomena yang di gambarkan ada beberapa kasus lain peneliti temui pada salah satu anak jalanan di kota malang dengan kasus perebutan lahan parkir. akibat saling berebut lahan parkir, dua kelompok pemuda di Malang terlibat tawuran di saat 4 Yulianingsih, Wiwin, Pembinaan Anak Jalanan di Luar Sistem Persekolahan: Studi Kasus Antusiasme Anak Jalanan Mengikuti Progam Pendidikan Luar Sekolah di Sanggar Alang-alang Surabaya, (Surabaya: Tesis, 2005), hal17. 5Annisa. M, Hubungan Stres Dengan kecendrugan perilaku agresi pada anak jalanan (universitas muhamadyah surakarta Skripsi 2004) 5 bulan Ramadan. Tawuran itu terjadi di kompleks Rumah Toko (Ruko) WOW di Jalan Raya Sawojajar, Kota Malang akibat peristiwa tersebut, satu orang yang belum diketahui identitasnya menderita luka parah dan harus dilarikan ke rumah sakit.6Dari peristiwa ini peneliti menyempulkan bahwa adanya rasa ketidakpuasan yang di alami pada kelompok anak jalanan karena lahan parkir di rebut oleh pihak lain dan merasa hak-hak yang di miliki direbut kelompok lain.dari rasa kekurangan dan merasa tertindas tersebut akan timbul amarah dari anak jalanan dan berujung pada tindakan agresi. Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa salah satu motif perilaku agresif pada anak jalanan adalah keinginan menyakiti orang lain, untuk mengekspresikan perasaan-perasaan negatif, seperti agresi permusuhan, atau keinginan mencapai tujuan yang diinginkan melalui tindakan agresif. 7 Sebagaimana telah kita ketahui bahwa anak adalah aset bangsa yang sangat berharga, karena ditangani hanyalah estafet keberadaan bangsa di masa datang.Namun sebagai aset berharga, tidak semua anak memperoleh haknya untuk dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya anak pada umumnya. Hal ini salah satunya dialami oleh anak jalanan yang karena satu dan lain hal haknya sebagai anak tidak dapat terpenuhi dengan baik. Baik hak untuk memperoleh pengakuan (recognition) maupun hak sebagai manusia yang memiliki harga diri dan martabat 6 Zainudin.,Dua Kelompok Pemuda di Malang Tawuran,beritajatim.com,(Malang ), 13 oktober 2012http://www.beritajatim.com 7 Barbara, Krahe, “ Perilaku Agresif”, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar 2005), hal 17 6 sebagai manusia (human dignity) merekapun terabaikan. Mereka hanya dianggap sebagai sampah masyarakat yang mengotori keindahan dan ketertiban kota. Padahal semua mereka jalani semata-mata karena tidak ada pilihan yang lebih baik yang dapat mereka jadikan alternatif untuk tidak menjadi anak jalanan atau untuk keluar dari jalanan.8Dari fenomena yang di gambarkan bahwa anak jalanan sering merasa di tekan dan perasaan kurang beruntung dalam hidupnya ketidakpuasan menyebabkan membuat anak jalanan mengalami keadaan deprivasi relatif. Menurut Gurr keadaan deprivasi relatif ini bersumber dari perbandingan antara pengalaman dengan harapan yang dimiliki seseorang dan merupakan kondisi yang bersifat relatif. Kondisi deprivasi relatif merupakan kondisi yang sangat menentukan terjadinya agresi antar kelompok, seperti perilaku agresi kolektif Aplikasi yang terkanal dari teori ini adalah dalam menjelaskan Watt’ s riot, suatu kerusuhan terjadi di los angles pada tahun 1967. Pada saat itu, sedang musim panas dan kondisi ini memfasilitasi terjadinya kekerasan kolektif, menurut Berkowitz, dalam kondisi dimana seseorang merasa bahwa kenyataan yang di hadapi berbeda dengan yang dia harapkan ( terdapat deprivasi relatif ) banayak orang yang merasa frustasi. Temperature yang tinggi pada musim panas memperkuat frustasi yang dirasakan individu, terutama pada daerah pedalaman di mana mereka tidakmemiliki AC atau kipas angin. Agresivitas individu menjadi meningkat, menyebar, dan melalui proses fasilitas sosial dapat mengalami taransormasi kolektif. Penjelasn deprivasi 8 Sri Tjahjorini, “Strategi Merubah Perilaku Anak Jalanan”, di unduh 3 Maret 2013, dari http://rudyct.com/PPS702-ipb/09145/sri_tjahjorini.pdf 7 relatif juga dapat diterapakan misalnya untuk kerusuhan Mei 1988 di Jakarta dimana pada saat itu masyarakat sangat frustasi terhadap kondisi sosial, ekonomi, politik di Indonesia.Orang yang mengalami frustasi apabila maksud-maksud dan keinginankeinginan yang di perjuangkan dengan intensif mengalami hambatan atau kegagalan. Sebagai akibat dari frustasi itu akan timbul perasaan jengkel atu perasaan agresif. 9 Anak-anak jenis anak jalanan merupakan kelompok anak yang tidak beruntung.Mereka adalah bagian dari anak-anak bangsa yang tersesat dari peradaban normal.Meskipun jumlah anak jalanan ini masih dikategorikan terbatas, tetapi jumlahnya semakin tahun semakin meningkat. Hal ini mengisyaratkan kepada berbagai pihak untuk mulai menangani kelompok anak jalanan ini sebagai sebuah masalah serius dalam “pendekatan menyeluruh” meliputi aspek pendidikan, sosial, kesehatan dan ekonomi. Upaya perlu segera direalisasikan karena yang dihadapi oleh anak-anak jalanan adalah resiko fisik (rendahnya gizi, kurang tidur, lingkungan tidak sehat), resiko psiko-sosial (tidak ada kasih sayang, relasi sosial tidak sehat, aktifitas eksploitasi oleh orang dewasa), dan resiko tempat kerja (kasus pekerja anak, prostitusi).10 Menurut Kirik Ertanto awalnya anak jalanan tidak langsung masuk dan terjun begitu saja dijalanan. Mereka biasanya mengalami proses belajar bertahap. Mula - mula mereka lari dari rumah, sehari sampai satu minggu kembali, lalu lari lagi selama dua minggu atau tiga bulan, sampai akhirnya benar-benar lari tidak kembali sampai 9 Dalam Sarlito W, et al ., Psikologi sosial , ( Jakarta : Salemba humanika, 2009 ), jilid 1 h. 249 10Agus Salim, “ Pengantar Sosiologi Mikro”, (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008) hal 194 8 selama bertahun-tahun.Setelah dijalanan, proses tahap kedua yang dilalui anak jalanan adalah inisiasi. Biasanya untuk anak jalanan yang masih baru mereka akan menjadi objek pelampiasan anak jalanan yang lebih dewasa. Barang-barang mereka yang relatif masih bagus akan diambil secara paksa. Selain itu, mereka juga akan dipukuli oleh teman sesama anak jalanan yang telah lebih dahulu hidup dijalanan anak- anak yang ada di jalanan itu akan meangalami deprivasi. Sementara mereka kurang beruntung dan saat ini mungkin saja dalam keadaan perut kroncongan, dimaki.Anak-anak yang berada di jalanan itu juga sama dengan kita yang terlahir dari sepasang orang tua, ayah dan ibu. Namun, perjalanan hidup berbicara lain, orang tua kita mampu membawa bahtera rumahtangga menuju dermaga yang dikehendaki, sehingga sampai dengan hari ini kita dapat berbicara, menulis dan membicarakan nasib mereka dalam keadaan sejahtera.Sementara mereka kurang beruntung dan saat ini mungkin saja dalam keadaan perut kroncongan, dimaki, dikejar satpol PP atau dalam ancaman pembunuhan.11 Dari fenomena yang telah di jelaskan sebelumnya bahwa peneliti ingin mengetahui lebih mendalam tentang keadaan deprivasi relatif anak jalanan.Berikut ini hasil wawancara dari salah satu pengasuh anak alanan di griya baca kota malang , inti dari pembicaraannya adalah bahwa tindakan yang mereka lakukan sebagai hasil dari proses imitasi dari lingkungannya baik dari keluarga ataupun proses belajar dari lingkungan serta tidak adanya proses untuk menggunakan perasaannya dalam pengambilan tindakan namun hanya mengedepankan emosinya yang pada akhirnya 11Abd. Chayyi Fanany, “Pesantren Anak Jalanan”, (Alpha, Surabaya 2008),hal 36 9 membuat segala tindakanya menjadi tidak tepat. Anak jalanan melakukan perilaku agresif tersebut karena anak-anak mengalami tindakan kasar atau agresi verbal dari orang tua akibat dari ketidak puasan yang di alami orang tua atas harapan yang tidak terpenuhi dan di latar belakangi anak-anak yang bekerja di jalanan tidak mendapatkan uang yang di harapkan orang tua karena orang tua mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan, akibat dari perlakuan orang tua negatif anak akan mengalami frustasi dan menjurus pada tindakan agresi yaitu dengan mencoba bunuh diri dan melukai tubuhnya sendiri. Dari hasil wawancara tersebut anak jalanan akan mengalami frustasi akibat tindakan orang tua ke pada anak akan mengalami keadan deprivasi yaitu harapan-harapan yang di inginkan tidak tercapai atau anak jalanan mengalami rasa tidak aman dalam lingkungan keluarga.12 Dari hasil observasi yang telah dilakuakan peneliti bahwa penelitian ini di angkat untuk mengetahui keadaan anak jalanan yang semakin tertindas dan sering mengalami keadaan deprivasi relatif akan menggangu mental anak yang akan mengekspresikan dengan perasaan negatif dengan tindakan agresi untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan atau untuk mengurangi keadaan deprivasi relatif . 13 Pengaruh deprivasi relatif terhadap agresi Menurut Tedd Gurr faktor penyebab yang paling dasar terjadinya tindakan perilaku agresi atau kekerasan masa, politik, revolusi adalah timbulnya ketidakpuasan sebagai akibat adanaya penghayatan atau persepsi mengenai sesuatu yang hilang yang disebut deprivasi relative. Gurr 12 Hasil Wawancara Triyanto.Pengasuh (LPAN Griya Baca Kota Malang ), 28 mei 2013,. 13Hasil observasi. Alun-alun kota Malang . 25 april 2013 10 mendefinisikan deprivasi relatif adalah suatu kesenjangan yang di persepsikan anatara nilai harapan (value expectation) dan nilai keampuan (value capabilities).Nilai (value) adalah peristiwa atau kejadian, obyek dan kondisi yang di perjuangkan orang. Gurr menyatakan bahwa depriavasi relatif adalah sinonim dengan frustasi yag menyebabkan timbulnya agresi.14 Dalam penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu bahwa deprivasi relatif akan berpengaruh terjadinya agresi dalam penelitian yang dilakukan oleh :Bayu Setyoashih DP, Karyono, Endang Sri Indrawati tentang pengambilan keputusaan membunuh suami pada narapidana di lapas wanita kota Malang:penelitian ini menggunakan teknik wawancaraMenunjukkan bahwa Ketegangan-ketegangan yang muncul mengakibatkan subjek terluka,kecewa dengan perilaku suaminya. Karena jalan berpisah dengan suaminya tidak berhasil, setiap subjek merasa putus asa untuk mencari alternatif atau pilihan lain, sedangkan ketegangan emosi sudah sangat kuat dirasakan oleh subjek.Emosi yang memuncak ini berpengaruh pada menurunnya fungsi kognitif subjek dalam mengelola informasi, memilih alternatif yang efektif untuk konflik yang dihadapi. Menurunnya fungsi kognitif ini menyebabkan subjek pada satu kesimpulan pilihan yaitu mengakhiri ketegangan dengan menghilangkan sumber stresor atau membunuh .Pilihan untuk membunuh semakin kuat ketika muncul energi pendorong yang kuat pula.Energi pendorong tersebut berupa peristiwa pemicu yang meledakkan emosi subjek. Peristiwa pemicu ini dialami olehSubjek 14Dalam Tri dayaksini, et al., Psikologi sosial, (Malang : UMM Press, 2009 ) cet 4 h. 202-203 11 mengalami pertengkaran dan tekanan sosial sesaat sebelum melakukan pembunuhan, sedangkan subjek mengalami kekecewaan karena harapan terbesarnya untuk membiayai acara membalas lamaran untuk anaknya digagalkan oleh suami (frustrasi akibat deprivasi relatif).15 Dari gambaran beberapa penelitian yang telah di lakukan beberapa peneliti di atas bahwa subyek yang mengalami keadan deprivasi relatif akibat dari harapan yang di gagalkan oleh suaminya. Dan subyek mengekspresikan dengan perilaku agresif yaitu membunuh suaminya. Dalam penelitian lainya yang dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu yang telah di lakukan oleh: Faturochman tentang Deprivasi relatif rasa keadilan dan kondisi psikologis buruh pabrik. Penelitian ini membhas tentang kondisi deprivasi relatif pada buruh pabrik, dalam penelitian ini menggunakan 103 subyek dan menggunakan skala dan wawancara sebagai alat ukur, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara rasa keadilan dan keadaan deprivasi relatif.Dari hasil analisis data di peroleh bahwa banyak pekerja yang mengalami keadaan deprivasi relatif di perusahaan.Gejala psikologis yang timbul akibat keadaan deprivasi relatif yang cukup menonjol adalah kecewa, bosan, sedih dan marah.16 Dari penelitian ini dapat di simpulkan bahwa keadaan deprivasi relatif akan menimbulkan gejala psikologis yang negatif seperti kecewa, basan, sedih dan marah karena pekerja mengalmi ketidakpuasan. 15 Bayu Setyoashih DP, Karyono, Endang Sri Indrawati tentang pengambilan keputusan membunuh suami pada narapidana di lapas waniata kota Malang: Universitas Diponegoro (Jurnal.,2006) 16 Fatturochman.Psikologi Deprivasi Relatif Rasa keadilan kondisi psikologis buruh pabrik (jurnal,Universitas Gajah Mada, 1998) h,15 12 Fenomena yang digambarkan di kota Malang membuat peneliti ingin mengetahui lebih jauh tingkat agresi pada anak jalanan dan sejauhmana tingkat deprivasi relatif yang dialami oleh anak jalanan. Anak jalanan di kota Malang yang di jadikan subyek karena anak jalanan sering mengalami keadaaan deprivasi seperti kekurangan, ketidakpuasan, dan kekecewaan yang menyebabkan timbulnya perilaku agresi. Hal ini di maksud agar dapat mengetahui solusi yang dapat menghindarkan terjadinya perilaku agresif seperti, tawuran. Atupun percekcokan, yaitu akibat dari keadaan deprivasi relatif yang di alami anak jalanan yang akan menimbulakn perilaku agresi. Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti melakukan penelitian ini untuk mengetahui “Pengaruh Deprivasi Relatif Terhadap Perilaku Agresi Pada Anak Jalanan di Lembaga Pemberdayaan Anak Negeri (LPAN) Griya Baca Kota Malang” B.Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang masalah. Identifikasi masalah, dan pembatasan masalah tersebut diatas maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagian berikut : 1. Bagaimana tingkat deprivasi relatif pada anak jalanan di lembaga pemberdayaan anak negeri (LPAN) Griya Baca Kota Malang ? 2. Bagaimana tingkat agresi pada anak jalanan di lembaga pemberdayaan anak negeri (LPAN) Griya Baca Kota Malang kota malang? 13 3. Apakah ada pengaruh signifikan antara Deprivasi relatif terhadap agresi pada anak jalanan di lembaga pemberdayaan anak negeri(LPAN) Griya Baca Kota Malang? C. Tujuan penelitian 1. Untuk mengetahui tingkat deprivasi relatif pada anak jalanan di lembaga pemberdayaan anak negeri (LPAN) Griya Baca Kota Malang 2. Untuk mengetahui tingkat perilaku agres pada anak jalanan di lembaga pemberdayaan anak negeri (LPAN) Griya Baca Kota Malang 3. Untuk mengetahui pengaruh antara deprivasi relatif terhadap perilaku agresi pada anak jalanan di lembaga pemberdayaan anak negeri (LPAN) Griya Baca Kota Malang D.Manfaat penelitian 1. Manfaat Teoritis Dengan penelitian ini dapat dijadikan wadah untuk pengembangan diri dan pemantapan pengetahuan serta untuk penerapan psikologi sosial danpsikologi perkembangan. 2. Manfaat Praktis a. Untuk lembaga Dengan adanya penelitian ini dapat memberikan tambahanpengetahuan tentang deprivasi relatif dan perilaku agresi. 14 b. Untuk peneliti lanjutan Memberikan pengetahuan dan tambahan tentang materi ini dan untukdijadikan bahan acuan apabila berminat dalam pembahasan yang sama.


Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Pengaruh deprivasi relatif terhadap perilaku agresi pada anak jalanan di Lembaga Pemberdayaan Anak Negeri (LPAN) Griya Baca Kota Malang" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment