Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Wednesday, June 14, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Dinamika resiliensi istri pertama

Abstract

INDONESIA:
Pernikahan poligami adalah ikatan antara beberapa orang seperti laki-laki memiliki istri lebih dari satu dalam satu waktu. Mayoritas pernikahan poligami dilakukan secara sirri karena banyak perempuan yang menolak adanya pernikahan poligami. Ketika hal itu terjadi, dapat dipastikan seorang istri pertama tidak mudah untuk menerima sehingga mengakibatkan dampak psikologis. Bukan hanya itu saja, mayoritas pernikahan poligami mengabaikan kesetaraan dan keadilan gender. Sehingga istri pertama tidak mendapatkan hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan. Dalam hal ini, seorang istri pertama membutuhkan sebuah penerimaan diri atau penyesuaian diri. Kontruks yang terkait dengan penyesuain diri adalah resiliensi. Resiliensi merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki individu untuk bangkit kembali dari situasi yang menekan. Dengan faktor protektif, individu dapat mencegah faktor resiko yang terjadi dalam diri individu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika resiliensi istri pertama yang di poligami oleh suami, yang mana pernikahan tersebut tanpa adanya izin atau tanpa sepengetahuan dari istri pertama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan perspektif feminis. Subjek dalam penelitian ini sebanyak dua orang dengan kriteria yang telah ditentukan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kedua subjek dalam mencapai suatu resiliensi. Hal ini di pengaruhi oleh berbagai macam seperti aspek-aspek resilien yang di miliki individu, dukungan sosial, pola pikir dan lain sebagainya. Pernikahan poligami yang di alami oleh kedua subjek tidak lepas dari suatu ketidakadilan, baik dalam hal waktu, materi, kasih sayang dan cinta. Bahkan kedua subjek mengalami suatu ketidakberdayaan dan ketidaksetaraan gender. Dimana hal itu terjadi ketika suami mengambil keputusan secara sepihak tanpa adanya musyawarah dari seoarang istri. Tetapi adanya faktor protektif dalam resiliensi yang dimilikinya, kedua subjek mampu menyeimbangi faktor resiko dari hal-hal yang telah di alaminya. Seperti kekuatan religi di dalam diri individu juga memberikan kekuatan untuk bertahan dan mencapai tahap resiliensi.
ENGLISH:
Polygamy marriage is a bond between many people like a man have more than one wife at once. Many of polygamy marriage is done by sirri because less of women accept it. If that happen, the first wife must be not easy to accept it so it will cause psychology impact to her. Not only that, many of polygamy marriage ignoring gender equality. So that the first wife didn’t get her right. In this case, the first wife need a self-acceptance. The related construct with the self adjustment is a resilience. Resilience is a power in individual to rise up again. With protective factor, individual can prevent the risk that happen in the inside of the individual.
The purpose of this research is to know the first wife dynamic resilience who polygamed by her husband, which that marriage is without approval from the first wife. This research used qualitative descriptive method with the feminis perpective. This research used two subject with the specified criteria.

The result of this research shown there are difference between the two subject to achieve resilience. This is affected by many thing like individual resilience aspect, sosial endorsement, mindset, and etc. Polygamy marriage that happen on the two subject is not out from time, money, and love. Even the two subject experienced powerlessness and gender inequality. Where that thing happen when her husband take a decision by himself. But with the protective factor from her resilience, the two subject kan equalize risk factor from the thing that experienced by her. Like religious power from the inside of the individual
also give the power to last and achieve resilience.


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna dan memiliki beragam keistimewaan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. AlQur’an surat At- Tin ayat 4: َي ِ ل ِ اف َ س َ َل ف ْ أَس م اه َ ن ْ د َ د َ ر . مُثَّ “Sesungguhnya kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik- baiknya”.1 Kesempurnaan manusia di tandai dengan memiliki akal dan perasaan. Dengan memiliki kesempurnaan tersebut, bukan berarti manusia adalah manusia yang selalu bahagia. Manusia juga terkadang menjadi sedih, marah dan bahkan menjadi stress ataupun depresi sesuai stimulus yang di dapatkan. Jika manusia mendapatkan stimulus positif, otomatis respon yang dirasakan adalah senang, gembira, bahagia dan bersyukur. Tetapi jika manusia mempunyai masalah atau mengalami suatu musibah, maka secara otomatis mereka merespon dengan kesedihan bahkan mengalami stress dan depresi karena tidak mampu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut. Konstruk yang terkait dengan kemampuan manusia dalam melakukan penyesuaian antara lain adalah resilience2 . 1 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya. 2005. Bandung: Diponegoro. h., 479 2 Sholichatun, Y. Tanpa Tahun. Hidup setelah menikah, mengurai emosi positif dan resiliensi pada wanita tanpa pasangan. Jurnal Psikologi. Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang., h. 1 2 Studi resiliensi mencoba mencari penjelasan mengapa sebagian individu menunjukkan kemampuan beradaptasi yang positif pada konteks keadaan yang menekan dan terdapat individu yang tidak mampu menghadapinya sehingga terjebak pada perilaku yang patologis3 . Resilien merupakan sebuah atribut penting yang menjadi perpaduan antara kemampuan-kemampuan dan karakteristik-karakteristik yang berinteraksi secara dinamis untuk memberikan ketegaran individu dalam menghadapi segala tantangan dalam kehidupan secara sukses4 . Seperti yang dinyatakan Werner bahwa banyak faktor yang berkontribusi pada resiliensi seseorang5 . Reivich & Shatte mengungkapkan beberapa kemampuan yang menyumbang pada resiliensi individu yaitu: regulasi emosi, pengendalian dorongan, optimisme, analisis kausal, empati, kemampuan untuk meraih apa yang diinginkan, dan self-efficacy6 . Pada penelitian Manara ditemukan bahwa self-efficacy berpengaruh cukup besar terhadap resiliensi seseorang yaitu 39,4% dari self-efficacy berkontribusi pada resiliensi individu7 . Sedangkan hasil penelitian Hasyim mengungkapkan bahwa social support dapat 3 Leadbeater, B., Dodgen, D., & Solarz A. 2005. The Resilience Revolution: A Paradigm Shift for Resilience Policy, Dalam Peters dkk., Resilience in Children, Families and Community: Linking Context to Practice and Policy. New York: Plenum Publisher. h., 47 4 Sholichatun, Y. Tanpa Tahun. h., 1. 5 Werner, Emmy, E. 2005. Resilience Research: Past, Present, and Future. Dalam Peters dkk., Resilience in Children, Families and Community: Linking Context to Practice and Policy. New York: Plenum Publisher. h., 5 6 Revich, K., & Shatte, A. 2002. The resilience factor: seven essential skill for overcoming life’s inevitable obstacle. New York: Random House. h., 36 7 Manara, Muhammad Untung. 2008. Pengaruh self-efficacy terhadap resiliensi pada mahasiswa fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Psikologi. Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. h., 79 3 berkontribusi pada resiliensi seseorang sebesar 33% dan 67% nya merupakan faktor lain yang melatarbelakangi timbulnya resiliensi8 . Resilien juga telah banyak dikaji terutama dalam hubungannya dengan transisi-transisi dari stres-stres berat termasuk stres yang dimunculkan oleh transisi developmental seperti awal masuk sekolah, pengasuhan anak, dan lainlain. Transisi juga muncul dari kejadian-kejadian eksternal yang tidak diharapakan seperti bencana, PHK atau krisis ekonomi nasional yang mempengaruhi munculnya problem di tingkat individu dan keluarga. Bentukbentuk situasi stress semacam ini dan bentuk-bentuk stress lain telah menempatkan individu dalam kondisi beresiko yang dapat memunculkan simpton-simpton fisik maupun psikologis9 . Pernikahan adalah dua orang pria dan wanita yang mengikat sebuah komitmen untuk saling berbagi, menghormati dan saling mencintai satu sama lain. Tetapi ketika sebuah pernikahan itu menjadi ikatan antara beberapa orang seperti suami yang beristrikan dua atau lebih seorang istri maka itu disebut poligami. Terdapat beberapa wanita yang menerima konsep poligami dalam keluarganya. Namun sangat banyak pula wanita yang menolak terjadinya poligami dalam keluarganya dengan berbagai alasan yang diyakininya10 . Dalam aplikasinya, poligami sangat membutuhkan penerimaan diri seseorang terutama 8 Hasyim, Rizkia Noor Faizza. 2009. Pengaruh dukungan sosial terhadap resiliensi napi remaja di Lembaga Pemasyarakatan Anak (Lapas Kelas IIA Anak) Blitar. Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Psikologi. Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. h., xii 9 Sholichatun, Y. Tanpa Tahun. Hidup setelah menikah, mengurai emosi positif dan resiliensi pada wanita tanpa pasangan. Jurnal Psikologi. Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang., h. 1-2 10 Susanti, D.P, Siti, M dan Anita, Z. Tanpa Tahun. Penerimaan diri pada istri pertama dalam keluarga poligami yang tinggal dalam satu rumah. Jurnal Psikologi. Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma. h., 2 4 wanita yang suaminya menikah lagi atau berada di posisi sebagai istri dari lakilaki yang sudah menikah. Penerimaan diri pada istri pertama, kedua, ketiga dan seterusnya akan berbeda. Pada istri pertama tentu saja akan lebih sulit dari pada istri-istri lainnya11 . Tetapi berbeda lagi ketika seorang istri yang tidak mengetahui bahwa ia di poligami oleh sang suami, dan ketika sang istri mengetahuinya, dipastikan ia tidak dapat menerima kenyataan bahwa ia di poligami. Dalam hal ini, penting sekali adanya penerimaan diri dan penyesuaian oleh istri pertama ketika ia di poligami. Tetapi tidak mudah dalam menerima kenyataan tersebut, sehingga mengakibatkan seorang istri pertama rentan mengalami stress dalam menjalani kehidupan. Pernikahan yang berujung pada poligami tidak lepas dari keadilan dan ketidakadilan. Karena salah satu syarat seorang suami untuk melakukan poligami adalah adanya sikap adil terhadap istri pertama, kedua, ketiga dan lainnya. Seperti dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 3: طموا ْسِ مق َّل ت أََّ ْ مم ت ْ ف ْن خِ ِ إ َ و ۟ وا م ٱنكِح َ ف َٰ ى َ َٰم َ ت َ َث ِِف ۟ ٱلْي َٰ ث ملَ َ ََٰ و َْن ث َ م ِ آء َ ِّس ِ ٱلن َ ِّن ِ َب لَ مكم م ا طَا َ م َٰ َ ب م ر َ و َ ۟ لموا ع ْدِ َع َّل ت أََّ ْ مم ت ْ ف ْن خِ ِ إ َ ۟ ف ْ مكم م ن َٰ َ ْي ْت أَ لَ َك َ ا م َ م ْ أَو ً ة َ د َٰحِ َ َو ۟ ف ََٰ ْن َك أَد ِ ل َّل َٰ ذَ ۟ أََّ ولموا م َع ت . “Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kami mengawinnya) maka kawinlah perempuan-perempaun (lain) yang kamu senangi; dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil 11 Susanti, D.P, Siti, M dan Anita, Z. Tanpa Tahun. h., 2 5 maka (kawinlah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”12 . Seperti yang terlihat secara nyata dalam literal terjemahan, fokus ayat tersebut adalah anjuran pada dua hal; pertama, berbuat adil kepada anak yatim, kedua, ketika berpoligami juga harus didasarkan pada moralitas keadilan. Jika khawatir tidak mampu adil, seharusnya mencukupkan diri dengan satu istri saja agar tidak terjadi kezaliman dan kenistaan13 . Sangat jelas sekali bahwa terjemahan dari ayat di atas mengatakan kalau tidak mampu adil, sebaiknya memiliki satu istri saja. Ketika suami dapat berlaku adil, maka tidak ada yang disesali dalam pernikahan poligami tersebut. Sedangkan suami yang tidak bisa berlaku adil, akan menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan dan berdampak psikologis. Seperti seorang suami yang tidak dapat adil dalam hal kasih sayang. Jika suami lebih berpihak dan memberikan kasih sayang kepada istri kedua, akibatnya istri pertama sakit hati, stress bahkan tidak mampu mempercayai suaminya lagi atau bahkan tidak akan mempercayai lagi kepada orang yang berjenis laki-laki (trauma terhadap pernikahan dan lakilaki) atau sebaliknya. Indonesia sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim sudah menerapkan aturan yang ketat dalam poligami. Menurut Undang-undang Perkawinan, suami boleh berpoligami kalau mampu berlaku adil dan ada izin dari istri, dan izin itu bisa diperoleh dengan tiga syarat: kalau istri mandul, istri 12 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya. 2005. Bandung: Diponegoro. h., 61 13 Kodir, Faqihuddin Abdul. 2005. Memilih monogamy pembacaan atas Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Pustaka Pesantren: Yogyakarta. h., 50 6 sakit berkepanjangan, istri tidak dapat melaksanakan kewajiban sebagai istri. Sayangnya, peraturan ini tidak berjalan efektif, mungkin karena tidak ada polisi yang mengawasi suami yang berpoligami. Kebanyakan suami berpoligami bukan karena istrinya tidak punya anak atau sakit, atau tidak melakukan kewajiban, melainkan semata karena tidak mampu mengekang keinginan syahwatnya14 . Adapun pengakuan dari suami-suami yang menikah lagi yaitu sebagai berikut, pengakuan Puspawardoyo, seorang pengusaha tekenal dengan rumah makannya yaitu “wong solo”, yang mana ia juga melakukan sebuah poligami. Hal ini dikutip dalam novel berbagi suami, ia mengakui kalau ia mampu dalam hal materi dan spiritual sehingga ia berkewajiban untuk berpoligami agar menjadi kebutuhan bersama antara dia dan istri-istrinya. Maksud dari kebutuhan tersebut adalah bisa berbagi materi dan spiritual serta berbagi beban. Ia juga mengaku bahwa sudah cukup adil dalam hal materi, meskipun hal tersebut tidak bisa diselesaikan secara matematis. Sedangkan dalam membagi cinta dengan adil dirasa sangat sulit, karena itu tergantung dari bagaimana seorang istri bisa menarik perhatian laki-laki15 . Sedangkan berbeda lagi pengakuan dari seorang pelawak dari srimulat yaitu Mamiek, ia mengatakan bahwa memang sudah kodrat dan takdirnya untuk berpoligami. Almarhum kakeknya dahulu memiliki dua belas istri dan ayahnya mempunyai enam istri. Mamiek mengibaratkan adil sebagai keikhlasan atau menerima apa adanya. Ia berkata bahwa mencintai semua istrinya. Mamiek juga 14 Dinata Nia. 2006. Berbagi suami, fenomena poligami di Indonesia. Jakarta: Gramedia. h., 9 15 Dinata Nia. 2006. h., 20-21 7 mengalami masa-masa sulit saat istri pertamanya tidak mengizinkannya menikah lagi dan ia mengerti keberatan istrinya tersebut. “Pertama-tama enggak diizinkan. Siapa sih yang mengizinkan suaminya direbut orang?” katanya tanpa mengharapkan jawaban. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya ia mendapatkan izin menikah lagi empat tahun kemudian. Namun ia harus benar-benar bisa membuktikan bahwa ia menikah lagi bukanlah sematamata soal nafsu. Ada masalah yang disebut Mamiek sebagai “Faktor X”, yang hanya diketahui oleh ia dan istri pertamanya saja16. Kasus lain dari seorang lakilaki yang karena pergaulan dan kehidupan ekonomi yang membuat ia menikah lagi. Dari kasus tersebut, faktor seorang laki-laki berpoligami bukan hanya karena faktor pelayanan batin istri yang kurang memuaskan tetapi karena faktor lingkungan dan ekonomi yang mendukung sehingga seorang laki-laki tersebut melakukan poligami. Berbeda lagi dari pernyataan seorang istri yang merasa dikhianati suaminya karena telah mengambil istri kedua tanpa seizinnya. Padahal, menurutnya ia memegang surat perjanjian madunya bahwa perkawinan itu tidak akan pernah terjadi tanpa izin darinya. Ia merasa menjadi sangat serba salah atas perasaan curiga yang tidak mampu ia tekan. Sejak suaminya membagi cinta dan menikah lagi ia telah kehilangan kepercayaan kepada suaminya, sesuatu yang sama sekali tidak ia kehendaki17 . Meskipun pernikahan poligami ini menginjak tahun keempat, caranya mengemukakan deritanya seolah-olah pernikahan poligami itu baru terjadi kemarin sore. Biasanya ia selalu terlihat ceria baik 16 Dinata Nia. 2006. h., 32-33 17 Kodir, Faqihuddin Abdul. 2005. Memilih monogamy pembacaan atas Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Pustaka Pesantren: Yogyakarta. h., xxxvii 8 lewat telepon, SMS, atau pertemuan langsung, tetapi dengan seketika musnah berganti dengan tangisan tertahan dan rasa putus asa ketika membicarakan soal suaminya dan akibat yang ditinggalkannya kepada keluarga18 . Kasus lain pada seorang wanita yang mendapati suaminya berpoligami dengan temannya sendiri. Dia (istri pertama) kuliah di IAIN. Dia adalah seorang aktivis kampus yang tegar, memiliki harga diri yang tinggi, pintar, berani dan lumayan keras. Akan tetapi, penghianatan suaminya untuk berpoligami telah menjatuhkan mental dan kepribadiaannya. Suatu hari ia memotong rambutnya yang semula panjang tergerai. Lalu yang biasanya cukup pakai lipstik, saat itu ia jadi rajin menggunakan make up dan baju dengan model yang tidak biasa ia gunakan. Tentu saja penampilannya menjadi sangat lucu dan aneh. Poligami yang terjadi kepada dirinya telah menghilangkan jati diri dan kepribadiannya19 . Dari beberapa kasus diatas, istri pertama korban poligami bukan tak berusaha untuk merebut kembali suaminya. Seorang perempuan korban poligami menyatakan bahwa segala usaha dilakukan dengan sepenuhnya dan mengorbankan banyak hal. Berusaha bersabar adalah salah satunya jawaban yang ia punya dalam menghadapi situasi itu. Kesabaran itu biasanya dipertahankan dengan alasan untuk melindungi anak-anaknya20 . Pada fenomena tersebut, seorang istri pertama bisa saja menjadi individu yang bangkit dari situasi tidak adil yang dilakukan oleh suami yang berpoligami tanpa seizinnnya. Dan sebagian wanita yang mengalami hal tersebut dapat 18 Kodir, Faqihuddin Abdul. 2005. h., xxxvii 19 Kodir, Faqihuddin Abdul. 2005. h., xI 20 Kodir, Faqihuddin Abdul. 2005. h., xI 9 menjadi fenomena yang traumatik, dan memberikan efek melemahkan diri. Berbagai kondisi psikologis yang di alami oleh istri pertama pun sangat beragam, seperti marah, stres, tak berdaya dan bahkan melemahkan dirinya atau merendahkan dirinya karena keadaan yang tertekan. Sebagian besar istri pertama, awalnya akan rentan mengalami hal tersebut, karena merasa dihianati oleh suami. Tetapi dalam perjalanan waktu, konsep penilaian dirinya menurun. Self-esteem-nya merendah, kepercayaan diri juga menghilang. Istri pertama akan bertanya-tanya kekurangan yang dimiliki istri pertama, mulai dari segi fisik, penampilan atau segi pelayanan kepada suami. Begitu pula dengan berjalannya waktu, istri pertama akan menuntut sebuah keadilan atas tindakan suami melakukan poligami. Baik keadilan dalam harta, kasih sayang, waktu dan lain sebagainya yang seharusnya menjadi haknya. Sehingga dalam hal tersebut, pentingnya reseliensi pada istri pertama dalam menjalani kehidupan. Bagaimana ia bertahan dan berkembang ketika suami membagi kasih sayang kepada istri lain atau bahkan suami memberikan kasih sayang lebih untuk istri kedua atau ketiga dan lainnya daripada untuk istri pertama. Resiliensi memungkinkan seorang istri pertama dapat mengatasi kesulitan yang dihadapi, sehingga dapat mengurangi beban yang ditanggung serta dapat hidup secara normal kembali. Seperti yang sudah diungkapkan di atas bahwa setiap orang memiliki kapasitas resiliensi dalam dirinya. Tetapi, resiliensi dapat terlihat dengan jelas apabila seseorang berada pada tantangan atau masalah. Semakin seseorang berhadapan dengan banyak tantangan dan 10 hambatan, maka akan semakin terlihat apakah ia telah berhasil mengembangkan karakteristik resiliensi dalam dirinya atau tidak21 . Dari latar belakang di atas, peneliti mencoba untuk melakukan penelitian untuk mengetahui dinamika resiliensi pada istri pertama. Dengan mengambil desain penelitian riset feminis dari para wanita yang menjadi korban para suami yang berpoligami tanpa adanya izin dari istri pertama. Maka judul penelitian ini adalah “Dinamika Resiliensi Istri Pertama”. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana dinamika resiliensi pada istri pertama dari suami yang berpoligami? 2. Bagaimana faktor protektif dari istri pertama untuk menghadapi faktor resiko dalam resiliensi pada istri pertama dari suami yang berpoligami? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui dinamika resiliensi pada istri pertama dari suami yang berpoligami. 2. Untuk mengetahui faktor protektif dari istri pertama untuk menghadapi faktor resiko dalam resiliensi pada istri pertama dari suami yang berpoligami. 21 Bobey, Mary. (1999). Resilience : The ability to Bounce Back from Adversity. American Academy of Pediatric. 11 1.4 Orisinalitas Penelitian 1. Penelitian Resiliensi Sebelumnya Adapun penelitian resiliensi sebelumnya beserta hasilnya yang dapat peneliti temukan adalah: a. Manara, Muhammad Untung (2008) yang berjudul “Pengaruh SelfEfficacy Terhadap Resiliensi Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (Uin) Malang” dengan hasilnya yaitu selfefficacy berpengaruh cukup besar terhadap resiliensi seseorang yaitu 39,4% dari self-efficacy berkontribusi pada resiliensi individu. b. Hasyim, Rizkia Noor Faizza (2009) yang berjudul “Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Resiliensi Napi Remaja di Lembaga Pemasyarakatan Anak (Lapas Kelas IIa Anak) Blitar” dengan hasilnya yaitu social support dapat berkontribusi pada resiliensi seseorang sebesar 33% dan 67% nya merupakan faktor lain yang melatarbelakangi timbulnya resiliensi. c. Hawabi, Agus Iqbal (2011) yang berjudul “Pengaruh Resiliensi Terhadap Juvenile Delinquency Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang” dengan hasilnya yaitu Resiliensi mempunyai pengaruh yang cukup segnifikan terhadap Delequency. d. Rahmawati, Alfia Puji (2012) yang berjudul “Perbedaan tingkat resiliensi pada remaja di SMA DR. Musta’in Romly Payaman Lbetweenan. (Studi komparasi antara remaja dari keluarga yang orang tuanya menjadi TKI dengan keluarga yang orang tuanya bukan TKI)” dengan hasilnya yaitu tidak ada perbedaan tingkat resiliensi antara remaja dari keluarga yang 12 orang tuanya menjadi TKI dengan remaja dari keluarga yang orang tuanya bukan TKI. Proses pembentukkan resiliensi remaja dari keluarga yang orang tuanya menjadi TKI ini dibentuk oleh beberapa faktor yang mempengaruhi resiliensi, antara lain dukungan sosial, optimisme, coping yang tepat, konsep diri yang positif, penyesuaian diri yang tepat terhadap perubahan, dan efikasi diri. 2. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki tema yang sama dengan empat penelitian sebelumnya yang berada di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Adapun hasilnya berbeda dengan penelitian yang peneliti lakukan saat ini. Pada penelitian yang dilakukan oleh Manara (2008) hasilnya mengatakan self-efficacy berpengaruh cukup besar terhadap resiliensi seseorang yaitu 39,4% dari self-efficacy berkontribusi pada resiliensi individu. Begitu juga pada penelitian Hasyim (2009) yang mana hasilnya mengatakan bahwa adanya pengaruh dukungan sosial terhadap resiliensi sebesar 33% dan 67% nya merupakan faktor lain yang melatarbelakangi timbulnya resiliensi. Sehingga asalah satu faktor untuk menjadi individu resilien yaitu adanya dukungan sosial dan self-efficacy. Pada penelitian ini juga menyebutkan bahwa dukungan sosial dan self-efficacy berpengaruh terhadap tingkat resiliensi seorang inidividu. Walaupun masih banyak faktor lain yang juga ikut mempengaruhinya. 13 3. Keistimewaan Penelitian Resiliensi ini a. Kuantitatif Seperti pada penelitian sebelumnya, keempat peneliti resiliensi di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Fakultas Psikologi menggunakan metode kuantitatif. Dimana teknik analisis data menggunakan bantuan spss dan hasilnya berupa angka. Sehingga kurang adanya pendalaman dalam tema resiliensi dalam diri individu itu sendiri. b. Netral Penelitian resiliensi yang dilakukan oleh Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan perspektif feminis, sehingga hasilnya berbeda dengan penelitian resiliensi yang netral pada umumnya seperti menggunakan metode kuantitaif. Sedangkan penelitian ini yang menggunakan metode kualitatif yang mendalami bagaimana resiliensi seseorang dengan dikuatkan oleh metode riset feminisme, membuat peneliti mengetahui bagaimana pandangan resiliensi dalam diri seorang wanita yang telah berjuang untuk bangkit dari keterpurukan dan ketidakadilan. Jadi dapat diketahui bahwa keistimewaan penelitian ini dilihat dari sebuah pendalaman dalam resiliensi pada diri seseorang dan di dukung dengan metode riset feminisme. 1.5 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan keilmuan baik dari aspek teoritis maupun praktis, diantaranya: 14 1. Manfaat Teoritis Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan masukan yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu psikologi, khususnya psikologi sosial dan psikologi perempuan dengan memberikan gambaran yang berhubungan dengan resiliensi dari istri pertama dari suami yang berpoligami. 2. Manfaat Praktis Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan informasi, memberikan wawasan dan pemahaman yang menyeluruh bagi masyarakat guna memahami tentang penerimaan diri pada wanita yang menjadi istri pertama dari suami yang berpoligami. Hasil penelitian ini juga diharapkan cukup relevan untuk menjadi pertimbangan bagi kaum lelaki yang akan melakukan poligami.


Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Dinamika resiliensi istri pertama" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini

DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment