Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, June 12, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Transformasi backpacker dalam aktivitas travelling backpacking.

Abstract

INDONESIA:
Fenomena backpacking tidak hanya dianggap sebuah tren sesaat, tetapi telah menjadi suatu media untuk melakukan transformasi, dari seorang individu yang awam dengan backpacking menjadi seorang backpacker merupakan suatu hal yang tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui serangkaian proses menuju transformasi backpacker. Terdapat tiga temuan proses menuju transformasi backpacker yakni rasa penasaran (curiousity), pemahaman kondisi, dan pemaknaan pengalaman sebagai bentuk dari transformasi. Hal ini perlu untuk diketahui bahwa seorang backpacker tidak hanya dilihat dari penampilan dan pemilihan destinasi saja, tetapi juga pada sikap dan perilakunya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Subyek yang diteliti sebanyak 3 orang spesifikasinya adalah seorang backpacker yang sudah melakukan perjalanan backpacking lebih dari satu tahun. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara sebagai metode utama dan observasi sebagai metode pelengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi backpacker merupakan hasil pemaknaan dari aktivitas backpacking, yang terdiri dari dua bentuk transformasi yakni pertama transformasi diri, meliputi kebersyukuran, keberanian, kemandirian, penampian diri, dan eksistensi diri yang kedua transformasi relasi sosial baru meliputi sikap altruis, sikap toleransi, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan orang baru.
ENGLISH:
Backpacking phenomenon is not only considered as a temporary trend, but it also has become a medium for transformation, from an individual who is unfamiliar with backpacking to be a real backpacker. It is something that does not happen suddenly, but it occurs through a series of processes of backpacker transformation. There are three findings of backpacker transformation processes, those are; curiosity, understanding the condition, and the meaning of experience as a form of transformation. It is necessary to know that a backpacker is not only seen from the appearance and the selection of destinations, but also in changing attitudes and behavior.
This study used a qualitative approach with the design of phenomenology. The subjects studied were three backpackers who had done a backpacking trip for more than one year. The data is collected by interviewing techniques as the primary method and observation as a complementary method. The results showed that the backpacker transformation is an understanding of the essence of backpacking, which consists of two forms: first, self-transformation, covering gratitude, courage, self-reliance, self-appearance. The second form is self-existence, and both new social relation transformations covering attitude altruist, tolerance, and ability to adapt the environment and new people.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Traveling pada era saat ini sudah menjadi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat, beberapa orang melakukan traveling untuk mengisi waktu luang atau refreshing, mereka akan meluangkan waktu serta biaya untuk memperoleh kepuasan ketika melakukan perjalanan. Kebutuhan untuk melakukan liburan memunculkan beragam model travelling sehingga seseorang dapat dengan bebas memilih model travelling yang akan dilakukan. Penelitian ini fokus pada model perjalanan berpergian dengan cara mengatur dan membuat alur perjalanannya secara mandiri, dengan mengusahakan biaya seminim mungkin, model perjalanan tersebut lebih dikenal dengan istilah backpacking, model perjalanan ini begitu diminati oleh beberapa orang yang ingin menikmati waktu luangnya salah satu alasannya yakni biaya yang digunakan untuk backpacking cukup minim dan tidak membuat kantong kering, serta menjadikan wisata sebagaian dari hidupnya, pemilihan model perjalanan backpacking sampai dilakukannya aktivitas perjalanan backpacking oleh seseorang tidaklah tiba-tiba terjadi, oleh karena itu hal ini yang menjadikan salah satu pertanyaan yang mendorong penelitian ini. 2 Backpacking semakin populer dengan banyaknya media informasi yang menyuguhkan tulisan-tulisan bertemakan travelling yang dimuat di Koran, majalah, dan buku-buku, bahkan saat ini marak tayangan televisi bertemakan backpacking atau traveling. Banyaknya juga toko-toko dan persewaan yang menyediakan perlengkapan untuk backpacking seperti tas, jaket, sepatu, dan aksesoris lainnya dengan beragam kualitas. Selain itu, majunya teknologi memberikan kontribusi terhadap dunia travelling backpacking ditandai dengan beragamnya aplikasi bertemakan perjalanan dimana aplikasi tersebut dapat memudahkan seorang backpacker melakukan perjalananya. Kepopuleran perjalanan backpacking masih menyisakan masalah, secara umum bisa dikatakan bahwa tidak semua orang memiliki akses yang sama atas informasi, dalam hal ini informasi untuk bepergian dengan cara murah dan mudah, juga tidak semua orang memiliki kemudahan yang sama ketika menghadapi persoalan administrasi, serta tidak semua orang mendapatkan perlakuan ataupun keramahan yang sama satu dengan yang lain (Lusandiana, 2014). Untuk menjelaskan dinamika seorang melakukan aktivitas backpacking, maka penelitian ini mengambil pembahasan proses transformasi backpacker. Karena dalam proses transformasi backpacker terdapat motivasi, pengalaman, dan pemaknaan dari proses transformasi perjalanan backpacking. Dunia travelling atau kepariwisataan di beberapa negara memiliki konsep yang berbeda, Haukeland (1990) mengemukakan bahwa di negara-negara Skandinavia yakni Norwegia dan Swedia, konsep pariwisata berarti semua orang, terlepas dari kedudukan ekonomi atau sosial, semua orang berhak mendapatkan kesempatan 3 berlibur. Dengan kata lain, negara-negara Skandinavia menganggap berlibur termasuk salah satu hak asasi manusia dan bila ada kerugian sosial, akan ditanggung oleh negara. Oleh karena itu di negara-negara tersebut berlibur diberlakukan sebagai tolak ukur kesejahteraan sosial (Ross, 1998). Penelitian backpacking yang dilakukan Maritha (2010) lebih menyoroti backpacking dalam aspek ekonomi, bahwa pengeluaran antara wisatawan konvensional dan wisatawan backpacker terdapat perbedaan dalam pola pengeluaran. Wisatawan konvensional menghabiskan 36,5% dari anggran untuk akomodasi, sementara wisatawan backpacker lebih banyak menghabiskan biaya berbelanja sebesar 38,2% serta biaya untuk makan dan minum sebesar 25,7% dari anggaran, tentu saja hal tersebut menjadi menarik sebab pola pengeluaran akan memberikan dampak bagi pelaku wisata baik untuk pengusaha, pemerintah ataupun masyarakat yang berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata. Penelitian lain yang dilakukan oleh Cohen yang berjudul The Search for Self for Lifestyle Traveller, dalam penelitian ini ia meneliti proses pencarian diri pengelana yang disebut lifestyle traveller yang dilakukan di India Utara dan Thailand Selatan, dengan jumlah responden sebanyak 25 orang dengan memperhatikan perjalanan sekitar enam bulan atau lebih. Hasilnya, Cohen menyimpulkan bahwa jati diri dapat ditemukan bukan dibentuk, selain itu cohen juga menemukan motivasi lain seperti kebebasan, dan proses pembelajaran melalui tantangan (Cohen, 2009). 4 Beberapa penelitian mengenai kepariwisataan telah mengalami kemajuan, pariwisata sudah tidak lagi menyoroti hal-hal terkait ekonomi, tetapi telah berkembang ke arah tinjauan kajian keilmuan lain, seperti sosiologi, geografi, dan psikologi. Sehingga, dalam tinjauan penelitian psikologi dapat diketahui perihal permasalahan atas dorongan atau lebih dikenal dengan motivasi dalam melakukan perjalanan yang banyak dikaitkan dengan teori kebutuhan Maslow, bahwa kebutuhan manusia sebagai pendorong (motivator) yang membentuk hierarki atau jenjang peringkat (Ross, 1998). Maslow dalam teori hierarki kebutuhan mengatakan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat bertingkat, yang paling dasar adalah kebutuhan fisiologis, lalu rasa aman, dicintai, penghargaan lalu kebutuhan yang paling tinggi adalah aktualisasi diri (Sobur, 2011). “awalnya sih traveling buat refreshing aja kalau ada waktu liburan panjang, selain itu juga biar dapat teman-teman baru.” (A1.9.b). Pada awal melakukan perjalanan, sesorang cenderung tertarik melakukan backpacking untuk refreshing dan mencari hal baru yang bersifat menyenangkan. Terdapat penelitian terkait motivasi melakukan backpacking yang dilakukan oleh Godfrey (2011) pada backpacker di New Zealand menunjukkan bahwa motivasi backpacker yang mendorong mereka untuk pergi dari rumah adalah pertama untuk mengeksplorasi dunia luar, kedua untuk bertemu orang-orang baru, ketiga isu yang berkaitan dengan pengembangan diri dan identitas diri, keempat untuk mendapat status, kelima sebagai rehat atau pelarian diri dari rumah, dan keenam sebagai kulminasi mimpi yang telah lama dipendam. 5 Ahli psikologi umumnya memberi perhatian pada perilaku dan pengalaman individu dan berusaha menggambarkan, dan kalau mungkin menjelaskan setiap pola yang diamati dalam perilaku dan pengalaman tersebut, sehingga kajian ilmu psikologi di bidang pariwisata dapat berkisar antara apakah wisatawan benarbenar banyak belajar dari perjalanan yang dilakukannya, dan kalau ada, apa yang dipelajari oleh traveller dalam perjalanan mereka sehingga mereka termotivasi untuk mendapatkan pengalaman traveling yang lebih banyak lagi (Ross, 1998). Melalui pengalaman dari backpacker, peneliti ingin mencari tahu bagaimana seorang backpacker memaknai suatu transformasi dari hasil perjalanannya, apakah hanya sebatas adannya pemaknaan pada diri saja, lalu bagaimana dengan transformasi pemaknaan relasi sosial yang terjadi dalam praktik perjalanan backpacking. Berangkat dari fenomena pada latar belakang diatas lah, yang menjadikan peneliti tertarik melakukan penelitia berjudul “Transformasi Backpacker dalam Aktivitas Travelling Backpacking”. Sehingga dari penelitian ini diharapkan dapat dipahami lebih jauh bagaimana proses transformasi seorang backpacker, dan bagaimana seorang backpacker memaknai transformasi yang ada. 6 A. Rumusan Masalah Dari latar belakang tersebut dapat dikemukakan beberapa rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana proses transformasi seorang traveller backpacker? 2. Bagaimana seorang traveller backpacker memaknai transformasi yang terjadi? B. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan pokok dari penelitian ini adalah : 1. Mengetahui proses transformasi seorang traveller backpacker 2. Mengetahui seorang traveller backpacker memaknai transformasi yang terjadi pada dirinya C. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Akademis Menambah pemahaman serta wacana baru sebagai pengembangan berbagai macam disiplin ilmu, salah satunya psikologi. Travel psychology merupakan salah satu bidang dalam kajian mengenai positive psychology yang masih terhitung sebagai baru dalam perkembangan studi ilmu psikologi. Penelitian mengenai transformasi backpacker diharapkan dapat menjadi studi dasar dimulainya perkembangan penelitian di bidang travel psychology, sehingga backpacking tidak hanya dari sisi ekonomisnya saja, tetapi juga dari dinamika psikologisnya. 7 2. Manfaat praktis Dengan mengetahui proses transformasi pada seorang backpacker beserta pemaknaanya, seseorang backpacker akan mengetahui bahwa perjalanan yang dilakukan membawa suatu transformasi yang terjadi karena serangkaian proses yang di lalui ketika perjalanan, sehingga akan mengarah pada suatu konsep transformasi backpacker yang utuh, dan dari adannya transformasi pada backpacker, akan menjadikan backpacker seorang yang sadar dan menjadi seorang backpacker yang lebih baik lagi.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Transformasi backpacker dalam aktivitas travelling backpacking. " Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment