Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, June 12, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Perbedaan tingkat agresifitas masyarakat pesisir nelayan dan pedalaman Madura.

Abstract

INDONESIA:
Letak geografis di mana seseorang akan tingga, merupakan salah satu hal yang mempengaruhi tingkat agaresifitas seseorang. Letak gegrafis yang cenderung lebih panas dan kering menyebabkan agresifitas penduduknya cenderung tinggi. Seperti bagaimana stereotip sikap kasar dan kejam terus dilekatkan pada masyarakat pulau Madura.
Peneliti melakukan penelitian ini dengan tujuan untuk : (1) Mengetahui tingkat agresifitas masyarakat pesisir. (2) Mengetahui tingkat agresifitas masyarakat pedalaman. (3) Mengetahui perbedaan tingkat agresifitas pesisir dan pedalaman.
Penelitian ini dilakukan di dusun Cangak dan Panasan. Responden penelitian ini adalah penduduk dari kedua dusun tersebut baik laki-laki maupun perempuan. responden di dusun Cangak sebanyak 95 orang, sedang responden dari Panasan berjumlah 89 orang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data menggunkanan skala (angket), wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik uji independent sempel t.
Hasil penelitian ini yaitu : 1) Tingkat agresifitas masyarakat pesisir rata-rata berada di tingkat sedang. 20% di tingkat tinggi, 63% sedang, dan 17% rendah. 2) Tingkat agresifitas masyarakat pedalaman cenderung berada di tingkat sedang. 22% tinggi, 66% sedang, 12% rendah. 3) Terdapat perbedaan tingkat agresifitas antara masyarakat pesisir dan masyarakat pedalaman Madura.
ENGLISH:
Geographical location, in which a person will live, is one of the things that affect a person's level of aggressiveness. Geographic layout which tends to be hotter and drier causing aggression inhabitants higher. Like how rough attitude and cruel stereotypes continue to be cemented on Madura Island community. Researchers conducting the study for the purpose of: (1) find out the level of aggression coastal communities. (2) Know the level of aggression Community inland. (3) Knowing the difference of coastal and inland aggression levels.
This research was conducted in Cangak and Panasan village. Respondents of this study are both men and women. Respondents in the village of Cangak as many as 95 people, while the total respondents from Panasan are 89 people. This research type is quantitative data collection techniques with descriptive using scale (survey), interview, observation, and documentation. Technique of data analysis in this study uses the independt sempel t.
The results of this study are: 1) the average level of coastal communities aggression is 20% at a high level, 63% medium level, and 17% of lower rank. Aggression Level 2) inland communities' level is 22% at a high level, 66% are in medium level, 12% of lower rank. 3) There is a difference between the aggression level between coastal communities and inland communities of Madura.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

 Penelitian ini berawal dari pengalaman penulis yang seringkali mendengar stereotyping orang Madura yang dinilai lebih mudah marah dan agresif dibandingkan dengan mereka dari suku lain, khususnya Jawa. Tak jarang mereka mengucapkan “dhuro” setiap kali melihat mahasiswa Madura berbicara keras dan lantang di muka umum. Hal inilah yang kemudian memancing peneliti untuk lebih lanjut melakukan penelitian mengenai emosi orang-orang Madura. Huub De Jonge dalam bukunya, Garam, Kekerasan dan Aduan Sapi, banyak mencatat bagaimana orang-orang Madura di mata para orang Belanda sejak zaman penjajahan. Orang-orang Belanda, dahulu, menganggap diri sebagai manusia yang lebih mulia daripada “rakyat pribumi”, yang mereka beda-bedakan berdasar suku. Esser menganggap orang Madura lebih kasar dan lebih tidak beradab dibanding orang Sunda yang lemah lembut atau orang Jawa yang halus budi bahasanya. Secara umum mereka mencirikan orang-orang Madura lebih kekar dibanding orang Jawa, berotot, dan memiliki muka lebih lebar. Sedangkan secara psikis, orang Madura dikenal memiliki sifat tidak halus, garang, kasar, dan terkesan kurang ajar. Salah satunya dinyatakan oleh Van Gennep: “… dengan mudah dibedakan dengan orang Jawa. Perawakan mereka lebih kasar dan berotot, tetapi tidak lebih besar, muka lebih lebar dan tidak 2 halus, tulang pipi sangat menonjol, dan tampang lebih galak dan sering kasar.” (De Jonge, 2011: 63) Salah satu artikel yang dimuat De Java-Post tahun 1912 secara jelas memperlihatkan bagaimana orang Eropa memandang masyarakat Madura: “Dari pertarungan sapi jantan seperti itu, suatu pertunjukan keperkasaan kekuatan dan kemurkaan binatang, anda mengenal suatu suku, para petarung ganas dan liar, berwatak kasar dan keji, namun sekaligus memiliki sifat kepahlawanan.” (dalam De Jonge, 2011: 75). Ciri-ciri yang dilekatkan pada orang Madura oleh orang Belanda diamini oleh masyarakat pribumi, karena saat itu (1825-1830) orang-orang Madura yang memasuki dinas ketentaraan kolonial bertempur di pihak Belanda dalam Perang melawan Jawa. Sifat kasar dan galak yang dilekatkan pada mereka terus berlanjut lewat beberapa hal, seperti tradisi carok, konflik antar suku Madura dan Kalimantan, serta budaya aduan sapi. Orang Jawa memandang rendah adu hewan semacam itu, dan malu dengan tingkah laku kasar dan tak terkendali saudara sebangsa mereka (De Jonge, 2011: 77). Sifat garang dan kasar orang Madura juga semakin dikenal lewat konflik antar suku yang terjadi di Kalimantan antara tahun 1996 dan 2002.. Telah banyak analisa sosial dan ekonomi dilakukan guna mengetahui penyebab terjadinya konflik. Salah satu alasannya ialah karena perbedaan sikap. De Jonge (1995) mencatat banyak narasumber Dayak, Bugis, dan Banjar menyatakan bahwa orang Madura tidak menyesuaikan 3 diri dengan lingkungan sosial mereka yang baru, merendahkan orang lain, arogan, berdarah panas, sok jago, kasar, tamak, dan pendendam. Segala macam sifat negative sejak zaman belanda itu kian bermakna. Van Deventer menganggap bahwa orang Madura lebih liar dikarenakan mereka adalah “pesisir-pelaut” yang lebih memiliki keinginan berpetualang dibandingkan dengan orang Jawa yang bersifat “pedalaman” (dalam Rifai, 2007: 70). Citra karakter orang Madura, menurut De jonge (2011), salah satunya ditengarai oleh ketandusan tanah, kemiskinan penduduknya, dan keadaan yang relatif terisolasi secara geografis dan sosial. Pulau Madura lebih gersang dan tandus dibandingkan pulau Bali dan Jawa. Tumbuhan jarang, tanah berkapur, dan berkarang, lahan tidak subur, dan diperburuk oleh curan hujan yang sangat rendah. Sebagian penduduknya hanya memiliki ladang kering (tegal) yang ditanami jagung dan ketela pada musim hujan. Pada musim angin muson timur atau kemarau, sebagian besar tanah tidak ditanami. Pulau Madura juga berpenduduk padat, sedang luas tanah per kapita tidak selaku mencukupi untuk menyediakan pangan penghuninya (hlm. 78). Karena itulah De Jonge tidak meragukan bahwa keadaan alam dengan iklim yang tidak bersahabat, yang membuat masyarakat Madura berjuang terus-menerus untuk bertahan hidup telah mempengaruhi sifat orang Madura. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan sejarawan Prof. Dr. Kuntowijoyo (1980/2002), yang 4 menunjukkan bahwa ekologi tegalan Madura merupakan factor penting dalam membentuk masyarakat Madura (Kuntowijoyo: 2002). Pulau Madura dikelilingi oleh laut Jawa dan selat Madura. Terdiri dari 4 kabupaten: Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Luas Pulau Madura 4.887 Km2. Panjangnya kurang lebih 190 Km dan jarak yang terlebar 40 Km. Pantai utara merupakan suatu garis panjang yang hampir lurus. Pantai selatannya di bagian timur mempunyai dua teluk yang besar terlindung oleh pulau-pulau, gundukan pasir dan batu-batu karang. Selain itu juga merupakan dataran tinggi tanpa gunung berapi dan tanah pertanian lahan kering. Komposisi tanah dan curah hujan yang tidak sama di lereng-lereng yang tinggi letaknya justru terlalu banyak, sedangkan di lereng-lereng yang rendah malah kekurangan dengan demikian mengakibatkan Madura kurang memiliki tanah yang subur. Hal ini menyebabkan masyarakat dibagi menjadi 2 kelompok, masyarakat pesisir yang hidup di sepanjang pinggiran pulau dan pedalaman yang hidup di daerah pedalaman di dataran tinggi. Data dari Wikipedia.org (10 0ktober 2016) menunjukkan bahwa pertanian dan perikanan subsistem atau berskala kecil merupakan kegiatan ekonomi utama di Madura. Menurut Kusnadi (2006) berbagai hasil kajian penelitian, selama ini, tentang kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir telah mengungkapkan bahwa sebagian besar dari mereka khususnya yang tergolong pesisir buruh atau pesisir-pesisir kecil, hidup dalam kubangan kemiskinan. Kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar 5 minimal kehidupan sehari-hari sangat terbatas. Bagi masyarakat pesisir, diantara beberapa jenis kebutuhan pokok kehidupan, kebutuhan yang paling penting adalah pangan. Ia juga menyatakan bahwa tingkat kehidupan social ekonomi masyarakat pesisir selat Madura lebih rendah dibandingkan Laut Jawa, Selat Bali, dan Madura Kepulauan (Kusnadi, 2006). Penelitian ini mengambil lokasi di Tamberu Barat, salah satu desa yang terletak di bagian pesisir Madura. Desa ini terdiri dari dua dusun yang memiliki karakteristik alam yang berbeda. Pertama, dusun Cangak adala daerah pesisir sehingga masyarakatnya dominan bermatapencaharian sebagai pesisir, sedangkan dusun yang kedua adalah Panasan yang berada jauh dari pantai sehingga masyarakatnya bermatapencaharian sebagai pedalaman. Masyarakat pesisir di dusun Cangak, lazim berangkat melaut sehabis isak dan kembali saat pagi atau siang hari. Sepulang melaut, mereka berada di sampan untuk membersihkan alat-alat menangkap ikan. Sementara itu para perempuan, terutama istri dari pemilik sampan, segera menjual ikan ke pasar setelah ikan tondhuk dan pulang pada sore hari. Berbeda dengan kondisi masyarakat pedalaman yang bertempat tinggal jauh dari laut bekerja sebagai pedalaman di tegalan. Mayoritas kelompok masyarakat pedalaman ini hidup di tanean lanjheng yang tersebar di pedalaman. Bertani mereka tekuni selama musim hujan. 6 Menanam padi di sawah tadah hujan atau beririgasi, yang umumnya diselingi dengan palawija dan jagung. Sedangkan di tegalan, mereka menanam jagung, ubi kayu, dan palawija. Selain itu mereka juga menanam buah-buahan seperti manga, jambu air, dan srikaya di pagar rumah atau tegalan. Pembagian kerja terdapat saat bertani. Pekerjaan berat seperti membajak dan mencangkul dilakukan oleh laki-laki, sedangkan pekerjaan yang agak ringan seperti menyiangi, menanam, dan memanen umumnya dilakukan oleh perempuan (Koesnoe dalam Rifai, 2007: 79). Waktu bertani memiliki jam kerja yang panjang, mulai dari matahari terbit hingga terbenam mereka berada di lapangan. Selain bertani, mereka juga beternak sapi sebagai pekerjaan sampingan saat musim kemarau. Kondisi kedua masyarakat ini secara umum menggambarkan kondisi masyarakat Madura (baca: Rifai, 2007. De Jong, 2011). Perbedaan kondisi lingkungan dan pekerjaan antara dusun Cangak dan dusun Panasan dapat mempengaruhi perilaku dan psikis seseorang. Dijelaskan dalam teori psikologi lingkungan (Iskandar, 2012) bahwa manusia dan lingkungan saling mempengaruhi. Lingkungan seperti territorial, kepadatan, kebisingan, dan pencahayaan dapat mempengaruhi, mengundang, dan membentuk perilaku tententu pada seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Goranson dan King (dalam Iskandar, 2012: 158) menunjukkan bahwa temperature di atas 27 derajat celcius menyebabkan sering terjadinya pecah kerusuhan di Amerika Serikat. FBI (Federal Bureau of Investigation, 1981) juga mencatat bahwa iklim memiliki 7 hubungan dengan tingkah laku kerusuhan dan kriminal. Tak hanya iklim, kebisingan juga mempengaruhi konsentrasi dan tingkat amarah seseorang. Ward dan Suedfeld (1973) melakukan penelitian eksperimen terhadap dua kelompok mahasiswa. Kelompok pertama yang memperoleh tekanan lebih keras dibanding kelompok kedua, membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai kesepakatan (Iskandar, 2012: 153). Suara yang memberikan tekanan keras (95 dB) dapat menjadi faktor yang menunjang apabila seseorang dalam keadaan marah. Iskandar juga mencatat bahwa seseorang yang mendengar suara keras saat marah, akan memancingnya melakukan agresi. Kebisingan, suhu udara atau terperatur, dan territorial merupakan lingkungan alam yang menjadi salah satu factor yang mempengaruhi agresifitas. Berkowitz (1993) mendefinisikan agresi sebagai “segala bentuk perilaku yang dimaksud untuk menyakiti seorang, baik secara fisik maupun mental”. Baron dan Byrne (1994) kemudian memaparkan bahwa ada tiga hal yang menyebabkan perilaku agresi, yaitu : biologis, faktor eksternal, dan belajar (Dalam Tuasikal, 2001). Factor eksternal inilah yang diteliti oleh Anderson dan Anderson (dalam Praditya, 1999) dan menemukan bahwa panas matahari merupakan salah satu factor eksternal yang dapat meningkatkan kecenderungan agresi individu. Mereka berpendapat bahwa agresi manusia naik bersamaan dengan naiknya suhu udara. 8 Buss dan Perry (dalam Anderson & Bushman, 2002) juga menyatakan bahwa secara umum perilaku agresif dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor personal dan faktor situasional. Faktor situasional mencakup fitur-fitur atau hal-hal yang terjadi di lingkungan yang juga mempengaruhi reaksi individu terhadap sesuatu. Fitur-fitur tersebut ialah lingkungan yang bising, terlalu panas, ataupun berbau tidak sedap yang terbukti meningkatkan perilaku agresif. Daerah pesisir pantai Madura memiliki kondisi lingkungan yang berbeda dengan daerah pedalaman pedalaman Madura. Suara ombak dan angin membuat daerah pesisir pantai memiliki kebisingan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pedalaman pedalaman Madura yang jauh dari pantai. Selain kebisingan, kondisi geografis yang menyebabkan dua kelompok masyarakat memiliki mata pencaharian berbeda itupun memiliki tekanan aktifitas atau pekerjaan yang berbeda. Jika saat malam hari para pedalaman beristirahat di rumah, maka para pesisir berlayar di lautan. Perbedaan-perbedaan tersebut, sebagaimana yang ditunjukkan oleh beberapa hasil penelitian, dapat mempengaruhi agresi seseorang. Seorang penjual ikan dari daerah pesisir, contoh fenomena di lapangan, bertindak lebih agresif dibandingkan dengan penjual sayur dari daerah pedalaman. Penjual ikan tersebut berteriak saat menawarkan jualannya pada konsumen. Akibatnya, beberapa orang merasa terganggu bahkan kesal. 9 Namun apakah perbedaan kondisi alam dari kedua dusun tersebut mempengaruhi agresifitas masyarakatnya dengan tingkat yang berbeda? Karena itulah peneliti hendak meneliti perbedaan tingkat agresifitas masyarakat pesisir dan pedalaman di Madura. B. Rumusan masalah 1. Bagaimanakah tingkat agresifitas masyarakat pesisir? 2. Bagaimanakah tingkat agresifitas masyarakat pedalaman? 3. Apakah ada perbedaan antara tingkat agresifitas masyarakat pesisir dan pedalaman Madura? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini memiliki tujuan: 1. Tingkat agresifitas masyarakat pesisir. 2. Tingkat agresifitas masyarakat pedalaman. 3. Perbedaan tingkat agresifitas masyarakat pesisir dan pedalaman Madura. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa manfaat, yaitu manfaat secara teoritis dan manfaat praktis. 1. Manfaat teoritis Penelitian ini mendukung teori psikologi lingkungan tentang bagaimana alam juga ikut andil dalam membentuk emosi manusia. 2. Manfaat praktis 10 Secara praktis, penelitian ini membantu memberi pengetahuan dan pemahaman pada masyarakat tentang karakteristik emosi masyarakat yang berkaitan dengan tempat tinggal mereka. Sehingga diharapkan masyarakat lebih toleransi dan memahami satu sama lain meskipun bertempat tinggal di kondisi geografis dan tingkat emosi yang berbeda

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Perbedaan tingkat agresifitas masyarakat pesisir nelayan dan pedalaman Madura.." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment