Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Wednesday, June 14, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:


Abstract

INDONESIA:
Setiap manusia pasti mengalami suatu ujian terlebih dahulu sebelum mencapai derajat yang lebih tinggi, demikian pula yang terjadi pada Siswa Tuna Rungu di SMALB-B Pembina Tingkat Nasional Lawang yang terlahir dengan ketidaksempurnaan fungsi mendengar dan berbicara. Resiliensi merupakan kemampuan dalam diri individu untuk beradaptasi secara positif dalam kondisi yang tidak menyenangkan dan beresiko. Salah satu syarat untuk menjadi individu yang resilien adalah mampu menerima terlebih dahulu keadaannya secara fisik maupun indera yang berbeda dengan orang pada umumnya. Menerima diri sendiri memerlukan kesadaran dan kemauan melihat fakta–fakta yang ada pada diri, menyangkut berbagai kekurangan dan ketidaksempurnaan yang ada, secara total tanpa adanya perasaan kecewa. Menerima sangat berkaitan erat dengan bersyukur. Karena syukur adalah sikap individu menerima, mengambil manfaat, serta menilai positif sebagai tanggapan dari segala sesuatu yang telah diberikan Allah SWT baik yang disukai berupa kenikmatan maupun yang dibenci berupa ujian/ cobaan.
Penelitian ini dilakukan pada Siswa Tuna Rungu di SMALB-B Pembina Tingkat Nasional Lawang dengan tujuan: (1) untuk mengetahui tingkat syukur pada siswa tuna rungu SMALB-B Pembina Tingkat Nasional Lawang,(2) untuk mengetahui tingkat resiliensi pada siswa tuna rungu SMALB-B Pembina Tingkat Nasional Lawang, dan (3) untuk membuktikan hubungan antara syukur dengan resiliensi pada siswa tuna rungu SMALB-B Pembina Tingkat Nasional Lawang.
Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dan deskriptif kuantitatif. Variabel bebas (X) pada penelitian ini adalah syukur dan variabel terikatnya (Y) adalah resiliensi. Subjek dalam penelitian ini adalah 13 siswa SMALB–B di SLB Pembina tingkat nasional Lawang Malang. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan skala resiliensi dan skala syukur yang berjumlah 29 aitem. Alat ukur tersebut telah melalui uji Content Validity Ratio (CVR) oleh para dosen ahli bidang psikologi. Kemudian dilakukan pengolahan dan analisis data menggunakan koefisien korelasi Spearman Rank dengan bantuan SPSS 16.0 for windows.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) siswa tuna rungu di SMALB- B pada umumnya memiliki tingkat syukur yang tinggi, dengan 62% pada taraf tinggi, 15% sedang, dan 23% rendah, (2) tingkat resiliensi pada siswa tuna rungu di SMALB-B relatif sedang atau cukup tinggi, dengan 15% pada taraf tinggi, 77% sedang, dan 8% rendah, (3) terdapat hubungan positif yang searah antara syukur dengan resiliensi pada siswa tuna rungu di SMALB-B dengan rs sebesar 0,5 dan taraf signifikansi sebesar 0,041. Artinya kenaikan syukur yang secara proporsional diikuti dengan kenaikan resiliensi.
ENGLISH:
Every human being must be undergo an examination before reaching a higher degree, so it is with Deaf Students in SMALB-B Lawang National Level Coach who was born with hearing and speaking functions imperfections. Resilience is the ability of the individual to adapt positively in unpleasant conditions and risk. One of the requirements to be a individual resilients are able to receive advance physical and sensory situation different with people in general. Accepting our self requires awareness and a willingness look at the facts that exist in themselves, involve a variety of existing shortcomings and imperfections, totally without any sense of disappointment. Receive intimately associated with gratitude. Because gratitude is the attitude of the individual to receive, take advantage, as well as assess positive responses from everything that Allah Almighty has given favored both a pleasure and a hated form of trial.
The study was conducted at the Deaf Students in SMALB-B Lawang National Level Coach in order to: (1) to determine the level of gratitude on deaf students SMALB-B Lawang National Level Coach, (2) to determine the level of resilience in deaf students SMALB-B National Trustees Lawang, and (3) to prove the relationship between gratitude with resilience in deaf students SMALB-B Lawang National Level Coach.
This study is quantitative descriptive correlational studies. The independent variable (X) in this study is gratitude and the dependent variable (Y) is resilience. Subjects in this study were 13 students SMALB SLB-B at the Lawang national level coaches Malang. The instruments in this study using a scale of resilience and gratitude that amounted to 29 scales aitem. The measuring instrument has tested Validity Content Ratio by the faculty experts in psychology. Then do the processing and analysis of data using the Spearman Rank correlation coefficient with SPSS 16.0 for Windows.

The results of this study indicate that (1) deaf students in SMALB-B in general have a high level of gratitude, with 62% at the high level, 15% moderate, and 23% lower, (2) the level of resilience in deaf students in SMALB -B is relatively moderate or high, with 15% at the high level, 77% moderate, and 8% lower, (3) there is a direct positive relationship between gratitude to the resilience of deaf students in SMALB-B with rs of 0.5 and a significance level of 0.041. It means that the increase in proportion of gratitude followed by an increase resilience.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah

 Sekolah sebagai model pendidikan yang mendukung pendidikan nasional, selama ini tidak di ragukan lagi kontribusinya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus pencetak kader-kader intelektual siap untuk mengaprisiasikan potensi keilmuannya di masyarakat. Madrasah Aliyah Ngeri MAN Pamekasan madura jawa timur merupakan salah satu sekolah yang tidak lepas dari cita-cita mencetak kader-kader handal yang tidak hanya dikenal potensial, akan tetapi juga mampu memproduksi potensi yang di miliki menjadi sebuah keahlian yang layak jual. hal ini yang di lakukan untuk mencapai cita-cita yang sebagai mana di atas membutuhkan serangkaian proses yang panjang supaya yang dilakukan oleh Madrasah Aliyah Negeri MAN pamekasan dimulai dari pembenahan sistem pendidikan dan pengajaran, kualitas tenaga pengajar, cara sarana prasana mendukung, serta melaksanakan kegiatan-kegiatan yang mendukung dengan cita-cita tersebut. Madrasah Aliyah negeri MAN pamekasan mempunyai misi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas Kegiatan Belajar Mengajar dan evaluasi, pelayanan klinik aqidah bengkel sholat dan laboratorium Al-Qur’an, mengoptimalkan kegiatan ekstrakulikuler, meningkatan perwujutan kultur islami di lingkungan 2 madrasah, meningkatan kemampuan siswa dalam bidang imtek, serta kemampuan siswa dalam bidang seni dan keterampilan. Siswa dituntut untuk melakukan misi tersebut dan tidak hanya menggunakan, akan tetapi siswa juga diharapkan mampu berprestasi dan unggul dalam bidang yang digelutinnya. Siswa yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi akan cendrung menampakkan prilaku yang mengarah kepada pencapaian tujuan, yakni untuk memperoleh prestasi belajar sesuai dengan standart terbaik yang ditempatkan masing-masing individu. Setandar prestasi belajar bisa di ukur dengan pembandingkan hasil pencapain saat ini dengan hasil yang telah dicapai sebelumnya. Belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadi, perlu adanya penilaian. Begitu juga dengan yang terjadi pada seorang siswa yang mengikuti suatu pendidikan selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya. Penilaian terhadap hasil belajar seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar. Proses belajar di sekolah adalah proses yang sifatnya kompleks dan menyeluruh. Banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi yang tinggi dalam belajar, seseorang harus memiliki Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi, karena inteligensi merupakan bekal potensial yang akan memudahkan dalam belajar dan pada gilirannya akan menghasilkan prestasi belajar yang optimal. Menurut Binet dalam buku Winkel (1997: 3 529) hakikat inteligensi adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif. Kenyataannya, dalam proses belajar mengajar di sekolah sering ditemukan siswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang setara dengan kemampuan inteligensinya. Ada siswa yang mempunyai kemampuan inteligensi tinggi tetapi memperoleh prestasi belajar yang relatif rendah, namun ada siswa yang walaupun kemampuan inteligensinya relatif rendah, dapat meraih prestasi belajar yang relatif tinggi. Itu sebabnya taraf inteligensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang, karena ada faktor lain yang mempengaruhi. Dalam proses belajar siswa, kedua inteligensi itu sangat diperlukan. IQ tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa partisipasi penghayatan emosional terhadap mata pelajaran yang disampaikan di sekolah. Namun biasanya kedua inteligensi itu saling melengkapi. Keseimbangan antara IQ dan EQ merupakan kunci keberhasilan belajar siswa di sekolah (Goleman, 2002). Pendidikan di sekolah bukan hanya perlu mengembangkan rational intelligence yaitu model pemahaman yang lazimnya dipahami siswa saja, melainkan juga perlu mengembangkan emotional intelligence siswa . Memang harus diakui bahwa mereka yang memiliki IQ rendah dan mengalami keterbelakangan mental akan 4 mengalami kesulitan, bahkan mungkin tidak mampu mengikuti pendidikan formal yang seharusnya sesuai dengan usia mereka. Namun fenomena yang ada menunjukan bahwa tidak sedikit orang dengan IQ tinggi yang berprestasi rendah, dan ada banyak orang dengan IQ sedang yang dapat mengungguli prestasi belajar orang dengan IQ tinggi. Hal ini menunjukan bahwa IQ tidak selalu dapat memperkirakan prestasi belajar seseorang. Kemunculan istilah kecerdasan emosional dalam pendidikan, bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai jawaban atas kejanggalan tersebut. Teori Daniel Goleman, sesuai dengan judul bukunya, memberikan definisi baru terhadap kata cerdas. Walaupun EQ merupakan hal yang relatif baru dibandingkan IQ, namun beberapa penelitian telah mengisyaratkan bahwa kecerdasan emosional tidak kalah penting dengan IQ (Goleman, 2002: 44). Menurut Goleman (2002: 44), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial. Secara kronologis usia siswa kelas II Madrasah Aliyah Negeri (MAN Pamekasan) berada pada masa remaja. Pada usia ini biasanya seseorang sedang sibuk mencari identitas diri. Pada usia ini seseorang sangat mudah terpengaruh oleh kehidupan diluar dirinya, yang kemudian 5 akan mempengaruhi pola pikirnya dalam menyikapi segala situasi yang dihadapinya. Fenomena paling populer di kalangan siswa kelas II Madrasah Aliyah Negeri (MAN Pamekasan) terkait dengan kecerdasan emosi adalah kurang bisanya siswa mengatur waktu untuk kegiatan yang diadakan oleh Sekolah tersebut. Siswa seperti ini biasanya terlalu sibuk dengan urusan yang sifatnya hanya untuk mencari kesenangan pribadi. Sehingga kegiatan yang diadakan oleh sekolah tersebut yang seharusnya menjadi kegiatan utama sebagai siswa menjadi tersisihkan berdasarkan paparan di atas penulis menggunakan sampel pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN Pamekasan). Hal yang sering membuat siswa hidupnya tidak karuan adalah karena mereka tidak mempunyai impian yang besar, dalam artian tidak ada target dalam hidup. Mereka selalu menganggap semuanya gampang tanpa harus berusaha. Tetapi anehnya, tidak sedikit siswa yang tidak mempunyai kecerdasan emosi tinggi bisa meraih prestasi belajar. Hal ini dapat disimpulkan adanya indikasi kecerdasan emosi yang rendah. Di sisi lain, ada siswa yang memiliki kecerdasan emosi tinggi selalu menjalankan semua tuntutan tugas yang diberikan oleh sekolah bisa meraih prestasi belajar. Hal di atas sangat menarik untuk diteliti karena kalau menurut teori seharusnya bila seseorang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi maka individu tersebut berpeluang untuk meraih prestasi belajar yang tinggi. 6 Sebaliknya, bila seseorang memiliki kecerdasan emosi yang rendah, maka individu tersebut tidak berpeluang untuk meraih prestasi belajar yang tinggi. Sedangkan pada kasus di atas yang terjadi sebaliknya, yakni individu tidak memiliki kecerdasan emosi tinggi tetapi bisa meraih prestasi belajar yang tinggi, hal ini terbukti dengan adanya siswa yang tidak bisa membagi waktu bermain dengan waktu kegiatan yang telah ditetapkan sekolah tapi siswa tersebut bisa meraih prestasi belajar yang tinggi dengan adanya fakta nilai raport baik. Berdasarkan paparan di atas, peneliti ingin meneliti lebih jauh lagi tentang ”Hubungan Kecerdasan Emosi dengan Prestasi Belajar Pada Siswa Kelas II Madrasah Aliyah Negeri (MAN Pamekasan)”. B. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah tingkat kecerdasan emosional siswa Kelas II Madrasah Aliyah Negeri Pamekasan? 2. Bagaimanakah tingkat prestasi belajar siswa Kelas II Madrasah Aliyah Negeri Pamekasan? 3. Adakah hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa Kelas II Madrasah Aliyah Negeri Pamekasan? 7 C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas II Madrasah Aliyah Negeri (MAN Pamekasan). 1. Mengetahui tingkat kecerdasan emosional siswa Madrasah Aliyah Negeri Pamekasan 2. Mengetahui tingkat prestasi belajar siswa Madrasah Aliyah Negeri Pamekasan 3. Mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa Madrasah Aliyah Negeri Pamekasan D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini mempunyai beberapa manfaat, antara lain ialah : 1. Dari segi teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi psikologi pendidikan dan memperkaya hasil penelitian yang telah ada dan dapat memberi gambaran mengenai hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar. 2. Dari segi praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan informasi khususnya kepada para orang tua, konselor sekolah dan guru dalam upaya membimbing dan memotivasi siswa remaja untuk menggali kecerdasan emosional yang dimilikinya.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Efektivitas pelatihan self-concept building terhadap peningkatan motivasi berprestasi siswa MAN 2 Model Palu" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment