Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Wednesday, June 14, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan Self efficacy dengan intensi mencontek pada saat ujian akhir semester (UAS) pada mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Saintek UIN Malang Tahun Ajaran 2012/2013

Abstract

INDONESIA:
Prestasi adalah salah satu hal yang penting dalam proses pendidikan. Berdasarkan hal tersebut, mahasiswa yang memiliki self efficacy yang tinggi tidak akan melakukan kecurangan atau menyontek khususnya pada saat ujian. Menurut Bandura, keyakinan seseorang terhadap kemampuan yang dimiliki berpengaruh terhadap pola pikir seseorang. Ketika seseorang memiliki self efficacy yang tinggi maka intensi/ niat menconteknya menjadi rendah. Berdasarkan penjelasan diatas, tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan antara self efficacy dan intensi menyontek.
Penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif korelasional dengan menggunakan 40 mahasiswa dari total 394 jumlah populasi mahasiswa biologi. Sedangkan instrumen utama yang digunakan adalah kuisioner dan wawancara sebagai instrumen pendukung. Kuesioner tersebut digunakan untuk mengukur self efficacy dan intensi menyontek.
Analisi data dilakukan dengan menggunakan produck moment dengan SPSS for windows 17.0. Berdasarkan hasil analisis tersebut menunjukkan adanya hubungan negatif dan signifikan antara self efficacy dengan intensi mencontek yang ditunjukkan oleh angka korelasi rxy = -0,556 dengan signifikan 0,000≤ 0,0312 (P<0,01). Artinya adalah bahwa hubungan kedua variabel tersebut berarti semakin tinggi tingkat self efficacy mahasiswa, maka akan semakin rendah intensi mencontek, sebaliknya semakin rendah tingkat self efficacy mahasiswa maka akan semakin tinggi intensi menconteknya.
ENGLISH:
Achievement is the one of important thing for the education process. Based on these, students with high self efficacy would’n do cheating activity, especially in exam. According to Bandura, efficacy beliefs contributed to accomplishments both motivationally and through support of strategic thinking. Perceived self efficacy and cheating intensity, there high of self efficacy so there low of cheating intensity. Based on those explanations, the researcher likes to conduct the research about the relationship between self efficacy and cheating intensity.
This research is correlative quantitative research that used 40 students of 394 (total population) students of majors biology. The research instruments are questionnaire and using interview. Questionnaire is used to measure self efficacy and cheating intensity.

The data analysis form used product moment with SPSS for windows 17,0 helping. Based on the results of the analysis, a negative and significant relationship between self-efficacy and the intensity of cheating is indicated. It is drawn by the number of correlation rxy = Rxy = -0,556, sig = -0,000 ≤ 0,0312 (P<0,01 ) level of significant. This means that the higher level of student’s self- concept, the lower the intensity to cheat. Yet, the lower the student’s self-efficacy, the higher the intensity of cheating.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
 Manusia adalah makhluk sosial (homo sosius), yang dibekali Tuhan dengan akal, dimana akal akan menjadikan manusia mengetahui segala sesuatu (Qadir, 2006). Manusia secara naluriah memiliki rasa ingin tahu dan membutuhkan pengetahuan mengenai semua hal yang ada disekitarnya, baik berupa pengetahuan sosial, akademik, budaya, maupun keterampilan tertentu. Oleh karenanya, teciptalah sistem pendidikan formal yang fungsinya adalah sebagai media atau wadah bagi manusia untuk belajar. Pendidikan berfungsi membantu peserta didik dalam pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, kecakapan, serta karakteristik pribadinya ke arah yang positif, baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Proses pendidikan terarah pada peningkatan penguasaan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, pengembangan sikap dan nilai-nilai dalam rangka pembentukan dan pengembangan diri peserta didik. 2 Interaksi pendidikan dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dan corak pergaulan antar orang-orang yang terlibat dalam interaksi tersebut, baik pihak peserta didik (siswa) maupun para pendidik, dan pihak lainnya. Hal ini merupakan salah satu faktor kunci dalam menjalankan misi pendidikan, dimana dalam proses interaksi pendidikan yang baik akan menghasilkan mutu dan hasil dari tujuan pendidikan yang diharapkan. Kenyataanya, pendidikan memiliki arti penting dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Lewat pendidikan, bisa diukur maju mundurnya sebuah negara. Sebuah negara akan tumbuh pesat dan maju dalam segenap bidang kehidupan jika ditopang oleh pendidikan yang berkualitas. Sebaliknya, kondisi pendidikan yang kacau dan amburadul akan berimplikasi pada kondisi negara yang carut-marut. Indonesia adalah sebuah contoh konkret sebuah negara yang masuk dalam kategori kedua, yaitu negara dengan sistem pendidikan yang belum kukuh (Nana, 2005). Salah satu kritik yang cukup fundamental terhadap dunia pendidikan di Indonesia adalah realitas semakin jauhnya dunia pendidikan dari nilai-nilai dasar kemanusiaan. Perilaku insan didik dalam kenyataanya, semakin penuh dengan nuansa dehumanistik. Kasih sayang, kebersamaan, kejujuran, kerja keras, dan nilai-nilai dasar kemanusiaan lain yang fundamental, semakin termarginalkan. Salah satu permasalahan yang nampak secara nyata dalam dunia pendidikan adalah perilaku menyontek. Ehrich, Flexner, Carruth dan 3 Hawkins (Eric M. Anderman dan Tamera B. Murdock 2007: 34) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan menyontek (cheating) adalah melakukan ketidakjujuran atau tidak fair dalam rangka memenangkan atau meraih keuntungan (Hartanto, 2012). Realita pendidikan, sikap dan perilaku tidak jujur sebenarnya telah lama menjadi masalah, hal ini nampak pada salah satu bentuk perilaku curang yakni mencontek pada saat ujian bahkan sampai pada kasus plagiarisme. Dalam permasalahan ini, siswa laki-laki maupun perempuan, tidak memiliki perbedaan. Dalam artian, bahwa gender tidak menjamin terbentuknya perilaku mencontek. Hal ini berdasarkan hasil penelitian Barzegar (2012). Permasalahan menyontek merupakan masalah yang dihadapi oleh semua negara. Menyontek pada akhirnya menjadi perhatian internasional. Perilaku menyontek tidak hanya terjadi pada siswa di SMP atau SMA, tetapi juga di bangku kuliah atau universitas. Sebagai contoh adalah temuan dari The Epoch Time: 2005 dalam Paris S. Strom; Robert D. Strom: 2007 yang mengambil data dari 900 mahasiswa. Dari jumlah tersebut 83 % mengaku pernah menyontek ketika pelaksanaan tes atau ujian (Hartanto, 2012). Perilaku menyontek dapat ditemukan di belahan dunia. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga banyak negara di Asia, Amerika, Australia, Eropa. Negara-negara di Amerika dan Eropa bahkan telah membentuk 4 komite kode etik untuk menangani masalah ini secara serius (Hartanto, 2012: 2). Di Indonesia, menurut survey yang dilakukan Andi dalam Survey Litbang Media Group (2007) mayoritas anak didik, baik di bangku sekolah maupun perguruan tinggi melakukan kecurangan akademik dalam bentuk mencontek. Hal sama terungkap dalam survei yang dilakukan 19 April 2007 di enam kota besar di Indonesia yaitu: Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Medan (Hartanto, 2012). Alat dan metode yang digunakan untuk melakukan aksi curang ini pun bermacam-macam. Pincus dan Shmelkin dalam (Leda Nath dan Michael Lovaglia; 2009) menyatakan bahwa perilaku menyontek dilakukan dengan cara membuat catatan, melihat pekerjaan teman yang lain (mencuri), atau membuat catatan atau istilah dalam suatu kertas. Menyontek meliputi kegiatan meniru atau melihat jawaban orang lain, melihat sebagian atau keseluruhan pekerjaan orang lain dan mengakuinya sebagai hasil dari pekerjaannya, melihat jawaban dari internet (ketika hal tersebut dilarang atau tidak diijinkan ), menyimpan jawaban pada telepon seluler (handphone) atau MP3 player, mengguanakan catatan (kerpekan), serta meminjam dan melihat naskah hasil pekerjaan teman (Tamekia Reece; 2009) (Hartanto, 2012). 5 Alasan seseorang mencontek sangat beragam. Menurut Eric M. Anderman dan Tamera Murdock (2007) berdasarkan perspektif motivasi, beberapa siswa menyontek karena sangat fokus pada nilai atau ranking dikelas, yang lain menyontek karena mereka sangat takut pada kesan yang akan diberikan oleh teman sebaya mereka pada dirinya (yakni dianggap bodoh atau dijauhi). Begitu peliknya permasalahan ini, hingga negaranegara maju merasa perlu menangani kasus ini. Bagaimana tidak, perilaku menyontek ini oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai permasalahan kecil dan sepele. Sampai-sampai sesuatu yang sepele terkadang terlupakan begitu saja dalam kehidupan. Manusia sering terfokus pada persoalan besar, namun seringkali terlena pada permasalahan yang sepele. Namun, bukankah sesutu yang dianggap remeh ini sebenarnya telah menjadi aktivitas “latihan” untuk melakukan tindangan curang yang lebih besar di kemudian hari. Berdasarkan teori perkembangan moral Kohlberg, perilaku menyontek lebih terkait dengan masalah pembentukan kode moral. Seseorang melakukan perilaku menyontek karena mereka menganggap bahwa cheating atau menyontek akan dimaafkan dan dianggap sebagai hal biasa, karena mereka dituntut untuk mendapatkan nilai yang tinggi agar dapat diterima di jenjang sekolah yang lebih tinggi. Jika pernyataan ini benar-benar diyakini oleh masyarakat, maka habislah keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat (Hartanto, 2012). Dikatakan oleh Syahidin Ratna Nur Akbar dalam penelitiannya tentang profil mencontek siswa sekolah menengah atas (2012). Dampak 6 serius yang timbul dari praktek mencontek dikemudian hari adalah siswa akan menanam kebiasaan berbuat tidak jujur. Bahkan ada kemungkinan perilaku ini akan berdampak pada terbentuknya perilaku korupsi yang membudaya di Indonesia. Pada dasarnya, perilaku mencontek ini merupakan perwujudan dari keinginan dalam diri atau motif seseorang untuk berhasil. Ini dibuktikan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Whisnu Yudiana (2006) mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran dihasilkan korelasi antara frekuensi perilaku mencontek dengan motif untuk berhasil yang diperoleh adalah -0,265 dan signifikan pada taraf kepercayaan 95%. Hal ini ada hubungan antara keduanya, jika motif untuk sukses meningkat maka frekuensi untuk mencontek menurun. Tingkat perilaku siswa dalam mencontek mungkin terjadi dalam kualitas dan kuantitas yang berbeda tergantung kepada level perkembangan kognitif, sosial, dan moral siswa yang bersangkutan. Dalam kaitanya dengan konsep diri atau kesadaran seseorang mengenai siapa dirinya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Mar’atus (2012) ditemukan adanya hubungan negatif dan signifikan antara konsep diri dengan intensi mencontek yang ditunjukkan oleh angka korelasi rxy = -0,339 dengan signifikan 0,004 (P
<0,01). Hubungan kedua variabel tersebut berarti semakin tinggi tingkat konsep diri siswa maka akan semakin rendah intensi mencontek, sebaliknya semakin rendah tingkat konsep diri siswa maka akan semakin tinggi intensi menconteknya. 7 Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Anugrahening (2009) yang meneliti perilaku menyontek ditinjau dari kepercayaan diri, menemukan adanya hubungan negatif yang sangat signifikan antara kepercayaan diri dengan perilaku menyontek. Artinya bahwa semakin tinggi kepercayaan diri maka semakin rendah perilaku menyontek. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada objek yang diteliti yakni pada tanggal 20 Mei 2012, yakni pada mahasiswa jurusan biologi fakultas sains dan teknologi UIN Malang ditemukan fakta bahwa terdapat mahasiswa yang menyontek saat ujian dilakukan. Dan alasan yang seringkali dilontarkan saat ditanya mengenai motif mereka dalam menyontek ternyata tidak jauh dari motif untuk memperoleh keberhasilan berupa nilai atau prestasi akademik. Permasalahanya adalah, terdapat kecemburuan akademik yang terjadi di antara para mahasiswa. Ini berkaitan dengan pemberian nilai yang dirasa tidak objektif terhadap hasil ujian akhir semester. Hal ini tentunya turut mempengaruhi IP (Indeks Prestasi) mahasiswa. Walaupun demikian, sebagian mahasiswa memilih untuk menyontek dan sebagian yang lain tidak. Fakta ini menunjukkan bahwa terdapat sesuatu yang sifatnya intern dan mempengaruhi diri mahasiswa untuk memilih melakukan dan tidak melakukan perilaku menyontek. Selain motif untuk memperoleh keberhasilan, terjadinya perilaku menyontek sering dikaitkan dengan self-efficacy seseorang. Self-efficacy 8 adalah kepercayaan seseorang tentang kemampuan diri dalam bertindak, sehingga dalam self-efficacy diperlukan adanya kecakapan. Istilah selfefficacy dapat dimaknai sebagai keyakinan diri seseorang dalam menyelesaikan tugas atau permasalahan tertentu (Hartanto, 2012). Bandura (1986: 309) mengatakan bahwa self efficacy adalah salah satu komponen dari pengetahuan tentang diri (self knowledge) yang paling berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Bandura juga menegaskan bahwa semua proses perubahan psikologis dipengaruhi oleh self efficacy (Ghufron, 2012). Di satu sisi, masyarakat masih berpikir bahwa perilaku menyontek merupakan perilaku yang dilakukan oleh siswa yang malas, tidak berbakat bahkan bodoh.. Hal tersebut salah adanya, karena sejatinya perilaku menyontek justru banyak dilakukan oleh anak yang pintar (Hartanto, 2012). Pernyataan diatas sangat menarik karena bagaimana bisa seorang yang unggul dan pandai dalam bidang akademik, malah mencontek. Sedangkan perilaku itu sendiri pada dasarnya merupakan manifestasi dari adanya keinginan dari dalam diri individu. Keinginan ini lazim disebut niat atau intensi. Niat untuk melakukan tindakan mencontek sejatinya dimiliki oleh setiap peserta didik. Hal ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, seperti takut dianggap bodoh dan ingin mempertahankan peringkat kelas serta alasan lain. Dan bagaimana nantinya keyakinan terhadap 9 kemampuan diri ini akan membentuk niat atau keinginan dari dalam diri mahasiswa saat dihadapkan pada ujian akhir semester. Dimana keputusan yang akan diambil nantinya akan berpengaruh terhadap Indeks Prestasi yang akan mereka dapatkan. Dari paparan data diatas, penelitian ini akan difokuskan pada bagaimana keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan dirinya dengan intensi atau niat seseorang dalam memutuskan untuk melakukan perbuatan menyontek pada saat ujian. Dengan fokus penelitian yakni untuk meneliti dan memahami bagaimana hubungan antara self efficacy dengan intensi mencontek pada saat ujian akhir semester (UAS) pada mahasiswa, khususnya mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah tingkat efikasi diri mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang tahun ajaran 2012/ 2013? 2. Bagaimanakah tingkat intensi mencontek pada saat ujian akhir semester (UAS) pada mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang tahun ajaran 2012/ 2013? 3. Apakah terdapat hubungan antara efikasi diri dengan intensi menyontek pada saat ujian akhir semester (UAS) pada mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang tahun ajaran 2012/ 2013? 10 C. Tujuan 1. Untuk mengetahui tingkat efikasi diri pada saat ujian pada mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang tahun ajaran 2012/ 2013? 2. Untuk mengetahui tingkat intensi mencontek pada saat ujian pada mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang tahun ajaran 2012/ 2013? 3. Untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dengan intensi mencontek pada saat ujian akhir semester (UAS) pada mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang tahun ajaran 2012/ 2013? D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Secara Teoritis Manfaat teoritis yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengembangkan informasi mengenai intensi mencontek ditinjau dari efikasi diri seseorang, sehingga diharapkan dapat memperkaya informasi ilmiah yang berarti bagi pengembangan ilmu Psikologi di bidang psikologi pendidikan. 2. Secara Praktis Dari penelitian yang penulis lakukan, diharapkan dapat memberikan informasi tentang efikasi diri dan intensi mencontek 11 mahasiswa, sehingga dalam perkembangannya dapat membantu ke arah yang optimal untuk mengurangi intensi mencontek pada mahasiswa.>



Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Hubungan Self efficacy dengan intensi mencontek pada saat ujian akhir semester (UAS) pada mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Saintek UIN Malang Tahun Ajaran 2012/2013" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment