Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, June 12, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Konsep diri pada individu waria: Sudi kasus pada IWAMA (Ikatan Waria Malang).

Abstract

ENGLISH:
The majority personal behaviors are determined by our concept or can be said that personal behavior will be appropriate with personal ways in considering and judging themselves. A basic component of individual concept is sex role identity which constitutes conceptualism of masculinity and feminism: how the person can adapt with beliefs which are approved by public deal with characteristics appropriate for man and women (Burns, 1993). Transsexual is person with the physic as man but he has desire to be woman so in his interaction with the environment, transsexual shows attitude and behavior which are not appropriate with his genital physic.
This recourse has goal to know the self-concept of transsexual and to know the factors with influence the self-concept of transsexual. The subjects here are three man who have characteristics as follows: a). who consider himself as a woman b) who is often or ever contact with transsexual c.) who is in early-middle-age (18-40 years), physic and psychology changes which accompany lack of reproductive ability (Hurlock, 1980) d.) show another sex identity continuously at least 2 years.
The data collective methods are used interview and observation. From the result of the data analysis can be concluded that personal concept of transsexual divided into four categories:

1. Self-judgment physically, the subject tends to conceal his identity as man.
2. Self-judgment physically, the subject decides to show. Himself as woman consciously and available in the environment when entry the grown step of adult (16-18 years), judge themselves as woman, have awareness that transsexual have different sexual with the other.
3. Self-judgment morally, the subject considered that responsibility of his constitutes his privacy. Because life as transsexual is the choice of personal subject.
4. Self-judgment socially, judge a man can be sexual relation otherwise a woman just can be a friend, he tends to feel uncomforted interaction in environment, he likes if the environment treat him as woman.

There are factors which is influence transsexual to build their personal concept:
1. An internal factor, there is a controversy between their desire to be a woman but the fact that they are man, and they feel comfort with their genetic appearance.
2. An external factor, the environment usually unaware with the strange
attitude, which far from their own sex, social interaction with transsexual, there is a rejection from the family at the beginning as transsexual and there is no support to convince them to be man.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Waria, bencong, banci, wadam, merupakan istilah yang sangat akrab dengan telinga kita jika berbicara tentang sosok laki-laki yang menyerupai wanita dalam perilaku, dandanan, serta tingkah lakunya. Sikapnya yang “lembeh”, bibir yang bergincu tebal, tutur katanya yang sok kemayu dan sok feminim serta cenderung dibuat-buat, ditambah pula dengan perilakunya yang terkadang mengundang senyum selalu saja hadir dalam keseharian para waria tersebut. Itulah sekelumit tentang gambaran yang selalu terbayang jika kita membahas tentang “sosok yang spesial” tersebut. Sebuah pengalaman pertama yang tidak akan pernah terlupakan “berhubungan“ dengan sosok spesial tersebut terjadi ketika semasa SMA pada tahun 2002. Ketika itu sedang berjalan seorang waria dengan kemayunya, berdandan menor, memakai sepatu hak tinggi serta menjinjing tas, sebuah dandanan dan perilaku yang sangat feminim di balik kekekaran badannya serta jakun yang dimiliknya. Sebuah ungkapan refleks yang tiba-tiba muncul adalah keinginan untuk menggodanya. Entah dorongan dari mana sehingga muncul celetukan yang mungkin sangat menyinggung dia. Seketika itu pula si waria tersebut langsung berbalik arah dan tanpa basa-basi mengejar, sebuah keadaan yang tidak terduga sebelumnya sehingga secara refleks pula berusaha melepaskan diri dari kejaran waria tersebut. 4 Sebuah kesan yang sangat mendalam terjadi saat itu, bagaimana sosok yang pada awalnya sangat kemayu, bahkan cenderung sangat feminim jika dibandingkan dengan wanita pada umumnya, hanya dalam hitungan detik langsung berubah menjadi sosok yang garang dan ganas yang dengan amarahnya berlari mengejar para penggodanya. Perubahan perilaku yang sangat drastis tersebutlah yang selalu saja menimbulkan sebuah pertanyaan, mengapa hal itu bisa terjadi? Sebenarnya dia itu dalam posisi wanita ataukah dalam posisi lakilaki? Berawal dari pengalaman yang sangat berkesan tersebut itulah, keingintahuan terhadap kehidupan wariapun semakin hari semakin tak bisa terbendung, Ke”aneh”an yang terjadi pada sosok spesial tersebut begitu berkesan, sehingga setiap ada kesempatan bertemu dengan waria entah itu dimanapun, selalu menyempatkan waktu walaupun hanya sekedar mengamati perilakunya, kelucuannya, tetapi itu merupakan sebuah cara untuk sedikit menjawab sekian banyak pertanyaan yang selalu datang. Walaupun demikian, ternyata untuk “memuaskan” keingintahuan terhadap sosok waria tersebut tidak pernah bisa terpuaskan dengan mudah. Sosoknya yang terkadang sangat sensitif, cepat marah dan tersinggung menjadi salah satu penyebab kesulitan tersebut. Selain itu pandangan masyarakat kita yang masih belum bisa menerima keberadaan mereka, sehingga akan selalu saja timbul sebuah penilaian yang negatif jika ada orang yang bergaul dekat dengan para waria. Penolakan masyarakat tersebut sebagian besar terjadi karena ketidakjelasan 5 status waria yang tercermin dari perilaku mereka, apakah mereka laki-laki ataukah mereka itu perempuan, sehingga kemudian timbullah wilayah yang abu-abu. Wilayah yang abu-abu inilah yang menjadikan kebingungan dalam setiap permasalahan, termasuk dalam wilayah per-kelaminan ini. Mana yang lakilaki dan mana yang perempuan terkadang menjadi perdebatan yang sangat menarik. Banyak sekali fenomena-fenomena yang menunjukkan bagaimana pandangan masyarakat kita terhadap masalah-masalah perkelaminan khususnya kaum-kaum termarjinalkan seperti waria. Orientasi seksual yang ada pada seorang waria selalu saja sangat menarik untuk diperbincangkan khususnya perkembangan kelompok ini dalam dekade terakhir. Artikel, buku, bahkan komunitas yang berkaitan dengan lingkup waria berkembang dengan pesat. Apakah memang dunia waria saat ini lebih berkembang jauh dan pesat, serta memiliki kemajuan yang berarti terutama dalam hal kuantitas. Mengingat dengan berkembangnya media-media yang ada di masyarakat yang mengulas tentang waria, berarti dapat dipastikan pula bahwa kualitas maupun kuantitas kaum wariapun semakin meningkat. Walaupun kenyataannya ada sebagian peningkatan kualitas dari kaum waria tu sendiri, namun masyarakat saat ini memiliki sikap cenderung negatif terhadap komunitas waria.1 Komunitas waria sering mendapat tekanan dan atau penolakan dari masyarakat umum. Stigma negatif di masyarakat ini banyak disebabkan karena benturan dengan norma seksual dan norma lain yang ada di masyarakat. Masyarakat sendiri yang didominasi oleh orientasi seks heteroseksual 1 Gadpaile, W.J Homoseksuality. In Kaplan&Sadock (Eds) Comprehensive Textbook of Psychiatry (5 Th edition )(Baltimore: Williams and Wilkins.1989) 89 6 seringkali menolak keberadaan kaum waria ini yang selalu dikaitkan dengan perilaku yang cenderung gemar berganti pasangan, tampil feminim, dan rawan terinfeksi HIV/AIDS.2 Sikap masyarakat tersebut pada umumnya lebih ditujukan pada aktivitas erotik yang dilakukan oleh kaum waria. Masyarakat yang telah memiliki prasangka, memiliki alasan untuk tidak membenarkan anggotanya terjerumus dalam dunia waria dengan mengenakan berbagai sanksi. 3 Sanksi dari masyarakat bervariasi macamnya, mulai dari cemoohan, hingga diskriminasi, bahkan tidak jarang juga penganiayaan. Pandangan dan sikap itu tentunya tidak lahir dengan begitu saja, semuanya berasal dari proses budaya bangsa kita ini yang selalu meletakkan segala sesuatunya pada wilayah yang normatif tidak ada tempat bagi yang abu-abu, semuanya harus dalam wilayah yang saling bertentangan, hitam-putih, tinggipendek, tua-muda, bagitu juga pada wilayah jenis kelamin, secara diskrit masyarakat Indonesia hanya mengakui dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan, yang mana keduanya mempunyai posisi yang berpasangan. Permasalahan diskrit tersebut Koeswinarno, menjelaskan : Klasifikasi diskrit ini mengakibatkan hadirnya penilaian tentang perilaku, bahwa laki-laki harus seperti laki-laki dan perempuan juga sebagaimana layaknya perempuan. Orang-orang yang berperilaku menyimpang dari ketentuan klasifikasi itu akhirnya 2 Bancroft, Human Sexuality and its Problem (2nd edition) (London Longman Group UK, 1989) 45 3 Myers. Exploring Social Psychology. (New york . Mc Graw Hill, 1994) 76 7 akan mendapat sebutan lain. Misalnya, muncul istilah perempuan tomboy, laki-laki feminim, dan sebagainya. 4 Tidak ada tempat bagi laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. Keduanya dikonstruk dalam posisi masing-masing dan tidak boleh saling bertukaran. Hal itu terjadi karena meramu dua “jati diri” dalam satu tubuh divonis sebagai sebuah penyimpangan, baik dalam tafsir sosial maupun teologi.5 Penafsiran yang bermacam-macam tersebut tentunya tidak terlepas dari perilaku waria itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan sebagian orang cenderung untuk menganggap bahwa waria merupakan salah satu bentuk patologis sosial yang terjadi di masyarakat. Komunitas waria memang bagi sebagian orang merupakan komunitas yang selalu membuat resah bagi kehidupan sosial, hal itu bisa tercermin dari beberapa ulah yang sering dilakukan oleh para waria selalu saja membuat masyarakat sekitar menjadi tidak aman dan tidak tenang. Perkelahian antar waria ketika terjadi persaingan dalam mencari pelanggan maupun bentuk-bentuk kejahatan yang lain. Sikap-sikap dan perilaku waria yang seperti itulah sehingga menyebabkan waria dianggap sebagai sebuah patologis sosial. Waria dipandang sebagai individu yang patologis secara sosial pernah dikaji oleh Soejono, hasil dari studi tersebut menjelaskan bahwa penyimpangan seksual yang ada dalam diri seorang waria ternyata telah melahirkan suatu bentuk penyimpangan sosial seperti pelacuran, seks bebas dan perkosaan, meskipun 4 Koeswinarno. “ Hidup Sebagai Waria”. (LkiS, Yogyakarta, 2004) 8 5 Ibid, 5 8 hukum menyadari bahwa perbuatan ini diluar keinginan pelaku dan merupakan penyakit.6 Penerimaan sosial dalam lingkungan dimana waria menjadi bagian telah menjadi persoalan latent. Pandangan negatif terhadap waria menciptakan keterasingan secara sosial, baik oleh keluarga, maupun lingkungan. Kondisi ini yang kemudian harus membuat mereka lari dari rumah dan lingkungannya. Dengan bekal keahlian yang minim, akhirnya mereka kemudian menyatu dengan teman senasib, melacur, dan kemudian terbentuklah sub-kultur waria dengan berbagai atributnya; bahasa, nilai, gaya hidup, dan solidaritas. Posisi ini yang mengakibatkan waria tidak memiliki bargaining position (posisi tawar-menawar) secara sosial, sehingga penerimaan waria hanya terbatas pada kelompok-kelompok yang permisif dengan nilai-nilai pelacuran. Permisivitas ini terkadang tidak rasional, bahkan cenderung emosional. Sekali lagi, keberadaan waria yang seperti itu justru menambah lagi stigmasi baru terhadap kaum waria serta semakin membuat sulit bagi komunitas ini. Berdasarkan berbagai macam fenomena yang ada, sebenarnya para waria tersebut sudah berusaha untuk mengungkapkan identitas diri dan meningkatkan eksistensi mereka pada masyarakat, seperti pemilihan Miss Waria pada bulan Juni 2005 yang diikuti dari berbagai propinsi yang ada di Indonesia,seperti konteskontes kecantikan lain, pemilihan putri waria juga mempertimbangkan aspek 3 B, yakni beauty (kecantikan), brain (daya pikir), dan behavior (atau tingkah laku), penerbitan buku, road show ke sejumlah kota di Indonesia tentang kehidupan 6 Soedjono. “Pathologi Sosial”, (Alumni, Bandung,1982) 59 9 mereka, penyuluhan HIV/AIDS, bahkan salah satu dari mereka yaitu Merlyn Sopjan yang juga sebagai ketua IWAMA pernah mendaftarkan diri sebagai calon walikota di Malang. Selain itu Merlyn juga pernah dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa (HC) dari dari Northean California Global University Amerika Serikat atas perannya sebagai aktivis HIV/AIDS, terutama atas peranannya dalam meminimalisisr perilaku seksual beresiko tinggi di kalangan waria. Semua itu mereka perjuangkan semata-mata karena ingin menunjukkan bahwasannya mereka “ada” dan berhak menjalani kehidupan yang layak sebagaimana manusia yang lainnya. Menengok dari jenjang pendidikan yang ditempuh oleh kaum waria ini, walaupun ada sebagian diantara mereka yang sampai menempuh ke jenjang perguruan tinggi, tetapi terasa sangat susah untuk mencari pekerjaan yang layak. Pada sektor-sektor formal, kebanyakan masyarakat menilai waria sebagai sesuatu yang beda, bahkan ada sebagian diantara mereka yang takut terhadap waria. Pandangan masyarakat yang negatif terhadap waria dan enggan bergaul membuat mereka menjadi tidak leluasa mengungkapkan dirinya sebagaimana layaknya masyarakat pada umumnya. Melihat kenyataan yang seperti itu, tentunya kita menyadari bahwa kaum waria adalah juga manusia yang membutuhkan tempat untuk mengaktualisasikan diri mereka dalam kehidupan ini. Tetapi kembali lagi, semua itu berbenturan dengan pandangan masyarakat yang selalu minor terhadap kaum waria ini. Keadaan seperti itulah yang terkadang menjadi sebuah penghambat bagi komunitas waria untuk bisa mengaktualisasikan bakat dan potensi yang mereka 10 miliki. Sebuah stigma yang terlanjur minor sudah sejak lama melekat pada diri mereka, sehingga sangat sulit bagi para kaum ini untuk bisa hidup sebagaimana normalnya manusia secara sosial. Sebagian waria di Indonesia mampu mengembangkan diri sebagai seorang waria dangan kekhasannya, namun tidak sedikit waria yang belum mampu melihat dirinya berbeda. Merasa ditolak dan belum mampu berinteraksi dalam masyarakat. Perlakuan buruk tersebut, serta ketidakbebasan mengekspresikan jiwa kewanitaannya memicu untuk meninggalkan keluarga dan lebih memilih untuk berkumpul bersama dengan waria lainnya. Ada FKW (Forum Komunikasi Waria) untuk daerah Jakarta, IWABA (Ikatan Waria Bandung), HIWAT (Himpunan Waria Jawa Barat), dan di Malang pada tanggal 17 Mei 1991 berdirilah organisasi waria bernama IWAMA (Ikatan Waria Malang). Menurut Kartono (1989), waria dalam konteks psikologis termasuk gejala transeksualisme, yakni seseorang yang secara jasmani jenis kelaminnya jelas dan sempurna. Namun secara psikis cenderung untuk menampilkan diri sebagi lawan jenis. Gejala ini sangat berbeda dengan homoseksual, dimana homoseksualitas semata-mata untuk menunjuk pada suatu relasi seksual, seseorang merasa tertarik dan mencintai dengan jenis kelamin yang sama.7 Walaupuan hadirnya seorang waria secara umum tidak pernah dikehendaki oleh keluarga manapun, tetapi sangat sulit bagi seorang waria untuk dapat lepas dari belenggu yang sangat kuat membelitnya tersebut. Seperti yang disimpulkan oleh Davison dan Neale (1978) dalam penelitiannya tentang transeksualisme, 7 Kartono,Kartini, “Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual”. (Mandar Maju, Bandung. 1989) 47 11 salah satu penyebab transeksualisme adalah heterophobia, yakni adanya ketakutan pada hubungan seks dari jenis kelamin perempuan karena pengalaman yang salah.8 Banyak sekali tentang cerita kehidupan seorang waria yang selalu dikucilkan dalam kehidupan mereka. Proses pencarian jati diri yang mereka lakukan terkadang membutuhkan waktu yang lama dan dengan penuh pengorbanan. Tidak sedikit dari mereka yang diusir dari keluarga setelah ketahuan mempunyai sifat yang seperti itu. Walaupun ada pula keluarga yang menerima dengan lapang dada keberadaan mereka tetapi membutuhkan waktu yang sangat lama. Dengan melihat berbagai persoalan tersebut di atas, melakukan penelitian tentang dunia waria dengan sendirinya menjadi satu tema yang cukup menarik. Ada tiga hal yang secara teoritik menjadikan tema penelitian tentang waria menjadi suatu tema yang cukup menarik. Pertama ,fakta menunjukkan bahwa dunia waria bukan merupakan satu keadaan yang secara tiba-tiba muncul dengan sendirinya. Sejarah kebudayaan menunjukkan adanya fenomena gemblak dalam dunia warok di Jawa Timur. Dimana seorang warok akan selalu memelihara gemblak (pemuda usia belasan tahun) yang dijadikan sebagai pelampiasan nafsu para warok tersebut. Kedua, waria sebagai makhluk sosial yang harus hidup dalam lingkungan masyarakat selalu saja mendapatkan tantangan dari berbagai komponen masyarakat yang ada disekitar mereka. . Ketiga, waria sebagai individu tentunya juga mempunyai sebuah cita-cita dan juga pengharapan 8 Davison, G. C & Neale, John M. Abnormal Psychology. 8 th edition: (John Wiley & Son, New York 1978) 312 12 terhadap keberadaan mereka. Timbulnya keinginan itulah yang melahirkan adanya anggapan terhadap diri mereka yang berasal dari lingkungan, baik itu yang positif maupun yang negatif dimana pada akhirnya menumbuhkan konsep diri yang bisa mempengaruhi cara pandang mereka terhadap diri mereka sendiri. Pandangan-pandangan yang terkadang miring terhadap kaum waria itulah yang menyebabkan mereka kurang mempunyai keberanian untuk mengakui siapa dia sebenarnya. Kekurang beranian mereka tentunya sangat beralasan. Karena hal itu juga berkenaan dengan penerimaan masyarakat terhadap individu waria. Permasalahan berani atau tidak untuk mengakui jati dirinya juga tidak terlepas dari bagaimana konsep diri yang dimiliki oleh waria tersebut. Konsep diri menurut Brehm & Kassin (dalam Dayakisni dan Hudaniah) adalah : “ Keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri sifat) yang dimilikinya ”.9 Sunaryo (2004), mendefinisikan konsep diri sebagai cara individu dalam melihat pribadinya secara utuh, menyangkut fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual.10 Berdasarkan definisi tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa konsep diri merupakan sesuatu yang berkenaan dengan pandangan, pendapat, dan perasaan individu terhadap dirinya sendiri yang berhubungan dengan cara pandang lingkungan terhadap dirinya baik itu secara fisik maupun psikologis. Dalam hal ini adalah bagaimana pandangan individu waria tersebut terhadap keadaan dirinya, tentunya hal itu dipengaruhi pula oleh cara pandang 9 Dayakisni dan Hudaimah. “ Psikologi Sosial ” (Ed. Revisi), (UMM Press, Malang , 2003) 65 10 Sunaryo, “ Psikologi Untuk Keperawatan ”, (Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta , 2004) 32 13 lingkungan terhadap dirinya. Ketika seseorang sudah mempunyai konsep diri yang positif terhadap drinya maka dia akan merasa nyaman terhadap keadaan apapun yang terjadi terhadap dirinya. Namun sebaliknya ketika seseorang mempunyai pandangan yang kurang baik terhadap dirinya, maka dia akan selalu merasa tidak nyaman dengan keberadaannya tersebut. Berdasar pada fenomena diatas maka peneliti akan membahas Konsep Diri Individu Waria (Studi Kasus Pada IWAMA (Ikatan Waria Malang)). Dalam peneltian ini, diharapkan peneliti dapat menemukan bagaimanakah konsep diri yang ada pada individu waria tersebut.
B.     Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang penelitian yang dikemukakan diatas, maka beberapa masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah proses terjadinya konsep diri pada individu waria IWAMA ? 2. Mengapa individu waria IWAMA mempunyai konsep diri tertentu ?
C.     Tujuan Penelitian
 Sesuai dengan perumusan masalah diatas, maka beberapa tujuan dalam penelitian ini adalah : 1. Mengetahui konsep diri pada individu waria di IWAMA. 2. Mengetahui alasan individu waria IWAMA memiliki konsep diri tertentu.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis 14 a. Kontribusi ilmiah bagi kalangan akademisi berupa informasi mengenai waria. b. Para peneliti dapat memanfaatkan hasil penelitian sebagai salah satu rujukan penelitian selanjutnya, terutama yang berkaitan dengan konsep diri waria. 2. Manfaat praktis a. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu pertimbangan bagi para praktisi dibidang kesehatan mental (Psikolog dan Psikiater) yang menangani klien atau pasien waria. b. Anggota masyarakat mendapatkan bahan informasi mengenai waria, khususnya yang berkaitan dengan konsep diri waria.


Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Konsep diri pada individu waria: Sudi kasus pada IWAMA (Ikatan Waria Malang).." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment