Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, June 12, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Transinternalisasi nilai: Implementasi pendidikan nilai di SDN 5 Krebet Ponorogo.

Abstract

INDONESIA :
Semakin banyaknya fenomena pelanggaran nilai-nilai oleh generasi muda, ditengarai sebagai salah satu kegagalan misi pendidikan. Di Indonesia, pendidikan sebagai salah satu sub-sistem sosial memiliki peran penting dalam rangka mencetak generasi yang sehat dan beradab. Hal ini penting untuk mengidentifikasi nilai-nilai yang hampir hilang di negeri ini, untuk kemudian dilakukan penyadaran ulang, guna menjadikan iklim di negeri ini lebih damai dan beradab. Salah satu tema pendidikan yang belum mendapat perhatian yang semestinya dari berbagai pihak adalah tema pendidikan nilai. Asumsi dasar pendidikan nilai adalah bahwa orientasi pendidikan tidak lagi hanya terbatas pada penyediaan tenaga kerja, melainkan juga pembentukan kepribadian peserta didik yang sehat sebagai individu dan sebagai warga negara.
Penelitian ini bermaksud memahami dengan lebih mendalam implementasi pendidikan nilai di SDN 5 Krebet Ponorogo, sebagai salah satu lembaga pendidikan di Ponorogo, Jawa Timur. tepatnya di Dusun Sidowayah. Dusun ini beberapa tahun terakhir disebut-sebut dalam berbagai tayangan di televisi dan berita di surat kabar sebagai dusun yang terkenal dengan fenomena kekurangan gizi dan retardasi mental.
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan dengan cara wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Analisis data dilakukan dengan dua tahap: yaitu reduksi fenomenologis, dan reduksi editik.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa impelmentasi pendidikan nilai di SDN 5 Krebet Ponorogo menggunakan metode value clarification, value analysis, moral awareness, union approach, dan satu lagi pendekatan yang berbeda dengan kebanyakan metode yang dikenal dalam pendidikan nilai, yaitu pendekatan ini menunjukkan hubungan personal antara guru dengan murid. Proses transinternalisasi nilainya adalah: menyimak, menanggapi, memberi nilai, organisasi nilai, dan karakterisasi nilai. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa para siswa sebenarnya tidak selalu memberikan respon yang bagus terhadap upaya-upaya pendidikan nilai. Kadang mereka menunjukkan respon yang negatif, seperti membantah guru, dan lain-lain. Akan tetapi, hal ini juga menunjukkan proses pemahaman nilai-nilai yang sedang dialami oleh siswa.
Makna implementasi pendidikan nilai yang di dalamnya meliputi tujuan-tujuan pendidikan nilai di SDN 5 Krebet Ponorogo antara lain adalah untuk membekali siswa dengan kepemilikan nilai-nilai, untuk memotivasi siswa agar tetap optimis di tengah kondisi yang serba sulit, untuk meminimalkan pandangan negatif tentang fenomena retardasi mental di dusun mereka dan untuk mengenalkan kepada mereka nilai-nilai yang mereka butuhkan dalam hidup bermasyarakat kelak.
ENGLISH :
The rapid growing of value violation by the youth in this country, viewed as one of failure of education. In Indonesia, education as one of the social systems, have an important function to develope the good generation. It is important to identify the values that almost disappeared to be clarified to make the climate of this country more courteus. One of some important theme of education that not pay many attention yet is value education. The orientation of education is not only meant for supplying the human resource, but also meant for developing the personality of students.
This research attemps to understand the implementation of value education of SDN 5 Krebet Ponorogo as one of school at Ponorogo, East Java. This village, at some months ago, famous by mental retardation phenomena as mentioned by some mass media, like television and newspaper.
The study conducted by the phenomenological approach. The data have been collected by interviews, observations, and analise some documents. The data analysis was conducted in two step: data interpretation (phenomenological reduction), and editic reduction.
The results show that implementation of value education of SDN 5 Krebet Ponorogo are by using the method of value clarification, value analysis, moral awareness, union approach, and one method that show the personal approach between the teachers and the students. The process of value transinternalization are: paying attention for the value activities, response the value activities, valuing step, value organizing, and value characterizing. Actually, the students are not always shown a good response for the value education. Sometimes they shown a negative response. But actually, it is show a process of values understanding.
The aims of implementation of value education of SDN 5 Krebet Ponorogo are, to give some values provision, to motivate the students to stay optimize in the difficult condition of their village, to minimilize the negative opinion of the mental retardation phenomena in this village, and to introdutcion and give the students some value that needed in the social interaction in their life- span.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah

Proses pertumbuhan dan perkembangan manusia berlangsung dalam suatu kontinum, mulai dari hal-hal yang bersifat sederhana menuju yang lebih kompleks. Berbagai indikator proses pertumbuhan dan perkembangan tersebut tampak dari adanya perubahan ke arah kedewasaan manusia sebagai individu serta kemajuan tatanan sosial dan budaya manusia dari hari ke hari. Manusia memiliki potensi untuk mengaktualisasikan dirinya dalam memenuhi kebutuhan yang tinggi. Sebagaimana diungkapkan oleh Dyer (Mulyana, 2004: 111) bahwa manusia pada akhirnya dapat berkembang pada tingkat no limit person yang batas perkembangannya adalah “langit”. Langit merupakan kiasan yang digunakan oleh Dyer untuk menggambarkan potensi manusia yang luar biasa. Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tengah terjadi. Kemajuan IPTEK merupakan salah satu bukti bahwa manusia mampu mengembangkan intelektualnya sampai pada batas-batas maksimal. Kemajuan ini tidak hanya berlangsung dalam paradigma perubahan yang berbeda dari pengalaman manusia sebelumnya, tetapi terkadang melampaui daya prediksi manusia saat ini. Menurut Mulyana (2004: 111-112), isyarat ke arah ini telah dikemukakan oleh para futurolog, Bell menyebutnya sebagai masyarakat pasca industri (post-industrial society), Toffler menyebutnya sebagai masyarakat gelombang ketiga (the third wave society). 13 Sedangkan McLuhan, Briggs & Peat menyebutnya sebagai paradoks global (global paradox) dan kesemrawutan (chaos). Konsekuensi logis dari pertumbuhan dan perkembangan masyarakat di dunia yang semakin kompetitif ini adalah terjadinya lompatan IPTEK yang semakin mengglobal. Berbagai kemudahan yang ditawarkan, jika tidak dilandasi rasa tanggung jawab, maka akan berpotensi mengakibatkan terjadinya degradasi moral yang tragis dan memprihatinkan, seperti adanya perusakan lingkungan, penindasan, bahkan peperangan. Tarik ulur antar kepentingan yang berbeda menghasilkan berbagai ketegangan yang menurut Delors (Mulyana, 2004: 112) muncul dalam konteks ketegangan antara kepentingan global dan lokal, ketegangan antara kompetisi dan kepedulian, dan ketegangan antara kebutuhan spiritual dan material. Di satu sisi IPTEK semakin menampakkan keunggulannya dalam memberikan fasilitas kemudahan dalam memenuhi kebutuhan manusia, namun di sisi lain tengah terjadi krisis nilai kehidupan yang tidak terhindarkan dan menyeret manusia kepada krisis multi dimensi. Munculnya krisis dalam berbagai sisi kehidupan manusia inilah yang kemudian menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan saat ini dan yang akan datang. Di Indonesia, pendidikan sebagai salah satu sub-sistem sosial memiliki peran strategis dalam mendayagunakan potensi manusia agar menjadi lebih baik dan lebih matang, meskipun isu tentang keberhasilan maupun kegagalan misi pendidikan nasional dalam mencetak generasi yang beradab dan maju masih menjadi perbincangan yang belum usai hingga sekarang. Tercatat banyak sekali kasus kenakalan remaja seperti peredaran narkoba yang tidak pandang usia (Sinar 14 Harapan: 25 Desember 2005), perampokan dan perampasan pelajar yang disertai dengan kekerasan (Kompas: 16 November 2007), geng motor (YahooAsia: 25 Oktober 2007), tawuran antar pelajar di perkotaan (Kompas: 17 Mei 2004; DetikCom: 07 Mei 2005; Tabloid On Line: 12 Februari 2007; Disinkom Bandung: 14 November 2007), dan berbagai kasus lain. Beberapa pihak mengatakan bahwa gagalnya pendidikan salah satunya disebabkan oleh lembaga pendidikan yang hanya memperhatikan aspek kognitif saja, dan mengabaikan aspek emosional dan sosial. (Bali Post: 08 Maret 2005). Pihak yang lain mengatakan gagalnya pendidikan adalah akibat dari kurang terperhatikannya kompetensi guru dan kurangnya penanaman nilai-nilai agama dalam kegiatan belajar mengajar seharihari. (Suara Karya: 21 November 2007). Di balik semua itu, sebenarnya masalah mendasar yang harus diselesaikan adalah bekal apa saja yang harus dipersiapkan oleh dunia pendidikan dalam rangka mengantisispasi dampak buruk dari kecenderungan perkembangan kebudayaan manusia. Kluckhohn (Mulyana, 2004: 110) mengungkapkan bahwa untuk menjadi masyarakat yang beradab dan berjalan dinamis, terdapat 5 pertanyaan yang harus dijawab oleh manusia kapanpun dan dimanapun. Lima pertanyaan tersebut adalah: (1) perasaan apa yang paling diutamakan manusia ketika ia berhubungan dengan orang lain?, (2) dimensi waktu apa yang ia pentingkan? (3) tipe kepribadian apa yang dianggapnya paling bernilai? (4) bentuk hubungan apa yang dijalin manusia dengan alam, dan (5) kecenderungan inti apa yang dimiliki manusia?. Dengan mencermati kehidupan yang semakin immoral dan tingginya intensitas degradasi nilai di negeri ini, menjadi hal yang penting mengidentififkasi 15 nilai-nilai yang nyaris hilang untuk kemudian dilakukan penyadaran ulang guna mengembalikan negeri ke arah yang lebih menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab. Salah satu tema sentral makna kehidupan yang mulai banyak diperbincangkan namun belum digarap dengan serius oleh pendidikan di Indonesia saat ini adalah aspek pendidikan nilai. Orientasi pendidikan tidak lagi terbatas pada pemenuhan tenaga kerja, melainkan juga berorientasi pada pembangunan kepribadian peserta didik yang sehat sebagai individu dan sebagai warga negara. Tujuan pendidikan nilai secara umum dikemukakan komite APEID (Asia and the Pasific Programme of Educational Innovation for Development), bahwa pendidikan nilai ditujukan untuk: (a) menerapkan pembentukan nilai kepada anak; (b)menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai-nilai yang diinginkan; dan (c) membimbing perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai tersebut. Dengan demikian, pendidikan nilai memiliki tujuan meliputi tindakan mendidik yang berlangsung mulai dari usaha penyadaran nilai sampai pada perwujudan perilakuperilaku yang bernilai (Mulyana, 2004: 120). Lebih jauh lagi ini juga berarti membantu membentuk kepribadian yang sehat pada diri peserta didik. Dengan menerapkan pendidikan nilai kepada anak akan membentuk berbagai sikap yang bernilai yang akan membimbing perilaku anak sepanjang hidupnya, yang menuju pada pembentukan kepribadian yang sehat. Muhadjir (1999: 15-17) menyatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, pendidikan paling tidak mempunyai tiga fungsi utama, yaitu: (1) menumbuhkan kreativitas subyek didik, (2) menumbuh-kembangkan 16 nilai-nilai insani dan ilahi (living values) pada subyek didik dan satuan sosial, dan (3) memberikan bekal kerja produktif. Perubahan sosial yang begitu cepat menuntut adanya kreativitas pada masing-masing individu agar mampu bersaing dalam perputaran roda kemajuan. Kreativitaslah yang akan membuat individu selalu kritis dan inovatif, bukannya reaktif saja dalam menghadapi arus zaman. Kreativitas menuntut kemampuan untuk menggeneralisasikan, mengabstraksikan, menemukan hubungan uniknya untuk menampilkan pendapat, sikap, dan lebih jauh wawasan yang tepat. Sedangkan fungsi yang kedua bertujuan untuk menjaga agar koridor kreativitas tidak melewati batasnya. Karena pendidikan yang bertujuan ”baik” harus pula dilakukan dengan cara dan jalan yang ”baik” pula untuk membentuk manusia yang bermartabat sesuai dengan tujuan pendidikan. Fungsi ketiga pendidikan bertujuan untuk memenuhi tuntutan kerja produktif, dalam artian agar individu dapat bekerja efisien, dengan upaya minimal dapat memberikan nilai tambah optimal, sekaligus juga melahirkan produk-produk yang dapat melestarikan dan memperkaya khazanah kultural. Ketiga fungsi pendidikan tersebut jika dapat ter-transinternalisasikan pada diri para pelaku pendidikan, maka akan menjadi bekal kuat menghadapi arus perubahan sosial. Ketika penyelenggaraan pendidikan di berbagai daerah di Indonesia mendapatkan beragam tantangan terkait dengan fenomena penurunan moral generasi muda, fenomena lain yang cukup menarik terlihat di sebuah lembaga pendidikan sekolah dasar di salah satu daerah di Jawa Timur, yaitu di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5 Krebet Ponorogo. Sekolah ini terletak di Dusun Sidowayah, Desa Krebet (sejak 22 Agustus 2007 menjadi Desa Sidoharjo sebagai 17 pecahan dari Desa Krebet), Kabupaten Ponorogo. Desa ini beberapa tahun terakhir disebut-sebut oleh beberapa media sebagai ”kampung idiot” karena fenomena keterbelakangan mental dan kelainan fisik lainnya, khususnya di Dusun Sidowayah (Duta Masyarakat: 09 Januari 2007, Republika OnLine: 24 Maret 2007). Beberapa stasiun televisi nasional menayangkan getirnya kehidupan di dusun ini. Beberapa surat kabar harian lainnya meliputnya dengan label jerat kemiskinan dan kekurangan gizi, dengan embel-embel ”lingkaran setan” (Kompas: 03 Oktober 2007). Di tengah kondisi sosial ekonomi yang serba sulit, proses belajar mengajar di SDN 5 Krebet Ponorogo sepintas terlihat berbeda dengan fenomena degradasi nilai para pelajar di perkotaan sebagaimana yang dijelaskan di atas. Dengan fasilitas gedung yang sangat terbatas, dimana satu ruang digunakan untuk belajar dua kelas, murid-murid SD ini masih tetap semangat mengikuti proses belajar mengajar. Jarak rumah yang jauh dengan sekolah tidak membuat mereka enggan datang setiap hari untuk belajar, meskipun sebagian dari mereka bahkan harus naik turun gunung yang berjarak kurang lebih 2,5 km dari sekolah. Kebanyakan dari mereka bahkan menyusuri jalan setapak penuh batu tersebut dengan tanpa alas kaki. Dalam kondisi tersebut peneliti melihat mereka mempunyai semangat atau motivasi yang tinggi untuk menuntut ilmu, tetap optimis di tengah kondisi yang serba sulit. Dengan profil dusun Sidowayah seperti yang telah digambarkan di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran implementasi pendidikan nilai, proses transinternalisasinya pada diri peserta didik, serta makna yang dapat 18 diungkap dari implementasi pendidikan nilai tersebut, sehingga diharapkan bisa menjadi suatu masukan tentang strategi penanaman nilai-nilai pada diri peserta didik untuk mencetak generasi yang siap merespon perubahan dengan penuh tanggung jawab. Dengan latar belakang tersebut di atas, maka penelitian ini mengambil tema ”Transinternalisasi Nilai (Implementasi Pendidikan Nilai di Sekolah Dasar Negeri 5 Krebet-Ponorogo)”. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana implementasi pendidikan nilai dalam kegiatan belajarmengajar di SDN 5 Krebet Ponorogo? 2. Bagaimana transinternalisasi nilai pada diri peserta didik di SDN 5 Krebet Ponorogo ? 3. Bagaimana makna implementasi pendidikan nilai dalam kegiatan belajar mengajar di SDN 5 Krebet Ponorogo? C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1. Implementasi pendidikan nilai dalam kegiatan belajar mengajar di SDN 5 Krebet Ponorogo. 2. Transinternalisasi nilai pada diri peserta didik di SDN 5 Krebet Ponorogo. 3. Makna implementasi pendidikan nilai dalam kegiatan belajar mengajar di SDN 5 Krebet Ponorogo. 19 D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dapat diambil dari penelitian ini antara lain adalah: 1. Bagi peneliti diharapkan dapat memberikan informasi pengetahuan tentang implementasi pendidikan nilai dalam kegiatan belajar mengajar pada SDN 5 Krebet Ponorogo, serta bagaimana pendidikan nilai tersebut dapat ditransinternalisasi dalam diri peserta didik, mengingat lembaga sekolah yang bersangkutan adalah lembaga sekolah dasar yang berada di wilayah terisolir dan tergolong daerah tertinggal. Selain itu juga diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang makna apa yang dapat diungkap dari proses implementasi pendidikan nilai di SDN 5 Krebet Ponorogo, sehingga nantinya diharapkan dapat digunakan untuk melakukan penelitian lebih lanjut serta dapat digunakan sebagai pijakan dalam mengambil langkah-langkah untuk mengadakan inovasi pendidikan dan menjawab tantangan perubahan sosial yang semakin pesat. 2. Bagi objek penelitian diharapkan dapat memberikan informasi tentang hubungan yang signifikan antara pendidikan nilai serta proses transinternalisasinya, dengan perkembangan belajar peserta didik. 3. Bagi subyek penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan serta motivasi untuk mendorong tumbuh kembang siswa secara optimal, serta diharapkan mampu menjadi media penyadaran nilai pada lembaga sekolah khususnya dan masyarakat sekitar umumnya, yang mungkin belum mendapat perhatian yang semestinya.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Transinternalisasi nilai: Implementasi pendidikan nilai di SDN 5 Krebet Ponorogo.." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment