Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, June 12, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan antara model-model coping stres dengan tingkat stres pada mahasiswa tahun pertama Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.


Abstract

INDONESIA:
Kemampuan untuk mengatasi masalah pada tiap orang tentu berbeda-beda. Kemampuan mengatasi masalah atau dengan kata lain upaya mental atau perilaku dalam menguasai, mentoleransi atau mengurangi efek suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan inilah yang disebut dengan Coping Stres. Lazarus dan Folkman (1984) membagi Coping menjadi dua yaitu Problem Focused Coping dengan Emotional Focused Coping. Penelitian Wilman (2005) menyebutkan bahwa ada perbedaan derajat stres antara orang yang mempunyai kecenderungan Problem Focused Coping dan Emotional Focused Coping. Pattel membagi tingkat stres menjadi tiga yaitu Too Little Stres, Too Much Stres, dan Breakdown Stres Meski Wilman telah menjukkan adanya perbedaan derajat stres pada penggunaan dua model coping tersebut namun penelitian tersebut dilakukan pada orang dewasa. Lalu bagaimanakah hubungan model coping pada mahasiswa baru (yang notabene belumlah bisa dikatakan dewasa) terhadap tingkat stres?
Maka dari itu jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan cara menyebarkan angket pada semua populasi. Hasil penelitian akan dianalisis lalu kemudian diinterpretasi.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tidak ada hubungan problem coping stres dengan too little stres (stres tingkat rendah, terdapat hubungan problem focused coping dengan too much stres (stres tingkat sedang), terdapat hubungan problem focused coping dengan breakdown stres(tingkat stres tinggi) Sedangkan pada emotional focused coping didapatkan adanya hubungan toolittle stres (stres tingkat rendah) sedangkan emotional focus coping hubungan too much stres (stres tingkat sedang) terdapat hubungan yang tinggi, akan tetapi berbeda dengan yang dua tingkat stres diatas, emotional focused coping tidak mempunyai hubungan terhadap breakdown stres(tingkat stres tinggi).
Untuk mencapai tujuan mahasiswa dengan prestasi yang bagus dengan meminimalisir tingkat stres maka diharapkan Ketika menghadapi masalah dengan tingkat stres too little stres(stres tingkat rendah) dan too much stres (stres tingkat sedang) disarankan bagi mahasiswa lebih menguntungkan menggunakan emotional focus coping. Ketika menghadapi breakdown stres(tingkat stres tinggi) lebih menguntungkan menggunakan problem focused coping. Akan tidak menguntungkan jika seseorang menghadapi breakdown stres(tingkat stres tinggi) sementara ia menggunakan breakdown stres(tingkat stres tinggi).
ENGLISH:
People’s ability to overcome those kind of problems are different to each others. The ability to overcome the problems or in other words we can say the mental efforting, attitude controlling, toleration, and decreasing the effect of a certain situation which are full of pressure called Coping Stress. Lazarus and Folkman (1984) divide Coping into two; Problem Focused Coping and Emotional Focused Coping. Wilman (2005) states that there are differences in term of the degree of stress between people who have tendency in Problem Focused Coping and Emotional Focused Coping. Pattel divides the degree of stress into three levels; Too Little Stress, Too Much Stress, Breakdown Stress, although, Wilman has shown that there are differences in term of the degree of stress in both of coping models toward adult people. Then, what about the coping model does in correlating the freshman in the degree of stress?
Based on that, the writer uses quantitative approach in conducting this study, that is by giving questionaire to all population and the result will be analyzed and interpreted.
The result shows that there is no correlation between Problem Coping Stress and Too Little Stress (the lower level of stres). And also, there is corrrelation between Problem Coping Stress and Too Much Stress (the middle level of stress ).. The last, there is corrrelation between Problem Coping Stress and Breakdown Stress (the higher level of stress) and it proves by having higher
Meanwhile in the emotional focus coping, the writer can gain that there is corrrelation toward too little stress (the lower level of stres), while toward too much stress (the middle level of stress) on the other hand emotional focus coping does not have correlation to breakdown stress (the higher level of stress)


To be able to have students with high achievements, we should minimalize the degree of the stress. By doing that, it hopes that if the students have problems with too little stress or too much stress, it is better if they use emotional focuse coping. But when they face it in breakdown stress, it is better if they use problem focuse coping. The last is, it is worse if they have problem with breakdown stress and they use breakdown stress also.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Stres merupakan suatu kondisi yang biasa dihadapi oleh manusia ketika terdapat kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Dalam keadaan tertentu stres diperlukan oleh individu agar individu dapat berfungsi secara normal. Gejolak perasaan pada tingkat sedang dapat menghasilkan kewaspadaan dan minat pada tugas yang dilakukan, karena bagaimanapun system saraf manusia memerlukan sejumlah rangsangan untuk bisa berfungsi dengan baik. Perubahan hidup dalam berbagai keadaan merupakan faktor yang dapat beresiko memunculkan tekanan hidup. Bagaimanapun bagusnya kecakapan individu dalam mengatasi masalah, banyak situasi hidup yang akan menimbulkan stres. Keinginan manusia tidak selalu dapat dipuaskan dengan mudah; hambatan harus ditanggulangi dan pilihan harus ditentukan. Tiap individu mengembangkan cara yang khas dalam memberikan respon bila usaha untuk mencapai tujuan individu terhambat. Manusiapun selalu berusaha menyelesaikan masalahnya. Efek stres pada manusia bisa beragam. Carlson menyatakan bahwa responrespon fisiologis terhadap stress memiliki efek yang tidak membahayakan sepanjang respon tersebut berlangsung singkat. Tetapi kadang, situasi-situasi yang mengancam terus berlanjut dan menghasilkan respon stres yang berkepanjangan sehingga membahayakan kesehatan individu yang mengalaminya.1 1 Carlson, N.R Psychology of Behavior USA: Allin & Bacon, 1994. hal 25 16 Efek terhadap tubuh karena stres yang berkepanjangan menurut Davison & Neale tampak pada tingginya tingkat hormon-hormon stres dan menjadi pekanya tubuh terhadap penyakit karena berubahnya system imun. Tingginya tingkat kortisol sebagai hormon stres dapat memiliki pengaruh langsung terhadap otak dengan membunuh sel-sel pada hipokampus yang mengatur pengeluaran kortisol. Hasilnya, seseorang dapat menjadi lebih peka terhadap efek stres yang ditunjukkan oleh tingginya tingkat hormon stres karena seringnya individu mengalami stres meskipun individu lain dapat beradaptasi terhadap stres. 2 Transisi dari sekolah menengah ke perguruan tinggi merupakan salah satu kondisi yang dihadapi oleh para mahasiswa. Berbagai penyesuaian yang harus dihadapi oleh para mahasiswa dapat berhubungan dengan faktor personal seperti jauhnya para mahasiswa dari orang tua dan sanak saudara, pengelolaan keuangan, problem interaksi dengan teman dan lingkungan baru, serta problem-problem personal lainnya. Faktor akademik di sisi lain juga menyumbangkan potensi stres misalnya tentang perubahan gaya belajar dari sekolah menengah ke pendidikan tinggi, tugas-tugas perkuliahan, target pencapaian nilai dan problem-problem akademik lainnya. Masa awal diterima sebagai anggota lingkungan akademis kampus atau masa-masa menjadi mahasiswa baru misalnya seringkali juga disertai oleh beberapa konflik. Dalam kerangka akademis, status dan peran sebagai seorang mahasiswa seringkali memberikan konsekuensi psikologis yang memberatkan bagi seseorang. Banyak penelitian menyimpulkan bahwa ujian, praktikum dan 2 Carlson, N.R Psychology of Behavior, USA: Allin & Bacon, 1994. hal 26 17 tugas-tugas kuliah yang lain memicu timbulnya stres yang berhubungan dengan peristiwa akademis (academic stress), yang dalam tingkat keparahan tinggi dapat menekan tingkat ketahanan tubuh. Transisi dari sekolah menengah menuju Universitas juga melibatkan gerakan menuju satu struktur sekolah yang lebih besar dan tidak bersifat pribadi. Interaksi dengan kelompok sebaya dari daerah yang beragam latar belakang etniknya dan peningkatan perhatian pada prestasi dan penilainanya. 3 Memang transisi juga memberikan hal positif seperti peningkatan rasa tanggung jawab namun demikian nampaknya mahasiswa baru lebih banyak menunjukan rasa tekanan sebagai bentuk reaksi terhadap masa transisi mereka, hal ini mengacu pada Survei terhadap kurang lebih 3000 mahasiswa baru pada sekitar 500 sekolah tinggi dan Universitas. 4 Beberapa mahasiswa universitas melaporkan bahwa mereka merasa ”jenuh” (bornout). Bornout adalah suatu perasaan putus asa dan tidak berdaya yang diakibatkan oleh stres yang berlarut-larut yang berkaitan dengan dengan kerja. Burnout menjadikan penderitanya berada dalam kelelahan fisik dan emosi yang mencakup kelelahan kronis dan rendahnya energi. 5 Pada banyak kampus, bornout di Universitas adalah alasan paling umum untuk meninggalkan kampus sebelum memperoleh gelar mereka, mencapai ratarata 25% pada beberapa Universitas. Cuti dari kampus selama satu atau dua semester dulunya dianggap sebagai tanda kelemahan. Kini kadang dianggap biasa ” berhenti sementara karena mahasiswa benar-benar ingin kembali ke sekolah, hal 3 Santrock, Life Span Development(terjemahan), Jakarta: Erlangga, 2002 hal 74 4 Santrock, Life Span Development(terjemahan), Jakarta: Erlangga, 2002.hal 74 5 Santrock, Life Span Developmen(terjemahan), Jakarta; Erlangga,,2002. hal 74 18 itu dianjurkan untuk beberapa mahasiswa yang merasa kewalahan menghadapi stres6 Menurut Martianah banyak mahasiswa mengalami stress dikarenakan beberapa faktor, antara lain: a) hubungan dengan seks lain, b) pembuatan keputusan tentang pekerjaan, c) masalah yang timbul dirumah7 . Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan peneliti terhadap 14 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang tingkat pertama tahun 2007, mengungkapkan bahwa sebagian merasa mengalami apa yang disebut sebagai gangguan penyesuaian dalam istilah psikologi. Sebagian mengatakan merasa pusing, marah dengan mengatakan kata-kata kotor. Sedangkan ketika ditanya tentang faktor penyebabnya, wawancara tersebut mengungkapkan, tugas menempati posisi pertama hal ini dikarenakan tugas sekarang lebih banyak dari ketika sekolah menengah, kedua faktor budaya yang berbeda, dan yang ketiga adalah faktor keamanan dilingkungan Mahad Al-Aly. Responden mengungkapkan bahwa bentuk-bentuk penyelesaian masalah yang mereka pilih ialah dengan jalan-jalan, makan yang banyak, meyelesaikan masalahnya dan berdoa. Ketika ditanya apakah hal tersebut akan mengatasi masalah mereka, sebagian besar mengatakan tidak namun ada yang mengatakan menyelesaikan masalah.8 6 Santrock, Life Span Development(terjemahan), Jakarta: Erlangga. 2002. hal 74 7 Martianah, Psikologi Abnormal dan Psikopatologi, Yogyakarta: Hand Out (tidak diterbitkan) hal 96 8 Wawancara 02 Januari 2008. 19 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dahlan menunjukan bahwa terdapat adanya perbedaan antara pengunaan Problem Focused Coping, Emotional Focused Coping, dan Religius Focused Coping dengan derajat stres.9 Oleh karena itu penulis ingin mengungkapkan fakta-fakta yang terkait dengan penggunaan coping stress yang dipilih dengan tingkat stress pada mahasiswa tahun pertama Universitas Islam Negeri Malang (UIN) Malang melalui penelitian ini. Sehingga nantinya dapat diketahui bahwa model coping mana yang lebih tepat dalam menangani masalah stres pada mahasiswa baru Fakultas Psikologi dan mahasiswa UIN Malang pada umumnya. Penulis mengambil objek penelitian Mahasiswa tahun Pertama Fakultas Psikologi UIN tahun 2007 dengan pertimbangan bahwasanya telah memenuhi kriteria penelitian penulis. Kurang ‘dirasakannya’ layanan bimbingan konseling dalam Universitas juga memotivasi saya untuk melakukan penelitian ini. Saya berharap penelitian ini dapat menjadi acuan bagi Konselor dalam hal ini, dosen ketika menghadapi mahasiswanya yang bermasalah. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan pada paparan latar belakang di atas, maka penelitian ini memiliki fokus untuk memahami : 1. Bagaimana model-model coping stres pada mahasiswa tingkat pertama Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang? 9 Dahlan, Model Proses Stres dengan Tiga Strategi Coping. Jakarta: Program Pasca Sarjana.UI (Ringkasan Disertasi) .2005. hal 21 20 2. Bagaimana tingkat stres pada mahasiswa tingkat pertama Fakultas Psikologi UIN Malang? 3. Apakah ada hubungan model-model coping stres dengan tingkat stres pada mahasiswa tahun pertama Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang? C. TUJUAN PENELITIAN Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui model coping stres yang digunakan mahasiswa tahun pertama Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. 2. Untuk mengetahui tingkat stres mahasiswa tahun pertama Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. 3. Untuk mengetahui hubungan model-model coping dengan tingkat stres mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang tahun pertama. D. MANFAAT PENELITIAN Adapun manfaat dari penelitian ini adalah; 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis penelitian ini memberikan manfaat keilmuan kepada khalayak tentang stres pada mahasiswa dan juga mengetahui hubungan antara model coping yang dipilih dengan tingkat stres. 21 2. Manfaat Praktis Secara praktis penelitian ini memberkan manfaat diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi para mahasiswa, orang tua, dosen dan pihak-pihak yang berminat terhadap upaya peningkatan kesehatan mental mahasiswa. Bagi mahasiswa khususnya yang menempuh kuliah jauh dari orang tua juga dapat diketahui tipe-tipe tentang dirinya masing-masing, sehingga bisa diupayakan langkah prevensinya secara individual. Bagi para orang tua dan dosen, informasi ini diharapkan dapat menambah pemahaman terhadap kondisi-kondisi psikologis para mahasiswa sehingga memudahkan proses interaksi antara dosenmahasiswa maupun anak-orang tua.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Hubungan antara model-model coping stres dengan tingkat stres pada mahasiswa tahun pertama Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment