Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, June 12, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan antara kebutuhan berafiliasi dengan rasa kepercayaan diri pada remaja di MA Ma’arif Udanawu Blitar

Abstract

INDONESIA :
Setiap manusia yang lahir pasti mempunyai kebutuhan baik kebutuhan fisik,psikologis juga kebutuhan berafilisai dan setiap manusia pasti juga membutuhkan orang lain dalam menjalani hidupnya. Kebutuhan ini dapat beraneka ragam,
menjadi suatu sistem kebutuhan yang dialami oleh setiap orang. Banyak ahli membagi-bagi atau mengklasifikasikan sistem kebutuhan pada remaja. Pokok bahasan dari penelitian ini adalah kebutuhan berafiliasi serta rasa percayadiri
remaja.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa MA Ma’arif Udanawu Blitar yang berjumlah 538 remaja sedangkan sampel yang diambil 20% dari penelitian ini menjadi 111 siswa, Adapun sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling, dimana individu diambil secara acak dari kelas 1 sampai kelas 3. Dintaranya remaja yang masih bersekolah di MA Ma’arif Udanawu Blitar, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Dari penelitian yang telah dilakukan pada siswa MA Ma’arif Udanawu Blitar diketahui bahwa kebutuhan berafiliasi menunjukkan kategori sedang yaitu pada 76 siswa atau 61,15%. 17 siswa atau 18,87% pada kategori tinggi serta 18
siswa atau 19,98% pada kategori rendah. Sedangkan tingkat rasa percaya diri juga menunjukkan kategori sedang yaitu pada 73 siswa atau 57,82%. 20 siswa atau 22,2% pada kategori tinggi serta 18 siswa atau 19,98% siswa memiliki rasa
percaya yang rendah.
Untuk pengujian kualitas alat ukur digunakan korelasi Product Moment karl person untuk menguji validitasnya dan Alpha Cronbarch untuk menguji reliabilitas aitem angket. Untuk menguji hipotesisnya, digunakan rumus korelasi
Product Moment dari Pearson, dengan hasil r xy = 0,872 dengan P=0000 taraf signifikansi <0,050 yang berarti bahwa hipotesis dalam penelitan ini semakin tinggi kebutuhan berafiliasi remaja maka semakin tinggi pula rasa percaya dirinya diterima. Serta dari penelitian ini di dapat koefisien determinasinya sebesar sebesar r 2 = 0,872 2 = 0,7604 yang artinya ada sumbangan efektif 76,04% variabel kebutuhan Afiliasi dengan semua aspek yang terkandung didalamnya terhadap kepercayaan diri.
Saran peneliti bagi orang tua agar dapat memenuhi kebutuhan afiliasi remaja akan keakraban dan kehangatan yang memang perlu baginya di dalam keluarga. Sehingga dapat memupuk kepercayaan diri anak dan perasaan aman untuk dapat
berdiri dan bergaul dengan orang lain.
ENGLISH :
Every man who borne surely had a need, either of physical, psychological, or affiliates need, and every man also require others in experiencing his life. These needs can be multifarious, becomes a need system experienced by each and everyone. Many experts assort or classify the need system at adolescents. The discussion fundamental from this research is the need of affiliates and self confidence of the adolescents.
The population in this research is all the students of MA Ma'arif Udanawu Blitar which amounts to 538 adolescents, while the sample taken by 20% from this research becomes 111 students. As for samples in these research applies
random sampling techniques, where, individual is taken at random from class 1 until class 3. Among them which still studying in MA Ma'arif Udanawu Blitar, is men and women.
From this research which has been done at students of MA Ma'arif Udanawu Blitar, is known that need of affiliates shows medium category by 76 students or 61,15%, 17 students or 18,87% at high category, and 18 students or
19,98% at low category. While the level of self confidence also shows medium category by 73 students or 57,82%, 20 students or 22,2% at high category, and 18 students or 19,98% students have a low self confidence.
For examine the quality of graduated apparatus is applied a correlation of Product Moment Karl Pearson to test its validity, and Alpha Cronbarch to test the reliability of the inquiry items. To test the hypothesis, is applied the formula of Product Moment correlation from Pearson, which results r xy = 0,872 with P=0000 significant level < 0,050, meaning that the hypothesis in this research with increasingly height of affiliates need of the adolescents hence excelsior of their self confidence. And, from this research is found the coefficient of determination equal to r 2 = 0,872 2 = 0,7604 with the meaning there are effective contribution of 76,04% of affiliates need variable with the all aspects consisted to the self confidence.
The suggestion from the researcher for the old fellows to be able to fulfill the need of friendliness and warm feeling of the adolescents that is of course is needed by them in the family. So can fertilize the self confidence and safeness of the children to be able to stand up and interacts with others.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
 Manusia secara substansi adalah makhluk sosial yang membutuhkan sosial yang membutuhkan hubungan dengan sesama dan lingkungan hidup di sekitarnya, sehingga manusia diharapkan dapat menjalin hubungan yang baik antara yang satu dengan yang lainnya. Aristoteles dalam Rifa'i (1984) menyebutkan manusia adalah "zoon political" atau "man a sosial being", maksudnya manusia yang senantiasa dalam keadaan berhubungan dengan sesama. Menurut Rifa'i (1984:24 & 55), kemampuan berhubungan sosial adalah kecakapan individu melakukan interaksi timbal balik dalam pergaulan sosial. Hubungan sosial adalah hubungan yang terjadi antara dua individu atau lebih, dimana antara individu yang satu dengan yang lain saling mempengaruhi. Hal ini sesuai dengan penuturan Bonner bahwa hubungan sosial adalah suatu hubungan timbal balik antara dua individu atau lebih, dimana tingkah laku individu yang lain, dan juga sebaliknya. Dengan demikian bentuk kemampuan berhubungan sosial adalah suatu keadaan dimana individu melaksakan komunikasi dengan individu yang lain, pada masa lalu, sekarang, atau masa akan datang dengan berhadapan langsung atau berjauhan tempat dengan suatu obyek tertentu. Banyak ahli sosiologi sepakat bahwa hubungan sosial adalah syarat utama bagi terjadinya aktivitas sosial dan hadirnya kenyataan sosial sebagai sesuatu yang berdasarkan pada motivasi 16 individu dan tindakan-tindakan sosial. Ketika berhubungan sosial seseorang atau kelompok sebenarnya sedang berusaha dan belajar bagaimana memahami tindakan sosial individu atau kelompok ini. Sebuah hubungan sosial akan mengalami dis-keharmonisan apabila antara pihak-pihak yang berhubungan tidak saling memahami motivasi dan makna tindakan sosial yang mereka lakukan. Dengan demikian hubungan sosial akan terjadi apabila terpenuhi dua syarat yaitu adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. Kontak sosial dapat terjadi antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok. Kontak sosial dapat bersifat primer jika terjadi secara langsung atau face to face dan sekunder jika hubungan itu terjadi melalui perantara orang atau media lainnya (Suyanto & Ariadi, 2004:20). Dalam hubungan sosial terdapat empat pola hubungan, yaitu: kerjasama (cooperation), persaingan (competition), pertentangan (conflict), dan akomodasi (accomodation). Hubungan sosial yang timbul mengakibatkan adanya proses interaksi secara asosiatif dan disasosiatif. Proses asosiatif terdiri dari akomodasi, asimilasi, dan akulturasi. Sedangkan proses disasosiatif meliputi persaingan, pertentangan yang mencakup kontroversi dan konflik. Hubungan sosial bisa terjadi secara formal ataupun informal, hubungan sosial yang terjadi secara formal bisa kita temukan dalam sebuah sistem yang teratur dan bertanggung jawab, instansi pemerintah, militer, lembaga pendidikan. Sedangkan hubungan sosial yang terjadi secara informal melalui interaksi dengan teman, anggota klub, atau kelompok yang terjadi secara informal melalui interaksi dengan teman, anggota klub, atau kelompok yang tidak memiliki struktur yang baku (Sukamto, 1997:67). 17 Dalam setiap hubungan sosial, interaksi dan komunikasi terus berjalan aktif, yang berupa pancaran dari masing-masing pribadi yang terungkap dalam perilaku, bahasa dan lantunan suara. Berdasarkan uraian diatas diketahui bahwa proses hubungan sosial merupakan suatu proses yang sangat besar signifikasinya bagi kelangsungan hidup individu dan masyarakat. Karena melalui proses hubungan sosial norma-norma dan tertib sosial dapat diwariskan dan diteruskan dari generasi ke generasi dengan ataupun tanpa perubahan. Itulah sebabnya kenapa masyarakat diharuskan secara terus menerus melakukan proses hubungan sosial pada masyarakat. Karena hubungan sosial itu memiliki peranan yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat secara individual karena tanpa mengalami proses hubungan sosial yang memadai individu tidak mungkin dapat hidup dengan normal (Tillich, 2004:103). Menurut Fromm (2004:60), dalam kenyataan ini, setiap orang menyadari sepenuhnya bahwa hubungan sosial (kemanusiaan) seseorang harus disadari bahwa manusia tidak bisa lepas dari ketergantungan terhadap manusia lain, seperti yang dikatakan Tenese "homosum; humani nil a me alinum puto" (saya adalah manusia, dan tidak ada manusia lain yang terpisah dengan saya). Maslow (dalam As'ad, 2004:49), juga berpendapat bahwa manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial, sehingga mereka mempunyai kebutuhankebutuhan sosial sebagai berikut : kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain dimana ia hidup dan bekerja, kebutuhan akan perasaan dihormati, karena setiap manusia merasa dirinya penting, kebutuhan bisa berprestasi dan kebutuhan untuk ikut serta (sense of partisipation). 18 Manusia dan berafiliasi merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Manusia tidak mungkin bisa hidup tanpa adanya kebutuhan Berafiliasi, dan sebaliknya kebutuhan Berafiliasi tidak akan terpenuhi tanpa adanya kehidupan manusia itu sendiri karena besar pengaruh antara manusia dengan kebutuhan Berafiliasi. Sigmund Freud dalam Gerungan (2002:25) menegaskan bahwa kepribadian manusia tidak terbentuk dan berkembang tanpa manusia itu bergaul dengan manusia lainnya, sehingga sudah jelas bahwa tanpa pergaulan sosial manusia itu tidak dapat berkembang sebagai manusia selengkap-lengkapnya. Dalam Hall & Lindzey, (2005:35) Murray mengungkapkan bahwa hubungan antara manusia dengan manusia yang lain merupakan sebuah kebutuhan tersebut harus semaksimal mungkin harus dipuaskan atau terpenuhi, dalam hal ini Murray menyebutkan sebagai teori berafiliasi. Menurut Murray, berafiliasi mempunyai sub yaitu: bekerjasama atau membalas ajakan orang lain yang bersekutu (orang lain yang menyerupai atau menyukai subyek), membuat senang dan mencari afeksi dari obyek yang disukai, patuh dan tetap setia kepada kawan. Dari pendapat Murray tersebut dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa dalam setiap diri individu ada need juga want, artinya need disini adalah sebuah kebutuhan yang primer atau kebutuhan pokok yang harus terpenuhi dalam hidup individu. Jika hal tersebut tidak dipuaskan akan timbul sebuah konflik dalam diri individu yang bersangkutan karena dalam perjalanan hidup manusia tidak bisa berdiri sendiri atau hidup tanpa bantua orang lain. Sedangkan want disini adalah didefinisikan sebagai kebutuhan yang tidak harus terpenuhi dan terpuaskan. Kalau berbicara tentang konflik dalam individu yang ditimbulkan dari 19 ketidak terpuaskannya sebuah kebutuhan, maka Murray mengistilahkan dengan tekanan atau press. Jika konsep "kebutuhan" menggambarkan faktor-faktor penentu tingkah laku penting dalam pribadi, maka konsep "tekanan" menggambarkan faktor-faktor penentu tingkah laku yang efektif dan penting dalam lingkungan. Dalam arti paling sederhana tekanan adalah suatu sifat atau atribut dari suatu obyek lingkungan atau orang yang memudahkan atau menghalangi usaha-usaha. Tekanan ada hubungannya dengan orang-orang atau obyek-obyek yang mempunyai implikasi-implikasi langsung terhadap usahausaha individu untuk memuaskan kebutuhannya (dalam Hall & Lindzey, 2005:41) Sedangkan menurut Mc Clelland, kebutuhan untuk Berafiliasi adalah merupakan kebutuhan akan kehangatan dan sokongan dalam hubungan dengan orang lain. Kebutuhan ini mengarahkan tingkah laku untuk mengadakan hubungan secara akrab dengan orang lain ( As'ad, 2004 hal 53). Kebutuhan Berafiliasi mulai kelihatan sangat jelas dan berkembang cepat dan mengalami perubahan-perubahan yang pesat saat individu manginjak usia siswa. Siswa benar-benar mulai kehidupan sosial terutama penyesuaian diri pada lingkungan sekitarnya. Siswa dalam memenuhi kebutuhan Berafiliasi harus bisa membedakan antara peran menjadi siswa bila di rumah, menjadi teman bila berada di lingkungan masyarakat dan menjadi murid bila di lingkungan sekolah. Kelangsungan hidup mempunyai peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan Berafiliasi siswa, karena siswa pada umur ini sedang berusaha untuk bebas dari keluarga, tidak tergantung kepada orang tua dan mempunyai keinginan untuk bertanggung jawab sendiri atas perbuatannya. Biasanya pada masa-masa ini siswa 20 memulai membina atau ingin mendapatkan kasih orang lain terdekat seperti menjalin hubungan persahabatan, ikut dalam organisasi sosial dan mulai menyukai lawan jenis dengan demikian bahwa siswa memenuhi kebutuhan Berafiliasinya dengan teman sebaya. Pada dasarnya setiap siswa menghendaki semua kebutuhan Berafiliasinya terpenuhi secara wajar. Jika terpenuhinya kebutuhan Berafiliasinya tersebut secara memadai akan menimbulkan keseimbangan dan keutuhan pribadi. Siswa yang kebutuhan Berafiliasinya terpenuhi secara memadai akan memperoleh rasa gembira dan keharmonisan dalam hidup. Kebahagiaan tersebut di atas bisa tercapai atau terpenuhi oleh siswa apabila mereka dapat melakssiswaan kebutuhan Berafiliasinya secara positif dan tidak memiliki hambatan untuk memenuhinya. Pada kenyataannya akan menjadi berubah apabila siswa mengalami konflik kehilangan rasa percaya diri atau minder, maka mereka akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan Berafiliasinya. Sebagian siswa merasakan masa siswa sebagai masa yang menyenangkan tetapi ada juga sebagian siswa masih belum merasakan masa siswa adalah masa yang menyenangkan disebabkan oleh perubahan-perubahan fisik maupun psikisnya. Secara tradisional masa siswa dianggap sebagai periode "badai dan tekanan" suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar (Hurlock, 1980:212). Perubahan fisik pada siswa menyebabkan timbulnya rasa malu, karena tidak serasinya pertumbuhan bagian-bagian tubuh itu disamping itu timbul pula perasaan takut jangan-jangan pertumbuhan itu tidak wajar atau orang tua dan 21 masyarakat menyebabkan kegelisahan mereka. Banyak orang tua yang selalu masih menganggap bahwa siswa itu belum mampu untuk mandiri serta mengharapkan siswanya lebih dari kemampuan yang mereka miliki. Sehingga, jika mereka melakukan suatu kegagalan orang tua cenderung menghukum. Hal ini menyebabkan siswa mengalami tekanan batin (frustasi), kehilangn kasih sayang, diremehkan, merasa dihina dan semua perasaan negatif dapat menyebabkan siswa menjadi putus asa, sehingga perasaan negatifnya dirahkan pada diri sendiri, dengan menghukum diri sendiri, misalnya dengan mengurung diri dirumah, tidak mau bergaul dengan orang lain, merasa bingung, cemas, takut, gelisah, gelap hati, bimbang, ragu, risau, sedih hati, rasa minder, merasa tidak mampu malakssiswaan tugas-tugas dan melawan rasa-rasa "besar dewasa super", siswa tidak tahu sebab dari macam-macam perasaan yang menimbulkan kerisauan hati mereka. Kehilangan rasa percaya diri merupakan konflik yang serius bagi siswa jika mereka tidak dapat menanganinya akibatnya kebutuhan Berafiliasi mereka akan tersendat-sendat karena mereka sering melakukan hal-hal yang negatif seperti sering menyendiri dan melamun, tidak bergairah, sangat mudah kecewa, merasa canggung dalam bergaul, mudah tersinggung dan menyalahkan diri sendiri. Terhambatnya pemenuhan kebutuhan Berafiliasi yang dikarenakan oleh rasa kehilangan percaya diri, sehingga dapat meluas menjadi masalah dirumah atau di sekolah, seperti halnya tidak mau berteman dengan siapapun di rumah,sering membolos dan merasa minder dengan guru dan teman yang lain. Hal ini dapat merugikan diri siswa dari segi perkembangan kepribadian serta keseimbangan dalam hubungan bersosialisasi dimana ia berada. 22 Begitu bervariasinya konflik-konflik siswa yang diakibatkan oleh kehilangan rasa percaya diri yang dapat menimbulkan kesulitan memenuhi kebutuhan Berafiliasinya, pada kenyataannya masa-masa ini kebutuhan untuk Berafiliasi sangat diperlukan bahkan tidak boleh ditinggalkan. Fenomena kehidupan sosial masa-masa siswa akan berbeda apabila siswa memiliki rasa percaya diri cukup baik, keadaan ini ditunjukkan pada kesiapan siswa menerima dalam dirinya baik secara fisik maupun psikis. Rasa percaya diri dipengaruhi oleh gambaran diri, semakin luas jurang antara bayangan diri dan cita-cita diri harus ada keseimbangan yang dekat. Bila hal ini terjadi pada siswa maka mereka dapat memenuhi kebutuhan Berafiliasinya dengan baik karena salah satu faktor yang mempengaruhi siswa dapat bergaul dengan lingkungan sekitarnya apabila siswa tersebut telah mencukupi atau telah memiliki rasa percaya diri yang baik. Kebutuhan manusia yang paling penting selain kebutuhan biologis yang tidak terpisahkan adalah kebutuhan akan kepercayaan diri. Rasa kepercayaan diri juga dapat diartikan sebagai suatu kepercayaan diri sendiri yang dimiliki oleh setiap orang dalam kehidupannya serta bagaimana orang tersebut memandang dirinya secara utuh dengan mengacu pada konsep dirinya. Percaya diri adalah suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimiliki seseorang dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai tujuan dalam hidupnya (Hakim, 2004:6). Secara umum dapat disimpulkan bahwa percaya diri adalah sikap percaya dan yakin akan kemampuan yang dimiliki serta dapat membantu seseorang untuk memandang dirinya dengan positif dan realistis sehingga dia mampu 23 bersosialisasi secara baik dengan orang lain. Tidak semua kebutuhan dalam hidup setiap siswa dapat terpenuhi dengan baik, hal tersebut tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhi individu tersebut. Faktor-faktor tersebut bisa datang dari dalam individu (siswa) sendiri juga dari faktor lingkungan, baik lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah serta pola asuh siswa tersebut. Kesemua faktor tersebut antara siswa signifikan tidak sama dalam pola pemenuhannya, dalam arti kebutuhan tersebut ada yang terpenuhi secara baik di lingkungan keluarga tetapi ada yang justru kebutuhan tersebut terpuaskan pada lingkungan sekolah. Siswa yang terpenuhi secara baik kebutuhan Berafiliasi di tingkat keluarga akan merasa dia tidak kekurangan kasih sayang sehingga ketika mereka keluar dari lingkungan keluarga hal tersebut akan tampak dalam setiap aktifitasnya. Mereka tidak mudah murung dan merasa punya kekuatan yang membackup dirinya untuk bersosialisasi dan Berafiliasi dengan dunia luar. Tetapi ada juga dari individu yang tidak secara baik kebutuhan Berafiliasinya atau kebutuhan akan bersosialisasi terpenuhi pada lingkungan keluarga sehingga mereka berusaha mencari dan memuaskan kebutuhan tersebut pada lingkungannya, baik lingkungan bergaul juga lingkungan sekolah. Siswa yang terkadang kurang dapat terpuaskan kebutuhan Berafiliasinya di rumah mereka berusaha mencari perhatian dan menyibukkan diri di lingkungan dimana dia berpijak. Untuk itu sekolah menengah atas sebagai lembaga pendidkikan kedua setelah keluarga, yang di dalamnya banyak para siswa. di lembaga ini paling tepat 24 dan sesuai sebagai tempat pendidikan bagi para siswa yang harus bisa memperhatikan siswa yang suka menyendiri dan menjauh dari teman-temannya, serta menjelaskan kepada mereka sifat-sifat negatif yang dapat menghambat penyesuaian diri mereka dalam memenuhi kebutuhan Berafiliasinya. Jika mereka tidak memperoleh bimbingan atau dorongan yang sangat kuat dari sekolahan, mungkin sampai dewasa mereka akan tetap mempunyai sifat menyendiri, tidak percaya diri dan suka bermusuhan. Jadi dengan kata lain sekolah adalah suatu lembaga yang dapat menemukan bakat-bakat, sikap para siswa yang kebanyakan pendiam atau di juluki "si pendiam", dapat menempatkan posisi masing-masing dengan temannya serta kelompok dimana mereka dapat berinteraksi dan saling berbagi pengalaman dengan anggotanya. Sekolah juga berkewajiban untuk mengawasi kelompok-kelompok siswa tersebut agar dapat terjamin dipatuhinya peraturan-peraturan yang ada, ketentuan hukum dan terpeliharanya jiwa demokratis dan saling kerjasama para anggotanya. Di dalam penelitian sebelumnya telah di bahas mengenai "Hubungan Antara Pemenuhan Kebutuhan Berafiliasi Dengan Tingkat Depresi Pada Wanita Lanjut Usia di Panti Werdha", di Surabaya oleh (Afida, Wahyuningsih, dan Sukamto, 2000:186-087). Dari hasil penelitian tersebut di ketahui bahwa hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara pemenuhan kebutuhan Berafiliasi dengan tingkat depresi pada wanita lanjut usia di panti werdha, analisis ini berdasarkan distribusi dari 38 subyek penelitian, diketahui bahwa 65,8% subyek mengalami depresi pada tingkat yang rendah, 23,7% subyek mengalami depresi pada tingkat yang sangat rendah, 7,9% subyek 25 mengalami depresi pada tingkat yang cukup, dan 2,6% subyek mengalami depresi pada tingkat yang tinggi sedangkan distribusi frekuensi pemenuhan kebutuhan Berafiliasi dari 38 subyek penelitian, diketahui bahwa pemenuhan kebutuhan Berafiliasi sebagian besar subyek 55,3% tergolong tinggi yang artinya subyek merasa terpenuhi kebutuhan Berafiliasinya, sedang 34,2% subyek marasa cukup terpenuhi kebutuhan Berafiliasinya dan 10,5% subyek merasa kurang terpenuhi kebutuhan Berafiliasinya. Jadi ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara pemenuhan kebutuhan Berafiliasi dengan tingkat depresi pada wanita lanjut usia di panti werdha. Koefisien korelasi (rxy) sebesar -0,733 dengan p < 0,01. semakin kurang terpenuhi kebutuhan Berafiliasi, akan semakin tinggi tingkat depresinya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mappiare (1982) bahwa terpenuhi atau tidaknya individu sangat mempengaruhi kesehatan mental dan dapat mempertahankan kelangsungan hidup individu. (dalam Jurnal Anima, 2000 hal 180-195 / vol: 15, no: 2, 3, 4). Berdasarkan pada latar belakang yang sudah diuraikan di atas maka penulis meneliti tentang "HUBUNGAN ANTARA KEBUTUHAN BERAFILIASI DENGAN RASA PERCAYA DIRI PADA SISWA DI MA MA'ARIF" dan penelitian ini dilakssiswaan di lokasi jl. Raya Bakung di daerah Udanawu Blitar. B. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas, diambil suatu rumusan masalah: 1. Bagaimana kebutuhan Berafiliasi pada siswa di MA Ma'arif Udanawu Blitar? 26 2. Bagaimana tingkat rasa percaya diri pada siswa di MA Ma'arif Udanawu Blitar? 3. Adakah hubungan antara pemenuhan kebutuhan Berafiliasi dengan rasa percaya diri pada siswa di MA Ma'arif Udanawu Blitar? C. Tujuan Penelitian Sejalan dengan rumusan masalah diatas maka penelitian ini bertujuan, sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui kebutuhan Berafiliasi pada siswa di MA Ma'arif Udanawu Blitar. 2. Untuk mengetahui tingkat rasa percaya diri pada siswa di MA Ma'arif Udanawu Blitar. 3. Untuk mengetahui atau tidak adanya hubungan antara pemenuhan Berafiliasi dengan rasa percaya diri pada siswa di MA Ma'arif Udanawu Blitar. D. Manfaat Penelitian Temuan dari penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. 1. Teoritis Manfaat teoritis diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada bidang khususnya Psikologi pendidikan atau bidang ilmu lain yang relefan, juga penelitian yang terkait dengan kebutuhan Berafiliasi dan rasa percaya diri. 2. Praktis 27 Bagi lembaga pendidikan dan umum, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dan upaya untuk memenuhi kebutuhan Berafiliasi dan rasa percaya diri pada siswa sehingga prestasi atau tujuan dari penyelenggaraan pendidikan terwujud.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Hubungan antara kebutuhan berafiliasi dengan rasa kepercayaan diri pada remaja di MA Ma’arif Udanawu Blitar." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment