Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, June 12, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Pola mengingat pada tunanetra penghafal Al-Qur'an: Study kasus pada seorang tunanetra penghafal Al-Qur’an di Desa Ngadirejo Kec. Pogalan Kab. Trenggalek

Abstract

INDONESIA:
Pola mengingat merupakan salah satu metode dalam pembelajaran, dimana seorang yang hafal al-Qur'an mempunyai cara yang berbeda-beda dalam pola mengingat pada saat menghafalkan al-Qur'an. Terutama dalam tahap encoding (memasukkan informasi), storage (penyimpanan), retrieval (mengingat kembali). Adapun dalam hal ini peneliti menemukan seorang tunanetra yang biasa di panggil " Mbah Nur ", yang mampu menghafalkan al-Qur'an hingga sempurna 30 juz. Yang mana, seorang tunanetra ini kemungkinan mempunyai cara yang berbeda dari penghafal al-Qur'an yang lain pada tahap encoding, storage, dan retrieval, dalam pola mengingat pada saat menghafalkan ayat-ayat al-Qur'an.
Melihat wacana yang ada maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “Pola Mengingat Pada Tunanetra Penghafal Al-Qur'an(Study Kasus Pada Seorang Tunanetra Penghafal Al-Qur’an di Desa Ngadirejo Kec. Pogalan Kab. Trenggalek )”.
Adapun Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana pola mengingat pada tuna netra penghafal al-Qur’an. Dan tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan menjelaskan pola mengingat pada tunanetra penghafal al-Qur'an. Bahasan yang diangkat adalah tahap encoding, storage, retrieval serta alat bantu daya ingat dalam pola mengingat pada tunanetra penghafal al-Qur'an. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualiatif dengan jenis penelitian studi kasus dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, interview, dan dokumentasi.
Berdasarkan data kualitaif tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan: (1) tahap encoding, yaitu dengan mendengarkan ayat per-ayat yang telah di bacakan oleh gurunya, dengan mencermati hukum-hukum tajwid per kalimat yang setiap kali dibacakan, dengan penuh kesabaran dan perhatian, (2) tahap storage, yaitu ayat-ayat al-Qur'an yang didengar lewat media yang dibacakan langsung dari ustadznya per-ayat demi ayat tersebut diulang mulai dari 3 kali sampai 10 kali untuk mencapai daya ingat yang kuat dan hafal hingga satu halaman (shofhah), dalam waktu yang kurang lebih 2 jam.(3) tahap retrieval yaitu mengulangi semua ayat-ayat al-Qur'an yang sudah di dapat (dihafalkan) lewat media pendengaran dari gurunya tersebut dengan membiasakan (meng- istiqomahkan) mengulangi (muroja'ah) hafalannya pada waktu pagi dan sore hari atau setelah sholat lima waktu dalam setiap harinya. Semisal hafalannya sudah dapat 6 juz, mbah Nur memuroja'ah (mengulang kembali) setiap hari 5 juz secara acak, dengan rincian pagi setelah sholat shubuh 3 juz dan sore setelah sholat asyar 2 juz. Untuk saat ini karena adanya kesibukan keluarga, mengajar santri di rumahnya pada sore hari dan setelah maghrib serta seringnya ada undangan khotmil Qur'an maka 5 juz per-harinya terkadang dibagi dalam lima waktu, dengan per-satu (1) juz dibaca setelah selesai sholat lima waktu.

Sedangkan alat bantu yang digunakan untuk meningkatkan daya ingat hafalan al-Qur'an tersebut adalah Pertama, dengan menggunakan metode Chunks dengan memotong satu halaman al-Qur'an menjadi beberapa ayat yang dibacakan oleh Kyai-Nya per-ayat berkali-kali kepada Mbah Nur sampai hafal yang fungsinya untuk memudahkan dalam hal penyandian (encoding), penyimpanan (storage) dan mengingat kembali (retrieval) ayat-ayat al-Qur’an dalam proses menghafal al-Qur’an. Kedua, dengan rehearsal (pengulangan) hafalan ayat-ayat al-Qur'an pada setiap tahapan encoding, storage, dan retrieval. Jika ada 1 juz saja yang terlewatkan, maka mbah Nur melengkapi (menembel) satu juz tersebut pada waktu malam harinya. Selanjutnya bila sudah sampai hafal 30 juz, maka 1 minggu mbah Nur telah menghatamkan al-Qur'an. Begitu seterusnya mbah Nur tak henti- hentinya melafadzkan ayat-ayat al-Qur'an.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah

 Mengingat merupakan fenomena yang luar biasa di alam ini. Fakta bahwa seseorang dapat mengingat secara harfiah miliaran bagian dari informasifakta, bahasa, pengalaman, pengetahuan, merupakan hal yang benar-benar menakjubkan. Tanpa ingatan (memory), seseorang tidak sadar akan dunianya. Pendek kata, manusia bisa mempermudah persoalan lewat pola berfikir berdasarkan memori1 . Menurut Matlin (1989)2 , ingatan (memory) menunjuk pada pola penyimpanan atau pemeliharaan informasi sepanjang waktu (maintaining information overtime). Seseorang dapat menyimpan kode nomor telpon tertentu dalam ingatannya untuk jangka waktu kurang dari satu detik, atau sepanjang hayatnya. Hampir semua aktivitas manusia selalu melibatkan aspek ingatannya. Pola mengingat menurut Prof. Sidiarto3 , " tak bisa dilepaskan dari belajar, learning. karena pola mengingat merupakan belajar untuk memperoleh informasi atau pengetahuan baru. 1 Isaac Asimov. 2007. Keajaiban Otak Manusia. Yogyakarta: Erfani Press. hal. 406 2 Suharnan. 2005. Psikologi Kognitif. Surabaya: Srikandi. hal. 67 3 Intisari. 1998. Lupa. On-line: www.indomedia.com. Akses: 03 Februari 2008. Hal. 3 23 Sedangkan daya ingat adalah pola yang menyimpan pengetahuan yang diperoleh itu dalam waktu lama. Serta dapat mengingatnya kembali sewaktu dibutuhkan. Jelas, dalam mencerap informasi dari lingkungan, seseorang amat tergantung kepada kemampuan daya ingat tersebut". Khususnya dalam menjaga kemurnian kitab suci al-Qur'an yang merupakan kitab suci pedoman umat Islam sejak zaman Rasulullah SAW sampai sekarang. Menjaga kitab suci al-Qur'an dari mulai mempelajari dan mengamalkan isi kandungan ayat tersebut yaitu dengan menghafal ayat-ayat al-Qur'an. Dan upaya menghafal ayat-ayat al-Qur'an ini tak lepas dari pola mengingat yang telah dipakai oleh penghafal al-Qur’an dimulai dari pemasukan informasi sampai peningkatan daya ingat hafalan ayat-ayat al-Qur'an. Allah SWT telah menjadikan al-Qur'an mudah dihafal dan dipahami, sebagaimana dalam firmannya : ∩⊇∠∪ 9 Ï.£ ‰• Β ÏΒ öyγsù Ì ø.Ïe%#Ï9 tβ#uö à )ø9$# $tΡ÷ œ £o„ ô‰s)s9uρ Artinya : "Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?" (Al-Qomar:17)4 Menurut Fathoni " menghafal al-Qur'an itu gampang-gampang sulit, gampang dihafal tapi sulit dijaga."5 . 4 Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur'an dan Terjemahan. Bandung. Al-Jumanatul 'Ali. Hal.529 24 Problem yang dihadapi oleh orang yang sedang menghafal al-Qur'an memang banyak dan bermacam-macam. Mulai dari pengembangan minat, penciptaan lingkungan, pembagian waktu, gangguan kejiwaan serta banyaknya kesibukan6 sampai pada metode menghafal itu sendiri. Problematika kesulitan dalam menghafalkan ayat-ayat al-Qur'an tersebut terasa hilang, bila menemukan seseorang yang kondisinya normal maupun tidak normal, yang diluar nalar mampu menghafalkan al-Qur'an dengan sempurna, seperti contohnya sebagai berikut: 1. Dr. Raghib As-Sirjan, berhasil menghafal al-Qur’an sebanyak 30 juz di tengah-tengah komunitas dan situasi yang relative kurang mendukung. Kesibukan studi untuk meraih gelar doctor dalam bidang medis di Amerika Serikat tidak menghalanginya meraih titel hafizh7 . 2. Husein Tobaat Toba’I dari Iran yang baru berusia lima tahun sudah hafal al-Qur’an beserta maknanya dan letak ayat-ayat dalam al-Qur’an. Adapun seorang yang dalam keadaan kondisi yang tidak normal pun, ada yang mampu menghafalkan ayat-ayat al-Qur'an dengan sempurna. seperti seorang yang tidak dikarunia nikmat penglihatan (Tunanetra), tetapi Allah karuniakan atasnya nikmat al-Qur’an dengan mampu menghafalkan dan mengamalkan ayatayat al-Qur’an.. 5 M. Fathoni Dimyati. 2006. "Memilih Metode Menghafal Al-Qur'an Yang Baik dan Upaya Mencetak Huffazhul Qur'an Yang Sempurna". Mojokerto. Ringkasan Untuk Santri PP Bidayatul Bidayah., Hal. 2 6 Ahsin, Op.cit, Hal. 41 7 Abdurrahman Abdul Khaliq., Raghib As-sirjani. Cara Cerdas Hafal Al-Qur’an. Solo : AQWAM. Hal.9 25 Meskipun seorang tunanetra tidak dapat melihat kitab suci al-Qur'an dan mengetahui bentuknya, tetapi Allah menganugerahkan nikmat menghafal alQur’an, dengan hasil yang barangkali lebih melekat dan lebih matang daripada orang-orang yang memiliki penglihatan sempurna. Seorang tunanetra yang mendapatkan hidayah dalam menghafalkan alQur'an hingga selesai merupakan kenikmatan yang luar biasa tak ternilai. Dalam hal ini, peneliti ber-angan-angan dan berharap bisa meneliti seseorang yang mampu menghafalkan al-Qur’an dengan sempurna 30 juz, tepatnya dalam pola mengingat ayat-ayat al-Qur’an selama proses menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an. Seiring waktu berjalan, peneliti mendapatkan informasi dari teman sepondok pesantren yang mengatakan tentang adanya seorang tunanetra yang hafal al-Qur’an 30 juz di daerah Trenggalek tepatnya pada Desa Ngadirejo Kec Pogalan. Dalam keadaan yang cacat tersebut peneliti semakin takjub dan berharap bisa dijadikan sebuah kajian studi kasus dalam suatu penelitian psikologi Tunanetra yang hafal al-Qur'an 30 juz ini biasa dipanggil "Mbah Nur", dia menghafalkan ayat-ayat al-Qur'an selama kurang lebih 13 tahun di Pondok Pesantren sampai benar-benar hafal dan lancar. Sehingga pada tahun 2001 dia mendapatkan "Syahadah" suatu ijazah yang diberikan khusus oleh pengasuh (kyai) Pondok Pesantren bagi penghafal al-Qur'an 30 juz dalam momen Wisuda Tahfidzul Qur'an. 26 Adapun pelaksanaan pembelajaran hifzhul Qur’an yang biasa dipakai oleh santri dalam upaya menghafalkan al-Qur'an, biasanya dengan metode sorogan8 yang melalui beberapa tahapan yang harus dilalui, antara lain: 1. Tahap persiapan : yakni berupaya dalam memantapkan hafalan yang akan disetorkan pada ustadz dengan mengulang hafalan berkali-kali secara pribadi dan bersama teman. 2. Tahap pelaksanaan adalah tahap berlangsungnya pelaksanaan metode sorogan, di mana para santri bergantian menyetorkan hafalan langsung kepada ustadz baik tambahan atau hafalan deresan (hafalan ayat-ayat al-Qur'an yang lampau-mengulang) Masing-masing santri berbeda dari banyak dan berapa kali setor tambahan ditiap harinya. Dari beberapa pernyataan, bahwa banyaknya setoran setiap harinya, rata-rata mereka setor satu halaman, kadang juga setor 2 halaman setiap harinya. Hal tersebut disesuaikan dengan waktu dan kondisi santri. Dari beberapa tahapan dalam upaya menghafalkan ayat-ayat al-Qur'an yang telah di jelaskan sebelumnya pada seorang santri yang normal, kemungkinan berbeda dengan seorang santri dalam kondisi yang tidak normal. Seperti apa yang di alami oleh Mbah Nur, seorang tunanetra yang hafal ayat-ayat al-Qur'an hingga 30 Juz. Sehingga dalam menghafalkan al-Qur’an, ada yang unik dan menarik untuk dianalisis pada penghafal al-Qur’an tersebut yaitu pola bagaimana cara 8 Syaifun Nuri. 2007. Efektifitas Hifzhul Qur'an Melalui Metode Sorogan Bagi Mahasiswa di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Roudhotussholihin Wetan Pasar. Skripsi, Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang. Hal. 92 27 menghafalkan al-Qur’an dan pola menjaga al-Qur’an agar tetap utuh dan tidak lupa. Khususnya pada Mbah Nur seorang tunanetra yang menghafalkan al-Qur’an. Karena menurut peneliti penyandang tunanetra yang hafal al-Qur’an sangat langka sekali dan pola berfikirnya terutama pada pola mengingat yang diluar perkiraan seseorang sebagai manusia normal. Itulah salah satu keajaiban pola berfikir manusia dan salah satu keajaiban cipataan Allah SWT. Kajian penelitian dalam kesempatan ini menitikberatkan pada pola mengingat dalam menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an yang ditinjau dari aspek kedalaman pemrosesan informasi (depth of information processing theory) teori milik Craik dan Lockhart9 dan aspek pola penyimpanan atau pemeliharaan informasi sepanjang waktu (maintaining information overtime) yang ada kaitannya dengan pola mengingat menurut Atkinson10. Dalam hal ini terbagi atas tiga tahap yaitu 1.Encoding (memasukkan informasi), 2. Storage (penyimpanan informasi), 3. retrieval (mengingat kembali informasi). Berdasarkan dari beberapa ulasan di atas peneliti mengambil judul “POLA MENGINGAT PADA TUNA NETRA PENGHAFAL AL-QUR’AN (Study Kasus Pada Seorang Tunanetra Penghafal Al-Qur’an di Desa Ngadirejo Kec. Pogalan Kab. Trenggalek ) “. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pola mengingat pada tuna netra penghafal al-Qur’an di Desa Ngadirejo Kec. Pogalan Kab. Trenggalek? 9 Suharnan, Op.cit, Hal. 71 10 Fakultas Psikologi UIN Malang. 2006. Silabi Psikologi Kognitif. Malang. Hal. 142 28 C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui dan menjelaskan pola mengingat pada tuna netra penghafal al-Qur’an di Desa Ngadirejo Kec. Pogalan Kab. Trenggalek. D. Manfaat Penelitian 1) manfaat teoritis: hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai usaha pemahaman tentang pola mengingat pada tuna netra penghafal al-Qur’an dalam keilmuan islam dan keilmuan psikologi, sekaligus sebagai bahan tela’ah bagi penelitian psikologi dan penelitian keilmuan lainnya. 2) manfaat praktis : secara praktis penelitian ini dapat digunakan sebagai sumbangan informasi bagi dunia akademis khususnya di lingkungan UIN Malang mengenai pembelajaran pola mengingat pada seorang tunanetra penghafal alQur’an.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Pola mengingat pada tunanetra penghafal Al-Qur'an: Study kasus pada seorang tunanetra penghafal Al-Qur’an di Desa Ngadirejo Kec. Pogalan Kab. Trenggalek." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment