Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Tuesday, June 23, 2015

Metode Pendidikan dalam Al-Qur'an (Analisis Tafsir Surat An-Nahl Ayat 125)

M Soleh
Dewasa ini banyak sekali metode dan pendekatan yang terus bermunculan dan
diterapkan dalam pendidikan diberbagai bidang mata pelajaran. Tapi kemudian dalam
metode pendidikan tersebut, sedikit sekali yang bersumber dari Al-Qur’an. Padahal
Al-Qu’an yang sudah diketahui umat Islam, merupakan pedoman segala aspek
termasuk metode pendidikan, misalnya surat An-Nalh ayat 125. Ayat tersebut
dipahami oleh ahli tafsir sebagai ayat yang terkait dengan dakwah. Di samping itu,
ada beberapa tokoh pendidikan yang mengaitkan ayat ini dalam dimensi metode
pendidikan, seperti dijelaskan dalam bukunya Abdul Mujib dan Jusuf Muzakkir,
hanya saja pembahasannya terlalu singkat dan sederhana. Oleh karena itulah, peneliti
ingin menjadikan ayat tersebut sebagai landasan metode pendidikan dengan cara
melakukan penelitian.
Dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini
adalah apa metode pendidikan yang terkandung dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat
125 dan bagaimana penafsiran ahli tafsir terhadap metode pendidikan yang
terkandung dalam Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125?. Dari rumusan masalah tersebut
peneliti mengambil lakah untuk menganalisisnya atau menelitinya dengan tujuan
mengetahui dan memahami metode pendidikan dalam Al-Qur’an surat an-Nahal ayat
125.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian Library Reserch. Dalam
mengerjakannya, peneliti menggunakan metode dokumenter, yaitu; membaca atau
menggali dari data-data primer, yakni beberapa kitab tafsir, diantaranya; Aisar At-
Tafâsir li Al-Kalâmi Al-Aliyyi Al-Kabîr, oleh: Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi,
Tafsir Al-Muyassaru, oleh: A'idh bin Abdullah Al-Qarni, Tafsir Al-Qur'anil Adzîm
(Tafsir Ibnu Katsir), pentahqiq: Abdu Razaq Al-Mahdi, Qabasu Min Nuri Al-Qur'anil
Karîm, oleh: Muhammad Ali As-Sabuny, Tafsir Al-Maghârî, oleh: Ahmad Mushtofa
Al-Maraghi, Tafsir Al-Jalâlain, oleh: Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli
dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As-Suyuti, Tafsir Al-Qur'anul Majid An-
Nûr, oleh: Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqi, dan Tafsir Al-Mishbah, oleh:
M. Quraish Shihab. Dan data-data sekunder yang berhubungan dengan pembahasan
ini. Selanjutnya menganalisisnya dengan teknik analisis deskriptif dan content
analysis, yaitu mengumpulkan dan menyusun suatu data kemudian menganalisisnya.
Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa dalam surat An-Nahl
ayat 125 terkandung tiga metode pendidikan, yakni; hikmah, mau’idzah dan jadil.
Kemudian dari beberapa interpretasi ahli tafsir dapat dipahami sebagai berikut, yaitu:
Pertama hikmah, ada beberapa kesamaan dari pendapat Syaikh Abu Bakar Jabir Al-
Jazairi, A'idh bin Abdullah Al-Qarni, Muhammad Ali As-Sabuny, dan Quraish
Shihab, yakni himah merupakan metode dengan kata-kata yang bijak, lemah lembut
yang bersih dari sesuatu yang negatif, hanya saja M. Quraish Shihab menambahkan
kata-kata tersebut disampaikan dengan dialog yang disesuaikan dengan kepandaian
peserta didik. Lebih lanjut Abdu Razaq Al-Mahdi, Jalaluddin Syaikh Abu Bakar Jabir
Al-Jazairi, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli dan Jalaluddin
Abdurrahman bin Abi Bakar As-Suyuti, mendefinisikan hikmah maksudnya dengan
Al-Qur’an, tapi Abdu Razaq Al-Mahdi menambah dengan as-Sunnah. Ahmad
Mushtofa Al-Maraghi ialah perkataan yang kuat dan disertai dengan dalil, yang
menjelaskan kebenaran, dan menghilangkan kesalah pahaman. Kemudian
Muhammad Ali As-Sabuny dan Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqi dan, ialah
dengan tutur kata yang bisa mempengaruhi atau meresap dalam jiwa peserta didik.
Kedua mau’izhah, dalam hal ini para ahli tafsir juga banyak keserupaan dalam
mendefinisikan mau’izhah, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dan Teungku
Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqi, yaitu mau’izhah merupakan metode dengan
pelajaran-pelajaran yang baik, lebih lanjut Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqi
menjelaskan pelajara-pelajaran tersebut ialah yang dapat diterima akal sehat dan
tabiat peserta didik. A'idh bin Abdullah Al-Qarni, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad
Al-Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As-Suyuti serta M. Quraish
Shihab mendefinisikan dengan nasihat-nasihat yang baik, hanya saja M. Quraish
Shihab kemudian menambahkan nasihat-nasihat tersebut yang menyentuh jiwa sesuai
dengan tarah pengetahuan peserta didik yang sederhana. Kemudian Muhammad Ali
As-Sabuny, ialah tidak menyeru dengan kekerasan, kekacauan dan ancaman. Ahmad
Mushtofa Al-Maraghi, ialah dalil-dalil bersifat zanni, yang dapat memberi kepuasan
kepada peserta didik. Ketiga jadil, dalam hal ini semua ahli tafsir di atas sepakat
bahwa jadil di interpretasikan sebagai sutatu metode berdebat yang dilakukan denga
cara yang terbaik yang disertai ide-ide atau hujjah, sehingga member kepuasan
kepada peserta didik. Selanjutnya Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli dan
Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As-Suyuti mencontohkan seperti menyeru
manusia terhadap jalan-Nya. M. Quraish Shihab menambahkan, bahwa debat tersebut
dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan.
Peneliti berharap, semoga hasil penelitian ini dapat menjadi wawasan dan ilmu
yang bermanfaat bagi peneliti sendiri, dan dapat dijadikan rujukan dan alternatif bagi
pendidik dalam menggunakan metode pendidikan yang berdasarkan Al-Qur’an, di
samping metode-metode yang lain, di tengah-tengan kemajuan pendidikan khususnya
pendidikan Islam.

Download Skripsi



 Jasa Pembuatan Skripsi

Artikel Terkait: