Referensi Skripsi Terbaru | Download Skripsi Gratis

Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Sunday, July 22, 2012

Permasalahan Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak


Permasalahan Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak
Setiap anak memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda-beda. Pemahaman terhadap anak perlu berangkat dari pemahaman pada setiap anak dengan berbagai karakteristiknya. Selama proses perkembangan, tidak menutup kemungkinan anak menghadapi berbagai masalah yang akan menghambat proses perkembangan berikutnya. Permasalahan yang dihadapi anak dapat dilihat melalui tingkah laku anak pada saat mengikuti proses pembelajaran di kelas atau pada saat anak bermain. Adapun permasalahan perkembangan yang dihadapi anak Taman Kanak-kanak diantaranya yaitu :
1.      Fisik-motorik

Pertumbuhan fisik pada setiap anak tidak selalu sama, ada beberapa anak yang mengalami pertumbuhan secara cepat, tetapi ada pula yang mengalami keterlambatan. Pada masa kanak-kanak, pertumbuhan tinggi badan dan berat badan relatif seimbang, tetapi secara bertahap tubuh anak akan mengalami perubahan. Bilamana di masa bayi anak memiliki penampilan yang gemuk maka secara perlahan-lahan tubuhnya berubah menjadi lebih langsing, sedangkan kaki dan tangannya mulai memanjang. Ukuran kepalanya masih tetap besar jika dibandingkan dengan tubuhnya, namun pada akhir masa kanak-kanak ukuran kepalanya tidak lagi terlalu besar jika dibandingkan dengan tubuhnya. Selain berubahnya berat dan tinggi badan, anak juga mengalami perubahan fisik secara proporsional.
Pada masa kanak-kanak, anak mengalami perubahan fisik menuju proporsi tubuh yang lebih serasi, walaupun tidak seluruh bagian tubuh dapat mencapai proporsi kematangan dalam waktu yang bersamaan. Perubahan proporsi tubuh mempunyai irama pertumbuhan sendiri, ada yang tumbuh cepat dan ada pula yang lambat, namun semuanya akan mencapai taraf kematangan ukuran tepat pada saatnya. Pola perubahan yang cenderung berbeda pada setiap anak menyebabkan pertumbuhan fisik anak-anak tampak berbeda satu sama lain. Misalnya ada beberapa anak yang memiliki kepala terlihat seperti lebih besar dari badannya, sedangkan yang lain justru seolah-olah mempunyai kepala yang terlalu kecil, ada tungkai kakinya yang panjang, tapi ada pula yang pendek. Perubahan fisik dan perubahan proporsi tubuh anak yang terjadi pada masa pertumbuhan, akan mempengaruhi bagaimana anak ini memandang dirinya dan bagaimana dia memandang orang lain.
Hal ini akan tercermin dari pola penyesuaian diri anak. Seorang anak misalnya, yang terlalu gemuk akan mulai menyadari bahwa dia tidak dapat mengikuti permainan yang dilakukan oleh teman sebayanya, karena setiap aturan permainan tidak dapat dipatuhinya atau karena secara fisik anak selalu kalah dalam permainan. Di pihak lain, temantemannya akan menganggap anak gemuk itu terlalu lamban dan tidak perlu diajak bermain lagi. Kondisi ini akan menimbulkan perasaan tidak mampu dan tidak disenangi teman-temannya, sehingga dapat mempengaruhi pembentukan konsep dirinya, pada akhirnya akan mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.
Pertumbuhan fisik yang dialami anak akan mempengaruhi proses perkembangan motoriknya. Perkembangan motorik berarti perkembangan pengendalian jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot-otot yang terkoordinasi. Sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan bergerak dan kegiatan bergerak ini akan sangat menggunakan otot-otot yang ada pada tubuhnya. Gerakan yang banyak menggunakan otot-otot kasar disebut motorik kasar (gross motor) yang digunakan untuk melakukan aktivitas berlari, memanjat, melompat atau melempar. Sementara gerak yang menggunakan otot-otot halus yang disebut motorik halus (fine motor) cenderung hanya digunakan untuk aktivitas menggambar, meronce, menggunting, menempel atau melipat. Berbagai kemampuan yang dimiliki anak dalam menggunakan otot-otot fisiknya baik otot halus maupun otot kasar dapat menimbulkan rasa percaya diri pada anak bahwa anak mampu menguasai keterampilan-keterampilan motorik.
Keterampilan motorik yang berbeda memainkan peran yang berbeda dalam penyesuaian sosial dan pribadi anak. karena keterampilan motorik ini memiliki dua fungsi, pertama, membantu anak untuk memperoleh kemandiriannya, dan kedua, untuk membantu mendapatkan penerimaan sosial. Untuk mencapai kemandirian, anak harus mempu mempelajari dan menguasai keterampilan motorik yang memungkinkan anak mampu melakukan segala sesuatu bagi dirinya sendiri. Keterampilan ini meliputi keterampilan makan, memakai baju, mandi, dan merawat diri sendiri. Untuk mendapatkan penerimaan sosial, anak dituntut untuk mampu melakukan berbagai keterampilan seperti membantu pekerjaan rumah atau pekerjaan sekolah, menguasai keterampilan-keterampilan sekolah seperti menggambar, melukis, menari, meronce atau anak juga mampu melakukan ketermpilan yang berkaitan dengan aktivitas bermain bola, memanjat atau melempar. Berbagai keterampilan motorik di atas, selayaknya dikuasai anak pada masa kanak-kanak, karena pada diri anak akan terbentuk rasa percaya diri, memiliki sifat mandiri dan mendapatkan penerimaan dari teman-teman sebayanya. Sebaliknya bila anak tidak mampu menguasai keterampilan motorik tersebut, anak cenderung akan merasa putus asa, tidak percaya diri, merasa diri tidak bisa melakukan apa-apa yang pada akhirnya dapat terbentuk penyesuaian sosial dan pribadi yang buruk.  
2.       Intelektual.
2.  Intelektual merupakan salah satu aspek yang harus dikembangkan pada anak. Intelektual sering kali disinonimkan dengan kognitif, karena proses intelektual banyak berhubungan dengan berbagai konsep yang telah dimiliki anak dan berkenaan dengan bagaimana anak menggunakan kemampuan berfikirnya dalam memecahkan suatu persoalan.
2. Dalam kehidupannya mungkin saja anak akan dihadapkan kepada persoalanpersoalan yang menuntut adanya pemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah yang lebih kompleks pada diri anak taman kanak-kanak. Sebelum anak mampu menyelesaikan persoalan, anak perlu memiliki kemampuan untuk mencari cara penyelesaiannya. .
2.  Anak taman kanak-kanak adalah anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar. Seringkali anak melakukan upaya mencoba-coba (trial and error) untuk menyelesaikan suatu persoalan. Misalnya Lina anak berusia 5 tahun ingin mengambil mainan yang terletak di atas lemari. Lina mencoba mengambil dengan tangannya, tapi tidak berhasil. Lina mencoba lagi dengan mengacungkan tangan sambil melompatlompat, tapi juga tidak berhasil. Lina kemudian mengambil kursi, mendekatkan kursi tersebut pada lemari dan Lina naik ke atas kursi itu untuk mengambil mainannya, dan ternyata berhasil. Dari contoh perilaku Lina ini, dapat difahami bahwa anak kadangkala mencoba sesuatu untuk menyelesaikan persoalannya, Lina dalam kasus di atas menggunakan kemampuan berfikirnya. .
2.  Menurut Vygotsky, kemampuan kognitif anak terbagi atas kemampuan memperhatikan, mengamati, mengingat dan berfikir konvergen. Kemampuan memperhatikan pada anak diawali dengan keberfungsian panca indera anak. Anak memperhatikan sesuatu obyek yang nyata dengan menggunakan mata dan telinganya. Misalnya perhatian anak terfokus pada kucing yang ada di halaman rumahnya. Anak melihat bagaimana bentuk dan gerak-gerik kucing dan bagaimana bunyi suara kucing tersebut. Kemampuan mengamati lebih mendalam dari kemampuan memperhatikan. Dalam mengembangkan kemampuan ini anak menggunakan seluruh panca inderanya, dan obyeknya hadir dihadapan anak. Misal, seorang anak ingin mengetahui tentang suatu makanan. Dengan panca inderanya anak memperhatikan bentuk makanan, dicium (dibaui), dipegang/diraba dan mungkin dimakannya. Dari proses memperhatikan dan mengamati terjadi banjir informasi/pengetahuan pada diri anak. Informasi-informasi itu anak simpan dalam otak/memorinya sebagai suatu pengetahuan yang dimiliki. .
2.  Kemampuan mengingat pada anak merupakan suatu aktivitas kognitif dimana anak menyadari bahwa pengetahuan itu berasal dari kesan-kesan atau pengalaman yang diperoleh pada masa lampau. Dalam proses mengingat, anak berhubungan dengan berbagai informasi/pengetahuan yang sudah dimilikinya dan secara langsung anak tidak berhadapan dengan obyeknya. Misalnya anak diminta untuk menyebutkan bagaimana bentuk dan rasanya buah pisang. Ketika anak dihadapkan pada persoalan itu maka anak akan mencoba mengingat atau mengeluarkan informasi/pengetahuan dalam memorinya tentang bentuk dan rasa buah pisang. Bila sebelumnya anak tidak tahu atau tidak mendapatkan informasi/pengetahuan tentang buah pisang maka anak tidak dapat menjawab persoalan yang diberikan padanya. Sebaliknya bila anak sudah memiliki informasi/pengetahuan tentang buah pisang, maka anak dapat menyelesaikan persoalan. .
2.  Kemampuan berfikir konvergen merupakan kemampuan yang menggunakan informasi yang telah diperoleh dan disimpan untuk menemukan satu jawaban yang benar. Pada saat berfikir anak dihadapkan pada obyek-obyek yang diwakili dengan kesadaran, artinya tidak secara langsung berhadapan dengan obyek secara fisik seperti sedang mengamati sesuatu ketika ia melihat, meraba atau mendengar. Persoalan tentang bentuk dan rasa buah pisang yang dikemukakan di atas akan dapat dijawab anak dengan benar bilamana anak sudah memiliki informasi /pengetahuan tentang buah pisang secara benar pula. Kemampuan berfikir konvergen lebih terarah untuk dapat menyelesaikan suatu permasalahan dengan satu jawaban yang benar/tepat. .
2.  Faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar, karena sebagian besar aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah mengingat dan berfikir. Kedua hal ini merupakan aktivitas kognitif yang perlu dikembangkan. .
2.  Perkembangan struktur kognitif berlangsung menurut urutan yang sama bagi semua anak. Setiap anak akan mengalami dan melewati setiap tahapan itu, sekalipun kecepatan perkembangan dari tahapan-tahapan tersebut dilewati secara relatif dan ditentukan oleh banyak faktor seperti : kematangan psikis, struktur syaraf, dan lamanya pengalaman yang dilewati pada setiap tahapan perkembangan. Mekanisme utama yang memungkinkan anak maju dari satu tahap pemungsian kognitif ke tahap berikutnya oleh Piaget disebut asimilasi, akomodasi dan ekuilibrium. Piaget sebagai tokoh Psikologi Kognitif, memandang anak sebagai partisipan aktif di dalam proses perkembangan. Piaget menyakini bahwa anak harus dipandang seperti seorang ilmuwan yang sedang mencari jawaban dalam upaya melakukan eksperimen terhadap dunia untuk melihat apa yang terjadi. Misalnya anak ingin tahu apa yang terjadi bila anak mendorong piring keluar dari meja. Hasil dari eksperimen miniatur anak menyebabkan anak menyusun “teori”. Piaget menyebutnya teori itu sebagai “skema” (bila jamak disebut skemata) tentang bagaimana dunia fisik dan sosial beroperasi. .
2.  Anak membangun skema berdasarkan eksperimen yang dilakukannya. Saat anak menemukan benda atau peristiwa baru, anak berupaya untuk memahaminya berdasarkan skema yang telah dimilikinya. Piaget menyebut hal itu sebagai proses asimilasi. .
2.  Asimilasi merupakan proses dimana stimulus baru dari lingkungan diintegrasikan pada skema yang telah ada. Proses ini dapat diartikan sebagai suatu obyek atau ide baru ditafsirkan sehubungan dengan gagasan atau teori yang telah diperoleh anak. Asimilasi tidak menghasilkan perkembangan atau skemata, melainkan hanya menunjang pertumbuhan skemata. .
2.  Ilustrasi tentang asimilasi pada anak dapat disimak berikut ini. Kepada seorang anak diperlihatkan suatu benda yang berbentuk persegi empat sama sisi. Setelah itu diperlihatkan persegi panjang. Asimilasi terjadi apabila anak menjawab persegi panjang adalah persegi empat sama sisi. Persegi panjang diasimilasikan oleh anak dengam persegi empat sama sisi. Jawaban seperti ini terjadi karena bentuk persegi empat sama sisi sudah dikenal anak lebih awal daripada persegi panjang. Menurut Piaget, jika skema lama tidak tepat untuk mengakomodasi peristiwa baru, maka anak seperti layaknya seorang ilmuwan yang baik akan memodifikasi skema dan memperluas teorinya tentang dunia. Piaget menyebut proses revisi skema ini sebagai akomodasi. (Piaget & Inhelder, 1969 dalam Rita L. Atkinson, tt : 145). Akomodasi merupakan proses yang terjadi apabila berhadapan dengan stimulus baru. Anak mencoba mengasimilasikan stimulus baru itu tetapi tidak dapat dilakukan karena tidak ada skema yang cocok. Dalam keadaan seperti ini anak akan menciptakan skema baru atau mengubah skema yang sudah ada sehingga cocok dengan stimulus tersebut. Akomodasi dapat dikatakan sebagai proses pembentukan skema baru atau perubahan skema yang telah ada, seperti contoh di atas dimana persegi empat dilihat sebagaimana adanya persegi empat. .
2.  Asimilasi dan akomodasi berlangsung terus sepanjang hidup. Jika anak selalu mengasimilasi stimulus tanpa pernah mengakomodasikan, ada kecenderungan ia memiliki skema yang sangat besar, sehingga ia tidak mampu mendeteksi perbedaanperbedaan diantara stimulus yang mirip. Sebaliknya jika anak selalu mengakomodasi stimulus dan tidak pernah mengasimilasikannya, ada kecenderungan ia tidak pernah dapat mendeteksi persamaan dari stimulus untuk membuat generalisasi. Oleh karenanya harus terjadi keseimbangan antara proses asimilasi dan akomodasi yang disebut sebagai equlibrium. .
2.  Para ahli psikologi perkembangan mengakui bahwa pertumbuhan itu berlangsung secara terus menerus dan mengikuti suatu tahapan perkembangan. Piaget melukiskan urutan perkembangan kognitif ke dalam empat tahap yang berbeda secara kualitatif yaitu : (1) tahap sensorimotorik, (2) tahap praoperasional, (3) tahap operasional konkrit dan (4) tahap operasional formal. Dari setiap tahapan itu urutannya tidak berubah-ubah. Semua anak akan melalui ke empat tahapan tersebut dengan urutan yang sama. Hal ini terjadi karena masing-masing tahapan berasal dari pencapaian tahap sebelumnya. Tetapi sekalipun urutan kemunculan itu tidak berubahubah, tidak menutup kemungkinan adanya percepatan untuk melewati tahap-tahap itu secara lebih dini di satu sisi dan terhambat di sisi lainnya. .
2.  a. Tahap Sensorimotorik (lahir – 2 tahun) .
2.  Tahap pertama ini dikatakan tahap sensorimotorik karena pada masa ini terjadi saling keterkaitan yang sangat erat antara aktivitas motorik dengan persepsi pada bayi. Selama masa ini, bayi sibuk menemukan hubungan antara tindakan mereka dengan konsekuensi dari tindakan tersebut. Hal ini terjadi pada usia lahir sampai 2 tahun, mulai pada masa bayi ketika ia menggunakan pengindraan dan aktivitas motorik dalam mengenal lingkungannya. Pada masa ini biasanya keberadaan bayi masih terikat kepada orang lain bahkan tidak berdaya, akan tetapi alat-alat inderanya sudah dapat berfungsi. .
2.  Tindakan bayi berawal dari respon refleks, kemudian berkembang membentuk representasi mental. Anak dapat menirukan tindakan masa lalu orang lain, dan merancang kesadaran baru untuk memecahkan masalah dengan menggabungkan secara mental skema dan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. Dalam periode singkat antara 18 bulan atau 2 tahun, anak telah mengubah dirinya dari suatu organisme yang bergantung hampir sepenuhnya kepada refleks dan perlengkapan heriditer lainnya menjadi pribadi yang cakap dalam berfikir simbolik. Menurut Piaget, perkembangan kognitif selama stadium sensorimotor, intelegensi anak baru nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulus sensorik. Dalam stadium ini yang penting adalah tindakan-tindakan konkrit dan bukan tindakan-tindakan yang imaginer atau hanya dibayangkan saja. Secara perlahan-lahan melalui pengulangan dan pengalaman konsep, obyek permanen lama-lama terbentuk, anak mampu menemukan kembali obyek yang disembunyikan. .
2.  b. Tahap Praoperasional (2 - 7 tahun) .
2.  Dikatakan praoperasional karena pada tahap ini anak belum memahami pengertian operasional yaitu proses interaksi suatu aktivitas mental, dimana prosesnya bisa kembali pada titik awal berfikir secara logis. Manipulasi simbol merupakan karakteristik esensial dari tahapan ini. .
2.  Pemikiran pada tahap praoperasional terbatas dalam beberapa hal penting. Menurut Piaget, pemikiran itu khas bersifat egosentris, anak pada tahap ini sulit membayangkan bagaimana segala sesuatunya tampak dari perspektif orang lain. Karakteristik lain dari cara berfikir praoperasional yaitu sangat memusat (centralized). Bila anak dikonfrontasi dengan situasi yang multi dimentional, maka ia akan memusatkan perhatiannya hanya pada satu dimensi dan mengabaikan dimensi lainnya. Pada akhirnya juga mengabaikan hubungannya antara dimensi-dimensi ini. Cara berfikir seperti ini dicontohkan sebagai berikut : sebuah gelas tinggi ramping dan sebuah gelas pendek dan lebar diisi dengan air yang sama banyaknya. Anak ditanya apakah air dalam dua buah gelas tadi sama banyaknya? Anak pada tahap ini kebanyakan menjawab bahwa ada lebih banyak air dalam gelas yang tinggi ramping tadi karena gelas ini lebih tinggi dari yang satunya. Jadi anak belum melihat dua dimensi secara serempak. .
2.  Berfikir praoperasional juga tidak dapat dibalik (irreversable). Anak belum mampu untuk meniadakan suatu tindakan dengan melakukan tindakan tersebut sekali lagi secara mental dalam arah yang sebaliknya. Dengan demikian bila situasi A beralih pada situasi B, maka anak hanya memperhatikan situasi A, kemudian B. Ia tidak memperhatikan perpindahan dari A ke B. .
2.  c. Tahap Operasional Konkrit (7 - 11 Tahun) .
2.  Tahap operasional konkrit dapat digambarkan pada terjadinya perubahan positif ciri-ciri negatif tahap preoprasional, seperti dalam cara berfikir egosentris pada tahap operasional konkrit menjadi berkurang, ditandainya oleh desentrasi yang benar, artinya anak mampu memperlihatkan lebih dari satu dimensi secara serempak dan juga untuk menghubungkan dimensi-dimensi itu satu sama lain. Masalah konservasi pada tahap ini sudah dikuasai dengan baik. .
2.  Pada sebagian anak mungkin sudah dimiliki kemampuan dalam hal penalaran, pemecahan masalah dan logika, namun pemikiran mereka masih terbatas pada operasi konkrit. Pada tahap ini anak dapat mengkonservasi kualitas serta dapat mengurutkan dan mengklasifikasikan obyek secara nyata, tetapi mereka belum dapat bernalar mengenai abstraksi dan proposisi hipotesis. Anak masih mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah secara verbal yang sifatnya abstrak. Pemahaman terakhir ini baru dicapai pada tahap operasional formal. .
2.  d. Operasional Formal ( 11 - 16 tahun) .
2.  Pada tahap operasional formal anak tidak lagi terbatas pada apa yang dilihat atau didengar ataupun pada masalah yang dekat, tetapi sudah dapat membayangkan masalah dalam fikiran dan pengembangan hipotesis secara logis. Sebagai contoh, jika A < B dan B < C, maka A < C. Logika seperti ini tidak dapat dilakukan oleh anak pada tahap sebelumnya. .
2.  Perkembangan lain pada tahap ini adalah kemampuannya untuk berfikir secara sistematis, dapat memikirkan kemungkinan-kemungkinan secara teratur atau sistematis untuk memecahkan masalah. Pada tahap ini anak dapat memprediksi berbagai kemungkinan yang terjadi atas suatu peristiwa. Misalnya ketika mengendarai sebuah mobil dan tiba-tiba mobil mogok, maka anak akan menduga mungkin bensinnya habis, businya atau platinanya rusak dan sebab lain yang memungkinkan memberikan dasar atas pemikiran terjadinya mobil mogok. Perkembangan kognitif pada tahapan ini mencapai tingkat perkembangan tertinggi dari tahapan yang dijelaskan Piaget. .
2.  Perkembangan kognitif anak taman kanak-kanak berada pada tahap praoperasional. Pada tahap ini ada sebagian anak yang menguasai berbagai kemampuan secara baik tetapi ada pula sebagian anak yang tidak mampu menguasainya. Ketidakmampuan anak tampak dari sikap anak yang sulit mengerti, lambat dalam mengerjakan sesuatu, atau keliru dalam menyelesaikan suatu persoalan. Kondisi ini mengakibatkan anak merasa tidak mampu, tidak percaya diri, merasa diri berbeda dengan anak yang lain sehingga anak menarik diri dari lingkungan, dan memandang dirinya tidak memiliki kemampuan apa-apa.   
3.       3. Sosial
3. Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, guru, orang tua maupun saudara-saudaranya. Di dalam hubungan dengan orang lain, terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat bermakna dalam kehidupannya yang dapat membantu pembentukan kepribadiannya. Sejak kecil anak telah belajar cara berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling dekat dengannya, yaitu dengan ibu, ayah, saudara, dan anggota keluarga yang lain. Apa yang telah dipelajari anak dari lingkungan keluarganya turut mempengaruhi pembentukan perilaku sosialnya. Perilaku yang ditunjukkan anak dapat berbeda tergantung dengan siapa anak berhadapan. Johnson (1975 : 82) mengungkapkan bahwa anak berperilaku dalam suatu kelompok berbeda dengan perilakunya dalam kelompok lain. Perilaku anak dalam kelompok juga berbeda dengan pada waktu anak sendirian.
3. Menurut Johnson, kehadiran orang lain dapat menimbulkan reaksi yang berbeda pada tiap-tiap anak. Perbedaan ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu: persepsi anak yang menjadi anggota kelompok, lingkungan tempat terjadinya interaksi dan pola kepemimpinan yang berlaku.
3. Dini P. Daeng S (1996: 114) mengungkapkan bahwa ada delapan faktor yang berpengaruh pada kemampuan bersosialisasi anak, yaitu :
3. a) Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang di sekitarnya dari berbagai usia dan latar belakang.
3. b) Banyak dan bervariasinya pengalaman dalam bergaul dengan orang-orang di lingkungannya.
3. c) Adanya minat dan motivasi untuk bergaul
3. d) Banyaknya pengalaman yang menyenangkan yang diperoleh melalui pergaulan dan aktivitas sosialnya.
3. e) Adanya bimbingan dan pengajaran dari orang lain, yang biasanya menjadi “model” bagi anak.
3. f) Adanya bimbingan dan pengajaran yang secara sengaja diberikan oleh orang yang dapat dijadikan “model” bergaul yang baik bagi anak.
3. g) Adanya kemampuan berkomunikasi yang baik yang dimiliki anak.
3. h) Adanya kemampuan berkomunikasi yang dapat membicarakan topik yang dapat dimengerti dan menarik bagi orang lain yang menjadi lawan bicaranya.
3. Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978 : 228) untuk menjadi orang yang mampu bersosialisasi memerlukan tiga proses. Masing-masing proses terpisah dan sangat berbeda satu sama lain, tetapi saling berkaitan. Kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar sosialisasinya. Ketiga proses sosialisasi tersebut adalah :
3. a) Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial.
3. Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang perilaku yang dapat diterima. Untuk dapat besosialisasi anak tidak hanya harus mengetahui perilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan perilakunya dengan patokan yang dapat diterima.
3. b) Memainkan peran sosial yang dapat diterima.
3. Setiap kelompok sosial mempuyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan dituntut untuk dipatuhi. Sebagai contoh, ada peran yang telah disetujui bersama bagi orang tua dan anak serta ada pula peran yang telah disetujui bersama bagi guru dan murid. Anak dituntut untuk mampu memainkan peran-peran sosial yang diterimanya.
3. c) Perkembangan sikap sosial.
3. Untuk bersosialisasi dengan baik anak-anak harus menyenangi orang dan kegiatan sosial. Jika mereka dapat melakukannya, mereka akan berhasil dalam penyesuaian sosial dan diterima sebagai anggota kelompok sosial tempat mereka bergaul.
3. Sebagian dari bentuk perilaku sosial yang berkembang pada masa kanak-kanak awal, merupakan perilaku yang terbentuk atas dasar landasan yang diletakkan pada masa bayi. Sebagian lainnya merupakan bentuk perilaku sosial baru yang mempunyai landasan baru. Banyak di antara landasan baru ini dibina oleh hubungan sosial dengan teman sebaya di luar rumah dan hal-hal yang diamati anak dari tontonan televisi atau buku komik.
3. Pola perilaku dalam situasi sosial banyak yang nampak tidak sosial atau bahkan anti sosial, tetapi masing-masing tetap penting bagi proses sosialisasi. Landasan yang diletakkan pada masa kanak-kanak awal akan menentukan cara anak menyesuaikan diri dengan orang lain.
3. Pola perilaku sosial menurut Elizabeth. B. Hurlock (1978 : 239) terbagi atas dua kelompok, yaitu pola perilaku sosial dan pola perilaku tidak sosial. Pola perilaku yang termasuk dalam perilaku sosial adalah mampu bekerja sama, dapat bersaing secara positif, mampu berbagi pada yang lain, memiliki hasrat terhadap penerimaan sosial, simpati, empati, mampu bergantung secara positif pada orang lain, bersikap ramah, tidak mementingkan diri sendiri, mampu meniru hal-hal positif, dan memiliki perilaku kelekatan (attachment behavior) yang baik. Sedangkan perilaku yang tidak sosial ditandai dengan negativisme, agresi, pertengkaran, mengejek dan menggertak, sok berkuasa, egosentrisme, berprasangka dan antagonisme jenis kelamin.
3. Helms & Turner (1984 : 225) mengungkapkan bahwa pola perilaku sosial anak dapat dilihat dari empat dimensi, yaitu : (1) anak dapat bekerjasama (cooperating) dengan teman, (2) anak mampu menghargai (altruism) teman, baik dalam hal menghargai milik, pendapat, hasil karya teman atau kondisi-kondisi yang ada pada teman, (3) anak mampu berbagi (sharing) kepada teman. Apakah anak mampu berbagi sesuatu yang dimilikinya kepada teman, mau mengalah pada teman dan sebagainya, dan (4) anak mampu membantu (helping others) orang lain. Hal ini tidak hanya ditunjukkan dalam hubungannya dengan teman sebaya tetapi juga dengan orang dewasa lainnya.
3. Pada semua tingkatan usia, orang dipengaruhi oleh kelompok sosial dengan siapa mereka mempunyai hubungan tetap, dan merupakan tempat mereka mengidentifikasi diri. Pengaruh ini paling kuat terjadi pada masa kanak-kanak dan sebagian masa remaja akhir. Menurut Elizabeth. B. Hurlock (1978, 231), keluarga merupakan agen sosialisasi yang paling penting. Ketika anak-anak memasuki sekolah, guru mulai memasukkan pengaruh terhadap sosialisasi mereka, meskipun pengaruh teman sebaya biasanya lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh guru dan orang tua. Hubungan antara anak dengan teman sebaya merupakan bagian dari interaksi sosial yang dilakukan anak dengan lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakatnya. Bonner merumuskan interaksi sosial sebagai hubungan antara dua atau lebih individu di mana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya. Teman sebaya menurut Havighurst (1978 : 45) dipandang sebagai suatu “kumpulan orang yang kurang lebih berusia sama yang berpikir dan bertindak bersama-sama”.
3. Pada usia sekolah, anak-anak mulai keluar dari lingkungan keluarga dan memasuki dunia teman sebaya. Peristiwa ini merupakan perubahan situasi dari suasana emosional yang aman yang dalam hal ini hubungan yang erat dengan ibu dan anggota keluarga lainnya ke kehidupan dunia baru. Dalam dunia baru yang dimasuki anak, ia harus pandai menempatkan diri di antara teman sebaya yang sedikit banyak akan berlomba dalam menarik perhatian guru.
3. Anak-anak perlu belajar memperoleh kepuasan yang lebih banyak dari kehidupan sosial bersama teman sebayanya. Melalui kehidupan sosial kelompok sebaya anak belajar memberi dan menerima., belajar berteman dan bekerja yang semuanya itu dapat mengembangkan kepribadian sosial anak.
3. Vygotsky (Berk, L.E., & Winsler, A., 1995) menekankan pentingnya konteks sosial dalam proses belajar anak. Pengalaman interaksi sosial ini sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir anak. Vygotsky juga menjelaskan bahwa bentuk-bentuk aktivitas mental yang tinggi diperoleh dari konteks sosial dan budaya tempat anak berinteraksi dengan teman-temannya atau orang lain. Mengingat betapa pentingnya peran konteks sosial ini, Vygotsky menyarankan untuk memahami perkembangan anak, kita dituntut untuk memahami relasi-relasi sosial yang terjadi pada lingkungan tempat anak itu bergaul.
3. Proses pembelajaran dalam kelompok sebaya merupakan proses pembelajaran “kepribadian sosial” yang sesungguhnya. Anak-anak belajar cara-cara mendekati orang asing, malu-malu atau berani, menjauhkan diri atau bersahabat. Ia belajar bagaimana memperlakukan teman-temannya, ia belajar apa yang disebut dengan bermain jujur.
3. Pengalaman anak berinteraksi sosial dengan anak lain dan bahkan dengan orang dewasa tidak saja memfasilitasi keterampilan anak dalam berkomunikasi dan sosialnya, tetapi juga turut mengembangkan aspek-aspek perkembangan lainnya, seperti perkembangan kognisi, emosi dan moralnya. Pergaulan sosial ini merupakan pengalaman hidup yang kaya dan alami bagi anak sehingga dapat mendorong segenap aspek perkembangan anak secara lebih terintegrasi dan menyeluruh. Melalui interaksi sosial, anak dapat berlatih mengekspresikan emosinya dan menguji perilaku-perilaku moralnya secara tepat. Begitu pula pengenalan anak terhadap pola pikir orang lain dapat memperkaya pengalaman kognisinya.
3. Dalam berinteraksi dengan teman sebaya, anak akan memilih anak lain yang usianya hampir sama, dan di dalam berinteraksi dengan teman sebaya lainnya, anak dituntut untuk dapat menerima teman sebayanya. Dalam penerimaan teman sebayanya anak harus mampu menerima persamaan usia, menunjukkan minat terhadap permainan, dapat menerima teman lain dari kelompok yang lain, dapat menerima jenis kelamin lain, dapat menerima keadaan fisik anak yang lain, mandiri atau dapat lepas dari orang tua atau orang dewasa lain, dan dapat menerima kelas sosial yang berbeda
3. Tidak setiap anak mampu memiliki keterampilan sosial seperti yang diharapkan, karena anak memiliki kemampuan dan pengaruh lingkungan yang berbeda-beda. Ada sebagian anak yang menunjukkan sikap ingin menang sendiri, sok berkuasa, tidak mau menunggu giliran bila sedang bermain bersama, selalu ingin diperhatikan atau memilih-milih teman. Permasalahan seperti ini merupakan permasalahan sosial yang harus diperbaiki, karena dapat mengakibatkan anak dikucilkan oleh teman-temannya, terbentuk sikap egois yang tinggi, atau muncul rasa rendah diri dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial.  
4.       4. Emosi
4.Emosi adalah keadaan atau perasaan yang bergejolak pada diri individu yangdisadari dan diungkapkan melalui wajah atau tindakan. Crow & Crow (E. UsmanEffendi, 1985) mengungkapkan bahwa emosi adalah suatu keadaan yang bergejolakpada diri individu yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian dari dalam)terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan individu.Pada umumnya anak kecil lebih emosional daripada orang dewasa karena padausia ini anak masih relatif muda dan belum dapat mengendalikan emosinya. Pada usia2-4 tahun, karakteristik emosi anak muncul pada ledakan marahnya atau tempertantrums (Elizatbeth. B. Hurlock, 1978). Untuk menampilkan rasa tidak senangnya,anak melakukan tindakan yang berlebihan, misalnya menangis, menjerit-jerit,melemparkan benda, berguling-guling, memukul ibunya atau aktivitas besar lainnya.Pada usia ini anak tidak memperdulikan akibat dari perbuatannya, apakah merugikanorang lain atau tidak, selain dari itu, pada usia ini anak lebih bersifat egosentris.Pada usia 5-6 tahun, emosi anak mulai matang. Pada usia ini anak mulaimenyadari akibat-akibat dari tampilan emosinya. Anak mulai memahami perasaanorang lain, misalnya bagaimana perasaan orang lain bila disakiti, maka anak belajarmengendalikan emosinya.
4.Ekspresi emosi pada anak mudah berubah dengan cepat dari satu bentukekspresi ke bentuk ekspresi emosi yang lain. Anak dalam keadaan gembira secaratiba-tiba dapat langsung berubah menjadi marah karena ada sesuatu yang dirasakantidak menyenangkan, sebaliknya apabila anak dalam keadaan marah, melalui bujukandengan sesuatu yang menyenangkan bisa berubah menjadi riang.
4.Pola emosi pada anak hampir sama dengan orang dewasa, namun berbeda darisisi rangsangan yang membangkitkannya serta cara mengekspresikan emosi.Rangsangan yang sering membangkitkan emosi anak adalah keinginan yang tidakterpenuhi, dengan cara mengungkapkan ekspresi yang tidak terkendali. Sedangkanpada orang dewasa, rangsangan dan cara emosi diekspresikan secara lebih terkendali.Pola emosi pada anak dapat berbentuk rasa takut, marah, cemburu, sedih, gembira,kasih sayang atau iri hati .
4.Ekspresi emosi yang baik pada anak dapat menimbulkan penilaian sosial yangmenyenangkan, sedangkan ekspresi emosi yang kurang baik seperti cemburu, marah,atau takut dapat menimbulkan penilaian sosial yang tidak menyenangkan. Anak yangbersikap seperti itu akan dijauhi teman, dinilai sebagai anak yang cengeng, pemarah,atau julukan-julukan lain. Penilaian yang diperoleh anak dari lingkungannya dapatmembentuk konsep diri negatif, dan pada akhirnya anak tidak dapat menyesuaikandiri dengan lingkungannya.
4.5. Bahasa
4.Bahasa merupakan salah satu elemen yang terpenting dalam perkembanganberpikir. Hampir tidak mungkin manusia berpikir tanpa menggunakan bahasa, danmelalui bahasa, pikiran manusia dapat ditampilkan, bahasa pula yang dapatmembedakan manusia dari makhluk lainnya.
4.Menurut Piaget, berpikir itu mendahului bahasa dan lebih luas dari bahasa.Bahasa adalah salah satu cara yang utama untuk mengekspresikan pikiran, dan dalamseluruh perkembangan, pikiran selalu mendahului bahasa. Bahasa dapat membantuperkembangan kognitif. Bahasa dapat mengarahkan perhatian anak pada benda-bendabaru atau hubungan baru yang ada di lingkungan, mengenalkan anak pada pandanganpandanganyang berbeda dan memberikan informasi pada anak. Bahasa adalah salahsatu dari berbagai perangkat yang terdapat dalam sistem kognitif manusia. Piagetmenekankan bahwa anak adalah makhluk yang aktif dan adaptif namun bersifategosentris yang proses berpikirnya sangat berbeda dengan orang dewasa, makapengalaman belajar disesuaikan dengan pemahaman mereka.
4.Menurut Miller bahasa adalah suatu urutan kata-kata, bahasa dapat digunakanuntuk menyampaikan informasi mengenai tempat yang berbeda atau waktu yangberbeda. Sedangkan Vigotsky berpendapat bahwa perkembangan bahasa seiringdengan perkembangan kognitif, malahan saling melengkapi, keduanya berkembangdalam satu lingkup sosial. Vygotsky mengungkapkan bahwa bahasa, dalam bentukyang paling awalpun mempunyai dasar sosial.
4.Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan sarana yang sangat penting dalamkehidupan anak. Di samping itu bahasa juga merupakan alat untuk menyatakanpikiran dan perasaan kepada orang lain yang sekaligus berfungsi untuk memahamipikiran dan perasaan orang lain. Selain dari itu, bahasa juga merupakan pintu gerbangilmu pengetahuan, dengan berbahasa anak dapat berkomunikasi dengan sesama.Sejalan dengan perkembangan kognisinya, anak pada usia ini sering kalimengajukan pertanyaan-pertanyaan “mengapa begini mengapa begitu”, “ini apa ituapa”. Minat anak usia ini sangat luas dan mereka selalu ingin mengetahui segalasesuatu yang ada di dunia ini. Mereka sering bertanya apa saja untuk memuaskan rasaingin tahunya, dan mereka juga tahu bahwa pertanyaan itu dapat mempertahankankonsepsinya dengan orang dewasa. Misalnya pertanyaan : “Mengapa ada hujan”,“Mengapa pohon ada daunnya”, “Kapan saya besar” dan sebagainya.Anak adalah makhluk peniru (imitator), ia mencontoh orang lain di sepanjangkehidupannya. Tatkala masih berusia anak-anak dorongan untuk meniru orang lain itubersifat amat kuat. Kemampuan imitasi anak menjadi modal penting dalamperkembangan bahasanya. Anak senang meniru bunyi-bunyi tertentu ataupun ucapanucapanorang-orang di sekitarnya.
4.Bahasa anak mulai menjadi bahasa orang dewasa setelah anak mencapai usia 3tahun. Pada saat itu ia sudah mengetahui perbedaan antara saya, kamu dan kita. Padausia 4-6 tahun kemampuan berbahasa anak akan berkembang sejalan dengan rasaingin tahu serta sikap antusias yang tinggi, sehingga timbul pertanyaan-pertanyaandari anak dengan kemampuan bahasanya. Kemampuan berbahasa juga akan terusberkembang sejalan dengan intensitas anak pada teman sebayanya. Hal inimengimplikasikan perlunya anak memiliki kesempatan yang luas dalam menentukansosialisasi dengan teman-temannya. Dengan memperlihatkan suatu minat yangmeningkat terhadap aspek-aspek fungsional bahasa tulis, ia senang mengenal katakatayang menarik baginya dan mencoba menulis kata yang sering ditemukan. Anakjuga senang belajar menulis namanya sendiri atau kata-kata yang berhubungan dengansesuatu yang bermakna baginya.
4.Antara usia 4 dan 5 tahun, kalimat anak sudah terdiri dari empat sampai limakata. Mereka juga mampu menggunakan kata depan seperti di bawah, di dalam, diatas dan di samping. Mereka lebih banyak menggunakan kata kerja daripada katabenda.
4.Antara 5 dan 6 tahun, kalimat anak sudah terdiri dari enam sampai delapan kata.Mereka juga sudah dapat menjelaskan arti kata-kata yang sederhana, dan jugamengetahui lawan kata. Mereka juga dapat menggunakan kata penghubung, katadepan dan kata sandang.
4.Pada masa akhir usia taman kanak-kanak anak umumnya sudah mampuberkata-kata sederhana dan berbahasa sederhana, cara bicara mereka telah lancar,dapat dimengerti dan cukup mengikuti tata bahasa walaupun masih melakukankesalahan berbahasa.Berbicara berfungsi sebagai alat komunikasi dengan orang lain. Bila anak telahmenguasai kata-kata, kalimat dan tata bahasa, mereka juga akan dapat berkomunikasidengan baik dan lebih efektif.
4.Kemampuan berbahasa merupakan aspek penting yang perlu dikuasai anak, tapitidak semua anak mampu menguasai kemampuan ini. Ketidakmampuan anakberkomunikasi secara baik karena keterbatasan kemampuan menangkap pembicaraananak lain atau tidak mampu menjawab dengan benar akan menghambatperkembangan anak. Selain dari itu, ada anak yang masih belum mampumengucapkan huruf-huruf r, sy, s, atau lainnya membuat anak sulit berkomunikasidengan anak lain.
4.Adanya hambatan dalam perkembangan bahasa akan membuat anak merasatidak diterima oleh teman-temannya, anak menjadi minder, tidak percaya diri dantidak memiliki keberanian untuk berbuat. Kondisi ini dapat mempengaruhiperkembangan kepribadian anak di kemudian hari.




Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment