Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Saturday, August 19, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan spiritual quotient dengan kontrol diri santri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

Abstract

INDONESIA:
Pada masa ini kemampuan mengontrol diri berkembang seiring dengan kematangan emosi. Para ahli berpendapat bahwa kontrol diri dapat digunakan sebagai suatu intervensi yang bersifat preventif selain dapat mereduksi efek-efek psikologis yang negatif dari lingkungan. Dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu diawali dari niatan dalam hatinya, dan hati ini adalah pusat dari kecerdasan spiritual. Permasalahan dalam penelitian ini di rumuskan untuk mengetahui apakah ada hubungan Spiritual Quotient dengan kontrol diri santri pondok pesantren Tebuireng Jombang. Tujuan peneliti yaitu untuk mengetahui ada tidaknya hubungan Spiritual Quotient dengan kontrol diri santri pondok pesantren Tebuireng Jombang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dengan menggunakan angket dan dokumentasi. Analisis data menggunakan korelasi product moment. Populasi yang dipakai adalah santri pondok pesantren tebuireng setingkat XI MA.
Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa tingkat Spiritual Quotient pada santri kelas XI Madrasah Aliyah yang berdomisili di pondok pesantren yang memiliki tingkat Spiritual Quotient tinggi yaitu 17,8 % (16 responden), tingkat sedang 73,3 % (66 responden), dan tingkat rendah 8,9% (9 responden) tingkat Kontrol Diiri pada santrikelas XI Madrasah Aliyah yang berdomisili di pondok pesantren yang memiliki tingkat Spirital Quotient tinggi yaitu 18,9 % (17 responden), tingkat sedang 71,1% (64 responden), dan tingkat rendah 10% (9 responden Dari output diatas dapat diketahui bahwa X2 hitung= 3.35. Ketika X2 hitung > X2 tabel maka 3.35 > 216.982, dapat disimpulkan bahwa Ha diterima. Kemudian dari output diatas juga ditemukan bahwa probabilitas = 0,030. Ketika probabilitas < 0.05 maka 0,030 > 0,05 dapat disimpulkan bahwa Ha diterima. Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa Ada Hubungan antara Spiritual Quotient (SQ) dengan Kontrol Diri santri Pondok Pesantren Tebuireng.
ENGLISH:
At this time the ability to control themselves evolved in line with the maturity of emotion. The experts argued that self control can be used as a preventive interventions in addition to the reduction of the effects of negative psychological environment. In every action undertaken by human beings always starts from this in his heart, and this heart is the center of spiritual intelligence. Problems in the research on deduce to find out whether there is a relationship of Spiritual Quotient with self control students Tebuireng pesantren Jombang. The goal of researchers is to figure out whether or not there is a Spiritual relationship Quotient with self control students Tebuireng pesantren Jombang.
This research uses a quantitative approach. Data collection by using question form and documentation. Data analysis use product moment correlation. The population used is santri tebuireng boarding schools XI MA-level.
From the results of the analysis can be aware that Spiritual Quotient level of students in class XI Madrasah Aliyah residing in boarding schools that have a high level of Spiritual Quotient i.e. 17.8% (16 respondents), the level being 73,3% (75 respondents), and the low level of 8.9% (9 respondents) level control Diiri on santrikelas XI Madrasah Aliyah residing in boarding schools that have a high level of Quotient Spirital i.e. 18,9% (17 respondents) 71,1% medium level (64 respondents), and the low level of 10% (9 respondents from the output above, it can be noted that count X 2 = 3.4. When X 2 X 2 table > count then 3.4 > 216.982, it can be inferred that the Ha is received. Then from the above output also found that probability = 0.030. When the probability < 0.05 then 0.030 > 0.05 can be inferred that the Ha is received. From the results above, it can be concluded that there is a connection between the Spiritual Quotient (SQ) with self control students Tebuireng boarding schools.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pondok Pesantren di Indonesia memiliki peran yang sangat besar, baik bagi kemajuan Islam itu sendiri maupun bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.Berdasarkan catatan yang ada, kegiatan pendidikan agama di nusantara telah dimulai sejak tahun 1596 (wikipediapesanten 2013). Kegiatan agama inilah yang kemudian dikenal dengan nama Pondok Pesantren. Sebagai sebuah lembaga pendidikan, pondok pesantren dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas, baik secara intelektual maupun perilaku.Pola pendidikannya, yang mengharuskan para santrinya tinggal dalam asrama, selain bertujuan agar para santri lebih fokus dalam mempelajari ilmu-ilmu agama, juga bertujuan mengajarkan kemandirian. Kehidupan dalam pesantren sebagai seorang santri tentunya memang harus taat dan patuh terhadap peraturan-peraturan yang ada dalam pesantren.Begitu banyaknya santri yang ada sehingga membuat pesantren-pesantren membuat aturan yang ketat, dan ketatnya peraturan hanya untuk membentuk santri yang disiplin dan berakhlak mulia.Pada umumnya santri di pesantren mengurus sendiri keperluan sehari-hari dan mereka mendapat fasilitas yang sama antara santri yang satu dengan lainnya. Santri yang ada dipesantren datang dari berbagai macam daerah dan harus menjalani aktivitasnya bersama teman-teman sesama santri tanpa ada pengawasan langsung dari orang tuanya.Dalam pesantren seorang santri di wajibkan mengikuti setiap kegiatan pesantren, baik pendidikan formal maupun non formal, bahkan untuk menunjang keaktifan dan kedisiplinan seorang santri dalam belajar tidak jarang pondok pesantren menerapkan peraturan yang sangat ketat. 2 Berbagai macam aturan yang di buat oleh pengurus pesantren ataupun kyai agar santri bisa menjalankan kewajibanya dalam mencari ilmu.
Santri diwajibkan menaati peraturan yang ditetapkan di dalam pesantren tersebut dan apabila ada pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan.Namun tetap saja ada santri yang melanggar peraturan tersebut dengan bermacam-macam alasan tersendiri. Berbagai tindakan sosial yang banyak dilakukan oleh para santri dipondok pesantren, terutama dalam menyikapi kehidupannya yang cenderung dilarang oleh pondok pesantren tersebut.Dalam kehidupan di dalam pesantren selalu ada pengaruh positif ataupun negatife yang mempengaruhi kepribadian seorang santri.Akan ada aspek-aspek yang membuatnya terpengaruh oleh kenakalan pada masa remaja. Pengaruh dari teman sesama santri untuk melakukan kegiatan diluar kegiatan pondok membuat santri tersebut terbiasa untuk meninggalkan kewajibannya dalam belajar. Ketika berinteraksi dengan orang lain, seseorang akan berusaha menampilkan perilaku yang dianggap paling tepat bagi dirinya. Kontrol diri diperlukan guna membantu individu dalam mengatasi kemampuannya yang terbatas dan mengatasi berbagai hal merugikan yang mungkin terjadi yang berasal dari luar (A.E.Kazdin,behavior modification). Santri-santri hidup dalam suasana pesantren yang religius, namun peneliti menemukan fenomena yang menunjukkan lemahnya kontrol diri pada mereka, misalnya merokok dengan sembunyi-sembunyi bersama teman sebaya, membolos sekolah ataupun membolos ngaji diniyah, mudah marah dan bertengkar dengan teman sebaya.Padahal teman-teman sebaya inilah yang memiliki peranan lebih besar dalam kehidupan seorang santri.Ini dikarenakan interaksi mereka lebih banyak dilakukan dengan teman sebaya tersebut, sejak bangun tidur hingga tidur kembali. 3 Adapun beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh para santri, diantaranya tidak boleh keluar dari lingkungan pesantren saat jam malam, tidak boleh berinteraksi dengan lawan jenis, tidak boleh membawa alat-alat elektronik dan benda tajam, tidak boleh merokok dan menggunakan narkoba, dll.
Jika peraturan-peraturan yang berlaku di Pondok Pesantren Tebuireng di langgar, maka santri akan dikenakan hukuman tergantung jenis pelanggaran yang dilakukan. Contoh dari hukuman tersebut adalah menghafal beberapa surat Al-Quran, dipotong rambutnya, dijemur di lapangan, membersihkan beberapa fasilitas pesantren, diskors, sampai yang terberat adalah dikeluarkan dari pesantren. Menurut Calhoun dan Acocella (1990) mengemukakan dua alasan yang mengharuskan individu mengontrol diri secara kontinu. Pertama, individu hidup bersama kelompok sehingga dalam memuaskan keinginannya individu harus mengontrol perilakunya agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Kedua, masyarakat mendorong individu untuk secara konstan menyusun standar yang lebih baik bagi dirinya. Ketika berusaha memenuhi tuntutan, dibuatkan pengontrolan diri agar dalam proses pencapaian standar individu tidak melakukan hal-hal yang menyimpang. Kemampuan mengontrol diri berkembang seiring dengan bertambahnya usia. Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja pada masa ini adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok darinya dan kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa harus dibimbing, diawasi, didorong dan diancam seperti hukuman seperti yang dialami waktu anakanak. 4 Pada masa ini kemampuan mengontrol diri berkembang seiring dengan kematangan emosi.Para ahli berpendapat bahwa kontrol diri dapat digunakan sebagai suatu intervensi yang bersifat preventif selain dapat mereduksi efek-efek psikologis yang negatif dari lingkungan (M. Nur Gufron, www.damandiri.or.id, 2005). Salah satu faktor yang menyebabkan mereka mampu memiliki kontrol diri yang baik dengan memiliki spiritual yang tinggi.Dengan memiliki spiritual yang tinggi, manusia dapat melakukan manajemen diri.Menurut Danah Zohar dan Ian Marsall dalam Aribowo, seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual atau spiritual tinggi akan mampu mengendalikan diri sepenuhnya. Sipiritual Quotient menurut
Danah Zohar dan Ian Marsall, adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa. Kecerdasan yang dapat membantu manusia menyembuhkan dan membangun diri secara utuh (Danah Zohar, 2001) Alasan mendasar spiritualitas adalah bahwa setiap orang itu penting dan istimewa bagi dunia.Spiritualitas adalah kemampuan kita untuk membuat hubungan mendalam dengan apapun yang kita yakini membuat hidup berarti.Remaja jarang menyadari pengalaman mereka dalam spiritualitas, mereka lebih fokus pada perjuangan menemukan makna dan tujuan hidup (Maurice J. Elias 2002). Pondok pesantren Tebuireng adalah salah satu dari sekian pesantren besar yang ada di tanah jawa, pondok pesantren Tebuireng memiliki sejarah yang panjang dengan para kyai-nya dan proses berdirinya. Ribuan pelajar yang pernah nyantri di Tebuireng bahkan puluhan ribu, tidak di pungkiri jika pondok pesantren Tebuireng selalu 5 dibanjiri santri baru setiap tahunnya. Seiring dengan keadaan tersebut maka banyak langkah yang dilakukan oleh pengurus pondok pesantren untuk memaksimalkan dalam menjalankan proses pendidikan, termasuk dengan membuat beberapa peraturan yang di berikan untuk santri. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara awal yang dilakukan peneliti terhadap beberapa santri Tebuireng, menunjukkan bahwa para santri tersebut mengalami masa periode emosi. Keadaan yang terjadi tersebut ditunjukkan dengan perilaku menyimpang dari aturan yang di terapkan, menyangkal kebutuhan akan peringatan atau nasehat, memiliki keyakinan tinggi bahwa tindakannya itu selalu benar, mudah sekali emosi, kurang percaya diri, dan membutuhkan atau haus akan kasih sayang. Akan tetapi, tidak semua santri Tebuireng menampakkan perilaku yang negatif, walaupun mereka memiliki kesamaan dalam masa periode emosi.
Terlihat dari beberapa pelanggaran terhadap peraturan pesantren seperti melanggar jadwal yang sudah ditetapkan oleh pengurus pessantren.Sebagian dari mereka telah memiliki kemampuan dalam mengontrol setiap emosi atau perilaku yang muncul, karena mereka memiliki kecerdasan spiritual yang cukup baik. Bagi orang yang beragama Islam akhlak baik merupakan bagian dari kewajibannya dalam bersosial, hal itu didasari atas kesadaran seseorang atas hak-hak dirinya dan orang lain, selain itu juga merasa diawasi oleh Allah sehingga semakin hati-hati dalam berperilaku. Dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu diawali dari niatan dalam hatinya, dan hati ini adalah pusat dari kecerdasan spiritual.Oleh karena itu penulis berupaya untuk meneliti hubungan Spiritual Quotient dengan kontrol diri santri dalam menyikapi peraturan pesantren. 6 Salah satu indikator kecerdasan spiritual bagi orang Islam adalah terlihat pada sisi religiusitasnya.
Sedangkan religiusitas manusia dapat dilihat dari aktifitas dan ritualitas dalam beragama. Proses kejadian tersebut merupakan proses spiritualitas sehingga dapat dilihat tinggi rendahnya spiritualitas seseorang. Bertolak dari latar belakang diatas maka penulismengambil judul penelitianHubunganSpiritual Quotient Dengan Kontrol Diri Santri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Dengan demikian akan dapat diketahui hasilnya seberapa signifikan hubungan keduanya.
B.     Rumusan Masalah
 Berdasarkan latar belakang dalam penelitian ini rumusan masalahnya sebagai berikut : 1. Bagaimana tingkat Spiritual Quotient santri pondok pesantren Tebuireng Jombang?
 2. Bagaimana tingkat kontrol diri santri pondok pesantren Tebuireng Jombang?
 3. Adakah hubungan Spiritual Quotient dengan kontrol diri santri pondok pesantren Tebuireng Jombang?
 C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui tingkat Spiritual Quotient santri pondok pesantren Tebuireng Jombang.
 2. Untuk mengetahui tingkat kontrol diri santri pondok pesantren Tebuireng Jombang.
3. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan Spiritual Quotient dengan kontrol diri santri pondok pesantren Tebuireng Jombang.
 D. Manfaat
1. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu digunakan sebagai bahan masukan oleh pondok pesantren tebuireng untuk mengetahui tingkat Spiritual Quotient dan kontrol diri santri pondok pesantren Tebuireng.
2. Manfaat teoritik

Dapat dijadikan bahan masukan atau informasi bagi para peneliti selanjutnya, khususnya dalam perkembangan keilmuan psikologi islam dalam hal mengetahui peran dari spiritual Quotientdan juga kontrol diri. 

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Hubungan spiritual quotient dengan kontrol diri santri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment