Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Saturday, August 19, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Persiapan menghadapi kematian: Studi fenomenologi psikologis pada ibu-ibu usia dewasa madya di Majelis Taklim Nurul Habib Bangil

Abstract

INDONESIA:
Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pengalaman individual dan upaya-upaya yang dilakukan sebagai persiapan ibu-ibu dewasa madya yang menjadi anggota majelis taklim untuk menghadapi kematian. Persiapan menghadapi kematian yang dimaksud adalah segala bentuk perlengkapan, perencanaan, upaya, tindakan, usaha, dan pengalaman sadar individu untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian.
Peneliti menggunakan studi fenomenologi-psikologis dimana Observasi dan deskripsi sistematis digunakan untuk menemukan makna-makna psikologis pada pengalaman individu yang sadar saat mempersiapkan diri dan proses kesiapan menghadapi kematian, meliputi persepsi, perasaan, ingatan, gambaran, gagasan, dan berbagai hal lain yang hadir dalam kesadaran individu. Teknik Purposive Sampling digunakan dalam penelitian ini untuk memilih partisipan. Sedangkan metode pengambilan data yang digunakan adalah dengan melakukan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.
Dari hasil analisis penelitian dapat disimpulkan bahwa Persiapan Menghadapi Kematian ibu-ibu dewasa madya yang menjadi anggota Majelis Taklim Nurul Habib terbagi dalam dua bentuk persiapan, yakni Persiapan Material dan Persiapan Non-Material. Adapun Persiapan Material terdiri dari kain kafan, jarik, kapur barus, papan, cendana, kapas, sabun, sampho, dan minyak wangi. Sementara Persiapan Non-Material terbagi dalam empat unsur yang ada dalam diri manusia, yakni Koginitif (berupa gagasan, kesadaran, dan proses mengingat), Emotif-Afektif (rasa nikmat dan syukur, menangis dan bersedih lalu terdorong untuk memperbaiki diri), Sosiokultural (mengemban tanggung jawab sosial, menjadi anggota dan atau penyelenggara majelis taklim, berbakti kepada suami dan atau orangtua, memakai cadar, membiasakan amalan sunnah dalam lingkungan keluarga, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia), dan Spiritual (menjadi pengikut Ulama Salaf, Habaib, dan para Auliya’, menambah ilmu, membuat wasiat, dan memperbaiki hubungan dengan Allah).
ENGLISH:
This study aimed to describe individual experiences and efforts undertaken in preparation for middle age women who are members taklim to face death. Preparations for the deaths in question are all forms of equipment, planning, effort, action, and experience conscious individuals to prepare for death.
Researchers using phenomenological-psychological study in which observation and systematic description used to find meanings in the psychological conscious individuals experience when preparing and preparedness process of death, covering perceptions, feelings, memories, images, ideas, and a variety of other things that are present in individual. Purposive sampling technique used in this study to select the participants. While the data collection method used is by observation, interview, and documentation.
From the analysis it can be concluded that the Preparatory Face Death middle age women who are members of the Majelis Taklim Nurul Habib divided into two forms of preparation, namely Preparation Materials and Preparation of Non-Material. As for the Preparation of Material consisting of a shroud, jarik, camphor, wooden board, sandalwood, cotton, soap, Sampho, and perfumes. While the Preparation of Non-Material is divided into four elements existing in human, namely cognitive (in the form of ideas, awareness, and the process of remembering), Emotive-Affective (feeling of pleasure and gratitude, cry and grieve then driven to improve themselves), Sociocultural (carry social responsibility, become a member and or organizer taklim, devoted to her husband or parents, wearing long-veil, get used to the practice of the Sunnah in the family environment, and improve relations with fellow human beings), and Spiritual (become followers of the Ulama Salaf, Habaib, and the Auliya', increase knowledge, making a will, and improve the relationship with God).

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
 Takut mati bukanlah ketakutan yang normal, akan tetapi ia merupakan bentuk fobia atau kecemasan yang bercampur dalam satu waktu sekaligus dengan perasaan takut, panik, gentar, dan ngeri. Fobia mati bukanlah kecemasan jauh yang menanti kita di akhir jalan, akan tetapi ia merupakan kecemasan laten yang terpendam di dalam relung-relung perasaan hingga kita nyaris mencium aroma kematian di segala sesuatu (Rashed, 2008: 1). Sekeras apapun upaya kita untuk mencoba melupakan realitas kematian, atau sengaja mengabaikan wacana kefanaan (annihilation), cepat atau lambat kita tetap mendapati diri kita termenung sedih memikirkan realitas kematian dan terkurung dengan kecemasan akan kebinasaan (annihilation). Pada tataran realitas, merujuk pada hasil pengamatan seorang filsuf dan penyair asal Spanyol (1864-1936 M), Miguel de Unamuno (dalam Rashed, 2008: 2), mengungkapkan bahwa: ―Pikiran akan kematian dapat mengganggu kenyenyakan tidur manusia, menggelisahkan pikirannya, dan hampir terusmenerus membuntutinya dimanapun ia berada, hingga batinnya selalu merinding oleh getaran aneh yang disebabkan oleh kematian dan apa yang datang setelahnya.‖ 2 Saat ini banyak orang melakukan siaga bencana, siaga perang, siaga banjir, dan siaga-siaga lainnya, tapi mereka lupa bersiaga dari kematian. Padahal kematian adalah sebuah misteri. Ia akan merenggut siapa saja di dunia ini dengan tidak mengenal usia. Bukan hanya orang tua, tetapi anak muda, remaja, bahkan bayi sekalipun dapat meninggal tanpa diprediksi. Kematian juga tidak mengenal apakah orang itu sakit atau sehat, sebab, terbukti bahwa orang yang sehat, segar, dan bugar juga bisa mengalami mati mendadak (Abdurrahman, 2014: 19). Weenelson (2005: 16) mengingatkan pada kita, jika maut selalu mengancam sepanjang hidup kita. Perang, AIDS, sakit paruparu, kecelakaan lalu lintas, kelaparan, pes, pembunuhan, dan berbagai ancaman—semuanya tidak memilih umur.
Kematian merupakan suatu perkara yang tidak mungkin bisa dipungkiri oleh manusia, karena Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Sang Pencipta seluruh makhluk telah mengabarkan kepada kita dalam firman-Nya bahwa maut akan menghampiri siapa pun, dimana pun, dan kapan pun: … Artinya: ―Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…‖ (QS. An-Nisa’ [4]: 78). Kematian begitu dekat dengan kita, sedekat hidup yang kita nikmati sekarang. Padahal jika seorang telah meyakini bahwa suatu saat ia akan mati, maka sudah selayaknya ia mempersiapkan dirinya untuk menghadapi 3 kematian. Sebagai suatu ilmu pengetahuan empiris psikologi terikat pada pengalaman dunia. Psikologi tidak melihat kehidupan manusia setelah mati, melainkan mempelajari bagaimana sikap dan pandangan manusia terhadap masalah kematian, serta bagaimana jiwa manusia di saat-saat menjelang kematian. Ketakutan akan tiba-tiba meninggal dunia atau mendadak mati menjadi satu diantara sejumlah sumber penyebab perempuan usia tengah baya mengeluh sulit tidur pada malam hari, karena takut tidak bangun lagi atau meninggal dunia sewaktu tidur (Surbakti, 2012: 42). Demikian halnya dengan individu yang berpenampilan sehat dan baik-baik saja, kematian yang diyakini sebagai suatu kepastian menjadi hal yang merisaukan. Hal tersebut penulis temui saat berada di sebuah majelis taklim, saat penulis mencoba membuka topik bahasan mengenai kematian, respon yang cukup mengejutkan ditimbulkan oleh salah satu perempuan usia tengah baya (45 tahun) yang menjadi anggota majelis taklim dengan mengatakan, “Hush, ngomongin apa sih, kok mati-mati gitu, sudah-sudah, cari topik bahasan yang lain saja.” (30 Agustus 2014). Irfani (2008: 3) mengatakan bahwa peningkatan kesadaran mengenai kematian muncul sejalan saat mereka beranjak tua, yang biasanya meningkat pada masa dewasa tengah, yang mengindikasikan bahwa usia paruh baya merupakan saat dimana orang dewasa mulai berpikir lebih jauh mengenai berapa banyak waktu yang tersisa dalam hidup mereka. 4 Gusmian (2011: 53) menyatakan bahwa kesadaran akan kematian dipahami sebagai sikap antidunia yang menenggelamkan seseorang ke dalam kesibukan ritual keagamaan yang bisa menghambat kreativitas dan membuat orang malas bekerja. Kedua, kesadaran akan kematian hanya cocok untuk orangtua yang tidak kreatif lagi. Pemahaman akan kematian yang hanya akan mengunjungi orang yang berusia lanjut ini yang selayaknya perlu dibenahi. Demikian halnya dengan penelitian terdahulu yang bertemakan kematian, acap kali individu lansia yang menjadi partisipannya, (Harapan, P. dkk., 2014; Larasati, T. dan Saifuddin, M., 2014; Pamungkas, A., Sri W., dan Rin W.A., 2013). Padahal, kematian tidak pandang usia. Kekeliruan pandangan ini jelas menghambat kesadaran kita tentang pentingnya mempersiapkan kematian sejak usia muda. Psikologi sebagai sebuah ilmu yang mengkaji pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang melihat kematian sebagai suatu peristiwa dahsyat yang sesungguhnya sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Ada segolongan orang yang memandang kematian sebagai sebuah malapetaka. Namun ada pandangan yang sebaliknya bahwa hidup di dunia hanya sementara, dan ada kehidupan lain yang lebih mulia kelak, yaitu kehidupan di akhirat. Pandangan tersebut melahirkan dua mazhab psikologi kematian. Pertama, mazhab sekuler yang tidak peduli dan tidak yakin adanya kehidupan setelah mati. Kedua mazhab religius, yaitu yang memandang bahwa keabadian setelah mati itu ada. Kehidupan di dunia perlu dinikmati, tetapi bukan tujuan 5 akhir dari kehidupan. Apa saja yang dilakukan di dunia dimaksudkan untuk investasi kejayaan di akhirat (Hidayat, 2006).
Fenomena maut adalah salah satu fenomena yang paling jelas dan kuat bagi makhluk hidup. Semakin teguh keyakinan individu pada mazhab religiusnya, maka tentu semakin banyak pula investasi yang dilakukan untuk bekal di akhirat, karena apa-apa yang dilakukan individu tersebut, sematamata dilakukan hanya untuk pencapaian tujuan akhir kehidupan. Leming (1994) berpendapat bahwa: ―Religiusitas memiliki peran penting dalam menghalau kecemasan dan ketakutan yang terjadi sebagai akibat dari ketidakpastian dan ketidaktahuan yang dialami dalam hidup.‖ (Wicaksono dan Meiyanto, 2003: 59) Untuk mengobati masalah ini (ketakutan akan kematian), Rashed (2008: 9) menyatakan bahwa manusia harus menghilangkan sikap pengabaiannya pada kematian dan babak baru setelah kematian, untuk kemudian mengakui dan mengimani kekekalan ruh (nyawa). Lebih lanjut ia menekankan jika sebagai seorang individu, manusia harus membangun dan memupuk keimanan dalam dirinya bahwa kematian adalah kehidupan yang kedua, dan hal ini dapat dilakukan dengan kembali ke pangkuan agama. Berkaitan dengan hal tersebut, tugas perkembangan yang harus dijalani oleh individu dewasa madya menurut Havighurst (dalam Yusuf, dkk., 2006) adalah mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang. Sejalan dengan tugas perkembangan dewasa madya yang berkaitan dengan sosialpribadi, terdapat tuntutan dimana pada masa ini individu harus mampu 6 mengemban tanggung jawab dalam keluarga dan mengembangkan kegiatankegiatan sosial yang bermanfaat. Pada masa dewasa madya ini perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial. Sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional non-formal (UndangUndang RI No. 20 Tahun 2003, pasal 26, ayat 4), majelis taklim melaksanakan fungsinya pada tataran non-formal, yang lebih fleksibel, terbuka, dan merupakan salah satu solusi yang seharusnya memberikan peluang kepada masyarakat untuk menambah dan melengkapi pengetahuan yang kurang atau tidak sempat mereka peroleh pada pendidikan formal, khususnya dalam aspek keagamaan. Tabel 1.1 Majelis Taklim di Indonesia No 2006/2007 2008/2009 Majelis Taklim Peserta Pengajar Majelis Taklim Peserta Pengajar 1 153. 357 9.867.873 375.095 161.879 9.670. 272 366.200 Peserta Laki-Laki 4.002.434 Peserta Perempuan 5.667.838 Sumber: Data diolah dari Laporan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementrian Agama Tahun 2006 dan Tahun 2008. Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa jumlah majelis taklim di Tanah Air mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Salah satu hal yang menarik diperhatikan adalah ternyata dari sejumlah 9.670. 272 orang menjadi anggota majelis taklim di tahun 2008 sebanyak 5.667.838 (58,6%) adalah perempuan atau kaum ibu, baru sisanya laki-laki atau bapak- 7 bapak sebanyak 4.002.434 (41,4%). Hal ini tentu semakin menguatkan asumsi bahwa majelis taklim cenderung menjadi ajang berkumpul, berinteraksi dan arena belajar bagi kalangan perempuan atau ibu-ibu (Anitasari, 2010). Individu yang tergabung dalam sebuah majelis taklim tentu memiliki motivasi religius yang tinggi. Leming (1994) (dalam Wicaksono dan Meiyanto, 2003: 59) berpendapat bahwa keyakinan religius memiliki hubungan yang negatif terhadap kecemasan terhadap kematian. Individu yang memiliki motivasi religius yang tinggi akan memiliki kecemasan terhadap kematian yang rendah. Akan tetapi, penulis menemukan kenyataan yang tidak begitu selaras dengan apa yang disampaikan Leming (1994) (dalam Wicaksono dan Meiyanto, 2003). Berikut beberapa respon yang diberikan ibuibu anggota majelis taklim saat penulis menanyakan kesiapannya untuk menghadapi kematian: “InsyaAllah. Mohon do’anya, karena ini kami masih berusaha dalam hal ini, jadi saya belum berani menjawab siap, afwan.‖ (KT, NA, 03/09/2014) ―Mau tidak mau kita harus siap. Tapi sebagaimana manusia, siap tidak siap, ajal pasti datang. Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni dosa-dosa saya.‖ (KT, SA,03/09/2014) ―Sejujurnya saya belum siap.
 Tapi sebagaimana manusia, siap tidak siap, ajal pasti datang. Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni dosa-dosa saya, amiin.‖ (KT, SG,03/09/2014) ―Belum. Karena saya merasa ibadah saya masih kurang.‖ (KT, ZA,03/09/2014) ―InsyaAllah siap, karena mati itu pasti.‖ (KT, SU,03/09/2014) 8 ―Mau tidak mau harus siap, karena kematian pasti terjadi. Mudah-mudahan kita semua meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Amiin.‖ (KT, NM, 03/09/2014) ―Jika kita dapat melakukan amal kebaikan dengan ikhlas dan ridho, maka kelak kalau kita mati, maka ruh kita mendapat sambutan malaikat rahmat dan dibawa menghadap Allah dengan penuh hormat dan dikembalikan lagi dengan penuh ridho Allah.‖ (KT, FB,03/09/2014) Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan beberapa anggota dalam Majelis Taklim Nurul Habib di atas menunjukkan keragaman individual terkait kesiapannya untuk menghadapi kematian. Masing-masing dari anggota majelis taklim tersebut akan memunculkan keunikan individual sesuai dengan pengalaman masing-masing, meskipun mereka secara bersama-sama mengikuti kajian-kajian kitab yang disampaikan oleh seorang ustadzah. Sebagaimana hasil wawancara yang telah penulis paparkan di atas, menunjukkan bahwa dua orang partisipan menyatakan, ―belum siap‖, satu orang menyatakan ―belum berani bilang siap‖, satu orang ―tidak menyatakan kesiapannya‖, satu orang menyatakan, ―InsyaAllah siap‖, dan dua orang lainnya menyatakan, ―Mau tidak mau harus siap‖. Kesenjangan antara pendapat Leming (1994) dengan realitas yang ada di Majelis Taklim Nurul Habib nampak dengan jelas bahwa, meskipun individu yang memiliki motivasi religius tinggi dengan menjadi anggota majelis taklim, hal tersebut tidak selalu membuat individu menjadi siap dengan kematian. Bahkan, kesiapan menghadapi kematian menjadi beragam maknanya bagi setiap individu. 9 Martinsusilo (dalam Siahaan, 2009) membagi tingkat kesiapan berdasarkan kuantitas keinginan dan kemampuan bervariasi dari sangat tinggi hingga sangat rendah.
Tingkat kesiapan ibu-ibu anggota majelis taklim di atas memiliki empat variasi jawaban, yakni (1) belum siap, (2) tidak menyatakan kesiapan, (3) insyaAllah siap, dan (4) mau tidak mau harus siap. Munculnya variasi tingkat kesiapan dapat disandarkan pada dua komponen, yakni kuantitas keinginan dan kemampuan individual dalam menghadapi situasi tertentu–situasi untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian. Pada umumnya orang berusaha keras untuk menemukan arti hidup dari kehidupan mereka di dunia. Ada yang menemukan arti hidup dengan cara siap menerima kematian, karena kesiapan dalam menghadapi kematian memberikan artian positif pada makna hidup itu sendiri, yang bisa membuat kehidupan individu sungguh berarti. Namun kematian juga bisa diartikan sebagai ancaman kepada ketiada-berartian yang membawa kecemasan hidup yang merupakan karakteristik dasar manusia sebagai satu-satunya makhluk yang sadar dengan kematian (Indriana, 2012: 98). Berdasarkan pernyataan Indriana (2012) diatas, persiapan menghadapi kematian menjadi hal tidak bisa diremehkan. Hal tersebut didukung dengan adanya dua kemungkinan ketika individu menyadari ia akan menghadapi kematian; pertama, kesadaran akan kematian akan membawa individu untuk semakin memaknai sisa waktu hidupnya untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian, hingga individu akan mencapai tingkat kesiapan yang tinggi karena persiapan-persiapan yang dilakukan. Kedua, kesadaran akan 10 kematian akan membawa individu pada perasaan cemas dan terancam akan kehilangan diri dari dunia, ia juga akan kehilangan makna dari persiapanpersiapan menghadapi kematian yang telah dilakukan, hal tersebut dapat membuat individu berada pada tingkat kesiapan yang rendah. Melalui pendekatan fenomenologi psikologis, penulis melakukan observasi dan deskripsi sistematis atas pengalaman individu yang sadar dalam mempersiapkan diri menghadapi kematian. Data fenomenal yang dieksplorasi dalam penelitian ini mencakup persepsi, perasaan, ingatan, gambaran, gagasan, dan berbagai hal lain yang hadir dalam kesadaran individu (Misiak dan Sexton, 2005: 20). Dengan kata lain, fenomenologi berusaha menemukan makna-makna psikologis yang terkandung dalam fenomena melalui penyelidikan dan analisis contoh-contoh hidup (Giorgi dan Giorgi dalam Smith, 2009: 53). Berdasarkan latar belakang yang telah penulis paparkan di atas, maka penulis merasa tertarik dan perlu untuk melakukan penelitian melalui pendekatan psikologi fenomenologi yang berjudul, ―Persiapan Menghadapi Kematian: Studi Fenomenologi Psikologis pada Ibu-ibu Dewasa Madya di Majelis Taklim Nurul Habib Bangil.
B.     Masalah Penelitian
 Berdasarkan paparan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang melatarbelakangi penelitian ini adalah, ―Mengapa seseorang yang berada di lingkungan religius tapi ia mengatakan tidak siap untuk menghadapi kematian?‖. Sedangkan rumusan masalah yang sesuai dengan tujuan penelitian ini adalah, ―Bagaimana anggota majelis taklim mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian?‖
C.     Tujuan Penelitian
 Tujuan umum dalam penelitian ini adalah mengeksplorasi persiapan menghadapi kematian yang dilakukan ibu-ibu usia dewasa madya dalam Majelis Taklim Nurul Habib, Bangil, Pasuruan. Adapun tujuan khususnya adalah mendeskripsikan pengalaman individual dan upaya-upaya yang dilakukan sebagai persiapan ibu-ibu dalam majelis taklim untuk menghadapi kematian.
D.    Batasan Penelitian
 Pembatasan masalah disebut juga ruang lingkup masalah yang akan diteliti, sebagai upaya membatasi masalah penelitian agar tidak terlalu luas dan membingungkan. Adapun penelitian ini memiliki pembatasan masalah sebagai berikut: 1. Lokasi: Penelitian ini dilakukan di salah satu majelis taklim di kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Majelis taklim khusus perempuan ini merupakan salah satu komunitas religi yang berada di kecamatan Bangil. Mayoritas anggota majelis taklim ini adalah ibu-ibu yang bersuku-bangsa Arab yang lahir di negara Indonesia. 2. Partisipan: Partisipan dalam penelitian ini adalah ibu-ibu usia dewasa madya (40-60 tahun) yang menjadi anggota Majelis Taklim Nurul Habib. 12 Partisipan dipilih secara purposive sampling, dimana anggota majelis taklim yang memenuhi kriteria tertentu yang bisa menjadi partisipan dalam penelitian. 3. Peristiwa: Didasarkan pada pendekatan fenomenologi psikologis, penulis melakukan observasi dan deskripsi sistematis pada kesenjangan yang terjadi antara penelitian terdahulu dengan realitas di lapangan penelitian. Sehingga muncul pertanyaan, mengapa seseorang yang berada di lingkungan religius tapi ia mengatakan tidak siap untuk menghadapi kematian? 4. Proses: Penelitian ini difokuskan pada makna dan esensi psikologis dari pengalaman sadar partisipan penelitian dalam mempersiapkan diri menghadapi kematian (mencakup persiapan dan kesiapan individu). Teknik dan instrument pengumpulan data menggunakan open-ended questionnaire (saat penggalian data awal), wawancara dengan pedoman umum, observasi, dan dokumentasi. Data fenomenal yang dieksplorasi dalam penelitian ini mencakup persepsi, perasaan, ingatan, gambaran, gagasan, dan berbagai hal lain yang hadir dalam kesadaran individu terkait dengan persiapannya menghadapi kematian. 

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Persiapan menghadapi kematian: Studi fenomenologi psikologis pada ibu-ibu usia dewasa madya di Majelis Taklim Nurul Habib Bangil" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment