Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Saturday, August 19, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan pola asuh orangtua dengan kenakalan remaja pada siswa-siswi SMAN 1 Kepohbaru, Bojonegoro

Abstract

INDONESIA:
Masa remaja adalah masa yang sangat penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak, karena pada masa ini adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Peran orangtua menjadi sangat penting dalam mengasuh anak. Dengan pola asuh yang tepat maka anak akan tumbuh kembang menjadi pribadi yang lebih baik, begitu pula sebaliknya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh orangtua dengan kenakalan remaja, kecenderungan pola asuh orangtua, dan tingkat kenakalan pada siswa-siswi SMAN 1 Kepohbaru, Bojonegoro. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 57 yang merupakan siswa-siswi SMAN 1 Kepohbaru, dari total 162 siswa mulai kelas X sampai kelas XII yang diambil dengan teknik cluster random sampling. Variabel X adalah Pola Asuh Orangtua dan variabel Y adalah kenakalan Remaja. Untuk mengukur Pola asuh orangtua peneliti menggunakan angket pola asuh orangtua, sedangkan untuk mengukur tingkat kenakalan remaja pada siswa-siswi SMAN 1 kepohbaru peneliti menggunakan angket kenakalan remaja.
Berdasarkan hasil data angket pola asuh orangtua, dari 57 responden sebanyak 19,31% atau 11 siswa menggunakan pola asuh demokratis, sebanyak 24,56% atau 14 siswa menggunakan pola asuh otoriter, sebanyak 26,31% atau 15 siswa menggunakan pola asuh permisif, dan sebanyak 29,82% atau 17 siswa menggunakan pola asuh uninvold/penelantar, dengan demikian kecenderungan paling tinggi orangtua siswa-siswi SMAN 1 kepohbaru menggunkan Pola Asuh Uninvold/penelantar. Berdasarkan data yang kedua, hasil perhitungan untuk angket kenakalan remaja, dari 57 responden didapatkan 7 (12,3%) berada pada tingkat kenakalan yang tinggi, 41 responden (71,9%) berada pada tingkat kenakalan sedang, 9 responden (15,8%) berada pada tingkat kenakalan yang rendah, dengan demikian siswa-siswi SMA Negeri 1 kepohbaru ini cenderung memiliki tingkat kenakalan sedang. Hasil analasis korelasi menunjukkan rhit Pola asuh demokratis sebesar 0,673, rhit pola asuh otoriter sebesar 0,804, rhit pola asuh permisif sebesar 0, 518, dan rhit pola asuh uninvold/penelantar sebesar 0,492 dengan nilai rtabel 0,273 sehingga rhit > rtabel (ρ < 0,05) untuk taraf signifikan 5% yang berarti bahwa terdapat hubungan yang signifikan positif antara pola asuh orangtua dengan kenakalan remaja.
ENGLISH:
Adolescence is a time of great importance in the process of growth and development of children, because in this period was a time of transition from the child toward adulthood. The role of parents is becoming very important in parenting. With proper parenting, child will grow up becoming better personal, or vice versa.
The objective of this research is to know the relationship of parenting parents with juvenile delinquency, parenting trends and levels of delinquency on students of SMAN 1 Kepohbaru, Bojonegoro. This research is quantitative research correlation. The sample in this research totalled 57 students of SMAN 1 Kepohbaru, from162 students starting classes X to XII classes which taken by clustering random sampling techniques. The variable X is a parent's Parenting and the variable Y is juvenile delinquency. To measure the parenting parents, the researchers use the parenting parents question form, while to measure levels of juvenile delinquency on the students of SMAN 1kepohbaru, the researcher uses juvenile delinquency questionnaire.


Based on the results of data questionnaire parenting parents, from 57 respondents total 19,31% or 11 students using a democratic, there are 24,56% or 14 student use of authoritarian parenting, there are 26,31 or 15% students use permissive parenting, and 29,82% or 17 students use parenting uninvold, from thus the highest tendency of students in SMAN 1 kepohbaru which parents used is Uninvold Parenting. According to the second data, the result of the calculation for the juvenile delinquency questionnaire, 57 respondents get 7 (12.3%), had a high level of delinquency, 41 respondents (71.9%) are at the medium level of delinquency. 9 respondents (15.8 %) are at a low level of delinquency, from thus students of SMA Negeri 1 kepohbaru have medium levels of delinquency. The results of correlation showed that rhit democratic parenting is 0,673, rhit authoritarian parenting was 0,804, rhit permissive parenting is 0, 518, and rhit uninvold parenting is 0,492 with the rtabel value 0,273 rhit > rtabel (ρ < 0.05) for a significant level of 5%, which means that there is a positive significant relationship between parenting parents with juvenile delinquency.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
 Akhir-akhir ini masalah kenakalan remaja semakin dirasa meresahkan masyarakat, tak hanya masyarakat di perkotaan, masyarakat didesapun mulai merasa resah dengan perilaku ini. Dalam satu dekade terakhir ini kenakalan remaja semakin semarak dan menarik perhatian masyarakat. Fakta menarik dari Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2009 menyebutkan bahwa 7% dari pelaku penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Bahan zat adiktif (Narkoba) dari tahun 2001 hingga tahun 2008 di Indonesia merupakan remaja berusia kurang dari sembilan belas tahun. Disimpulkan pula bahwa, rata-rata kenaikan jumlah kasus penyalahgunaan narkoba ini kurang lebih sekitar 2% tiap tahunnya. Jumlah remaja di Indonesia kurang lebih mencapai 65 juta remaja, hal ini sangat membahayakan untuk remaja yang ada di Indonesia dengan melihat data yang seperti demikian. Data lain yaitu fakta yang ditemukan pada tahun 2006 oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Nasional (PKBI), United Nation Population Fund (UNFPA), dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatatkan bahwa 15% dari remaja berusia 10-24 tahun di Indonesia, kurang lebih 9,3 juta remaja, telah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Sedangkan masih menurut lembar fakta yang sama, terdapat 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia. Lebih mencengangkan lagi, sekitar 20 persen dari kasus aborsi tersebut atau sekitar 460 ribu kasus dilakukan oleh remaja. Hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti terhadap empat siswa SMAN 1 Kepohbaru di menunjukkan adanya perilaku kecenderungan kenakalan remaja pada umumnya, seperti pernah merokok sembunyi-sembunyi, menonton film porno, membolos sekolah dan keluyuran hingga larut malam. Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu guru yang mengatakan bahwa pada umumnya kenakalan yang dilakukan oleh siswa pada umumnya adalah membolos, tidak mengikuti peraturan yang berlaku di sekolah, berkelahi baik dengan sesama teman maupun antar sekolah. Selain itu, di temukan aksi kenakalan remaja tindakan dan kebiasaan yang dapat dipandang sebagai perbuatan “nakal”, baik yang biasa dilakukan dalam kehidupan keluarga sendiri maupun dalam kehidupan masyarakat, seperti di sekolah, contohnya seperti suara yang mengganggu dan memainkan gitar di waktu malam di saat orang lain sedang tidur (beristirahat), membunyikan knalpot sepeda motor dengan keras, mengendarai sepeda motor bergandengan atau “ngebut” di jalan umum sepulang sekolah, berdiri di pinggir jalan dan mengganggu setiap lawan jenis yang lewat, remaja pria maupun wanita secara sembunyi-sembunyi mencoba merokok dan sebagainya adalah sebagian dari kenakalan remaja yang pernah dilakukan oleh siswa SMAN 1 Kepohbaru.(Hasil wawancara dan observasi pada 22 maret 2014) Kenakalan remaja atau dalam istilah asing sering disebut dengan juvenile delinquency maka kenakalan remaja merupakan hasil dari mengasuh yang keliru atau contoh (model) yang dijadikan contoh oleh anak tidak sesuai. Sehingga sikap anak dalam berpikir rasional dan fleksibel, sangat dipengaruhi oleh bagaimana anak melakukan imitasi terhadap apa yang dilihatnya. Ketika anak sudah mulai mampu menerima dan mengolah rangsang dari luar, saat itulah ia mulai mengatur pola berpikir dan pola perilakunya dalam menghadapi setiap masalah yang harus segera dipecahkannya. Menurut Hurlock kenakalan anak dan remaja bersumber dari moral yang sudah berbahaya atau beresiko (moral hazard).
 Menurutnya, kerusakan moral bersumber dari: 1. Keluarga yang sibuk, keluarga retak, dan keluarga single parent dimana anak hanya diasuh oleh ibu; 2. menurunnya kewibawaan sekolah dalam mengawasi anak; 3. Peranan gereja tidak mampu manangani masalah moral. Menurut Kartono (2006), kenakalan remaja adalah gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu pengabaian sosial, sehingga anak remaja mengembangkan bentuk tingkah laku menyimpang. Kenakalan remaja yaitu kelainan tingkah laku, perbuatan atau tindakan remaja yang bersifat asosial bahkan anti sosial yang melanggar norma-norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat (Willis, 2005). Dalam proses tumbuh-kembang seseorang masa remaja merupakan masa yang paling penting dalam semua fase proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Selain itu, salah satu alasan mengapa masa remaja menjadi masa yang penting dan menjadi salah satu pusat perhatian para pakar psikologi perkembangan, sosial maupun pendidikan adalah karena adanya masa transisi. Masa transisi adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak kemasa remaja dan masa transisi inilah yang menjadikan emosi remaja kurang stabil (storm and stress).
Masa transisi ini menurut Ray (2008, dalam www.yoyooh.com) memungkinkan dapat menimbulkan masa krisis yang biasanya ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku-perilaku menyimpang atau dalam studi psikologi sosial biasa disebut dengan istilah kenakalan remaja atau Juvenile Delinquency. Hurlock (Ali dan Asrori, 2006) menganggap remaja secara psikologis, tengah berada pada masa topan dan badai serta tengah mencari jati diri, sehingga menimbulkan konflik dan ketidakstabilan emosi dalam diri remaja . Menurut Stanley (Gunarsa, 2006) masa remaja merupakan masa penuh gejolak emosi dan ketidakseimbangan, yang disebut dengan “storm and stress” sehingga remaja mudah terpengaruh lingkungan tempat tinggalnya. Pada umumnya remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (High Curiosity). Karena didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi, remaja cenderung ingin bertualang, menjelajah segala sesuatu, dan mencoba segala sesuatu yang belum pernah dialaminya, sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya kenakalan remaja. Hal ini baiknya diketahui oleh orangtua, sedangkan remaja hendaknya dapat menghindarkan dirinya dari situasi atau keadaan serta pergaulan yang dapat menjerumuskannya kepada perilaku menyimpang yang dapat merugikan dirinya sendiri, keluarga maupun orang lain. Peranan orangtua dalam setiap masa perkembangan dan pertumbuhan anak sangatlah penting, mulai ia sejak lahir sampai dewasa, bahkan peranan orangtua sangat penting mulai dari prenatal (Hamil) sampai pasca atau sampai dewasa. Apalagi di zaman yang sudah semakin berkembang dan maju ini, dengan berkembangnya berbagai macam teknologi, baik elektronik maupun transportasi. Hri ini anak juga dihadapkan dengan berbagai masalah dengan moralitas dan perilaku yang semakin bebas di masyarakat kita. Sehingga orangtua menjadi titik sentral dalam proses tumbuh kembang anak dalam kehidupan sosial mereka baik secara intelegensi, sosial, psikis, moralitas, maupun perilaku mereka dimasyarakat. Pola asuh orang tua terhadap anak menjadi sangat penting, ketika orangtua melihat anak adalah masa depan keluarga. Oranguta juga harus menyadari bahwa anak merupakan anggota keluarga yang harusnya ia terima apa adanya denga segala kondisi yang ada pada anak. Begitu sebaliknya anak juga harus paham dan mengerti bahwa baik buruknya anak tidak akan pernah lepas tentunya pada nama baik orangtua. Pola asuh orangtua juga sering dikenal sebagai gaya dalam memelihara anak atau membesarkan anak mereka selama mereka tetap memperoleh keperluan dasar yaitu makan, minum, perlindungan, dan kasih sayang. Santrock (2002) mengatakan yang dimaksud dengan pola asuh adalah cara atau metode pengasuhan yang digunakan oleh orang tua agar anak-anaknya dapat tumbuh menjadi individu-individu yang dewasa secara sosial. Pertumbuhan dan perkembangan anak dari hari kehari mulai saat dalam kandungan sampai ia tumbuh menjadi seorang yang dewasa adalah proses yang sangat panjang, dan hal ini merupaka suatu proses yang sangat luar biasa yang akan dialami oleh semua orangtua. Pada proses pertumbuhan dan perkembangan anak ini senang atau tidaknya anak, bahagia atau tidaknya anak tergantung kepada orangtua. Pola asuh orang tua sendiri yang lebih kita kenal dengan bagaimana cara mengasuh dan membesarkan anak ini merupakan proses awal perkembangan dan pertumbuhan sang anak. Karena orangtua adalah orang yang pertama kali dikenal oleh anak ketika lahir didunia. Akhir-akhir ini banyak orangtua yang mengesampingkan mengasuh anak mereka, mengetahui perkembangan dan pertumbuhan anak mereka, terkadang mereka malah membayar seorang perawat anak untuk mengasuh anak mereka. Tidak jarangpun orangtua yang mementingkan materi semata, dalam satu sisi orangtua ini mencari materi untuk sang anak dan keluarga, tetapi disatu sisi anakpun membutuhkan waktu bersama orangtua pada hakikatnya, karena tidak bisa dipungkiri rasa kasih sayang orang tua sangatlah besar kepada anak. Pada hakikatnya orangtua menaruh harapan yang besar pada anak mereka dan ingin menjadikan anak mereka menjadi anak yang baik serta membanggakan orang tua. Untuk mencapai itu semua hendaknya orangtua lebih menyadari peran serta tugas mereka sebagai orangtua dalam mengasuh, mendidik, serta membesarkan anak-anaknya. Dalam sebuah keluarga kehadiran ataupun adanya orantua sangatlah besar maknanya untuk perkembangan anak secara psikologis.
 Karena keluarga adalah lingkunga pertama yang ia kenal dan keluarga adalah lingkungan utama anak sehingga semua proses baik mengasuh, mendidik ataupun yang lainnya akan sangat berpengaruh pada perkembangan anak baik dalam segi intelektual, spiritual ataupun segi sosial dan perilaku anak dalam kehidupan sosial. Peran orang tua juga sangat menentukan bagaiamana perilaku seorang anak. Kartini Kartono mengungkapkan (Persada, 2002, p. 58) pola kriminal ayah, ibu, atau salah seorang anggota keluarga dapat mencetak pola kriminal hampir semua anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu tradisi, sikap hidup, kebiasaaan dan filsafat hidup keluarga itu besar sekali pengaruhnya dalam membentuk tingkah laku dan sikap setiap anggota keluarga. Dengan kata lain tingkah laku criminal orang tua mudah sekali menular kepada anak-anaknya. Lebih-lebih lagi perilaku ini sangat gampang dioper oleh anak-anak puber dan adolesens yang belum stabil jiwanya, dan tengah mengalami banyak gejolak batin. Selain itu Kartini Kartono juga mengungkapkan (2002, 64) situasi dan kondisi lingkungan awal kehidupan anak, yaitu keluerga (orangtua dan kerabat dekat), jelas mempengaruhi pembentukan pola delinkuen anak-anak dan para remaja. Dari beberapa literatur dan hasil penelitian yang terkait dengan kenakalan remaja (dalam Santrock: 2002, Maria: 2007, Kienhuis: 2009, Joanna dalam Ruby: 2009, dan Willis: 2009) ditemukan bahwa salah satu faktor penyebab timbulnya kenakalan remaja ini adalah tidak berfungsinya orang tua sebagai figur tauladan yang baik bagi anak. Kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh remaja dibawah usia 17 tahun yang disebabkan oleh kondisi kondisi tersebutpun sangat beragam, mulai dari perbuatan yang bersifat amoral maupun anti sosial. Seperti; berkata jorok, mencuri, merusak, kabur dari rumah, indisipliner di sekolah, membolos, membawa senjata tajam, merokok, berkelahi dan kebut-kebutan di jalan, sampai pada perbuatan yang sudah menjurus pada perbuatan kriminal atau perbuatan yang melanggar hukum, seperti; pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, seks bebas, pemakaian obat-obatan terlarang, dan tindak kekerasan lainnya yang sering diberitakan dimedia-media masa. Hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan juga menunjukkan ada kecenderungan Siswa-siswi SMAN 1 Kepohbaru melakukan kenakalan
. Dengan melihat kondisi ini kemudian peneliti mencoba meneliti kembali tentang kenakalan remaja yang hubungannya dengan pola asuh orangtua. Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas peneliti ingin meneliti tentang Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kenakalan Remaja Pada Siswa-Siswi SMAN 1 Kepohbaru.
B.     Rumusan Masalah
 Berdasarkan dari latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
 1. Bagaimana tingkat kecenderungan pola asuh orangtua pada siswa-siswi SMAN 1 Kepohbaru?
2. Bagaimana tingkat kenakalan remaja pada siswa-siswi SMAN 1 kepohbaru?
3. Bagaimana hubungan antara pola asuh orangtua terhadap tingkat kenakalan remaja pada siswa-siswi SMAN 1 Kepohbaru?
C. Tujuan Penelitian
 Dari rumusan masaah diatas maka didapat tujuan penelitian sebagai berikut:
 1. Untuk mengetahui kecenderungan pola asuh yang digunakan orangtua pada siswa-siswi SMAN 1 kepohbaru.
2. Untuk mengetahui bagaimana tingkat kenakalan remaja pada siswa-siswi SMAN 1 Kepohbaru.
 3. Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara pola asuh orangtua terhadap tingkat kenakalan remaja pada siswa-siswi SMAN 1 Kepohbaru.
D. Manfaat Penelitian
 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi wahana perkembangan ilmu psikologi. Khususnya psikologi pendidikan dan psikologi sosial terutama yang berhubungan dengan kenakalan remaja dan pola suh orang tua.

2. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan orang tua, pendidik dan remaja khususnya mengenai faktor-faktor yang dapat menimbulkan kenakalan remaja. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tindakan preventif terhadap kenakalan remaja dengan meminimalisir hal-hal yang memungkinkan dapat menimbulkan terjadinya kenakalan remaja, seperti; suasana keluarga yang tidak romantis (broken home), pola asuh yang tidak tepat dan mengarahkan remaja agar mencari teman atau lingkungan pergaulan yang positif. 
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Hubungan pola asuh orangtua dengan kenakalan remaja pada siswa-siswi SMAN 1 Kepohbaru, Bojonegoro" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment