Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Saturday, August 19, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Pengaruh peran ayah (fathering) terhadap determinasi diri (self determination) pada remaja kelas X di SMAN 3 Malang.

Abstract

INDONESIA:
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah peran ayah berpengaruh terhadap determinasi diri pada remaja kelas X di SMAN 3 Malang. Responden dalam penelitian ini berjumlah 108 orang dengan 54 orang laki-laki dan 54 perempuan. Metode penelitian data menggunakan metode kuantitatif dengan kuesioner terbuka. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriteria responden hanya anak yang tinggal bersama ayah dan ibu kandung yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Skala peran ayah disusun sendiri oleh peneliti dan skala determinasi diri diadaptasi dari skala Basic Psychological Needs scale milik Ryan& Deci.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat peran ayah dan determinasi diri tinggi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa peran ayah berpengaruh terhadap determinasi diri dengan nilai p= 0.000 dan nilai R 0,37. Hasil penelitian juga menemukan bahwa peran ayah sebagai pemberi perhatian dan kasih sayang (caregiver) berpengaruh terhadap rasa kemandirian (autonomy) dengan nilai p= 0,008, peran ayah sebagai konsultan dan penasihat (advocate) berpengaruh terhadap rasa kompetensi (competence) dengan nilai p= 0,04, dan peran ayah sebagai sumber daya sosial dan akademik (resource) berpengaruh terhadap rasa keterhubungan (relatedness) remaja dengan nilai p= 0,008. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa peran ayah pada anak perempuan dan anak laki-laki tidak berbeda.
ENGLISH:
This study aim to find out the effect of fathering toward self-determination in adolescent 10th grade in Public Senior High School 3 Malang. Respondents in this study amounted to 108 people with 54 boys and 54 girls. The research method used quantitative methods with an open questionnaire. The sampling technique used purposive sampling techniques. The criteria of respondents is only child who lived with their biological father and mother were being sampled in this study. The scale of fathering compiled by researcher and self-determination scale adapted from the scale of Basic Psychological Needs Scale from Deci & Ryan.
The result showed that most of respondents had a high level of self determination, and the level of fathering is also high. The other results is fathering affects the self-determination with a value of p = 0.000 and the value of R= 0.37. The results also found that father's role as a caregiver affect the sense of autonomy with the value of p = 0.008, the father's role as a consultant and advisor (advocate) affect the sense of competencies (competence) with the value of p = 0,04, and the father’s role as social and academic resources (resource) affect the sense of relatedness adolescents with the value of p = 0.008. The other discovery is the role
of father in girls and boys is no different.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Masa remaja adalah masa peralihan antara anak-anak dan dewasa. Berdasarkan teori Erik Erikson remaja dimulai dari usia 12-20 tahun dengan tugas perkembangan pencarian identitas diri. Krisis antara identitas dan kekacauan identitas mencapai puncaknya pada masa remaja. Tugas pencarian jati diri ini membuat remaja sibuk dengan dirinya sendiri, terutama karena pubertas genital memberi berbagai peluang konflik, baik yang berhubungan dengan seks, pekerjaan, keyakinan diri dan filsafat hidup1 . Remaja mencoba berbagai peran baru untuk menemukan identitas ego yang mantap. Pada fase remaja mereka tidak lagi disebut sebagai anak-anak dan juga tidak bisa disebut sebagai orang dewasa. Banyak orang dewasa yang menghargai kemandirian remaja, namun dilain kesempatan bersikeras bahwa remaja tidak cukup mampu untuk membuat keputusan yang kompeten dan mandiri tentang hidupnya2 . Pertentangan-pertentangan seperti ini sering menimbulkan masalah untuk para remaja dalam mengekspresikan keinginannya. Remaja masa kini menghadapi tuntutan dan harapan, juga bahaya dan godaan, yang tampaknya lebih banyak dan kompleks dibandingkan remaja generasi yang lalu. Dukungan keluarga dan sosial yang tidak efektif membuat 1Alwisol. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.(2009). h. 98. 2 JW, Santrock. (1996). Adolescence, Ed. 6. Terj. Dra. Shinto B. Adelar, M.Sc & Sherly Saragih, S.Psi (2003). Jakarta: Erlangga. 2 remaja tidak memperoleh cukup kesempatan dan dukungan untuk menjadi orang dewasa yang kompeten. Seperti pada kebanyakan remaja Indonesia saat ini yang mengalami kemunduran secara moral, budi pekerti dan kematangan emosi, hal ini bisa dilihat dari kasus pergaulan bebas yang semakin meningkat, gaya hidup yang semakin ke barat-baratan, narkoba dan kasuskasus depresif seperti percobaan bunuh diri dan lain sebagainya. Beberapa data mengenai perilaku maladaptif remaja menunjukkan dari 2,4 juta perempuan yang melakukan aborsi, 700-800 ribu adalah remaja, dari 1283 kasus HIV/AIDS, diperkirakan 52.000 terinfeksi dimana 70% adalah remaja3 . Selain masa remaja sebagai masa yang sarat dengan bahaya dan godaan, masa remaja juga merupakan masa untuk mengeksplorasi sebanyak mungkin potensi positif mereka. Remaja biasanya menghabiskan banyak waktu dalam aktivitas-aktivitas yang mengasah potensi, salah satunya adalah mengikuti kegiatan ekstrakulikuler sekolah. Pada masa ini remaja memang dituntut untuk mengembangkan diri sebaik mungkin sebagai bekal mereka memasuki masa dewasa. Pencapaian akademik juga menjadi fokus pada masa remaja. Remaja menghabiskan banyak waktu di sekolah. Beberapa remaja memanfaatkan waktunya dengan sangat baik untuk menggapai prestasi di sekolah. 3 BKKBN. Fenomena Kenakalan Remaja di Indonesia. September 2011. ntb.bkkbn.go.id [Diakses Pada 27 Oktober 20014]. 3 Menurut Erikson, Hill, dan Holmbeck dalam penelitian Soenens dan Vansteenkiste4 bahwa berkaitan dengan tugas perkembangan, tugas perkembangan remaja berpusat pada isu-isu mengenai individuasi dan kemandirian. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa kecenderungan remaja untuk mengekspresikan keinginan mandiri dan regulasi diri termanifestasi dalam tiga ranah kehidupan, yakni sekolah, pemilihan karir dan kompetensi sosial. Sebagai contoh, selama masa remaja, individu mulai membangun hubungan yang lebih intim dan personal.
 Remaja juga mulai membuat rencana masa depan, seperti apa yang akan mereka lakukan setelah lulus sekolah atau pekerjaan apa yang mereka inginkan dan cocok untuk mereka di masa depan. Kebutuhan mandiri merupakan salah satu aspek yang penting dalam determinasi diri. Teori determinasi diri adalah sebuah pendekatan terhadap motivasi dan kepribadian manusia yang menyoroti pentingnya perkembangan sumber daya manusia bagi perkembangan kepribadian dan regulasi diri5 . Teori determinasi diri menyatakan bahwa ketika perilaku mengikuti kebutuhan akan kompetensi, otonomi, dan keterhubungan, maka individu mengalami motivasi intrinsik, namun ketika perilaku menunjukkan keinginan pemenuhan nilai lain seperti reputasi, uang, persetujuan, maka perilaku 4 Bart soenens, Maarten Vansteenkiste. Antecedents and Outcomes of Self-Determination in 3 Life Domains: The Role of Parents’ and Teachers’ Autonomy Support, Journal of Youth and Adolescence., (2005)., 34 (6), 589-604. h., 586. 5Richard M. Ryan dan Edward L. Deci. Self Determination Theory and the Facilitation of Intrinsic Motivation, Social Development, and Well-Being, Journal American Psychologist., (Januari 2000), Vol. 55, No. 1, 68-78. h., 68. 4 termotivasi secara ekstrinsik (Deci & Ryan dalam Laura A.King) 6 . Banyak psikolog percaya bahwa perilaku yang dihasilkan motivasi intrinsik memberikan dampak yang lebih positif dibandingkan perilaku yang dihasilkan motivasi ekstrinsik (Blumenfeld, dkk dalam Laura A.King) 7 . Untuk membangun pribadi remaja yang sehat yang mampu membuat keputusan secara mandiri dan bertanggung jawab atas keputusan tersebut dibutuhkan kemampuan determinasi diri yang baik. Remaja dengan determinasi diri yang baik akan mampu mengembangkan potensi dan mengikuti aktivitas belajar mengajar dengan baik. Penelitian Robert j. Vallerand, Michelle S. Fortier, dan Frederic Guay8 menemukan bahwa semakin rendah dukungan orang tua untuk mandiri membuat persepsi siswa tentang kompetensi dan kemandirian semakin rendah pula. Persepsi kompetensi dan kemandirian yang rendah mengakibatkan rendahnya motivasi determinasi diri siswa, motivasi yang rendah meningkatkan angka dikeluarkan (drop out) dari sekolah. Selain itu, determinasi diri juga diperlukan untuk membentengi remaja dalam pergaulan-pergaulan yang tidak sehat, karena remaja dengan determinasi diri yang baik akan mampu menyaring pengaruh-pengaruh lingkungan yang tidak baik yang dapat mempengaruhi kemandirian pribadinya. 6Laura A. King. The Science of Psychology: An Appreciative View, 2nd ed, Terj. Brian Marwensdy. (Jakarta: Salemba Humanika, 2010)., h. 89. 7 Ibid., h. 90. 8Robert J. Vallerand, dkk. Self-Determination and Persistence in a Real-Life Setting Toward a Motivational Model of High School Dropout, Journal of Personality and Social Psychology. (1997). Vol. 72, No. 5, 1161-1176. h., 1172. 5 Selain mengkaji isu motivasi intrinsik dan ekstrinsik, teori determinasi diri juga mengkaji aspek basic psychological need yang merupakan dasar dari motivasi intrinsik, yakni kemandirian, keterhubungan dan kompetensi9 sebagai suatu kebutuhan dasar manusia yang bersifat universal (Chirkov, dkk)10 . Meskipun menurut teori determinasi diri individu secara alami akan mengatur diri dan bertindak sesuai nilai-nilai dan keinginan mereka, lingkungan sosial dapat dengan mudah mengurangi fungsi kemandirian seseorang. Menurut Grolnick Ketika seorang remaja diasuh secara tidak konsisten dan dikontrol secara berlebihan, pengaturan determinasi diri mereka akan terhambat. Sebaliknya orangtua dan guru yang sensitif akan kebutuhan anak-anaknya dan mampu memberikan pilihan diharapkan akan membangun perasaan mandiri dan choicefulness anak sehingga anak akan lebih sehat menangani lingkungannya.11 Orangtua adalah model sosial yang paling kuat bagi remaja mereka. Teori determinasi diri menunjukkan bahwa orangtua yang mendukung anakanaknya dalam memenuhi kebutuhan keterhubungan (relatedness) dan kemandirian (autonomy) akan memberikan manfaat bagi perkembangan anakanaknya dibandingkan orangtua yang tidak mendukung.
Dengan demikian, remaja yang puas dengan model sosialnya akan mempengaruhi sejauh mana 9Richard M.Ryan, Edward L. Deci., (Januari 2000)., Loc.Cit., h. 68. 10Edward L.Deci, Maarten Vansteenkiste., Self Determination Theory and Basic Need Satisfaction: Understanding Human Development in Positive Psychology. Ricerche di Psicologia., (2004)., Vol 27, No. 1. h. 25. 11Bart soenens, Maarten Vansteenkiste., (2005)., Loc.Cit., h.590-591. 6 mereka telah menginternalisasikan nilai-nilai lingkungan yang penting. 12 Ini menunjukkan faktor eksternal mampu membuat individu menemukan motivasi intrinsik melalui penanaman nilai dan modeling,“... sehingga dalam membangun determinasi diri remaja memerlukan akses terhadap berbagai peluang yang tepat dan dukungan jangka panjang dari orangtua yang menyayangi mereka” 13 . Peran ibu seringkali menjadi perhatian utama saat topik mengenai keluarga dan kaitannya dengan anak diangkat. Keyakinan bahwa anak adalah urusan ibu bukanlah keyakinan masyarakat Indonesia saja, melainkan bersifat universal di berbagai budaya di dunia ini. 14 Peran ayah seringkali terlupakan, karena ayah lebih diarahkan pada peran pemenuhan kebutuhan ekonomi. Penelitian Andayani15 masih memberikan gambaran bahwa ayah cenderung menjaga jarak dari anak-anaknya. Ayah lebih sibuk dengan dunia di luar keluarga dan sedikit sekali berinteraksi dengan anak-anaknya. Carnoy & Carnoy16 menunjuk terutama pada ayah yang masih mengejar “identitas diri,” terutama dalam dunia kerja, sebagai ayah yang tidak terlibat dan jauh dari keluarga. Ayah kemudian menjadi figur asing bagi anak-anaknya dan tidak jarang hal ini juga menyebabkan hubungan ayah dan anak menjadi canggung.
Bronfenbrenner menuliskan sebuah hasil penelitian mengenai seberapa lama para ayah dari kelas sosial-ekonomi menengah meluangkan waktu bermain dan berinteraksi dengan anak-anak balita mereka dalam sebuah artikel yang berjudul “The Origins of Alienation” dalam Scientific American edisi Agustus 1974. Mula-mula para peneliti meminta sekelompok ayah untuk memperkirakan waktu yang diluangkan bagi anak-anak mereka yang berusia setahun setiap harinya. Para peneliti memperoleh jawaban bahwa rata-rata para ayah menghabiskan waktu 15 hingga 20 menit seharinya. Untuk menguji pernyataan mereka, peneliti menempelkan mikrofon di baju anak-anak tersebut. Pembicaraan dari para ayah dengan anaknya tersebut kemudian direkam. Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata waktu yang digunakan para ayah tersebut untuk berinteraksi dengan anaknya hanya sekitar 37 detik setiap harinya.17 Beberapa fakta diatas menunjukkan betapa minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Namun, jika dibandingkan dengan beberapa dekade yang lalu, pada era modern ini kesadaran masyarakat akan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan semakin meningkat. Terbukti dengan bermunculannya penelitian-penelitian yang memfokuskan diri dalam pengaruh-pengaruh pengasuhan ayah bagi anak dan keluarga dan meningkatnya keterlibatan ayah sendiri dalam pengasuhan, seperti dalam buku Michael Lamb18 “The Role Of The Father In Child Development, 5th 17Heman Elia., Peran Ayah dalam Mendidik Anak. Jurnal Veritas. (April 2000), 1/1, 105-113., h. 105. 18Michael E.Lamb., The Role Of The Father In Child Development, 5th Ed. (New Jersey: John Wiley & Sons, Inc, 2010)., h. 3. 8 Edition”, ditulis bahwa para ahli psikologi perkembangan dan sosial mulai tertarik dan fokus dalam meneliti perilaku ayah dan anak pada tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an. Dalam beberapa penelitian menemukan bahwa ayah dan ibu memiliki cara yang berbeda dalam mempengaruhi anak-anaknya. Michael Yogman dan rekannya19 meneliti perbedaan cara bermain ayah dan ibu. Ditemukan bahwa ayah cenderung kurang banyak mengucapkan kata-kata tetapi ia lebih sering memegang bayinya. Memegang, mengajak bermain dan menimang-nimang dengan pola ritme gerak. Ayah lebih banyak memperlihatkan aktivitas fisik, sedangkan ibu memperlihatkan cara konvensional, dengan berusaha menarik perhatian anak dengan menggoyangkan boneka di depan bayi dan mengajak berbicara. Perbedaan cara mempengaruhi ini penting dalam perkembangan seorang anak. Ini menunjukkan bahwa ayah memiliki tempat tersendiri yang akan menjadi tidak ideal jika digantikan oleh ibu.
Ayah dan ibu berbeda dalam memberikan kebebasan anaknya, ayah cenderung membiarkan anak bergerak lebih bebas dan mandiri, sementara ibu lebih berhati-hati dan lebih teliti.20 Tingginya perhatian seorang ayah dapat dijadikan model bagi anak untuk menjadi lebih tekun, dan memiliki motivasi untuk berprestasi. Bagi anak, ayah adalah contoh keberhasilan, terutama bagi anak laki-laki di lingkungan yang lebih luas. Jika anak diberikan banyak kesempatan untuk 19Drs. Save M.Dagun., Psikologi Keluarga. (Jakarta: PT. Asdi Mahasatya, 2002)., h. 58. 20Ibid,. h.105. 9 mengamati dan meniru sikap positif dari ayah mereka, maka ini akan membantu perkembangan anak terutama kemampuan menyelesaikan masalah.21 Dalam konteks remaja, Nugent22 melaporkan bahwa remaja yang mendapatkan dukungan dan adanya komunikasi yang intensif dengan ayahnya memiliki kebebasan yang lebih besar untuk berusaha bereksplorasi untuk menjadi dirinya sendiri, menemukan jati dirinya, mencoba kemampuan dirinya, memperkuat penilaiannya sendiri terhadap pilihan-pilihan yang dibuat dan mempertimbangkan kemungkinannya menghadapi orang lain dalam merencanakan masa depannya. Hubungan positif ayah dengan remaja dapat meningkatkan rasa percaya diri, dan ketahanan terhadap stress (Fonagy, dkk dalam Susanto)23 .
Keterlibatan ayah dapat menghasilkan perilaku prososial remaja, dan hiperaktivitas yang lebih rendah. Menurut Flouri24 Remaja dengan keterlibatan ayah dengan intensitas yang tinggi menunjukkan secara signifikan sikap dan perilaku yang lebih positif. Selain itu, Videon25 beranggapan bahwa keterlibatan ayah dalam kehidupan remaja akan mempengaruhi mereka dalam hubungannya dengan teman sebaya dan prestasi disekolah, serta membantu remaja dalam mengembangkan pengendalian dan penyesuaian diri dalam lingkungannya. 21Ibid,. h. 107. 22Dedy Susanto., Keterlibatan ayah dalam pengasuhan, kemampuan coping dan resiliensi remaja. Jurnal Sains Dan Praktik Psikologi Magister Psikologi UMM, (2013), ISSN: 2303-2936 Vol. I (2), 101 – 113. 23 Ibid. 24 Ibid. 25 Ibid. 10 Remaja yang hidup tanpa ayah, lebih cenderung memilih teman yang menyimpang, mengalami kesulitan bergaul dengan remaja lain, mengalami masalah dengan teman sebaya, menjadi lebih agresif, terlibat dalam perilaku kriminal atau melakukan kejahatan, memiliki, menggunakan, atau mendistribusikan alkohol atau obat-obatan, dan terlibat dalam seks bebas (Crouter, dkk dalam Susanto)26 . Dari beberapa penelitian dan kajian-kajian mengenai peran ayah dalam perkembangan anak, peneliti tertarik untuk meneliti secara lebih mendalam bagaimana pengaruh peran ayah dalam membangun determinasi diri remaja, mengingat determinasi diri merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi perkembangan manusia.
1.2 Rumusan Masalah
 1.2.1 Bagaimana tingkat peran ayah pada remaja?
 1.2.2 Bagaimana tingkat determinasi diri pada remaja?
1.2.3 Bagaimana pengaruh peran ayah terhadap determinasi diri?
 1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui tingkat peran ayah pada remaja
1.3.2 Mengetahui tingkat determinasi diri pada remaja
1.3.3 Mengetahui pengaruh peran ayah terhadap determinasi diri
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Secara teoritis, manfaat penelitian ini untuk menambah kajian keilmuan mengenai peran ayah dalam perkembangan anak, khususnya pada determinasi diri remaja. Mengingat juga bahwa kajian mengenai peran ayah dalam perkembangan anak masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan kajian mengenai peran ibu.

1.4.2 Secara praktis, manfaat penelitian ini untuk membuka wawasan masyarakat bahwa sama seperti ibu, ayah juga mempunyai peran yang besar dalam mendukung perkembangan anak dan remaja. Penelitian ini juga bermanfaat untuk membantu remaja mengembangkan determinasi diri melalui fungsi keluarga yang optimal, terutama fungsi peran ayah dalam keluarga.  
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Pengaruh peran ayah (fathering) terhadap determinasi diri (self determination) pada remaja kelas X di SMAN 3 Malang." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment