Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Saturday, August 19, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan konflik peran ganda kerja-keluarga dengan kesejahteraan psikologis perawat perempuan di Puskesmas Guluk-guluk Sumenep Madura

Abstract

INDONESIA:
Perkembanganan pembangunan di Indonesia memunculkan banyak perubahan dan kemajuan di berbagai sektor, salah satunya adalah peran serta perempuan dalam dunia kerja. Tidak terkecuali pada pekerja di bidang praktisi kesehatan. Sebagai perempuan, tentunya tidak mudah terlepas dari peran yang dibentuk oleh budaya yakni peran di ranah domestik. Sehingga menjadi tidak mudah pula ketika harus merangkul peran yang lain sebagai perempuan karir di tengah kesibukan sebagai pengatur rumah tangga dan pengasuh anak-anak, atau yang disebut dengan konflik peran ganda. Dalam kondisi konflik peran ini tidak jarang perempuan dihadapkan pada kondisi stres yang berpengaruh pada kesejahteraan psikologis mereka.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat konflik peran ganda dan kesejahteraan psikologis perawat perempuan, serta mengetahui hubungan dari konflik peran ganda dengan kesejahteraan psikologis perawat perempuan di Puskesmas Guluk-Guluk.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian korelasional dengan konflik peran ganda sebagai variabel bebas dan kesejahteraan psikologis perawat perempuan sebagai variabel terikat. Subyek yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh perawat perempuan di Puskesmas Guluk-Guluk yang telah berkeluarga dan memiliki anak dengan jumlah responden 30 perawat perempuan. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling, sedangkan metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala konflik peran ganda, dan skala kesejahteraan psikologis. Analisa data mengunakan analisis korelasi product moment.
Hasil penelitian menunujukkan bahwa diketahui tiga perawat perempuan dengan frekuensi 10% mempunyai tingkat konflik peran ganda yang tinggi, 42% atau 12 responden mempunyai tingkat konflik peran ganda yang sedang, dan 15 perawat perempuan dengan frekuensi 50% mempunyai tingkat konflik peran ganda yang rendah. Kemudian, diketahui 90% atau 28 responden mempunyai tingkat kesejahteraan psikologis yang tinggi, 10% atau dua responden mempunyai tingkat kesejahteraan psikologis yang sedang dan tidak ada responden mempunyai tingkat kesejahteraan psikologis yang rendah. Hasil analisis menunjukkan ada hubungan positif antara konflik peran ganda dengan kesejahteraan psikologis yang ditunjukkan oleh nilai p= 0,002 dan nilai r= 0,533.
ENGLISH:
The raised development in Indonesia has led to many changes and progresses in various sectors. One of which is the participation of women in the workforce with no exception to the workers in the field of health.. As a woman, of course, is not easily separated from the role that is shaped by the culture's role in the domestic sphere. So that it becomes difficult when it comes to embrace another role as a career woman in the midst of housekeeper and nanny, or the so-called dual role conflict. Under these conditions of circumtances, it is not uncommon for women in the stress conditions that affect their psychological well-being.
The purposes of this study were to determine the level of conflict and the dual the psychological well-being of female nurses, and to determine the relationship between multiple roles conflict and the psychological well-being of female nurses at health center of Guluk-guluk, Sumenep.
This study uses a quantitative approach and correlational research type with dual role conflicts as the independent variables and psychological well-being of female nurses as the dependent variable. The subjects were taken from all female nurses in health center of Guluk-guluk, Sumenep who have married with children with the number of respondents for 30 female nurses. The sampling technique in this research is purposive sampling. The data collection method used is the dual role conflict scale, and the scale of psychological well-being. The data analysis techque used is correlation analysis of product moment.


The results of the study indicated that three female nurses with frequency of 10% had the dual role conflict which was in the high level, 42% or 12 respondents had adversitkonflik dual role conflict which was in moderate level, and 15 female nurses with the frequency of 50% had dual role conflict which was in the low level. Then, 90% or 28 respondents had the high level of psychological well-being, 10% or 2 respondents had moderate level of psychological well-being and 0% or no respondents had a low level of psychological well-being. The analysis showed there was a positive relationship between the dual roles conflict and the psychological well-being indicated by the value of p = 0.002 and r = 0.533.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
 Masalah Sudah mulai sejak lama,yakni pada tahun 1960 sebagai era lahirnya feminisme yang ditandai dengan menjamurnya kelompok feminis, perjuangan akan nasib kaum perempuan untuk memenuhi kebutuhan praktis menglobalisasi menjadi gerakan dunia. Pertama dimulai dengan paham feminisme liberal. Paham ini berasumsi bahwa kebebasan dan kesetaraan berakar pada rasionalitas. Karena perempuan merupakan makhluk rasional, maka mereka harus diberi hak yang sama dengan lakilaki dan harus dididik agar mampu bersaing dalam arena kesempatan (Sylvia Walby, 1992, h. 40). Mengacu pada sejarah munculnya gerakan ini pertama kali di Amerika pada tahun tersebut, yang selanjutnya merambat ke Eropa, Kanada, dan Australia yang ahirnya menjadi gerakan yang mengglobal, feminisme merupakan gerakan kaum perempuan untuk mendapatkan kesetaraan dan persamaan derajat dengan para laki-laki. Persepsi global ini menimbulkan berbagai upaya pengkajian atas penyebab ketimpangan antara peran laki-laki dan perempuan untuk mengeliminasi dan menemukan formula penyetaraan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan potensi mereka sebagai manusia. Salah satu fenomena itu adalah semakin besarnya jumlah wanita yang berhasil memasuki jenis-jenis pekerjaan yang biasanya dimasuki oleh laki-laki (Anoraga, 1992, h. 119) 2 Paham tersebut membawa perubahan peran perempuan, yaitu peran ganda antara keluarga dan sebagai wanita bekerja yang ditunjukkan dengan meningkatnya tingkat pekerja perempuan. Menurut Anoraga, perempuan berperan ganda adalah mereka yang memiliki peran sebagai perempuan pekerja secara fisik dan psikis, baik di sektor pemerintahan maupun swasta dengan tujuan mendatangkan suatu kemajuan dalam kariernya, sekaligus berperan juga sebagai ibu dan istri yang bertanggung jawab mengurus rumah tangga. Bekerja dengan tenaga phisik atau dengan pikiran atau kedua-duanya disebut sebagai wanita yang bekerja untuk istilah wanita karier (Anoraga, 1992, h. 121). Berdasarkan data yang dilansir oleh majalah detik Jumlah perempuan yang bekerja mengalami peningkatan signifikan. Pekerja perempuan pada Februari 2007 bertambah 2,12 juta orang dibanding Februari 2006. Sedangkan jumlah pekerja laki-laki hanya bertambah 287 ribu orang (Kuswaharja, 2007). Di indonesia sendiri, salah satu profesi yang banyak digeluti oleh perempuan adalah profesi perawat. Perawat merupakan sumber daya manusia terpenting di rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan secara konsisten dan terus-menerus selama 24 jam kepada klien (Departemen Kesehatan RI, 2002). Perawat memiliki peran yang besar dalam memberikan pelayanan kesehatan karena memiliki jumlah profesi yang paling dominan di Rumah Sakit yaitu sekitar 55%-65% (Agus, 2009). Oleh karena itu, perawat dituntut untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada para pengguna jasa. 3 Karakteristik perawat yang bekerja di rumah sakit Sumenep Madura jika dilihat dari jenis kelamin paling banyak adalah perempuan dengan prosentase 71%, dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 29%. Ditambah lagi output perawat yang dihasilkan dari perguruan tinggi yang rata-rata juga wanita lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Dari segi usia, perawat yang bekerja di puskesmas guluk-guluk Sumenep Madura relatif berusia muda yaitu kurang 30 tahun sebanyak 69% dan yang berusia diatas 40 tahun sebanyak 31%. Gambar 1.1 Prosentase Perawat Perempuan Puskesmas Guluk-Guluk Berdasar Usia Posisi kecamatan guluk-guluk yang berada di ujung paling barat Sumenep (berbatasan dengan pamekasan), merupakan salah satu kecamatan terluas yang memilki 13 desa di dalamnya. Hal tersebut menjadikan pusat pelayanan masyarakat dalam bidang kesehatan bertumpu di Puskesmas Guluk-Guluk. Peran dan tugas sebagai pelayan kesehatan tentu tidak akan Prosentase Perawat Perempuan Puskesmas Guluk-Guluk erdasar … ≥30 tahun ≤30 tahun 4 memandang jenis kelamin. Puskesmas juga memberlakukan jam kerja malam bagi perawat dan pegawai perempuan lain, yang seluruhnya telah berkeluarga. Dalam wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada responden penelitian yang harus jaga malam pada tanggal 28 Juli sampai 29 juli 2015, bahwa mereka harus melaksanakan tugas tersebut, karena sebagai perawat yang masih honorer tentu harus memilki peran yang baik selain menambah pengalaman pekerja. Sedangkan mereka yang telah PNS mengungkap bahwa sebagian dari mereka tinggal di luar desa bahkan di luar kecamatan, dan satu orang responden berasal dari Pamekasan. Adanya jam peraturan untuk piket malam merupakan tanggung jawab kerja yang harus diterima, walaupun ada tanggung jawab anak-anak di rumah yang ketika bekerja biasanya diasuh oleh orang tua mereka (wawancara dengan Jamila, 28 Juli 2015). Adanya tutntutan jam kerja lebih pada profesi perawat tentu menuntut adanya loyalitas dan daya tahan kerja yang lebih pula guna menunjang kepuasan dan produktifitas kerja para perawat sebagai pelayan kesehatan masyarakat. Menurut Keyes (2002), aspek-aspek tersebut dapat didukung dengan adanya kesejahteraan psikologis pada pekerja. Karena, kesejahteraan karyawan merupakan prediktor negatif terhadap intensi turnover karyawan (Zulkarnain & Akbar, 2013). Kesejahteraan psikologis sebagai hasil 5 evaluasi atau penilaian seseorang terhadap dirinya yang merupakan evaluasi atas pengalaman-pengalaman hidupnya (Ryff, 1989). Sedangkan individu yang sejahtera adalah individu yang dapat membangun hubungan positif dengan orang lain, yaitu hubungan interpersonal yang didasari oleh kepercayaan, empati dan kasih sayang yang kuat (Ryff, 1989). Terkait dengan kepercayaan tersebut, pengalaman menarik yang didaptkan oleh peneliti ketika berada di lapangan adalah beberapa keluhan masyarakat terkait kinerja perawat perempuan. Salah satu keluhan yang muncul dari pasien yang menjalani rawat inap adalah: jarangnya perawat yang melaksankan tugas malam mengontrol ke ruang rawat inap, perawat perempuan lebih cepat marah dan tidak ramah, serta tidak cekatan dalam menangani pasien. Fenomena lain yamg muncul adalah, masyarakat banyak berobat ke tempat praktek di rumah dari pada di tempat kerja atau puskesmas. Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada salah satu perawat perempuan di puskesmas Guluk-Guluk, Ibu Maslahatik, bahwa memang lebih optimal menangani pasien yang berobat langsung ke tempat praktek di rumah daripada di puskesmas. Menurutnya, melayani pasien di puskesmas akan mengalami kendala waktu dimana pada saat jam pulang kerja suami dia harus sudah berada di rumah. Sedangkan pasien yang datang ke rumah akan lebih mudah ditangani tanpa harus meninggalkan pekerjaan di rumah.
Dari fenomena di atas, menunjukkan bahwa adanya kepuasan dalam bekerja didapat ketika kepuasan dalam menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga juga berjalan. Hal ini sejalan dengan teori yang menjelaskan bahwa kepuasan dalam kehidupan keluarga berkontribusi terhadap kepuasan dalam kehidupan pekerjaan, sehingga dengan demikian keduanya saling mempengaruhi. Hal inilah yang menuntut setiap individu untuk selalu mengupayakan kesejahteraan di dalam kehidupan keluarganya agar kebahagiaan di tempat kerjanya pun tercapai (Amstad, 2011). Keberhasilan seseorang dalam bekerja berawal dari keluarganya. Hal ini berarti bahwa kebahagiaan di tempat kerja berkaitan dengan kepuasan kehidupan karyawan dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga (Keyes, Hysom, & Lupo, 2000) Jika keluarganya harmonis, maka seseorang tidak dipusingkan oleh berbagai masalah yang terjadi dalam rumah tangganya. Akan tetapi, kecenderungan perempuan untuk berkarir menimbulkan banyak implikasi salah satunya adalah merenggangnya ikatan keluarga. Kondisi seperti ini potensial memunculkan konflik, terutama pada perempuan pekerja yang sudah menikah. Banyak laki-laki terutama yang berpenghasilan rendah mengalami saat-saat yang sulit menerima istri mereka bekerja Sebagai contoh dalam suatu penelitian, banyak suami yang istrinya bekerja melaporkan bahwa mereka lebih suka memiliki istri yang berada di rumah sepenuhnya. Meskipun suami menghargai penghasilan istri mereka, mereka kehilangan pelayanan dari 7 orang yang sepenuhnya mengurus rumah tangga, seorang yang ada di rumah pada saat mereka pulang, yang masak semua makanan mereka, dan yang menyetrika pakaian mereka (Santrok, 1995, h. 100). Lebih jauh lagi diasumsikan bahwa keluarga adalah sebuah unit pengambilan keputusan dimana terdapat strategi pekerjaan rumah tangga yang bukan berdasarkan individu-individu yang terpisah yang kebetulan tinggal bersama dalam suatu keluarga. Para teoritisi kapital menyatakan bahwa pembagian seorang anggota keluarga dewasa berkonsentrasi pada pekerjaan domestik dan yang lain pada pekerjaan dengan upah didasarkan pada kepentingan keluarga itu sendiri. Akan lebih efisien pula pembagian pekerjaan yang terspesialisasi dari pada suami istri bersama-sama mengerjakan semua pekerjaan. Saat keputusan suadah diambil, bahwa seseorang akan menjadi pengurus rumah tangga atau bekerja penuh di luar, maka perannya akan sulit dibalik, karena investasi yang sudah dan sedang dilakukan (Sylvia Walby, 1992, h. 43) Diantara kerugian yang mungkin tejadi pada pernikahan dengan karir ganda adalah tuntutan adanya waktu dan tenaga tambahan, konflik antara pekerjaan dan keluarga, persaingan kompetitif antara suami dan istri, dan jika keluarga memilki anak-anak perhatian terhadap kebutuhan anak sulit dipenuhi. Untuk itu perlu bagi perempuan beprofesi yang menikah dan memilki anak, juga memilki kemampuan menyeimbangkan peran antara kerja dan keluarga. Ketidakseimbangan antara pekerjaan dan keluarga disebut sebagai work-family conflict, yaitu konflik yang mengacu 8 pada sejauh mana hubungan antara pekerjaan dan keluarga saling terganggu (Greenhaus & Beutell, 1985).
Greenhaus dan Beutell (1985) menjelaskan bahwa konflik muncul ketika waktu yang digunakan untuk memenuhi suatu peran menghambat pemenuhan peran lainnya, yang kedua tuntutan suatu peran yang mengarah pada ketegangan, kelelahan, dan mudah marah, akan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menjalankan peran lainnya, dan yang ketiga adanya tuntutan perilaku disuatu peran yang bertentangan dengan harapan berperilaku di peran yang lain. Tiga kondisi ini akan menghambat indidividu untuk mengatur prilaku sesuai dengan apa yang dia harapkan, Sebagaimana menurut Ryff (1989), bahwa aspek otonomi merupakan dimensi penting dalam kesejahteraan psikologis. Selanjutnya, Greenhaus dan Beutell (1985) menjelaskan bahwa terdapat tiga dimensi work family conflict, yaitu: time-based conflict, merupakan konflik yang terjadi ketika waktu yang tersedia untuk memenuhi peran di pekerjaan tidak dapat digunakan untuk memenuhi peran di keluarga, dengan kata lain pada waktu yang sama seorang yang mengalami work family conflict tidak akan bisa melakukan dua atau lebih peran sekaligus. Kondisi ini dapat mengurangi kesejahteraan sebagai pekerja, sebagaimana Grandey, Bryanne, dan Ann (2005) menyatakan bahwa work family conflict dapat menghabiskan waktu dan energi seseorang sehingga menyebabkan munculnya perasaan terancam dalam 9 diri seseorang serta perilaku negatif dalam pekerjaannya (Dalam Zulkarnain, 2013). Selain motivasi internal, pengaruh peraturan juga berperan dalam tuntutan kerja perawat. Banyak puskesmas yang mengahruskan adanya ketentuan jam untuk pulang dan datang sesuai jadwal, dimana saat ini di Puskesmas Guluk-Guluk sendiri menggunakan finger print sebagai pengontrol jam kerja. Peraturan atas dasar kedisplinan dan tuntutan pekerjaan yang maksimal menjadikan sebagaian besar waktu para pekerja berada di tempat kerja. Tuntutan peran yang menyebabkan pekerja menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk bekerja akan kehilangan motivasi untuk memenuhi tuntutan keluarga (Aslam, Shumaila, Azhar, & Sadaqat, 2011). Fenomena di atas jika mengacu pada perspektif psikologi, dalam teori Hurlock (1980) dikatakan bahwa pada usia 18-40 tahun individu sudah memasuki tugas dan tanggung sebagai orang dewasa atau yang disebut dengan dewasa awal. Hurlock membagi tugas perkembangan pada individu dewasa awal, diantaranya: mulai bekerja, memilih pasangan, mulai membina keluarga, mengasuh anak, mengelola rumah tangga, mengambil tanggung jawab sebagai warga negara, dan, mencari kelompok sosial yang menyenangkan. Tugas perkembangan untuk mulai berkomitmen di dunia kerja dan membina keluarga dalam satu waktu membawa fenomena yang berbeda 10 antara laki-laki dan perempuan. Dalam meniti karir, wanita mempunyai beban dan hambatan lebih berat dibanding pria (Anoraga, 1992, h. 121). Selanjutnya, menurut Anoraga dalam bukunya, bagi wanita yang bekerja mereka juga adalah ibu rumah tangga yang sulit lepas begitu saja dari lingkungan keluarga. Perbedaan itu juga diperjelas dengan adanya panca dharma wanita Indonesia yang menuntut perempuan dapat melakukan lima tugas, yaitu sebagai istri/pendamping suami, sebagai pengelola rumah tangga, sebagai penerus keturunan, sebagai ibu dari anak-anak dan sebagai warga negara. Dengan peran ini tidak semua dapat berjalan dengan baik dan sulit mencapai hasil maksimal. Banyak perempuan yang tidak mampu mengatasi itu, sekalipun mempunyai kemampuan teknis yang cukup tinggi, Sebagaimana Frone (1992) mengatakan kehadiran salah satu peran (pekerjaan) akan menyebabkan kesulitan dalam memenuhi peran tuntutan peran yang lain (keluarga). Dalam perspektif psikologi perkembangan yang lain, Santrock (2002) mengatakan masa dewasa awal adalah masa untuk bekerja dan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Sedangkan pada tahap perkmbangan psikososial Erikson dituntut untuk membentuk keintiman (intimasi versus isolasi). Jika seorang dewasa awal tidak dapat membuat komitmen personal yang dalam terhadap orang lain, maka mereka akan terisolasi dan selfabsorb (terpaku pada kegiatan dan pikirannya sendiri). Ketika mereka berusaha menyelesaikan tuntutan saling berlawanan dari intimasi, 11 kompetisi, dan jarak, disebut Erikson sebagai pemahaman etis sebuah tanda kedewasaan. ( Papalia, 2008, h. 684). Keluarga merupakan ruang membentuk yang paling penting dalam membentuk intimasi yang diikat oleh seks, cinta, kesetiaan dan pernikahan, dimana wanita berfungsi sebagai istri, dan pria berfungsi sebagai suami. Dilihat dari segi naluri, dorongan paling kuat bagi wanita untuk menikah ialah cinta dan mendapatkan keturunan dari orang yang dicintainya (Kartono, 2007, h. 6) Keluarga memberikan pada wanita arena bermain dan jaminan untuk melaksanakan fungsi-fungsi kewanitaannya. Semakin mantap wanita memainkan berbagai peranan sebagai istri, partner seksual, pengatur rumah tangga, ibu dari anak-anak dan pendidik maka semakin positif dan produktiflah dirinya. Kesuksesan dalam memainkan peran tersebut membawa kesejahteraan dan kestabilan jiwa dalam hidupnya. Sebaliknya, kurangnya kemampuan wanita dalam memainkan beberapa peran atau peran ganda yang berbeda-beda dalam styatus perkawinan menjadikan mereka menderita (
Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan Ahmad (2003) dengan judul ”Work – Family Conflict : A Survey of Singaporean Workers” yang meneliti tentang bagaimana work family conflict terjadi pada pekerja di Singapura, menunjukkan bahwa pekerja wanita lebih sering mengalami work family Conflict dibandingkan dengan pria (dalam Chandra, 2011). Penelitian lain yang dilakukan oleh Triaryati (2003) dengan judul “Pengaruh 12 Adaptasi Kebijakan Mengenai work family conflict terhadap absen dan turn over”, menyatakan bahwa karyawan wanita telah terbukti menderita depresi dan mengalami stres lebih cepat dibandingkan pria. Stres kerja yang terjadi karena ketidak mampuan pekerja perempuan dalam menyeimbangkan peran (konflik peran ganda) merupakan faktor yang menghambat terhadap tercapainya kesejahteraan psikologis (Handayani, 2014). Padahal, keberhasilan suatu organisasi salah satunya ditandai dengan karyawan yang merasa sejahtera di tempat kerjanya (Keyes, Hysom, & Lupo, 2000). Menurut Ryff (1989), kesejahteraan dapat didapat jika Individu sudah mampu membangun hubungan positif dengan orang lain, memilki otonomi terhadap dirinya sendiri dalam menentukan sikap dan tindakan, dan kemampuan untuk memilki rasa akan pertumbuhan dan pengembangan pribadi secara berkelanjutan. Karena faktor yang memilki peran dalam menimbulkan kesejahteraan pada dunia kerja adalah kepuasan dalam kehidupan berkeluarga (Greenhaus & Beutell, 1985). Dalam studi klasik yang dilakukan tahun 1986, pada wanita Inggris menunjukkan bahwatanda-tanda psikiatrik lebih banyak ditunjukkan oleh wanita yang tidak bekerja (74%) daripada wanita yang bekerja (14%). Ini berarti tekanan hidup lebih banyak dirasakan oleh wanita yang tidak bekerja dibandingkan dengan wanita yang bekerja. Sepertinya kesibukan bekerja bagi wanita bekerja dapat melindungi mereka daritanda-tanda psikiatrik. Wanita yang bekerja di rumah lebih otonom, memiliki physical effort yang 13 lebih baik, lebih rutin, tekanan waktu yang lebih rendah dan rasa tanggung jawab yang kurang daripada wanita yang bekerja diluar rumah. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Magdalena (2015), mendapati bahwa ternyata perawat termasuk dalam enam pekerjaan yang memilki tingkat kepuasan kerja, kesehatan fisik, dan kesejahteraan psikologis yang paling rendah. Padahal, komitmen terhadap pekerjaan akan didapat jika karyawan sudah mampu mencapai kesejahteraan dalam pekerjaannya (Annisa & Zulkarnain, 2013). Dalam penelitian yang lain, hasil penelitian menunjukkan responden dengan tingkat konflik pekerjaan-keluarga tinggi di RSUD Daya Kota Makassar sebanyak 28 responden (52,8%), sedangkan responden dengan tingkat konflik pekerjaan-keluarga rendah sebanyak 25 responden (47,2%). Selanjutnya untuk variabel konflik keluarga-pekerjaan, responden dengan tingkat konflik pekerjaan-keluarga rendah yaitu sebanyak 29 responden (54,7%), sedangkan responden dengan tingkat konflik pekerjaan-keluarga tinggi hanya sebanyak 24 responden (45,3%). Presentase responden dengan kelompok umur terbanyak adalah kelompok umur 21-30 tahun dengan jumlah 29 responden (54,7%), sedangkan yang terendah berada pada kelompok umur 41-49 tahun sebanyak 4 responden (7,5%). (Sari, 2013). Berdasarkan pemaparan dia atas mengenai teori dan fenomena keperempuanan khususnya tentang mereka dengan profesi perawat, peneliti ingin mengetahui tingkat konflik peran ganda yang mereka alami dan tingkat kesejahteraan psikologis sebagai pekerja perempuan yang juga 14 memilki rumah tangga, serta mengetahui dengan jelas hubungan konflik peran ganda dengan kesejahteraan pskologis perempuan dengan profesi perawat di puskesmas.
B.     Rumusan Masalah
 Dari pemaparan latar belakang di atas maka penyusunan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagimana tingkat konflik peran ganda pada perawat wanita di GulukGuluk Madura? 2. Bagaimanakah tingkat kesejahteraan psikologis perawat wanita di Guluk-Guluk Madura? 3. Apakah ada hubungan konflik peran antara peran sebagai istri dalam keluarga dan tuntutan kerja dengan kesejahteraan psikologis perawat wanita di Guluk-Guluk Madura?
C.     Tujuan Penelitian
 Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui tingkat konflik peran ganda perawat wanita di Guluk-Guluk Madura.
 2. Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan psikologis perawat wanita di Guluk-Guluk Madura.
 3. Untuk menguji hubungan negatif konflik peran ganda dengan kesejahteraan psikologis perawat wanita di Guluk-Guluk Madura.
D. Manfaat Penelitian
 Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis
1. Secara Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah pengetahuan khususnya dalam bidang kesejahteraan psikologis dan tentang konflik peran ganda pada perempuan. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pihak akademisi maupun fakultas psikologi khususnya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan Psikologis.

2. Secara Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi positif pada organisasi-organisasi baik organisasi non profit dan organisasi yang di bawah instansi pemerintahan khususnya yang memilki misi dalam pemberdayaan perempuan dan melibatkan peran perempuan dalam ranah publik agar mampu tetap mempertahankan atau bahkan meningkatkan kesejahteraan psikologis dalam kinerja perempuan dan mengetahui aspek protektif pada faktor-faktor kesejahteraan psikologis pada perempuan. Sehingga diharapkan komitmen perawat 16 sebagai praktisi kesehatan dalam menjalankan tugas dan wewenang dapat berjalan dengan maksimal

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Hubungan konflik peran ganda kerja-keluarga dengan kesejahteraan psikologis perawat perempuan di Puskesmas Guluk-guluk Sumenep Madura" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment