Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, August 7, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan kepuasan hidup dengan kepuasan kerja pada mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Desa Arjowilangun

Abstract

INDONESIA:
Kepuasan hidup ialah dimana seseorang menilai segala sesuatu kejadian dalam hidupnya yang telah dilalui maupun sedang dilalui, sehingga penelitian ini dikaitkan dengan kepuasan hidup pada mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mana banyak sekali kasus kekerasan atau tidak menyenangkan yang dialami oleh para Tenaga Kerja Indonesia (TKI), dan penelitin ini dilakukan di desa Arjowilangun yang mempunyai gejala sosial yang berbeda dengan desa-desa yang berada di sekitarnya terutama di kecamatan Kalipare, karena di desa Arjowilangun mayoritas penduduknya bekerja menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sehingga banyak pula terdapat mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berada didesa tersebut. Hal tersebut yang membuat peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian di desa tersebut dengan judul “Hubungan Kepuasan Kerja dengan Kepuasan Hidup pada mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di desa Arjowilangun”, dengan menggunakan metode kuantitatif serta ex post facto.
Pada penelitian ini terdapat 70 responden yang menjadi subjek penelitian yang diambil dari 10% populasi yang ada. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan bahwasanya tingkat kepuasan kerja pada mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) berada pada kategori tinggi dengan prosentase 91% dan kategori sedang dengan prosentase 9 %, serta pada variable kepuasan hidup terdapat 49% pada kategori tinggi, 40%pada kategori rendah dan 11% pada kategori sedang.
Hipotesis dari penelitian ini ialah adanya hubungan antara kepuasan kerja dengan kepuasan hidup, dan dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwasannya terdapat hubungan antara dua variable dengan nilai 0,588 dan nilai sig<0,05, sehingga variable kepuasan kerja berhubungan yang signifikan dengan variable kepuasan hidup.
ENGLISH:
Life satisfaction is something where a person's assess everything in his life events that have been passed or are being passed, so this study is associated with life satisfaction in the former ofIndonesian Workers (TKI) in which a lot of cases of violent or unpleasant had happened to the Indonesian Workers ( TKI), and this experiment is carried out in the village Arjowilangun that have different social phenomena with villages in the surrounding areas, especially in the Kalipare, because the majority of the population in the village Arjowilangun work became an Indonesian Workers (TKI) that many of them are former of Indonesian Workers (TKI). It makes researcher interested in conducting research in the village with the title " Life Satisfaction Relationship with Job Satisfaction in the former of Indonesian Workers (TKI) in the village of Arjowilangun ", by using quantitative methods as well as ex post facto.
In this study, there were 70 respondents, the subject of research were taken from the existing 10% of the population. From the research that has been done that the level of job satisfaction in the former Indonesian Workers (TKI) at high category with a percentage of 91% and the medium category with a percentage of 9%, as well as in variable of life satisfaction were 49% in the high category, 40% in the category Low and 11% in the medium category.

The hypothesis of this study was the relationship between job satisfaction and life satisfaction, and the results of research that has been done can be concluded that there was a relationship between two variables with a value of 0.588 and sig <0.05, so the job satisfaction variable were significantly associated with life satisfaction variable.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perkembangan perekonomian di beberapa negara tetangga khususnya di ASEAN, sekarang ini memasuki persaingan yang begitu pesat dalam memasuki pasar global yang telah di canangkan oleh beberapa Negara, Indonesia sendiri mempunyai tugas yang cukup berat dalam menghadapi persaingan dalam pasar global tersebut, dan Indonesia sendiri harus mempersiapkan matang-matang terutama pada industri kecil menengah (Wiji, 2013). Pada dasarnya mempunyai usaha kecil menengah maupun usaha kreatif dan pengelolaannya yang baik serta adanya usaha untuk memaksimalkan kualitas-kualitas wirausaha maupun pemanfaatan Sumber Daya Alam yang di barengi dengan Sumber Daya Manusia tentunya mampu mendorong Indonesia dalam persaingan di pasar global yang dihadapi. Namun demikian peningkatan wirausaha dirasa masih sangat sulit untuk dikembangkan di Indonesia, hal tersebut dikarenakan adanya beberapa pengaruh diantaranya faktor lingkungan seperti hubungan sosial, infrastruktur fisik dan institusional serta faktor budaya, hal tersebut juga sesuai dengan pendapat Mullin (dalam Wijono, 2010:128) tentang beberpa faktor pekerjaan yaitu faktor pribadi, social, budaya, organisasi dan lingkungan. 2 Lingkungan maupun budaya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi sulitnya berkembang untuk berwirausaha, sehingga timbulah pengangguran yang diakibatkan karena kurang adanya lapangan pekerjaan, dengan demikian banyak dari beberapa orang untuk mencari penghasilan dengan cara alternative yang lain, salah satunya yang terjadi di daerah kecamatan Kalipare, desa Arjowilangun, yang beberapa warganya memilih bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia atau sering disebut sebagai TKI di Negara tetangga (wawancara 1: 6 April 2015). Hal tersebut tentunya tidak lepas dari faktor lingkungan maupun budaya di sekitar seperti halnya ketika seseorang melihat saudaranya sukses menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) maka orang tersebut secara tidak langsung akan timbul rasa untuk mengikuti jejak menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) (Mullin dalam Wijono, 2010:128), di tambah lagi dengan kurang adanya lapangan pekerjaan yang mampu menampung tenaga kerja, selain itu keinginan seseorang untuk mencari penghasilan yang serba cepat dalam menghasilkan uang menjadi suatu dorongan tersendiri dalam mempengaruhi banyaknya warga untuk menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Meskipun demikian TKI juga turut serta dalam pengurangan jumlah pengangguran di Indonesia, disini juga mendapat dorongan langsung dari pemerintah melalui Undang-Undang RI Nomor 39 Tahun 2004 mengenai penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, yang berbunyi “Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri merupakan suatu upaya 3 untuk mewujudkan hak dan kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak, yang pelaksanaanya dilakukan dengan tetap memperhatikan harkat, martabat, hak asasi manusia dan perlindungan hukum serta pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan hukum sosial”.
Selain itu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) juga merupakan penyumbang pendapatan Negara melalui devisa, sehingga seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) selain selalu memenuhi kebutuhan rumah tangga juga mampu bersumbangsih terhadap Negara melalui pendapatan devisa (Hamidah, 2013:2). Desa Arjowilangun sendiri menjadi tempat pilihan penelitian yang merupakan salah satu desa yang beberapa warganya memilih bekerja sebagai seorang Tenaga Kerja Indonesia diluar negeri, hal tersebut tentunya tidak lepas karena dirasa lebih menjanjikan dan lebih instan dalam mendapatkan penghasilan dan tentunya di dukung akibat sulitnya mencari pekerjaan/lapangan pekerjaan di kampong halaman sendiri, sehingga bekerja di luar negeri menjadi salah satu alternative untuk mengurangi pengangguran untuk sementara ini dengan tidak meninggalkan hak-hak seorang tenaga kerja. Bekerja menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tentunya akan mempengaruhi gaya hidup sebuah keluarga, tidak menjadi hal yang tabu ketika seseorang mempunyai pekerjaan atau bekerja di luar negeri akan cepat merubah perekonomian keluarga serta dapat merubah status sosial 4 sebuah keluarga, namun demikian tidak hanya pada keluarga yang tingkat perekonomiannya meningkat namun pada lingkungan daerahpun juga meningkat seperti pola hidup yang lebih baik dan kesejahteraanpun lebih baik dari sebelumnya (Budijanto, 2013:108). Berbicara tentang kepuasan hidup sendiri yang dirasakan oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) masih dirasa kurang karena masih banyak kasus yang dialami oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) seperti sakit dalam bekerja, penganiayaan, majikan yang bermasalah, pelecehan seksual, gaji tidak dibayar dll, PUSLITFO BNP2TKI sendiri mencatat terdapat 19.741 kasus dan dari penguduan yang di data oleh Crisis Center ialah terdapat 14.505 pengaduan dari data terakhir pada tahun 2013. Sehingga dari data tersebut peneliti merasa penasaran dengan beberapa kasus tersebut, yang tentunya dari beberapa kasus tersebut masih adakah rasa puas yang dialami oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI), dalam pemenuhan kepuasan hidup sendiri tentunya tidak lepas dari namanya pekerjaan karena memang suatu pekerjaan menjadi salah satu domain yang berkaitan dengan kepuasan hidup (Diener et al.1999:278). Dari banyaknya warga yang ingin bekerja menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tentunya tidak lepas dari kepuasan seseorang sendiri terhadap suatu pekerjaan, karena menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) banyak yang mendapatkan penghasilan yang menjanjikan, seperti halnya menurut Mullin (dalam Wijono, 2010:128) faktor yang membuat seseorang merasas puas terhadap pekerjaanya ialah salah satunya tentang 5 faktor ekonomi, selain itu juga terdapat faktor lain diantaranya faktor sosial, budaya serta lingkungan. Kepuasan kerja sendiri menurut Howell dan Dipboye (dalam Munandar, 2008:350) memandang kepuasan kerja sebagai keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap berbagai aspek dari pekerjaanya. Dengan kata lain kepuasan kerja mencerminkan sikap tenaga kerja terhadap pekerjaanya, kepuasan kerja mempunyai faktor-faktor diantaranya ciri-ciri pekerjaanya itu sendiri, penghasilan yang dirasa adil, penyeliaan, rekan-rekan kerja sejawat, dan kondisi kerja yang menunjang. Bekerja di luar negeri memang menjadi salah satu alternative dalam mencari pekerjaan, namun demikian bekerja menjadi seorang
Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI) bukan suatu tujuan utama ataupun harapan dari seorang tenaga kerja, karena bagaimanapun juga bekerja di kampong halaman sendiri dirasa lebih nyaman dikarenakan selalu dekat dengan keluarga/orang-orang terdekat (wawancara 2: 20 Mei 2015). Dari hasil observasi yang dilakukan tentunya ketika berbicara puas ataupun tidak puas terhadap pekerjaan yang didapat dari menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI), tentunya masih merasa kurang puas karena jebutuhan akan dekat dengan keluarga lebih utama dan ketenagan batin yang tetap di cari untuk melalui kehidupan sehari-hari. Membuka usaha sendiri ataupun bekerja di kampong halaman sendiri tentunya tetap menjadi salah satu impian yang belum terwujud karena keterbatasan modal maupun sulitnya mencari lapangan pekerjaan, 6 sehingga menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI) juga termasuk dalam usaha untuk mencari pengalaman kerja maupun mencari modal tambahan, sehingga ketika sudah berada di Indonesia mampu membuat usaha sendiri seperti halnya dengan penduduk desa Arjowilangun menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) merupakan sebuah ladang untuk mencari modal hidup kedepannya seperti mendirikan toko maupun modal untuk membangun rumah yang layak, karena dengan menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) lebih mudah untuk memenuhi kebutuhan tersebut namun demikian mereka tetap merasa puas terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan selama menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI) (wawancara 2: 20 Mei 2015). Namun demikian menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tentunya tidak lepas dari faktor usia yang terus bertambah, sehingga kebutuhan akan bekerja di kampong halamannya dirasa sangat perlu karena kondisi fisik yang mulai tidak mendukung maupun kebutuhan akan selalu dekat dengan keluarga, sehingga banyak mantan Tenaga kerja Indonesia di luar negeri (TKI) memilih usaha sendiri di kampong halaman, dan tidak bisa dipungkiri juga ketika kondisi dirumah menjadi sulit lagi mereka akan kembali bekerja menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI) (wawancara 2: 20 Mei 2015),
 hal tersebut juga sama dengan yang di ulas oleh Herzberg et al (dalam Wijono, 2010:131) yang mengungkapkan bahwasannya usia sangat mempengaruhi seseorang dalam bekerja, ketika masa muda rasa itu akan bekerja besar dan biasanya waktu memasuki usia 7 lanjut mulai berkurang, namun demikian semakin matangnya usia seseorang maka semakin dipercayanya seseorang dalam bekerja karena kualitas bekerja sudah terbukti. Dari wawancara tersebut tentunya tidak lepas dari konteks seseorang terhadap kepuasan dalam kehidupannya, karena kepuasan hidup merupakan kesejahteraan psikologis secara umum atau kepuasan terhadap kehidupan secara keseluruhan dan biasanya kepuasan hidup digunakan pada kesejahteraan psikologis pada orang-orang dewasa lanjut (Santrock, 2002:250), dari ulasan tersebut tentunya seseorang tidak hanya mencari kepuasan dalam bekerja namun juga mencari kepuasan akan kehidupan secara menyeluruh. Selanjutnya ketika seseorang kepuasan kerjanya sudah terpenuhi ataupun tinggi maka juga akan berpengaruh terhadap kepuasan hidup seseorang, karena kepuasan hidup sendiri mencangkup pendapatan, kesehatan, suatu gaya hidup yang aktif, serta jaringan ataupun hubungan dengan keluarga dan kepuasan kerja sendiri mempunyai hubungan timbal balik dengan kepuasan hidup (Davis 1985 dalam Sudiro, 2012) seperti halnya juga dengan yang ada pada jurnal Ariati (2010:118) tentang adanya hubungan antara kepuasan kerja terhadap kesejahteraan psikologis yang merupakan bagian dari Subjective Well-Being. Selain itu menurut Bowling et el (2010:924) terdapat hubungan yang sangan erat antara kepuasan kerja dengan Subjective Well-Being, karena kepuasan kerja berhubungan dengan subtensi Subjective Well-Being salah satu diantaranya ialah kepuasan hidup, 8 selain itu Subjective Well-Being juga cenderung mempengaruhi kepuasan seseorang terhadap domain tertentu, domain tersebut ialah kepuasan kerja. Seseorang yang merasa puas terhadap pekerjaanya yang mencangkup dari beberapa faktor kepuasan kerja tentunya berkaitan erat dengan kepuasan hidup seseorang karena kepuasan hidup merupakan evaluasi individu secara kognitif terhadap keseluruhan hidupnya yang salah satunya kepuasan dalam bekerja dan bekerja sendiri bertujuan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup sehari-hari (Diener, dalam Utami. 2009:144). Seperti halnya seseorang yang merasa puas terhadap pekerjaannya dari berbagai aspek yang mencangkup pekerjannya, tentunya akan berkesan dan membekas dalam area kognitif seseorang sehingga suatu saat dapat di recall kembali dan menjadi evaluasi/penilaian dalam kehidupan, yang tentunya seperti definisi kepuasan hidup yaitu evaluasi kognitif terhadap pengalaman hidup individu. Sehingga dalam penelitian ini juga ingin mengetahui adanya hubungan kepuasan kerja dengan kepuasan hidup pada mantan Tenaga Kerja (Kepuasan kerja sebagai variabel bebas dan kepuasan hidup sebagai variabel terikat), penelitian ini dirasa sangat menarik karena banyak yang masih belum tahu tentang kehidupan seseorang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) melaui kepuasan kerja maupun kepuasan hidupnya dan banyak pula masyarakat yang hanya tahu tentang banyak serta gaya hidup Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tanpa melihat ataupun mengkaji dari sisi 9 psikologi maupun sosial mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), sehingga penelitian ini dirasa cukup menarik karena pembahasannyapun tentang kepuasan kerja dan kepuasan hidup mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Seperti pada umumnya seseorang selalu mencoba untuk memenuhi beberapa keinginan dalam hidupnya melalui usaha-usaha tertentu yang dikirannya tepat untuk mewujudkan keinginannya, hal tersebut juga dilakukan oleh warga desa Arjowilangun yang mayoritas warganya pernah menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) demi memenuhi kebutuhankebutuhan yang diinginkan melalui bekerja di luar negeri, sehingga penelitian ini meneliti tentang seberapa tinggi tingkat kepuasan kerja seorang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di desa Arjowilangun, yang selama ini berusaha memenuhi kebutuhannya dengan bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), selain itu penelitian ini juga dihubungkan dengan kepuasan hidup pada mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), karena ketika kepuasan kerja terpunuhi ataupun tinggi maka kepuasan hiduppun akan terpenuhi, seperti yang di utarakan oleh jurnal dari Ariati (2010:117) tentang adanya hubungan Subjective Well Being dengan kepuasan kerja, pada dasarnya kepuasan hidup merupakan bagian dari Subjective Well Being, karena Subjective Well Being ialah persepsi seseorang terhadapa pengalaman seseorang terhadap hidup yang terdiri dari evaluasi kognitif. Dari penelitian lain yang mendukung hipotesis yang di ajukan dalam penelitian ini ialah menurut Judge dan Locke (2008) yang menemukan hubungan antara kepuasan kerja dengan Subjective Well Being, karena 10 pekerjaan merupakan seseuatu yang sangat penting dalam kehidupan seseorang dan tempat seseorang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk bekerja dan Subjective Well Being sendiri mempengaruhi dalam merecall informasi segala aktivitas dalam bekerja, selain itu adapula penelitian yang pernah dilakukan oleh Alghamdi (2015:17) yang mana terdapat hubungan yang positif antara kepuasan kerja dengan kepuasn hidup, dan dalam penelitian tersebut menjelaskan bahwasannya seseorang yang usianya semakin matang maka tingkat kepuasan kerjanyapun juga akan tinggi. Dari ulasan diatas muncul sebuah hipotesis bahwasannya para mantan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI) mempunyai kepuasan kerja terhadap pekerjaannya yang tinggi sehingga rasa kepuasan hidupnya akan terpenuhi seperti kita tahu kepuasan hidup merupakan evaluasi kognitif seseorang terhadap segala aspek kehidupannya begitupun dalam bekerja. Pada penelitian ini peneliti meneliti dengan subjek penelitian yaitu mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), yang dimana subjek penelitian merupakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang sudah pernah bekerja diluar negeri, sehingga penelitian ini termasuk dalam penelitian expost facto yang mana variable bebas dalam penelitian ini yaitu kepuasan kerja merupakan kejadian yang telah dialami oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) pada masa lampau ketika menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) (Simon & Goes, 2013) 11 Penelitian ini dilakukan di daerah desa Arjowilangun karena didaerah tersebut terdapat beberapa mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) serta terlihat menarik dikarenakan mayoritas satu desa bekerja sebagai
 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan di tambah lagi dengan kondisi warga yang selalu ingin bekerja kembali di luar negeri, sehingga membuat rasa ingin tahu peneliti tinggi untuk mengkaji tentang hubungan kepuasan kerja dengan kepuasn hidup pada mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), di desa Arjowilangun sendiri terdapat 700 (tuhuh ratus) mantan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI) melaui penelitian kuantitatif, data tersebut diambil langsung dari bapak Samuji yang selaku pamong desa setempat, serta judul dari penelitian ini ialah “Hubungan Kepuasan Kerja dengan Kepuasan Hidup pada mantan Tenaga Kerja Indonesia dari Luar Negeri (TKI) di desa Arjowilangun”, yang mana kepuasan kerja menjadi variable bebas dan kepuasan hidup sendiri menjadi variable terikat.
B.     Rumusan Masalah
 Dari ulasan diatas penelitian ini memiliki rumusan masalah yaitu : 1. Bagaimana tingkat kepuasan kerja mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di desa Arjowilangun? 2. Bagaimana tingkat kepuasan hidup mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di desa Arjowilangun? 3. Adakah hubungan antara kepuasan kerja dengan kepuasan hidup pada mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di desa Arjowilangun?
C.     Tujuan Penelitian
 Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari diadakannya penelitian ini ialah untuk mengetahui : 1. Tingkat kepuasan kerja mantan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI) di desa Arjowilangun 2. Tingkat kepuasan hidup mantan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI) di desa Arjowilangun 3. Hubungan antara kepuasan kerja dengan kepuasan hidup pada mantan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI) di desa Arjowilangun
D. Manfaat Penelitian
 1. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan penelitian yang sama pada masa yang akan datang juga sebagai tambahan informasi
 2. Bagi peneliti sendiri, penelitian ini memberikan wawasan ilmiah tentang pekerjaan mantan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI)

 3. Sebagai referensi pemerintahan dalam memfasilitasi warganya untuk berkembang khususnya pada mantan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI) 4. Sebagai acuan pemerintah pusat khususnya bagian BNP2TKI dan Dinas Tenaga Kerja RI untuk meningkatkan dan memerhatikan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI) 5. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi terhadap keilmuan psikologi khususnya yang berkaitan dengan psikologi industri maupun psikologi social. 6. Pemerintahan kabupaten Malang mampu menjamin kesejahteraan warganya melalui menjamin kepuasan kerja para tenaga kerja.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Hubungan kepuasan hidup dengan kepuasan kerja pada mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Desa Arjowilangun" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment