Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Saturday, August 19, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan antara kontrol diri dengan agresivitas pada anggota pencak silat: Study pada PSHT dan IKS PI Kera Sakti Bojonegoro

Abstract

INDONESIA:
PSHT dan IKS PI Kera Sakti adalah dua organisasi/perguruan pencak silat yang berada dibawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Kedua organisasi pencak silat ini sama-sama memiliki ajaran yang baik dan berbudi luhur yang seharusnya diaplikasikan untuk kehidupan sehari-hari dengan mampu mengontrol diri sendiri dan bersikap agresif pada waktu dan tempat yang tepat. Akan tetapi dimasyarakat tidak jarang kita dengar kabar tentang perkelahian antara Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dengan Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKS PI) Kera Sakti
Tujuan yang hendak diketahui dari penelitian ini adalah (a) Untuk mengetahui tingkat kontrol diri pada anggota pencak silat PSHT dan IKS PI Kera Sakti. (b) Untuk mengetahui tingkat agresivitas pada anggota pencak silat PSHT dan IKS PI Kera Sakti. (c) Untuk mengetahui ada atau tidak hubungan kontrol diri dengan agresivitas pada anggota pencak silat PSHT dan IKS PI Kera Sakti.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasional. Variabel bebas (X) kontrol diri dan variabel terikat (Y) agresivitas. Subjek penelitian adalah seluruh populasi berjumlah 150 responden dengan rincian 75 subyek dari anggota pencak silat PSHT, 75 subyek dari anggota pencak silat IKS PI Kera Sakti. Peneliti menggunakan metode kuisioner dalam pengumpulan data. Analisa keseluruhan data menggunakan aplikasi komputer SPSS for windows.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (a) Kontrol Diri pada anggota pencak silat PSHT dan IKS PI Kera Sakti tergolong sedang dengan prosentase 56 %, (b) Tingkat Agresivitas pada anggota pencak silat PSHT dan IKS PI Kera Sakti berada pada tingkat sedang dengan prosentase 72,6%, dan (c) Terdapat hubungan antara kontrol diri dengan agresivitas pada anggota pencak silat PSHT dan IKS PI Kera Sakti dengan koefisien yang diperoleh adalah sebesar 0,787 bernilai negatif dengan peluang ralat atau 0,05 atau 5% pada taraf signifikan 0,000 ≤ 0,05 sehingga hipotesis diterima.
ENGLISH:
PSHT and IKS PI Kera Sakti are two organizations / universities martial arts under the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI). Both of these martial arts organizations have the same doctrine of good and virtuous that should be applied to everyday life by being able to control yourself and be aggressive at the right time and place. But the community is not rare to hear about a fight between the Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) with the Association of Keluarga Silat Putra Indonesia (IKS PI) Kera Sakti.
Objectives of the study were (a) To determine the level of self-control on the members of martial arts on IKS PI Kera Sakti and PSHT. (B) To determine the level of aggressiveness of the members of martial arts on IKS PI Kera Sakti and PSHT. (C) To determine whether there were self-control relationship or not with the aggressiveness of the members of martial arts on IKS PI Kera Sakti and PSHT.

The method used quantitative correlation. The independent variable (X) self-control and the dependent variable (Y) aggressiveness. The subject of research was all population of 150 respondents with details of 75 subjects of members of martial arts PSHT, 75 subjects of members of martial arts of IKS PI Kera Sakti. Researcher used questionnaires in data collection methods. Overall analysis of data used a product moment technique.
Results from this study indicated that (a) Self-Control in martial arts members of PSHT and IKS PI Kera Sakti classified as moderate by percentage of 56%, (b) the level of aggressiveness to the members of martial arts of IKS PI Kera Sakti and PSHT was at the level of high category with a percentage 72.6%, and (c) There was a relationship between self-control with the aggressiveness of the members of martial arts of IKS PI Kera Sakti and PSHT with a coefficient of -0.787 obtained a negative value with a significant level of 0.000 ≤ 0,05 so that hypothesis was accepted.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
 Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia persilatan memang sangat identik dengan perilaku kekerasan atau agresi. Mulai dari latihan pencak silat yang tampak terlihat memberikan kesan penuh dengan kekerasan (agresive), meskipun norma yang berlaku didalamnya seperti itu. Resiko untuk melakukan tindak kekerasan memang lebih besar dapat terjadi jika kondisi orang tersebut adalah anggota suatu kelompok, dimana kekerasan fisik sebagai normanya, seperti dalam kelompok pencak silat. Namun tidak hanya kekerasan dalam bentuk fisik saja terjadi pada anggota pencak silat ini, melainkan kekerasan dalam bentuk verbal juga ada. Tak jarang masing-masing antar anggota pencak silat PSHT dan IKSPI Kera Sakti ini saling adu mulut (mencela, mencaci maki, memfitnah satu sama lain). Seperti yang sedikit dipaparkan oleh (AM) yang merupakan warga Persaudaraan Setia Hati Terate : “Aksi saling serang antara PSHT dengan IKS-PI Kera Sakti memang sudah dari dulu, kayak sudah menjadi tradisi. Tak jarang gesekan antar perguruan silat ini timbul karena hal sepele, seperti saling ejek, memakai atribut (kaos/jaket) diluar acara organisasi, dan akan berujung pada pertikaian besar karena secara otomatis sudah membawa nama organisasi dari masing-masing kelompok, tindakan seperti ini lebih sering terjadi dikalangan anggota yang masih muda dan masih tergolong tingkatan bawah, karena yang sudah dianggap tua baik dari sisi umur atau ilmunya biasanya 2 lebih bisa untuk mengontrol emosi, berfikir panjang, serta bertindak bijaksana. Sama halnya seperti anggota perguruan lain, saya (AM) juga merasa tidak terima jika ada yang mencela organisasi pencak silat saya, dan mengusik saudara seperguruan. Karena dalam sebuah organisasi pencak silat kita tidak hanya diajarkan untuk pintar pencak silat saja, tetapi juga memupuk rasa cinta-kasih pada sesama manusia umumnya dan pada saudara PSHT khususnya, apalagi PSHT ini kan berlandaskan Persaudaraan. Terkait intervensi dalam SH di daerah saya tidak ada, mungkin ada ya hanya 1 orang yang sangat menunjukkan permusuhan (ketidaksukaannya) pada KS, selain itu ya tidak ada.Tapi biasanya tindak kekerasan atau tawuran itu terjadi malah karena anak Kera Sakti yang mulai cari gara-gara terlebih dahulu. Kita tidak pernah bikin masalah duluan” Dari pemaparan saudara AM diatas menunjukkan bahwa sebenarnya perilaku agresif itu bisa muncul karena hal yang sepele, seperti saling mengejek antara anggota pencak silat IKS-PI Kera Sakti dengan PSHT, memakai atribut organisasi (kaos/jaket, dsb) saat diluar kegiatan organisasi (sehari-hari). AM pun juga merasa tidak ada intervensi dari pelatihnya dulu atau dari ajaran orgaisasinya untuk menghancurkan organisasi pencak silat lainnya, bahkan kerusuhan, tindak kekerasan, tawuran yang sering terjadi itu dipicu oleh anggota IKS-PI Kera Sakti terlebih dahulu, bukan anak PSHT nya. Jadi sebenarnya anggota PSHT ini juga dididik untuk saling cinta-kasih pada sesama manusia umumnya dan khususnya bagi sesama anggotanya. 3 Dalam ajaran di PSHT mental juga sangat ditekankan, kepercayaan pada diri sendiri, keyakinan dan keberanian pada setiap tindakan yang dirasa benar serta harus benar-benar ditanamkan pada diri sendiri untuk mengakui apabila bertindak kesalahan, serta bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan, seolah sudah menjadi dasar bagi para anggota karena dalam organisasi juga ada istilah atau pedoman “berani karena benar takut karena salah”. Saat latihan, para anggota tidak jarang dilatih secara keras dan disiplin. Apabila mengalami kesalahan atau terlihat ragu-ragu saat melakukan gerakan materi senam, jurus, teknik-an, mereka juga diberikan konsekuensi (tergantung kesepakatan dengan pelatih), dengan tujuan para anggota menjadi orang yang bertanggung jawab pada diri sendiri dan berani menerima konsekuensi dari apa yang dilakukan. Dari sisi keRohanian, setiap akan memulai atau selesai latihan atau saat ada kegiatankegiatan lainnya pasti dilakukan doa, para anggota dari awal ikut latihan juga sudah dianjurkan untuk berwudlu (bagi yang muslim) setiap sebelum latihan dimulai, puasa sunah senin-kamis, tidak meninggalkan sholat lima waktu dan diusahakan melakukan sholat-sholat sunah, serta minta izin (restu) orang tua jika ikut latihan karena ridlo Allah ridlo walidain, begitu menurut mereka, latihan olah nafas atau meditasi bagi anggota tingkat lanjut.
 Secara Mental para anggota pencak silat ini sudah pasti terlatih secara rutin dan baik, karena ketika latihan itu tidak hanya fisik saja tapi juga diuji nyali dan kepercayaan dirinya. Para anggota diajarkan untuk merasa tidak takut dengan sesama manusia (siapapun dia, baik lebih tinggi jabatannya, lebih besar postur badannya) dengan alasan karena semua manusia itu sama dihadapan Tuhan YME sedangkan yang membedakan itu adalah tingkat ke imanannya. Saat pengambilan sabuk (UKT) Ujian Kenaikan Tingkat dilakukan pada malam hari sampai pagi, dan pengambilan sabuk di lakukan di makam biasanya atau dengan cara sambung (adu fisik) dengan cara satu lawan satu atau lebih dari satu. Dan seorang pendekar itu juga diajarkan untuk tidak mudah panik jika menghadapi suatu permasalahan, karena diberi akal dan harus bisa berfikir panjang sebelum bertindak atau memutuskan sesuatu. Sedangkan menurut (IZ) salah seorang pendekar (sebutan untuk anggota IKS-PI Kera Sakti yang sudah menyandang tingkat atas) : “Aksi tawuran antar perguruannya dengan PSHT sudah menjadi culture dari dulu, dan organisasi harus tetap dikembangkan serta patut untuk diperjuangkan. Dia (IZ) menganggap bahwa adanya intervensi pada kalangan anggota PSHT, bahwasannya tidak suka jika ada latian IKS-PI Kera Sakti di daerah yang sama, dan harus dihancurkan (tidak boleh ada latian). IZ menganggap setiap organisasi punya hak untuk mengembangkan, termasuk perguruan silatnya. Dia merasa tidak pernah mencari masalah dengan anggota PSHT, tetapi jika ada konflik antar individu, misal “saya (IZ) punya masalah dengan anak PSHT dan ingin menyelesaikan masalah secara gentle (satu lawan satu) dan dibicarakan dengan baik-baik (musyawarah), tetapi yang anak PSHT tidak mau dan maunya 5 membawa saudara seperguruannya dengan jumlah yang banyak, hal seperti inilah yang tidak jarang berujung pada aksi tindak kekerasan atau tawuran”, karena merasa sama-sama anggota pencak silat secara otomatis nama organisasi ikut terbawa. Dengan semboyan yang dilontarkan oleh saudara IZ „harga diri-harga mati‟ jadi jika ada yang mengusik atau mengganggu dirinya atau teman seperguruan di pencak silat IKS-PI Kera Sakti harus dibela, dan diperjuangkan walau sampai titik darah penghabisan. Tak jarang juga ketika ada latian didatangi sama warga-warga Persaudaraan Setia Hati Terate, dan meminta untuk menutup latian IKS-PI Kera Sakti.Biasanya hal seperti ini diselesaikan dengan cara duel (adu fisik), jadi siapa yang kalah ya harus menutup latian di daerah tersebut”. Dari penjelasan saudara IZ sepertinya tindakan agresif memang sudah membudaya di kalangan anggota pencak silat umumnya dan khususnya diperguruan IKS-PI Kera Sakti dengan perguruan PSHT, dan bahkan tindakan agresivitas digunakan untuk mempertahankan eksistensi dari masing-masing perguruan silat. Adu fisik sepertinya memang dijadikan acuan untuk memperlihatkan kekuatan masingmasing anggota pencak silat, serta juga dijadikan solusi untuk penyelesaian masalah antar anggota masing-masing perguruan. Menurut saudara IZ sendiri memang tidak pernah membuat masalah terlebih dahulu dengan anggota pencak silat PSHT, tapi dari anggota PSHT itu yang mencari masalah dulu. 6 Sedangkan pada IKS-PI Kera Sakti sendiri sebenarnya juga tidak jauh berbeda, dari ajaran pendiri yang sekaligus juga guru besarnya Bapak Totong Kiemdarto mengajarkan silat monyet dan kerohanian untuk memantapkan fisik dan iman siswa dan siswi yang selaras dengan tujuan pembangunan nasional yaitu mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya, yang sehat lahir maupun batin dan berjiwa Pancasila. Dalam ajaran IKS-PI Kera Sakti ini juga diajarkan untuk tidak pernah mengolok-olok apalagi menjelek-jelekkan perguruan lain. Bila merasa tidak senang terhadap seseorang yang kebetulan anggota perguruan lain, janganlah dibenci perguruannya. Karena pada dasarnya, kita semua bersaudara. Merah – Putih adalah Bumi Pertiwi dimana kita hidup dan mati. Bantulah mereka, bila mereka membutuhkan bantuan kita.Perbedaan perguruan janganlah dijadikan pemicu untuk memecah-belah persatuan Indonesia raya. Dari segi mentalnya juga tidak jauh berbeda, ketika latihan fisik yang diutamakan tapi pelatih juga tidak melupakan bahwa mental seorang pendekar itu juga perlu, jadi tak jarang dalam latihan itu dibentak‟i, diolok-olok, dipukuli, dengan tujuan agar mentalnya bagus. Sudah seharusnya tertanam pada anggota IKS-PI Kera Sakti untuk belajar agama secara mendalam sesuai ajaran agama masingmasing.Karena pada dasarnya, kerohanian di IKS diarahkan agar para Warga atau Pendekarnya lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Perguruan IKS tidak pernah mengajarkan agar Warga atau 7 Pendekarnya menjadi jagoan apalagi preman, tetapi mengajarkan tentang indahnya persaudaraan atau kekeluargaan dan indahnya hidup bila dihiasi dengan sinar-sinar budi pekerti yang luhur. Dari hasil wawancara dengan ke dua anggota pencak silat diatas, dapat dilihat bahwa masing-masing anggota pencak silat, baik PSHT maupun IKS-PI Kera Sakti tidak ada yang merasa memulai mencari gara-gara terlebih dahulu. Dengan sama-sama merasa paling benar sendiri, meskipun sampai kapan saja tidak akan diketahui siapa sebenarnya yang menjadi pemicu awal tindak kekerasan (agresif) antar anggota pencak silat ini. Dari hal ini, mulai menarik minat penulis untuk melakukan penelitian pada masing-masing anggota pencak silat PSHT dan IKS-PI Kera Sakti. Sehingga dapat diketahui anggota pencak silat manakah sebenarnya yang memiliki pengontrolan diri lebih rendah, dan apakah ada hubungan yang negatif antara kontrol diri dengan agreivitas pada masing-masing anggota kelompok pencak silat PSHT dan IKS PI Kera Sakti. Seorang pendekar silat sendiri sebenarnya dididik untuk menjadi manusia yang memiliki budi pekerti luhur, menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelum mengikuti pencak silat dan sesudah menjadi anggota dari sebuah perguruan pencak silat. Sehingga sangat disayangkan apabila seorang anggota pencak silat malah membuat keributan di lingkungan masyarakat. Meskipun tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dalam pencak silat sangat erat hubungannya dengan tindak 8 kekerasan atau agresif, dengan artian saat berlatih atau saat pertandingan memang membutuhkan sikap agresif untuk menunjukkan pertahanan dirinya.
Akan tetapi tindakan agresif seperti ini tidak sepatutnya digunakan diluar kegiatan pencak silat, karena akan banyak pihak yang dirugikan termasuk nama baik dari organisasi pencak silat itu sendiri dan kenyamanan, serta keamanan warga masyarakat. Menurut Sarlito (2005) dalam dalam (Nurfaujiyanti, 2010) salah satu faktor yang bisa dikendalikan untuk mengurangi kemungkinan kekerasan adalah secara teknis, yaitu peningkatan pengendalian. Padahal para anggota pencak silat juga digembleng mental dan rohaninya, tapi entah kenapa masih belum bisa untuk mengontrol emosinya ketika mengetahui kelompok pencak silat lainnya mendirikan latian dan sebagainya. Secara umum Brehm & Kassin dalam Susetyo (1999) mendefinisikan agesivitas sendiri sebagai perilaku yang dimaksut untuk melukai orang lain. Weaner dalam Sears, Freedman & Peplau (1991) menyatakan bahwa amarah akan muncul bila serangan atau frustasi yang dialami dianggap sebagai akibat pengendalian internal dan pribadi orang lain. Hal ini dapat diminimalisir dengan orientasi religius pada faktor kemampuan mengontrol diri. DeWall, Baumeisteir, Stillman, dan Gailliot (2007) mengadakan penelitian kepada beberapa mahasiswa di Amerika, yang hasilnya menyatakan, regulasi diri yang kurang efektif dapat menimbulkan perilaku agresif, 9 sedangkan mereka yang memiliki regulasi diri efektif akan lebih mampu mengendalikan dirinya. Baumeisteir, Gailliot, Dewall, Nathan, dan Oaten (2006) dalam penelitiannya juga menghasilkan hal yang sama, dengan dinyatakan bahwa pengendalian diri yang teratur dapat menghasilkan regulasi diri yang baik, sehingga lebih mampu untuk memunculkan perilaku yang dianggap sesuai. Secara teoritik agresi merupakan perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis (Anderson & Huesman, 2007).
Aspek terpenting dari agresif adalah maksud untuk mencelakai dan secara sosial tidak dapat diterima (Gamayanti, dkk 2006).Berkaitan dengan agresi Anderson Bushman (2000) menemukan bahwa permainan yang bernuansa kekerasan terdapat potensi agresifitas di dalamnya. Sedangkan Young (2009), menunjukkan bukti terkait permainan online yang sedang digandrungi oleh remaja, menurut penemuan Young, game online yang bercorak agresiv berkontribusi terhadap kecenderungan agresiv pada remaja. Selain temuan Young tersebut, Ando, Asakura, Ando & Morton 2007 menemukan bahwa perilaku agresif pada manusia dibentuk oleh pengalaman sosial. Tidak heran sebenarnya jika anggota pencak silat ini berperilaku agresif, tapi tidak untuk hal yang menyimpang dari norma masyarakat. 10 Perilaku agresif (kekerasan) memang tidak bisa dihilangkan begitu saja dari kehidupan ini karena sudah menjadi salah satu fitrah manusia dan dapat berkembang karena adanya stimulus, baik melalui pengkondisian maupun modeling sebagai stimulusnya. Berkowitz (1993) mendefinisikan agresifitas sebagai bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti seseorang, baik secara fisik maupun mental (dalam Sobur, 2009: 432). Gottfredson dan Hirschi (1990) yang menyatakan bahwa individu yang memiliki kontrol diri rendah cenderung bertindak impulsive, lebih memilih tugas sederhana dan melibatkan kemampuan fisik, egois, senang mengambil resiko, dan mudah kehilangan kendali emosi karena mudah frustasi. Individu dalam karakteristik ini lebih mungkin terlibat dalam hal kriminal dan perbuatan menyimpang daripada mereka yang memiliki tingkat kontrol diri yang tinggi. Seperti Penelitian yang dilakukan oleh Nurfaujiyanti 2010 memberikan hasil bahwa ada hubungan yang negatif yang signifikan antara pengendalian diri dengan agresivitas anak jalanan, Hubungan Pengendalian Diri (Self-Control) dengan Agresivitas Anak Jalanan. Moyer dan Susetyo (1999) mengemukakan bahwa agresivitas berkaitan dengan kurangnya kontrol terhadap emosi dalam diri individu. Agresivitas dapat muncul dari berbagai macam kelompok: mulai dari kelompok informal dan tanpa struktur, seperti kelompok anak sekolah yang terlibat tawuran, kelompok masa 11 yang berkelahi dikarenakan kepentingan tertentu, termasuk kelompok anggota pencak silat. Dari sedikit pemaparan diatas dapat diambil benang merah bahwa dunia persilatan memang kental sekali dengan tindak agresif karena memang norma yang berlaku seperti itu adanya. Tetapi tidak hanya secara fisik atau pencaknya saja yang dilatih akan tetapi dari segi mental, kerohanian, dan upanya untuk bisa mengontrol emosi juga ada dalam pencak silat. Seperti saat peneliti melakukan observasi awal, pelatih dari pencak silat juga memberikan petuahpetuahnya mengenai bagaimana seorang pendekar silat itu sebenarnya, tidak hanya secara fisik saja kita ini unggul, tetapi dalam mengontrol amarah dan emosi juga harus bisa. Apabila tidak mengenai prinsip, anggota silat juga diminta tidak terlalu mudah terprovokasi jika ada yang memancing amarah mereka.
Tapi faktanya dilapangan perilaku agresivitas, aksi tawuran, dan saling menganiaya yang dilakukan antara anggota pencak silat PSHT dengan anggota IKS PI Kera Sakti masih kerap terjadi. Seperti waktu lalu yang terjadi di daerah Jombang Jawa Timur (Senin, 14.11.2011) “Ratusan orang dari dua perguruan pencak silat di Jawa Timur terlibat tawuran massal. Tawuran terjadi di jalan raya Kabuh Jombang, Minggu siang.Tawuran terjadi saat anggota perguruan silat Kera Sakti pulang dari pengukuhan anggota baru di Madiun dan diserang kelompok perguruan silat Setia Hati Teratai. Akibatnya 6 12 orang pendekar terluka terkena sabetan senjata tajam”. http://m.indosiar.com/fokus/dua-perguruan-silat-terlibat tawuran_92752.html. Hal serupa juga pernah terjadi di daerah Bojonegoro Jawa Timur, Rabu 13 Nopember 2013 “beberapa anggota pencak silat diamankan pihak kepolisian karena terlibat tindak pengeroyokan” meskipun berbeda kasus tapi hal ini juga termasuk tindakan kekerasan, padahal dalam setiap perguruan sudah diajarkan untuk tidak mudah terpancing amarah dan emosinya, untuk saling memupuk cinta kasih pada sesama manusia umumnya, untuk tidak menggunakan kemampuan pencak silat disembarang tempat, dan juga tidak mudah terprovokasi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
 Dari sekilas pemaparan di atas membuat peneliti berminat untuk melakukan penelitian mengenai Hubungan antara Kontrol Diri dengan Agresivitas pada Anggota Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate dan IKS-PI Kera Sakti.Selain itu, penelitian tentang kontrol diri dan agresivitas masih belum pernah peneliti ketahui ada yang dilakukan pada anggota pencak silat. Sehingga hal inilah yang menarik minat peneliti untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara kontrol diri dengan agresivitas pada anggota pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate dan IKS-PI Kera Sakti.
 1.2 Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
 1. Bagaimana tingkat kontrol diri pada anggota Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan IKS.PI KERA SAKTI (KS)?
2. Bagaimana tingkat agresivitas pada anggota Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan IKS.PI KERA SAKTI (KS)?
3. Apakah ada hubungan antara kontrol diri dengan agresivitas pada anggota Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan IKS.PI KERA SAKTI (KS)?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui tingkat kontrol diri pada anggota Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan IKS.PI KERA SAKTI (KS)?
2. Untuk Mengetahui tingkat agresivitas pada anggota Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan IKS.PI KERA SAKTI (KS)?
3. Apakah ada hubungan antara kontrol diri dengan agresivitas pada anggota Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan IKS.PI KERA SAKTI (KS)?
 1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1.      Manfaat Teoritis
 Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat dan menambah khasanah ilmu pengetahuan Psikologi pada umumnya serta Psikologi Sosial dan Psikologi sKepribadian khususnya, sekaligus bisa dijadikan sebagai acuan tambahan untuk penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
 a. Sebagai bahan acuan untuk penanganan konflik pada kelompok perguruan silat umumnya khususnya pada PSHT dan IKS PI Kera Sakti. b. Harapanya hasil penelitian ini akan bisa membantu menyelesaikan konflik yang menahun dalam perguruan silat, serta menjadi pola-pola resolusi konflik pada konflik yang mempunyai gejala yang sama. 


Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Hubungan antara kontrol diri dengan agresivitas pada anggota pencak silat: Study pada PSHT dan IKS PI Kera Sakti Bojonegoro" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment