Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Saturday, August 19, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan adversity quotient dan emotional intelligence dengan prokrastinasi mengerjakan tugas akhir pada mahasiswa jurusan teknik arsitektur di UIN Mailiki Malang

Abstract

INDONESIA:
Setiap jenjang pendidikan selalu melaui tahap ujian sebagai tolok ukur hasil dari proses belajar, namun berbeda dengan jenjang pendidikan yang lain, pada tingkat Universitas mahasiswa yang akan dinyatakan lulus diwajibkan untuk membuat suatu karya ilmiah sebagai hasil akhir tahapan proses belajar mereka di tingkat Universitas. Tidak terkecuali pada mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur, disamping tugas-tugas akademik yang dirasa cukup banyak, mereka juga dituntut untuk membuat project sekaligus karya ilmiah berupa tugas akhir sebagai syarat kelulusan pada jenjang pendidikan tingkat strata 1 ini. Dalam mengerjakan tugas akhir ini tidak jarang mahasiswa melakukan prokrastinasi yang dapat menghambat cepat terselesaikannya tugas akhir mereka. Prokrastinasi dapat dipengaruhi oleh faktor adversity quotient dan emotional intelligence seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan adversity quotient dan emotional intelligence dengan prokrastinasi mengerjakan tugas akhir. Penelitian ini diharapkan mampu mengurangi angka prokrastinasi dengan mengasah adversity quotient dan emotional intelligence yang telah dimiliki sebelumnya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian korelasi. Subyek yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang yang sedang mengerjakan Tugas Akhir dengan jumlah responden 32 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah Sampling Jenuh, sedangkan metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala adversity quotient, skala emotional intelligence dan skala prokrastinasi.
Hasil penelitian menunujukkan bahwa diketahui 28% atau 9 mahasiswa mempunyai tingkat adversity quotient yang tinggi dan 72% atau 23 mahasiswa mempunyai tingkat adversity quotient yang sedang. Selanjutnya, diketahui 53% atau 17 mahasiswa mempunyai tingkat emotional intelligence yang tinggi dan 47% atau 15 mahasiswa mempunyai tingkat emotional intelligence yang sedang. Terakhir, diketahui 84% atau 27 mahasiswa mempunyai tingkat prokrastinasi mengerjakan tugas akhir yang sedang dan 16% atau 5 mahasiswa mempunyai tingkat prokrastinasi mengerjakan tugas akhir yang rendah. Hasil analisis menunjukkan ada pengaruh yang sangat signifikan antara variabel adversity quotient dengan prokrastinasi, namun tidak adanya hubungan yang signifikan antara variabel emotional intelligence dengan prokrastinasi
ENGLISH:
Each level of education is always through the test phase as a measure of the results of the learning process, but in different with other levels of education, on the level of university students who would pass are required to make a scientific work as a result of the final stages of their learning at the university level. No exception for students of Architecture Department, besides the academic tasks that feels quite a lot, they are also required to make the project and scientific work in the form of the final project as a graduation requirement at this level of stratum 1. In this final task, the students usually do procrastination that can impede the rapid completion of their final project. Procrastination can be influenced by adversity quotient and emotional intelligence factors. This study aims to determine the relationship of adversity quotient and emotional intelligence with procrastination of final task. This research is expected to reduce the number of procrastination to hone adversity quotient and emotional intelligence that has been previously owned.
This study uses a quantitative approach and the type of correlation studies. The subjects of this study are all of the Architecture Department students of UIN Maliki who is working on final project the number of respondents are 32 students. The sampling technique in this research is saturated sample, while the data collection method uses the scale of adversity quotient, emotional intelligence and the procrastination.
Results of the study indicates that 28% or 9 students have a high level of adversity quotient and 72% or 23 students have moderate level of adversity quotient. Furthermore, there are 53% or 17 students have a high level of emotional intelligence and 47% or 15 students have moderate level of emotional intelligence. And the last, there are 84% or 27 students have moderate level of procrastination and 16% or 5 students have low level of procrastination in doing the final tasks. The analysis shows that there is significant effect among variables of adversity quotient with procrastination, but there is no significant relationship between the variables of emotional intelligence with procrastination.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
 Setiap jenjang pendidikan selalu mengadakan sebuah ujian untuk melihat seberapa besar kemampuan dan pemahaman peserta didik. Dari masa Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas hingga pada jenjang pendidikan di Universitas. Ujian yang dilakukan di lembaga pendidikan dilakukan dalam rangka menciptakan alumnialumni yang berkualitas dan berkompeten di bidangnya masing-masing. Namun seringkali para siswa maupun mahasiswa menganggapnya sebagai hal yang berbeda. Menurut sebagian peserta didik ujian dirasakan sebagai beban bagi mereka. Sehingga sering kali mereka lebih memilih untuk menghindari atau menunda ujian yang diberikan kepada mereka. Dalam masa perkuliahan ujian kelulusan ditentukan oleh skripsi atau tugas akhir yang telah mereka kerjakan dalam beberapa waktu terakhir sebelum mereka lulus. Wirartha (2006, dalam Catrunada,2012) mengatakan bahwa skripsi adalah karya tulis ilmiah seorang mahasiswa dalam menyelesaikan program S1. Skripsi tersebut adalah bukti kemampuan akademik mahasiswa bersangkutan dalam penelitian dengan topik yang sesuai dengan bidang studinya. Skripsi disusun dan dipertahankan untuk mencapai gelar sarjana strata satu. 2 Selama proses penyusunan skripsi menurut Jani (dalam Utami & Karyanta, tanpa tahun) sebagian mahasiswa mengalami hambatan dan kesulitan baik dari faktor internal dari dalam diri mahasiswa yang bersangkutan seperti, tidak mempunyai kemampuan dalam menulis, kurangnya kemampuan akademis yang memadai, kurangnya ketertarikan mahasiswa dalam penelitian, tidak terbiasa menulis karyailmiah dan kurang terbiasa dengan sistem kerja terjadwal dengan pengaturan waktu terbatas, maupun dari faktor eksternal di luar diri manusia seperti kesulitan mencari literatur, dana yang terbatas dan masalah dengan dosen pembimbing skripsi. Hal tersebut juga akan dirasakan oleh mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang yang tengah menjalani masa perkuliahan di tingkat akhir. Tugas Akhir atau TA merupakan hal yang menjadi acuan bagi lembaga khususnya jurusan Teknik Arsitektur untuk melihat seberapa kemampuan dan pemahaman mahasiswa tentang bidang yang mereka tekuni sekarang. Menurut hasil observasi dan wawancara pada tanggal 31 November 2014 yang telah dilakukan oleh peneliti bahwa sistem kebijakan jurusan kepada mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang terkait acuan kelulusan atau wisuda yakni dengan mengerjakan tugas akhir. Tugas akhir tersebut sama halnya dengan skripsi pada jurusan-jurusan lain dimana tugas akhir ini dapat dikerjakan mahasiswa yang telah menempuh dan lulus pada mata kuliah Metode Penelitian dan mata kuliah 3 Perencanaan Arsitektur. Tugas akhir disini dikerjakan berupa pengerjaan perencanaan pembuatan desain bangunan yang dikerjakan mulai dari semester 5 dan hal tersebut harus dikerjakan secara runtun sesuai dengan ketentuan universitas apabila tidak dikerjakan dengan baikpada satu tahap maka akan mengganggu tahap berikutnya, jadi pengerjaan tugas akhir sendiri memerlukan waktu yang tidak sedikit hingga bisa selesai sedangkan setiap mahasiswa harus bisa lulus pada mata kuliah tersebut, apabila tidak, maka pengerjaan tugas akhir ini juga akan mengalami penundaan. Hal tersebut juga berdampak pada tertundanya kelulusan atau wisuda. Lebih lanjut, dari hasil observasi dan wawancara peneliti menunjukkan mahasiswa pada Jurusan Teknik Arsitektur secara kuantitas masih banyak yang belum lulus sesuai dengan target waktu secara umum yakni sekitar 8 semester. Sebagian besar mahasiswa yang belum lulus tersebut terkendala pada pengerjaan tugas akhir. Hal tersebut terjadi karena berbagai faktor, yakni faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal misalnya sulitnya menemui dosen pembimbing, pengaruh teman yang juga belum mengerjakan atau lebih fokus pada kegiatan lain. Sedangkan untuk faktor internal misalnya malas atau penundaan pekerjaan (observasi dan wawancara dengan salah satu mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang pada tanggal 31 November 2015). Idealnya mahasiswa selalu berperan aktif dan rajin dalam masa perkuliahannya. Namun pada faktanya mereka yang berada pada semester 4 akhir menjadi tidak fokus pada tujuan awalnya yakni segera lulus dan wisuda.
Masalah pengaturan waktu sering menjadi kendala tersendiri dalam membagi waktu dengan baik. Selain itu rutinitas yang tidak berubah dan cenderung monoton dapat menyebabkan kegiatan untuk segera menyelesaikan tugas menjadi tertunda, kemudian adanya kegiatan gangguan lain yang mungkin lebih menyenangkan dibandingkan mengerjakan tugas-tugas akademik dari dosen (Mayasari,Dewi,Weni, 2010). Rutinitas-rutinitas yang cenderung monoton yang sering dialami Mahasiswa Teknik Arsitektur di UIN Maliki Malang adalah pengerjaan tugas makalah pada beberapa mata kuliah yang hal itu dilakukan pada setiap semester, selain itu tugas-tugas khusus mahasiswa Teknik Arsitektur seperti membuat desain, menggambar bangunan, asistensi dan sebagainya membuat mahasiswa Teknik Arsitektur kadang merasa jenuh yang kemudian berdampak pada penundaan pekerjaan atau prokrastinasi. Hal-hal tersebut memungkinkan membuat mahasiswa mengalihkan fokus perhatiannya pada kegiatan lain yang mereka anggap lebih menyenangkan misalnya bermaian game, chatting pada media sosial atau sekedar jalanjalan (wawancara dengan salah satu mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang pada tanggal 31 Desember 2014) Namun hal tersebut tidak diimbangi dengan semangat dan kerja keras dalam mengerjakan tugas. Dalam kesehariannya kebanyakan mahasiswa Teknik Arsitektur tidak jarang menunda-nunda mengerjakan 5 tugas. Padahal hampir setiap minggu mereka dituntut untuk segera menyelesaikan tugas dari dosen yang terbilang tidak mudah. Hal tersebutlah yang dinamakan prokrastinasi akademik. Menurut Solomon dan Rothblum Prokrastinasi adalah suatu kecenderungan untuk menunda dalam memulai maupun menyelesaikan kinerja secara keseluruhan untuk melakukan aktivitas lain yang tidak berguna sehingga kinerja menjadi terhambat (dalam Aini & Iranita,2011). Dari hasil wawancara pada salah satu mahasiswa Teknik Arsitektur semester akhir dapat diketahui bahwa hampir semua mahasiswa melakukan penundaan pengerjaan tugas. Alasan yang mereka katakan bervariasi, salah satunya karena mereka terlalu jenuh pada tugas-tugas mereka selama ini, selain itu tugas-tugas mereka memerlukan ide tentang konsep gambar, maka ide tersebut biasanya tidak langsung muncul begitu saja, sehingga memungkinkan mereka menunda mengerjakan tugas mereka, hal tersebut juga didukung oleh lingkungan seangkatan mereka yang sama-sama belum mengerjakan dan ditambah tingkat hubungan emosional mereka yang tinggi semakin meningkatkan prokrastinasi akademik mereka (Wawancara dengan mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang, 31 November 2014). Hal tersebut didukung oleh pernyataan Beswick, Rothblum, dan Mann (1988) menemukan bahwa 46% mahasiswa selalu atau hampir selalu berprokrastinasi dalam pengerjaan tugas penulisan, 35% mahasiswa mengaku bahwa pengerjaan tugas tersebut selalu atau hampir selalu 6 menimbulkan masalah, dan sekitar 62% mahasiswa berniat menurunkan kecenderungan prokrastinasi mereka dalam mengerjakan tugas (dalam Huda & Johan,2012). Penelitian oleh Prabowo (2009) tentang Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa Fakultas Teknik Arsitektur dan Desain Universitas Katolik Soegijapranata Semarang ditinjau dari Konformitas. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa terdapat hubungan positif antara Prokrastinasi Akademik dengan Konformitas.
Artinya semakin tinggi konformitas maka akan semakin tinggi prokrastinasi pada mahasiswa teknik arsitektur dan sebaliknya. Penelitian yang dilakukan oleh Mujiyah (2001) mengungkap kendala-kendala yang dihadapi mahasiswa dalam menyusun skripsi yaitu malas, motivasi rendah, takut bertemu dosen pembimbing, dosen pembimbing yang sulit ditemui, perbedaan persepsi antara pembimbing I dan ke II, kurang nya refrensi buku, bingung dalam mengembangkan teori, dan lain-lain (dalam Puspitasari,2013). Pada penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa kebiasaan prokrastinasi berpengaruh pada bagaimana seseorang mampu untuk mengontrol dirinya. Menurut penelitian yang telah dialkukan oleh Mugista (2014) tentang prokrastinasi mahasiswa mengerjakan tugas perkuliahan diketahui bahwa kontrol diri mahasiswa berbanding terbalik dengan prokrastinasi hal ini berarti semakin tinggi kontrol diri mahasiswa maka prokrastinasi yang dilakukan rendah dan sebaliknya. 7 Sejalan dengan hasil penelitian diatas, penelitian yang dilakukan oleh Aini & Iranita (2002) juga menunjukkan bahwa semakin tinggi kontrol diri maka prokrastinasi yang dilakukan juga semakin rendah. Dengan kontrol diri yang tinggi mahasiswa dapat mencegah penundaan pengerjaan skripsi. Individu tersebut dapat mengatur stimulusnya, sehingga dapat mengetahui bagaimana dan kapan suatu stimulus yang tidak dikehendaki dan mampu menghapai stimulus tersebut. Kemampuannya dalam menafsirkan peristiwa atau kejadian apa yang berhubungan dengan mengerjakan skripsi dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat dalam setiap masalah yang berhubungan dengan penyelesaian skripsi juga tinggi, dan sebaliknya. Pada peneitian lain yang telah dilakukan Putri, Sri & Aditya (2012) tentang hubungan self efficacy dengan prokrastinasi akademik diperoleh hasil bahwa ada hubungan negative antara self efficacy dengan prokrastinasi akademik yang berarti bahwa semakin tinggi self efficacy maka tingkat prokrastinasi akademik yang dilakukan akan semakin rendah begitu juga sebaliknya. Selanjutnya pada penelitian lain yakni tentang hubungan optimisme yang tidak realistik tentang masa depan dengan prokrastinasi saat menyusun skripsi pada mahasiswa didapatkan bahwa terdapat hubungan positif antara optomisme yang tidak realistik tentang masa depan dengan prokrastinasi saat menyusun skripsi pada mahasiswa. Optimisme yang tidak realistik akan berpengaruh pada melemahnya fungsi 8 kognitif mahasiswa sehingga akan berdampak pula pada pemanfaatan waktu yang buruk yang dapat menyebabkan tingginya angka prokrastinasi (Hartono & Santi, 2008). Prokrastinasi mengerjakan tugas akhir pada mahasiswa seringkali berdampak pada aspek psikologis mahasiswa yakni tentang stress. Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Melisa dan Astrini ditemukan bahwa ketika seseorang melakukan prokrastinasi yang tinggi maka tingkat stresnya juga tinggi (Melisa dan Astrini, 2011). Oleh karena itu dibutuhkan kemampuan atau kecerdasan untuk mengevaluasi diri terhadap hambatan atau kesulitan yang dihadapi sehingga mampu mengatasinya dengan baik dalam istilah di psikologi disebut aversity quotient yang merupakan kemampuan seseorang untuk mampu bertahan menghadapi kesulitan, mampu mengatasi kesulitan tersebut dan mampu melampaui harapan-harapan atas kinerja dan potensinya (Stoltz,2000). Dengan memiliki adversity quotient yang tinggi seseorang diharapkan mampu untuk menghadapi hambatan atau kesulitan terutama ketika mengerjakan tugas akhir sehingga prokrastinasi dapat meminimalisir prokrastinasi. Penelitian yang membahas tentang Hubungan Adversity quotient dengan Prestasi Belajar Siswa SMUN 102 Jakarta Timur oleh Hasanah (2010) menunjukkan bahwa Adversity quotient tidak mempengaruhi secara langsung prestasi siswa. Hal tersebut ada berbagai macam faktor yang 9 tidak diikutsertakan dalam penelitian ini, misalnya seperti self eficacy, kecerdasan intelektual dan motivasi siswa (Hasanah, Hariatussani, 2010). Lebih lanjut, penelitian lain yang membahas tentang adversity quotient adalah penelitian yang dilakukan oleh Wulandari dan Indah (2007) tentang Hubungan adversity quotient dan problem solving pada remaja pada tahun 2007. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara adversity quotient dengan problem solving pada remaja, hal ini berarti bahwa semakin tinggi adversity quotient seseorang maka kemampuan problem solving pada subyek juga akan semakin besar. Penelitian Puspitasari (2013) tentang adversity quotient dengan kecemasan mengerjakan skripsi pada mahasiswa meyimpulkan bahwa semakin tinggi adversity quotient maka kecemasan yang dirasakan akan semakin rendah. Hal ini berarti kemampuan seseorang dalam mengahadapi kesulitan sangat berpengaruh pada kecemasan yang dialami seseorang.
Kebiasaan prokrastinasi pada mahasiswa dalam mengerjakan tugas akhir sering dikaitkan dengan bahwa mahasiswa mengeluh tentang kesulitan yang mereka hadapi. Kesulitan atau hambatan yang dimaksud disini adalah misalanya penemuan ide tentang konsep tugas atau karena mereka menemukan suatu aktivitas yang lebih menyenangkan dibanding mengerjakan tugas. Oleh karena itu setiap mahasiswa memerlukan daya juang untuk menyelesaikan tugas akhir sehingga mereka bisa menghadapi kesulitan yang ada tanpa perlu melakukan prokrastinasi pada tugas akhir mereka. 10 Pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Aktaria (2014) dengan judul penelitian Hubungan antara Adversity Quotient dengan Prokrastinasi dalam Mengerjakan Skripsi pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran menunjukkan bahawa tidak ada hubungan yang signifikan antara adversity quotient dengan Prokrastinnasi dalam mengerjakan skripsi pada mahasiswa. Namun dalam penelitian lain yang membahas hal yang sama yakni terkait Hubungan Adversity Quotient dengan Prokrastinasi Akademik dalam mengerjakan Skripsi pada Mahasiswa yang dilakukan oleh Kardila menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara adversity quotient dengan prokrastinasi akademik dalam mengerjakan skripsi dengan menggunakan analisis product moment dari Pearson dengan bantuan SPSS (Kardila,2011). Menurut Stoltz (2000) adversity quotient berakar pada bagaimana seseorang merasakan dan menghubungkan dengan tantangan-tantangan dalam hidup. Situasi sulit dan tantangan dalam hidup dapat diatasi dengan adversity quotient yang baik. Karena jika seseorang memiliki adversity quotient yang tinggi akan menjadikan seseorang memiliki kegigihan dalam hidup dan tidak mudah menyerah. Seseorang yang memiliki adversity quotient yang tinggi ia akan memiliki kekebalan atas ketidak mampuan dirinya menghadapai masalah dan tidak akan mudah terjebak dalam kondisi keputusasaan. Namun sebaliknya, jika seseorang memiliki 11 adversity quotient yang rendah maka seseorang akan mudah rapuh dan menyerah pada keadaan. Terkait dengan hal tersebut, dari tugas-tugas yang dibebankan pada mahasiswa memungkinkan para mahasiswa untuk selalu mengerjakan tugas secara bersama-sama sehingga menyebabkan mereka akrab (wawancara dengan salah satu mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang). Keakraban tersebut memunculkan relasi dengan lingkungan yang kemudian menjadi salah satu faktor dari kecerdasan emosi sehingga memungkinkan meningkatkan kecerdasan emosi bagi mahasiswa. Seseorang yang dapat mengendalikan emosinya dengan baik, tidak akan mengalami pertarungan batin yang merampas kemampuan untuk berkonsentrasi pada tugas atau pekerjaannya dan sebaliknya bila seseorang tidak dapat mengendalikan emosinya dengan baik sehingga konsentrasi terhadap pengerjaan tugas berkurang maka akan menyebabkan prokrastinasi atau penundaan. Dengan kata lain emotional intelligence seseorang merupakan salah satu kemampuan yang mempengaruhi keberhasilan seseorang. Memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dapat berpengaruh pada bagaimana seseorang mengendalikan emosinya dengan baik, sehingga dapat menjalankan tugas dengan baik (Devina,2011). Chaplin (2011) mendefinisikan kecerdasan (intelligence) adalah: 1) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif; 2) kemampuan menggunakan konsep abstrak 12 secara efektif; 3) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali. Salovey dan Mayer (1997, dalam Morgan, 2003) mendefinisikan bahwa kecerdasan emosi melibatkan kemampuan untuk mengetahui, menilai dan mengeksperikan emosi secara akurat; kemampuan untuk menggunakan emosi untuk berpikir; kemampuan untuk memahami dan memiliki pengetahuan tentang emosi; serta kemampuan untuk mengelola emosi untuk mengembangkan diri. Dari beberapa penjelasan tentang kecerdasan emosi diatas dapat diketahui bahwa bila seseorang mampu untuk mengendalikan emosi, menggunakan emosi dengan tepat sehingga mampu membaca kesulitan maka bila dihubungkan dengan prokrastinasi dapat mengurangi hal tersebut. Beberapa penelitian telah menunjukkan pentingnya seseorang memiliki kecerdasan emosional. Hasil penelitian Gottman (1997) menunjukkan fakta bahwa pentingnya kecerdasan emosional dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan mengaplikasikan kecerdasan emosional dalam kehidupan akan berdampak positif baik dalam kesehatan fisik, keberhasilan akademis, kemudahan dalam membina hubungan dengan orang lain, dan meningkatkan resiliensi. Patton (1998) mengatakan bahwa individu yang memiliki kecerdasan emosional akan mampu menghadapi tantangan dan mempertahankan semangat hidup (Setyowati, Sri & Dian, 2009). 13 Penelitian lain menyebutkan bahwa kecerdasan emosi berhubungan dengan prestasi akademik siswa kelas II SMU Lab School Jakarta Timur. Dimana pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan emosional yang dimiliki seseorang tinggi akan berpengaruh pada hasil prestasi yang didapat selama belajar (Wahyuningsih,2004). Selanjutnya, hasil penelitian tentang hubungan kecerdasan emosi dengan resiliensi pada penghuni rumah damai menunjukkan bahwa aspek kecerdasan emosional berpengaruh pada aspek resiliensi. Dalam penelitian tersebut didapatkan bahwa aspek kecedasan emosional menyumbang 64,1% pada aspek resiliensi (Setyowati, Sri & Dian,2009).
Beberapa penelitian telah membahas tentang hubungan kecerdasan emosional dengan prokrastinasi akademik. Seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Hapsari (2013) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kecerdasan emosional dengan prokrastinasi akademik bahwa semakin siswa memiliki kecerdasan emosional yang tinggi maka tingkat prokarastinasinya akan rendah. Kecerdasan emosional membantu seseorang terutama pelajar dalam mengendalikan perilaku, mengontrol diri, menyesuaikan diri dalam proses belajar sehingga mampu menyelesaikan setiap tugas belajarnya dan terhindar dari perilaku prokrastinasi akademik. 14 Sejalan dengan penelitian diatas penelitian tentang hubungan kecerdasan emosional dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang dialkukan oleh Devina (2011) mengungkapkan bahwa ketika seseorang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi maka tingkat prokrastinasi yang dilakukan akan semakin rendah. Seseorang yang tidak memiliki kecerdasan emosional yang baik maka dia tidak mudah mengendalikan emosinya dengan baik pula, sehinga akan menimbulkan perang batin yang berpengaruh pada kemampuan untuk berkonsentrasi pada tugas dan pekerjaannya sehingga kecerdasan emosional menjadi hal yang penting untuk menghindari prokrastinasi. Dari berbagai pemaparan yang telah dijabarkan diatas serta dari penelitian-penelitian terdahulu yang telah dilakukan menunujukkan terdapat ketidak konsistenan dalam hasil analisis tentang hubungan adversity quotient dan emotional intelligence terhadap prokrastinasi. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan antara adversity quotient dan emotional intelligence terhadap prokrastinasi.mengerjakan tugas akhir pada Mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang ketika menghadapi tugas akhir. Adapaun perbedaan penelitian ini dengan yang sebelumnya adalah pada penelitian ini subyek yang ditentukan lebih spesifik sehingga membuat hasil penelitian lebih mudah dipahami. Selain itu penelitian ini juga menggunakan tiga variabel sekaligus sehingga berbeda dengan penelitian sebelumnya.
 B. Rumusan Masalah
 1. Bagaimana tingkat adversity quotient mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang?
2. Bagaimana tingkat emotional Intelligence mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang?
 3. Bagaimana tingkat prokrastinasi mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang? 4. Adakah hubungan antara adversity quotient dan emotional inteliigence dengan Prokrastinasi mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui tingkat adversity quotient mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang.
2. Untuk mengetahui tingkat emotional intelligence mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang.
3. Untuk mengetahui tingkat Prokrastinasi mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang.
4. Untuk mengetahui hubungan antara adversity quotient dan emotional intelligence dengan prokrastinasi mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang.
 D. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi peneliti dan khalayak intelektual pada umumnya, bagi pengembangan keilmuan baik dari aspek teoritis maupun praktis, diantaranya:
1. Manfaat teoritis a. Memberikan sumbangsih keilmuan psikologi, khususnya dibidang psikologi pendidikan. b. Menambah khazanah keilmuan mengenai Hubungan adversity quotient dan emotional intelligence dengan tingkat prokrastinasi mahasiswa Tenik Arsitektur di UIN Maliki Malang. 2. Manfaat praktis a. Bagi Lembaga, hasil penelitian ini bisa dijadikan sebagai acuan atau bahan rujukan dalam pembenahan sistem di kampus, khususnya di fakultas Saintek UIN Maliki Malang mengenai prokrastinasi mahasiswa dalam menghadapi tugas akhir dan mengasah adversity quotient dan emotional intelligence (kecerdasan emosional) agar mahasiswa mampu mengahadapi kesulitan yang lain.
 b. Bagi Mahasiswa, penelitian ini akan membantu mahasiswa untuk mengetahui seberapa besar tingkat prokrastinasi mereka dalam menghadapi tugas akhir serta pentingnya mengasah adversity quotient dan emotional intelligence dalam menghadapi suatu kesulitan.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Hubungan adversity quotient dan emotional intelligence dengan prokrastinasi mengerjakan tugas akhir pada mahasiswa jurusan teknik arsitektur di UIN Mailiki Malang" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment