Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Sunday, August 6, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Dringu,Probolinggo

Abstract

INDONESIA:
Selama ini banyak orang yang yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi belajar yang tinggi diperlukan Kecerdasan Intelektual (IQ) yang juga tinggi. Namun, menurut hasil penelitian terbaru di bidang psikologi membuktikan bahwa IQ bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seseorang, tetapi ada faktor lain yang mempengaruhi salah satunya adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional merupakan landasan bagi prestasi belajar siswa. Kecerdasan emosional itu meliputi kemampuan mengendalikan diri sendiri, memiliki semangat dan ketekunan, memotivasi diri sendiri, ketahanan menghadapi frustasi, kemampuan mengatur suasana hati, kemampuan empati. Orang yang dapat mengendalikan emosi secara cepat dan memperhatikan serta memikirkan perasaaan orang lain dapat disebut sebagai orang yang cerdas emosional. Semakin tinggi kecerdasan emosional maka semakin tinggi dalam menentukan prestasi belajar siswa.
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui tingkat kecerdasan emosional siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Dringu, Probolinggo dan untuk mengetahui prestasi belajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Dringu, Probolinggo, serta untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Dringu, Probolinggo.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Subyek penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 1 Dringu, Probolinggo. Pengambilan sampel menggunakan random sampel. Dan pengumpulan data yang dilakukan dengan cara angket dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi product moment, yang sebelumnnya dilakukan dengan pencarian rata-rata dan standar deviasi serta kategorisasi dari masing-masing variabel tingkat kecerdasan emosional dan tingkat prestasi belajar siswa.
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa tingkat kecerdasan emosional siswa berada pada tingkat sedang dan tinggi, namun sebagian besar tingkat kecerdasan emosional adalah rendah. Sedangkan untuk prestasi siswa memiliki tingkat prestasi dengan nilai rata-rata di atas 65 dengan kategori sedang dan tinggi, namun secara umum atau sebagian besar prestasi siswa adalah rendah. Hasil perhitungan korelasi dengan menggunakan product moment didapatkan hasil 0,798, artinya kedua variabel tingkat kecerdasan emosional dan tingkat prestasi belajar siswa memiliki hubungan erat.
ENGLISH:
In so far, many people had a notion that to reach high achievement there should be needed high Intellectual Intelligence (IQ). Yet, according to the newest result of study in psychology prove that IQ is not one factor influencing somebody achievement, but there also other factor influencing it, emotional intelligence. Emotional intelligence is basic for students’ achievement. The emotional intelligence include the ability in controlling self, have enthusiasm and diligence, motivating self, endurance in facing frustration, ability to manage mood, empathy ability. Those who can control emotion correctly and considering also thinking other opinion can be called as one with emotional intelligence. The higher one’s emotional intelligence, his/her determining students’ achievement would be higher.
This study had purposes to know the emotional intelligence of students grade 11th IPA SMA Negeri 1 Dringu, Probolinggo and to know students’ achievement in grade 11th IPA SMA Negeri 1 Dringu, Probolinggo, also to know the correlation of emotional intelligence with students’ achievement grade 11th IPA SMA Negeri 1 Dringu, Probolinggo.
This study is quantitative study. Subject of this study is students of SMA Negeri 1 Dringu, Probolinggo. Sampling used in this study is random sampling. And data collection conducted by disseminating questionnaire and documentation. Meanwhile, data analysis technique used here is product moment correlation that before conducted by searching approximation and deviation standard also categorization from each variable of emotional intelligence level and students’ achievement level.

Based on the result of calculation, it shows that students’ emotional intelligence is in medium and high level, yet most of it is low. Meanwhile, for students’ achievement has approximation above 65 with medium and high category, but in general or most of students’ achievement is low. The result of correlation calculation by using product moment obtained the result of 0,798, it means both variables of emotional intelligence and students’ achievement have close correlation.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Melalui sekolah, siswa belajar berbagai macam hal. Dalam pendidikan formal, belajar menunjukkan adanya perubahan yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam prestasi belajarnya. Namun dalam upaya meraih prestasi belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar. Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting karena melalui belajar individu mengenal lingkungannya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. ( Winkel 1997 : 435) Winkel (1997 : 326) menegaskan bahwa belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadi, perlu adanya penilaian. Begitu juga dengan yang terjadi pada seorang siswa yang mengikuti suatu pendidikan selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya.
 Penilaian terhadap hasil belajar seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar. 2 Proses belajar di sekolah adalah proses yang sifatnya kompleks dan menyeluruh. Banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi yang tinggi dalam belajar, seseorang harus memiliki Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi, karena inteligensi merupakan bekal potensial yang akan memudahkan dalam belajar dan pada gilirannya akan menghasilkan prestasi belajar yang optimal. (Winkel, 1997 : 356) Menurut Binet dalam buku Winkel (1997 : 529) hakikat inteligensi adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif. Menurut Winkel (1997 : 325) kenyataan yang ada dalam proses belajar mengajar di sekolah sering ditemukan siswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang setara dengan kemampuan inteligensinya. Ada siswa yang mempunyai kemampuan inteligensi tinggi tetapi memperoleh prestasi belajar yang relatif rendah, namun ada siswa yang walaupun kemampuan inteligensinya relatif rendah, dapat meraih prestasi belajar yang relatif tinggi. Itu sebabnya taraf inteligensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang, karena ada faktor lain yang mempengaruhi. Menurut Goleman (2000 : 44), kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni a) kemampuan memotivasi diri sendiri, b) mengatasi frustasi, c) mengontrol desakan hati, d) mengatur suasana hati (mood), e) dan berempati serta kemampuan bekerja sama. 3 Dalam proses belajar siswa, kedua inteligensi itu sangat diperlukan. IQ tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa partisipasi penghayatan emosional terhadap mata pelajaran yang disampaikan di sekolah. Namun biasanya kedua inteligensi itu saling melengkapi. Keseimbangan antara IQ dan EQ merupakan kunci keberhasilan belajar siswa di sekolah (Goleman, 2002). Pendidikan di sekolah bukan hanya perlu mengembangkan rational intelligence yaitu model pemahaman yang lazimnya dipahami siswa saja, melainkan juga perlu mengembangkan emotional intelligence siswa. (Goleman, 2002 : 56)
 Kecerdasan emosional merupakan kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh manusiawi. Kecerdasan emosional merupakan faktor sukses yang menentukan prestasi dalam organisasi, termasuk dalam membuat keputusan. Hasil penelitian Chipain (2003) dalam tesisnya yang berjudul Emotional Intelligence and Its Relationship with Sales Succes, menunjukkan bahwa kecerdasan emosional secara positif berkaitan dengan prestasi belajar. Secara spesifik kecerdasan emosional berkaitan dengan kompotensi individual yang mengarah pada perilaku task oriented atau berorientasi pada tugas. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi prestasi atau keberhasilan seorang siswa dalam belajar di sekolah. Faktor itu antara lain: a) kecerdasan intelektual, b) kondisi sosial ekonomi siswa c) dan minat kemauaan siswa untuk belajar (Winkel 1997 : 211) 4 Memang harus diakui bahwa mereka yang memiliki IQ rendah dan mengalami keterbelakangan mental akan mengalami kesulitan, bahkan mungkin tidak mampu mengikuti pendidikan formal yang seharusnya sesuai dengan usia mereka. Namun fenomena yang ada menunjukan bahwa tidak sedikit orang dengan IQ tinggi yang berprestasi rendah, dan ada banyak orang dengan IQ sedang yang dapat mengungguli prestasi belajar orang dengan IQ tinggi. Winkel (1997 : 125) Kemunculan istilah kecerdasan emosional dalam pendidikan, bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai jawaban atas kejanggalan tersebut. Teori Daniel Goleman, sesuai dengan judul bukunya, memberikan definisi baru terhadap kata cerdas. Walaupun EQ merupakan hal yang relatif baru dibandingkan IQ, namun beberapa penelitian telah mengisyaratkan bahwa kecerdasan emosional tidak kalah penting dengan IQ (Goleman, 2002 : 44). Fenomena ini sejalan dengan pendapat Goleman (2002 : 55) bahwa orang yang memiliki IQ tinggi belum tentu memiliki kesuksesan, karena IQ hanya menyumbang 20% dari kesuksesan, sedangkan 80% merupakan dari faktor-faktor lain yaitu diantaranya kecerdasan emosional dan EQ.
Prestasi belajar juga dipengaruhi oleh perilaku siswa, kerajinan, dan keterampilan atau sikap tertentu yang dimiliki oleh siswa tersebut, yang dapat diukur dengan standar nilai tertentu oleh guru yang bersangkutan agar mendekati nilai rata-rata. Karena sifat-sifat di atas, bila seseorang memiliki IQ tinggi namun taraf kecerdasan emosionalnya rendah maka cenderung akan terlihat sebagai orang yang keras kepala, sulit bergaul, mudah frustasi, tidak mudah percaya kepada orang lain, tidak peka dengan kondisi lingkungan dan cenderung putus asa bila 5 mengalami stress. Ketika orang yang memiliki taraf IQ rendah maka ia memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Maka cenderung akan terlihat sebagai orang yang tidak percaya diri, pendiam dan sulit bergaul. Menurut Goleman, khusus pada orang-orang yang murni hanya memiliki kecerdasan akademis tinggi, mereka cenderung memiliki rasa gelisah yang tidak beralasan, terlalu kritis, rewel, cenderung menarik diri, terkesan dingin dan cenderung sulit mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya secara tepat. Bila didukung dengan rendahnya taraf kecerdasan emosionalnya, maka orang-orang seperti ini sering menjadi sumber masalah. Berdasarkan hasil wawancara pada dua siswa pada tanggal 12 Mei 2013, mereka memberikan pendapat yang berbeda-beda yakni siswa A memiliki prestasi belajar yang tinggi dan dia dapat mengatur emosi dirinya sendiri, dia mampu menjalin komunikasi yang baik dengan guru dan teman-temanya. Siswa B memiliki prestasi belajar yang rendah, tetapi dia tidak mampu mengatur emosi dirinya sendiri, dia sulit menjalin komunikasi dengan guru dan teman-temannya contohnya: a) ketika suasana kelas ramai dia marah-marah sendiri, b) ketika ada teman yang pingsan saat upacara bendera dia tidak menolong temanya sama sekali dan dia tidak peduli sama sekali dengan teman yang pingsan itu c) dan kurang berkomunikasi dengan teman dan gurunya dan tidak dapat membina hubungan sosial dengan teman sebayanya maupun guru. Fenomena lainya dilihat oleh peneliti di kelas XI IPA SMA Negeri I Dringu Probolinggo. Siswa-siswa yang memiliki prestasi belajar tinggi, ternyata beberapa anak yang kurang bisa mengendalikan emosinya seperti: a) mengendalikan emosi diri sendiri dalam bergaul dengan temanya b) dan kurang 6 berempati dengan temanya. Adapun penelitian terdahulu yang ditemukan penulis terkait dengan kecerdasan emosional dan prestasi sebagai berikut: penelitian yang dilakukan oleh Samsul Arifin (2003) di PT Eratex Probolinggo untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi kerja dalam konteks prestasi kerja. Subyek penelitian 50 orang dengan menggunakan random sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan prestasi kerja dengan hasil kecerdasan emosional sebesar 70% (30 karyawan) berada pada kategori tinggi, 20% (15 karyawan) pada kategori sedang, 10% (5 karyawan) pada kategori rendah. Sedangkan hasil dari tingkat prestasi kerja sebesar 60% (30 karyawan) berada pada kategori tinggi, 20% (20 karyawan) berada pada kategori sedang, 10% (10 karyawan) berada pada kategori rendah.
Dari penelitian di atas subyek yang di teliti yakni karyawan di PT. Eratex Probolingggo, sedangkan pada penelitian ini subyek yang diteliti yakni siswa kelas XI IPA. Teknik yang digunakan sama yakni random sampling. Variabel yang digunakan dalam penelitian di atas menggunakan satu variabel yang sama yaitu kecerdasan emosional tetapi dalam penelitian Samsul Arifin (2003) dikorelasikan dengan prestasi kerja sedangkan dalam penelitian ini dikorelasikan dengan prestasi belajar. Hasil yang diperoleh dalam penelitian Samsul Arifin (2003) bahwa kecerdasan emosional sama tinggi dengan prestasi kerja karyawan PT. Eratex Probolinggo. 7 Berdasarkan pemaparan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Prestasi Belajar Pada Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri I Dringu Probolinggo.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan dan wacana pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini antara lain:
1. Bagaimana tingkat kecerdasan emosional siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Dringu Probolinggo?
2. Bagaimana tingkat prestasi belajar pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Dringu Probolinggo?
3. Apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Dringu Probolinggo?
C. Tujuan Berdasarkan
perumusan masalah dalam penelitian ini, maka tujuannya adalah:
 1. Untuk mengetahui tingkat kecerdasan emosional pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Dringu Probolinggo.
2. Untuk mengetahui tingkat prestasi belajar pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Dringu Probolinggo. 3. Untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Dringu Probolinggo.
D. Manfaat Penelitian
 Hasil penelitian ini mempunyai beberapa manfaat antara lain :
 1. Dari segi teoritis : penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi psikologi pendidikan dan memperkaya hasil penelitian yang telah ada dan dapat memberi gambaran mengenai hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi.
 2. Dari segi praktis : hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan informasi khususnya pada orang tua, konselor dan guru dalam upaya membimbing dan memotivasi siswa remaja untuk menggali kecerdasan emosional yang dimilikinya.


Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Dringu,Probolinggo" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment