Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, August 7, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan dukungan sosial terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Gedeg


Abstract

INDONESIA:
Hasil Prestasi belajar siswa yang berupa raport masih menjadi barometer untuk mengukur kapasitas seseorang, dalam hal ini siswa pada khususnya. Sedangkan untuk mencapai prestasi belajar yang optimal dibutuhkan berbagai faktor pendorong dan dukungan yang real, agar siswa mampu melewati hambatan-hambatan yang ada. Karena tidak semua siswa mampu untuk mengatasi hambatan dan tantangan dalam proses belajar mereka, dan hal ini tentunya akan mempengaruhi hasil daripada prestasi belajar siswa itu sendiri. Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Gedeg dengan tujuan untuk mengetahui tingkat hubungan dukungan sosial terhadap prestasi belajar pada siswa kelas X & XI SMAN 1 Gedeg.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif korelasional, yaitu penelitian yang berusaha menjelaskan atau menerangkan suatu peristiwa berdasarkan data, sedangkan korelasional bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara dua fenomena atau lebih. Subyek penelitian berjumlah 153 responden yang dipilih dengan menggunakan teknik random sampling yaitu semua anggota populasi memperoleh kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai bagian dari sampel dalam penelitian. Pengambilan data menggunakan satu skala, yaitu skala dukungan sosial saja. Teknik pengumpulan datanya menggunakan analisa norma, analisa prosentase dan analisa korelasi sederhana dengan menggunakan perangkat lunak komputer yaitu SPSS 16.0 for windows.
Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa hasil analisis data menunjukkan bahwa pengaruh antara hubungan dukungan sosial terhadap prestasi belajar SMAN 1 Gedeg sebesar 0,5% dan sisanya 99,5% dipengaruhi oleh faktor lain. tingkat hubungan dukungan sosial SMAN 1 Gedeg tertinggi berada di kategori sedang dengan prosentase 73,9% atau 113 responden sedangkan sisanya berada pada kategori tinggi yakni 21,6% atau 33 responden dan kategori rendah yakni 4,6% atau 7 orang. Sedangkan pada tingkat prestasi belajar SMAN 1 Gedeg berada pada kategori cukup yakni 72,5% atau responden dan sisanya berada pada kategori baik yakni 13,1% atau 20 responden dan di kategori kurang ada 14,4% atau 22 responden. Tidak terdapat hubungan positif dan pengaruh yang signifikan antara dukungan sosial terhadap prestasi belajar. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien r sebesar 0.070.
ENGLISH:
Student achievement results in the form of report cards is still a barometer for measuring the capacity of a person, in this case the students in particular. Meanwhile, to achieve optimal learning takes various factors driving and support the real, so that students are able to pass through the barriers that exist. Because not all students are able to overcome obstacles and challenges in their learning process, and it is certainly going to affect the outcome rather than student achievement itself. This study was conducted in State Senior High School 1 Gedeg in order to determine the level of the relationship of social support to achievement learn in class X and XI State Senior High School 1 Gedeg.
This study used quantitative descriptive correlational research that seeks to explain or describe an event based on the data, while correlational aims to find whether there is a relationship between two or more phenomena. The subjects included 153 respondents were selected using random sampling techniques are all members of the population have equal opportunities to be selected as part of the sample. Retrieving data using one scale, the scale of social support alone. Analysis technique used in data collection norm, percentage analysis and simple correlation analysis using computer software SPSS 16.0 for Windows.

The research results note that the results of data analysis showed that the influence of the relationship between social support to the learning achievement of State Senior High School 1 Gedeg by 0.5% and the remaining 99.5% is influenced by other factors. the level of social support relationships State Senior High School 1 Gedeg highest in the medium category with a percentage of 73.9% or 113 respondents, while the rest are in the high category namely 21.6% or 33 respondents and lower category ie 4.6% or 7 people. While at the level of learning achievement of State Senior High School 1 Gedeg is in the category enough that 72.5% or respondents and the rest are in the good category ie 13.1% or 20 respondents, and in the category of less there is 14.4% or 22 respondents. There is no positive correlation and significant influence of the relationship between social support to achievement learn. This is indicated by the coefficient r of 0.070.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pembahasan mengenai rendahnya mutu pendidikan di Indonesia bukanlah hal yang baru lagi, khususnya bagi masyarakat. Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Hal ini dapat dilihat dari survei Political and Economic Risk Consultant (PERC) bahwa kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survei dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia. Bila dilihat dari data di atas, kondisi pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Menurut survei yang dilakukan The World Economic Forum Swedia (2000) penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Sedangkan menurut Hasbullah (2005) bahwa penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah berasal dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti motivasi, konsep diri, minat, kemandirian belajar. Sedangkan faktor eksternal seperti sarana prasarana, guru, orangtua, dan lain-lain. Pendidikan merupakan sarana untuk membentuk dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Namun hal itu tidak diikuti dengan 2 kualitas pendidikan di Indonesia pada dekade terakhir ini yang semakin menurun. Hal tersebut mengindikasikan adanya masalah dalam sistem pendidikan di Indonesia ditinjau dari perspektif ideologis, teknis dan praktis seperti kekeliruan paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelenggaraan sistem pendidikan, mahalnya biaya pendidikan, rendahnya sarana fisik, rendahnya prestasi siswa, meningkatnya kegagalan dan rendahnya kesejahteraan guru (Shiddiq, 2006). Tidak heran jika indeks pembangunan pendidikan untuk semua atau education for all di Indonesia menurun. Jika pada tahun 2010 lalu Indonesia berada di peringkat 65, tahun 2011 merosot ke peringkat 69 dibawah Brunei Darussalam dan Malaysia yang masing-masing berada pada peringkat 34 dan 65 dari 127 Negara di Dunia (Napitupulu, 2011). Demikian juga hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2009, yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-10 dari bawah dari 65 Negara di dunia dengan penilaian di bidang reading, mathematics dan science (PISA, 2009).
 Bukti empiris menunjukkan bahwa pencapaian prestasi dalam dunia pendidikan merupakan sebuah konsekuensi multi dimensional yang menghubungkan berbagai faktor termasuk keluarga, komunitas, sekolah, teman sebaya dan siswa itu sendiri (Lucio, Rapp-Paglicci, & Rowe, 2011). Dimyati dan Mudjiono (1999) menyebutkan beberapa faktor penyebab prestasi belajar yang masih rendah. Hal tersebut disebabkan oleh faktor – faktor diantaranya kurang adanya fasilitas belajar baik di sekolah maupun di rumah, siswa semakin dihadapkan pada banyak pilihan yang membuat mereka semakin takut akan kegagalan. Hal ini dipengaruhi juga dengan kondisi orang tua yang kurang memahami 3 materi dan system pembelajaran sehingga tidak memberikan dukungan yang maksimal terhadap anak. Kondisi kemiskinan juga menjadikan asupan gizi anak didik menjadi hal yang mustahil untuk dipenuhi. Secara tidak langsung berbagai faktor tersebut dapat berkontribusi sebagai penghambat dalam belajar. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan memegang peranan penting menyangkut kemajuan dan masa depan suatu bangsa, tanpa pendidikan mustahil suatu bangsa akan maju dan berkembang untuk mampu bersaing mengukuhkan diri sebagai sebagai salah satu bangsa yang besar . Dalam UU no 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional pasal 3 yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
 Pendidikan merupakan aktivitas yang berlangsung sepanjang hidup manusia. Pendidikan itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari istilah belajar karena pada dasarnya belajar merupakan bagian dari pendidikan. Selain itu proses belajar merupakan suatu kegiatan yang pokok dan utama dalam dunia pendidikan. Manusia tidak akan pernah berhenti belajar karena setiap langkah manusia dalam hidupnya akan dihadapkan pada permasalahan yang membutuhkan pemecahan dan menuntut manusia untuk belajar 4 menghadapinya. Belajar merupakan suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dari tidak bisa menjadi bisa sehingga proses belajar akan mengarah pada tujuan dari belajar itu sendiri. Usaha- usaha untuk mendidik dan mengajar dilakukan sejak manusia lahir dengan mengenalkan berbagai hal yang paling sederhana melalui stimulus lingkungan, misalnya bunyi, warna, rasa, bentuk dan sebagainya. Sekolah merupakan salah satu tumpuan dan harapan orangtua, masyarakat, dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Dalam hal ini, sekolah memegang peranan penting dibanding lembaga pendidikan lainnya. Disini potensi anak akan ditumbuhkembangkan dan ditingkatkan ke arah yang lebih baik dan sempurna. Sesuai dengan UUD 1945 tentang pendidikan dan kebudayaan, yakni : “Pemerintah mengusahakan danmenyelenggarakan satu system pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”. (UUD ’45, 2004 : 28) Keberhasilan pengajaran di sekolah, ditentukan dengan penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai materi pelajaran dinyatakan dengan prestasi belajarnya. Prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan belajar yang dinyatakan oleh nilai raport, setelah siswa melalui proses belajar dalam satu semester. Prestasi yang dicapai siswa memberikan gambaran tentang tingkat keberhasilannya dibandingkan dengan siswa lain. 5 Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam prestasi belajar, maka perlu dilakukan evaluasi. Tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung.
Hal ini disebabkan prestasi belajar merupakan hasil penilaian atas kemampuan, kecakapan, keterampilan tertentu yang dipelajari selama masa belajar. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik persamaan. Seperti yang diungkapkan oleh Poerwanto (1986) bahwa prestasi belajar sebagai hasil yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan proses belajar yang dinyatakan dalam raport. Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain; faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri sendiri, sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri siswa. Faktor yang berasal dari luar meliputi faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat serta lingkungan keluarga. Sedangkan faktor yang timbul dari dalam diri siswa berupa faktor biologis seperti faktor kesehatan misalnya cacat mental. Sedangkan faktor psikologisnya seperti kecerdasan, bakat, minat, perhatian, serta motivasi belajar siswa. 6 Menurut Sarlito (1980) menambahkan pujian-pujian atas keberhasilan anak merupakan sesuatu yang orang tua dan guru wajib berikan kepada anak agar lebih meningkatkan prestasinya , atau bisa disebut dengan dukungan mental (mental support). Disamping itu penelitian yang pernah dilakukan oleh Thorndike di negara India , Chile , Irand , dan Thailand menjelaskan menjelaskan perubahan prestasi belajar antara 1,5% sampai 8,7% . Hai ini mengindikasikan bahwa dukungan orang tua dapat memotivasi siswa dalam meraih prestasi di bidang akademik. Disamping lingkungan keluarga lingkungan sekolah juga sangat berpotensi untuk memberikan dukungan sosial terhadap peserta didik . Contohnya teman mampu memberikan bantuan instrumental yakni membantu dalam pemecahan masalah terkait tugas yang diberikan oleh guru kepada siswa melalui forum kelompok belajar. Guru mampu untuk memberikan dukungan informasi akurat sesuai dengan kebutuhan dan bakat dari siswa yang bersangkutan, sehingga siswa tersebut mampu untuk menggunakan informasi yang diterima untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki guna meningkatkan prestasinya. Memotivasi agar peserta didik lebih berprestasi bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Rendahnya kepedulian orang tua, teman, guru bisa berakibat pada rendahnya prestasi belajar peserta didik. Menindaklajuti hal tersebut seharusnya orang tua, guru, maupun teman kiranya dapat memberikan dukungan untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik dengan berkolaborasi dalam rangka membantu untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik sehingga diperoleh hasil yang signifikan.
 Seperti halnya dukungan yang dikatakan oleh Gotlieb (1983), bahwa dukungan itu bisa didapat dari orang-orang terdekat yang akrab dengan subjek. Salah satunya dukungan dari orang tua yang berfungsi untuk memberikan penguatan bagi remaja, yaitu dalam menumbuhkan rasa aman dalam melakukan partisipasi, aktif, dan eksploratif dalam kehidupan. Akhirnya menumbuhkan peningkatan rasa percaya diri pada remaja untuk menghadapi situasi baru dan tantangan didalam kehidupannya. Dukungan sosial (social support) didefinisikan oleh Gottlieb (1983) sebagai informasi verbal atau non-verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkahlaku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek didalam lingkungan sosialnya atau yang berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkahlaku penerimanya. Dalam hal ini orang yang merasa memperoleh dukungan sosial, secara emosional merasa lega karena diperhatikan, mendapat saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya. House (1981) berpendapat bahwa dukungan sosial adalah hubungan interpersonal yang melibatkan dua orang atau lebih untuk memenuhi kebutuhan dasar individu dalam mendapatkan rasa aman, hubungan sosial, persetujuan dan kasih sayang (Sarason, dkk. 1990) House (dalam Smet, 1994) membagi dukungan sosial menjadi empat aspek yaitu : Aspek Emosional (Emosional support), Aspek Penghargaan (Esteem support), Aspek Instrumental (Instrumental support), aspek Informasi (Information support). 8 Sarafino (1994) menjelaskan dukungan sosial dapat berasal dari orang- orang sekitar individu seperti orang tua, guru, dan teman sebaya sehingga dapat mempengaruhi prestasi belajar mereka, yang meliputi adanya komponen-komponen dari dukungan sosial itu sendiri, seperti : dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental , dukungan informasi dan dukungan jaringan sosial . Dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di SMAN 1 Gedeg (28 Januari 2015), ditemukan berbagai macam fenomena salah satunya adalah dukungan sosial. Dukungan biasa diperoleh siswa dari lingkungan sekitar, seperti dari orang tua, guru maupun dari teman. Namun, dukungan tersebut dirasa masih belum maksimal di dapatkan oleh para anak didik.
Beberapa siswa yang diwawancara, ia mengaku bahwa kesehariannya merasa kurang mendapat dukungan yang baik dari orang tua maupun dari lingkungan sekolah. Saat dirumah, ia merasa orang tua kurang memberikan perhatian terhadap materi apa saja yang telah dipelajari di sekolah, kegiatan apa saja yang diikuti, kejadian apa saja yang dialami anak selama disekolah, begitu juga dengan nilai nilai yang telah diperoleh. Hal serupa tidak jauh berbeda terjadi di lingkungan sekolah, anak didik sering kali merasa diabaikan oleh tenaga pendidik saat mengalami kesulitan dalam proses belajar mengajar yang menyebabkan siswa malas bertanya meski ia merasa belum bisa dan hal tersebut berdampak pada prestasi belajarnya. Guru juga kurang proaktif dalam menanyakan dan membantu kesulitan yang dialami peserta didik. Hal ini terkesan guru hanya sebagai pemberi materi pembelajaran dan memberikan evaluasi di akhir proses sebagai tolak ukur. Hal tersebut yang 9 menyebabkan prestasi belajar siswa menurun. Salah satu siswa juga ada yang mengaku bahwa ia malas belajar saat di rumah karena tidak ada yang membantunya, hal tersebut yang mengakibatkan prestasi belajarnya menurun. Padahal ketika para siswa/siswi tersebut di hadapkan pada suatu aktifitas sehari-hari di lingkungan sekolah maupun di rumah, pasti akan menemukan suatu masalah atau kesulitan dalam belajar, baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Seperti yang diungkapkan oleh Dalyono (2001) prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu factor eksternal dan factor internal . factor eksternal yaitu yang berasal dari luar manusia, terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Dukungan sosial yang diterima siswa tidak hanya dari orang tua dan tenaga pendidik, tetapi juga dari teman sebaya. Namun teman sebaya ini kurang memberikan solusi dan penjelasan saat siswa mengalami kesulitan memahami materi pelajaran yang disampaikan. Walaupun dukungan sosial yang diberikan oleh orang tua, teman, dan guru dirasa masih kurang dalam mendukung siswa menyelesaikan kesulitan dalam belajar tidak serta merta berdampak negatif pada prestasi belajar siswa. Bahkan prestasi belajar subjek bisa dinilai bagus dengan indikator nilai dari raport. Selain dari wawancara dan pengamatan sekilas yang dilakukan peneliti, ada bebera peneliti lain yang telah meneliti tentang hubungan dukungan sosial dengan variabel-variabel lain. 10 Sebagai contoh dikemukakan dalam hasil penelitian Hidayati.T (2005) mengatakan bahwa ada pengaruh yang positif antara motivasi dan dukungan orang tua terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran Akuntansi pada siswa kelas II MA AL-Asror Patemon Gunungpati Semarang tahun pelajaran 2004/2005.
Febriasari (2007) yang ingin mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri di panti asuhan Al-Bisri Semarang. Dari penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri. Artinya semakin tinggi dukungan sosial, semakin tinggi pula tingkat penyesuaian dirinya. Istiqomah (2009) meneliti tentang hubungan dukungan sosial dengan penerimaan diri. Subyek penelitiannya adalah pasien hemodalisis di RS. Dr. Soetomo Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dan penerimaan diri pada pasien hemodialisis (rᵪᵧ = 0,781 dengan nilai Sig. =0,000) Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan diatas, membuat peneliti tertarik untuk meneliti “Hubungan Dukungan Sosial terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X & XI SMAN 1 Gedeg”
B.     Rumusan Masalah
 Berdasarkan uraian diatas maka dapat dibuat rumusan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana tingkat dukungan sosial pada siswa kelas X & XI SMAN 1 Gedeg ?
 2. Bagaimana tingkat prestasi belajar siswa kelas X & XI SMAN 1 Gedeg ?
3. Bagaimana tingkat hubungan dukungan sosial terhadap prestasi belajar siswa kelas X & XI SMAN 1 Gedeg ?
 C. Tujuan Penelitian
 Berdasarkan rumusan permasalahan yang telah disusun, maka penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui tingkat dukungan sosial pada siswa kelas X & XI SMAN 1 Gedeg 2. Untuk mengetahui tingkat prestasi belajar siswa kelas X & XI SMAN 1 Gedeg
 3. Untuk mengetahui tingkat hubungan dukungan sosial terhadap prestasi belajar siswa kelas X & XI SMAN 1 Gedeg
 D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat dan kegunaan sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis : penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah untuk memperluas dunia ilmu pengetahuan dalam disiplin ilmu psikologi, khususnya psikologi pendidikan.
2. Manfaat Praktis : Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan pendidik, guru,dan orang – orang yang berhubungan dengan dunia pendidikan khususnya di lembaga SMA .


Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Hubungan dukungan sosial terhadap prestasi belajar siswa SMAN 1 Gedeg" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment