Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, August 7, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Resiliensi ibu yang memiliki anak down syndrome


Abstract

INDONESIA:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resiliensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi ibu yang memiliki anak down syndrome. Adapun yang dimaksud resiliensi adalah kemampuan individu bertahan dan beradaptasi dalam kondisi yang sulit.
Penelitian ini mengambil subyek dua orang ibu yang memiliki anak down syndrome. Penelitian kualitatif ini dalam metode pengambilan data yang digunakan adalah dengan melakukan observasi moderat partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi.
Dari hasil analisis penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak semua subyek dapat memenuhi item resiliensi. Pencapaian diantara keduanya berbeda. Jika pada subyek pertama ia mampu memenuhi ke tujuh faktor dan sumber resiliensi, maka sebaliknya subyek kedua hanya dapat memenuhi tiga aspek pembentuk dan dua sumber resiliensi, pada subyek pertama ditemukan bahwa faktor dominan yang mempengaruhi resiliensinya berasal dari Tuhan dan agamanya, selain itu subyek pertama juga dikuatkan dengan faktor individual terkait keyakinan diri, kecerdasan minimal rata-rata, harga diri dan konsep diri. Adapun faktor yang menghambat resiliensi dari subyek kedua adalah pengendalian diri yang kurang, dan tidak adanya dukungan dari lingkungan sekitar, selain itu karena keterbatasan ekonomi subyek kurang mampu menangani permasalahan secara efektif sehingga tidak tercapai faktor efikasi diri. Adapun persamaan diantara kedua subyek adalah sama-sama dikuatkan oleh pengalaman yang sulit.
ENGLISH:
This study aims to find out the resilience and the factors that affect the resilience mother who has children Down syndrome. As for the meaning of resilience is the ability of individuals to survive and adapt in difficult conditions.
This study takes the subject of two mothers who has children Down syndrome. This qualitative research in data collection methods used is to perform moderate participant observation, depth interviews, and documentation.

From the analysis results was concluded that not all subjects can meet resilience item. Achievement different between the two. If the first subject he was able to meet all seven factors and sources of resilience, then reverse the second subject can only meet three aspects of forming and two sources of resilience, the first subject was found that the dominant factor that affect resilience comes from God and religion, in addition to the first subject as well reinforced with individual factors related to self-confidence, at least average intelligence, self-esteem and self-concept. The factors that impede the resilience of the second subject is the lack of self-control, and lack of support from the surrounding environment, and also because of economic limitations subjects are less able to handle the problem effectively so as not achieved self-efficacy factors. The similarities between the two subjects are equally corroborated by hard experience.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Anak merupakan anugrah terindah yang diberikan Allah, harta yang tak ternilai harganya, sebuah amanah yang dititipkan lewat orang tua yang harus dirawat, dididik dan diberikan kasih sayang yang tulus dan ikhlas, mempunyai anak merupakan dambaan bagi setiap pasangan yang telah berumah tangga, dengan hadirnya sang buah hati diharapkan dapat menambah rasa cinta bagi pasangan suami. Kehadiran anak tidak hanya dapat mempererat hubungan rumah tangga, melainkan juga sebagai penerus perjuangan orang tuanya, oleh sebab itu tidak heran jika banyak harapan-harapan yang mengucur dari kedua orang tuanya, mereka mendambakan mempunyai anak yang normal, fisik yang bagus, sehat, dan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik agar memenuhi harapan dan citacita kedua orang tuanya kelak. Namun pada kenyataanya tidak semua anak yang diturunkan di dunia ini terlahir normal, beberapa diantaranya mempunyai keterlambatan dalam hal perubahan dan perkembangan, mereka juga menderita kelainan baik fisik maupun psikis, salah satu di antaranya adalah down syndrome. Down syndrome merupakan cacat mental dan kelainan genetik yang paling sering terjadi di dunia, menurut data yang dilansir kompas.com, prevalensi down syndrome kira- kira 1 berbanding 700 kelahiran di dunia, lebih kurang ada 8 juta anak down syndrome, di Indonesia dari hasil survey terbaru sudah mencapai lebih dari 300.000 orang.1 . Sedangkan Kothare et al., 2002 (dalam Charina) melaporkan angka kejadian down syndrome sekitar 1 dari 650-1000 kelahiran hidup. Kurang lebih 4000 anak dilahirkan dengan down syndrome setiap tahunya di Amerika, atau sekitar 1 dari 800-1000 kelahiran hidup.2 down syndrome sendiri merupakan kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental. down syndrome merupakan kelainan yang disebabkan oleh adanya kelebihan kromosom pada pasangan ke 21 dan ditandai dengan retardasi mental serta anomaly fisik yang beragam.3 . Memiliki anak dengan gangguan perkembangan fisik dan mental merupakan sebuah hal yang berada di luar konsep anak yang diharapkan dan diidamkan, umumnya ibu merasa kecewa dan frustasi, segala harapan dan keinginan yang mereka dambakan seakan lenyap tiba-tiba. Perasaan kecewa orang tua ini muncul setelah mengetahui bahwa anak yang dilahirkan tidak memenuhi harapanya, rangkaian selanjutnya akan menimbulkan perasaan putus asa atau frustasi pada ibu atau keluarga yang merasa kecewa atas kehadiran anak berkelainan, disebabkan mereka memiliki anggapan bahwa kehadiran anak berkelainan dapat menurunkan martabat atau gengsi orang tua atau keluarga.
Atas dasar itulah, terdapat kecenderungan pada sikap ibu dan keluarga untuk menolak kehadiran anaknya yang menyandang kelainan.4 Banyak kasus ibu yang menelantarkan, membiarkan bahkan menolak anaknya yang didiagnosa sebagai anak down syndrome, tentu saja penolakan ibu terhadap diri anak down syndrome mempunyai efek psikologis yang negatif 1 http://internasional.kompas.com/read/2014/08/04/10392021 2 Charina, S.(2011).Hubungan Sindroma Down dengan umur ibu, pendidikan ibu, pendapatan keluarga, dan faktor lingkungan.Jurnal kedokteran Indonesia, vol.2 No 1 Januari 2011 h.,96 3 Nevid J.S, Spencer A.R, Beverly G.(2005). Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga. hal 150 4 Efendi Muhammad.(2009).Pengantar psikopedagonik anak berkelainan.Jakarta: PT Bumi aksara hal, 5 terhadap anak terkait perkembanganya, rasa aman, rendah diri maupun rasa tidak berharga dan berguna, karena hal tersebut hanya akan membuat anak tersebut merasa tidak dimengerti dan tidak diterima apa adanya serta dapat menimbulkan penolakan bagi anak dan lalu termanifestasi dalam bentuk perilaku yang tidak diinginkan, diperlukan kesabaran dan kerelaan yang tinggi dalam menerima anak down syndrome.
Menurut Hurlock (1966) unsur yang mendasari kerelaan dan kesabaran tersebut merupakan suatu bentuk sikap penerimaan dari seorang ibu, karena dengan menerima, ibu akan memperhatikan perkembangan kemampuan anak dan memberikan kasih sayang serta perhatian yang besar pada anak.5 Soemantri (2006) menegaskan lingkungan keluarga dan orang tua merupakan faktor yang mempunyai pengaruh penting dan kuat terhadap perkembangan anak berkebutuhan khusus, terutama anak down syndrome. Anak ini mengalami hambatan sehingga mereka akan sulit menerima norma lingkunganya. Berhasil tidaknya anak luar biasa melaksanakan tugasnya akan sangat bergantung pada bimbingan dan pengaruh orang tua.6 Rasa sedih juga sempat terbersit dalam diri DS ketika mengetahui anaknya mempunyai gangguan down syndrome, meskipun setelahnya DS bisa dan mampu menerima keadaan anaknya dengan lapang dada. “Dulu waktu masih baru-baru itu mbak, sedih sempet..wong waktu hamil saya itu ya gak kurang-kurang, ngrumat,nganu anak..ya makanya,nutrisinya ya sembarangnya. Tapi ya balik lagi,wong takdir kan urusan Tuhan” 7 . Kasus lain terjadi pada SF, meskipun sudah mengikuti berbagai anjuran dokter, meningkatkan asupan makanan bergizi, kontrol teratur dan menghindari pantangan hamil 5 Zulifatul dan Siti.( 2015).Gambaran Psychological Well being pada perempuan yang Memiliki Anak Down Syndrom.vol 3 no 2 h.,2 6 Soemantri, T.S.(2006).Psikologi anak luar biasa. Bandung: Refika aditama h.,100 7 Wawancara personal DS (3 maret 2015) ternyata bayi yang dilahirkanya prematur dan tidak memiliki anus. Beberapa bulan kemudian bayinya didiagnosa akan mengalami keterlambatan mental akibat down Syndrome yang disandangnya, berbagai kesedihan, rasa kecewa dan kebingungan juga pernah dialami SF pada tahun-tahun pertama anaknya dilahirkan. “Sedih pastilah ya mbak, trus apa ya..kenapa bisa terjadi ke saya trus kesalahan saya apa gitu, dunia seolah gelap dan aku sempat putus asa karena membayangkan anakku tumbuh secara tidak normal, istilah kasarnya inianak ini meh tak kapakno gitu loh” 8 . Terlepas dari itu anak merupakan anugrah Tuhan yang luar biasa, amanat dari Tuhan untuk diberi bekal yang layak bagaimanapun kondisi anak itu dilahirkan.mereka merupakan manusia yang juga mempunyai hak untuk hidup dan diberikan kasih sayang, dilindungi dan dikasihi oleh orang-orang terdekatnya. Lebih lanjut memiliki anak down syndrome merupakan sebuah tantangan yang harus dilewati oleh ibu, mereka mempunyai tanggung jawab lebih dibanding ibu yang mempunyai anak normal lainya. Ibu akan dihadapkan pada berbagai problematika dan permasalahan terkait pengasuhan, pendampingan, pendidikan, waktu yang cukup untuk mengurusi anak serta biaya pengobatan yang tidak sedikit, kesulitan orang tua dengan anak down syndrome tidak hanya berhenti pada saat kelahiran saja melainkan berlanjut ketika orang tua membesarkan anak. Seperti yang diketahui anak dengan penyandang down syndrome memiliki resiko lebih tinggi akan masalah kesehatan dibanding anak yang normal. Penderita down syndrome cenderung memiliki malformasi jantung bawaan, dan hampir semua orang dewasa penderita down syndrome menunjukkan tanda-tanda dimensia dengan tipe Alzheimer setelah melewati umur 40 tahun, sebuah gangguan otak 8 Wawancara personal SF (15 April 2015) yang menyebabkan hendaya dalam ingatan dan gangguan-gangguan kognitif lainya.9 Down syndrome merupakan bentuk retardasi mental kromosomal yang sering ditemui, hampir semua anak ini mengalami retardasi mental dan banyak diantara mereka mengalami masalah fisik, dalam DSM-1V-TR terdapat empat level retardasi mental yang masing-masing berhubungan dengan satu rentangan tertentu, menurut informasi dari guru dan orang tua menyebutkan bahwa anak down syndrome dari DS dan SF sama-sama mengalami retardasi mental sedang, yakni sekitar 10 persen dari mereka yang memiliki 1Q kurang dari 70 diklasifikasikan dalam kelompok retardasi mental sedang. Kerusakan otak dan berbagai patologi lain sering terjadi. Orang-orang yang memiliki retardasi mental dapat memiliki kelemahan fisik dan disfungsi neurologis yang menghambat ketrampilan motorik yang normal, seperti memegang dan mewarnai didalam garis, dan ketrampilan motorik kasar seperti berlari dan memanjat. Mereka mampu dengan banyak bimbingan dan latihan bepergian sendiri di daerah lokal yang tidak asing bagi mereka. Banyak yang tinggal di institusi penampungan, namun sebagian besar hidup bergantung bersama keluarga atau dalam rumah-rumah bersama yang disuprevisi10, anak down syndrome dengan retardasi mental sedang biasanya sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti belajar membaca, menulis, dan berhitung walaupun mereka masih dapat menulis secara sosial, misalkan menulis namanya sendiri, alamat rumahnya, dapat dididik mengurus diri sendiri, seperti makan, minum dan melakukan pekerjaan secara sederhana, dalam kehidupan sehari-hari anak down syndrome dengan retardasi mental sedang membutuhkan pengawasan yang terus menerus.11 9 Barlow D, Mark, Durand.(2006).Intisari Psikologi Abnormal Yogyakarta: Pustaka pelajar. hal 306 10 Davison, Neale,Kring (2006) Psikologi abnormal Jakarta: PT Raja Grafindo Jaya. h.,708 11 Soemantri T.S (2006) h.,107 Ibu dengan anak down syndrome dituntut untuk selalu sabar dan telaten agar dapat memenuhi kebutuhan anak, terkait berbagai keterbatasan yang dialami anak down syndrome juga akan menimbulkan berbagai macam fikiran dalam diri ibu tentang masa depan si anak, bagaimana kelak dia akan menghidupi dirinya, apakah si anak akan dapat bekerja seperti orang-orang normal lainya, apakah anak dapat menikah dan hidup berdampingan seperti layaknya orang normal dan melanjutkan keturunanya, secara tersirat dilema hidup juga dialami DS dalam sebuah rangkuman wawancara berikut ini: “saya pengenya dia bisa mandiri untuk kehidupan dia, kalau untuk dia itu ya mandiri sudah cukup mbak..untuk bekal dia mengarungi hidup sendiri..(terdiam) mencari nafkah sendiri, berumah tangga insyaAllah kalau Tuhan berkehendak gitu lah..(terbata-bata) yang penting itu mandiri, bisa mandiri itu yang penting untuk hidupnya mbak,ya gak mungkin kan kita kasaranya jagakno wong terus kan gak boleh, ya itu harus mandiri itu..ya kalau saya orang kaya ya gak usah jauh-jauh, ga usah difikirin itu..lha saya gak mampu e..ya bisanya ya tu ngasih sedikit ketrampilan, kalau bisa ya mbak..apa ya biar nanti dia bisa buka warung atau apa..ya semampu saya kalau bisa, makanya saya itu kan gak kerja, ya buat apa punya uang tapi anak yang jadi korban” 12 Hal yang sama dikatakan Mangunsong (2011) bahwa kekhawatiran kerap kali muncul karena beberapa masalah seperti masalah yang menyangkut finansial dan kesempatan anak ketika menghadapi realita masa depan yang akan muncul nantinya.
 Anak dengan gangguan down syndrome sangat mudah dikenali karena mempunyai fisik yang khas, mereka dapat dikenali berdasarkan ciri-ciri fisik tertentu seperti wajah bulat, lebar, hidung datar, dan adanya lipatan kecil yang mengarah ke bawah pada kulit di bagian ujung mata yang memberikan kesan mata sipit, lidah yang menonjol, tangan yang kecil dan berbentuk segi empat dengan jari-jari pendek, jari kelima yang melengkung dan ukuran tangan dan kaki yang kecil serta tidak proposional dibandingkan keseluruhan 12 Wawancara personal DS (3 maret 2015) 13 Zulifatul dan Siti.(2015).h., 2 tubuh juga merupakan ciri-ciri anak down sindrom.14 Menurut sebagian orang hal tersebut akan terasa aneh dan lucu, penderita down syndrome akan terlihat berbeda dan menjadi perhatian khusus bagi orang-orang yang yang melihat di sekitarnya, tidak sedikit respon negatif yang diberikan lingkungan kepada anak yang mengalami down syndrome dalam kehidupan sehari-hari. “ada itu ya yang terlalu sengiit itu ya ada, tapi ya tetangga jauh itu ya ada sengiit gitu.. dulu waktu anak saya umur 0 bulan-5 tahun itu kan makan harus dibawa kemana-mana ya, dia itu kalau ketemu itu ya ngapain itu gitu pokonya ngomongnya kasar gitu..ada yang ngatain AJ gini(memiringkan jari di kepala) ada juga yang ngomong jangan mau di deketin anak ini ya kasaranya itu modelnya kayak gak mau ketularan gitu (tertawa)”15 Sedikit berbeda dengan DS, SF merasakan bahwa persepsi negatif justru ditujukan padanya, bahwa kondisi anaknya sekarang merupakan manifestasi dari apa yang dia lakukan dahulu “cuman penerimaan orang lain itu aja mbak yang kadang-kadang pasti kamu ada dosa deh sesuatu gitu ya..atau pasti kamu minum jamu gitu kan pasti kayak dulu dokter spesialis jantungnya itu bilang “ini pasti pernah minum jamu bla..bla..bla..” itu yang pertama , ada juga ini pasti pernah di coba di gugurkan macem-macem gitu ya ada, trus ada juga yang kamu punya dosa apa deh kok sampai punya anak gini” 16 Sama halnya yang dikatakan Mangunsong (2011) yang menyatakan bahwa umumnya sumber keprihatinan orang tua berasal dari perlakuan negatif masyarakat normal terhadap anaknya yang tidak seperti anak normal lainya. Individu yang memiliki anak down syndrome akan dihadapkan pada cibiran dan olokan terkait anaknya yang mengalami down syndrome. Mangunsong (2011) mengatakan bahwa ibu akan dengan mudah mendapatkan kritik dari orang lain tentang masalah mereka dalam menghadapi 14 Nevid J.S, Spencer A.R.& Beverly, G.(2005) Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga. Hal, 150 15 Wawancara personal DS (3 maret 2015) 16 Wawancara personal SF (15 april 2015) kondisi anak, selain itu ibu juga sering menanggung beban dari respon tidak layak yang diberikan oleh masyarakat.17 Selain dari masyarakat, respon negatif juga datang dari keluarga besar, terutama dari keluarga mertua. “namanya kita manusia punya nalar punya insting ya, di depan saya itu baik tapi kalau di belakang saya itu anu saudara-saudara suami itu misalkan ini “gak boleh!!” misalkan kaya model dibentak-bentak, kalau anak saya main itu gak boleh megang barang-barangnya, takut mungkin dia itu di apa ya..kotor atau apa..tapi ajeng itu ya gak pernah dia itu buang nglempar itu ya gak pernah. atau gimana itu kan kelihatan, ya dia itu sepertinya dibedakan, dibedakan dari yang lain itu, anu sepupu-sepunya AJ itu.. ya memang beda(meninggikan suara) tapi kalau menurut saya sama suami saya itu ya jangan dibedakan, samakan saja kayak orang normalnya aja yang penting kan tidak membahayakan tidak pokoknya tidak merugikan itu tapi di pihak saudara suami saya itu juga di luar itu juga baik tapi di dalamnya saya tau ya dari sukap-sikap sekecil itu namanya kita punya insting dan perasaan itu ya saya tau, justru kalau ada mbahe (mertua saya)itu malah banyak yang sudah nengeri itu..kalau sama saya itu ya tenang, mau cerita-cerita ayo,mau gambar-gambar ayo, mau masak-masak ayo masak tak turutin.justru kalau ada suara lain, dia nangis apa dia heboh itu pasti pada tau,pada dengerin “oh mbahe itu” kalau sama saya ndak, sudah banyak yang niteni”18 Ibu dapat membangun komunikasi yang baik pada keluarga terutama kepada mertua, bagaimana harus menjelaskan kepada mereka, memberi pengertian yang bisa difahami mereka, dan selalu siap menentramkan hati terkait cemooh dan olok-olok yang sering terdengar baik dari keluarga, maupun orang-orang sekitar. Hal tersebut jugalah yang dilakukan SF kepada orang-orang terdekatnya, khususnya suami dan mertuanya “yang penting itu ngasih pengertian ke suami, ke orang tua ke mertua itu yang penting mah, kalau yang lain weh whatever lah,saya cuek aja.. karena mereka ini kan yang paling bisa dimintain dan kasih dukungan ” 19 Masalah-masalah yang dihadapi ibu dari anak down syndrome tidak lantas berhenti disitu, dengan segala masalah dan kendala yang ada, secara tidak langsung akan 17 Zulifatul dan Siti.2015.h., 2 18 Wawancara personal DS (3 maret 2015) 19 Wawancara personal SF (15 april 2015) menyebabkan masalah baru bagi suami istri yang memiliki anak penderita down syndrome, baik pertengkaran-pertengkaran kecil dan cekcok yang mungkin akan timbul terkait pengasuhan, pendidikan, pengobatan, pandangan umum, dan keadaan emosional dari ibu sendiri, bisa jadi masalah-masalah tersebut akan mempengaruhi keutuhan mahligai perkawinan. Dengan kondisi-kondisi diatas secara alami ibu dengan anak down syndrome akan mudah mengalami kondisi tertekan, begitu banyak masalah yang dihadapi dalam waktu yang bersamaan dapat memunculkan stress dan berbagai resiko yang dapat mengancam kesehatan psikologis mereka. Dalam sebuah survey yang dilakukan diberbagai SLB dan tempat terapi di kota Bandung mengenai kesulitan-kesulitan yang dialami oleh Ibu anak berkebutuhna khusus tercatat sebanyak 50% (9 orang ibu) mengaku sangat kesulitan mencari informasi lebih jauh mengenai keadaan anaknya, dan informasi mengenai sekolah maupun tempat terapi yang bisa membantu ibu anak berkebutuhan khusus, sebanyak 28% (5 orang ibu) mengaku bahwa dirinya merasa bersalah telah melahirkan anak yang memiliki kekurangan, sebanyak 6% (1 orang ibu) mengaku bahwa dirinya disalahkan oleh keluarga besar pria karena dianggap membawa sial dalam perkawinan karena memiliki anak yang catat. Kemudian, sebanyak 78% (14 orang ibu) mengaku bingung membagi waktu antara mengurus anak yang berkebutuhan khusus dan mengurus anggota keluarga lainya. Sebanyak 33% (6 orang ibu) mengaku bingung membagi waktu antara mengasuh dan bekerja, sebanyak 67% (12 orang ibu) mengaku lelah baik jiwa maupun raga ketika anaknya yang memiliki kebutuhan khusus tidak dapat melakukan kegiatan sederhana walaupun sudah berkali-kali diajarkan (mengancing baju, atau toilet training).20 20 Halim, B.(2009).tesis.
Kontribusi Protective Factors Terhadap Resiliensi Ibu Yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus di Kota Bandng.h., 4 Oleh karena itu ibu diharapkan dapat beradaptasi dengan kondisi penuh tekanan yang dihadapinya sehingga mereka tetap bisa beraktivitas secara nyaman dan produktif. Kemampuan individu dalam menghadapi stress berbeda-beda, ada yang mudah rapuh, putus asa, dan dirundung duka yang tak berkesudahan, namun ada pula yang memiliki kekuatan dalam diri mereka sehingga mampu membuat dirinya tetap bisa beradaptasi dan berkembang secara positif, tidak mudah menyerah dan putus asa meskipun dihadapkan pada kondisi yang tidak menyenangkan. Meskipun berada dalam kondisi yang serba sulit, ibu yang memiliki anak down syndrome sebenarnya masih memiliki kekuatan dalam dirinya untuk bertahan dan melanjutkan hidup dengan sehat, sebagaimana yang dikatakanan Wagnild (2011), walaupun dalam hidup manusia seringkali tidak memiliki kuasa atas kejadian yang dialaminya, seperti kecelakaan, musibah, bencana alam, kriminalitas, hingga penyakit yang mengarah pada kematian, tetapi setiap individu dapat memilih bagaimana cara menghadapi kejadian tersebut. Kemampuan bertahan dan dapat berkembang meski dihadapkan pada kondisi sulit itulah yang dalam psikologi disebut resiliensi. Individu yang resilien sesuai dengan paparan diatas adalah individu yang dapat beradaptasi dengan dirinya dengan baik. Dimana resiliensi menurut Gordon (1994) merupakan kemampuan untuk berkembang dengan baik, matang dan bertambahnya kompetensi dalam menghadapi keadaan-keadaan dan rintangan yang sulit. Keadaan ini mungkin berat dan jarang atau kronis dan konsisten dalam rangka untuk berkembang dengan baik, seseorang harus menerapkanya pada semua sumber daya mereka; biologis, psikologis dan lingkungan.21 Beberapa faktor yang berperan dalam pengembangan resiliensi antara lain adalah karakteristik individu seperti jenis kelamin, tingkat kecerdasan, dan kepribadian, faktor kedua adalah karakteristik keluarga, seperti kehangatan, kelekatan dan struktur keluarga dan yang terakhir adalah faktor ketersediaan sistem dukungan sosial diluar individu dan lingkungan keluarga, seperti sahabat dan teman dalam komunitas. Sementara Herman et al., (2011), mengatakan bahwa resiliensi dipahami sebagai adaptasi positif, atau kemampuan untuk menjaga atau mengembalikan kesehatan mental setelah menghadapi hambatan.22 Siebert dalam bukunya The resiliency Advantage memaparkan bahwa yang dimaksud dengan resiliensi adalah kemampuan untuk mengatasi dengan baik perubahan hidup pada level yang tinggi, menjaga kesehatan dibawah kondisi penuh tekanan, bangkit dari keterpurukan, mengatasi kemalangan, merubah cara hidup ketika cara yang lama dirasa tidak sesuai dengan kondisi yang ada, dan menghadapi permasalahan tanpa melakukan kekerasan.23 Selain itu Wagnild dan Young (1993) mendefinisikan resiliensi sebagai suatu hal yang dinamis, tepat suatu kekuatan dalam diri individu sehingga mampu beradaptasi dalam menghadapi kondisi sulit dan kemalangan yang menimpanya. Waxman et al., (2003) menjelaskan bahwa dalam literatur psikologi, konsep resiliensi digunakan untuk menjelaskan tiga fenomena, kategori pertama yakni tentang kajian-kajian mengenai perbedaan individu dalam pemulihan pasca bencana, kategori 21 Gardon,padilla&ford.(1994).Resilient students beliefs about their schooling environment: a possible role in developing goals and motivation.Paper presented at the annual Meeting of the American Educational Research Association(New Orleans) 22 Herrman, Stewart,&Granados.(2011). What Is resilience?.La Revue cannadienne de psyhiatre, vol 56 no 5. h, 13 23 Winda Aprilia h., 272 kedua: yakni individu dari kelompok dengan resiko tinggi untuk memperoleh hasil yang lebih baik daripada hasil yang secara khusus diharapkan individu tersebut dan kategori ketiga mengacu pada pada kemampuan individu untuk beradaptasi dalam kondisi stress.
Merujuk pada fenomena diatas resiliensi mempunyai kaitan yang erat terhadap stress, pemulihan terhadap stress dan perbedaan tingkat stress individu. Resiliensi hanya bisa digambarkan ketika ada kondisi atau kejadian tertekan, kemalangan dan kesengsaraan yang dapat memicu terjadinya stress, hal ini diperkuat oleh Masten dan Coatswert yang mengatakan bahwa untuk mengidentifikasi resiliensi diperlukan dua syarat, yaitu yang pertama adanya ancaman yang signifikan pada individu (ancaman berupa status high risk atau ditimpa kemalangan dan trauma yang kronis) dan yang kedua adalah kualitas adaptasi atau perkembangan individu tergolong baik.25 Berbagai tekanan , kemalangan dan kesengsaraan yang berlangsung terus menerus inilah yang dialami Ibu dengan anak down syndrome. Penelitian yang dilakukan Upadhyay dan Havalappanavar (dalam Prasekti, 2013) pada wanita single parent yang memiliki anak cacat mental menunjukkan tingkat stress yang tinggi, tingkat kondisi stress terutama berkaitan dengan aspek sosial, emosional dan finansial. Sementara Tarsidi (2006) pada penelitian yang dilakukan umumnya ibu mengantisipasi mempunyai anak berkebutuhan khusus, sebagian ibu akan bereaksi dengan duka cita, kebingungan, ketakutan, kemarahan dan kekecewaan ketika mereka mendapati bahwa anaknya mengalami kecacatan. Respon ibu dipengaruhi oleh (a) keyakinan mengenai kecacatan (b) ketrampilan coping (c) ketrampilan mengelola stress (e) jejaring hubungan yang 24 Waxman, gray,& pardon.(2003). Review of research on educational resilience. Univercity of California. h.,3 25 Winda, A..(2013).Resiliensi dan dukungan social pada orang tua tunggal. eJournal Psikologi, vol. 1, No. 3, h., 271-272 tersedia.26 Namun apabila ibu dengan anak down syndrome memiliki jiwa resilien, maka ia akan mampu terhindar dari berbagai resiko negatif yang mengganggu psikologisnya, atau minimal ibu dapat kembali pulih dan dapat beradaptasi secara positif seperti biasanya, hal tersebutlah yang selalu diupayakan SF agar terhindar dari kondisi terpuruk dan stress, ketrampilan mengelola stress yang baik membuatnya bisa beradaptasi secara positif dengan masalahnya dan mengembangkan diri secara optimal. “kemuadian jadi aku ikut les nari, ikut olahraga itu, nyanyi..aku kan suka nari nyanyi juga kan, nah itu untuk upgrade diri sendiri, nah kalau kita bisa menyenangkan diri sendiri, cinta pada diri sendiri nah otomatis orang lain juga akan cinta gitu, anakanak juga ini misalnya lihat ibu bahagia otomatis respecfull ya akan bagus, tapi ketika kita suntuk karena kita gak bisa upgrade diri sendiri pasti juga keluarnya juga gak bagus juga gitu”
Berbeda dengan mayoritas ibu yang lain, DS justru tidak merasakan kesedihan yang berkepanjangan, jalan hidup yang berat dan pengalaman yang sulit telah berhasil menempanya menjadi wanita yang tangguh, dua kali kehilangan anak membuatnya bersyukur dan sabar atas apapun kondisi anaknya yang Tuhan kehendaki. “saya dulu nggak punya perasaan marah, jenggel,malu ndak i biasa i, soalnya memang mungkin kan dia anak yang di harapkan, soalnya dulu dia kan istilahnya kalau orang jawa kan diidang-idangkan, digadang-gadang, diharapkan jadi ya mau apa ya mau gimana ya” 28 Ibu yang dapat beradaptasi dengan sukses akan mencapai keseimbangan dalam hidupnya. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa sikap resilien tidak saja dapat memfilter individu dari stres maupun depresi, sebaliknya berbagai kondisi yang sulit dan permasalahan yang terjadi justru menjadikan undividu lebih tangguh dan kuat dan dapat mengembangkan sikap-sikap positifnya, hal tersebut sesuai dengan pernyataan Grotberg 26 Prasekti. (2013).Terapi Kognitif Perilakuan Untuk Menurunkan Tingkat Depresi Orangtua Yang Memiliki Anak Down Syndrom. Universitas Muhamadiyah Surakarta h.,6 27 Wawancara personal SF (3 maret 2015) 28 Wawancara personal DS (15 maret 2015) dalam The international Resilience Project, yang menyatakan bahwa resiliensi merupakan kemampuan manusia untuk menghadapi, mengatasi dan bahkan dikuatkan oleh pengalaman yang sulit, sedikit merangkum dengan gambaran diatas DS juga mengungkapkan hal yang hampir seragam bahwa pengalaman yang sulit justru membuatnya menjadi pribadi yang berfikir lebih positif. “malah setelah kejadian ini itu saya lebih menghargai, mensyukuri, lebih mengasihi..kalau dulu pasti ya ada perasaan itu tapi ya 70 persen, kalau sekarang ya 100 persen insyaAllah mbak.. masih egois,individu itu loh kalau dulu itu cara fikirnya, kalau sekarang ya harus lebih menghargai, mengasihi dan mensyukuri dalam hal apapun. wong saya benar-benar merasakan benar itu keadaanya, perilaku seolaholah terus ada yang ngerem gara-gara hadirnya anak, wes gak tak peduliin itu omongan orang, ya gak malu gak piye-piye, suami juga gitu” Senada dengan DS, berbagai situasi sulit yang menghampiri kehidupan SF justru semakin membuatnya berprasangka baik kepada Allah, bahwa anak down syndrome merupakan sebuah bonus dan amanat yang tidak semua orang bisa mampu mengembanya ia pun meyakini bahwa SF merupakan orang yang terpilih untuk merawat anak special karena Allah percaya dia mampu. “kalau saya beranggapan sih begini ya tidak semua orang, tidak semua ibu diberikan anak yang special..jadi ketika saya diberikan anak yang special mungkin Allah ngasih saya kemudahan justru gitu ya..kemudahan untuk..ya paling mudah kemudahan untuk mendapat surga gitu ya kalau mungkin ibu lain memerlukan sepuluh langkah atau berlari gitu kalau saya mungkin ya dengan kesulitan yang sekarang saya dikasih bonus 9 langkah mungkin ya saya percaya itu aja” Benard et al., (dalam Goldstein dan Brooks, 2005)
Penelitian resiliensi penting dalam rangka membangun komunitas yang mendukung pada pengembangan manusia berdasarkan pada hubungan saling membantu, juga menunjukkan individu pada kebutuhan akan stabilitas psikologis dan rasa memiliki, dan penelitian resiliensi penting karena resiliensi telah lama dikenal oleh para peneliti psikologi dan menjadi konstribusi yang baik pada psikologi, serta karena resiliensi mengarah pada kebijaksanaan hati dan intuisi sebagai panduan bagi intervensi klinis. Dari kisah ibu DS dan SF penulis tergelitik untuk mencari tahu lebih dalam tentang resiliensi dari orang-orang yang banyak ditempa musibah atau masalah, faktor-faktor, sumber-sumber dan kekuatan dari dalam individu yang dapat membentuk menjadi resilien. Hasil penelitian terdahulu tentang “Dinamika Resiliensi Orang Tua Anak Autis” oleh Siti Mumun Muniroh (2010) menemukan bahwasanya pembentukan resiliensi orang tua anak autis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, faktor dari luar dan dari dalam. Faktor dari dalam sendiri di antaranya adalah adanya kompetensi pribadi, toleransi pada pengaruh negatif, penerimaan diri yang positif, kontrol diri dan pengaruh spiritual. Sedangkan pengaruh dari luar adalah adanya dukungan keluarga, saudara, tetangga, serta orang-orang terdekat. Selain itu ditemukan juga bahwasanya individu yang resilien membutuhkan waktu yang lama dalam proses adaptasi, mereka juga mengalami fase terkejut stress dan menyalahkan diri, secara afektif mereka juga merasakan perasaan kecewa, bingung dan sedih. Penelitian lain yang dilakukan oleh Ummi Kulsum dengan judul penelitian “Faktor-Faktor Resiliensi pada Ibu Penyandang Tuna Rungu” menyimpukan bahwa ketiga subjek yang diteliti menunjukkan faktor-faktor resiliensi yang mereka alami, meskipun terdapat kondisi yang berbeda dari tiap-tiap individu, ada subjek yang kurang ada subjek juga subjek yang memenuhi item resiliensi.
Dari beberapa kasus diatas menyiratkan bahwa tidak semua individu mempunyai resiliensi dalam dirinya, ada individu yang sudah mencapai resiliensi, ada pula individu yang masih dalam proses pemulihan, proses resiliensi antara satu orang dengan orang lain pun berbeda, peneliti ingin mencoba mencari penjelasan mengapa terdapat individu yang mempunyai kemampuan adaptasi yang baik dan ada pula ndividu yang sulit bangkit dan masih terjebak dalam kedukaan. Keunikan-keunikan ini menjadi suatu hal yang menarik untuk dijadikan kajian penelitian dan dieksplorasi lebih lanjut. Berangkat dari gambaran diatas menjadi alasan peneliti untuk melihat bagaimana resilieni ibu dengan anak down syndrome secara lebih akurat dan lebih lengkap. Adapun subjek ibu dipilih karena secara psikologis ibu merupakan orang yang paling dekat dengan anak baik secara emosional maupun dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika mendampingi dan mengasuh anak, dapat diasumsikan ibu merupakan sosok yag paling rentan terhadap stress karena kondisi anak, diperkuat Wenar dan Kerig (2009) bahwasanya ibu seringkali dilanda stress, terutama bagi ibu yang frekuensi bersama dengan anaknya lebih sering daripada ayah, karena dalam hal pengasuhan anak, ibu lebih membutuhkan dukungan sosial-emosional dalam waktu yang lama dan lebih banyak informasi tentang kondisi anak serta dalam hal merawat anak, sebaliknya ayah lebih terfokus pada finansial dalam membesarkan anak.
B.     Rumusan Masalah
 Berdasarkan uraian di atas maka bentuk masalah yang ingin di ketahui penulis adalah:
 1. Bagaimanakah resiliensi ibuyang memiliki anak down syndrome?
 2. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi ibu yang memiliki anak down syndrome?
 C. Tujuan Penelitian
 Berdasarkan uraian di atas maka bentuk tujuan dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana resiliensi ibu yang memilki anak down syndrome.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi ibu yang memiliki anak down syndrome.
 D. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang penelitian dan gambaran data awal yang sudah dipaparkan diatas, maka fokus utama penelitian ini adalah resiliensi pada ibu yang memiliki anak down syndrome dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
 E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang ingin di dapatkan dari penelitian ini adalah:
 1. Penelitian ini diharapkan menjadi pengalaman dan pembelajaran bagi penulis dalam bidang psikologi, khususnya yang berkaitan dengan resiliensi orang tua yang memiliki anak down syndrome.
2. Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah dan pengembangan bagi keilmuan psikologi sekaligus menjadi acuan dan bahan bagi peneliti selanjutnya yang terkait dengan permasalahan yang sama. 3. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wacana dan informasi baru bagi ibu maupun masyarakat luas terkait resiliensi orang tua yang memiliki anak down syndrome sehingga lebih bijak dalam memandang hidup dan memahami anak down syndrome


Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Resiliensi ibu yang memiliki anak down syndrome" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment