Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Sunday, August 6, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Psikologi:Hubungan religiusitas terhadap pengambilan keputusan dalam memilih pasangan hidup mahasiswi Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang



Abstract

INDONESIA:
Salah satu tugas perkembangan pada masa dewasa awal ialah memilih pasangan hidup, masa dewasa berpotensi dalam membangun hubungan dengan lawan jenis atau pernikahan. Hal ini biasanya lebih banyak dialami oleh kaum wanita. Mereka akan mulai sedikit gelisah ketika pada perkuliahan tahun ketiga namun belum memiliki pasangan yang akan menjadi calon pasangan hidupnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang pemilihan pasangan hidup yang dihubungkan dengan tingkat religiusitas.
Jenis penelitian ini adalah menggunakan kuantitatif korelasi. Adapun cara pengumpulan data yang digunakan menggunakan angket langsung dan tertutup. Sampel yang diambil sebanyak 33 mahasiswi psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Berdasarkan dari penelitian yang telah penulis lakukan, digunakan korelasi product moment. Penulis mengkorelasikan religiusitas dengan aspek-aspek dalam memilih pasangan hidup yaitu agama, fisik, ilmu, harta dan psikologis. Dari kelima aspek tersebut, tingkat religiusitas menunjukkan korelasinya dengan aspek psikologis sebesar r = 0,464.
ENGLISH:
One of the developmental tasks in early adulthood is choosing a life partner, adulthood has the potential to build a relationship with the opposite sex or marriage. It is usually much more experienced by women. They will start anxious when the third-year college but have not had a partner who would be a candidate for a life partner.
This research to find out about the selection of a life partner who is associated with the level of religiosity.
This research is correlative quantitative. The data collected using a questionnaire that is used directly and closed. The samples that used 33 colledge of psychology The Islamic State of Maulana Malik Ibrahim Malang.

Based on the research that has been done, used product moment correlation. The researcher correlate religiosity with aspects in choosing a life partner is religious, physical, science, treasure and psychological. Of the fifth aspect, the level of religiosity showed correlation with the psychological aspects of r = 0.464.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
 Masa awal kedewasaan merupakan masa dimana seseorang mengikat diri pada suatu pekerjaan dan banyak yang menikah atau membentuk jenis hubungan intim. Keintiman berarti suatu kemampuan memperhatikan orang lain dan membagi pengalaman dengan mereka1 . Santrock mengatakan masa dewasa awal adalah masa untuk bekerja dan menjalin hubungan dengan lawan jenis, terkadang menyisakan sedikit waktu untuk hal lainnya. Kenniston mengemukakan masa muda (youth) adalah periode kesementaraan ekonomi dan pribadi, dan perjuangan antara ketertarikan pada kemandirian dan menjadi terlibat secara sosial. Periode masa muda rata-rata terjadi 2 sampai 8 tahun, tetapi dapat juga lebih lama. Dua kriteria yang diajukan untuk menunjukkan akhir masa muda dan permulaan dari masa dewasa awal adalah kemandirian ekonomi dan kemandirian dalam membuat keputusan. Mungkin yang paling luas diakui sebagai tanda memasuki masa dewasa adalah ketika seseorang mendapatkan pekerjaan penuh waktu yang kurang lebih tetap. 2 Dapat dikatakan bahwa masa dewasa merupakan masa dimana individu tidak lagi harus bergantung secara ekonomis, sosiologis, maupun psikologis pada orangtuanya, serta masa untuk bekerja, terlibat dalam hubungan masyarakat, dan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Salah satu tugas perkembangan pada masa dewasa awal ialah memilih pasangan hidup, masa dewasa berpotensi dalam membangun hubungan dengan 1 Rita L. Atkinson, Pengantar Psikologi, (Jakarta : Erlangga, 1997), hal 143 2 Santrock, Life Span Development Edisi Kelima, (Jakarta : Erlangga, 2002), hal 73 lawan jenis atau pernikahan. Dari hal tersebut, dapat dilihat kenyataan tidak menyenangkan yang terjadi yaitu dewasa ini banyak sekali kasus-kasus perceraian yang terjadi di sekitar kita. Alasannya pun beragam, dari mulai ketidak cocokan satu sama lain, perselingkuhan, pemenuhan kebutuhan (nafkah) dan masih banyak lagi yang lainnya.
Hal ini tidak lain adalah karena kesalahan dalam pengambilan keputusan memilih pasangan hidup. Ada beberapa faktor yang diungkapkan oleh Kotler yang mempengaruhi pengambilan keputusan, adalah (a) faktor budaya, yang meliputi peran budaya, sub budaya, dan kelas sosial, (b) faktor sosial, yang meliputi kelompok acuan, keluarga, peran dan status, (c) faktor pribadi, yang meliputi usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri, (d) faktor psikologis, yang meliputi motivasi, persepsi, pengetahuan, keyakinan dan pendirian.3 Masa-masa untuk memilih pasangan hidup akan dijumpai oleh setiap manusia dalam hidupnya. Pada umumnya, mereka akan mulai memikirkan untuk memiliki pasangan hidup pada masa kuliah dimana masa kuliah ini termasuk dalam masa dewasa. Hal ini biasanya lebih banyak dialami oleh kaum wanita. Mereka akan mulai sedikit gelisah ketika pada perkuliahan tahun ketiga namun belum memiliki pasangan yang akan menjadi calon pasangan hidupnya. Berbeda dengan kaum laki-laki yang biasanya lebih memikirkan tentang karirnya dahulu sebelum pernikahan atau pasangan hidup. Fenomena-fenomena seperti ini begitu terlihat di sekitar kita. Seperti halnya yang dialami oleh mahasiswi psikologi UIN 3 Fahimatul Ilmiyah, Hubungan Locus Control (Pusat Kendali) dengan Decision Making (Pengambilan Keputusan) Pada Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Fakyltas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Maulana Malik Ibrahim, mereka juga merasakan hal tersebut. Salah satu mahasiswi mengungkapkan bahwa mahasiswi tersebut ingin segera mendapatkan seorang pasangan yang serius, bukan hanya sekedar pacar namun yang sudah memiliki visi dan misi yang jelas dalam berhubungan. Mahasiswi yang lain pun juga mengharapkan hal yang sama. 4 Pemilihan pasangan hidup sekarang ini lebih banyak berlandaskar faktorfaktor psikososial. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kaum wanita jauh lebih banyak dan jauh lebih sering daripada kaum pria, memilih pasangan hidup atau calon suaminya berdasarkan pertimbangan faktor intelegensi, yaitu memilih pria yang cukup inteligen atau lebih inteligen dari diri sendiri.
Hal ini disebabkan karena faktor inteligensi menjadi sarana utama untuk memperoleh sukses dalam masyarakat luas.5 Untuk menentukan pasangan hidup, ada beberapa cara yang dapat dilakukan diantaranya ta’aruf dan pacaran. Ta’aruf diartikan kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. 6 Namun dalam praktek sehari-hari ada yang menggunakan kata ta’aruf sebagai suatu proses sebelum ikhwan dan akhwat menjalani pernikahan. Dalam ta’aruf, mereka saling mengenalkan keadaan diri masing-masing, bila cocok bisa dilanjutkan ke proses khitbah dan bila tidak maka proses akan dihentikan.
 Hasil wawancara dengan mahasiswi psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 5 Kartini Kartono, Psikologi Wanita (Gadis Remaja dan Wanita Dewasa), (Bandung : Alumni, 1986), hal 220 6 http://id.wikipedia.org/wiki/Taaruf Mungkin seperti itu secara sederhananya, walaupun pada prakteknya bisa begitu rumit dan kompleks. Jadi,taaruf bukanlah bermesraan berdua,tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkn sebuah perjalanan panjang brdua. ta'aruf adalah proses saling kenal mengenal pra nikah dengan dilandasi ketentuan syar'i, karena di dalam islam pun tidak ada yang nama nya pacaran, dan cinta sejati itu hanyalah milik Allah.
 Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan memiliki hubungan batin berdasarkan cinta kasih. Berpacaran adalah bercinta, berkasih-kasihan. Memacari adalah mengencani, menjadikan dia sebagai pacar. 8 Biasanya pacaran dilakuan karena adanya rasa saling suka. Dalam pacaran kadang disertai dengan aktivitas yang terlalu intim dan dilarang agama, namun ada juga yang masih menjaga dirinya masing-masing. Dalam hubungan pacaran, bisa jadi ada rencana pernikahan, namun kebanyakan belum memikirkan ke arah pernikahan. Dan bagi yang memikirkan pernikahan pun ada yang mau nikah dalam waktu dekat dan ada yang masih lama rencana nikahnya. Namun, persepsi umum dari pacaran adalah aktivitas intim (kedekatan) yang dilakukan 2 orang yang masih belum resmi menjadi suami istri. Kedekatan itu bisa kedekatan secara fisik dan bisa jadi kedekatan komunikasi.
Pada jaman sekarang ini, pencarian pasangan hidup sudah sangat umum dilakukan dengan jalan pacaran. 7 http://id.wikipedia.org/wiki/Taaruf 8 Frista Atmanda W, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Jombang : PT Lintas Media), hal 863 Pacaran dianggap sebagai sesuatu yang dapat dijadikan ajang untuk melakukan pengenalan terhadap pasangan masing-masing untuk dapat mendalami sifat dari masing-masing pasangannya. Pada masa transisi antara remaja dan masa dewasa awal terdapat keyakinan refleksi ke dalam diri sendiri. Menurut Fowler, individu mampu mengambil dan melakukan tanggung jawab secara penuh terhadap yang diyakininya.9 Gaya pacaran saat ini sudah sangat jarang ditemukan yang mengedepankan moral dan agama, kebanyakan merupakan dorongan libido, jika sudah begitu maka kedewasaan berpikir dan kesadaran agama tidak digunakan. Kesadaran agama (religiusitas) yang dimaksud adalah pemahaman mereka tentang agamanya dan perilaku mereka yang sesuai dengan kaidah agama. Dengan kesadaran atau pemahaman agama yang cukup, mereka akan lebih mengetahui batasan-batasan dalam berperilaku termasuk dalam hal pencarian pasangan hidup mereka. Seperti kriteria calon pasangan hidup yang ideal atau cara dalam mengambil keputusan untuk memilih pasangan hidup mereka. Kriteria dalam memilih pasangan hidup bagi kaum wanita telah dijelaskan dalam QS. Al Baqarah ayat 221 : “... dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin- 9 Agoes Dariyo, Psikologi Perkembamgan Dewasa Muda, (Jakarta : PT Grasindo, 2004), hal 93 Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”10 Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda : “ Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang beragama dan akhlaknya kamu ridhai maka kawinkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksankannya maka akan terjadi fitnah dimuka bumi ini dan tersebarlah kerusakan ” (HR. At Tirmidzi). Dengan memiliki bekal agama yang cukup, diharapkan para wanita mampu memilih pasangan hidup yang tepat dan sesuai dengan kriteria pasangan hidup yang baik.
Bekal keagamaan juga mempengaruhi bagaimana memilih kriteria pasangan hidup yang baik, karena dengan bekal agama yang cukup tidak membuat mereka mudah terbuai dengan cinta sehingga mereka kurang memperhatikan kriteria-kriteria memilih pasangan hidup yang baik sesuai dengan yang telah diajarkan dalam agama islam. Hal ini biasanya banyak terjadi pada kaum wanita yang memiliki perasaan peka terhadap segala perhatian-perhatian yang diberikan oleh kaum laki-laki yang akhirnya membuat wanita mudah jatuh cinta kepada laki-laki dan dengan mudahnya menjatuhkan pilihan sebagai pasangan hidupnya, karena hal tersebutlah, maka peneliti mencoba untuk melakukan penelitian, yaitu “Pengaruh Religiusitas Terhadap Pengambilan Keputusan Dalam Memilih Pasangan Hidup Mahasiswi Psikologi Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang”. 10 http://artiquran.wordpress.com/2011/02/07/surat-al-baqarah-ayat-221-s-d-230/
B. Rumusan Masalah
 1. Bagaimana tingkat religiusitas mahasiswi psikologi UIN Malang?
 2. Apakah dasar pengambilan keputusan yang dilakukan oleh mahasiswi psikologi UIN Malang dalam memilih pasangan hidupnya?
 3. Apakah ada hubungan religiusitas terhadap pengambilan keputusan dalam memilih pasangan hidup mahasiswi psikologi UIN Malang?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui tungkat religiusitas mahasiswi psikologi UIN Malang
2. Untuk mengetahui dasar pengambilan keputusan yang dilakukan mahasiswi psikologi UIN Malang dalam memilih pasangan hidupnya
 3. Untuk membuktikan hubungan religiusitas terhadap pengambilan keputusan dalam memilih pasangan hidup mahasiswi psikologi UIN Malang.
D. Manfaat Penelitian
 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan keilmuan baik dari aspek teoritis maupun praktis, diantaranya:
1. Manfaat teoritis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan penambahan khazanah keilmuan psikologi terutama yang berkenaan dengan religiusitas dan memilih pasangan hidup bagi mahasiswi Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
 2. Manfaat praktis, sebagai bahan rujukan bagi praktisi psikologi dan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak kampus dalam mengambil kebijakan terkait dengan mahasiswa.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" :Hubungan religiusitas terhadap pengambilan keputusan dalam memilih pasangan hidup mahasiswi Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang" Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment