Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Tuesday, April 25, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Manajemen:Analsis pengaruh media iklan toko online (online shop) terhadap sikap konsumen berbelanja online: Survei pada mahasiswa PTN/PTAIN di Kota Malang

Abstract

INDONESIA:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh media iklan toko online (online shop) terhadap sikap konsumen berbelanja online, mengetahui sub variabel paling dominan dari media iklan toko online terhadap sikap konsumen, mengetahui pengaruh sub variabel media iklan toko online terhadap sub variabel sikap konsumen, dan mengetahui hubungan antar sub variabel sikap konsumen. Sub variabel media iklan televisi (X) terdiri dari pesan (X1), naskah (X2), desain (X2), model (X4), musik (X5), dan warna (X6). Sedangkan sub variabel dari sikap konsumen (Y) yaitu sikap kognitif (Y1), sikap afektif (Y2), dan sikap konatif (Y3).
Jenis penelitian menggunakan metode kuantitatif. Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner. Sampel dalam penelitian adalah mahasiswa PTN/PTAIN di kota Malang. Teknik analisis data menggunakan uji regresi berganda, uji regresi bertingkat, uji hipotesis, serta uji korelasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan media iklan toko online berpengaruh signifikan terhadap sikap konsumen. Secara parsial pesan dan model berpengaruh signifikan terhadap sikap konsumen. Pesan berpengaruh paling dominan terhadap sikap konsumen. Pesan juga berpengaruh signifikan terhadap sikap kognitif, sikap afektif, dan sikap konatif. Sementara model dan musik hanya berpengaruh signifikan terhadap sikap kognitif. Korelasi antar sub variabel sikap kognitif, sikap afektif, dan sikap konatif, sama-sama mempunyai hubungan, namun dengan tingkat hubungan yang berbeda-beda.
ENGLISH:
The purposes of this research was to determine the effect of online shop’s advertising media towards consumer attitudes to have online shopping, as well as knowing the most dominant sub-variables of advertising media online shop toward consumer attitudes, determining the effect of sub variables of advertisement media online shop to sub variable consumer attitudes, and determining the relationship between each sub variable consumer attitudes. To sub variable of television advertisement media (X), consist of messages (X1), script (X2), design (X2), model (X4), music (X5), and color ( X6). Meanwhile sub variable of consumer attitudes (Y), such us cognitive attitude (Y1), affective attitude (Y2), and conative attitude (Y3).
This research employs quantitative methods. Primary data are obtained through spreading questionnaire. Sample of this research is university students of PTN/PTAIN in Malang. The analysis technic uses multiple regression test, level regresion test, hypothesis test and correlation test.

The results of this research shows that simultaneously advertisement media of online shop significantly effect toward consumer attitudes. Partially, message and model significantly effect toward consumer attitudes. Massage give most dominant effect toward consumer attitudes. Message significantly effects towards cognitive attitude, affective attitude, and conative attitude as well while model and music merely gives significant effect toward cognitive attitude. Correlation inter sub variable cognitive attitude, affective attitude, and conative attitude, equally have relation however by having different level relation.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
 Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, manusia semakin menyadari tentang pentingnya kebutuhan informasi dan teknologi. Perkembangan teknologi yang membuat manusia menjadi lebih mudah untuk mendapat informasi (Siregar dan Dewi, 2014).
 Keputusan Departemen Pertahanan Amerika (ARPA) untuk mengembangkan proyek ARPANET tahun 1960 telah berdampak sedemikian besar bagi dunia. Hasil proyek ARPANET tersebut sekarang dikenal dengan internet. Dengan adanya ijin dari pemerintah Amerika pada awal tahun 1990, penggunaan internet sudah terbuka luas bagi publik (id.wikipedia.org). Merujuk pada peneliti Siregar dan Dewi (2014) menjelaskan bahwa internet menjadi media untuk mendapatkan informasi yang sifatnya sangat luas dan tidak terbatas. Melalui situs-situs website internet, manusia bisa mengakses informasi sampai penjuru dunia. Dwipuspita, dkk. (2012) menambahkan dengan adanya internet membuat banyak orang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan perangkat yang terkoneksi oleh internet. Di Indonesia, pengguna internet mulai semakin pesat dari tahun ke tahun. Hal ini bisa dibuktikan pada data yang diteliti oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) yang bekerja sama dengan PUSKAKOM (Pusat Kajian Komunikasi Univeritas Indonsia).
Dari data 2 APJII disebutkan bahwa pengguna internet pada tahun 2014 mencapai angka 88,1 juta jiwa. Dengan demikian, jika disesuaikan dengan jumlah populasi penduduk Indonesia yang menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 252,4 juta jiwa, maka pengguna internet di Indonesia mengalami pertumbuhan 16,2 juta jiwa dari total 71,9 juta pengguna di tahun 2013 lalu. Jika dipersontasekan maka penetrasi pengguna internet meningkat 34,9% di tahun 2014. Sedangkan data terbaru dari Kemenkominfo menyebutkan bahwa pada tahun 2015, saat ini jumlah pengguna Internet di Indonesia sudah mencapai 57% pengguna, atau kasarnya mencapai hampir 137 juta pengguna. Sehingga, tidak menutup kemungkinan di akhir 2015 nanti bisa mencapai angka 150 juta orang pengguna, atau sekitar 61% dari total penduduk seperti yang ditargetkan oleh Kemenkominfo (www.dailysocial.net). Perkembangan internet berdampak pada perubahan cara organisasi merancang, memproses, memproduksi, memasarkan, dan menyampaikan produk. Lingkup persaingan yang semakin luas juga menuntut integrasi dan koordinasi antara departemen sistem informasi, pemasaran, layanan pelanggan, dan departemen-departemen lainnya dalam organisasi. Beraneka raga peluang pemanfaatan internet yang bisa diekploitasi meliputi: sumber baru untuk informasi pasar, individualized marketing, cara baru menjalin relasi online dengan pelanggan dan membangun citra merek, serta peluang baru bagi distribusi produk dan komunikasi pemasaran. Proses penyampaian produk secara digital via internet diperkirakan akan semakin marak dalam berbagai sektor bisnis, terutama untuk program perangkat lunak, surat kabar, 3 tiket pesawat, perbankan, asuransi, pendidikan, dan lain-lain (www.johanifauzi.info). Merujuk pada peneliti Kristiono dan Honggo (2014) menyebutkan bahwa dengan adanya internet sebuah paradigma ekonomi baru telah lahir. Dunia maya terbentuk seiring dengan berkembangnya pengguna internet yang terus bertumbuh pesat. Kemajuan teknologi internet memberikan dampak yang besar terhadap bagaimana perilaku konsumen dalam membeli barang dan memutuskan dari mana mereka dapat memenuhi kebutuhan. Internet juga mengubah cara pandang pemasar dalam menawarkan barang dan jasanya. Internet telah menyediakan platform seperti situs, blog, jejaring sosial, forum komunitas dan messenger yang memberikan kemudahan sekaligus daya jangkau yang lebih luas. Fenomena ini dapat menjadi pasar yang potensial untuk dimasuki para pebisnis. Sehingga Electronic business (e-business) dan electronic commerce (e-commerce) juga akan berkembang. Ada beberapa faktor yang menyebabkan pasar tradisional atau pasar fisik beralih menjadi pasar online (e-commerce). Menurut sumber media online marketeers.com, telah disebutkan bahwa Indonesia sudah siap untuk e- commerce. Faktor pertama, berkembangnya kelas menengah.
Daya beli masyarakat yang semakin kuat, tidak diimbangi dengan proses distribusi yang baik. Inilah alasan mengapa e-commerce menjadi pilihan. Faktor kedua, penetrasi pengguna internet yang semakin besar. Masyarakat telah terbiasa menggunakan smartphone dan siap untuk bertransaksi online. Faktor Ketiga, para pelaku pasar diluar e-commerce seperti manufaktur dan trading melihat 4 e-commerce sebagai titik akhir dalam digital marketing. Distribusi dapat dilakukan dengan lebih mudah dan mendapatkan ROA yang riil, tidak hanya sampai pada level awareness. Sebagai imbas masyarakat yang semakin sibuk sehingga tidak punya banyak waktu untuk berbelanja di toko atau pusat perbelanjaan. Maka pertumbuhan pasar online dan konsumen belanja melalui dunia maya (online shopping) di Indonesia menjadi sangat besar. Dengan riset yang digelar oleh APJII dan Puskakom UI didapatkan sejumlah infografis yang menggambarkan perilaku, komoditas yang diperjual belikan secara online dan jenis situs belanja online (online shop). Menurut survey ini, pengguna internet perempuan lebih berani melakukan belanja online (58%) dibanding pengguna internet laki-laki (42%) dan pengguna yang pernah belanja online sampai awal tahun 2015 mencapai 27% (www.apjii.or.id). Hasil riset APJII tersebut mencapai data yang hampir sama didapatkan oleh Brand Marketing Institute (BMI) Research yang telah melakukan penelitian tentang tren belanja online di tahun 2014. Hasil BMI Research yang ditujukan pada 1.213 internet user, dimana terdapat 24% dari partisipan memiliki tendensi untuk melakukan belanja online (www.swa.co.id). Menurut Hardiyanti (2012), berbelanja melalui internet (online) telah menjadi alternatif tersendiri bagi konsumen untuk melakukan transaksi jual beli. Dengan memanfaatkan teknologi yang sudah berkembang saat ini konsumen telah diberikan cara lain berbelanja yang lebih praktis tanpa harus keluar rumah. Jumlah pebelanja melalui internet juga mengalami peningkatan 5 dari tahun ke tahun. Bagi sektor bisnis hal ini merupakan terobosan guna memajukan perusahaannya. Perusahaan banyak yang memanfaatkan media internet guna menunjang bisnisnya seperti sebagai media promo. Bahkan ada beberapa perusahaan yang hanya memiliki bisnis di dunia maya saja, mereka tidak memiliki toko fisik yang dipergunakan untuk memamerkan produknya. Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) telah diatur mengenai transaksi elektronik dimana salah satunya mengatur tentang jual beli online. Dalam Undang- Undang ini tidak ada larangan untuk mengadakan jual beli online, bahkan dapat menjadi landasan sahnya transaksi elektronik dalam jual beli online. Dalam pasal 1 ayat (2) UU ITE disebutkan bahwa “Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan Komputer, jaringan Komputer, dan/atau media elektronik lainnya”. Hal inilah salah satu yang dapat memicu semakin berkembangnya e-bussiness atau e-commerce dan meningkatnya konsumen untuk malakukan pembelian barang atau belanja secara online. Selain itu, perilaku konsumen terhadap e-commerce terus meningkat dengan mulai mengadopsi kebiasaan berbelanja online. BMI memperkirakan pasar belanja online di Indonesia akan tumbuh hingga 57%, atau meningkat dua kali lipat lebih dibandingkan tahun lalu, yakni sebesar 24%. Ditilik dari perputaran uangnya, hasil riset BMI mengungkapkan total nilai belanja online per orang selama satu tahun belakangan ini mencapai Rp 825 ribu, atau jika diakumulasikan mencapai Rp 21 triliun. Jika didasarkan pada prediksi pertumbuhan sebesar 57%, maka 6 jumlah transaksi yang terjadi pada tahun 2015 ini diperkirakan mencapai Rp 50 triliun (www.swa.co.id). Data diatas diperkuat dengan data yang dikeluarkan badan riset ICD, bahwa Indonesia mencatat pertumbuhan pasar online (e-commerce) terbesar sepanjang tahun 2012 hingga 2015 hingga 42% dibandingkan dengan beberapa negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, seperti Filipina (28%), Thailand (22%) dan Malaysia (14%) (www.icd-research.com). Data tersebut juga diperkuat dengan hasil survei konsultan teknologi Redwing-Asia yang menyebutkan bahwa pasar belanja online dalam negeri pada tahun 2015 berkisar US$ 1 miliar (Rp 13,2 triliun) hingga US$ 10 miliar (Rp 132,9 triliun).
Barang-barang yang banyak diburu konsumen belanja online tahun lalu antara lain kosmetik, makanan, dan perlengkapan bayi (www.marketeers.com). Tentulah nilai sebesar itu sangat menggoda bagi sebagian investor, baik dalam maupun luar negeri. Beberapa VC (Venture Capital) besar seperti Rocket Internet, CyberAgent, East Ventures, dan IdeoSource bahkan sudah menanamkan modal ke perusahaan e-commerce yang berbasis di Indonesia. Sebut saja beberapa diantaranya adalah raksasa Lazada dan Zalora, Berrybenka, Tokopedia, Bilna, Saqina, VIP Plaza, Ralali dan masih banyak lagi. Perusahaan atau toko-toko online tersebut adalah sebagian contoh dari perusahaan e-commerce yang sukses dan berhasil dalam memanfaatkan peluang pasar online (e-commerce) di Indonesia yang sedang naik daun (www.inovindocorp.com). 7 Pasar online (e-commerce) menjadi tambang emas yang sangat menggoda bagi sebagian orang yang bisa melihat potensi ke depannya. Pertumbuhan ini didukung dengan data dari Menkominfo yang menyebutkan bahwa nilai transaksi e-commerce pada tahun 2014 tercatat US$ 12 miliar (Rp 150 triliun), dan diyakini menembus US$ 24 miliar (Rp 300 triliun) pada tahun 2016 (www.marketeers.com). Jumlah ini akan terus naik seiring dengan bertumbuhnya penggunaan smartphone, penetrasi internet di Indonesia, penggunaan kartu debit dan kredit, dan tingkat kepercayaan konsumen untuk berbelanja secara online. Jika kita melihat Indonesia sebagai Negara kepulauan yang sangat luas, e-commerce adalah sistem pasar online yang berpotensi tumbuh sangat besar di Indonesia (www.inovindocorp.com). Menurut Yogi Wicaksono dalam bukunya Membangun Bisnis Online dengan Mambo (2008) mengemukakan bahwa: “Kelebihan bisnis internet yaitu mempunyai pangsa pasarnya luas, praktis, dan efisien. Hal inilah yang membuat banyak orang yang memanfaatkan internet sebagai media pemasaran dan bisnis.” Riset APJII dan Puskakom UI mengungkapkan elemen yang tak kalah penting, yakni komoditas jual beli online dan jenis situs belanja online. Dalam riset tersebut diketahui bahwa komoditas paling banyak dijual di internet adalah busana dengan persentase 35,1%. Dari jenis situs belanja online data yang terbanyak adalah toko online dengan 50,3% (www.apjii.or.id). Hal inilah yang memunculkan sebuah persaingan pada toko online dalam memenangkan hati konsumen untuk membeli produk dan berbelanja di toko online tersebut. Dengan semakin banyaknya pengguna 8 internet dan konsumen dalam belanja online, telah mendorong munculnya berbagai toko online baru yang hadir untuk bersaing di industri pasar online Indonesia (www.idws.com). Berdasarkan sumber media online idws.com menyebutkan bahwa beberapa perusahaan e-commerce dan toko online yang saat ini mendominasi pasar online Indonesia sepanjang tahun 2015 diantaranya adalah Lazada Indonesia (lazada.co.id), BerryBenka (berrybenka.com), OLX (olx.co.id), Tokopedia (tokopedia.com), Bhinneka (bhinneka.com), Bukalapak (bukalapak.com) dan Blibi (blibi.com). Dengan semakin banyaknya perusahaan e-commers, maka semakin banyak pula produk atau barang yang diperdagangkan pada toko online tersebut. Tidak heran bahwa beberapa toko online besar menjual produk atau barang dagangan yang sama seperti Lazada, OLX dan tokopedia. Karena produk bukan milik atau buatan toko online tersebut. Sehingga beberapa toko online saat ini menggencarkan berbagai promosi untuk mengenalkan perusahaan atau toko onlinenya serta bersaing menarik perhatian dan minat beli konsumen. Salah satu bentuk promosi tersebut adalah iklan. Iklan memainkan peran penting dalam menginformasikan kepada pembeli tentang di mana saja mereka sebaiknya berbelanja online.
Beberapa perusahaan e-commerce ataupun toko online (online shop) telah memilih berbagai media untuk membantu periklanannya. Sebagaimana kita lihat bahwa salah satu media iklan saat ini yang gencar dan dipilih oleh beberapa toko online adalah media iklan televisi. Beberapa toko atau jual beli online 9 yang membuat iklan pada televisi adalah blibi.com, olx.co.id, zalora.co.id, elevenia.com, lazada.co.id, tokopedia.com, bukalapak.com dan traveloka.com (www.idws.com). Menurut Brannan (2005:54), televisi menjadi media iklan paling potensial diantara berbagai media lainnya karena jangkauannya yang luas. Dampak dari suatu iklan televisi tergantung bagaimana pesan disampaikan. Menurut Jefkins (1996:227), dijelaskan bahwa dalam mempelajari suatu iklan di televisi terdiri dari beberapa atribut iklan yang merupakan isi dari periklanan, diantaranya pesan, naskah, desain, model, musik, dan warna iklan. Merujuk pada penelitian Armi (2012), menjelaskan bahwa memanfaatkan media iklan televisi untuk mempromosikan produk mempunyai beberapa kelebihan. Jika dibandingkan iklan-iklan di radio, surat kabar majalah ataupun billboard, iklan televisi lebih memiliki kelebihan. Beberapa kelebihan iklan televisi antara lain: bisa langsung dilihat oleh target pasar, dapat menjangkau konsumen lebih luas, frekuensi pengulangan iklan bisa ditentukan sendiri sesuai durasi waktu dan jam tayang yang disesuaikan dengan acara-acara televisi tertentu. Selain itu dalam penelitiannya juga menjelaskan bahwa semakin sering iklan ditayangkan, maka frekuensi probabilitas iklan dilihat konsumen akan lebih besar. Begitu juga sebaliknya bila frekuensi pemutaran iklan rendah maka iklan tersebut memiliki potensi rendah untuk dilihat konsumen. Dan ketika konsumen sering melihat suatu 10 iklan tertentu maka konsumen akan mudah untuk mengingat jargon produk yang mempengaruhi sikap dan memunculkan minat beli konsumen. Pada peneliti lain seperti Ginting (2011), Wirma (2013), Firman (2011), Tanoni (2013), serta Raharja (2011), dari hasil penelitian seluruhnya mengemukakan bahwa iklan sangat berpengaruh positif dan signifikan terhadap suatu sikap konsumen. Selain itu, Christie (2011) menemukan hasil bahwa Iklan sangat berpengaruh besar terhadap sikap kognitif dan sikap afektif dengan prosentase 89,3%. Qolbi dkk, (2014) menambahkan dari hasil penelitiannya pengaruh iklan berpengaruh signifikan terhadap sikap konatif. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti bermaksud untuk meneliti dan menganalisis bagaimana pengaruh dari beberapa iklan toko online yang sering muncul pada televisi, terhadap sikap konsumen dalam melakukan belanja dan transaksi secara online. Oleh karena itu, peneliti mengambil tema tersebut dengan judul “Analisis Pengaruh Media Iklan Toko Online (Online Shop) terhadap Sikap Konsumen Berbelanja Online” (Survei pada mahasiswa PTN/PTAIN di kota Malang).
1.2  Rumusan Masalah
 Berdasarkan latar belakang tersebut, maka terdapat beberapa pertanyaan yang menjadi sebuah rumusan masalah yaitu:
a. Apakah ada pengaruh secara simultan media iklan toko online (online shop) terhadap sikap konsumen untuk berbelanja online?
b. Apakah ada pengaruh secara parsial media iklan toko online (online shop) terhadap sikap konsumen untuk berbelanja online?
 c. Manakah sub variabel
dari media iklan toko online yang paling dominan berpengaruh terhadap variabel sikap konsumen?
d. Apakah ada pengaruh dari sub-sub variabel media iklan toko online terhadap sub-sub variabel sikap konsumen?
e. Apakah ada hubungan antar sub variabel sikap konsumen?
1.3 Tujuan Penelitian
 Agar penelitian ini dapat mencapai hasil seperti apa yang diharapkan serta dapat terlaksana dengan baik dan terarah. Dengan melihat latar belakang dan rumusan masalah yang ada, maka penelitian ini bertujuan untuk:
a. Mengetahui pengaruh secara simultan media iklan toko online (online shop) terhadap sikap konsumen untuk berbelanja online.
b. Mengetahui pengaruh secara parsial media iklan toko online (online shop) terhadap sikap konsumen untuk berbelanja online. c. Mengetahui sub variabel dari media iklan toko online yang berpengaruh dominan terhadap sikap konsumen. d. Mengetahui pengaruh dari sub-sub variabel media iklan toko online terhadap sub-sub variabel sikap konsumen.
e. Mengetahui hubungan antar sub-sub variabel sikap konsumen dengan alasan agar peneliti dapat mengetahui seberapa besar tingkat hubungan dari ketiga komponen sikap konsumen.
 1.4 Manfaat Penelitian
a. Bagi Perusahaan Sebagai bahan referensi jika perusahaan ingin mengetahui apa saja yang penting untuk diperhatikan dalam menciptakan sebuah iklan yang baik.
 b. Bagi Peneliti Untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta sebagai sarana untuk latihan berpikir secara logis dan sistematis.
c. Bagi Peneliti lain Sebagai bahan pertimbangan bagi peneliti lain yang berminat untuk melakukan penelitian di bidang yang sama.
1.5 Batasan Penelitian
Batasan-batasan ruang lingkup yang dikaji dalam penelitian ini sebagai beriku:
 a. Media iklan yang digunakan oleh jual beli/toko online (online shop), dalam hal ini adalah toko/jual beli online yang menggunakan media televisi sebagai media pengiklannya. Iklan toko online pada media televisi yang dikaji atau diteliti diantaranya blibi.com, olx.co.id, zalora.co.id, elevenia.com, lazada.co.id, tokopedia.com, bukalapak.com dan traveloka.com.
 b. Sedangkan batasan lokasi penelitian hanya pada 4 (empat) Perguruan Tinggi Negeri (PTN/PTAIN) di kota malang yaitu Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Politeknik Negeri Malang, dan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Peneliti tidak memilih 13 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan hanya memilih PTN/PTAIN dikarenakan keterbatasan waktu peneliti serta keterbatasan peneliti yang kesulitan dalam mencari data mengenai mahasiswa yang paham tentang teknologi informasi, yang sering berselancar pada dunia online, paham tentang toko online (online shop) dan yang pernah melihat iklan toko online (online shop) pada media televisi, di PTS maupun PTN/PTAIN.

c. Dan batasan responden yang dijadikan peneliti ini hanya 148 sampel yang diperolah dengan rumus Malhotra. Hal tersebut juga disebabkan keterbatasan waktu peneliti serta keterbatasan peneliti yang kesulitan mencari responden (mahasiswa PTN) yang paham tentang teknologi informasi, yang sering berselancar pada dunia online, paham tentang toko online (online shop) dan yang pernah melihat iklan toko online (online shop) pada media televisi.
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Manajemen :Analsis pengaruh media iklan toko online (online shop) terhadap sikap konsumen berbelanja online: Survei pada mahasiswa PTN/PTAIN di Kota MalangUntuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment