Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, April 24, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Manajemen:Analisis perbandingan evaluasi portofolio reksadana terproteksi (konvensional dan syariah) menggunakan metode Sharpe, Treynor, Jensen periode 2012-2014

Abstract

INDONESIA:
Reksa dana merupakan salah satu bentuk investasi yang sedang berkembang saat ini. Pada perkembangannya mulai muncul reksa dana yang menerapkan prinsip syariah dalam kebijakan investasinya. Evaluasi terhadap kinerja reksa dana merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam memilih jenis reksa dana yang menjadi tujuan investasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat membandingkan kinerja antara reksa dana terproteksi konvensional dan terproteksi syariah dengan menggunakan metode sharpe index, treynor index, dan jensen index.
Populasi dalam penelitian ini adalah reksa dana yang dikelola oleh Manajer Investasi yang mengelola keduasub kategori, reksa dana terproteksi konvensional dan reksa dana terproteksi syariah. Metode analisis yang digunakan adalah uji beda rata-rata dengan menggunakan Independent Sample T-test. Jenis penelitian ini adalah penelitian komparatif.
Dari hasil analisis tersebut memperoleh hasil bahwa hasil penelitian terhadap reksa dana terproteksi konvensional dan syariah menunjukkan bahwa reksa dana konvensional memiliki return yang lebih besar dibandingkan reksa dana terproteksi syariah. Pengujian dengan independent sample t-test pada reksa dana terproteksi konvensional dan syariah menunjukkan bahwa secara keseluruhan kinerja kedua reksa dana tidak signifikan diukur dengan sharpeindex, treynor index, dan jensen index. Sehingga tidak ada perbedaan kinerja antara reksa dana terproteksi konvensional dan terproteksi syariah.
ENGLISH:
Mutual-funds is a form of investment that is being developed at this time. It appears in its development that applies syariah principles in their investment policy. Evaluation toward the performance of it is one of the important things that must be considered in choosing the type of Mutual-funds that is in doing investment destination. This study aimed to look and compare performance between Mutual-funds of conventional protected and syariah protected with using Sharpe index methods, Treynor index, and the jensen index.
The population in this study was Mutual-funds that was managed by the Investment Manager also managed both sub categories, Mutual-funds of conventional protected and syariah protected. The analysis method used was the average difference test using independent sample T-test. This research was a comparative study.

Results of the analysis obtained results that research results on Mutualfunds of conventional protected and syariah protected indicated that conventional Mutual-funds have a larger return than Syariah Mutual-funds protected. Testing by independent sample t-test on a conventional Mutual-funds and sharia indicated that the overall performance of the both Mutual-funds was insignificant measured by sharpeindex, Treynor index, and the jensen index. So there was no performance difference between Mutual-funds of conventional protected and syariah protected.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
 Dewasa ini, berinvestasi pada instrumen keuangan atau financial assets menjadi sebuah cara yang banyak digemari oleh para pemilik modal untuk mengembangkan dana yang mereka miliki. Masyarakat yang semakin paham akan pasar keuangan, akan semakin pandai dalam menilai dan mengendalikan risiko investasi yang mereka lakukan. Semakin modern peradaban ekonomi suatu masyarakat, semakin besar peran pasar modal dibanding peran bank komersial dalam memobilisasi dana ke sektor produktif. Pasar modal merupakan pasar untuk berbagai instrument keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik surat utang (obligasi), ekuiti (saham), reksadana, instrument derivatif maupun instrument lainnya. Saat ini, di Indonesia sedang marak-maraknya membicarakan mengenai salah satu produk investasi pasar modal yang dianggap ideal oleh para investor (domestik) mengingat tingkat keuntungan yang ditawarkan relatif cukup tinggi. Produk investasi tersebut disebut reksa dana (unit trust, mutual fund, atau investment fund), yang merupakan instrumen baru bagi masyarakat umum Indonesia, dimana sebelumnya hanya akrab dengan produk bank seperti tabungan, deposito, dan giro. Secara sederhana reksa dana dapat dikatakan sebagai suatu wadah dari dana masyarakat yang diinvestasikan pada saham, obligasi, deposito berjangka, dan bentuk sekuritas lainnya dalam bentuk yang mempunyai tujuan investasi yang sama, dialokasikan 2 oleh Manajer Investasi sebagai lembaga institusi reksadana di bawah pengawasan Bapepam, dan dananya disimpan pada Bank Kustodian (Suta, 2000). Reksadana merupakan suatu bentuk pemberian jasa yang di dirikan untuk membantu investor yang ingin berpartisipasi dalam pasar modal tanpa adanya keterlibatan secara langsung dalam prosedur, administrasi, dan analisis dalam sebuah pasar modal. Secara umum, reksadana dapat di artikan sebagai suatu wadah yang di gunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang selanjutnya di investasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.(Widjaja, 2006 : 9) Reksadana sebagai salah satu jenis efek dalam berinvestasi, reksadana mempunyai ciri - ciri yang unik apabila di bandingkan dengan jenis- jenis investasi lainnya. Dalam reksadana para investor membeli penyertaan atas kumpulan- kumpulan Efek yang di kelola oleh manajer investasi yang sudah ahli, dengan tujuan mendapat keuntungan. Dana Nasabah/ investor di gunakan oleh manajer investasi untuk mengelola portofolio investasi Efek, untuk memperoleh keuntungan yang kemudian hasil keuntungan tersebut didistribusikan kembali pada investor. Jika dibandingkan dengan deposito, reksadana biasanya akan memberikan return yang lebih besar. Maka dari itu, banyak orang yang memilih reksadana sebagai investasi pilihan. (Widjaja, 2006 : 4) Salah satu jenis reksadana yaitu reksadana terproteksi yang merupakan jenis reksadana yang memberikan proteksi atas nilai investasi awal pemegang saham unit penyertaan melalui mekanisme pengelolaannya portofolionya dan penjaminan pihak lain. Reksadana hadir di pasar modal indonesia saat krisis 3 keuangan menghantam industri reksadana tahun 2005. Reksadana yang terproteksi dengan investasi pada efek yang bersifat utang yang jumlahnya minimal dapat memproteksi nilai yang di proteksi.(Fakruddin , 2011 :170) Diantara jenis investasi reksadana yang ada, reksadana terproteksi merupakan jenis yang paling banyak dipilih
 karena anggapan akan dana pokok yang akan terlindungi. Kelebihan istimewa lain dari reksadana jenis ini adalah beberapa reksadana ini membagikan keuntungan secara berkala 1, 3, atau 6 bulan, sehingga klien atau nasabah pemilik reksadana ini dapat menikmati returnnya atau keuntungannya, sebelum tanggal jatuh tempo. (kontak perkasa futures.com) Pada tahun 2005 menurut data e-monitoring reksadana BAPEPAM LK. Para pemegang unit penyertaan melakukan redemption secara masif sehingga menyebabkan penurunan nilai aktiva bersih (NAB) Keseluruhan reksadana dari Rp 113,7 triliun pada februari 2005 menjadi hanya Rp 29,41 triliun pada desember 2005. Dana terproteksi ini adalah untuk merima limpahan investor reksadana pendapatan tetap yang terus anjlok, sebagai akibat dari adanya gelombang menjual kembali reksadana (redemption).(Manurung, 2008) Perkembangan industri reksadana cukup pesat di Pasar Modal Indonesia. Menurut data e-monitoring reksadana Bapepam-LK, pada tahun 2004 terdapat 246 reksadana yang terdiri dari 4 (empat) jenis reksadana yaitu reksadana saham, reksadana pasar uang, reksadana campuran dan reksadana pendapatan tetap. Sampai dengan Juni 2012, jumlah reksadana telah bertambah menjadi 685 reksa dana dengan tambahan 6 (enam) jenis reksadana baru yaitu reksadana terproteksi, reksadana Indeks, reksadana Exchange Trade Fund (ETF) saham, reksadana 4 Exchange Trade Fund (ETF) pendapatan tetap, reksadana penyertaan terbatas, serta reksadana syariah. (Bandono, 2013). Gambar 1.1 Sumber: Otoritas Jasa Keuangan Dalam rilis yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tercatat bahwa sampai dengan Mei 2015, jumlah produk reksadana syariah meningkat dari hanya 3 produk di tahun 2003 menjadi 80 produk kini. Peningkatan jumlah produk tersebut juga dibarengi pertumbuhan nilai aktiva bersih (NAB) dari hanya Rp66, 94 milyar (2003) menjadi Rp11,79 trilyun di bulan Mei 2015. Ke-80 produk reksadana syariah tersebut terdiri atas reksadana pasar uang berjumlah (8), reksadana saham (23), reksadana pendapatan tetap (11), reksadana campuran (18), reksadana terproteksi (18), reksadana indeks (1), dan reksadana ETF (1). Beberapa diantaranya bahkan tercatat sebagai reksadana terbaik yang menjadi pilihan masyarakat investor. Metode sharpe dikembangkan oleh William sharpe dan juga sering di sebut dengan reward-to-variability ratio. Menurut Tandelilin (2001 :324) dalam metode ini kinerja portofolio di ukur dengan cara membandingkan antara premi 5 risiko portofolio dengan standar deviasinya. Terdapat perbedaan mendasar antara pengukuran kinerja sharpe dan treynor .
Pada pengukuran sharpe , konsep risiko di gunakan sebagai penyesuai adalah risiko total dan penggunaan garis pasar modal (CML) sebagai patokan duga serta dengan standart deviasi sebagai ukurannya sedangkan pada pengukuran kinerja treynor , konsep risiko yang di gunakan sebagai penyesuai adalah risiko sistematis, dengan beta sebagai ukurannya dan penggunaan garis pasar sekuritas (SML) sebagai patok duga serta dengan asumsi bahwa portofolio terdiversifikasi dengan baik. Selain metode sharpe dan treynor pengukuran kinerja portofolio menggunakan metode Jensen. Indeks Jensen merupakan indeks yang menunjukkan perbedaan antara tingkat return aktual yang di peroleh portofolio dengan tingkat return actual yang di peroleh portofolio dengan tingkat return yang di harapkan jika portofolio tersebut berada pada garis pasar modal.(Tandelilin, 2001 : 330) Terdapat perbedaan dengan penelitian terdahulu yaitu oleh Barus (2013) menilai kinerja reksadana dengan menggunakan metode sharpe dan treynor saja. Dalam penelitian terdahulu juga terdapat penelitian yang menggunakan metode sharpe, treynor , dan Jensen ini, hanya saja penelitiannya pada reksadana syariah saja, seperti penelitian yang di lakukan oleh sari (2012) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Komparatif Kinerja Reksadana Syariah Indonesia Dan Malaysia”, Penelitian ini akan menyempurnakan penelitian terdahulu dengan menggunakan metode sharpe, treynor dan jensen pada kinerja reksadana terproteksi konvensional dan reksadana terproteksi syariah. Menurut Manurung 6 (2013) dalam penelitian yang berjudul “kinerja reksadana terproteksi di Indonesia menyimpulkan bahwa 16 Terproteksi yang memiliki sharpe index di atas SBI bahkan terdapat 13 reksadana yang mampu memiliki sharpe index di atas IHSG. Hasbi (2005) menemukan bahwa reksa dana saham syariah berkinerja baik dibandingkan kinerja pasarnya (JII). Hasil penelitian Rachmayanti (2006) menunjukkan bahwa kinerja portofolio saham syariah mengungguli kinerja portofolio saham konvensional.
Peneliti terdahulu terdahulu telah banyak menguji kinerja indeks syariah dibandingkan dengan indeks konvensional, namun penelitian mengenai analisis perbandingan kinerja reksa dana syariah dengan reksa dana konvensional belum secara luas diuji. Penelitian ini untuk memperluas keberadaan hasil riset mengenai analisis kinerja reksa dana yang telah dilakukan peneliti-peneliti sebelumnya terutama pada reksadana terproteksi konvensional dan syariah. Karena itu peneliti tertarik dengan judul “Analisis Perbandingan Evaluasi Portofolio Reksadana Terproteksi (Konvensional Dan Syariah) Menggunakan Metode Sharpe, Treynor , Jensen Periode 2012-2014”
1.2  Rumusan Masalah
 Apakah terdapat perbedaan antara kinerja reksadana terproteksi konvensional dan reksa dana terproteksi syariah dengan menggunakan metode sharpe, treynor dan jensen ?
1.3  Tujuan Penelitian
1.4  Untuk mengetahui perbedaan antara kinerja reksa dana terproteksi konvensional dan reksadana terproteksi syariah dengan menggunakan metode sharpe, treynor dan jensen.
1.5  Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi Investor Pasar Modal Di harapkan penelitian ini dapat menambah informasi serta bahan evaluasi mengenai kinerja reksadana terproteksi konvensional dan reksadana terproteksi syariah sebagai pertimbangan untuk pengambilan keputusan investasi
2. Bagi Analis Sekuritas Dapat di jadikan sebagai alat referensi untuk mengukur dan menganalisis kinerja portofolio.
3. Bagi Peneliti Dapat dijadikan sebagai bahan tambahan pengetahuan dari aplikasi aplikasi teori yang telah di pelajari dan untuk meningkatkan kemampuan peneliti untuk melakukan penelitian ilmiah
 4. Bagi Akademisi Sebagai tambahan referensi dan bahan pustaka atau bahan acuan peneliti yang berkepentingan untuk meneliti permasalahan yang sesuai, khususnya mengenai analisis perbandingan kinerja reksadana terproteksi konvensional dan syariah di pasar modal di indonesia.
 1.5 Batasan Penelitian

 Penelitian ini di batasi untuk semua reksadana terproteksi konvensional dan reksadana terproteksi syariah yang di listing dari periode 2012-2014.
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Manajemen :Analisis perbandingan evaluasi portofolio reksadana terproteksi (konvensional dan syariah) menggunakan metode Sharpe, Treynor, Jensen periode 2012-2014Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment