Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, April 17, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Manajemen:Analisis penggunaan metode Z-Score Altman untuk memprediksi potensi kebangkrutan perusahaan perbankan go public di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2011

Abstract

INDONESIA:
Kebangkrutan adalah suatu kondisi disaat perusahaan mengalami ketidakcukupan dana untuk menjalankan usahanya. Kebangkrutan biasanya dihubungkan dengan kesulitan keuangan. Analisis diskriminan bermanfaat bagi perusahaan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan dan keberlanjutan usahanya. Rasio keuangan merupakan salah satu informasi yang dapat digunakan sebagai alat untuk memprediksi kinerja perusahaan. Salah satu teknik yang dapat digunakan dalam analisis kebangkrutan perusahaan adalah dengan menggunakan analisis diskriminan yaitu menggunakan model yang dinilai (Z) Z-Score. Z-Score adalah skor yang ditentukan dari tingkat kemungkinan kebangkrutan perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memprediksi potensi kebangkrutan perusahaan dengan menggunakan metode Altman Z-score pada perusahaan Perbankan yang terdaftar di BEI periode tahun 2009-2011.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Obyek penelitian ini adalah 15 perusahaan perbankan yang telah menerbitkan laporan keuangan selama 3 tahun terakhir. Data yang diambil adalah data sekunder yang berupa laporan keuangan perusahaan. Pada penelitian ini metode pengumpulan data adalah dengan dokumentasi dan studi pustaka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan perusahaan perbankan yang menjadi objek penelitian berada dalam kategori perusahaan tidak sehat atau diprediksi akan mengalami kebangkrutan (nilai Z-score di bawah 1,81 dan bahkan negatif), yaitu Bank Agroniaga Tbk, Bank Central Asia Tbk, Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, Bank Bukopin Tbk, Bank Bumi Arta Tbk, Bank CIMB Niaga Tbk, Bank Danamon Indonesia Tbk, Bank ICB Bumiputera Tbk, Bank Internasional Indonesia Tbk, Bank Mayapada Internasional Tbk, Bank Nusantara Parahyangan Tbk, Bank OCBC NISP Tbk, dan Bank Pan Indonesia Tbk. Namun sampai saat ini bank-bank tersebut masih beroperasi karena bank-bank tersebut masih mempunyai nilai CAR yang tinggi, yaitu rata-rata mencapai 16%. Sesuai arah kebijakan Bank Indonesia, bank yang memiliki nilai CAR diatas 8% bank tersebut masih bisa beroperasi.
ENGLISH:
Bankruptcy is a condition when a company does not have enough funds to run its business. Bankruptcy usually relates to financial difficulties. The discriminant analysis is useful for company to get a first warning of bankruptcy and the continuance of the business. Financial ratio is one of the information which can be used as a tool to predict the company’s performance. One of the techniques which can be used in analyzing the company’s bankruptcy is discriminant analysis using a model evaluated through (Z) Z-score. Z-score is a score which is determined from the probability level of company’s bankruptcy. The purpose of this research is to predict the potency of company’s bankruptcy by using Altman Z-score method on the banking company listed in Indonesia Stock Exchange in 2009-2011.
The research method is a qualitative research method using descriptive approach. This object is fifteen banking companies which issue financial statement for last three years. The data collected is secondary data in the form of company’s financial statement. In this research, the data collection method is documentation and library research.

Research result shows that all of the banking companies which become the research object are unhealthy companies or are predicted will experience bankruptcy (Z-score value is below 1,81 and even negative), the companies are Bank Agroniaga Tbk, Bank Central Asia Tbk, Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, Bank Bukopin Tbk, Bank Bumi Arta Tbk, Bank CIMB Niaga Tbk, Bank Danamon Indonesia Tbk, Bank ICB Bumiputera Tbk, Bank Internasional Indonesia Tbk, Bank Mayapada Internasional Tbk, Bank Nusantara Parahyangan Tbk, Bank OCBC NISP Tbk, and Bank Pan Indonesia Tbk. However, those banks are still operating because those banks still have high CAR value, which mostly achieve 16%. According to Bank Indonesia’s Policy, a bank which has CAR value above 8% can keep operating.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
 Perbankan berkembang seiring dengan pertumbuhan dunia usaha terutama sektor perdagangan. Dunia usaha dan perdagangan itu sendiri telah memiliki usia yang sangat panjang bahkan hingga ribuan tahun. Pada periode waktu yang panjang itu perbankan telah mengiringi perkembangan perdagangan. Tentunya pada saat itu perbankan belum sebaik saat ini dalam melayani masyarakat, namun prinsip-prinsip utama perbankan telah dilaksanakan dengan baik. Perbankan mengalami perubahan yang sangat besar juga mengikuti perkembangan perekonomian yang terjadi. Pengaruh terbesar dalam perubahan tersebut adalah terutama dari faktor eksternal yaitu adanya perkembangan sektor riil dalam pertumbuhan ekonomi, regulasi pemerintah di bidang hukum dan ekonomi, perkembangan sosial masyarakat, politik dan demokrasi, serta pengaruh dari dunia internasional. Terdapat pula faktor-faktor internal bank yang merubah secara langsung kondisi perbankan Indonesia, namun perubahan yang disebabkan faktor internal semakin besar karena adanya tekanan dari perubahan eksternal. Secara umum kondisi perbankan Indonesia dikelompokkan menjadi: pertama, perbankan Indonesia pada masa penjajahan; kedua, perbankan Indonesia pada masa pascakemerdekaan; ketiga, perbankan Indonesia pada masa orde baru; keempat, perbankan Indonesia pada masa reformasi atau pascakrisis. Terdapat berbagai kebijakan pemerintah untuk mendukung aktivitas perbankan, di mana tiap-tiap 2 periode mempunyai kebijakan yang berbeda-beda tergantung dari kondisi nasional dan pengaruh internasional. (Arthesa & Handiman, 2006:39-42) Selanjutnya, Kasmir (2008:25) menjelaskan bahwa dalam perkonomian dunia, bank mempunyai peranan yang sangat penting. Dalam pembicaraan seharihari pun, bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menerima simpanan giro, tabungan dan deposito. Kemudian bank juga dikenal sebagai tempat untuk meminjam uang (kredit) bagi masyarakat yang membutuhkannya. Disamping itu bank juga dikenal sebagai tempat untuk menukar uang, memindahkan
uang atau menerima segala macam bentuk pembayaran dan setoran seperti pembayaran listrik, telepon, air, pajak, uang kuliah dan pembayaran lainnya. Dalam praktik perbankan di Indonesia saat ini terdapat beberapa jenis perbankan yang diatur dalam Undang-Undang Perbankan. Jika kita melihat jenis perbankan sebelum keluar Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 dengan sebelumnya, yaitu Undang-Undang Nomor 14 tahun 1967, maka terdapat beberapa perbedaan. Perbedaan jenis perbankan dapat dilihat dari segi fungsi bank, serta kepemilikan bank. Dari segi fungsi perbedaan yang terjadi terletak pada luasnya kegiatan atau jumlah produk yang dapat ditawarkan maupun jangkauan wilayah operasinya. Sedangkan kepemilikan perusahaan dilihat dari segi pemilikan saham yang ada serta akte pendiriannya. (Kasmir, 2012:31) Salah satu kegiatan perbankan adalah menghimpun dana. Seperti yang dikatakan oleh Ismail (2010:23) bahwasanya kegiatan tersebut terkait dengan kegiatan pembelian dana. Selain menghimpun dana, bank juga berfungsi menyalurkan dana. Disini bank akan menjual dengan harga tertentu kepada 3 pemilik dana tersebut. Di samping kegiatan membeli dan menjual dana, bank juga melakukan kegiatan dalam memberikan pelayanan jasa kepada pihak nasabah. Di Indonesia terdapat ratusan bank baik itu yang “plat merah” maupun swasta. Namun tidak semua perbankan di Indonesia go public, ada juga bank yang tidak go public. Pada tahun 2009 di Indonesia bank yang go public berjumlah 29 bank, pada tahun 2010-2011 berjumlah 31 bank, sedangkan pada tahun 2012 berjumlah 32 bank. (http://www.sahamok.com) Perusahaan dapat dikatakan sehat jika laporan keuangan perusahaan tersebut baik. Tingkat kesehatan perusahaan penting artinya bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dalam menjalankan usahanya, sehingga kemampuan untuk memperoleh keuntungan dapat ditingkatkan juga untuk menghindari adanya potensi kebangkrutan. Kebangkrutan merupakan suatu kondisi dimana perusahaan mengalami ketidakcukupan dana untuk menjalankan usahanya. Apabila suatu perusahaan telah bangkrut berarti perusahaan tersebut benar-benar mengalami kegagalan usaha, oleh karena itu perusahaan sedini mungkin untuk melakukan berbagai analisis terutama analisis tentang kebangkrutan. Analisis kebangkrutan dilakukan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan (tanda-tanda awal kebangkrutan). Semakin awal tanda-tanda kebangkrutan tersebut, semakin baik bagi pihak manajemen karena pihak manajemen bisa melakukan perbaikan-perbaikan. Pihak kreditur dan juga pihak pemegang saham bisa melakukan persiapan-persiapan
untuk mengatasi berbagai kemungkinan yang buruk. (Hanafi & Halim, 2005:275) 4 Dalam Islam, bangkrut biasa dikenal dengan sebutan muflis yang menurut bahasa bermakna perubahan kondisi seseorang menjadi tidak memiliki uang sepeser pun (atau disebut dengan istilah pailit). Dan muflis, menurut istilah syari’at digunakan untuk dua makna. Pertama, untuk yang bersifat ukhrawi. Kedua, bersifat duniawi. (http://www.almanhaj.or.id) Berbagai analisis di kembangkan untuk memprediksi awal kebangkrutan perusahaan, dan ini dapat dibuktikan sebagaimana yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. Analisis yang banyak digunakan adalah analisis diskriminan. Analisis diskriminan dapat dilakukan untuk memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan dengan menganalisa laporan keuangan suatu perusahaan dua sampai dengan lima tahun sebelum perusahaan tersebut diprediksi bangkrut dengan mencermati semakin memburuknya rasio-rasio keuangan dari tahun ke tahun. Perusahaan perbankan cukup menarik untuk dijadikan obyek penelitian, karena perusahaan perbankan mengalami perkembangan yang pesat dari tahun ke tahun, yaitu dengan meningkatnya jumlah dan kantor cabang bank di Indonesia. Perkembangan tersebut selain memberikan pilihan yang semakin beragam kepada masyarakat terhadap pelayanan bank, juga memberikan kontribusi yang sangat positif terhadap dunia usaha dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Maka dari itu perusahaan perbankan digunakan sebagai objek dalam penelitian ini. 5 Tabel 1.1. Perkembangan Jumlah Bank dan Kantor Bank Kelompok Bank 2009 2010 2011 Bank Persero Jumlah Bank Jumlah Kantor 4 3854 4 4189 4 4362 Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) - Devisa Jumlah Bank Jumlah Kantor 34 6181 36 6608 36 7209 Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) - Non Devisa Jumlah Bank Jumlah Kantor 31 976 31 1131 30 1288 BPD Jumlah Bank Jumlah Kantor 26 1358 26 1413 26 1472 Bank Campuran Jumlah Bank Jumlah Kantor 16 238 15 263 14 260 Bank Asing Jumlah Bank Jumlah Kantor 10 230 10 233 10 206 Total Jumlah Bank Jumlah Kantor 121 12837 122 13837 120 14797 Jumlah Bank Umum Konvensional 115 111 109 Sumber: Bank Indonesia Berdasarkan tabel 1.1. di atas dapat dilihat bahwa Tercatat hampir 1000 unit kantor baru meliputi Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu dan Kantor Kas bertumbuh di tahun 2011 yang terutama didominasi oleh Bank Umum Swasta Nasional Devisa sebagai salah satu kelompok bank yang cukup agresif dalam 6 melakukan pengembangan jaringannya.
Selain itu, Jumlah bank umum konvensional sampai dengan akhir tahun 2011 sebanyak 109 bank dari sebelumnya 111 bank (2010).
 Hal ini disebabkan adanya merger dan pencabutan izin usaha bank. Selain hal di atas, perbankan memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian suatu negara. Semakin baik kondisi perbankan suatu negara, semakin baik pula kondisi perekonomian suatu negara. Efektivitas dan efisiensi sistem perbankan di suatu negara akan memperlancar perekonomian negara tersebut. Peran perbankan dalam suatu perekonomian di antaranya: 1. Perbankan sebagai lembaga perantara dalam kegiatan perekonomian. 2. Perbankan sebagai lembaga moneter. 3. Perbankan sebagai lembaga penyelenggara sistem pembayaran. 4. Perbankan sebagai lembaga pendorong perekonomian nasional. (M. Sulhan & Siswanto, 2008:3-6) Banyak model atau teknik yang dapat digunakan dalam memprediksi tentang potensi kebangkrutan. Rasio keuangan merupakan salah satu informasi yang dapat digunakan sebagai alat untuk memprediksi kinerja perusahaan. Salah satu teknik yang dapat digunakan dalam analisis kebangkrutan perusahaan adalah dengan menggunakan analisis diskriminan yaitu menggunakan model yang dinilai (Z) Z-Score, karena Z-Score telah banyak dipakai sebagai acuan dalam memprediksi kebangkrutan usaha. Z-Score adalah skor yang ditentukan dari tingkat kemungkinan kebangkrutan perusahaan. Kelebihan dari model ini adalah: 1. Menggabungkan berbagai resiko keuangan secara bersama-sama. 2. Menyediakan koefisien yang sesuai untuk mengkombinasikan variabel-variabel independen. 3. Mudah dalam penerapan. Sedangkan kelemahan dari model ini adalah: 1. Nilai Z-Score bisa direkayasa atau dibiaskan melalui prinsip akuntansi yang salah atau rekayasa keuangan lainnya. 2. Formula Z-Score kurang tepat untuk perusahaan baru yang labanya masih rendah atau bahkan masih merugi. Nilai Z-Score biasanya akan rendah. 3. Perhitungan Z-Score secara triwulan pada suatu perusahaan dapat memberikan hasil yang tidak konsisten jika perusahaan tersebut mempunyai kebijakan untuk menghapus piutang diakhir tahun secara sekaligus. (http://www.bapepam.go.id) Selanjutnya, Kamaludin (2011:57) menjelaskan bahwa Edward I. Altman telah menemukan lima rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi kebangkrutan perusahaan beberapa saat sebelum perusahaan tersebut bangkrut. Kelima rasio tersebut terdiri dari working capital to total assets, retained earning to total assets, EBIT to total assets, market value of equity to book value of total liabilities, dan sales to total assets (modal kerja terhadap total aset, laba ditahan terhadap total aset, laba sebelum bunga dan pajak terhadap total aset, nilai pasar ekuitas terhadap nilai total utang, dan penjualan terhadap total aset). Altman juga menemukan bahwa rasio-rasio tertentu, terutama rasio likuiditas dan rasio leverage, memberikan sumbangan terbesar dalam rangka mendeteksi dan memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan. Selanjutnya pada 8 tahun 1984 Altman melakukan penelitian lagi di sejumlah negara seperti United State, Japan, Jerman, Switzerland, Brazil, Australia, Inggris, Kanada, Belanda dan Perancis (Foster, 1986 dalam Solihah:2011). Sampel yang digunakan pada saat itu adalah perusahaan perbankan dan hasilnya menunjukkan konsistensi bahwa rasio keuangan sangat bermanfaat sebagai indikator dan prediksi kebangkrutan perusahaan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Endri (2009) yang meneliti tentang Prediksi Kebangkrutan Bank untuk Menghadapi dan Mengelola Perubahan Lingkungan Bisnis: Analisis Model Altman’s Z-Score didapati bahwa perhitungan Z-Score untuk memprediksi kebangkrutan pada Bank Umum Syariah atas laporan keuangan selama 3 tahun dari tahun 2005-2007 semuanya menghasilkan nilai ZScore yang lebih kecil dari 1,81 sehingga dapat dikatakan akan mengalami kemungkinan kebangkrutan. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Firdhausyah (2010) mengungkapkan bahwa dengan menggunakan variabel makro (inflasi, kurs UDR/IDR, tingkat suku bunga SBI, GDP, dan tingkat pengangguran) terdapat satu variabel makro yang berpengaruh dominan terhadap antisipasi resiko kebangkrutan yaitu Tingkat Suku Bunga SBI. Dengan nilai probabilitasnya 0,03 hampir mendekati 0,05. Solihah (2011) juga mengungkapkan bahwa perusahaan kebanyakan dikategorikan kepada kondisi kebangkrutan, ada satu perusahaan yang rentan bangkrut disebabkan karena laba sebelum pajak yang dimiliki perusahaan kecil, sehingga laba bersih yang diperoleh sedikit. Ada satu perusahaan juga yang termasuk dalam kondisi perusahaan sehat atau diprediksi tidak mengalami kebangkrutan, karena kinerja keuangannya cukup baik dan pendapatan yang dimiliki cukup tinggi. Sedangkan dalam mengungkap analisis 9 penggunaan altman Z-Score untuk memprediksi potensi kebangkrutan pada PT Siantar Top, Tbk diungkapkan oleh Putri (2012) dan didapati bahwa nilai overall indeks yang dihasilkan selama periode 2006-2010 pada PT Siantar Top, Tbk menunjukkan hasil yang cukup baik dimana terjadi kenaikan nilai overall indeks Z-Score, walaupun terjadi penurunan pada tahun 2008. Penjelasan di atas dapat membuktikan secara empiris bahwa rasio keuangan dapat digunakan sebagai alat untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan dengan cukup akurat. Penelitian ini ingin menguji kembali hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya dengan mengambil obyek penelitian pada perusahaan perbankan yang go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2011. Dari uraian di atas penulis mengambil judul “Analisis Penggunaan Metode Z-Score Altman Untuk Memprediksi Potensi Kebangkrutan Perusahaan Perbankan Go Public Di Bursa Efek Indonesia Periode 2009-2011”.
1.2.  Rumusan Masalah
 Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah bagaimana penggunaan metode ZScore Altman untuk memprediksi potensi kebangkrutan perusahaan Perbankan Go Public di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2011?
1.3.  Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penggunaan metode Z-Score Altman yang digunakan untuk memprediksi potensi kebangkrutan perusahaan Perbankan Go Public di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2011.
1.4.  Manfaat Penelitian
 Manfaat penelitian adalah:
1. Untuk memberikan gambaran bagi investor dan calon investor terhadap perkembangan perusahaan yang berkaitan dengan masalah keuangan yang dijadikan sebagai acuan pengambilan keputusan.
2. Untuk menambah wawasan dalam bidang ekonomi akuntansi dengan cara membandingkan antara teori yang diterima dalam pelaksanaannya pada dunia nyata.
3. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan referensi bahan acuan bagi peneliti selajutnya.
 1.5. Batasan Penelitian

 Berkaitan dengan luasnya pembahasan yang akan dilakukan dalam penelitian meliputi analisis kualitatif laporan keuangan, maka pada penelitian ini hanya dibatasi pada perusahaan yang hanya menerbitkan laporan keuangan selama 3 tahun berturut-turut yaitu periode tahun 2009-2011 dengan menggunakan alat analisis Z-Score. Sedangkan laporan keuangan yang diteliti meliputi neraca dan laporan laba rugi. Dan dari 32 bank yang go public, peneliti hanya meneliti 15 bank yang go public. 
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Manajemen :Analisis penggunaan metode Z-Score Altman untuk memprediksi potensi kebangkrutan perusahaan perbankan go public di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2011Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment