Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Tuesday, April 18, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Manajemen:Implementasi manajemen modal kerja untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan: Studi pada PT. Perkebunan Nusantara XII.

Abstract

INDONESIA:
Modal kerja yang terdiri dari aktiva perusahaan seperti kas, piutang, dan persediaan merupakan sesuatu yang sangat penting yang digunakan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan. Modal kerja ini harus dikelola dan di atur secara cermat agar nantinya modal kerja ini bisa efektif dan efisien dan dalam pengelolaannya setiap perusahaan mempunyai cara yang berbeda. PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII) merupakan perusahaan BUMN yang bergerak di bidang ekspor impor perkebunan sehingga dalam kebijakannya dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pemerintah, ekonomi dunia, dan cuaca. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebijakan-kebijakan PTPN XII yang dipengaruhi oleh banyak faktor tersebut dalam menganggarkan modal kerja perusahaan secara efektif dan efisien sehingga bisa meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Dalam hal ini peneliti mendeskripsikan kebijakan yang dilakukan manajemen PTPN XII terhadap modal kerja mereka dengan dibantu penghitungan kuantitatif dari laporan keuangan PTPN XII dari tahun 2006-2011 dengan menggunakan rasio perputaran modal kerja, perputaran kas, perputaran piutang dan persediaan serta penghitungan rasio Net Profit Margin dan Return OnINVESTMENT guna mengetahui efektifitas dan efisiensi dari manajemen modal kerja PTPN XII.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektifitas dan efisensi manajemen modal kerja untuk meningkatkan profitabilitas di PTPN XII masih belum sepenuhnya tercapai dalam pengelolaan komponen modal kerja yang berupa kas dan persediaannya. Efisensi dan efektifitas manajemen modal kerja hanya tercapai di pengelolaan piutang perusahaan. Hal ini dikarenakan masih tidak stabilnya perputaran kas dan perputaran persediaan PTPN XII dari tahun 2006-2011 yang dinilai dari rasio-rasio keuangan yang digunakan. Sedangkan untuk penilaian untuk piutang dengan menggunakan perputaran dan periode pengumpulan piutang sudah cukup baik. Secara keseluruhan kebijakan-kebijakan yang diterapakan oleh PTPN XII dalam modal kerja sudah efektif, akan tetapi adanya faktor seperti kondisi ekonomi global yang tidak stabil, perubahan musim yang ekstrim dan sulit diprediksi, dan adanya kebijakan pemerintah yang baru yang mempengaruhi kinerja modal kerja PTPN XII membuat kebijakan yang sudah diterapkan tersebut perlu diperbaiki dalam penganggaran jumlah modal kerjanya untuk menyesuaikan perubahan tersebut sehingga efisensi dan efektifitas bisa tercapai secara maksimal dan dapat meningakatkan profitabilitas perusahaan secara maksimal.
ENGLISH:
Working capital consisting of company’s assets such as cash, receivable, and provision are very important things that are used to finance the company's operations. This working capital must be managed and carefully arranged so that it can be effective and efficient, and in its management each company has different way. PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII) is a state-owned enterprise engaged in export-import plantation so that the policy is influenced by many factors, such as government, world economy and weather. This study aims to determine the policies of PTPN XII influenced by those factors in its capital expenditure budget effectively and efficiently to improve its profitability.
This research employs a qualitative descriptive method. In this case, researcher describes the policies adopted by the management of PTPN XII through their working capital with the help of quantitative calculation in the PTPN XII financial report in the period 2006-2011 by using working capital turnover ratio, turnover of cash, receivables turnover and provision turnover and the ratio calculation Net Profit Margin and Return OnINVESTMENT to determine the effectiveness and efficiency of PTPN XII working capital management.

The result shows that the effectiveness and efficiency of working capital management to improve its profitability in PTPN XII are still not fully achieved in the management of working capital components in the form of cash and stock. Efficiency and effectiveness of working capital management is only achieved in the management of the company accounts. This is because of cash turnover and provision of PTPN XII unstableness in the perod 2006-2011 which were assessed from the financial ratio used. Whereas the valuation of receivable which uses turnover and receivable collection period is good enough. Overall policies which applied by PTPN XII in working capital have been effective. Nevertheless, the existence of factors such as unstable global economic conditions, the extreme and unpredictable season changing, and new government policies affecting working capital performance of PTPN XII make the implemented policies need to be improved in budgeting of capital working amount to adjust those changes so that the efficiency and effectiveness and the improvement of company’s profitability can be optimally achieved.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Setiap perusahaan yang hendak melakukan kegiatan atau aktivitas perusahaan tentunya memerlukan suatu dana untuk melakukan aktivitas perusahaan. Hal tersebut sudah menjadi hal yang dasar bagi perusahaan untuk bisa melakukan aktivitas pembiayaan, baik itu untuk kegiatan operasional perusahaan sehari-hari atau aktivitas pembiayaan dalam jangka panjang. Dana yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan itu disebut dengan modal kerja. Modal kerja (Working Capital), yang kadang disebut modal kerja bruto (Gross Working capital) adalah aktiva lancar yang digunakan dalam operasi (Brigham dan Houston, 2001 : 150).
 Operasi yang dimaksudkan dalam pengertian tersebut merupakan kegiatan operasional perusahaan yang di biayai melalui aktiva lancar yang dinamakan modal kerja. Lebih lanjut, Brigham dan Houston (2001,150) mendefinisikan modal kerja (Working Capital) adalah investasi perusahaan pada aktiva jangka pendek, yaitu kas, sekuritas yang mudah dipasarkan, persediaan, dan piutang usaha. Sedangkan menurut Riyanto (2001, 59), modal kerja adalah nilai aktiva atau harta yang dapat segera dijadikan uang kas dan digunakan perusahaan untuk keperluan sehari-hari, misalnya untuk membayar gaji pegawai, pembelian bahan mentah, membayar ongkos angkutan, membayar hutang dan sebagainya. 2 Menurut Brigham dan Houston (2001, 153), modal kerja terdiri dari empat komponen utama : kas, surat berharga, persediaan, dan piutang usaha. Menurut Riyanto (2001, 67) kas atau pengelolaan kas adalah Uang kas yang dibutuhkan untuk membayar pekerja dan bahan baku, membeli aktiva tetap, membayar pajak, melunasi utang, memayar deviden dan sebagainya. Namun kas itu sendiri (dan juga rekening giro komersial) tidak menghasilkan bunga. Jadi, sasaran dari manajemen kas adalah meminimumkan jumlah kas yang harus ditahan perusahaan untuk digunakan dalam melaksanakan aktivitas bisnis yang normal, namun pada saat bersamaan memiliki cukup banyak kas untuk (1) ambil potongan dagang (Trade Discount), (2) mempertahankan peringkat kredit (credit rating), dan (3) memenuhi kebutuhan kas yang tak terduga. Sedangkan Surat berharga yang dimaksud pada komponen modal kerja lainnya adalah surat berharga yang dapat dijual. Kemudian komponen modal kerja yang ketiga adalah Persediaan. Persediaan (Inventory) dapat diklasifikasikan menjadi (1) perlengkapan, (2) bahan baku, (3) Barang dalam proses, (4) barang jadi, merupakan bagian sangat penting bagi hampir semua kegiatan bisnis. Seperti halnya piutang usaha, tingkat persediaan pun sangat tergantung pada penjualan.akan tetapi kalau piutang timbul setelah penjualan, maka persediaan diperoleh sebelum terjadi penjualan. Dalam pengertiannya, Piutang Usaha adalah saldo yang diperoleh dari pelanggan. Dilihat dari pengertian tiap komponen modal kerja yang terdapat pada penjelasan diatas, ada benang merah yang menghubungkan semua manajemen aktiva lancar. Untuk setiap jenis aktiva, perusahaan menghadapi perimbangan mendasar (fundamental trade off) : aktiva lancar (yaitu, modal kerja) diperlukan 3 untuk menjalankan usaha, dan makin besar penahanan aktiva lancar, makin kecil bahaya kekurangan dana, dengan demikian menurunkan resiko operasi perusahaan. akan tetapi menahan modal kerja memerlukan biaya, jika persediaan terlalu besar, perusahaan akan mempunyai aktiva yang mempunyai pengembalian nol atau negatif jika biaya penyimpanan dan kerusakan tinggi.(Brigham dan Houston, 2001: 154) Modal kerja ini harus dikelola dan di atur secara cermat agar nantinya modal kerja ini bisa efektif dan efisien dalam membiayai kegiatan perusahaan. pengelolaan modal kerja ini menjadi tanggung jawab manajer atau pimpinan perusahaan. Pengelolaan modal kerja yang tepat akan berpengaruh pada kegiatan operasional perusahaan. Kegiatan operasional ini akan berpengaruh pada pendapatan yang nantinya dikurangi dengan beban pokok penjualan dan beban operasional atau beban lainnya yang akan diperoleh profitabilitas perusahaan. Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan didalam menghasilkan laba. Profitabilitas mencerminkan keuntungan dari investasi keuangan.
Menurut Rahma (2010) Jika perusahaan memiliki tingkat profitabilitas tinggi, dapat dikatakan perusahaan tersebut mampu mengelola sumber daya yang dimilikinya secara efektif dan efisien sehingga mampu menghasilkan laba yang tinggi. Dari beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan Eni (2006) dengan judul Efektifitas Penggunaan Modal Kerja Guna Meningkatkan Rentabilitas (Studi Pada KP-RI “Amanah” Unit Simpan Pinjam Banyuwangi) dimana peneliti melakukan analisis interpretasi data selama tiga tahun berturut-turut menunjukkan bahwa kondisi modal kerja KPRI “Amanah” Banyuwangi mengalami 4 penumpukan modal kerja akibat pengelolaannya yang kurang efektif, karena tidak mampu menjaga likuiditasnya. rasio aktivitas, rentabilitas juga kurang efisien, hal ini disebabkan sumber modal kerja lebih besar daripada penggunaannya. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Rina (2007) dengan judul Analisis Modal Kerja Untuk Menjaga Likuiditas dan Meningkatkan Rentabilitas Pada “ADIMAS” Fiber Industry Malang menunjukkan bahwa Secara keseluruhan, nilai modal kerja, likuiditas dan rentabilitas yang dimiliki perusahaan kurang efisien dan kurang baik serta mengalami fluktuasi. Dari analisis hubungan antara modal kerja, tingkat likuiditas, dan tingkat rentabilitas menunjukkan bahwa kurang efisiennya modal kerja berdampak pada tingginya likuiditas. Berbeda dengan penelitian-penelitian lainnya yang sudah banyak diteliti tentang modal kerja, penelitian ini mengambil objek perusahaan BUMN yang bergerak di ekspor impor hasil perkebunan yang tentunya mempunyai kebijakan modal kerja yang berbeda dengan perusahaan pada umumnya. Dimana kebijakan yang ditetapkan perusahaan BUMN juga harus mengikuti aturan pemerintah yang berganti-ganti karena harus menyesuaikan dengan keadaan. Disamping itu, sebagai perusahaan yang begerak di bidang ekspor impor, kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan ini harus disesuaikan pula pada keadaan ekonomi dunia. Penelitian ini akan mengambil obyek perusahaan perkebunan yaitu PT. Perkebunan Nusantara XII atau yang selanjutnya akan disebut PTPN XII. Sebuah perusahaan perkebunan yang merupakan BUMN. Dalam kinerjanya, perusahaan 5 ini mempunyai 34 unit kebun, 2 agro wisata, 2 rumah sakit, dan 1 industri hilir yang merupakan tempat kegiatan operasional perusahaan ini. Selain itu, PTPN XII juga banyak melakukan kegiatan CSR. PTPN XII juga membangun Micro Hidro Power (MHP) untuk kegiatan operasional mereka, yaitu mengelola hasil perkebunan PTPN XII. Dari pembangunan MHP ini pada tahun 2009, PTPN XII bisa menghemat pengeluaran Rp 1,7 Miliar sampai 2,5 Miliar. (http://www.ptpn12.com/rolas/index.php/berita2/273-tekan-cost) Melihat begitu kompleksnya kegiatan perusahaan, dimana terdapat banyak kebun yang mereka miliki dan harus pandai-pandai untuk dikelola, serta adanya unit usaha lainnya seperti Industri hilir dan Rumah Sakit di jember yang juga milik PTPN XII dan juga adanya kegiatan CSR serta kegiatan perluasan kegiatan usaha yang dilakukan PTPN XII, maka diperlukan adanya pengelolaan modal kerja yang sangat efisisen dimana perusahaan sebaiknya menyediakan modal kerja perusahaan yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan semua unit usahanya tersebut. Adanya modal kerja yang cukup, sangat penting bagi suatu perusahaan karena dengan modal kerja yang cukup itu akan membuat perusahaan melakukan kegiatannya dengan seekonomis mungkin dan perusahaan tidak akan mengalami kesulitan atau menghadapi bahaya-bahaya yang mungkin timbul karena adanya krisis atau kekacauan keuangan. Dalam perjalanannya, PTPN XII bisa dikatakan mempunyai periode pasang surut dalam mengelola modal kerja mereka dan kegiatan-kegiatan perusahaan yang berkaitan dengan modal kerja dan profit yang dihasilkan. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana mereka mengelola komponen-komponen modal kerja 6 yang kemudian berimbas pada bagaimana profit perusahaan yang dalam penelitian ini menggunakan data keuangan PTPN XII dari tahun 2006 sampai tahun 2010, dari data dapat dilihat perkembangan naik turunnya laba perusahaan dan komponen modal kerjanya dari tahun ke tahunnya. Berikut merupakan data Perputaran kas, Perputaran persediaan, dan perputaran piutang serta rasio ROI dari PTPN XII selama tahun 2006-2011 yang menunjukkan bagaimana kondisi komponen-komponen modal kerja dan rasio ROI perusahaan dari tahun ke tahun.
kinerja PTPN XII dalam menghasilkan profitabilitas dilihat dari rasio ROI meningkat, dengan tingkat pengelolaan kas 7 yang naik tajam dari 8 kali menjadi 33 kali. Dari meningkatnya rasio perputaran kas perusahaan yang terlalu tinggi, dapat dikatakan perusahaan kurang baik dalam membayar tagihan-tagihannya akan tetapi mampu dengan cepat mencairkan kasnya, sehingga mampu perusahaan mampu mengoptimalkan kasnya dan menghasilkan profitabilitas yang lebih baik dari tahun 2006. Kemudian pada tahun selanjutnya, laba PTPN XII dilihat dari rasio ROI nya mengalami naik dan turun. Penurunan terjadi pada tahun 2009 yang diikuti dengan kurang efisiennya perusahaan dalam mengelola persediaan dan menurunnya kas perusahaan. penurunan ini sedikit banyak diakibatkan karena adanya pengurangan ekspor karet yang merupakan komoditi penyumbang laba terbesar sekitar 60% untuk BUMN yang berpusat disurabaya tersebut. “Indonesia, Malaysia dan Thailand masih sepakat untuk tetap melakukan pengurangan ekspor karet alamnya meski harga mulai bergerak naik lagi pekan ini. Atau menjadi 165, 50 dolar AS per metrik ton pada penutupan di Singapura Commodity Exchange (SICOM) 20 Juli lalu. Tiga negara masih sepakat untuk tetap menjalankan kebijakan dari hasil sidang ITRC (International, Tripartite Rubber Council, red) ke 14 yang digelar di Bogor, 12-13 Desember 2008 . Meski harga sudah bergerak naik lagi, ekspor karet dikurangi sebesar 915.000 ton karet pada tahun 2009, dimana sebanyak 700 ribu ton dilakukan melalui program agreed Export Tonnage Scheme (SMS). Pengurangan ekspor itu sendiri dilakukan karena melihat permintaan yang menurun akibat adanya resesi ekonomi global yang berdampak juga pada tertekannya harga jual dimana harga sempat menyentuh 102 Dolar AS per ton pada akhir 2008 kata ketua umum Gabungan 8 Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Daud H, Rubber Council. (http://www.ptpn12.com/rolas/index.php/berita2/269-ekspor-karet-masih-dibatasimeski-harga-naik-indonesia-malaysia-dan-thailand-masih-sepakat-untuk-te) Kemudian pada tahun 2010, profit PTPN XII jika dilihat dari rasio profitabilitasnya meningkat secara signifikan dari 27,89% di tahun 2009 menjadi 38,36%. Pada tahun 2007-2008 kinerja PTPN XII yang juga bergerak dibidang ekspor-impor hasil perkebunan bisa dikatakan mampu bertahan dari resesi ekonomi AS dan Eropa. Bahkan setelah adanya resesi ekonomi itu, kinerja PTPN XII pun semakin baik sampai pada akhir tahun 2011 seperti yang ada pada data di tabel. Dampak resesi ekonomi AS dan Eropa terhadap Indonesia tentunya negatif, tetapi karena net-ekspor (ekspor dikurangi impor) hanya menggerakkan sekitar 8% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia, maka dampaknya relatif kecil dibandingkan dengan negara tetangga yang ketergantungan ekspornya ke AS besar, misalnya Hong Kong, Singapura, dan Malaysia. Namun demikian, krisis finansial global dan lumpuhnya sistem perbankan global yang berlarut akan berdampak sangat negatif terhadap Indonesia, karena pembiayaan kegiatan investasi di Indonesia (baik oleh pengusaha dalam maupun luar negeri) akan terus menciut, penyerapan tenaga kerja melambat dan akibatnya daya beli masyarakat turun, yang akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Dari sini kita tahu bahwa dampak krisis moneter di Amerika Serikat yang menyebabkan krisis global yang berdampak terhadap perekonomian Indonesia tidak hanya pada melemahnya nilai tukar Rupiah, namun juga pada berbagai sektor lain yang lebih rumit yaitu  sector perbankan dan properti (http://www.docstoc.com/docs/44586580/Dampakkrisis-global-di-Indonesia).
Jadi, PTPN XII yang bergerak di sektor perkebunan tidak terlalu terpengaruh resesi ekonomi tersebut. Sebagai perusahaan perkebunan, tentunya PTPN XII juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dalam menentukan modal kerja perusahaan. Diantaranya adalah faktor cuaca yang juga menjadi pertimbangan dalam penentuan modal kerja untuk mengelola produksi di kebun-kebun PTPN XII karena tentunya akan ada perubahan kebijakan modal kerja ketika cuaca juga berubah dan membuat modal kerja mungkin akan bertambah. Selain itu, sebagai perusahaan yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PTPN XII tentunya mempunyai kebijakan-kebijakan dalam pengambilan keputusan untuk penganggaran modal kerja yang berasal dari banyak pihak yang terkait, seperti dewan direksi, dewan komisaris, dan menteri BUMN. Dimana keputusan yang diambil juga merujuk pada peraturan pemerintah seperti UU perkebunan no 18 tahun 2004.
 kebijakan-kebijakan yang berasal dari berbagai macam ide dan juga dipengaruhi oleh beberapa peraturan pemerintah inilah yang akan membuat manajemen modal kerja dalam PTPN XII ini menjadi kompleks dan tentunya diharapkan bisa meningkatkan efisiensi dalam modal kerja perusahaan ini sendiri. Manajemen modal kerja yang baik dalam keputusan-keputusannya dipengaruhi oleh penilaian keuntungan dan kerugian yang harus dibuat antara profitabilitas dan risiko. Selain itu, sebagai perusahaan BUMN yang juga bergerak di sektor ekspor impor hasil perkebunan, maka tentunya PTPN XII harus menyesuaikan  kebijakan modal kerja untuk ekspor impor dengan keadaan ekonomi dunia yang nantinya akan mempengaruhi permintaan dan daya beli masyarakat dunia dalam mengkonsumsi hasil perkebunan Indonesia. Dari beberapa uraian, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “IMPLEMENTASI MANAJEMEN MODAL KERJA UNTUK MENINGKATKAN PROFITABILITAS PERUSAHAAN (Studi pada PT. Perkebunan Nusantara XII)”. Penelitian ini akan mencoba meneliti kebijakankebijakan dan langkah-langkah perusahaan dalam penetapan modal kerja yang dipengaruhi banyak faktor, sehingga menjadi sebuah kebijakan yang terbaik dan mampu meningkatkan profitabilitas perusahaan tiap tahunnya.
1.2  Rumusan Masalah
 Dari latar belakang yang ada, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Apa kebijakan yang dilakukan perusahaan dalam melakukan manajemen modal kerjanya sehingga bisa meningkatkan profitabilitas?
2. Bagaimana efisiensi manajemen modal kerja dapat berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan?
1.3 Tujuan dan Kegunaan
Penelitian Dari rumusan masalah yang ada, penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui kebijakan-kebijakan atas modal kerja dalam pengelolaan modal kerja yang dilakukan di PT Perkebunan Nusantara XII agar tercapai efisiensi dalam pengelolaan modal kerja.
2. Untuk melihat bagaimana efisensi modal kerja berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Sedangkan Penelitian ini diharapkan memberikan kegunaan, antara lain :
1. Bagi penulis
diharapkan bisa menjadi acuan dan pembanding dalam penerapan teori yang didapatkan selama kuliah dengan realitas yang ada di lapangan.
 2. Bagi peneliti
bisa menjadi bahan referensi untuk kemudian bisa mengembangkan penelitian sejenis dan dikembangkan lebih lanjut lagi.
 3. Bagi pembaca
menjadi bahan informasi tentang pengelolaan modal kerja untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan.
4. Bagi perusahaan
agar dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pengelolaan modal kerja
1.3  Batasan Penelitian
 Dalam penelitian ini, kajian yang digunakan dibatasi pada :
1. Tingkat pengelolaan modal kerja dan tingkat profitabilitas perusahaan

2. Data yang digunakan untuk diteliti adalah laporan keuangan PT. Perkebunan Nusantara XII tahun 2006-2011
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Manajemen :Implementasi manajemen modal kerja untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan: Studi pada PT. Perkebunan Nusantara XII..Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment