Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Tuesday, April 11, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi akutansi: Pengaruh retailing mix terhadap keputusan pembelian pada Alfamart di Jl. Gajayana. Undergraduate

Abstract

INDONESIA:
Retailing Mix merupakan sebuah langkah pemasaran bagi keberhasilan perusahaan, baik yang bergerak dalam bidang produksi barang maupun jasa. Alfamart Gajayana merupakan salah satu swalayan eceran yang bergerak dalam jual beli barang yang perlu memperhatikan perilaku konsumen untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh Retailing Mix yang terdiri dari produk, harga, lokasi, personalia, promosi, presentasi terhadap keputusan pembelian pada Alfamart di Jl. Gajayana.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei yang berusaha untuk mengetahui bagaimana pengaruh retailing mix terhadap keputusan pembelian pada Alfamart gajayana. Teknik pengumpulan data yaitu dengan metode kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Untuk pengujian instrumen menggunakan uji Validitas, Reliabilitas, dan Uji Asumsi klasik. Sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan metode regresi linier berganda karena variabel yang digunakan lebih dari dua variabel, dengan uji F dan uji t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel produk (X1), harga (X2),lokasi (X3), persoalia (X4), promosi (X5), dan presentasi (X6), secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian pada Alfamart gajayana (Y). Dari perhitungan uji F diperoleh F hitung 25,944 > F Tabel 1,980 dengan nilai p sebesar 0,000 ≤ 0,05. Selain itu nilai Adjusted R Square yang sebesar 0,612 yang berarti besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah 61,2%. Dan uji t diketahui bahwa secara parsial harga, lokasi, personalia, dan presentasi mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat sedangkan praduk dan promosi tidak berpengaruh secara signifikan dengan perhitungan t hitung variabel Produk (X1) sebesar 0,455 < t tabel 1,980, Harga (X2) memiliki t hitung 3,503 > t tabel 1,980, Lokasi (X3) memiliki t hitung 2,181 > t tabel 1,980, Personalia(X4)memiliki t hitung -2,141 > t tabel 1,980, Promosi (X5) memiliki t hitung 1,782 < t tabel 1,980 dan Presentasi (X6) memiliki t hitung 7,075 > t tabel 1,980. variabel yang paling dominan pengaruhnya adalah variabel presentasi (X6), sebesar 44,08%, kemudian Variabel lokasi (X3) sebesar 30,91%, Variabel harga (X2) sebesar 29,37%, Variabel lokasi (X5) sebesar 20,97%, Variabel produk (X1) sebesar 14,74% dan Variabel personalia (X4) sebesar 9,98%.
ENGLISH:
Retailing Mix is one step of marketing for a successful company, both in the field production of good or service. Alfamart Gajayana is one self-service in good sales which required to pay attention to consumer’s behavior in taking decision. Therefore the objective of this research to know how the influence of Retailing Mix which consist of product, cost, location, personnel, promotion, presentation to buyer’s decision on Alfamart at Jl. Gajayana.
This research is quantitative research with survey approach which tried to know how the influences of retailing mix to buyer’s decision on Alfamart Gajayana. The technique of gathered data there are questionnaire, interview and documentation. To test instrument used validities test, reliabilities test, and classical assumption test. While the technique of data analysis used double linier regency because variable which is used is more than two variable with F test and t test.

The result of this research shows that product variable (X1), cost(X2), location (X3) personnel (X4), promotion (X5) and presentation (X6), stimultally have significant influence to buyer’s decision on Alfamart Gajayana (Y). From calculation F test is gathered F count 25,944 > F table 1,980 with p value is 0,000 ≤ 0,05. Beside that Adjusted R Square value is 0,612 it means significant level of free variable to bound variable is 61,2%.And t test is known that partially cost, location and presentation have effect to bound variable while product, personnel and promotion do not influence significantly with calculation of t count product variable (X1) is 0,455 < t table 1,980, cost (X2) has t count 3,503 > t table 1,980, location (X3) has t count 2,181 > t table 1,980, Personnel (X4) has t count -2,141 > t table 1,980, Promotion (X5) has t count 1,782 < t table 1,980 and presentation (X6) has t count 7,075 > t table 1,980. The most dominant variable which has influence is presentation variable (X6), is 44,08%, then the location variable (X3) is 30,91%, cost variable (X2) is 29,37%, location variable (X5) is 20,97%, product variable (X1) is 14,74% and personnel variable (X4) is 9,98%.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
 Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan oleh pengusaha dalam usahanya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, untuk berkembang dan mendapatkan laba. Sebuah perusahaan dikatakan berhasil menjalankan fungsinya apabila mampu menjual produknya pada konsumen dan memperoleh profit semaksimal mungkin.
Konsumen sebagai salah satu elemen, memegang peranan penting dimana dari waktu ke waktu mereka semakin kritis dalam menyikapi suatu produk. Suatu perubahan paradigma pemasaran lebih banyak didorong oleh perubahan situasi dan kondisi masyarakat secara global. Perubahan tersebut meliputi pangsa pasar yang kian terpilih, loyalitas pelanggan yang kian berkembang, berkembangnya masyarakat informasi, perkembangan saluran distribusi berkembangnya cara baru dalam berbelanja dan membayar, perubahan pola konsumsi keluarga menyebabkan konsumen memiliki bergantung power yang kian meningkat seiring dengan perkembangan zaman. Collins (2001:36) Untuk perusahaan yang berorientasi pada pasar, maka pada umumnya akan menghadapi masalah dalam bidang pemasaran. 20 Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, memungkinkan perusahaan menghasilkan produk dan jasa tersebut tidak ada artinya apabila tidak diimbangi dengan kemampuan untuk memasarkan produk dan jasa tersebut kepada konsumen.
Dengan demikian kegiatan pemasaran harus direncanakan dulu sebelum melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan keinginan, kebutuhan, dan harapan konsumen tersebut, pemasar harus menganalisis perilaku pembelian konsumen karena reaksi pembeli terhadap strategi pemasaran perusahaan memiliki dampak yang besar terhadap keberhasilan perusahaan. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam keputusan pembelian barang dan jasa.
 Mempelajari dan menganalisis perilaku konsumen dalam keputusan pembelian adalah hal yang penting, sebab dengan pengetahuan dasar yang baik mengenai perilaku konsumen akan dapat memberi masukan yang berarti bagi perencanaan strategi perusahaan. Dalam analisis perilaku konsumen perlu dikaji dasar pertimbangan konsumen dalam melakukan pembelian. Pada dasarnya, barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen adalah untuk memenuhi kebutuhan. Konsumen akan memilih barang-barang yang dapat memenuhi kebutuhannya, barang-barang yang diperkirakan tidak memenuhi kebutuhannya tentu saja tidak akan dibeli. Sebab titik berat 21 pandangan konsumen adalah barang yang sesuai dengan keinginannya. Usaha ritel atau eceran (retailing) dapat dipahami sebagai semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan penggunaan bisnis.
 Ritel juga merupakan perangkat dari aktivitas-aktivitas bisnis yang melakukan penambahan nilai terhadap produk-produk dan layanan penjualan kepada para konsumen untuk penggunaan atau konsumsi perorangan maupun keluarga. Sering kali orang-orang beranggapan bahwa ritel hanya berarti menjual produkproduk di dalam toko. Contoh ritel yang dilakukan diluar toko (nonstore) antara lain penjualan album rekaman di Internet melalui situs www.cdnow.com (CDNOW), penjualan langsung (direct sales) kosmetik oleh AVON, maupun penggunaan media lainnya seperti catalog atau daftar belanja. Utami, (2006:4) Orientasi produsen dan penjual eceran di Indonesia sangat bervariasi dari yang paling customer oriented, marketing oriented, hingga yang masih tahap production oriented. Contoh produsen yang masih berorientasi production oriented adalah produsen tempe dan tahu yang banyak tersebar di seluruh tanah air. Sebagian dari peritel bahkan produsen, juga masih berorientasi penjualan. Jumlah perusahaan ritel yang berorientasi produksi dan berorientasi penjualan masih banyak 22 terdapat di Indonesia. Sebagaian peritel terutama yang besar sudah berorientasi konsumen sehingga setara dengan peritel-peritel kelas dunia di negara-negara maju.
Sebagian dari peritel dimaksud kebetulan adalah cabang dari peritel besar dari Negara lain, misalnya Carrefour dari Prancis, Makro dari Belanda, Marks and Spencer dari Inggris, ACE Hardware dari AS. Sebagian peritel kelas menengah di tanah air, misalnya department store, restoran, dan toko buku juga telah bersikap customer oriented.
 Sebagian peritel kecil di kota-kota besar, karena memiliki dan dikelola langsung oleh orang-orang yang memahami pemasaran yang benar menjadikan gerai mereka sebagai gerai yang berperilaku customer oriented. Ma’ruf (2006:13). Darmo Factory Outlet di kota Malang merupakan salah satu ritel yang telah diteliti mengenai pengaruh (retailing mix) terdiri dari Produk (X1), Harga (X2), Promosi (X3), Lokasi (X4), Customer Servis (X5), dan Suasana Factory Outlet (X6) dengan menggunakan alat analisis faktor-faktor. Dan didapatkan bahwa faktor-faktor tersebut sebesar 60,745% menjadi pertimbangan konsumen dalam keputusan pembelian pada Darmo Factory Outlet Cabang Basuki Rachmat Malang. Sedangkan 39,255% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, serta ditemukan bahwa faktor produk merupakan faktor dominan yang menjadi pertimbangan konsumen dalam keputusan pembelian pada 23 Darmo Factory Outlet Cabang Basuki Rachmad Malang dengan nilai sebesar 11,822%. Zulaikha Fauzi (2004) Berdasarkan penelitian terdahulu bahwasanya peran retailing mix sangatlah penting dan berpengaruh sekali, tanpa adanya retailing mix yang tepat bagi perusahaan eceran akan mengalami kesulitan dalam pemasarannya, oleh karena itu peneliti ingin lebih mengetahui seberapa besar pengaruh ritailing mix pada usaha ritel yang lain. Sedangkan untuk bauran eceran (retailing mix) yang kami gunakan diantaranya: produk-produk yang dijual peritel dalam gerainya (product), memperkenalkan merk dalam benak konsumen (promotion), penempatan lokasi yang strategis dalam bersaing (place), keputusan penetapan harga dalam setiap produk (price), memfasilitasi para pembeli saat berbelanja di gerai (personalia), suasana atau atmosfer dalam gerai (presentasi) yang sekiranya menentukan konsumen dalam pengambilan keputusan membeli atau tidak. Sebab titik berat pandangan konsumen adalah barang yang sesuai dengan keinginannya serta kebutuhannya. Lamb, dkk. (2001:96) Alfamart yang berbadan usaha PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT) berdiri tahun 1999 dan memperkenalkan pola waralaba tahun 2002, Alfamart yang bernaung di bawah bendera Sampurna Grup mampu berkembang hingga sekitar 800 outlet per September 2004 lalu.
Dengan mengemban motto “Belanja Puas, Harga Pas” yang baru beroperasi 24 selama dua tahun sudah memiliki 34 gerai. Perkembangan yang cukup cepat itu dianggap masih terlalu lambat, pada tahun 2001 SAT merekrut Pudjianto yang ikut mengembangkan Indomaret. Di SAT, Pudji sekaligus memboyong 40 anak buahnya dari Indomaret. Alhasil, di Akhir 2001 jumlah gerai meningkat 300 persen lebih menjadi 145. Dari sisi kecepatan berkembang, Alfamart jelas melampaui Indomaret. Jaringan minimarket yang dulu dimiliki Grup Salim dan beroperasi sejak 1988 ini, pada 2001 baru memiliki 500 gerai. Setelah 16 tahun beroperasi, jumlah minimarket Indomaret diperkirakan 850, Sementara dalam waktu lima tahun sejak berdiri, usaha milik kelompok HM Sampoerna dan Alfa Group ini bakal memiliki sekitar 800 minimarket. Alfamart yang ada di Jl. Gajayana no.19A merupakan salah satu bagian dari PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT), yang telah beroperasi selama satu tahunan, dalam tingkat persaingannya Alfamart Gajayana cukup kerepotan karena dilingkungan sekitarnya banyak sekali pesaing yang serupa dintaranya Swalayan SARDO dan Indomaret yang telah lebih dahulu berdiri, tetapi Alfamart Gajayana mencoba bersaing untuk merebut hati konsumen dengan menawarkan kartu anggota, dengan memiliki kartu anggota tersebut pelanggan mendapat potongan harga hingga 30%, dalam pelayanannya Alfamart Gajayana sangatlah diutamakan antara lain; ketika pelanggan memasuki toko sudah disambut oleh para pegawai dengan ucapan “selamat datang di 25 Alfamart ada yang bisa dibantu” , sedangkan lokasi Alfamart Gajayana juga mudah dijangkau karena terletak di jalan utama Jl Gajayana yang dilintasi angkutan umum yaitu angkutan LG dan GL dan tersedia tempat parkir yang luas.
Alfamart Gajayana juga menyediakan hadiah dengan syarat tertentu bagi pelanggan yang telah membeli produk di Alfamart Gajayana. Wawancara langsung (Rabu, 21-11-2007) Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai masalah bauran eceran (retailing mix) yang ada di Alfamart Gajayana.
 Untuk itu pada penelitian ini peneliti mengambil judul “Pengaruh Retailing Mix Terhadap Keputusan Pembelian Pada Alfamart di Jl. Gajayana Malang”
B.     RUMUSAN MASALAH
 Dengan melihat latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan dari retailing mix yang terdiri dari produk, harga, lokasi, personalia, promosi, dan presentasi terhadap keputusan pembelian konsumen pada Alfamart Gajayana? 2. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial dari retailing mix yang terdiri dari produk, harga, lokasi, personalia, promosi, dan presentasi terhadap keputusan pembelian konsumen pada Alfamart Gajayana?
3. Variabel Retailing mix manakah yang dominan dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen pada Alfamart Gajayana?
C. TUJUAN PENELITIAN
 Sehubungan dengan permasalahan yang telah disebutkan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui pengaruh retailing mix yang terdiri dari produk, harga, lokasi, personalia, promosi, dan presentasi secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen pada Alfamart Gajayana
2. Mengetahui pengaruh retailing mix yang terdiri dari produk, harga, lokasi, personalia, promosi, dan presentasi secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen pada Alfamart Gajayana
3. Mengetahui variabel Retailing mix yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian konsumen pada Alfamart Gajayana.
D. KONTRIBUSI PENELITIAN
Adapun konstribusi yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi peneliti
a. Sebagai aplikasi dari ilmu yang telah diperoleh peneliti selama perkuliahan. b. Dapat memperluas wawasan, pengetahuan dan pengalaman penulis untuk berfikir secara kritis dan sistematis dalam menghadapi permasalahan yang terjadi.
2. Bagi lembaga
a. Hasil ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan dan sebagai bahan masukan bagi fakultas untuk mengevaluasi sejauh mana kurikulum yang diberikan mampu memenuhi tuntunan perkembangan dunia perekonomian dan pemasaran global pada saat ini.
 b. Hasil ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan referensi untuk pengembangan selanjutnya.
 3. Bagi perusahaan
 a. Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna untuk menyusun kebijakan perusahaan yang bersangkutan.

 b. Sebagai bahan pertimbangan untuk mengevaluasi strategi pemasaran perusahaan yang selama ini diimplementasikan, dalam hal ini berhubungan dengan retailing mix yang terdiri dari produk, harga, lokasi, personalia, promosi, dan prese
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Akutansi :  Pengaruh retailing mix terhadap keputusan pembelian pada Alfamart di Jl. Gajayana. "Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment