Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Friday, April 7, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi akutansi:Analisis tarif rawat inap dengan menggunakan metode biaya berbasis aktivitas di RSNU Banyuwangi.

Abstract

INDONESIA:
Activity Based Costing merupakan salah satu metode penentuan tarif yang menggunakan aktivitas sebagai acuan dalam menentukan tarif. tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk menentukan tarif rawati nap RSNU tahun 2014, (2) mengetahui hasil penerapan metode ABC terkait akurasi tarif, (3) untuk mengetahui perbandingan tarif Rawat inap 2014 dengan ABC.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dimana tujuannya untuk menggambarkan secara sistematis tentang penentuan tarif rawat inap dengan metode ABC. Subyek penelitian yaitu biaya yang menimbulkan aktivitas tahun 2014. Data yang diperoleh dengan menggunakan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat selisih antara tarif yang dihitung dengan menggunakan metode ABC dengan tarif rawat inap tahun 2014 RSNU dipengaruhi oleh faktor, fasilitas dan pelayanan. Rumah sakit membebankan tarif perpasien sesuai dengan fasilitas dan biaya yang timbul saat pasien dirawat saja, sedang biaya seperti biaya listrik, gaji perawat dsb tidak dibebankan sehingga Harga menjadi tinggi, setelah dilakukan analisis tarif menggunakan metode ABC tarif pada pelayanan rawat inap kelas vip, kelas utama, kelas satu, kelas dua dan kelas tiga, terdapat perbedaan tarif dengan tarif yang ditetapkan oleh rumah sakit selama ini. Dari hasil penelitian diketahui bahwa tarif ABC Kelas VIP sebesar Rp208.700 sedangkan tarif yang saat ini berlaku Rp354.000, tarif ABC kelas utama sebesar Rp184.374 sedangkan tarif yang saat ini berlaku Rp289.000, tarif ABC kelas satu Rp146.372 sedangkan tarif yang saat ini berlaku Rp180.000, tarif ABC kelas dua sebesar Rp103.085 sedangkan tarif yang saat ini berlaku Rp140.000, tarif ABC kelas tiga sebesar Rp81.422 sedangkan tarif yang saat ini berlaku Rp124.000. perbedaan tarif ini disebabkan oleh perbedaan konsumsi aktivitas masing-masing kelas dan Cost Driver.
ENGLISH:
Activity Based Costing is one method of determining the activity rates used as a reference in determining the decision making. Most private hospital that is not privately owned determination using standard tariffs set by the government. RSNU is one Private Hospital under the auspices of NU ', as one of the private health care institutions Nahdatul Ulama Hospitallsalso set tariffs based policy of NU. The purpose of this study was to calculate the rate of hospitalization at the Hospital NU when calculated using Activity Based Costing. From that background that this research was conducted with the title "Analysis of hospitalization rates using the cost method based on the activity of RSNU Banyuwangi.
This study used descriptive qualitative approach where the goal is to describe systematically on activities leading to hospitalization rates. The subjects of research that raises the cost of the activity in 2014. The data were obtained using observation, interviews, and documentation.

The results showed that there is a difference between the rates calculated using the ABC method with a basic rate RSNU 2014 have been affected by factors, facilities and services. Hospitals charge perpasien rates according to the facilities and costs incurred when patients are treated only, while costs such as electricity costs, salaries of nurses, etc. are not charged so that price becomes expensive after tariff analysis using the ABC method except for one class, the ABC method is more expensive rates because class wasteful electricity tariff so that loading larger, but overall found that ABC cheaper rates than the basic rate in 2014.

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
 Adanya kemampuan perekonomian global dewasa ini mendorong pertumbuhan ekonomi sektor jasa. Banyak peluang bisnis yang muncul dari sektor lini, demikian pula halnya kesempatan kerja semakin luas. Di Amerika Serikat, pekerjaan dalam sektor jasa mencapai sekitar 75-77% dari total lapangan kerja dan 70% dari GNP, serta diharapkan untuk menyediakan 90% dari keseluruhan lapangan kerja baru pada dekade awal abad 21 (Kotler, 1994). Jumlah orang yang bekerja dalam sektor jasa (seperti transportasi, komunikasi, perdagangan grosir dan eceran, keuangan dan asuransi, keuangan dan asuransi, pemerintahan, hukum, pendidikan, dan kesehatan) di Amerika Serikat tahun 2000 diperkirakan akan mencapai 96 juta orang, sedang untuk tahun 2005 diproyeksi akan mencapai 107,4 juta orang (Bovee, Houston, dan Thill, 1995). Sebuah artikel dalam majalah fortune yang berjudul „service is everybody bussiness’ majalah berani memprediksikan bahwa semua lapangan kerja baru yang tercipta akan berasal dari sektor jasa (Tjiptono, 2004).
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 560/MENKES/SK/IV/2003 tentang Pola Tarif Perjan Rumah Sakit bahwa, “Rumah sakit merupakan sarana kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, baik dalam bentuk promotif, kuratif maupun rehabilitatif. Baik pelayanan rawat jalan, rawat inap, rawat darurat, rawat siang (day care), rawat sehari (one day care) maupun rawat rumah (home care)”. Sesuai 2 dengan fungsi utamanya tersebut, perlu pengaturan sedemikian rupa sehingga rumah sakit mampu memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki secara efektif dan efisien. Karena peran rumah sakit yang berpusat pada sektor pelayanan publik yang vital, rumah sakit seharusnya tidak hanya mencari keuntungan semata, akan tetapi lebih mengutamakan kepentingan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan harga yang terjangkau. Pengertian tarif menurut (DEPKES:1992) adalah “nilai suatu jasa pelayanan rumah sakit dengan sejumlah uang di mana berdasarkan nilai tersebut rumah sakit bersedia memberikan jasa kepada pasien”. Penetapan tarif di perusahaan swasta adalah suatu keputusan yang paling sulit dilakukan, karena informasi yang ada biasanya tidak lengkap dan tidak memadai, sehingga sering kali dalam mengambil keputusan mengenai tarif selalu terbentur oleh data informasi yang tidak lengkap. Tarif di rumah sakit merupakan suatu aspek yang penting tidak saja dirumah sakit swasta tetapi juga dirumah sakit pemerintah, untuk dirumah sakit pemerintah tarif biasanya sudah ditetapkan berdasarkan SK pemerintah daerah. Berdasarkan keputusan yang berlaku pada Departemen kesehatan Republik Indonesia sebagai organisasi yang bertujuan mencari profit rumah sakit milik swasta perlu di kelola secara professional dengan maksud dapat memenuhi standar tarif yang sesuai dan seimbang dengan tingkat pelayanan dan fasilitas. Stiani (2009), menyatakan bahwa Penentuan jasa rawat inap merupakan suatu keputusan yang sangat penting karena dapat mempengaruhi profitabilitas suatu rumah sakit, karena dengan adanya berbagai fasilitas pada jasa rawat inap, serta 3 jumlah biaya overhead yang tinggi, maka semakin menuntut ketepatan dalam pembebanan biaya yang sesungguhnya.
Selama ini penentuan tarif untuk rumah sakit pada umumnya masih menggunakan metode tradisional.Metode tradisional dianggap tidak mampu dalam menjawab perkembangan yang terjadi pada perusahaan jasa maupun manufaktur. Nurhayati (2009), memaparkan“kendala utama sistem tradisional adalah penentuan tarif didasarkan pada volume output, mengingat output rumah sakit yang tidak berwujud, seperti kecepatan pelayanan jasa, kualitas informasi, serta pemberian kepuasan layanan terhadap pasien dengan volume dan kompleksitas pelayanan, perawatan, serta fasilitas yang berbeda”.maka sistem penentuan tarif tradisional pada rumah sakit dapat menghasilkan tarif yang tidak akurat. Tarif yang tidak akurat akan memberikan informasi biaya yang terdistorsi yaitu undercosting atau overcosting yang mengakibatkan kesalahan pengambilan keputusan dan kelangsungan organisasi. Menurut Heru (2010). Menyadari adanya kelemahan dalam sistem penentuan tarif tradisional, maka perlu diterapkan sistem penentuan berdasarkan aktivitas atau lebih dikenal dengan metode Activity Based Costing. Pada awalnya ABC digunakan pada perusahaan manufaktur, namun dalam perkembangannya mulai diterapkan pada perusahaan jasa seperti rumah sakit maupun bank. ABC telah dikembangkan dan diimplementasikan pada Alexandria Hospital, Union Pacific Railroad, Data Service Inc, AT&T, Firemend Fund, dll (Blocher, Chen, dan Lin, 1999:138). 4 Pada perusahaan manufaktur terdapat perbedaan dengan perusahaan jasa. Menurut Blocher, Chen, dan Lin (1999:138) Dalam bukunya menjelaskan perusahaan manufaktur aktivitasnya cenderung sama, tetapi dalam organisasi jasa dan sebagian besar organisasi non profitmemiliki karakteristik yang berbeda-beda. Pada prinsipnya ABC dapat diterapkanpada organisasi jasa dengan menggunakan prosedur yang sama seperti digunakan pada perusahaan manufaktur, karena dalam perusahaan jasa juga dilakukan serangkaian aktivitas yang mengkonsumsi sumberdaya.
Activity Based Costing (ABC) menurut mulyadi (2005) dinilai dapat mengukur secara cermat biaya biaya yang keluar dari setiap aktivitas, hal ini disebabkan karena banyaknya cost driver yang digunakan dalam pembebanan biaya overhead, sehingga dalam Activity Based Costing (ABC) dapat meningkatkan ketelitian dalam perincian biaya, dan ketepatan pembebanan biaya lebih akurat. Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Rafiequl (2009), Luh Ria (2014) dan Antonius (2005). Penelitian kali ini akan melanjutkan penelitian terdahulu tentang penentuan tarif rawat inap dengan menggunakan metode Activity Based Costing pada Rumah Sakit. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang melakukan penelitian mengenai tarif pada ruangan VIP saja. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan kali ini adalah peneliti akan melakukan penelitian pada Masingmasing kelas pada instansi rawat inap dan meneliti penerapan pada lima kelas tersebut, karena meskipun dalam lingkup satu Rumah Sakit namun aktivitas tiap kelas belum tentu sama dan fasilitas pun berbeda, maka tarif pun juga bisa  berbeda untuk tiap kelasnya dan tidak bisa dianggap sebagai satu kesatuan.
 Maka dari itu penelitian kali ini akan menekankan penelusuran biaya aktifitas untuk tiap kelasnya, sehingga muncul tarif yang lebih akurat untuk masing-masing kelas. Rumah Sakit Nahdatul Ulama (RSNU) merupakan Rumah Sakit swasta yang terletak di jalan Mangir Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi yang merupakan rumah sakit bertipe C dengan penyediaan layanan kesehatan spesialistik dasar meliputi penyakit dalam, penyakit kandungan, dan spesialis anak. Fasilitas RSNU memberikan layanan berupa rawat jalan maupun rawat inap. selama ini Rumah Sakit menggunakan dasar penentuan tarif rawat inap perkamarnya berdasarkan fasilitas yang terdapat pada masing-masing kelas, Hingga saat ini kendala yang masih timbul dalam penetapan tarif layanan rawat inap tahun 2014 adalah tarif yang dirasa terlalu tinggi bila dibandingkan dengan tarif rumah sakit sejenis sehingga timbul distorsi (Observasi awal, Agus Baidlawi 2015) Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 59 Tahun 2014 mengenai standar tarif pelayanan kesehatan dalam penelenggaran program jaminan kesehatan, bahwa tarif rawat inap dalam satu paket menurut ayat (1) ditetapkan minimum sebesar Rp100.000,00 sampai dengan Rp120.000,00.
Tarif rawat inap rumah sakit didasarkan pada. jenis pelayanan dan kebijakan yang digunakan oleh masing-masing rumah sakit dalam menentukan tarifnya. Berdasarkan penjelasan diatas peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana perhitungan jasa rawat inap Rumah sakit Nahdatul Ulama (RSNU), dan apakah penerapan metode Activity Based Costing dapat digunakan dasar oleh rumah sakit 6 untuk menentukan tarif rawat inap yang lebih akurat, maka dari itu penulis mengambil judul. “ANALISIS BIAYA RAWAT INAP DENGAN MENGGUNAKAN METODE BIAYA BERBASIS AKTIVITAS DI RSNU BANYUWANGI”.
1.2  Rumusan Masalah
 Berdasarkan dari uraian latar belakang diatas dapat diambil beberapa rumusan masalah yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana Rumah sakit Nahdatul Ulama (RSNU) menghitung dan menentukan tarif rawat inap?
2. Bagaimanakah penerapan sistem ACTIVITY BASED COSTING dapat meningkatkan akurasi tarif dalam penentuan tarif jasa rawat inap RSNU? 3. Bagaimana perbandingan tarif Rumah Sakit Nahdatul ulama dengan tarif yang digunakan dengan menggunakan metode ACTIVITY BASED COSTING?
1.3 Tujuan Penelitian
 Berdasarkan rumusan masalah yang telah diambil dapat diketahui tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sistem penentuan tarif jasa rawat inap di RSNU
2. Untuk melihat hasil dari penerapan metode ACTIVITY BASED COSTING di dalam penentuan tarif rawat inap RSNU 3. Untuk mengetahui perbandingan tarif Rumah Sakit Nahdatul Ulama‟ dengan Tarif yang di hitung dengan metode ACTIVITY BASED COSTING
 1.4 Batasan Penelitian
 Batasan masalah diberikan dengan tujuan agar peneliti tidak melakukan penyimpangan keluar dari ruang lingkup penelitian yang diharapkan yaitu menghitung harga pokok pelayanan kepada pasien rawat inap di Rumah sakit NU dengan menggunakan metode Activity Based Costing (ABC).
 1.5 Manfaat Penelitian
 1. Bagi Akademis
Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa digunakan sebagai acuan dalam penelitian sebelumnya sebagai study berkelanjutan dengan topik yang sama sehingga hasil penelitian tidak terhenti dan memberikan manfaat bagi dunia akademis.
2. Bagi Instansi Hasil

 dari pemelitian diharapkan mampu memberikan solusi bagi instansi dalam menentukan tarif dan penentuan biaya rawat inap yang lebih terfokus. Kemudian bisa menjadi acuan dasar oleh manajemen untuk mengambil kebijakan penentuan tarif rawat inap.
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Akutansi : Analisis tarif rawat inap dengan menggunakan metode biaya berbasis aktivitas di RSNU Banyuwangi.. Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini


Artikel Terkait: