Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, April 3, 2017

Jasa Pembuatan Skrispsi:Download Skripsi Akutansi:Pengaruh profitabilitas, risiko keuangan, nilai perusahaan dan struktur kepemilikan terhadap praktik perataan laba: Studi empiris pada perusahaan yang listing di Jakarta Islamic Indeks tahun 2008-2012


Abstract

INDONESIA:
Perataan laba (income smoothing) merupakan tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk mengurangi variabilitas laba yang dilaporkan agar dapat mengurangi risiko pasar atas saham perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan harga pasar saham perusahaan. Jakarta Islamic Indeks merupakan salah satu indeks yang menjadikan indikator bagi para investor yang mencari saham-saham yang tidak melanggar syariah dalam islam (halal) sehingga akan memberikan ekspektasi bahwa Praktik Perataan Laba (income smoothing) tidak terjadi di Jakarta Islamic Indeks. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris pengaruh profitabilitas, risiko keuangan, nilai perusahaan dan struktur kepemilikan terhadap praktik perataan laba pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Indeks tahun 2008-2012.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan yang dipublikasikan di Jakarta Islamic Indeks. Tehnik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling method, sehingga diperoleh sampel sebanyak 14 perusahaan. Praktik Perataan Laba diproksi dengan Indeks Eckel, Model analisis data yang digunakan dalam menganalisis Pengaruh Profitabilitas, Risiko Keuangan, Nilai Perusahaan dan Struktur Kepemilikan Terhadap Perataan Laba adalah uji asumsi klasik, analisis regresi berganda dan uji hipotesis.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel Profitabilitas, Risiko Keuangan, Nilai Perusahaan, Kepemilikan Publik dan Kepemilikan Manajerial berpengaruh signifikan terhadap Praktik Perataan Laba (income smoothing). Sedangkan hasil penelitian secara parsial menunjukkan bahwa variabel Profitabilitas, Risiko Keuangan, Nilai Perusahaan dan struktur kepemilikan Publik berpengaruh terhadap Praktik Perataan Laba (income smoothing). Sedangkan variabel Kepemilikan Manajerial Berpengaruh Negatif Signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa Praktik Perataan Laba terjadi di Jakarta Islamic Indeks.

ENGLISH:
Smoothing earnings (income smoothing) is the deliberate actions taken to reduce the variability of reported earnings in order to reduce the risk of the stock market over the company, which in turn can increase the market price of shares of the company. Jakarta Islamic Index is an index that makes one indicator for investors who are looking for stocks that do not violate the Islamic sharia (halal) that will give the expectation that the practice of smoothing income (income smoothing) does not occur in the Jakarta Islamic Index. This study aims to obtain empirical evidence of the influence of profitability, financial risk, value and ownership structure of the company's income smoothing practices in companies listed on the Jakarta Islamic Index.
The data used in this study is a secondary data obtained from financial statements published in the Jakarta Islamic Index. Sampling technique using purposive sampling method, in order to obtain a sample of 14 companies. Gain Flattening Practice proxied by Eckel Index, data analysis model that is used in analyzing Influence Profitability, Financial Risk, Ownership Structure and Corporate Value Against Income Averaging is a classic assumption test, multiple regression analysis and hypothesis testing.

The results of this study indicate that simultaneous variable Profitability, Financial Risk, Corporate Values, Public Ownership and Managerial Ownership significant effect on the practice of smoothing income (income smoothing). While the partial results of the study indicate that the variable Profitability, Financial Risk, and Company Value ownership structure of the Practice of Public Gain Flattening (income smoothing). While variable Significant Negative Impact of Managerial Ownership. This indicates that the practice occurred in the Gain Flattening the Jakarta Islamic Index.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
 Laporan keuangan sebagai sebuah hasil dari kegiatan operasional sebuah perusahaan yang dikeluarkan secara periodik oleh perusahaan, akan menjadi sebuah pertanggungjawaban perusahaan terhadap pihak-pihak yang berkepentingan seperti manajemen, stockholders, kreditur, dan pemerintah. Dari laporan keuangan tersebut, pihak ekternal seperti investor, kreditur dan pemerintah maupun internal perusahaan atau manajemen dari perusahaan, bisa mendapatkan gambaran keadaan perusahaan, karena dalam laporan keuangan terdapat banyak informasi yang dibutuhkan oleh pihak-pihak tersebut, terutama adalah informasi mengenai laba perusahaan. Informasi laba, merupakan bagian dari laporan keuangan yang selalu menjadi pusat perhatian dari stakeholder.
 Nilai dan kemampuan perusahaan dalam mengelola asset-asetnya dapat digambarkan hanya dengan melihat kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam operasinya. Perusahaan dengan laba yang besar dan stabil akan memberikan rasa aman untuk para investor dalam menginvestasikan uangnya. Kondisi tersebut memotivasi manajer untuk menjalankan perusahaan sebaik mungkin dengan harapan akan mendapatkan laba yang stabil tiap tahunnya sehingga dapat berimbas kepada meningkatnya nilai perusahaan di mata investor (Abiprayu, 2011:16) 2 Laporan keuangan merupakan sarana atau alat penting yang digunakan untuk menghubungkan manajer dan pemilik. Tujuan dari laporan keuangan adalah untuk menyampaikan informasi yang berguna dalam menilai kemampuan manajemen dalam menggunakan sumber daya perusahaan secara efektif guna mencapai sasaran utama perusahaan (Belkaoui, 2006:217).
Karena kinerja manajemen tercermin dalam laporan keuangan perusahaan, maka laporan keuangan merupakan sarana untuk mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan oleh manajemen atas sumber daya pemilik. Laporan keuangan tersebut harus memuat informasi lengkap. Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 (Revisi 2012:11-15),
 laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Secara umum, semua bagian dari laporan keuangan tersebut adalah penting dan diperlukan dalam pengambilan keputusan. Namun, perhatian pemakai laporan keuangan lebih terpusat pada informasi tentang laba yang terdapat dalam laporan laba rugi, tanpa memperhatikan prosedur yang digunakan untuk menghasilkan informasi laba tersebut (Beattie, et al., 1994 dalam Assih dan Gudono, 2000).
Pola manajemen laba menurut Scott (2000: 383-384) terdiri dari taking bath, income maximization, income minimization, dan income smoothing. Salah satu bentuk dari manajemen laba yang merupakan fenomena menarik dalam akuntansi adalah kejadian yang berkaitan dengan perataan laba (income smoothing) yang dilakukan manajer. Aktivitas ini dilakukan karena berbagai 3 alasan.
Informasi laba merupakan perhatian utama untuk menilai kinerja dan pertanggungjawaban manajemen. Sebagai agen, manajer secara moral bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik, dan sebagai imbalannya akan memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak. Dengan demikian, terdapat dua kepentingan yang berbeda dalam perusahaan, dimana masing-masing pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendaki. Sesuai dengan teori keagenan, perbedaan kepentingan ini akan memicu terjadinya konflik keagenan. Menurut (Ikhsan, 2008:76) teori keagenan menggunakan tiga asumsi sifat manusia yaitu: 1. manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self interest). 2. manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa yang akan datang (bounded rationality), dan 3. manusia selalu menghindari resiko (risk averse).
Oleh karena itu, berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut manajer sebagai manusia akan bertindak opportunistic, yaitu mengutamakan kepentingan pribadinya. Manajer, sebagai pengelola perusahaan, lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Oleh karena itu, sebagai pengelola, manajer berkewajiban untuk memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik. Namun, informasi yang disampaikan kadang tidak sesuai dengan kondisi perusahaan yang sebenarnya. Kondisi ini dikenal sebagai 4 informasi yang tidak simetris atau asimetri informasi. Asimetri antara manajemen (agent) dengan pemilik (principal) dapat memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba (earnings management) (Richardson, 1998 dalam Ujiyantho, 2007). Perataan laba menurut (Stice, 2004:424) adalah menahan atau mempercepat pengakuan terhadap beberapa jenis pendapatan dan beban, serta meratakan angka laba yang dilaporkan dari tahun ke tahun berikutnya.
 Dengan kata lain, membuat perusahaan terlihat memiliki angka laba yang tidak terlalu berfluktuasi akan mempermudah perusahaan dalam mendapatkan pinjaman dengan persyaratan yang menguntungkan serta menarik investor. Salah satu motivasi yang mendorong dilakukannya perataan laba adalah untuk memperbaiki hubungan dengan kreditor, investor, karyawan, dan pihak terkait lainnya. Laba periodik yang stabil diasumsikan dapat mendukung tingkat deviden yang lebih tinggi dibandingkan dengan laba yang berfluktuasi. Menurut (Hepworth, 1953 dalam Belkaoui, 2007:193), laba yang stabil membuat pemilik dan kreditor lebih memiliki kepercayaan terhadap manajer. Selain itu, perataan laba bertujuan untuk memperbaiki citra perusahaan di mata luar bahwa perusahaan memiliki risiko rendah dan meningkatkan kepuasan relasi bisnis atas kinerja perusahaan.
 Rendiawan (2012) laporan keuangan merupakan suatu gambaran mengenai kondisi perusahaan, karena di dalam laporan keuangan terdapat informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pihak - pihak yang berkepentingan 5 dalam perusahaan. Laporan keuangan disusun oleh manajemen sebagai pertanggung jawaban hasil kerjanya kepada pihak-pihak eksternal. Menurut Scott (2006) pengelolaan laba (earning management) adalah pemilihan kebijakan akuntansi oleh manajemen untuk dapat mencapai beberapa tujuan tertentu. Pemilihan kebijakan akuntasi tersebut termotivasi dari tujuan efisiensi maupun oportunistik. Pengelolaan laba bersifat efisien apabila manajemen perusahaan berusaha untuk menambah tingkat transparansi laba dalam mengkomunikasikan hal yang bersifat informasi internal perusahaan. Dan pengelolaan laba bersifat oportunistik apabila manajemen perusahaan berusaha untuk memaksimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri Siregar (2005) menyatakan bahwa pengelolaan laba yang dilakukan oleh perusahaan dapat bersifat efisien atau meningkatkan keinformatifan laba dalam mengkomunikasikan informasi privat dan dapat bersifat oportunis, yaitu manajemen melaporkan laba secara optimis untuk memaksimalkan kepentingan pribadinya.
 Perataan laba merupakan fenomena umum yang bertujuan mengurangi variabilitas atas laba yang dilaporkan guna mengurangi resiko pasar atas saham perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan harga saham perusahaan tersebut. (Michelson dkk, 1995 dalam Dwiatmini, 2001) mengamati bahwa penelitian-penelitian yang telah dilakukan mengenai perataan laba biasanya difokuskan pada tiga isu pokok, yaitu: 1. apakah perusahaan benar-benar melakukan perataan laba, 2. kemampuan berbagai tehnik akuntansi untuk meratakan laba. 3. kondisi yang efektif untuk melakukan perataan laba. Praktik perataan laba tidak terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhinya.
 Dalam beberapa penelitian sebelumnya Rendiawan (2012), Atarwaman (2011) meneliti bahwa variabel profitabilitas berpengaruh pada tindakan perataan laba. Tingkat profitabilitas mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan dan tingkat efisiensi atas penggunaan aset perusahaan serta merupakan salah satu aspek yang penting sebagai acuan oleh investor atau pemilik dalam menilai kinerja suatu perusahaan. Profitabilitas merupakan faktor yang dapat mempengaruhi perataan laba, karena tingkat keuntungan terkait langsung dengan obyek perataan laba. Faktor selanjutnya adalah risiko keuangan, beberapa penelitian sebelumnya Rendiawan (2012), Noviana (2012) menggunakan rasio leverage sebagai proksi atas risiko keuangan terhadap praktik perataan laba. Perusahaan dengan tingkat rasio yang tinggi mempunyai risiko yang tinggi pula, maka laba akan berfluktuasi dan perusahaan cenderung untuk melakukan perataan laba agar laba perusahaan terlihat stabil, karena investor cenderung mengamati fluktuasi laba suatu perusahaan yang dijelaskan oleh (Kustini dan Ekawati, 2006 dalam Noviana, 2012).
Penelitian Rendiawan (2012) menjelaskan bahwa nilai perusahaan berpengaruh dalam perataan laba. Perusahaan yang memiliki nilai pasar yang tinggi akan cenderung untuk melakukan perataan laba, karena perusahaan 7 cenderung menjaga konsistensinya agar nilai pasar perusahaan tetap tinggi sehinggas dapat lebih menarik arus sumber daya kedalam perusahaannya. Kepemilikan publik dalam penelitian Rendiawan (2012) menunjukkan nilai yang signifikan terhadap perataan laba. menyimpulkan bahwa semakin tinggi kepemilikan publik dalam struktur kepemilikan perusahaan, maka perusahaan cenderung melakukan perataan laba agar menghasilkan variabilitas laba yang rendah mengindikasikan risiko yang rendah. Risiko rendah ini lah yang direspon positif oleh investor.
Kepemilikan manajerial dalam struktur kepemilikan perusahaan dalam penelitian Atarwaman (2011) menunjukkan efek positif terhadap perataan laba. Manajemen yang memiliki saham perusahaan memiliki informasi lebih banyak tentang perusahaan dibanding pemegang saham non-institusi lainnya, dengan demikian memiliki kesempatan untuk melakukan perataan laba untuk meminimalisir volatilitas labanya untuk meningkatkan kinerja saham perusahaan. Menurut (Huda dan Heykal, 2010:220) pasar modal Islam secara resmi diluncurkan pada tanggal 14 maret 2003 bersamaan dengan penandatanganan MOU antara BAPEPAM-LK dengan dewan islam nasional-majelis ulama Indonesia (DSN-MUI). Walaupun secara resmi diluncurkan tahun 2003, namun instrument pasar modal islam telah hadir di Indonesia pada tahun 1997
. Hal ini ditandai dengan peluncuran danareksa islam pada 3 juli 1997 oleh PT Dana reksa Investment Management. Selanjutnya Bursa Efek Indonesia bekerjasama dengan PT Dana reksa Investment Management meluncurkan 8 Jakarta Islamic Indeks pada 3 juli tahun 2000 yang bertujuan untuk memandu investor yang ingin menanamkan dananya secara islam. Dengan hadirnya indeks tersebut maka para pemodal telah disediakan saham-saham yang dapat dijadikan sarana berinvestasi dengan penerapan prinsip islam. Menurut Sitepu (2010) Jakarta Islamic Index (JII) merupakan salah satu indeks yang menjadi indikator bagi para investor yang mencari sahamsaham yang tidak melanggar syariah dalam Islam (halal). JII sering dijadikan tolak ukur mengenai saham-saham prospektif yang halal. Dimana dalam indeks JII tergabung 30 emiten saham yang di review setiap 6 bulan sekali.
 Diharapkan dengan adanya indeks JII, bisa meningkatkan kepercayaan investor untuk melakukan investasi pada saham-saham lokal tanpa takut melanggar syariah. Saham-saham syari’ah yang masuk dalam perhitungan Jakarta Islamic Indeks (JII) terus dievaluasi dari sisi ketaatannya terhadap prinsip-prinsip syari’ah sebagaimana tertuang dalam fatwa DSN. Apabila saham-saham tersebut tidak memenuhi prinsip-prinsip syari’ah, otoritas akan mengeluarkannya dari JII dan kedudukannya digantikan saham lain yang memenuhi prinsip-prinsip syari’ah. Dengan demikian, setiap saat ada saham yang keluar dan masuk ke dalam JII. Evaluasi terhadap saham-saham yang masuk dalam perhitungan JII dilakukan setiap enam bulan sekali. Sedangkan perubahan jenis usaha emiten akan terus diawasi berdasarkan data-data publik yang tersedia (Nafik, 2009).Hal tersebut merupakan alasan penulis mengambil JII sebagai objek penelitian dan dikarenakan dalam penelitian-penelitian sebelumnya tidak adanya penelitian perataan laba dalam JII sesuai dengan prinsip syariah hal ini menimbulkan dugaan apakah terdapat indikasi praktik perataan laba pada Jakarta Islamic Indeks. Profitabilitas berpengaruh positif terhadap perataan laba berdasarkan penelitian Rendiawan (2012), Atarwaman (2011), dan kurniawan (2012), hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian dari Noviana (2012) dan Abiprayu (2011) yang menunjukkan bahwa Profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap perataan laba. Profitabilitas yang tinggi akan meningkatkan biaya 10 politis yang harus di tanggung perusahaan khususnya pajak oleh karena itu bila rasio ini tinggi maka perusahaan cenderung menurunkan tingkat laba atau disebut dengan praktik perataan laba.
Dari penjelasan tersebut peneliti ingin menguji pengaruh dari profitabilitas terhadap perataan laba. Hasil penelitian Rendiawan (2012), Noviana (2012) dan kurniawan (2012) menunjukkan bahwa Risiko Keuangan berpengaruh terhadap perataan laba, sedangkan hasil penelitian Abiprayu (2011) menyatakan bahwa Risiko Keuangan berpengaruh negatif terhadap perataan laba. Apabila leverage tinggi menunjukkan risiko keuangan atau risiko kegagalan perusahaan untuk mengembalikan pinjaman akan semakin tinggi dan sebaliknya. Dari konsekuensi tersebut peneliti ingin menguji apakah leverage berpengaruh terhadap perataan laba. Berdasarkan penelitian Rendiawan (2012) nilai perusahaan berpengaruh signifikan terhadap perataan laba. Namun berbeda dengan hasil penelitian Noviana (2012) yang menyatakan bahwa nilai perusahaan tidak berpengaruh terhadap perataan laba. Struktur kepemilikan baik kepemilikan publik maupun kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap perataan laba berdasarkan penelitian Rendiawan (2012), hal ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Noviana (2012) yang menunjukkan bahwa Struktur kepemilikan baik kepemilikan publik maupun kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap perataan laba. semakin tinggi kepemilikan publik dalam struktur kepemilikan perusahaan, maka perusahaan agar 11 menghasilkan variabilitas laba yang rendah sehingga mengindikasikan risiko yang rendah pula. Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan pengujian struktur kepemilikan terhadap perataan laba.
Merujuk dari ketidakkonsistenan hasil penelitian sebelumnya yang telah dijelaskan di atas, maka peneliti ingin mengkonfirmasi kembali hasil penelitian terdahulu dengan menggunakan variabel Profitabilitas, Resiko Keuangan, Nilai Perusahaan dan struktur kepemilikan publik terhadap perataan laba. Selain itu, penelitian-penelitian sebelumnya menggunakan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai obyek penelitian seperti penelitian-penelitian dari Rendiawan (2012), Noviana (2012), Abiprayu (2011), Atarwaman (2011) dan Kurniawan (2012).
Berdasarkan pemaparan tersebut peneliti bisa menyimpulkan bahwa belum ada penelitian mengenai perataan laba di Jakarta Islamic Indeks, sehingga masih terdapat kemungkinan untuk melakukan penelitian mengenai Praktik Perataan Laba pada Jakarta Islamic Indeks dan diharapkan dengan di telitinya Praktik perataan laba di Jakarta Islamic Indeks tidak ditemukannya perusahaan yang menggunakan Praktik Perataa Laba.
Berdasarkan pada uraian latar belakang permasalahan di atas, maka penulis melakukan penelitian dengan mengambil judul: “Pengaruh Profitabilitas, Risiko Keuangan, Nilai Perusahaan Dan Struktur Kepemilikan Terhadap Praktik Perataan Laba Pada Perusahaan Yang Terdaftar Jakarta Islamic Indeks”
1.2  Rumusan Masalah
 Apakah ada pengaruh secara parsial maupun simultan dari variabel Profitabilitas, Risiko Keuangan, Nilai Perusahaan dan Struktur Kepemilikan terhadap praktik Perataan Laba pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Indeks dan apakah Praktik Perataan Laba terjadi pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Indeks?
1.3  Tujuan Penelitian
Untuk memperoleh bukti empiris pengaruh Profitabilitas, Risiko Keuangan, Nilai Perusahaan dan Struktur Kepemilikan terhadap Praktik Perataan Laba pada perusahaan baik secara simultan maupun parsial yang terdaftar di Jakarta Islamic Indeks dan untuk mendeteksi adanya Praktik Perataan Laba di Jakarta Islamic Indeks.
1.4  Manfaat Penelitian
 Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagi penulis Sebagai sarana belajar, memperdalam ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam perkuliahan dan memperoleh wawasan dalam aplikasi pembelajaran di dunia kerja.
 2. Bagi investor Penelitian ini dapat memberikan pertimbangan dalam menilai kinerja perusahaan yang berguna dalam pengambilan keputusan investasi khususnya investor yang menginginkan saham syari’ah.
 3. Bagi peneliti selanjutnya Penelitian ini sebagai bahan masukan dan sumber acuan bagi para pembaca atau penelitian lain untuk menjadi perbandingan terhadap masalah-masalah yang timbul di masa yang akan datang.
4. Bagi Jakarta Islamic Indeks Bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan atau evaluasi untuk menetapkan atau mengeluarkan perusahaan yang melakukan Praktik Perataan Laba di Jakarta Islamic Indeks, sehingga semua perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Indeks terbebas adanya Praktik Perataan Laba.
1.5 Batasan Penelitian
 Batasan penelitian dengan menggunakan laporan keuangan perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Indeks Tahun 2008 sampai 2012 agar lebih akurat jika dilakukan dengan periode yang lebih panjang yaitu lima periode akuntansi.
Untuk Mendownload Skripsi "Pengaruh profitabilitas, risiko keuangan, nilai perusahaan dan struktur kepemilikan terhadap praktik perataan laba: Studi empiris pada perusahaan yang listing di Jakarta Islamic Indeks tahun 2008-2012" Ini silakan klik link dibawah ini



Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment