Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Monday, April 17, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi Manajemen:Hubungan kebersyukuran dengan kebermaknaan hidup orang tua yang memiliki anak autis

Abstract

INDONESIA:
Ketidakberdayaan orang tua dalam menghadapi kenyataan bahwa memiliki anak autis dalam pandangan Psikologi Positif juga memiliki kesempatan untuk dapat melihat hidup lebih positif dan merasakan hal-hal yang positif salah satunya adalah kebersyukuran. Kebersyukuran merupakan sebuah dimensi penting dalam hidup yang sifatnya universal, membahagiakan, dan membuat perasaan nyaman serta mampu memicu motivasi. Sementara kebermaknaan hidup merupakan sesuatu yang dianggap penting dan memberi nilai khusus bagi seseorang yang jika terpenuhi, maka akan membuat individu merasa lebih bahagia, berharga dan memiliki tujuan yang mulia untuk dipenuhi. Masalah yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah bagaimana tingkat kebersyukuran, tingkat kebermaknaan hidup, dan hubungan antara kebersyukuran dengan kebermaknaan hidup pada orang tua yang memiliki anak autis.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebersyukuran, tingkat kebermaknaan hidup, dan hubungan antara kebersyukuran dengan kebermaknaan hidup pada orang tua yang memiliki anak autis. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan positif antara kebersyukuran dengan kebermaknaan hidup orang tua yang memiliki anak autis.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan dilakukan di Sekolah Autisme Laboratorium Universitas Negeri Malang dengan jumlah responden sebanyak 20 orang. Untuk mengukur variabel bebas yaitu kebersyukuran dan variabel terikat yaitu kebermaknaan hidup, peneliti menggunakan skala. Analisis yang digunakan adalah korelasi nonparametrik Spearman.
Berdasarkan hasil analisis data, menunjukkan bahwa 20 orang tua anak autis di Sekolah Autisme Laboratorium UM memiliki kebersyukuran pada taraf yang bervariasi, 20% menunjukkan kebersyukuran pada taraf tinggi, 60% pada taraf sedang dan 20% berada pada taraf rendah. Para orang tua juga memiliki kebermaknaan hidup pada taraf yang bervariasi, 15% menunjukkan kebermaknaan hidup pada taraf tinggi, 70% pada taraf sedang dan 15% berada pada taraf rendah. Sementara untuk korelasi ditemukan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara kebersyukuran dengan kebermaknaan hidup. Koefisien korelasinya menunjukkan 0,631 dan koefisien determinannya atau r2 = 0,40, yang artinya bahwa ada hubungan positif antara kebersyukuran dengan kebermaknaan hidup. Kebermaknaan hidup orang tua yang memiliki anak autis di Sekolah Autisme Laboratorium UM disumbang 40% dari kebersyukuran.
ENGLISH:
Powerlessness of the parents in the face of the fact that having an autistic child in view of the Positive Psychology also have the opportunity to see life more positively and feel the positive things that one is gratitude. Gratitude is an important dimension of life that are universal, happy, and create a feeling of comfort and able to trigger motivation. While the meaningfulness of life is something that is important and gives a special value for someone who if met, it will make people feel happier, valuable and has a noble goal to be met. Problems that will be revealed in this study is how the gratitude, the meaningfulness of life, and the relationship between the meaningfulness of life and gratitude to parents of children with autism.
This study aims to determine the level of gratitude, the level of meaningfulness of life, and the relationship between gratitude and meaningfulness of life at parents of children with autism. The hypothesis put forward is that there is a positive relationship between the gratitude and the meaningfulness of life parents of children with autism.
This study uses a quantitative approach and performed at the School of Autism Laboratory, State University of Malang with number of respondents as many as 20 people. To measure gratitude as independent variables and the meaningfulness of life as the dependent variable, researcher using a scale. The analysis used is the nonparametric Spearman correlation.

Based on the results of data analysis, showed that 20 parents of children with autism at the School of Autism Laboratory, State University of Malang has gratitude in varying degree, 20% showed a high degree gratitude on, the level was 60% and 20% are at low level. Parents also have the meaningfulness of life in varying degree, 15% showed a high level of meaningfulness in life, 70% in the standard medium and 15% are at low level. While for the correlation found that there was a significant positive relationship between gratitude and the meaningfulness of life. Correlation coefficient of 0.631 and the coefficient determinant shows or r2 = 0.40, which means that there is a positive relationship between gratitude and the meaningfulness of life. Meaningfulness of life of parents with autistic children in the School Laboratory of the UM Autism donated 40% of gratitude.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
 Masalah Dalam menjalani kehidupan ini, tentunya seseorang pasti pernah mengalami beberapa masalah. Sesuatu dirasakan atau dinilai sebagai suatu masalah ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginan atau harapan. Akibatnya mereka menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang sangat menyedihkan ataupun menyakitkan. Hal inilah yang coba dilihat oleh psikologi positif, yang berusaha melihat sisi positif sosok manusia. Pendiri psikologi positif, Seligman dalam Arbiyah, dkk (2008) melihat bahwa ditengah ketidakberdayaannya, manusia selalu memiliki kesempatan untuk melihat hidup secara lebih positif. Ia juga menambahkan bahwa sesungguhnya ada jalan keluar dari keadaan yang menghimpit, dimana psikologi positif akan membawa kita pada perasaanperasaan positif salah satunya adalah kebersyukuran. Peterson & Seligman (2004), bersyukur adalah rasa berterima kasih dan bahagia sebagai respon penerimaan karunia, baik karunia tersebut merupakan keuntungan yang terlihat dari orang lain atau pun momen kedamaian yang ditimbulkan oleh keindahan alamiah. Bersyukur bisa diasumsikan sebagai keutamaan yang mengarahkan individu dalam meraih kehidupan yang lebih baik. 2 Orang yang bersyukur adalah seseorang yang menerima sebuah karunia, penghargaan, dan mengenali nilai dari karunia tersebut. Orang yang bersyukur mampu mengidentifikasikan diri mereka sebagai seorang yang sadar dan berterima kasih atas anugerah Tuhan, pemberian orang lain, dan menyediakan waktu untuk mengekspresikan rasa terima kasih mereka. Oleh karena psikologi positif terpusat pada pemaknaan hidup, bagaimana manusia memaknai segala hal yang terjadi dalam dirinya, dimana pemaknaan ini bersifat sangat subyektif. Untuk itulah, pemaknaan hidup yang positif merupakan hal yang sangat penting. Menurut Frankl (2004), makna hidup adalah arti hidup bagi seseorang manusia. arti hidup yang dimaksudkan adalah arti hidup bukan untuk dipertanyakan, tetapi untuk direspon karena kita semua bertanggung jawab untuk suatu hidup. Respon yang diberikan bukan dalam bentuk kata-kata akan tetapi dalam bentuk tindakan. Frankl (2004) juga menyatakan bahwa kebermaknaan hidup yang bersifat personal, dapat berubah seiring berjalannya waktu maupun perubahan situasi dalam kehidupan seseorang. Setiap orang bisa memiliki makna hidup yang berbeda-beda setiap waktunya bahkan setiap jam. Oleh karena itu, yang terpenting adalah makna khusus dari hidup seseorang pada saat tertentu, seperti saat memiliki anak autis. Autis merupakan suatu keadaan yang menyebabkan anak-anak hanya memiliki perhatian terhadap dunianya sendiri (Muhammad, 2007). Ketidakmampuan ini ditandai dengan gangguan dalam komunikasi, indrawi, 3 interaksi sosial, emosi, dan pola bermain. Gangguan tersebut dapat terlihat ketika mereka di usia kanak-kanak. Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III, autis digolongkan dalam golongan gangguan perkembangan yang banyak terjadi di masa kanak-kanak. Sehingga autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Autisme yang juga merupakan gangguan perkembangan organik yang mempengaruhi kemampuan anak-anak dalam berinteraksi dan menjalani kehidupannya. Berikut mengenai data perkiraan jumlah anak autis pada tahun 1990-an hingga saat ini.
Tabel 1.1 Data Perkiraan Jumlah Anak Autis TAHUN JUMLAH KETERANGAN 1990-an 10-20 per 10.000 anak Di Amerika Serikat 2000-an 1 per 150 anak Di Amerika Serkat 2002 1 dibanding 150 anak Di Indonesia 2004 475 ribu anak Di Indonesia, Menteri Kesehatan, 2008 dan Dr.Widodo, 2006 2006 1 dari 150-200 orang anak Di Indonesia, Menteri Kesehatan, 2008 dan Dr.Widodo, 2006 2010 1 dari 150-200 orang anak Di Indonesia 2012 1 dari 110 anak satu dari 100 Di Amerika Serikat Centre for Disease Control and Prevention Di Indonesia, Autism Care Indonesia 4 Berdasarkan data-data jumlah anak autis tersebut, dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan jumlah anak autis pada setiap tahunnya. Peningkatan tersebut menyebabkan banyak orang tua yang khawatir ancaman autis bakal menimpa anaknya. Mereka mulai panik ketika bayi mereka tidak bereaksi keika dipanggil, sering menangis, tidak ada eye contact, tidak tersenyum dan kadang terpukau dengan suatu benda (detikHealth, 2009). Orang tua memunculkan beragam reaksi emosional ketika pertama kali mengetahui bahwa anaknya memiliki gangguan autisme. Reaksi emosional orang tua berbeda satu sama lain ketika mengetahui diagnosis autis bagi anak mereka. Safaria (2005) menguraikan beberapa reaksi emosi yang sering dialami oleh para orang tua, seperti shock, penyangkalan dan merasa tidak percaya, sedih, terlalu melindungi atau kecemasan, menolak keadaan, perasaan tidak mampu dan malu, marah, perasaan bersalah serta berdosa, dan ada pula yang merasa bahwa mereka perlu melangkah setahap demi setahap serta menganggap bahwa perjuangan belum berakhir.
Meskipun reaksi awal bervariasi dan kebanyakan adalah reaksi emosi yang negatif, tetapi hal tersebut dapat dikatakan wajar. Pada umumnya orang tua yang memiliki anak autis akan mengalami stres. Stres terjadi bukan hanya pada ibu tetapi juga pada ayah. Ibu cenderung mengalami perasaan bersalah dan depresi atas ketidakmampuan anaknya dan ibu lebih mudah terganggu secara emosional. Ibu merasa stres karena perilaku yang ditampilkan oleh anaknya seperti tantrum, hiperaktif, kesulitan bicara, perilaku yang tidak lazim, ketidakmampuan bersosialisasi dan berteman. Berbeda dengan ayah yang juga mengalami stres akan tetapi tidak seberat ibu. Stres pada ayah terjadi karena dampak stres yang dialami oleh ibu.
Hal ini dikarenakan peran ayah yang tidak banyak terlibat dalam pengasuhan anak sehari-hari (Cohen & Volkmar dalam Lubis, 2009). Dalam menerima kehadiran anak dengan gangguan autisme, beragam hal terjadi pada diri orangtua. Orangtua biasanya stres, kecewa, patah semangat, mencari pengobatan keman-mana, serba khawatir terhadap masa depan anaknya dan lain-lain (Widihastuti, 2007). Hal ini diperjelas oleh pendapat menurut Hopes dan Harris dalam Lubis (2009), bahwa orang tua dengan anak autis akan mengalami stres yang lebih besar daripada orang tua dengan anak yang mengalami keterbelakangan mental, ini karena hilangnya respon interpersonal pada anak-anak autisme tersebut. Selain itu, tingkat keparahan dari gejala-gejala autisme merupakan salah satu hal yang mempengaruhi stres orang tua. Ada perasaan yang cukup berat untuk menerimanya dan juga penuh tantangan untuk dimaknai secara positif, sebelum akhirnya sampai pada tahap memiliki kebermaknaan dalam hidup mereka. Seligman (2002) mengatakan bahwa makna hidup dapat tercapai dengan cara mengaitkan diri pada sesuatu yang lebih besar. Semakin besar entitas tempat untuk menambatkan diri, maka semakin bermakna suatu hidup. Menurut Bastaman (2007), makna hidup dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan (the purpose in life).
Dan proses pencapaian kebermaknaan hidup pada umumnya diawali dengan penderitaan (suffering) (Cynthia, 2007). Beberapa penelitian mengenai kebersyukuran, membuktikan bahwa bersyukur sebagai karakter atau kekuatan yang seringkali muncul, dominan dan menonjol dibanding kekuatan lainnya. Survey oleh Gallup (1998) dalam Arbiyah, dkk (2008) terhadap remaja dan orang dewasa Amerika menunjukkan bahwa lebih dari 90% responden mengekspresikan rasa syukur sehingga membantu mereka untuk merasa bahagia. Di Indonesia sendiri, penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2006) dalam Arbiyah, dkk (2008) tentang profil karakter kekuatan pada perawat di Rumah Sakit Cengkareng menunjukkan hasil serupa. Bersyukur menjadi salah satu dari lima karakter yang paling menonjol dibanding karakter kekuatan lainnya. Penelitian lain yang berkaitan dengan kebersyukuran maupun kebermaknaan hidup adalah sebagai berikut. Tabel 1.2 Penelitian Kebersyukuran dan Kebermaknaan Hidup N o Peneliti Judul Penelitian Hasil penelitian Persamaan Perbedaan 1 Nurul Arbiyah, Fivi Nurwiant i Imelda, dan Ika Dian Oriza (2008) Jurnal: Hubungan Bersyukur dan Subjective Well Being Pada Penduduk Miskin Ada hubungan positif yang signifikan antara bersyukur dengan subjective well being pada Menggunakan variabel bersyukur, pendekatan kuantitatif, dan studi korelasi atau hubungan dua variabel Dikorelasikan dengan Subjective Well Being dan sampel pada penduduk miskin penduduk miskin. Mayoritas partisipan memiliki tingkat bersyukur dan subjective well being yang sedang dan cenderung melakukan bersyukur transpersonal. Selain itu, ditemukan pula bahwa jenis kelamin berpengaruh terhadap rasa syukur dan subjective well being, sementara tingkat pendidikan berpengaruh terhadap rasa syukur. 2 Aminah Permata Ummu Hanifah (2009) Skripsi: Kebermaknaa n Hidup Pada Orang Tua Dengan Anak Retardasi Mental Setiap subjek dapat melakukan perubahan dari penghayatan hidup tidak bermakna menjadi penghayatan hidup bermakna, namun pola kebermaknaa n hidupnya berbeda. Mengkaji kebermaknaa n hidup pada orang tua yang memiliki anak berbeda dari harapan Menggunakan subjek penelitian orang tua dengan anak retardasi mental dan pendekatan kualitatif Alin Riwayati (2010) Skripsi: Hubungan Kebermaknaa n Hidup Dengan Penerimaan Diri Pada Orang Tua Yang Memasuki Masa Lansia Terdapat hubungan yang positif antara kebermaknaa n hidup dengan penerimaan diri. Dimana semakin tinggi kebermaknaa n hidup yang dimiliki oleh lansia semakin tinggi pula penerimaan dirinya Menggunakan variabel kebermaknaa n hidup, pendekatan kuantitatif, dan studi korelasi atau hubungan dua variabel Dikorelasikan dengan penerimaan diri dan sampel penelitiannya adalah orang tua yang memasuki masa lansia Azizah Batubara (2011) Skripsi: Hubungan Antara Komitmen Religius Dengan Kebermaknaa n Hidup Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang Komitmen religius berhubungan 28% dengan kebermaknaa n hidup, semakin tinggi komitmen religius maka semakin tinggi kebermaknaa n hidup. Menggunakan variabel kebermaknaa hidup, pendekatan kuantitatif, dan studi korelasi atau hubungan dua variabel Sampel penelitian pada Mahasiswa Psikologi UIN Maliki Malang dan di korelasikan dengan komitmen religius 5 Dewi Rinane (2010) Skripsi: Pengaruh Keyakinan Pada AyatAyat AlQur'an Terhadap Kebermaknaa n Hidup Pasien di Bengkel Hati Darul Inabah Gresik Pengaruh keyakinan pada ayatayat AlQur’an terhadap kebermaknaa n hidup adalah sebesar 26%. Menggunakan variabel kebermaknaa n hidup dan pendekatan kuantitatif Sampel penelitian pada Pasien di Bengkel Hati Darul Inabah Gresik, studi komparatif atau perbedaan. 9 Penelitian-penelitian tersebut membuktikan bahwa kebermaknaan hidup masih layak dan sangat penting untuk diteliti dengan pendekatan yang juga berbeda. Namun, untuk penelitian kebermaknaan hidup yang dikorelasikan dengan kebersyukuran belum ditemui. Sehingga bisa dikatakan bahwa penelitian ini baru dan peneliti merasa tertarik untuk melihat, apakah ada korelasi antara kebersyukuran dengan kebermaknaan hidup orang tua yang memiliki anak autis. Peneliti merancang penelitian ini dengan judul “Hubungan Kebersyukuran dengan Kebermaknaan Hidup Orang Tua yang Memiliki Anak Autis.”
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tingkat kebersyukuran orang tua yang memiliki anak autis?
2. Bagaimana tingkat kebermaknaan hidup orang tua yang memiliki anak autis?
3. Bagaimana hubungan antara kebersyukuran dengan kebermaknaan hidup orang tua yang memiliki anak autis?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui tingkat kebersyukuran orang tua yang memiliki anak autis.
 2. Untuk mengetahui tingkat kebermaknaan hidup orang tua yang memiliki anak autis.
3. Untuk mengetahui hubungan antara kebersyukuran dengan kebermaknaan hidup orang tua yang memiliki anak autis.
D. Manfaat Penelitian
 Hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi keilmuan baik dari aspek teoritis maupun aspek praktis sebagai berikut:
 1. Aspek teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi baru atau pengetahuan mengenai teori psikologi khususnya kebersyukuran atau kebermaknaan hidup,

2. Aspek praktis, penelitian ini diharapkan bisa dijadikan sumber untuk modul atau bahan bacaan tambahan bagi para orang tua yang memiliki anak autis, sehingga dapat senantiasa meningkatkan kebersyukuran dan kebermaknaan hidupnya atau bahkan bukan orang tua yang memiliki anak dengan autis sekalipun.

Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Manajemen :Hubungan kebersyukuran dengan kebermaknaan hidup orang tua yang memiliki anak autis. Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment