Mega Paket CD Interaktif

Jasa Pembuatan Skripsi

Jasa Pembuatan Skripsi
Jasa Pembuatan Skripsi

Sunday, April 9, 2017

Jasa Buat Skripsi: download Skripsi akutansi:Tingkat hutang, likuiditas, dan ukuran perusahaan terhadap persistensi laba dengan book tax difference sebagai variabel moderating: Studi empiris pada perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia periode 2012-2014.

Abstract

INDONESIA:
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan mengetahui pengaruh tingkat hutang, likuiditas dan ukuran perusahaan terhadap persistensi laba. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji apakah variabel book tax difference memoderasi hubungan antara masing-masing variabel tingkat hutang, likuiditas, dan ukuran perusahaan terhadap persistensi laba.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2012-2014. Total sampel berjumlah 15 perusahaan dengan menggunakan teknik purposive sampling.Metodel analisis data menggunakan regresi berganda dengan bantuan program SPSS 21.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik secara bersama-sama maupun parsial, variabel independen berpengaruh terhadap persistensi laba, sehingga semakin tinggi tingkat hutang, likuiditas, dan ukuran perusahaan, maka laba akan semakin persisten. Hasil penelitian terkait variabel moderating menunjukkan bahwa book tax difference memiliki pengaruh sebagai variabel moderating antara tingkat likuiditas dengan persistensi laba, sehingga semakin tinggi book tax difference dalam bentuk manfaat pajak tangguhan maka semakin kuat hubungan antara tingkat likuiditas dan persistensi laba. Sebaliknya, book tax difference tidak memiliki pengaruh sebagai variabel moderating baik antara tingkat hutang dengan persistensi laba maupun ukuran perusahaan dengan persistensi laba. Sehingga, beban dan manfaat pajak tangguhan tidak memperkuat atau memperlemah hubungan baik antara tingkat hutang dengan persistensi laba maupun ukuran perusahaan dengan persistensi laba.
ENGLISH:
This study aims to examine and determine the effect of debt degrees, liquidity and Firm Size on the earning persistence. In addition, this study also aims to test whether a variable tax book difference moderates the relationship between each variable of the debt levels, liquidity and firm size on the earning persistence.
The sample used in this study is a company registered in LQ45 Index Indonesia Stock Exchange (IDX) during 2012-2014. The total samples are 15 companies using purposive sampling technique. The method of data analysis uses multiple regression with SPSS 21 software.

The results of the study showed that whether being together or partially, the independent variable influenced the persistence of earnings, so the higher the level of debt, liquidity, and the size of the company are, the more persistent the profits are. The research results concerning the moderating variable showed that the book tax difference had an influence as moderating variable between the level of liquidity on the earnings persistence, so the higher book tax difference in the form of deferred tax benefit, the stronger the relationship between the level of liquidity and earnings persistence. On the reverse, the book tax difference had no impact as a moderating variable between debt degree and the persistence of earnings as well as the firm size with earnings persistence. Thus, the load and deferred tax benefit did not strengthen or weaken the relationship between the level of debt to earning persistence as well as the size of the company with earning persistence.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Laba merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kinerja atau kondisi keuangan perusahaan. Kinerja perusahaan yang tercermin pada laba dalam laporan laba rugi komprehensif merupakan informasi yang penting bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi atau pemberian kredit, dan juga memberikan informasi dalam mengevaluasi kinerja manajemen sebagai pengelola perusahaaan. Schipperand Vincent (2003) dalam penelitian yang dilakukan oleh Fanani (2010) menjelaskan bahwa laba digunakan oleh investor dan kreditor sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan pengambilan keputusan pembuatan kontrak (contracting decision), keputusan investasi (investment decision), dan pembuat standar (standard setters). Perusahaan seringkali berusaha untuk mendapatkan laba yang maksimal dengan tujuan untuk memenuhi ekspektasi investor. Pihak manajemen akan memperoleh kompensasi yang tinggi ketika target laba investor terpenuhi. Oleh sebab itu, kadangkala pihak manajer melakukan praktik manajemen laba. Manajemen laba dapat menjadikan informasi yang menyesatkan karena manajemen dipaksa untuk mencapai target laba tertentu dengan kualitas laba yang rendah, sehingga akan merusak kepercayaaan investor (Martani, dkk, 2012:413). Kepercayaan investor merupakan salah satu hal yang sangat 2 penting, karena itu laba yang dihasilkan perusahaan harus berkualitas. Laba yang berkualitas tinggi tercermin pada laba yang berkesinambungan (sustainable) dalam beberapa periode yang akan datang. T.Harrison, dkk (2011) menyatakan bahwa semakin tinggi kualitas laba periode saat ini dibandingkan dengan periode terakhir,
semakin mungkin perusahaan tersebut melaksanakan strategi bisnis yang jitu untuk menghasilkan laba yang sehat di masa mendatang, yang mungkin merupakan kunci bagi harga sahamnya. Harga saham perusahaan pada akhirnya akan mempengaruhi nilai dari sebuah perusahaan. Salah satu atribut pengukuran kualitas laba adalah dengan menggunakan persistensi laba. Dewi dan Putri (2015), menyebutkan bahwa persistensi laba sering dianggap sebagai alat ukur untuk menilai kualitas laba yang berkesinambungan. Laba yang persisten merupakan laba yang cenderung tidak berfluktuatif dan mencerminkan keberlanjutan laba di masa depan dan berkesinambungan untuk periode yang lama. Persistensi laba menjadi bahasan yang sangat penting karena investor memiliki kepentingan informasi terhadap kinerja perusahaan yang tercermin dalam laba di masa depan. Persada dan Martani (2010) menjelaskan persistensi laba sebagai kemungkinan laba akuntansi yang diharapkan di masa mendatang (expected future earnings) yang tercermin pada laba tahun berjalan (current earnings). Semakin tinggi kemungkinan laba akuntansi di masa depan yang tercermin dari laba tahun berjalan, maka laba memiliki persistensi yang tinggi.
 Persistensi laba ditentukan oleh komponen akrual dan aliran kas yang terkandung dalam laba saat ini, yang mewakili sifat transitori dan permanen laba. Laba yang bersifat transitori memiliki tingkat persistensi yang rendah dibandingkan dengan laba yang bersifat permanen. Hadiarrohman (2011), menyatakan bahwa persistensi laba adalah properti laba yang menjelaskan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan jumlah laba yang diperoleh saat ini sampai masa mendatang. Persistensi laba sering dikaitkan dengan harga saham perusahaan di pasar modal yang diwujudkan dalam bentuk imbalan hasil. Persistensi laba yang tinggi dapat ditunjukkan melalui hubungan kuat yang tercipta antara laba perusahaan dengan imbalan hasil bagi investor. hubungan laba dengan investor dapat mencerminkan persistensi laba perusahaan (Kusuma dan Sadjiarto, 2014). Hal tersebut sesuai dengan kasus perusahaan multionasional Johnson & Johnson yang selama 31 tahun berturut-turut selalu mencatat kenaikan laba dan perusahaan tersebut juga memperoleh peningkatan dividen dalam 53 tahun terakhir secara berturut-turut (m.okezone.com, 2015). Beberapa faktor yang berhubungan dengan persistensi laba telah banyak diteliti. Salah satu faktor tersebut adalah tingkat hutang. Fanani (2010) menunjukkan bahwa tingkat hutang berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Hasil penelitian tersebut memiliki hasil yang berbeda dengan beberapa hasil penelitian lainnya. Briliana dan Sadjiarto (2014) menunjukkan bahwa variabel tingkat hutang tidak berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Objek penelitian pada kedua penelitian tersebut dilakukan 4 pada perusahaan yang sama yaitu perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan periode penelitian yang berbeda. Suwandika dan Astika (2013), dengan objek penelitian perusahaan perbankan memberikan hasil bahwa variabel tingkat hutang tidak berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Hal ini dikarenakan penelitian tersebut menggunakan proxy dari tingkat hutang yaitu debt to asset ratio sedangkan perusahaan yang tergolong perbankan memiliki perhitungan rasio khusus untuk rasio solvabilitasnya yaitu rasio Capital Adequacy Ratio (CAR). Berdasarkan perbedaan hasil tersebut maka salah satu variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat hutang dengan objek penelitian yang berbeda.
Selain variabel tingkat hutang, penelitian ini juga menggunakan variabel likuiditas, ukuran perusahaan, serta book tax difference sebagai variabel moderating. Variabel likuiditas digunakan dalam penelitian didasarkan pada saran dalam sebuah artikel yang di tulis oleh Indra (2014). Salah satu saran Peneliti tersebut adalah menggunakan variabel likuiditas untuk menguji peristensi laba karena belum ada penelitian yang menggunakan variabel tersebut. Suharli dan Oktorina (2005), menjelaskan bahwa likuiditas perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan mendanai operasional perusahaan dan melunasi kewajiban jangka pendeknya. Selain itu, perusahaan investee yang memiliki likuiditas baik maka memungkinkan pembayaran dividen lebih baik pula. Seperti yang telah dijelaskan dalam PSAK No. 23 bahwa dividen adalah distribusi laba kepada pemegang 5 investasi ekuitas sesuai dengan proporsi kepemilikan mereka atas kelompok modal tertentu. Berdasarkan hal tersebut dapat dipahami bahwa informasi relevan terkait laba perusahaan sangat di butuhkan oleh para investor. Informasi relevan terkait laba juga bisa dilihat dari pertumbuhan laba perusahaan. Pertumbuhan laba yang tinggi akan mempengaruhi persistensi laba. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan laba adalah ukuran perusahaan. Dewi dan Putri (2015), menyebutkan bahwa semakin besarnya suatu perusahaan, maka diharapkan pula pertumbuhan laba yang tinggi. Pertumbuhan laba yang tinggi juga akan mempengaruhi persistensi laba dan kesinambungan perusahaan dalam menarik calon investor. Secara umum, investor akan lebih percaya pada perusahaan besar karena dianggap mampu untuk terus meningkatkan kualitas labanya melalui serangkaian upaya peningkatan kinerja perusahaan. Selain variabel-variabel di atas salah satu isu yang berkembang mengenai peraturan perpajakan yang sekaligus berkaitan langsung dengan persistensi laba adalah book tax difference.
Book tax difference diartikan sebagai ketidaksamaan antara perhitungan laba akuntansi dan laba fiskal. Ketidaksamaan perhitungan laba yang terjadi setiap tahunnya ini akan berdampak pada pertumbuhan laba suatu periode perusahaan dikarenakan perusahaan harus menyesuaikan kembali perhitungan laba akuntansinya dengan aturan menurut perpajakan (Dewi dan Putri, 2015). Salah satu faktor yang mempengaruhi persistensi laba adalah perbedaan laba akuntansi dengan laba fiskal (book tax difference). Adanya 2 jenis laba tersebut menyebabkan 6 laba yang dihasilkan perusahaan berbeda sehingga mempengaruhi kualitas laba. Karena persistensi merupakan salah satu karakteristik kualitatif relevansi laba, maka semakin besar perbedaan antara laba akuntansi dengan laba fiskal (large positive book tax difference dan large negative book tax difference) persistensi laba perusahaan akan semakin kecil. Sebaliknya semakin kecil perbedaan laba akuntansi dengan laba fiskal (small book tax difference), maka semakin tinggi persistensi laba yang dimiliki oleh perusahaan. Logika yang mendasarinya adalah tidak semua peraturan akuntansi dalam Standar Akuntansi Keuangan diperbolehkan dalam peraturan pajak (Asma, 2012). Variabel book tax difference dalam penelitian ini memiliki posisi sebagai varaibel moderasi. Variabel moderasi digunakan untuk menilai apakah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen akan semakin kuat atau semakin lemah dengan adanya variabel moderasi tersebut. Peneliti akan menguji bagaiamana pengaruh tingkat hutang, likuiditas, dan ukuran perusahaan terhadap peristensi ketika perusahaan memiliki perbedaan positif dan negatif yang besar (large positive book tax difference dan large negative book tax difference), atau ketika perusahaan memiliki perbedaan laba akuntansi dan laba pajak yang kecil (small book tax difference).
Dalam hal ini, terlebih dahulu akan diuji apakah laba yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut persisten sesuai dengan predikat sebagai perusahaan dengan tingkat likuiditas dan nilai kapitalisasi pasar paling tinggi di antara perusahaan yang listing lainnya. Setelah diketahui bahwa laba 7 tersebut persisten maka akan dilakukan pengujian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat persistensi laba. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini akan lebih difokuskan pada faktor-faktor yang mempengaruhi persistensi laba dengan judul “Tingkat Hutang, Likuiditas, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Persistensi Laba dengan Book tax difference Sebagai Variabel Moderating (Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2012-2014).”
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah variabel tingkat hutang, likuiditas, dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap persistensi laba?
2. Apakah variabel tingkat hutang, likuiditas, dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap persistensi laba dengan book tax difference sebagai variabel moderating?
 1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh variabel tingkat hutang, likuiditas, dan ukuran perusahaan terhadap persistensi laba.
2. Untuk mengetahui pengaruh variabel tingkat hutang, likuiditas, dan ukuran perusahaan terhadap persistensi laba dengan book tax difference sebagai variabel moderating.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Teoritis
Menambah wawasan di bidang akuntansi keuangan dan analisis informasi keuangan terkait faktor-faktor yang mempengaruhi persistensi laba.
1.4.2 Praktis
Memberikan manfaat kepada berbagai pihak, diantaranya perusahaan, investor, kreditor, akademisi, pemerintah, dan masyarakat luas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi persistensi laba.
1.5 Batasan Penelitian
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terbatas pada variabel tingkat hutang, likuiditas, ukuran perusahaan, dan book tax difference.

 2. Tahun penelitian yang digunakan terbatas hanya pada periode 2012-2014.
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Akutansi : Tingkat hutang, likuiditas, dan ukuran perusahaan terhadap persistensi laba dengan book tax difference sebagai variabel moderating: Studi empiris pada perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia periode 2012-2014.. .Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment